Kamis, 19 Februari 2026

Catatan Buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" karya Brian Khrisna

Ya, aku cukup fomo ketika memilih buku tiap aku datang ke Gramedia tanpa preferensi yang jelas pengen beli buku apa. Akhirnya, nasib mempertemukanku dengan buku penulis Bandung, Brian Khrisna ini. Judulnya cukup provokatif, "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati". Anyway, entah perasaanku saja atau bagaiamana, akhir-akhir ini aku sering membaca judul-judul buku yang temanya tentang suicide (bunuh diri), namun alih-alih mendukung tentunya, kebanyakan judul lebih kek ingin mencegah dengan cara yang cukup chill dan kekinian, termasuk buku ini. Buku serupa lain misalnya, "want to die but i want to eat tteokbokki" karya penulis Korea, Baek Se Hee Jakkanim. Meskipun yang terakhir ini cukup tragis aku baca sekilas di internet. Hidup emang segelap itu kadang ya, jadi buku-buku pun memilih demikian. 

Premisnya barangkali cukup sederhana ya, bahkan makanan kesukaanmu bisa menyelamatkan dirimu di fase terendah hidup, ketika kamu ingin mati saja. Persis seperti itu yang dialami si tokoh utama bernama Ale, anak kantoran SCBD yang dari gaji cukup mapan, tinggal di apartemen, tapi pengen mengakhiri hidup karena merasa dirinya useless dan korban bullying sana-sini. Tubuh Ale tinggi gempal, badannya bau, mukanya mirip preman kriminal, dan dia merasa tak ada yang mencintainya. Dia sudah berulang kali ke psikiater berharap sembuh, tapi gak mempan. Dia ingin memutuskan mati dengan menenggak pil yang jumlahnya bannyak, TAPI "makan mie ayam dulu".  

Buku ini terdiri dari 12 bab. Di tiap babnya, usaha Ale akan digagalkan oleh Tuhan dengan berbagai jenis orang dan kejadian yang dialaminya. Mulai dari ternyata penjual mie ayamnya (Pak Jo) sudah koit dulu, ketemu sama pemimpin mafia pengedar sabu di penjara sekaligus bromocorah (Murad), ketemu ketua PSK dan pelacur yang hidup demi anak (Mami Lousse dan Juleha), ke rumah pegawai OB di pinggir rel kereta api (Ipul), ketemu seorang ibu yang mengecewakan anaknya sendiri karena sering dibanding-bandingkan (Bu Murni), ketemu bapak-bapak penjual layangan (Pak Uju), sampai ketemu seorang pria penjual kerupuk bangka yang buta (Jipren).

Di kantoran ber-AC tokoh utama dipanggil Ale, di jalanan tokoh utama dipanggil Blek. Anaknya monster di depan, tapi Hello Kitty di dalam. Aku cukup menikmati kisahnya, meskipun ini jenis novel yang "alim" banget, di tiap lembarnya ada petuah-petuah yang akan membawamu pada "kebijaksanaan hidup". Ya, walaupun setelah kubaca sampai akhir, kupikir ini bukan my cup of tea, penulisnya seperti mendedikasikan diri untuk jadi juru selamat (yang itu memang dibutuhkan untuk sebagian besar orang, karena buku itu laris, tapi tidak saya). 

Aku cukup banyak mengalami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh Blek. Tapi bagiku, alasan dia untuk bunuh diri tak sekuat dan sefundamental itu. Meskipun level mental orang beda-beda, tokoh Blek rasanya memang terlalu cengeng. Hal yang menarik dari buku ini menurutku malah, bagaimana dia mengangkat kelas-kelas yang dianggap "sampah" oleh masyarakat diberikan suara: pelacur, OB, lansia, penyandang disabilitas, dlsb, kupikir ini bukan hal mudah untuk diceritakan. 

Selain itu, ada plot hole, terutama dengan mudahnya Ale di akhir buku bisa lepas dari jerat setan orang macam Murad. Padahal Murad sudah memberikan tanda istimewa sekaligus nulis nama Blek di tembok perumahan dekat kampung sarang kriminal. Bagiku secara penulisan juga masih ada rasa hitam-putih dengan jelas. Ya, itu saja kesannya. 

KUTIPAN:

Lo gak usah takut salah. Di dunia ini, lo gak boleh kelihatan salah. Sesalah apa pun yang sudah lo lakuin, berntak mereka, tanyain memangnya kenapa kalau lo salah? Kalau lo salah, terus mereka mau apa? ... Hilangkan sikap pengecut lo itu. Perasaan orang lain bukan tanggung jawab lo. Berdiri tegap dan lawan seakan-akan itu adalah cara lo bisa tetap hidup dan gak mati." (72-73)

Rawa rontek, kanuragan, pancasona, brajamusti, dan khodam macan putih. 

Itu sih cuma alur cinta anak muda biasa aja Le. Semua orang jelek di dunia ini setidaknya pernah mengalami hal yang sama. Jadi santai saja. (101) 

Elo punya kesamaan dengan barbie-barbie gue. Elo dan mereka itu seringnya cari cinta di tempat yang salah. (102) 

Berkembangbaiklah dulu sebelum memutuskan berkembang biak. (103) 

Kalau gak bisa ngidupin diri sendiri, jangan matiin masa depan perempuan. (104) 

Coba deh sekali-kali ubah sudut pandang lo. Siapa tahu hidup bakal ngebawa lo ke arah yang lebih baik. (108) 

Ternyata selama ini banyak yang melihatku. Aku pikir aku sendirian. Tapi ternyata tidak. Aku saja yang tak mampu melihat mereka. (127) 

Hidup akan jadi lebih gampang kalau kita sudah bisa belajar untuk menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing. (128) 

Judul buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | Penulis: Brian Krishna | Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Jakarta | Editor: Trian Lesmana | Cetakan: Ke-83, Desember 2025 | Jumlah Halaman dan Dimensi: 216 hlm, 13.5 x 20 cm |  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar