Buku ini dihadiahi langsung oleh Mas Eka Pocer, saat diskusi pembahasan buku Pak Bre ini di eks Gedung Filatelli Jakarta. Saat itu pembahasnya ada KD (Krisdayanti) juga, termasuk moderator dari Kompas. Buku "Perayaan Hal-Hal Tak Penting" ini aku selesaikan sekali duduk. Setengah adalah cerita Pak Bre, setengah buku sisanya adalah komentar dari seorang seniman Bali bernama Pak Hartanto.
Buku ini terdiri dari 11 bab. Secara keseluruhan, aku menikmatinya. Yang paling menggugahku adalah soal betapa rapuhnya ingatan manusia. Bahkan ketika itu sudah dengan baik kita arsipkan secara tertulis, namun, ketika dokumentasi itu kita lihat lagi, beberapa bahkan kita sudah tak ingat lagi terkait konteksnya. Menurutku ini mindblowing, karena aku pernah mengalami kejadian serupa ketika membuka jurnal-jurnal pribadiku katakanlah 10 tahun lalu.
Sebagaimana buku ini dipersembahkan untuk Milan Kundera yang pernah mengatakan jika, "Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa." (Kitab Lupa dan Gelak Tawa); barangkali, buku ini juga ditulis dengan tujuan melawan lupa. Sebagaimana saat diskusi, Pak Bre mengatakan jika kejadian luar biasa itu sangat jarang terjadi di hidup kita, karena itu dia memilih untuk menuliskan hal-hal yang biasa-biasa saja.
Namun, sebiasa-biasanya sebuah tulisan, jika itu ditulis oleh orang-orang yang memiliki skill, jatuhnya tetap berat, seberat komentar yang ditulis oleh Pak Hartanto juga. Aku menangkap di setiap tulisan Pak Bre selalu ada dorongan akan pemberian makna yang filosofis, dan tentu itu menjauhkan isi buku dengan judulnya. Kuharap kau tak terkecoh.
Secara alur, aku justru teringat dengan buku Ashadi Siregar yang fenomenal kala itu, "Cintaku di Kampus Biru", ketika aku mengikuti perjalanan tokoh utama di buku Pak Bre. Namanya Frans, dia punya moral dan etika yang sangat urban dan Jakarta akan aturan umum. Frans punya band rock Tumapel, namun karena memilih lebih oportunistik, dia menggeluti usaha sound system.
Frans punya teman-teman dekat seperti Sisca (yang kematiannya aneh, tenggelam dengan high heels cantik berwarna merah), Haris (Chindo businessman yang hobi koleksi barang seni dan selalu menepati kata-katanya), hingga tokoh-tokoh pendukung lain seperti Emma (keponakan Haris, mirip Sisca tapi versi sepatu keds bukan high heels), Vita (yang menikahi bule dan namanya diambil dari nama burung), Kirana/Nani (yang Frans lupa konteks pertemuan dia dengannya, perempuan yang bosen hidup di Jakarta dan mencoba hidup stoik di sebuah desa di Magelang), Eva (ibu-ibu sosialita pemimpin bisnis EO), dlsb.
Di novel ini, aku mengenal istilah "oblivious", tapi alih-alih jelas, di sini yang kuartikan lebih ke "terlupakan". Inti masalah yang diangkat Pak Bre, "Persoalannya di sinilah rahasia memori. Dua orang yang sama, pernah mengalami peristiwa yang sama, belum tentu memori yang tertinggal pada keduanya serupa, persis sama." (hal. 21)
Di buku ini aku juga belajar terkait "ketidakberesan kognitif" manusia. konsep ini diambil dari buku "The Art of Thinking Clearly" karya Rolf Dobelli. Intinya, kita semua rentan mengalami ketidakberesan kognitif. Umumnya dimulai rai prasangka-prasangka yang diciptakan manusia sendiri, sehingga membuat realitasnya jadi ikut-ikutan bias dan error.
Buku ini menarik dan cukup ringan dibaca ketika kamu senggang.
Judul: Perayaan Hal-Hal Tak Penting | Penulis: Bre Redana | Penanggap: Hartanto | Penerbit: Minak Jingga, Yogyakarta | Jumlah halaman dan dimensi: viii + 114; 11 x 17 cm | Cetakan: Pertama, Oktober 2025
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar