Pemerintahan imperialis bisa ditemukan pola-polanya. Hannah
Arendt menemukan pola ras yang terjadi di Afrika Selatan dan birokrasi di
Aljazair, Mesir, dan India.Yang pertama, merupakan reaksi yang tak disadari
terhadap suku-suku yang meninggikan orang Eropa sehingga suku-suku ini malu dan
takut. Kedua, konsekuensi yang digunakan orang Eropa untuk memerintah
orang-orang asing yang patut dijajah ini putus asa dan butuh perlindungan
khusus.
Bagi Arendt, ras merupakan suatu pelarian dari sifat yang
tidak bertanggungjawab. Birokrasi merupakan hasil dari tanggung hawab yang
tidak dapat ditanggung oleh siapa pun untuk sesamanya. Rasa tanggung jawab yang
berlebihan pada administrator Inggris di India memiliki dasar material.
Diskursus "legenda" dihadapkan pada fakta apa yang
dicapai dan menjadi tugas mereka diperoleh melalui kecelakaan, dan mengubah
kecelakaan itu menjadi tindakan yang disengaja. Kaum intelektual Inggris
memainkan peran yang menentukan dalam pembentukan birokrat dan agen rahasia legenda.
Legenda ini memainkan peran yang kuat dalam membentuk sejarah. Menjadi pewaris
perbuatan orang lain yang tidak terhina. Dibebani oleh tanggung jawab yang
tampaknya merupakan konsekuensi dari rangkaian peristiwa yang tak berujung
daripada tindakan sadar.
Legenda menjadi fondasi spiritual dari setiap kota kuno,
kekaisaran, orang (hebat), dan menjanjikan masa depan yang tak terbatas. Namun
mereka tak pernah mengaitkan dengan fakta-fakta yang andal, mereka menawarkan
kebenaran di luar realitas, ingatan yang di luar ingatan. (Di titik ini saya
pribadi kepikiran untuk mengatakan: kill
your legend!—pen)
Penjelasan legendaris terkait sejarah berfungsi sebagai
koreksi yang terlambat dari fakta dan peristiwa nyata. (Sering juga) sejarah
meminta pertanggungjawaban manusia atas perbuatan yang tak dilakukan. Kebenaran
suatu legenda, misal dari kerajaan atau orang-orang yang mereka layani telah
hancur menjadi debu, tak lain agar peristiwa di masa lalu dibuat untuk memenuhi
kondisi manusia pada umumnya, terlebih untuk aspirasi politiknya--yang
diceritakan secara terus menerus. Legenda tidak hanya kenangan pertama umat
manusia, tapi juga awal sejati sejarah manusia.
Takdir manusia dapat diinterpretasikan dari sejarah Adam
hingga hari ini untuk suatu penebusan dan keselamatan. Abad 19 menawarkan kita
tontonan aneh tentang kelahiran ideologi yang beragam dan kontradiktif, yang
masing-masing mengklaim mengetahui kebenaran tersembunyi tentang fakta yang
tidak dapat dipahami. Legenda bukan ideologi, tapi mereka selalu memperhatikan
fakta-fakta konkret, bukan penjelasan universal.
Rudyard Kipling merupakan salah satu pengarang legenda
imperialis Kerajaan Inggris. Karakter imperialis bagaimanapun merupakan
karakter sebenarnya di zaman modern yang menipu putra-putra terbaik. Legenda
menarik yang terbaik di zaman kita, seperti ideologi dan cerita bisikan tentang
kekuatan rahasia di belakang layar. Kerajaan Inggris merupakan struktur politik
tentang legenda ini, dengan pendirian koloni dan mendominasi seluruh dunia.
Dasar legenda sebagaimana cerita Kipling, bermula dari
realitas fundamental masyarakat Kepulauan Inggris. Mereka dikelilingi laut,
butuh menang dan bantuan tiga elemen: air, angin, dan matahari lewat penemuan
kapal. Mereka membawa dunia di punggung tanpa terlihat bagaimana cara
melakukannya.
Apa yang membuat kisah "The
First Sailor" Kipling dekat dengan dasar legenda kuno adalah kisah itu
menampilkan Inggris sebagai satu-satunya orang yang dewasa secara politik,
peduli hukum, dan dibebani dengan kesejahteraan dunia. Di tengah suku-suku
barbar yang tak peduli atau tahu apa yang membuat dunia tetap bersama. Itu
mungkin karena adanya kebajikan, kesopanan, kebangsawanan, keberanian, meski
mereka tidak pada tempatnya terhadap realitas politik yang telah diatur.
"Beban orang kulit putih" adalah kemunafikan atau
rasisme tidak menghalangi beberapa orang Inggris terbaik untuk memikul beban
dengan sungguh-sungguh dan menjadikan diri mereka orang yang tragis dan bodoh
terhadap imperialisme. Pelindung kaum lemah bukan produk dari imajinasi naif
orang primitif, melainkan mimpi yang berisi yang terbaik dari tradisi Eropa dan
Kristen, bahkan ketika mereka merosot menjadi cita-cita masa kecil yang
sia-sia.
Tradisi kemunafikan menjadi tradisi yang nyata pada orang
Inggris. Kemunafikan ini tidak jelas sehingga orang tergoda untuk menyebut
tradisi pembantaian naga dengan antusias pergi ke negeri-negeri yang jauh. Lalu
menaruh rasa ingin tahu pada mereka yang aneh dan naif untuk membunuh banyak
naga yang telah mengganggu mereka selama berabad-abad. Sebutir kebenaran ini
tercermin dalam kisah Kipling lainnya "The
Tomb of His Ancestor" (Makam Leluhurnya). Menceritakan bagaimmana
keluarga Chinn melayani India dari generasi ke generasi, saat lumba-lumba
melintasi laut lepas.
Mereka menembak rusa yang mencuri hasil panen orang miskin,
mengajari mereka metode pertanian yang lebih baik, membebaskan mereka dari
beberapa pengawasan yang lebih berbahaya, membunuh singa dan harimau dengan
gaya agung (grand style). Hadiah
satu-satunya bagi mereka adalah makam leluhur dan legenda keluarga. Ini
dipercaya oleh suku orang India dengan penghormatan terhadap leluhur, memiliki
harimau sendiri, tapi berkuda di daerah tersebut menjadi pertanda perang atau
wabah. Ada budaya harus menembak binatang nenek moyang sehingga orang dapat
divaksinasi tanpa rasa takkut oleh perang atau wabah.
Berjalannya kehidupan modern, Chinn memang lebih beruntung
dibanding kebanyakan orang. Mereka memiliki kesempatan lahir dalam karir yang
lembut dan alami, yang menuntun mereka mewujudkan mimpi terbaik sebagai
laki-laki; ketika orang lain melupakan mimpi-mimpinya yang mulia. Mereka juga
cukup dewasa mewujudkan mimpi menjadi tindakan. Chinn tidak menyadari bahwa dia
adalah reinkarnasi kakeknya yang berhasil, memberi eksistensi ganda seperti
impian dasar yang tak terganggu kenyataan.
Mereka yang tak mampu mengatasi cita-ciat masa kanak-kanak,
kemudian mendafar dalam dinas kolonial yang cocok. Imperialisme bagi mereka
adalah kesempatan yang tak disengaja guna melarikan diri dari masyarakat di
mana seseorang harus melupakan masa mudanya jika ingin tumbuh dewasa. Negeri-negeri
aneh dan penuh rasa ingin tahu menarik para pemuda terbaik Inggris sejak akhir
abad kesembilan belas. Merampas elemen paling jujur dari masyarkat, mejamin
kebahagiaan dengan perlindungan tertentu, hingga menanamkan standar moral
barat.
Lord Cromer, anggota keuangan di pemerintahan pra-imperialis
India, termasuk dalam kategori pembantai naga Inggris (British dragonslayers). Dipimpin oleh rasa pengorbanan terhadap
populasi terbelakang. Dia menolak jabatan Raja Muda pada tahun 1894 dan sepuluh
tahun kemudian menolak jabatan menteri luar negeri. Alih-alih penghargaan
semacam itu yang memuaskan orang yang lebih rendah, sebagai Konsul Jenderal
Inggris untuk Mesir pada 1883-1907 dia sedikit publikasi. Ia menjadi
administrator imperialis pertama atas jasanya memuliakan ras Inggris.
Cromer pergi ke Mesir karena sadar bahwa orang Inggris
berusaha keras mempertahankan India dan harus menanamkan pegangan yang kuat di
tepi Sungai Nil. Mesir menjadi alat mencapai tujuan dan perluasan yang
diperlukan demi keamanan India. Ada juga orang Inggris yang pergi ke benua
Afrika, seperti Cecil Rhodes pergi ke Afrika Selatan dan menyelamatkan Cape
Colony. Gagasan Rhodes akan perluasan jauh leih maju dan terhormat. Baginya
ekspansi tidak perlu dibenarkan oleh motif yang masuk akal seperti memegang apa
yang sudah dimiliki seseorang. Ada permainan besar rahasia yang tak kalah gila
daripada dunia hantu ras.
Kemiripan Rhodes dan Cromer adalah keduanya menganggap
negara bukan tujuan tapi sebagai sarana untuk sesuatu yang dianggap lebih
tinggi. Arendt said: “the self-interest
of the subject- races is the principal basis of the
whole imperial fabric.” Administrator yang acuh tak acuh ini alih-alih
percaya pada keunggulan individunya dengan beberapa derajat kesombongan yang
pada dasarnya tidak bahaya; dia merasa bagian dari bangsa yang mencapai tingkat
peradaban yang lebih tinggi dan memegang posisinya berdasarkan hak lahir.
Melalui kerahasiaan seperti Lord Cromer yang terlalu
bersahaja. Sangat suka menyusun surat wasiat. Apa yang membuat Rhodes menemukan
pesona kerahasiaan adalah hal yang sama yang membuat Cromer mengatasi rasa
tanggung jawab bawaannya: “penemuan perluasan yang tidak didorong oleh keinginan
khusus untuk negara tertentu tetapi dipahami sebagai proses tanpa akhir di mana
setiap negara hanya akan berfungsi sebagai batu loncatan untuk ekspansi lebih
lanjut.”
Lebih lanjut Arendt mengatakan:
“Jelas bahwa agen rahasia dan anonim dari kekuatan ekspansi
ini tidak merasa berkewajiban terhadap hukum manusia. Satu-satunya
"hukum" yang mereka patuhi adalah "hukum" ekspansi dan
satu-satunya bukti "keabsahan" mereka adalah keberhasilan. Mereka
harus benar-benar rela menghilang sepenuhnya begitu kegagalan terbukti, jika
karena alasan apa pun mereka tidak lagi menjadi "instrumen dengan nilai
yang tak tertandingi." Selama mereka berhasil, pengajuan mewujudkan
kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri membuatnya relatif mudah untuk
mengundurkan diri dan bahkan membenci tepuk tangan dan pemujaan. Mereka adalah
monster kesombongan dalam kesuksesan mereka dan mereka monster kesopanan dalam
kegagalan mereka.”
Begitu juga yang terjadi pada TE Lawrence. Arendt menulis:
"Lawrence
tergoda untuk menjadi agen rahasia di Arab karena keinginannya yang kuat untuk
meninggalkan dunia kehormatan yang tumpul yang kesinambungannya menjadi tidak
berarti, karena keteguhan hatinya dengan dunia dan juga dengan dirinya sendiri.
Kesimpulan ini dia tarik dari pengetahuannya yang sempurna bahwa dia sendiri
tidak besar, tetapi hanya peran yang dia asumsikan dengan tepat, bahwa
kebesarannya adalah hasil dari Game dan bukan produk sendiri. Sekarang dia
tidak “ingin menjadi besar lagi” dan bertekad bahwa dia tidak “akan dihormati lagi”,
dan karenanya benar-benar “sembuh dari keinginan apa pun untuk melakukan apa
pun untuk diri sendiri." Kehebatannya adalah bahwa dia cukup bersemangat
untuk menolak kompromi murah dan jalan mudah menuju kenyataan dan kehormatan,
bahwa dia tidak pernah kehilangan kesadarannya bahwa dia hanya sebuah fungsi
dan memainkan peran dan oleh karena itu, "tidak boleh mendapatkan
keuntungan dengan cara apapun dari apa yang dia telah lakukan dilakukan di
Arab. Penghargaan yang dia menangkan ditolak. Pekerjaan yang ditawarkan karena
reputasinya harus ditolak dan dia juga tidak akan membiarkan dirinya
mengeksploitasi kesuksesannya dengan mengambil untung dari menulis satu
jurnalisme berbayar dengan nama Lawrence." Lawrence telah bertindak
untuk tujuan tersembunyi yang tak terduga. Satu-satunya kepuasan yang bisa dia
dapatkan dari ini, tidak memiliki kesadaran tentang pencapaian terbatas, datang
dari rasa berfungsi itu sendiri, karena dipeluk dan didorong oleh suatu gerakan
besar. Kembali di London dan dalam keputusasaan, dia akan mencoba menemukan
pengganti untuk "kepuasan diri" semacam ini."
Arendt, H. (1950). The Imperialist Character. The Review of
Politics, 12(3), 303-320.
Selengkapnya: https://www.jstor.org/stable/1404663