Selasa, 22 September 2020

Pekerja Perempuan di Toko Daring

Krisis Finansial Global yang terjadi pada 2008 menambah sinergi kapitalisme dengan perkembangan teknologi. Atau bisa disebut "platform kapitalisme". Strukturnya, kelas kapital memiliki platform online tersebut, membangun infrastruktur digital dengan memanfaatkan teknologi digital baru dan sarana-sarana pengambilan data untuk melancarkan bisnis mereka.

Tak dipungkiri pengembangan platform kapitalisme dengan revolusi logistik ini telah melahirkan suatu inovasi dalam proses distribusi. Sehingga lahirlah e-commerce sebagaimana yang kita pakai sekarang--yang menjadi fitur vital akumulasi kapitalis kontemporer. Guna menambah akumulasi kapital, kelas kapitalis tak hanya memperlebar zona akumulasinya, tapi juga proses "kompresi ruang-waktu".

Pertambahan online shop bisa dibaca lebih dari sekadar transaksi jual-beli saja. Lewat media satu ini seseorang bisa berbelanja di mana saja dan kapan saja. Nggak ada kesusahan berarti bahkan masih absen dengan regulasi birokrasi. kegiatan ini membuat transformasi baru dalam aktivitas belanja kita.

Menurut data dari Bank Indonesia (2017), 24,7 juta masyarkat Indonesia berbelanja online dengan nilai transaksi sebesar IDR 75 trillion. Tiap waktu ini terus bertambah, suatu surga pasar yang aduhai. Belum lagi jargon-jargon Indonesia Seribu Start Up! Lalu perusahaan-perusahaan penyedia jasa layanan online shop ini berlomba-lomba memberikan kemudahan dan layanannya.

Penelitian Izzati ini fokus pada Social Media-Based Online Stores (SMBOSs) di Indonesia terutama yang dilakukan dan dioperasikan oleh perempuan menggunakan dua fokus: 1. Bentuk kerja dan fleksibilitas di SMBOSs. 2. Pekerjaan di SMBOSs khususnya dalam konteks urban.

Dimensi fleksibilitas menjadi salah satu fitur kapitalisme yang mengizinkan perempuan untuk bekerja dimanapun dan kapanpun di rumah mereka. Menurut Fraser (2017), perempuan dalam sirkel kapitalisme memainkan peran di kerja reproduksi sosial. Ini memperkuat gagasan "mompreneurs" (ibupreneur) di Indonesia.

Ada dua bentuk bisnis online shop: 1. Marketplace berbasis warehous (gudang rumahan) seperti Amazon dan eBay. 2. Berbasis olshop medsos  seperti Instagram dan Facebook.

Bentuk penelitian ini kualitatif berbasis wawancara mendalam pada 20 informan (16 perempuan, 4 laki-laki). Izzati mengamati bentuk-bentuk pekerjaan perempuan di sektor tesebut, bagaimana eksploitasi platform kapitalisme, revolusi logistik, fleksibiliatas, kerja reporduksi sosial, dan feminisasi. Penelitian dilakukan pada tanggal 22 Mei - 28 Juni 2018, dengan wawancara yang rata-rata sepanjang 50 menit. Izzati menganalisis pekerjaan perempuan (women's work) di bidang toko daring media sosial di enam kota (Indonesia). Kota yang diteliti: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bandung, Kepulauan Bangka Belitung dan Pangkalpinang.

Ada tiga kategori dari olshop: 1. Mereka yang membuat dan mendistribusikan produknya sendiri (misal penjual makanan dan kerajinan). 2. Reseller yang hanya menjual (misal penjual baju dan kosmetik). 3. Pemilik medsos yang merekrut pekerja dan menjadi partner para entrepreneur (misal JNE, J&T, Pos Indonesia).

Hasil menunjukkan, pekerja perempuan di olshop Indonesia dibentuk oleh suatu bentuk baru platform digital. Menyembunyikan fakta-fakta kerentanan dalam bayang-bayang fleksibilitas. Kekhususan kerja ini menjadi watak yang esensial dalam platform kapitalisme.

Olshop ini khususnya kebanyakan berada dalam ranah sektor informal yang tak diregulasi dan tak terdaftar. Meski ada rencana meregulasi tapi dengan adanya Omnibus Law jadi menciut lagi. Para pekerja yang bagian ngepak-ngepak barang, sosmed administrator, mendapat upah yang rendah tanpa kontrak yang memadai. Mereka juga tanpa perlindungan kerja seperti asuransi kesehatan.

Perekrutan pekerja pun mudah (sebagian besar)  melalui smartphone. Penelitian ini menunjukkan pula, bahwa tanggung jawab perempuan terkait reproduksi sosial mereka menentukan pekerjaan perempuan di SMBOSs. Perempuan yang bekerja di olshop masih dianggap sebagai ibu rumah tangga daripada pekerja.

Ditambah, sebagian besar informan mengatakan bahwa keikutsertaan mereka dalam olshop karena suami mereka menolak membantu berbagai kerja di ranah sosial reporduksi rumah. Dengan kata lain mereka ingin melarikan diri dari tekanan patriarkis di rumah dan keluarga.

Izzati, F. F. (2020). ‘Women’s Work’ In Indonesia’s Social Media-Based Online Store Businesses: Social Reproduction and the Feminization of Work. Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities, 10(1), 35-46.

Catatan: Artikel jurnal ini merupakan versi singkat dari tesis master Fathimah Fildzah Izzati di SOAS.

Selengkapnya: http://jissh.journal.lipi.go.id/index.php/jissh/article/view/157/0

Senin, 21 September 2020

Watak Imperialis - Hannah Arendt

Pemerintahan imperialis bisa ditemukan pola-polanya. Hannah Arendt menemukan pola ras yang terjadi di Afrika Selatan dan birokrasi di Aljazair, Mesir, dan India.Yang pertama, merupakan reaksi yang tak disadari terhadap suku-suku yang meninggikan orang Eropa sehingga suku-suku ini malu dan takut. Kedua, konsekuensi yang digunakan orang Eropa untuk memerintah orang-orang asing yang patut dijajah ini putus asa dan butuh perlindungan khusus.

Bagi Arendt, ras merupakan suatu pelarian dari sifat yang tidak bertanggungjawab. Birokrasi merupakan hasil dari tanggung hawab yang tidak dapat ditanggung oleh siapa pun untuk sesamanya. Rasa tanggung jawab yang berlebihan pada administrator Inggris di India memiliki dasar material.

Diskursus "legenda" dihadapkan pada fakta apa yang dicapai dan menjadi tugas mereka diperoleh melalui kecelakaan, dan mengubah kecelakaan itu menjadi tindakan yang disengaja. Kaum intelektual Inggris memainkan peran yang menentukan dalam pembentukan birokrat dan agen rahasia legenda. Legenda ini memainkan peran yang kuat dalam membentuk sejarah. Menjadi pewaris perbuatan orang lain yang tidak terhina. Dibebani oleh tanggung jawab yang tampaknya merupakan konsekuensi dari rangkaian peristiwa yang tak berujung daripada tindakan sadar.

Legenda menjadi fondasi spiritual dari setiap kota kuno, kekaisaran, orang (hebat), dan menjanjikan masa depan yang tak terbatas. Namun mereka tak pernah mengaitkan dengan fakta-fakta yang andal, mereka menawarkan kebenaran di luar realitas, ingatan yang di luar ingatan. (Di titik ini saya pribadi kepikiran untuk mengatakan: kill your legend!—pen)

Penjelasan legendaris terkait sejarah berfungsi sebagai koreksi yang terlambat dari fakta dan peristiwa nyata. (Sering juga) sejarah meminta pertanggungjawaban manusia atas perbuatan yang tak dilakukan. Kebenaran suatu legenda, misal dari kerajaan atau orang-orang yang mereka layani telah hancur menjadi debu, tak lain agar peristiwa di masa lalu dibuat untuk memenuhi kondisi manusia pada umumnya, terlebih untuk aspirasi politiknya--yang diceritakan secara terus menerus. Legenda tidak hanya kenangan pertama umat manusia, tapi juga awal sejati sejarah manusia.

Takdir manusia dapat diinterpretasikan dari sejarah Adam hingga hari ini untuk suatu penebusan dan keselamatan. Abad 19 menawarkan kita tontonan aneh tentang kelahiran ideologi yang beragam dan kontradiktif, yang masing-masing mengklaim mengetahui kebenaran tersembunyi tentang fakta yang tidak dapat dipahami. Legenda bukan ideologi, tapi mereka selalu memperhatikan fakta-fakta konkret, bukan penjelasan universal.

Rudyard Kipling merupakan salah satu pengarang legenda imperialis Kerajaan Inggris. Karakter imperialis bagaimanapun merupakan karakter sebenarnya di zaman modern yang menipu putra-putra terbaik. Legenda menarik yang terbaik di zaman kita, seperti ideologi dan cerita bisikan tentang kekuatan rahasia di belakang layar. Kerajaan Inggris merupakan struktur politik tentang legenda ini, dengan pendirian koloni dan mendominasi seluruh dunia.

Dasar legenda sebagaimana cerita Kipling, bermula dari realitas fundamental masyarakat Kepulauan Inggris. Mereka dikelilingi laut, butuh menang dan bantuan tiga elemen: air, angin, dan matahari lewat penemuan kapal. Mereka membawa dunia di punggung tanpa terlihat bagaimana cara melakukannya.

Apa yang membuat kisah "The First Sailor" Kipling dekat dengan dasar legenda kuno adalah kisah itu menampilkan Inggris sebagai satu-satunya orang yang dewasa secara politik, peduli hukum, dan dibebani dengan kesejahteraan dunia. Di tengah suku-suku barbar yang tak peduli atau tahu apa yang membuat dunia tetap bersama. Itu mungkin karena adanya kebajikan, kesopanan, kebangsawanan, keberanian, meski mereka tidak pada tempatnya terhadap realitas politik yang telah diatur.

"Beban orang kulit putih" adalah kemunafikan atau rasisme tidak menghalangi beberapa orang Inggris terbaik untuk memikul beban dengan sungguh-sungguh dan menjadikan diri mereka orang yang tragis dan bodoh terhadap imperialisme. Pelindung kaum lemah bukan produk dari imajinasi naif orang primitif, melainkan mimpi yang berisi yang terbaik dari tradisi Eropa dan Kristen, bahkan ketika mereka merosot menjadi cita-cita masa kecil yang sia-sia.

Tradisi kemunafikan menjadi tradisi yang nyata pada orang Inggris. Kemunafikan ini tidak jelas sehingga orang tergoda untuk menyebut tradisi pembantaian naga dengan antusias pergi ke negeri-negeri yang jauh. Lalu menaruh rasa ingin tahu pada mereka yang aneh dan naif untuk membunuh banyak naga yang telah mengganggu mereka selama berabad-abad. Sebutir kebenaran ini tercermin dalam kisah Kipling lainnya "The Tomb of His Ancestor" (Makam Leluhurnya). Menceritakan bagaimmana keluarga Chinn melayani India dari generasi ke generasi, saat lumba-lumba melintasi laut lepas.

Mereka menembak rusa yang mencuri hasil panen orang miskin, mengajari mereka metode pertanian yang lebih baik, membebaskan mereka dari beberapa pengawasan yang lebih berbahaya, membunuh singa dan harimau dengan gaya agung (grand style). Hadiah satu-satunya bagi mereka adalah makam leluhur dan legenda keluarga. Ini dipercaya oleh suku orang India dengan penghormatan terhadap leluhur, memiliki harimau sendiri, tapi berkuda di daerah tersebut menjadi pertanda perang atau wabah. Ada budaya harus menembak binatang nenek moyang sehingga orang dapat divaksinasi tanpa rasa takkut oleh perang atau wabah.

Berjalannya kehidupan modern, Chinn memang lebih beruntung dibanding kebanyakan orang. Mereka memiliki kesempatan lahir dalam karir yang lembut dan alami, yang menuntun mereka mewujudkan mimpi terbaik sebagai laki-laki; ketika orang lain melupakan mimpi-mimpinya yang mulia. Mereka juga cukup dewasa mewujudkan mimpi menjadi tindakan. Chinn tidak menyadari bahwa dia adalah reinkarnasi kakeknya yang berhasil, memberi eksistensi ganda seperti impian dasar yang tak terganggu kenyataan.

Mereka yang tak mampu mengatasi cita-ciat masa kanak-kanak, kemudian mendafar dalam dinas kolonial yang cocok. Imperialisme bagi mereka adalah kesempatan yang tak disengaja guna melarikan diri dari masyarakat di mana seseorang harus melupakan masa mudanya jika ingin tumbuh dewasa. Negeri-negeri aneh dan penuh rasa ingin tahu menarik para pemuda terbaik Inggris sejak akhir abad kesembilan belas. Merampas elemen paling jujur dari masyarkat, mejamin kebahagiaan dengan perlindungan tertentu, hingga menanamkan standar moral barat.

Lord Cromer, anggota keuangan di pemerintahan pra-imperialis India, termasuk dalam kategori pembantai naga Inggris (British dragonslayers). Dipimpin oleh rasa pengorbanan terhadap populasi terbelakang. Dia menolak jabatan Raja Muda pada tahun 1894 dan sepuluh tahun kemudian menolak jabatan menteri luar negeri. Alih-alih penghargaan semacam itu yang memuaskan orang yang lebih rendah, sebagai Konsul Jenderal Inggris untuk Mesir pada 1883-1907 dia sedikit publikasi. Ia menjadi administrator imperialis pertama atas jasanya memuliakan ras Inggris.

Cromer pergi ke Mesir karena sadar bahwa orang Inggris berusaha keras mempertahankan India dan harus menanamkan pegangan yang kuat di tepi Sungai Nil. Mesir menjadi alat mencapai tujuan dan perluasan yang diperlukan demi keamanan India. Ada juga orang Inggris yang pergi ke benua Afrika, seperti Cecil Rhodes pergi ke Afrika Selatan dan menyelamatkan Cape Colony. Gagasan Rhodes akan perluasan jauh leih maju dan terhormat. Baginya ekspansi tidak perlu dibenarkan oleh motif yang masuk akal seperti memegang apa yang sudah dimiliki seseorang. Ada permainan besar rahasia yang tak kalah gila daripada dunia hantu ras.

Kemiripan Rhodes dan Cromer adalah keduanya menganggap negara bukan tujuan tapi sebagai sarana untuk sesuatu yang dianggap lebih tinggi. Arendt said: “the  self-interest  of  the  subject- races is the principal basis of the whole imperial fabric.” Administrator yang acuh tak acuh ini alih-alih percaya pada keunggulan individunya dengan beberapa derajat kesombongan yang pada dasarnya tidak bahaya; dia merasa bagian dari bangsa yang mencapai tingkat peradaban yang lebih tinggi dan memegang posisinya berdasarkan hak lahir.

Melalui kerahasiaan seperti Lord Cromer yang terlalu bersahaja. Sangat suka menyusun surat wasiat. Apa yang membuat Rhodes menemukan pesona kerahasiaan adalah hal yang sama yang membuat Cromer mengatasi rasa tanggung jawab bawaannya: “penemuan perluasan yang tidak didorong oleh keinginan khusus untuk negara tertentu tetapi dipahami sebagai proses tanpa akhir di mana setiap negara hanya akan berfungsi sebagai batu loncatan untuk ekspansi lebih lanjut.”

Lebih lanjut Arendt mengatakan:

“Jelas bahwa agen rahasia dan anonim dari kekuatan ekspansi ini tidak merasa berkewajiban terhadap hukum manusia. Satu-satunya "hukum" yang mereka patuhi adalah "hukum" ekspansi dan satu-satunya bukti "keabsahan" mereka adalah keberhasilan. Mereka harus benar-benar rela menghilang sepenuhnya begitu kegagalan terbukti, jika karena alasan apa pun mereka tidak lagi menjadi "instrumen dengan nilai yang tak tertandingi." Selama mereka berhasil, pengajuan mewujudkan kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri membuatnya relatif mudah untuk mengundurkan diri dan bahkan membenci tepuk tangan dan pemujaan. Mereka adalah monster kesombongan dalam kesuksesan mereka dan mereka monster kesopanan dalam kegagalan mereka.”

Begitu juga yang terjadi pada TE Lawrence. Arendt menulis: 

"Lawrence tergoda untuk menjadi agen rahasia di Arab karena keinginannya yang kuat untuk meninggalkan dunia kehormatan yang tumpul yang kesinambungannya menjadi tidak berarti, karena keteguhan hatinya dengan dunia dan juga dengan dirinya sendiri. Kesimpulan ini dia tarik dari pengetahuannya yang sempurna bahwa dia sendiri tidak besar, tetapi hanya peran yang dia asumsikan dengan tepat, bahwa kebesarannya adalah hasil dari Game dan bukan produk sendiri. Sekarang dia tidak “ingin menjadi besar lagi” dan bertekad bahwa dia tidak “akan dihormati lagi”, dan karenanya benar-benar “sembuh dari keinginan apa pun untuk melakukan apa pun untuk diri sendiri." Kehebatannya adalah bahwa dia cukup bersemangat untuk menolak kompromi murah dan jalan mudah menuju kenyataan dan kehormatan, bahwa dia tidak pernah kehilangan kesadarannya bahwa dia hanya sebuah fungsi dan memainkan peran dan oleh karena itu, "tidak boleh mendapatkan keuntungan dengan cara apapun dari apa yang dia telah lakukan dilakukan di Arab. Penghargaan yang dia menangkan ditolak. Pekerjaan yang ditawarkan karena reputasinya harus ditolak dan dia juga tidak akan membiarkan dirinya mengeksploitasi kesuksesannya dengan mengambil untung dari menulis satu jurnalisme berbayar dengan nama Lawrence." Lawrence telah bertindak untuk tujuan tersembunyi yang tak terduga. Satu-satunya kepuasan yang bisa dia dapatkan dari ini, tidak memiliki kesadaran tentang pencapaian terbatas, datang dari rasa berfungsi itu sendiri, karena dipeluk dan didorong oleh suatu gerakan besar. Kembali di London dan dalam keputusasaan, dia akan mencoba menemukan pengganti untuk "kepuasan diri" semacam ini."

Arendt, H. (1950). The Imperialist Character. The Review of Politics, 12(3), 303-320.

Selengkapnya: https://www.jstor.org/stable/1404663

Minggu, 20 September 2020

Cyberpram

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) merupakan salah satu penulis terkenal baik domestik maupun luar negeri Indonesia. Kisah tentangnya dan karyanya bisa ditemui dengan mudah di internet. Tingginya angka ini menjadi korpus penting terkait riset persepsi penulis Indonesia berserta karya mereka di era internet.

Pertanyaan utama yang ingin dibahas dalam artikel Arndt Graf: bagaimana kualitas estetik literatur dengan segenap pesan sosial dan politisnya, bertamasya hingga lintas ruang dengan berbagai interpertasi yang berbeda dalam suatu komunitas? Graf menamai komunikasi internet yang membentuk persepsi akan karya Pramodya ini sebagai CyberPram (Pramsiber).

Graf menyelidiki bagaimana persepsi pembaca terhadap karya-karya Pramoedya Ananta Toer di internet. Metode yang digunakan analisis kuantitatif setelah melakukan pembacaan  intens di web-blog dengan bahasa utama Inggris (english most of 66%; Indonesia 24,7%; sisanya bahasa lain semisal Jerman, Spanyol, Portugis, dll).

Graf mengelompokkan tema-tema yang ada di buku Pram, seperti: sejarah, Jawa, Belanda, merdeka, kemerdekaan, Melayu, penjajahan, nasionalisme, kolonialisme, nasionalis, bersejarah, rasialisme. Dia menemukan ada 36 karya Pram berbahasa Indonesia. Terpopuler Bumi Manusia, karya ini tak hanya terkenal secara komersial, tapi juga dijadikan studi komparasi sastra di berbagai universitas baik dalam dan luar negeri.

Dalam internet yang berbahasa Indonesia dan Jerman, novel Bumi Manusia lebih popular dibanding karya-karya lainnya. Ada 5 faktor: 1. Menggambarkan sejarah era kolonial, 2. Menghadikan diskursus identitas barat-timur, 3. Simpati terhadap penulis yang dicekal, 4. Adanya konteks ideologis masa Perang Dingin, 5. Kisah cinta yang menggambarkan hubungan gender yang setara.

Mari kita jelaskan satu-satu dari faktor-faktor tersebut:

Novel sejarah terkait era kolonial

Salah satu penemuan Graf, Minke digambarkan sebagai sosok yang bisa memberi pengertian hidup kepada pembaca di masa penjajahan. Dalam konteks Indonesia yang dijajah Belanda selama 350 tahun, kemudian Jepang 2-an tahun. Novel Bumi Manusia juga memberi gagasan terkait kritik sosial. Lebih jauh lagi, Pram memberi cara bagaimana setiap orang bisa independen--dengan observasi personalnya terkait masalah ras dan kolonisasi.

Diskursus identitas barat-timur

Lewat Bumi Manusia, seseorang bisa membedakan diskursus yang terjadi antara identitas barat dan timur. Misal pesona identitas barat berhubungan dengan perasaan bersalah kolonial bagi pembaca barat. Adanya sentimen kolektif, antara mindset  orang pribumi dan orang dengan budaya barat. Bukan masalah eksotisme atau romantisme timur, tapi bagaimana wacana identitas seseorang yang sejati sampai untuk di semua kalangan dengan berbagai latar belakang.

Simpati untuk penulis yang dicekal

Pencekalan yang terjadi pada Pram menjadi salah satu faktor yang mengerek popularitas Bumi Manusia. Sebab karya ini pernah dilarang oleh pemerintah dan penulisnya dipenjara. Konteksnya di masa Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto. Pram dianggap sebagai oposisi yang mesti disensor dan menjadi tapol rezim otoriter. Ada pembaca yang memberikan simpati akan kisah hidup Pram ini ketika membuat karyanya.

Konteks ideologis era Perang Dingin

Persepsi keempat ini mengarah pada pilihan politik Pram yang berorientasi sayap kiri, LEKRA. Persekusi yang terjadi pada Pram berhubungan dengan citra negatif. Pram memainkan peran berharga dalam membumikan cita-cita LEKRA di era 1950-1960an. Di mana saat Orde Baru kebebasan berpendapat dibatasi, banyak sensor sosial, dll.

Penghargaan terhadap kisah cinta, gender, dan keindahan

Bumi Manusia menimbulkan persepsi yang sukses pula karena menghadirkan kisah cinta antara Minke dan Annelis, dengan penuturan dan pandangan yang substil. Juga menggambarkan berlakunya kesetaraan gender pada tokoh Nyai Ontosoroh.

Graf, A. (2007). “CYBERPRAM” Perceptions of Pramoedya Ananta Toer on the Internet1. Indonesia and the Malay World, 35(103), 293–312.

Selengkapnya: https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13639810701676797

Sabtu, 19 September 2020

Tubuh Pemberontak Bagian 2

Bagian 2 esai Silvia Federici ini menguji perkembangan minat akan tubuh di abad ke-17. Suatu usaha untuk membahas disiplin kerja terhadap pekerja yang bandel. Bagaimana keasyikan tubuh bekerja dan konstitusinya menjadi mesin kerja dalam filsafat mekanik. Federici juga menggambarkan bagaimana kompleksitas antara kebijakan institusional, wacana pendisiplinan, dan naiknya identifikasi metaforis antara "tubuh dan proletariat".

Masyarakat pra-kapitalis dimulai pada abad ke-17, kongruen dengan intervensi negara. Keduanya tak menaruh kasihan terhadap segala aspek yang mendukung jalannya kapital. Tampak pada adanya legislasi sosial di Inggris dan Prancis. Saat permainan, mabuk, judi, telanjang, seksualitas, dilarang dan dibatasi untuk menaikan tanggungjawab terhadap kerja. Dalam konteks ini, Federici ingin membaca ini sebagai serangan terhadap ilmu sihir (suatu pandangan ajaib akan dunia, sebagaimana Gereja di abad pertengahan).

Basis ajaib ini merupakan konsepsi animistik alam yang tidak membedakan antara materi dan roh. Yang berdiam dalam kekuatan gaib. Melihatnya sebagai suatu organisme yang kosmos. Foucault menyebutnya sebagai jaringan tanda dan penanda, mengandung daya tarik yang mesti diuraikan. Setiap elemen, entah itu tumbuhan, logam, dan tubuh manusia menyimpan nilai dan kekuatan anehnya sendiri.

Maka, segala praktif didesain untuk menguak rahasia alam ini. Dari ramalan, penggunaan simpati, magic dianggap Federici sebagai hal yang bisa membuka kemungkinan (hal-hal lain yang tak terakomodasi) dengan cepat. Magic bisa membuat seorang anak kecil tidur, menjadi hal yang tak kelihatan untuk memenangkan cinta, meraih imunitas saat perang, dll. Kondisi magic inilah yang coba dibasmi oleh rasionalisasi kerja. Magic membuat seseorang menginginkan sesuatu tanpa kerja, atau dalam terma Francis Bacon, "magic kills industry".

Magic dilihat pula sebagai konsepsi kualitatif akan ruang dan waktu yang menghalangi regularisasi proses perburuhan. Tidak ada pola kerja yang mempercayai adanya hari beruntung dan tidak beruntung. Ini tidak cocok dengan disiplin kerja kapitalis. Praktik-praktik magic ini ketika disebut atau dilakukan, pasti sudah dicurigai sebagai santet.

Contohnya tumbuhnya peminatan akan dunia parapsikologi atau praktik pengobatan bio atau ilmu perbintangan atau astrologi dll. Kebangkitan kepercayaan magic ini memungkinkan hari ini karena mekanisasi terhadap tubuh konstitutif terhadap individu.

Kepercayaan akan kemungkinan ini menyembunyikan kekayaan magic yang membuat sukar pendisiplinan kerja. Perjuangan ini pernah digunakan oleh kelas bawah dari ahli nujum selama masa Perang Sipil Inggris menyusun  strategi perlawanan.

Kita lihat di sini, ahli nujum faktanya bukanlah golongan falistik yang mengantisipasi masa depan, tapi seseorang  yang melegitimasi hasrat manusia dan memacu tindakan. Kaum borjuis tentu gerah dengan ini karena merusak tanggungjawab individu dan tak bisa dikontrol--sehingga meminimalisasi perubahan mayor dan revolusi.

Ketidakcocokan magic dalam ranah ruang-waktu ini membuat kenapa kapitalis melawannya. Magic kemudian dihukum karena dianggap sebagai kepercayaan yang salah. Tahayul kemudian dieliminasi untuk membuat masyarakat sipil patuh. Ini yang membuat "tubuh sosial" jadi homogen, mudah diramal, dan dapat dikontrol sebagaimana “binatang”.

Dalam konteks sosial inilah, praktik-praktik aborsif terjadi, setiap bentuk seksualitas yang tidak produktif dengan pemasrahan tubuh perempuan. Uterusnya beralih menjadi mesin alami yang mereproduksi tenaga kerja.

Melalui serangan terhadap yang ajaib ini, proletariat mengambil alih tubuh dari tanah mereka. Pengambil alihan ini merujuk pada destruksi kemampuan tetentu dan men-subordinasi kemampuan mereka. Perburuan penyihir ini adalah aspek sentral dari pembebasan tenaga kerja, aspek sentral yang membuat petani gurem lepas dari tanah mereka. Memiskinkan tubuh proletariat, yang mengganti hubungan kerja berdasarkan penjualan sukarela dari tenaga kerja seseorang.

Kasus perselisihan tubuh ini telah digambarkan dengan apik oleh Peter Linebaugh dalam “The Tyburn Riots Against the Surgeons.” Sadar atau tidak, dampak secara sosial-politik, rasionalisasi ilmiah berhubungan dengan usaha kapitalisme membangun kontrol akan tenaga kerja. Mesin menjadi model perilaku sosial.

Lalu kemampuan seseorang di-dekarakterisasi hanya berdasarkan aspek-aspek standar. Kontruksi individu baru ini sebagaimana yang William Petty bilang sebagai Hitungan Politis (Political Arithmetics). Studi yang membahas perilaku sosial dalam angka, berat, dan ukuran. Yang menampilkan tubuh sosial sama performanya dengan tubuh individu.

Masalahnya kemudian, jika tubuh itu sebuah mesin, bagaimana dia dapat bekerja? Ada 2 model terkait tubuh-pemerintah yang diturunkan dari teori filsafat mekanis. Model Cartesian dengan postulatnya kemungkinan mengembangkan mekanisme individu terhadap disiplin diri (manajemen sendiri, regulasi sendiri), yang membiarkan adanya hubungan kerja seukerala dan pemerintah menyetujuinya. Kedua model Hobbesian, yang menolak kemungkinan nalar bebas tubuh, mengeksternalisasi semua fungsi menjadi perintah, menyerahkan mereka pada otoritas absolut monarki.

Filsafat Cartesian yang membuat dualisme antara roh dan tubuh memberi banyak penjelasan. Bagaimana kemudian tubuh tanpa jiwa ini dianggap sebagai sesuatu yang mati, atau tubuh dianggap sarang dari hal-hal yang merusak. Sialnya logika Cartesian ini kukuh hingga sekarang, dan gagal untuk memberi penjelasan praktik-praktik konkrit dari tubuh itu sendiri untuk kehidupan roh.

Ini berbeda dengan rivalnya Thomas Hobbes yang menolak konsep Descartes. Kata Hobbes, perilaku manusia adalah kumpulan tindakan spontasn yang mengikuti hukum alam yang berharga dan mendorong seseorang untuk mendominasi yang lainnya.

Di sisi lain, Foucault menganggap mekanisasi tubuh ini tidak sesederhana represi terhadap hasrat, emosi, atau bentuk perilaku yang dihilangkan. Namun juga ketermpilan baru yang menjadi agen transformasi. Dan pembedaan historis antara pikiran-tubuh menunjukkan lahirnya individu dalam masyarakat kapitalis. Yang menghadapi tubuh sebagai alien.

Federici, S. (2004). The great Caliban the struggle against the rebel body – part two. Capitalism Nature Socialism, 15(3), 13–28.

Selengkapnya: https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/1045575042000247211

Jumat, 18 September 2020

Tubuh Pemberontak

Artikel jurnal ini merupakan sisi pertama dari bab buku Silvia Federici yang berjudul “Caliban and the Witch: Women, The Body and Primitive Accumulation”. Secara umum merekonstruksi latar belakang historis persekusi terhadap penyihir dan perubahan tubuh, dalam konteks transisi dari sistem feodalisme ke kapitalisme. Hal ini terjadi pada abad ke-17 dengan kebijakan sosial, perkembangan filsafat Eropa kontemporer.

Perkembangan tersebut memiliki konteks di mana kapitalis melakukan akumulasi tenaga kerja dan menggembosi perlawanan pekerja terhadap disiplin kerja upahan. Federici berpendapat bahwa pemusnahan penyihir berakar karena usaha pemerintah yang memberikan kontrol terhadap fungsi reproduksi perempuan. Juga mengubah tubuh perempuan menjadi instrumen reproduksi tenaga kerja.

Pada abad ke-16 dan 17, kebencian terhadap pekerja upahan sangat kuat. Tak sedikit proletar yang lebih suka digantung, daripada tunduk pada kondisi kerja yang baru. Respon borjuasi yakni melakukan rezim teror, insentifikasi hukuman, pelipatgandaan eksekusi, dan terus mengikat proletariat untuk bekerja sebagaimana budak.

Pada masa pemerintahan Henry VIII di Inggris, 72 ribu orang digantung! Kekerasan ini tidak hanya dibaca sebagai penindasan, tapi juga transformasi radikal pribadi. Tujuannya memberantas proletariat dari segala bentuk hal-hal yang tidak kondusif untuk menerapkan disiplin kerja yang ketat. Tubuh diserang sebagai sumber dari semua kejahatan.

Perlu dicatat pula, segenap kekayaan di dalam seperti pertambangan tidak menghasilkan keuntungan sebanyak kekayaan yang dihasilkan pekerja.  Tubuh kemudian tampak seperti binatang buas terhadap rangsangan kerja, juga sebagai wadah tenaga kerja, alat produksi, dan mesin utama kerja.  Lebih banyak kekerasan lebih banyak laba.  “Lebih banyak lebih baik adalah logika kapital.”

***

Abad 16 menjadi tonggak sejarah Reformasi Protestan di Eropa Barat. Tumbuh pula kekuatan dari borjuis merkantil yang muncul di berbagai bidang dari panggung, mimbar, politik hingga imajinasi filosofis. Perwujudan nyatanya ada semisal ada pada sosok Shakespearean Prospero yang menjadi sintesis antara spiritualitas surgawi Ariel dan materialitas brutal Caliban, sayangnya mengelak efek samping usaha-usaha yang menjadikan manusia bangga akan kemanusiaannya.

Pada abad ke-17, di mana pada percaturan formal adanya konflik antara Rasio dan Tubuh, atau oposisi biner antara malaikat dan setan terhadap jiwa pada abad pertengahan. Konflik itu saat ini jadi medan pertepuran elemen-elemen yang berlawanan untuk mendapat dominasi.

Kasarnya perlawanan elemen di satu sisi tentang kekuatan nalar, kesederhanaan, tanggungjawab, kehati-hatian, kontrol diri; vice versa dengan naluri tubuh yang rendah seperti kebodohan, kemalasan, hingga pembuangan energi vital seseorang secara sistematis. Dalam kasusnya yang ekstrim, seseorang menjadi medan perang melawan segala: nafsu vs akal, akal vs iman, iman vs setan, kata hati vs semua.

Secara metaforis meminjam gambaran dari tubuh-politik negara, akan mengungkap lanskap yang dihuni oleh penguasa, subjek pemberontak, banyak orang, hasutan, rantai, perintah angkuh, bahkan algojo. Pertempuran dalam ranah mikrokosmos individu ini menjadi proses reformasi yang lebih luas. Pada Zaman Akal, bangkitnya kaum borjuasi berusaha membentuk kembali kelas-kelas subordinat sesuai dengan kebutuhan kapitalis yang tengah berkembang.

Guna membentuk individu baru, borjuasi ini terlibat dalam pertempuran melawan tubuh yang menjadi tanda sejarah. Sebagaimana yang dikatakan Max Weber, reformasi tubuh menjadi inti dari etika borjuis, karena kapitalisme menjadikan perolehan sebagai tujuan hidup, yang membuat seseorang kehilangan semua kenikmatan tubuh spontan--alih-alih memuaskan kebutuhan kita.

Kapitalisme berusaha melampaui keadaan alamiah tubuh, dengan memperpanjang hari kerja yang dibatasi oleh matahari, musim, dan tubuh itu sendiri, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat pra-industri.

***

Karl Marx juga melihat keterasingan dari tubuh sebagai ciri pembeda dari hubungan kerja kapitalis. Kapitalisme mengubah tenaga kerja jadi komoditas, menyebabkan pekerja menyerahkan aktivitas mereka ke tatanan dari luar yang tak bisa dikendalikan dan diidentifikasi. Proses kerja jadi dasar pengasingan diri. Dalam bekerja mereka merasakan dirinya di luar, di luar dia merasa dirinya bekerja. Pekerja menghadapi tubuhnya sebagai modal yang dijual ke penawar tertinggi. Proses-proses ini memisahkan tubuh yang direduksi jadi sebatas elemen parsial, yang dengannya seseorang tak dapat segera diidentifikasi.

Tubuh sebagai sebuah pabrik ditunjukkan oleh Andreas Vesalius pada karya penting tentng industri pembedahan: De humani corporis fabrica (1543). Foucault pada abad 17-18 juga mengganggap bahwa tubuh merupakan suatu disiplin sosial. Filsafat Mekanik ini memandang semangat borjuis baru yang menghitung, mengklasifikasikan, bertujuan untuk intensifikasi penundukan dan memaksimalkan utilitas sosialnya—yang dapat dimengerti dan dikontrol.

Federici, S. (2004). The Great Caliban The struggle against the rebel body. Capitalism Nature Socialism, 15(2), 7–16.

Selengkapnya: https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/10455750410001691551?journalCode=rcns20

Riset yang Hebat

Richard Hamming, matematikawan satu ini pernah berkata: jika kamu nggak mengerjakan masalah penting, kecil kemungkinan kamu akan melakukan pekerjaan penting. Mengetik bukanlah pengganti untuk kamu berpikir. Tujuan dari berpikir itu sendiri adalah pandangan (insight) dan bukan angka atau seberapa banyak kamu melakukan banyak hal. And, “it is better to do the right problem the wrong way than the wrong problem the right way.”

“You and Your Research”, esai ini menjawab pertanyaan: kenapa cuma sedikit ilmuwan yang memberi kontribusi signifikan dan lebih banyak mereka yang dilupakan dalam jangka waktu panjang? Pembicaraan dia terutama terkait gimana sifat ilmuwan, kemampuan, kebiasaan kerja, tindakan, hingga filsafat mereka. Bukan tentang gimana ngelola penelitian, tapi gimana kamu melakukan penelitian secara personal.

Artikel ini membicarakan pula terkait keberuntungan dan ketidakberuntungan yang dialami oleh para ilmuwan ini. Yang intinya, "keberuntungan itu didorong oleh pikiran yang telah siap." Tak peduli seberapa tinggi IQ atau kapasitas otakmu, tidak otomatis akan melahirkan karya besar.

Salah satu karakteristik dari ilmuwan yang sukses adalah memiliki keberanian. Jika kamu percaya dan berani mengerjakan problem yang penting, maka kamu akan bisa, vice versa. Umur juga berpengaruh, Einstein memulai eksperimennya di usia yang sangat awal. Pun dengan matematikawan, fisikawan, astrofisika fellow lainnya. Intinya bukan usia, tapi apa yang kamu laku sedini mungkin, meski hasil terbaiknya akan datang ketika tua.

Dan menjawab pertanyaan ini adalah kunci: What are the important problems of your field? 

Lalu tentang kondisi kerja, penemuan besar sering muncul pada kondisi-kondisi yang memang tidak mudah. Ilmuwan besar sedikit membalikkan masalah, mereka mengubah sesuatu yang cacat menjadi aset. Jadi, memimpikan kerja yang ideal itu sangat aneh, karena apa yang kamu pengen nggak selalu baik untukmu. 

Juga tentang berkendara, ilmuwan besar memiliki daya kendara yang luar biasa. Berkendara yang salah tidak membawamu kemana-mana. Pengetahuan dan produktivitas bagaikan keuntungan majemuk. Semakin kamu tahu, semakain kamu belajar, semakin banyak kamu bisa, dan semakin banyak kesempatan. Perkataan Edison bahwa genius itu 99% keringat dan 1% inspirasi adalah argumen solid jika kamu menjalaninya. Ilmuwan besar menjaga komitmen akan masalah-masalah mereka.

Esai ini juga ingin bicara terkati topik yang sangat tidak disukai: kamu tidak cukup melakukan suatu pekerjaan, tapi kamu juga harus “menjualnya”. Menjual agi ilmuwan dianggap aneh dan najis, Hamming mengatakan kamu tak harus begitu. Ada tiga cara untuk menjual: 1) kamu harus belajar menulis dengan jelas dan bagus sehingga orang membacanya, 2) kamu harus belajar memberikan perbincangan yang cukup formal, 3) belajar juga memeri perbincangan informal melalui ruang belakangnya ilmuwan (back room scientists). 

Kaiser, J. F. (2016). You and Your Research. New School Economic Review, 3(1), 5-26.

Selengkapnya: https://nsereview.org/index.php/NSER/article/view/21

Twitter Jokowi dan Covid-19

Corona yang menjadi pandemi global mengubah banyak sisi: ekonomi, sosial, pendidikan, hingga psikologi. Bencana ini juga telah merebut tak hanya pekerjaan, tapi juga nyawa. Pemerintah Indonesia pun melakukan berbagai usaha dan kebijakannya. Dari WFH, lockdown, jaga jarak, larangan mudik, dll, untuk mengurangi persebaran virus.

Sayangnya komunikasi pemerintah yang tak efektif lebih sering menimbulkan gegar otak daripada rasa aman. Indikatornya jelas, banyak masyarakat yang tak mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan. Ketakutan massa dan panik terjadi hampir merata di Indonesia karena pandemi ini. Segenap tingkah irasional dilakukan, dari panic buying hingga kekerasan.

Manajemen bencana penting, yang salah satunya adalah aspek komunikasi, koordinasi, dan distribusi informasi. Jika ini dilakukan dengan baik bisa mengurangi efek samping dari bencana itu sendiri. Sayangnya institusi di Indonesia memiliki mekanisme komunikasi yang parah terkait itu.

Di sini peran pemimpin negara dibutuhkan untuk mengkomunikasikan bencana melalui opini-opini yang dilakukan di media sosial. Kadhung lewat artikel jurnal ini menganalisa bagaimana komunikasi bencana yang dilakukan oleh Twitter @jokowi sehubungan dengan pandemi Covid-19 dari 1 Januari 2020 hingga 30 April 2020.

Untuk komunikasi manajemen bencana, sebaiknya ego sektoral dikesempingkan; terlebih-lebih jangan institusi seharusnya tidak memberi informasi yang berbeda-beda sehingga menimbulkan ketakutan publik.

Sebab itu komunikasi lintas sektoral dibutuhkan. Jokowi sebaiknya pula membangun komunikasi dan keterlibatan dengan para institutsi ini (hingga follower) yang tujuannya memberi dampak. Selain itu, secara umum pendidikan publik di media bisa dilakukan sebelum, selama, dan setelah bencana terjadi. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai simbol pemerintah yang seharusnya bertanggungjawab menjadi orang nomor 1 yang diharapkan bisa melakukan strategi komunikasi, belum menciptakan komunikasi yang efektif terkait bencana. Padahal Jokowi yang menjadi figure sentral menggunakan Twitter sebagai media sosialnya. Twitter efektif untuk menjaring simpati dan empati komunitas. Diskusi juga bisa terjadi lewat thread dan trending topic.

Penelitian kuantitatif ini menunjukkan, tweet Jokowi tentang corona isinya menyebar luas. Kadhung menemukan ada 150 tweet yang berhubungan dengan corona dari total 290 tweet. Lingkupnya dari: sosialisasi kebijakan (31%), pengumuman (21%), saran pada masyarakat (9%), konten mendidik (9%), anjuran pada pemerintah lokal (9%), aksi kooperatif (8%), motivasi (8%), apresiasi (3%), dan ungkapan duka cita (1%).

Jokowi menggunakan sarana foto dan video untuk meningkatkan kesadaran publik. Ada (80) 53% tweet yang menyertakan gamabar dan (25) 17% tweet yang menyertakan video. Meski sayangnya komunikasi ini tidak dalakukan sebelum bencana terjadi. Ini sebabnya dibutuhkan koordinasi yang baik antar komponen yang terlibat. Koordinasi ini masih menjadi masalah serius. Semisal Twitter @KemenkesRI harusnya disebut untuk membangun koordinasi, juga akun-akun relevan lain. Pun strategi-strategi hashtag.

Terlebih di era keterbukaan ini jadi semakin mudah melalui media sosial yang menjadi makanan masyarakat Indonesia sehari-hari. Secara umum, medsos bisa menjadi komunikasi politis tak terkecuali Twitter yang menjadi medium komunikasi poslitis.

Sebab komunikasi membutuhkan kepecayaan dari pihak yang diajak komunikasi. Ketidakpercayaan publik itu sendiri menjadi masalah serius. Kemampuan komunikasi interpersonal hingga kecerdasan emosi berperan penting untuk mengkondisikan massa.“Jokowi should properly reform the existing disaster communication in Indonesia.”

Prayoga, K. (2020). How Jokowi Communicates with the Public During Covid-19 Crisis: An Analysis of Tweets on Twitter. Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication, 36(2), 434-456.

Selengkapnya: http://ejournals.ukm.my/mjc/article/view/39853