Sabtu, 21 Februari 2026

Catatan Buku "Kokokan Mencari Arumbawangi" karya Cyntha Hariadi

Setelah membaca buku ini, aku kepikiran satu hal, "Jika seluruh doa petani ada pada tanah-tanah yang digarapnya, maka seluruh doa penulis ada di dalam kata-kata yang dia tulis."

Ini buku keempat Cyntha Hariadi yang kubaca. Aku mengagumi caranya menulis dan bercerita, sekaligus sudut pandang penceritaan yang dia pilih. Anak-anak yang masih murni, belum dicemari soal konflik kepentingan orang-orang dewasa akan tanah, pendapatan, ekonomi, dlsb. Seperti di buku ini, rasanya begitu karib: sawah, capung, pohon kelapa, cakrawala, petualangan ke tempat-tempat liminal. Dan, yang paling menggugahku, bagaimana cara menghargai alam lebih baik. Bahkan sekali pun sendiri, saksi-saksi binatang dan tunbuhan melalui narasinya, masih bisa tersampaikan.

Di Lembah Dewata Lembang
Kamu percaya gak, seperti konsep jodoh dalam pasangan, buku itu juga jodoh-jodohan sama pembaca. Ada yang cocok, ada yang tidak cocok. Dan bagiku, aku berjodoh dengan buku Cyntha Hariadi yang berjudul "Kokokan Mencari Arumbawangi" ini. Aku menyelesaikannya dengan kekuatan super cepat, bahkan dengan tebal 337 hlm bisa aku selesaikan selama dua hari saat aku main ke Lembang dan Subang! Membacanya seperti mengingatkan dengan buku-buku yang aku jodoh lainnya, seperti serial petualangan Narnia karya CS Lewis. Energinya sama, anak-anak, dan ketahuan juga dari buku ini jika Cyntha menyukai buku-buku karangan JK Rowling, Hans Christian Andersen, dan sebangsanya.

Secara sederhana, buku ini berkisah tentang seorang ibu yang hidup bersama dua anaknya cowok dan cewek, bernama Kakaputu dan Arumbawangi. Adiknya, si Arum ini tidak jelas orangtuanya. Ia dikirim oleh burung kokokan saat Nanama ingin anak perempuan, sehingga Kakaputu meningkat kepercayaan dirinya sebagai manusia ketika dia jadi seorang kakak. Namun, Nanamama menghadapi perlawananan dari seluruh masyarakat di kampung karena tak mau menjual sawah sumber kehidupannya pada pihak hotel. Pihak hotel ini awalnya dikelola oleh seorang pria kaya, sibuk, dan necis bernama Pak Rudi. Namun, istrinya meninggal, dan dia hidup bersama anak laki-laki satu-satunya bernama Jojo.

Nama Arum juga mengingatkanku pada diri sendiri. Dia sering dirisak oleh teman-teman bermainnya, terutama dengan Si Kembar, cucu Pak Wawatua dan tiga anaknya yang meskipun dewasa tetap menyusahkan. Aku tak membayangkan jadi Nanamama, dia meninggal bukan karena sakit, tapi karena seluruh kampung memusuhinya. Nanamama berpesan agar dikuburkan di tanah dekat rumah, dekat dengan tumbuhan pandan dan sereh, bukan dibakar lalu abunya dilarung berdasarkan adat di Bali. 

Namun, karena sebuah kecelakaan, Jojo meninggal dan arwahnya bertranformasi menjadi pipit haji. Aku suka di buku ini banyak ilustrasinya yang lucu-lucu, saat anak-anak ini sedang bermain di sawah, menerbangkan layangan, naik pohon kelapa, hingga permainan khas Bali yang entah sekarang masih dimainkan atau tidak. Imajinasiku begitu hidup di buku ini, gambar dan visualnya sangat jelas mirip film yang sangat bisa aku nikmati. Anak-anaknya juga sangat bisa kubayangkan, dengan diriku sendiri menjadi Nanamama, haha. Aku sengaja mengajak diriku sendiri ke visual cerita agar konteksnya lebih bisa kurasakan. 

Dalam buku ini Cyntha juga mengatakan, "Tanah yang tak digarap, tak akan punya nyawa. Seperti jiwa kita, kalau tidak pernah sakit, tak akan jadi kuat." Nanamama pada Arumbawangi, saat Arum lagi down-down-nya. Kalimat ini juga yang berasa di aku saat aku lagi jatuh terkilir kaki ketika menginap di sebuah villa di Lembang. Membaca kalimat ini membuatku kuat lagi.

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi | Penulis: Cyntha Hariadi | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Ketiga, Maret 2025 | Jumlah halaman: x + 337 hlm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar