"Comfort’s etymology maps directly onto histories of colonialism, industrialization and consumer capitalism." (h. 4)
Zona nyaman bukan istilah yang netral. Awalnya, kata ini merujuk pada istilah mekanis yang berkaitan dengan suhu, atau suatu teknik yang berhubungan dengan ventilasi dan AC. Zona nyaman berhubungan dengan suhu, kelembaban, dan aliran udara yang bagaimana yang membuat tubuh betah, tapi juga produktif.
Pada tahun 1923, istilah ini diperkenalkan oleh American Society of Heating and Ventilating Engineers (ASHVE) untuk mendefinisikan kombinasi suhu, aliran udara, dan kelembapan di lingkungan ber-AC buatan yang menghasilkan sensasi hangat bagi manusia.
Istilah ini kemudian maknanya jauh berkembang, dari yang awalnya mekanis, jadi terma luas yang dikenal di dunia arsitektur, psikologi, sampai ekonomi-politik. Ia juga berada di antara pertentangan antara pikiran dan tubuh, ekologi dan ekonomi. Semisal para psikolog-pop setuju dengan semangat neoliberal, bahwa zona nyaman menurunkan inovasi dan ekonomi, meskipun lama-lama di zona nyaman juga bisa mengancam pertumbuhan ekonomi.
Tahun 1960-an misanya, zona nyaman maknanya berkembang untuk perluasan spasial yang berhubungan dengan rumah tangga dan lingkungan kantor kerah putih. Lalu tahun 1970-an, zona nyaman diartikulasikan sebagai ruang psikososial di mana terapis, konsultan, dan bahkan pemimpin politik bisa melakukan intervensi. Kenyamanan itu mahal bagi mereka yang berpenghasilan rendah, akan lebih parah lagi pada mereka yang berusia lanjut dan minoritas. Zona nyaman ada di produksi industri dan reproduksi sosial.
Zona nyaman merupakan bagian dari ketidaksetaraan. Ini juga diciptakan untuk memitigasi ketidaknyamanan golongan kulit putih berkaitan dengan suhu, yang disandarkan pada teknologi. Cross dan Nading memperkuat ini dengan mengutip gagasan Marx, zona nyaman merupakan kondisi material yang dibutuhkan untuk proses reproduksi. Para inspektur pabrik, pendeta, pendidik, ekonomi, menggunakan kenyamanan untuk menggambarkan kondisi material tenaga kerja industri.
Sementara itu, Frederich Engels menghubungkan konsep kenyamanan dengan masalah alkoholisme. Ketika pekerja yang pulang dalam keadaan lelah, sementara mendapati rumahnya "tidak nyaman" (lembap, kotor, menjijikkan); akan memunculkan pikiran dan tubuh yang gelisah hingga hipokondria. Kenyamanan di sini menjadi cara bagaimana ekonomi politik, lingkungan, dan keadaan afektif saling membentuk satu sama lain.
Sejarawan arsitektur, Daniel Barber (2019) juga pernah memperkenalkan istilah "comfortocene" untuk menamai zaman geologi saat ini. Argumen inti darinya adalah, saat ini manusia mengejar "kenyamanan". Termasuk praktiknya dengan penggunaan alat-alat listrik seperti AC sebagai bagian dari ancaman eksistensial. Bayangkan, superblok dan kantor-kantor tinggi di Jakarta tanpa AC, apakah bisa disebut nyaman?
Paper ini juga mengeksplorasi terkait bagaimana zona nyaman dipetakan dalam ekonomi global kontemporer, lewat kerangka ekologi dunia dari Jason Moore (2015). Zona nyaman membentuk infrastruktur material-semiotik, yang mengarahkan seseorang pada aliran kekuasaan, modal, dan energi melalui jaringan akumulasi modal. Kita bisa melihat praktiknya lewat berbagai macam ruang, dari perumahan, pekerjaan, migrasi, makanan, hingga data.
Ada lima karakteristik zona nyaman:
1. Bukan hanya terkait suhu, tapi juga rasa aman hidup.
2. Selalu menciptakan kondisi "di dalam" dan "di luar".
3. Dibangun oleh benda, orang, dan sistem.
4. Melibatkan non-manusia: tanaman, hewan, mesin, dll.
5. Punya konsekuensi sosial dan politik.
Kebalikan dari comfort zone adalah discomfort zone, atau kadang juga disebut sacrifice zone (zona penderitaan). Cross dan Nading mengkritik gagasan, "kita perlu lebih banyak rasa tidak nyaman supaya dunia jadi lebih baik." Padahal, gagasan seperti ini lahir dari orang-orang yang sebenarnya sudah sangat nyaman dan punya privilese. Rasa tidak nyaman bukan hal alami, tapi bisa diatur, dikelola, bahkan difasilitasi lewat teknologi, desain, material, dan kondisi sosial tertentu.
Penulis:
Jamie Cross, Profesor Sosial Antropologi di Universitas Glasgow. Direktur inisiatif Glasgow Changing Futures. Ia suka menelusuri bagaimana repsons manusia dan non-manusia terhadap perubahan iklim yang saling terhubung. Menulis buku berjudul "Planet Mold", yang lahir dari risetnya selama tiga tahun berkaitan dengan panas (heat) dalam kajian sosial, serta dampaknya bagi negara-negara di Global Utara dan Global Selatan.
Alex Nading, Profesor Sosial Antropologi di Universitas Cornell. Seorang antropolog medis dan lingkungan yang fokus pada Nikaragua. Menulis buku "Mosquito Trails: Ecology, Health, and the Politics of Entanglement" (2014), dan "The Kidney and the Cane: Planetary Health and Plantation Labor in Nicaragua" (2025).
***
Sastrawan India, Prayaag Akbar, dalam fiksi iklim distopia berjudul "Leila" bercerita sebuah kota di India yang dilanda panas ekstrem. Kemudian, terdapat perusahaan multinasional yang membangun suatu "zona nyaman" di distrik kota yang disebut "Skydomes". Ruang-ruang yang diperuntukkan bagi orang kaya yang suhunya bisa diatur, lalu membuang polusi dan limbahnya ke rumah-rumah warga yang berpenghasilan rendah. Pembangunan ini memperburuk ketidaksetaraan dan memicu konflik kelas, kasta, dan komunal warga.
Cross, J., & Nading, A. (2026). Comfort zones: Thermal environments for life and capital in a warming world. Economy and Society, 1-24.
Link: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/03085147.2025.2603819
#jamiecross #alexnading #comfortzones

Tidak ada komentar:
Posting Komentar