Senin, 13 Oktober 2025

Sinkronitas Jungian: Mimpi Rony Parulian di Suatu Siang hingga Konser Barasuara

I. 

Pas tidur siang itu (Minggu, 12/10/2025), aku mimpi Rony. Ini mimpi Rony kedua kalinya. Akhir-akhir ini aku memang sering mikir Rony, dan menghidupi dunia parasosialku. Di mimpi itu yang kuingat, aku seperti sedang menjenguk Rony yang sedang sakit berbaring. Tempatnya kecil, mirip seperti kosku. Kostum Rony mirip pakaian yang dikenakannya saat konser di Bali Sabtu malam (11/10/2025): kaos putih polosnya Uniqlo dan celana chinos hitam dengan disambung belt. 

Rony Parulian konser di Bali
Di kos itu, aku rencananya mau nonton Rony konser. Tapi anehnya, di sebuah kos yang kecil, penontonnya cuma satu (seorang perempuan), dan ada satu perempuan lain dari pihak keluarga Rony. Aku nonton di samping satu penonton itu, karena dari pihak keluarga tiba-tiba pergi. Aku agak mellow karena berpikir, kamu tuh sakit Ron, kenapa kamu paksakan kerja? Tapi kulihat, dia masih bernyanyi dengan sepenuh hati. Aku hanya memperhatikan Rony dengan sangat intens dan dalam. 

Lalu, aku ngobrol sebentar sama satu penonton itu, juga sama Rony yang awalnya berbaring karena sakit kemudian duduk. Aku ingin nulis dia, aku ingin cerita tentang dia, dan satu titik yang membuatku senang, pas aku cerita tentang pengalaman nonton konsernya, tiba-tiba Rony nyambung dengan lancar sekali melanjutkan ceritaku. Dari situ aku merasa, oh, selama ini ternyata Rony baca tulisanku. Sumpah, rasanya terharu, mau nangis. Argh, aku kayak kakak perempuannya yang cengeng. Andai Jakarta-Bali sedekat itu, pasti akan kutonton panggung Rony di mana pun. 

Rony bilang, "Santai Mbak. Aku ingat semua cerita-cerita yang Mbak tulis." Duh, mewek. Aku nangis, rasanya benar-benar sentimentil.

Di mimpi itu juga ada sebuah moment, di mana salah satu sisi sepatu Rony dibawa oleh seekor anjing. Anjing tipe Hachiko, dengan wajah-wajah serupa itu. Aku mengejar anjing itu untuk balikin sepatu Rony. Tapi sepertinya tak kudapat, padal, kemarin juga rencananya aku mau beli sepatu warna putih di gerai Bata di Lokasari, Sawah Besar, Jakarta. Rony seolah seperti ngomong lagi, "Gak papa, Mbak. Gak papa," katanya sambil senyum penuh persahabatan. Lalu aku bangun. 

II.

Baiklah, aku akan coba menginterpretasi mimpiku itu.

Ada beberapa lapisan simbolik yang perlu aku urai. Di sini, Rony bukan saja hanya sebagai figur publik, tapi juga semacam cermin. Pertama, dalam adegan aku menjenguk Rony di sebuah kos kecil, ini seperti tanda dari alam bawah sadarku jika aku peduli dengan Rony sebagai "manusia", yang bisa lelah dan sakit, bukan hanya sebatas dirinya yang sempurna di atas panggung. Kos yang kecil ini jadi simbol personal yang dekat, bukan ruang publik. Termasuk saat Rony yang tetap bernyanyi meskipun sakit, bisa kuartikan bahwa dia masih tetap berjuang untuk mengekspresikan diri meskipun sedang terluka. Bisa jadi, ini refleksi dari kelelahanku sendiri juga belakangan ini.

Kedua, konser yang hanya satu pentonton. Ini agak aneh, kayak, dari banyaknya fans, barangkali hanya sedikit dari mereka yang benar-benar melihat Rony dengan mendalam, tak sekadar dari permukaan. Ada keluarga juga yang memberi ruang, ini seolah aku diizinkan melihat sisi Rony yang rapuh dan nyata. 

Ketiga, Rony yang menyambung ceritaku: Ini jadi semacam resonansi bahwa ternyata, tulisan yang kutulis selama ini sampai. Apa yang aku bagikan dari hati, entah ke dunia nyata atau simbolik, rasanya tidak pernah sia-sia. Aku senang energi ini tersampaikan. 

Keempat, sepatu putih yang dibawa anjing: Sepatu barangkali bisa jadi simbol jalan hidup, langkah yang ditempuh, sementara warna putih itu kemurnian niat, jalan yang bersih, kesetiaan. Ketika aku mengejar dan aku tak berhasil, mungkin ini juga jadi peringatan ketika aku kehilangan kontrol sementara akan arah hidupku. Aku perlu melepaskan hal-hal yang sudah tidak relevan lagi dalam hidup, karena tidak semua hal harus aku genggam. Senang banget, dalam kondisi ini Rony bilang, "Gak papa, Mbak." Kek dia mau ngomong: tenanglah, semua akan baik-baik saja meskipun kau mengeliminasi banyak hal.

Kelima, dari mimpi ini memang rasanya aku tidak berjalan sendiri, meskipun kadang arah hidup rasanya hilang dan lelah. Setidaknya, aku ingin tetap menapai jalan yang bersih dan tulus (seperti pesan dalam lagu "Sepenuh Hati"), dan "terus berjuang" meskipun keadaan masih sakit, tak menentu. Aku benar-benar kagum sama Rony di mimpi itu, meskipun sakit masih bernyanyi. 

Sulit dijelaskan, habis mimpi itu aku buka Instagram, nonton story-story konser Rony di Bali, lihat beberapa postingan WeR1. Seperti jembatan kecil antara dunia mimpi dan realitas yang aku jalani. 

Akhir-akhir ini, aku juga sedang berefleksi, aku gak tahu apa yang membuatku agak disorientasi arah kadang dengan hidup. Terlebih aku ingin membuktikan, aku bukan kanak lagi, yang coba memperhatikan dinamika sosial dan dinamika publik. Aku kira, aku cukup dewasa untuk tidak menghadirkan spontanitas-spontanitas ala cegil, atau dalam bahasa sinis, cegil-cegil sok iye. But it's okay tho'. You are a human, that's okay to feel like that.

III.

Dog Dose Disco

Mimpi siang itu seperti koinsiden dengan kejadian yang aku alami di malam harinya. 

Berbagai acara absurd Jakarta, anjing aja dibuatkan ruang joget-joget, yang temanya "Dog Does Disco" di Taman Tribeca, Central Park, Minggu (12/10/2025). Tadi siang mimpi anjing bawa sepatu sebelah lagi, bener-bener dah. Tommorowland in local sense ini mah. Kesini mau nonton Barasuara aja sebenarnya, gak begitu ngeh temanya. Cukup keren mengamati dinamika di tenant-tenant sekitarnya, ada mbak-mbak berkerudung kerja di stand yang jual khusus pakaian anjing. Hebat betul bisa adaptable dengan lingkungan.

Malam itu, aku tak mencatat dengan detail lagu-lagu apa saja yang dinyanyikan oleh mereka. Aku hanya notice beberapa yang aku kenal dan aku suka aja, seperti: "Terbuang dalam Waktu", "Pancarona", "Manusia", "Etalase", "Hitam dan Biru", dan "Bahas Bahasa". Untuk yang lagu terakhir ini legend karena pernah jadi anthem pas masih berproses di pers mahasiswa Arena Jogja, banyak seniorku yang suka dengan lagu yang jadi andalan di album "Taifun" itu.

Asteriska Barasuara
Gerald Situmorang
Kusuma, Puti, dan Iga (Barasuara)

Menurutku, yang paling aneh adalah ada pertautan seputar anjing di mimpi siang itu dan yang terjadi di malam hari. Soalnya ini aneh, habis mimpi itu, malamnya aku nonton Barasuara di acara Dog Does Disco. Ketemu banyak anjing. Kek random banget sama mimpi itu. Aku masih penasaran dengan simbolisasi anjing di sini maksudnya apa, setelah aku coba browsing dan mencari tahu lewat berbagai piranti internet, aku dapat jawaban kalau dalam bahasa psikolog Swiss, Carl Gustav Jung, kejadian ini disebut sebagai "sinkronitas" (synchronicity). Istilah untuk menamai suatu moment ketika peristiwa di luar diri kita tiba-tiba sejalan dengan isi bati (padahal tak ada hubungan logis). Sinkronitas ini tanda kalau psike individu sedang selaras dengan alam semetas. Alam bawah sadar sedang berkomunikasi dengan dunia nyata melalui simbol. Biasanya moment ini datang saat seseorang sedang lelah dan ingin menyusun makna baru. 

Polanya gini, di mimpi itu, anjing muncul saat aku sedang mengejar sepatu putih; di dunia nyata, justru pas nonton Barasuara, aku berada di tengah banyak anjing di suatu konser yang penuh energi hidup, suara, dan cahaya. Ini bukan kebetulan biasa, tapi jadi momen ketika dunia luarku mencerminkan dunia dalamku. Dalam sinkronitas, ada tiga unsur utama: peristiwa batin, peristiwa luar, dan makna simbolik. Dalam kasusku, di konteks peristiwa batin, ada anjing yang membawa sepatu Rony, dan Rony bilang "Gak Papa, Mbak." Peristiwa luar, aku nonton konser Dog Does Disco. Makna simboliknya, anjing di sini sebagai penjaga halan hidup, kesetiaan, dan pesan bahwa tak apa kehilangan sejenak, nanti aku akan dapatkan kembali apa yang hilang itu di dunia nyata. Ya, mungkin begitu maknanya.

Di dalam mimpi itu, ada lapisan simbolik emosional bahwa aku seperti memikul beban dalam mengikuti jejak yang lain, anjing di mimpi itu datang untuk menjauhkanku sejenak dari beban imitasi yang mengganggu langkahku. Warna putih menandakan kemurnian, niat baik, dan idealisme. Barangkali, ada idealisme yang memang harus aku jaga agar aku tak kelelahan mencari ruang di luar diriku. Apalagi, jenis anjing itu adalah semacam Hachiko, yang terkenal dengan kesetiaan dan penantian yang tak berujung (ini mirip banget dengan lagu Rony, "Tak Ada Ujungnya"). 

Ya, entah bagaimana pun konteks dan interpretasinya, cita-citaku (sekali lagi), hanya ingin jadi kakak perempuan yang baik untuk Rony, entah di universe yang mana. Sehat-sehat ya Ron. 

Catatan Nonton Rony Parulian di Ulang Tahun GTV ke-23

Hai Rony, ada waktu-waktu di mana aku merasa berat banget buat nulis. Terutama saat mentalku sedang capek-capeknya. Mungkin, kamu di suatu waktu juga mengalami kondisi serupa, ada waktu-waktu di mana kamu capek nyanyi, ingin berhenti sejenak memulihkan energi. Tapi, kita harus kembali ke komitmen untuk menjadi profesional terkait pekerjaan. Bukan begitu Ron, "Kerja, kerja, kerja," katamu suatu hari pas konser di MKG.

Ron, sekitar tiga bulan ini, aku punya pola hidup yang mayan baru: bangun, kerja, ishoma, Rony stuff, repeat. Beberapa meme, foto, dan video lucu aku kumpulkan di media sosial. Termasuk meme satu ini yang menurutku lucu:

Aku ketawa lihat meme ini, bener lagi, haha. 

Di tulisan ini, aku mau cerita pengalamanku nonton Rony yang keenam kalinya. Konser ini diadakan di Studio RCTI+, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Saat itu dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-23 Global TV, tajuk acaranya "Amazing 23". Selain Rony, ada juga performance dari: Kangen Band, The Changcuters, Ayu Ting Ting, Happy Asmara, JKT48, Ghe Youbi, Rina Nose, Fajar Noor, Shabrina Leanor, Trivanita, Mayangsari, Vanny Rizqy, Sule, Vidi Bulle, Cak Lontong, Daus Separo, Anwar Sanjaya, Moluccan Soul, dan Sakti Manca (CMIIW, kalau ada yang gak datang, karena aku gak begitu familiar dengan sebagian wajah-wajah artis ini). Acara ini dipandu dengan host Irfan Hakim dan Vega Darwanti. Acara dilaksanakan Rabu malam, 8 Oktober 2025, tepat waktu pukul 19.00 WIB.

Aku daftar acara ini sekitar seminggu sebelum hari-H. Tanggalnya sama persis dengan kedatangan temanku yang datang dari Uni Emirat Arab (UEA). Dia habis kerja di bagian CS di McD bandara UEA, pulang untuk upgrade diri, belajar bahasa, dan menemui keluarganya. Awalnya kuajak buat nonton, tapi akhirnya tidak jadi karena dia sudah kelelahan. Akhirnya, aku berangkat sendiri ke Studio RCTI+, studio yang kukira sangat bersejarah sejak aku kecil, dari studio ini juga dulu acara-acara seperti Idola Cilik, Indonesian Idol, dlsb, dilaksanakan. Banyak bintang bersinar di gedung itu.

Sore itu lumayan hectic, di antara bantu temanku yang datang dari UEA, aku berangkat sekitar Magrib dengan naik motor. Jaraknya sekitar 10 kilometer, jalan lumayan macet. Satu hal yang sangat aku ingat, aku lewat Jalan Kemanggisan, aku nemuin ruko yang jadi sampul bukunya Pak Abidin Kusno yang judulnya "Politik Ekonomi Perumahan Rakyat & Utopia Jakarta". Ada perasaan yang familiar sekaligus asing ketika aku melewatinya, menara apartemen yang mangkrak itu terlihat horor, gelap, dan mengintimidasi. Saat lewat, aku sekaligus rindu dengan wacana-wacana dekat yang dulu kupelajari.

Setelah melewati kemacetan, akhirnya aku sampai di Studio RCTI+, parkirnya ramah pengendara motor, ada masjid besar yang kita bisa solat, dan ketika masuk dipandu di meja registrasi dengan bantuan satpam. Studio Utama RCTI+ punya dua lantai, bagian atas dan bawah. Aku kebagian di bawah dengan posisi agak ke belakang dekat pintu. Di sana aku menanti Rony aja sebenarnya, tapi aku juga menikmati berbagai performance yang lain, khususnya dari JKT 48, The Changcuters, dan Kangen Band. Aku gak ekspek kalau lagu Yolanda (Kangen Band) akan dikolaborasi dengan lagu Fortune Cookie in Love (JKT 48). 

Usai menanti beberapa waktu, Rony akhirnya tampil. Seingatku, Rony dalam acara itu tidak satu pun menyanyikan lagunya sendiri, dia kolaborasi dengan berbagai artis lain, dari lagu-lagu Batak hingga duet dengan Tria The Changcuters nyanyi lagu "Gila-Gilaan". 

Malam itu, Rony pakai kostum, pertama setelan biru-biru, kedua hitam-hitam. Rony tetap keren seperti biasa. WeR1 juga udah siap siaga di bagian sisi kiri untuk menanti Rony. Malam itu, yang paling banyak menyanyikan lagunya sendiri adalah The Changcuters, bahkan penutupnya juga mereka, dengan ditutup lagu "Hijrah ke London". Ada Changcut Rangers (CCR) perempuan yang dapat hadiah karena nyanyiin lagu idolanya.

Dari studio itu, aku belajar banyak juga tentang produksi acara televisi. Saat itu juga kedatangan President Director GTV Valencia H. Tanoesoedibjo; ini anaknya si Hary Tanoe, satu anak ngelola satu TV keknya, karena aku juga pernah liputan di MNC Tower yang didatangi Angela Tanoesoedibjo. Di studio itu juga ada pengarah penonton, ada yang bagian kamera, vido, pengarahnya sendiri. Juga ada bagian-bagian pas iklan, dlsb. Kek, aku ada kesempatan yang seperti ini juga ya dalam hidupku. Pengalaman yang menarik sih, haha. Aku paling suka dengan dekorasi panggungnya yang bertema bunga-bunga dan tanaman yang sangat cantik.

Acara keseluruhan berlangsung empat jam, dari 19.00-23.00 WIB. Di antara konser itu, aku masih bekerja mengedit dua rilis dengan rekap link. Cukup mengganggu, tapi demi hidup, dan atas nama profseionalisme harus dilakukan. Aku pulang larut malam. Rasanya senang. Terima kasih Rony, meskipun aku lihat ulang konser ini di medsos, kamu kelihatan pilek karena hidungmu yang terus bergerak, kamu tetap selalu profesional. Dalam satu bulan, jadwalmu juga hampir selalu padat. Jaga kesehatan ya, Ron. Lof you, as always.

Jakarta, 13 Oktober 2025 

Jumat, 10 Oktober 2025

Art Jakarta Bahas Perkembangan Seni Cetak Grafis Kini

Art Jakarta menggelar diskusi bertema “Membaca Seni Cetak Grafis Sekarang” di Stage Utama, Art Jakarta, JIExpo, Minggu (5/10/2025). Diskusi ini menghadirkan Yohanes De Britto Wirajati (Krack Printmaking’s Research Team), Enin Supriyanto, dan Zumar Muzammil, dengan Gilang Gombloh sebagai moderator.

Britto menjelaskan, Krack merupakan sharing studio yang melibatkan banyak orang lintas disiplin, tidak hanya perupa. “Ada riset dan publikasi juga,” ujarnya. Britto bergabung di Krack tiga tahun lalu. Ia menyebut, timnya berusaha menelusuri kembali akar seni cetak grafis untuk menemukan wajah baru yang bisa terus dikembangkan. Awalnya sederhana, dari database yang bisa dibaca dan diolah. Salah satunya tentang setengah abad seni grafis di Indonesia.

Dari riset tersebut, Krack berbincang dengan banyak seniman dan menemukan bahwa seni cetak grafis memiliki sejarah panjang dalam bersiasat. Siasat di sini sederhana saja, upaya melawan kondisi tertentu. Misalnya perangko, itu juga punya logika seni grafis. Menurut Britto, jika seni grafis dianggap ‘dianaktirikan’, sebenarnya justru ia ada di sekitar kita.

Pada 2024, Krack menggelar festival seni cetak grafis yang dibagi menjadi tiga lantai pameran: lantai pertama menelusuri hubungan grafis dengan propaganda dan politik; lantai kedua menyoroti respons grafis terhadap zaman dan metode; dan lantai ketiga menampilkan grafis dalam keseharian. Temanya ‘Watak’, terutama soal penggandaan dan distribusi. Mereka juga mengundang sejumlah penulis untuk menulis refleksi yang rencananya akan dibukukan.

Zumar Muzammil menambahkan, terkait studio Deck yang awalnya berupa kantor. Tahun 2012 iseng buat kopi. Pas Covid-19, kami pakai tempat itu buat showcasing karya. Lalu mereka pameran sendiri, bikin katalog sendiri. Eksperimen ide. Sekarang udah 14 pameran. Ia mengaku tertarik dengan Krack karena “ada orang-orang gila nyablon di situ.” Dari situ, ia berpikir penting untuk mengangkat kembali seni cetak grafis. Banyak yang gak tahu siapa seniman grafis Indonesia. 

Enin Supriyanto bercerita bahwa ide awal buku Setengah Abad Seni Grafis lahir dari kegelisahan sejumlah perupa menjelang tahun 2000. Saat itu, ia diajak menjadi kurator tamu di Bentara Budaya Jakarta. “Kami ingin bikin program rutin yang bisa berjalan terus. Ketemu Romo Sindhunata, lalu muncul ide memberi ruang bagi seni yang kerap dilupakan,” ujarnya.

Enin menuturkan, saat itu ada pameran keramik dan wayang suket, tapi seni grafis belum tersentuh. “Yang kontemporer marak, tapi grafis langka,” katanya. Dari situ, ia menemukan album karya seniman cetak grafis tahun 1946 dengan pengantar Sutan Takdir Alisyahbana — karya yang dimaksudkan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Dari sanalah gagasan pameran cetak grafis lahir, yang kemudian berlanjut pada penyusunan arsip setengah abad seni grafis Indonesia.

“Saya menolak pandangan bahwa seni grafis itu malu-malu, rendah diri, atau terpinggirkan. Itu bias seni lukis,” tegas Enin. Dia mebambahkan, di budaya populer saja, bahas T-shirt secara teoritis itu sudah berat.

Britto menambahkan, hubungan cetak grafis dengan hal-hal lain juga bisa ditelusuri, termasuk teknologi. Krack juga sering berkolaborasi agar bisa terus update dan saling belajar.

Zumar menimpali, “Saya suka hal yang dikerjakan secara persisten. Motret pakai film, musik pakai piringan hitam. Ada yang sablon sampai litografi. Itu butuh 3–5 tahun buat belajar, dan bisa dikerjakan 20–30 tahun. Nilainya tinggi. Digital bisa jadi tools, tapi metode lama juga tetap penting. Kayak tenun Sumba, dua bulan bikinnya. Mahal karena sulit. Sablon itu difitnah murahan, padahal bernilai.”

Enin menambahkan, sekitar sepuluh tahun lalu ada pertemuan di Oslo tentang cetak grafis. Dua tahun kemudian terbit makalah Printmaking in the Expanded Field. Tapi mereka sebenarnya terlambat 15 tahun. Di sini, Tisna Sanjaya sudah melakukan praktik cetak yang radikal sejak lama — dari performans hingga instalasi. Misalnya waktu dia menendang bola ke tembok di Cemeti, atau menyebar biji jengkol di jalanan Jakarta. Cetaknya ya pakai ban motor. “Cara berpikir seperti itu yang perlu — melanggar konvensi dengan cara kreatif.”

Britto menjelaskan bahwa keterlibatannya di Krack awalnya hanya sebatas proyek, namun kemudian berkembang menjadi aktivitas studio yang membuka kesempatan magang bagi siapa pun. Menurutnya, hal ini menjadi cara untuk menghadirkan ruang yang lebih terbuka dan inklusif bagi berbagai kalangan.

Sementara itu, Zumar menilai bahwa panggung seni cetak grafis di Indonesia masih terbilang sempit sehingga perlu dikembangkan bersama. Ia sepakat dengan pandangan Enin bahwa praktik seni grafis dapat diperluas menjadi instalasi atau bentuk kolaboratif lainnya. Ia juga menyinggung pentingnya eksplorasi yang tidak bisa digantikan teknologi kecerdasan buatan (AI), dengan menekankan perlunya menghadirkan karya yang memiliki nilai seni tinggi.

Enin menambahkan bahwa selama ini Art Jakarta memang didominasi oleh karya lukisan, meski dalam dua tahun terakhir mulai muncul patung dan instalasi. Untuk tahun mendatang, ia mengungkapkan rencana penyelenggaraan Art Jakarta Papers, yang akan secara khusus menampilkan seni grafis dan berbagai eksplorasi pada material kertas. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi platform yang memperkuat posisi seni cetak grafis di Indonesia.

Britto menutup dengan menegaskan pentingnya publikasi dalam bentuk apa pun, karena setiap momentum perlu dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dan pemahaman publik terhadap seni grafis.

Tanggapan Peserta:

Deni (Kaprodi IKJ) menceritakan tengan pengalamannya yang pernah nulis tahun 2017, terkait kecenderungan seniman grafis tahun 2010 itu ingin menyamakan karyanya dengan lukisan, menghindari edisi banyak. Padahal fitrah seni grafis itu beredisi, bahkan di Eropa bisa 100 eksemplar. Kalau cuma satu, ya itu lukis. Biar egaliter, siapa pun bisa mengoleksi. Ia menekankan pentingnya memahami akar sebelum bicara expanded printmaking: “Kalau gak ngerti dasarnya, jadi sok-sokan ngarang.”

Arga Aditya juga menanggapi dua hal: pertama, grafis sudah jauh, dari garis ke warna, bahkan ke gypsum. Kedua, soal mental. Tahun 2017 ada seorang pegiat grafis yang pernah bilang, sampai kapan seni grafis memperkenalkan diri? Itu sudah dilakukan sejak 1960. Mental inferior itu mesti diakhiri. Semoga seni grafis makin sakti.

Menanggapi diskusi yang berulang soal posisi seni cetak grafis, Zumar melihat fenomena tersebut seperti lingkaran yang terus berputar tanpa ujung. Enin kemudian menambahkan bahwa hal itu muncul karena cara pandang yang sempit, di mana eksistensi seni baru dianggap penting jika populer atau laku di pasar. Padahal, menurutnya, praktik seni tidak selalu harus diukur lewat nilai komersial. Sementara itu, Brito menegaskan bahwa expanded printmaking kini bukan lagi soal memperkenalkan diri, melainkan mengamplifikasi — memperlihatkan bahwa seni grafis terus berkembang dan berinteraksi dengan berbagai medium lain.

Bonus, saya ketemu Mas Arga Aditya, kurator dan sobat IVAA dulu pas nulis buku "Seni dan Pernak-Pernik Dunia Nyata". It was long-long time, hihi. 

Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan's Archive (1977-2022)

Book Discussion Art Jakarta 2025 bertema “Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022)” digelar di Stage Utama Art Jakarta, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (5/10/2025). Diskusi ini menghadirkan Melani Setiawan, Hendro Wiyanto, dan Rachel K.S. sebagai pembicara, dengan Avia Andari sebagai moderator.

Hendro Wiyanto membuka diskusi dengan mengucapkan selamat atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, buku Bu Melani sangat luar biasa—ia bahkan tidak menemukan satu pun cacat atau kesalahan ketik. Buku pertama mencakup periode 1977-2005, buku kedua 2006–2010, dan buku ketiga 2011–2022. Bu Mel mencatat dengan teliti, dan keterangan foto (caption) yang disusunnya sangat sempurna. Ini penting untuk menjelaskan konteks setiap foto. Ada kode “NN” untuk menandai nama yang tak dapat dilacak, namun peristiwa tetap terdokumentasi dengan baik—sesuatu yang jarang diperhatikan dalam medan seni.

Dalam buku ini, kata Hendro, Bu Melani menyoroti audiens pameran—orang-orang yang diundang untuk hadir. Tanpa pengunjung, peristiwa seni tak akan pernah ada. Ada foto kecil di Paris tahun 1980-an, dan juga dokumentasi kunjungan ke Pasar Ancol tahun 1977. Awalnya Bu Mel datang untuk melihat karya, namun akhirnya juga tertarik pada audiensnya. “Apakah Bu Melani bagian dari crowd, atau justru kita yang menjadi bagian kecil dari arsipnya?” ujarnya. Di masa kini, pengarsipan semacam ini makin jarang dilakukan dengan baik.

Ia melanjutkan, “Apa makna pengunjung?” Biasanya orang datang ke konser atau pameran dengan tujuan tertentu, tapi kadang juga tanpa pengetahuan apa pun. Jika faktor pengunjung diperdalam, dengan melihat tujuan dan intensi mereka, hasilnya akan menarik. Hendro menegaskan pentingnya memahami the art of selection and curation.

Mengapa orang harus berfoto di depan karya seni? Mengapa di studio? Karena karya itu diam, sementara ada dorongan untuk menghadirkannya dalam gerak. Foto-foto Bu Melani bukanlah karya kreatif, tetapi dokumentasi penting dalam sejarah seni. Dari ekspresi wajah, busana, hingga gaya rambut yang berubah, semua menyimpan informasi tentang konteks zamannya. “Tidak ada satu pun lembaga di Indonesia yang mengarsip seperti Bu Melani,” tambahnya.

Moderator Avia Andari menambahkan, “Karya itu diam, tapi audiens terus berubah. Mungkin audiens sekarang berbeda dengan dulu.”

Pembicara berikutnya, Rachel K.S., yang juga meneliti dan mengarsip tentang sastrawan Danarto mengungkapkan kesannya saat pertama kali memegang buku Bu Melani. Ia menemukan indeks yang lengkap, bahkan mendapati nama Danarto muncul hingga tujuh kali. Dalam buku ini, Bu Mel dan Danarto sempat bertemu di berbagai kesempatan, termasuk ketika Danarto menjadi juri acara Art Response. “Arsip bukan sekadar soal waktu,” kata Rachel, “tetapi juga soal hubungan antarmanusia. Foto bersama bisa menyimpan relasi yang kompleks. Dengan mencari petunjuk dan mengarsipnya, kita bisa menemukan sesuatu yang lebih besar.”

Avia menambahkan, kegiatan yang tampak sederhana seperti yang dilakukan Bu Mel justru bisa menjadi warisan besar jika ditekuni. “Awalnya buku Bu Mel seperti cermin, tapi ternyata juga bisa menjadi pintu untuk memperdalam pemahaman kita,” ujarnya.

Bu Melani kemudian berterima kasih kepada para hadirin dan menyampaikan bahwa buku ini merupakan bentuk berbagi pengalaman selama 50 tahun berkarya.

Sesi Tanggapan dan Tanya Jawab

Evelyn menyampaikan bahwa siapa pun yang baru terjun ke dunia seni rupa sering dikenalkan pada Bu Melani karena perannya yang besar. “Setengah pekerjaan selesai kalau Bu Melani datang,” ujarnya.

Wulan dari M Bloc Space bertanya, “Dari seluruh momen pameran di buku Ibu, mana yang paling berkesan?”

Bu Mel menjawab, “Sulit memilih, tapi salah satunya di Mori Art Museum. Saya mengenakan kebaya dan tenun—itu karya Lee Mingwei. Peti karyanya dikirim ke Indonesia. Juga ada kenangan tentang Indonesia Bertutur di Borobudur.”

Ia menambahkan, tahun 1977 ia membeli karya di Pasar Ancol, karena saat itu belum ada galeri. “Saya beli untuk hiasan, karya Idran Yusuf. Waktu itu umur saya 32 tahun,” kenangnya.

Soal rencana digitalisasi, Bu Mel mengatakan sudah ada pembicaraan tentang pembuatan e-book dan website, tetapi masih ada pro dan kontra.

Jane menyampaikan apresiasinya, “Thank you for being a mother, even when we weren’t aware about it.”

Wibi dari OPC menambahkan bahwa Bu Mel selalu rajin menyemangati komunitas.

Jumadil Alfi menuturkan: Bu Melani bahkan sering mengirimkan arsipnya ke seniman. Sekilas sepele, tapi itu bentuk dukungan yang nyata. Arsip Sakato pun, lebih banyak justru ada di Bu Mel.

Hendro Wiyanto

Dalam sesi penutup, Hendro kembali menegaskan: Melalui buku ini, selamat datang di dunia Bu Melani. Ketiga buku ini menggambarkan lanskap arsip seni kita. Ada obrolan, curhat, dan passion Bu Mel. Di buku ketiga bahkan ada surat-menyurat dengan para seniman. Menanggapi komentar Bu Melani sendiri akan ketakutan jika buku ini bersifat narsistik, Hendro menuturkan, “Bu Mel tidak penting di sini, yang penting adalah peristiwanya.”

Hendro menutup dengan refleksi: Arsip kita telah berkembang dari Jakarta, Jogja, hingga ke dunia internasional. Foto-foto ini bukan sekadar dokumentasi emosional—tugas kita adalah membacanya kembali agar menjadi pengetahuan baru. Bu Melani mungkin tak mengklaim punya sense of art, tapi betapa konseptualnya kerja dokumentasinya. Seniman dan audiens sama pentingnya, karena tanpa mereka, galeri tak berarti.

Ia menambahkan: Kadang kita datang ke satu pameran saja dalam sehari, tapi Bu Mel bisa menghadiri dua di kota berbeda. Pembukaan mungkin tampak klise, tapi di sanalah pertemuan terjadi. Karena dalam dunia Bu Mel, yang paling penting bukan hanya karya seni—melainkan senimannya juga.

Senin, 06 Oktober 2025

Quote Rony Parulian

"Hidup yang bener-bener ajalah." (2025)

"Tetap jadi WeR1 yang baik, WeR1 yang solid, dan juga selalu jaga kesehatan." (2025)

"Tuhan tahu waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan jawaban yang tepat untuk semua doa-doa kita." (2024)

"Bro, jangan buru-buru. Nikmati, jalan masih panjang. Tetap jadi diri sendiri." (2025) 

"Jaga stamina kesehatan terus, harus fokus apa yang mau dituju di awal." (2025)

"Buruan, belajar, belajar!" (2025)  

"Kita selalu ada di jalan yang lurus lagi."  (2025)

Rony Parulian di Podcast dengan Felix Martua: 

"Gw pengen dikenal sebagai penyanyi dengan lagu-lagu rock yang romantis. Yang romantis, tapi gak cengeng, yang laki lah." (2023, Podcast dengan Felix Martua)

"Waktunya pasti ada. Tetap berkarya, tetap nyiptain lagu, kalau momennya ada, pasti ada." (2023, Podcast dengan Felix Martua)

"Tetap jadi diri sendiri. Kuatin karakter. Kalau memang itu tujuannya, dikejar terus aja, mau belak-belok, belak-belok, harus tahu rumahnya di mana. Jangan lupa untuk berserah, karena berserah itu bukan untuk menyerah." (2023, Podcast dengan Felix Martua)

Cara Rony mendefinisikan kesuksesan, "Sama-sama seneng. Kalau karya gw, gw garap dengan happy, publik suka juga." (2023, Podcast dengan Felix Martua)

"Gw orang yang gak terlalu idealis, masih bisa mencocokkan situasi." (2023, Podcast dengan Felix Martua)

"Gw orangnya juga gak mau yang terlalu perfeksionis banget, harus terima masukan dari orang-orang." (2023, Podcast dengan Felix Martua)

"Rony ya Rony aja. Gw juga gak pengen jadi orang lain, jadi Once, Judika, Ari Lasso, dll. Gw hanya ngikuti cara mereka ngebuat lagu, ada part² yang gw ikutin dari mereka." (2023, Podcast dengan Felix Martua)

(Yang influence Rony): Gun n Roses, Rolling Stones, Slank, Dewa 19, Boomerang, Ipang Lazuardi.  

"Makan semangka biar seger. Minum kencur."

"'Apa yang membuatmu marah?' Gak ada. Aku orangnya baik."

Rony Parulian di Podcast dengan Daniel Mananta:

"Kalau lu ada tujuan satu, jangan kemana-mana. Mesti ekstra fokus. Dia pengen aku punya waktu untuk latihan, latihan, dan latihan terus. Gak boleh bolong, kalau bolong, kelar sama dia. Dimarahin." (Pesan papahnya Rony ke Rony)

"Gw susah interaksi sama orang, tapi gw mau nikmati, gak pura-pura untuk bisa berinteraksi ke orang lain. Karena ini dunia gua."

"Ada satu sisi, gue masih remaja, masa eksplorasi untuk mencoba hal baru. Ada sisi bosen, rutinitas, latihan. Sekolah, belajar sejam. Latihan sampai jam 9. Lu pasti kesel dan bosen, tapi jawabannya ada di nanti, masa depan. Bukan menghukum, tapi mendisiplinkan." 

"Termasuk disiplin makanan, kalau lu mau jadi penyanyi, gak sentuh es, gorengan, jangan yang berminyak, jangan yang pedes-pedes."

Rony juga diajarkan ayahnya untuk menikmati kegagalan. "Ya, gpp, gagal. Gak lolos IMB (Indonesia Mencari Bakat), ya sudah. Gak ada paksaan untuk menang, untuk lolos, jadi gw enjoy. IMB, Indonesia Idol Junior, Idola Cilik, X Factor, The Voice, Rising Star." 

(Kritik dari Bunda Maia Estianty saat Rony audiensi Idol) "Mecari karakter suara gw arahnya kemana nih? Lewat "Yesterday" Gun n Roses. 2019 gw masih bingung, ini karakter suara gw kemana ya? Belum stabil. Tapi dari kecil gw suka musik rock, sampai akhirnya di kesimpulan, kayaknya jiwa gw di rock nih, tapi belum ada "pakemnya". "Kalau mau mainin lagu rock, yaudah, rock-in aja, kenapa harus setengah-setengah?" Sambil mencari karakter juga itu bang."

Di rumah sakit Rony berdoa di musholla untuk kesembuhan nyokap. "Nyokap gw sakit stroke. Gw gak tahu mau ngomong sama siapa, teman juga gak mungkin sembarangan, akhirnya gw cuma cerita sama Tuhan. Tuhan, tolong sembuhi mama, beri aku kesempatan untuk bahagiakan dia. Saya berjanji, kalau Mama sembuh, aku akan ikut dengan pelayanan-Mu."

"Otak lu gak bisa labil lagi, tindakan lu gak bisa gak jelas lagi."

"Tuhan, gw janji akan ikut Elu. Gw akan melayani. Proses gw nikmatin banget."

"Gw suka bercanda sama yang nyaman. Mamah gw isengin, "Mah, ini siapa, anaknya bukan?" Dia tertawa. Ya anak mamah lah." (Itu sebenernya "obatnya", hati yang gembira. Kapan gw buat ibu gw sendiri gembira? Cerita Rony relate banget sama aku.) 

"Tuhan yang take over semua. Janji gw untuk berubah. Hati gw gak bisa diombang-ambingkan lagi. Sebelum, selama, dan setelah di Idol, hal-hal negatif yang datang ke gw, gw gak goyang."

Lagu "Kasih-Mu Tiada Duanya" (Lagu rohani gereja kesukaan Rony) 

"Hidup dibalik, ngomong ke Tuhan dulu, baru ke yang lain-lainnya."

Isma: Motivasi Rony sebelum tahun 2019, ingin jadi musisi, karena pengen jadi seperti idola Rony (penyanyi rock luar negeri), bahkan Rony mengaku gak pengen terkenal dan punya fans. Bahkan dia juga gak punya ambisi pengen di spotlight. Setelah 2019, motivasinya adalah kerja dan berkarya. Membawa terang Tuhan di hidup lu, rumah lu.

(Ada masa Rony dibayar 1 juta/sebulan, di kafe dua kali seminggu.) "2019-2023, gw mau balas dendam. Cari karakter gw, latihan dan mempakemkan itu. Gimana latihannya dilihat dengan orang banyak (gimana latihannya interaksi sama orang). Kuliah dicut karena ekonomi."

(Rony nglamar jadi kernet busway Transjakarta.) "Gw punya prinsip gw sendiri. Setahun itu merubah semua pola pikir gua. Sesimpel, gw bangun tidur berdoa. 2020. Biarkan Tuhan yang bekerja."

Rony ke Bang Jojo, "Bang, kalau ada kata-kata gw yang ketinggian, kasi tahu gw ya, membanggakan diri gw, pengen dilihat tinggi, dll. Gw harus sesederhana mungkin.' Jangan sampai ada kata-kata yang meninggikan diri gw sendiri." (Contoh simpel, Rony di panggung dan Rony di mall pasti beda.)

"Gw pengen menanamkan di prinsip gw itu kayak gw orang biasa. Biar gw gak lupa sama diri gw yang dulu. Gw selalu begitu." 

"Gw pengen bikin diri gw berbaur. Gw pengen gw gak lupa sama basic diri gw sebenarnya." 

Minggu, 05 Oktober 2025

Catatan Nonton Konser Rony Parulian di Mall Kelapa Gading (MKG) 2025

Ini kali kelimaku datang ke konsernya Rony. Konser dilaksanakan di La Piazza Summarecon Mall Kelapa Gading (MKG) Jakarta dengan tajuk "Night Beat with Rony Parulian". Kulihat tanggalan, Sabtu, 4 Oktober 2025. Aku berangkat ke MKG dengan menggunakan motor, karena awalnya mayan dilema, apakah naik gojek, KRL-gojek, atau solo driving. Jarak 14 kilometer sebenarnya tergolong sedang, tidak jauh, tapi juga tidak dekat. Akhirnya, dengan menimbang-nimbang sumber daya yang ada, aku putuskan untuk motoran saja. Ini lebih menghemat pengeluaran dan memberi kesan tersendiri.

Sebab acaranya jam 7 malam, aku berangkat setelah solat Magrib, sekitar pukul 18.00 WIB. Hari itu, dari pagi sampai sore, aku mengerjakan project tulisan terkait pameran virtual yang digagas sama lembaga musik-musikan di Bern, Swiss, namanya Norient. Nama kolektif ini terinspirasi dari buku karya penulis Palestina, Edward Wadie Said yang "Orientalisme". Norient ini word play dari "no - orientalism", yang didirikan sama antropolog dan scholar Thomas Burkhalter. Singkatnya, visi mereka mengangkat berbagai subkultur suara/musik yang selama ini banyak dibungkam atau tidak diberi ruang. Sebagaimana namanya, Norient ingin melawan dominasi Barat terhadap Timur dalam hal musik. 

Nah, tajuk pameran virtual mereka di Indonesia itu diberi judul "Norient City Sounds: Jakarta Whispers" yang dikuratori oleh jurnalis Indonesia, Gisela Swaragita (mbak-mbak skena Jakarta yang aku kagumi karya dan sepak terjangnya dulu saat masih kuliah di Jogja). Kamu bisa lihat pameran virtualnya di website berikut: https://norient.com/index.php/jakarta-whispers, kamu bisa eksplor banyak karya di sini, dari esai, film pendek, playlist lagu, podcast, video, terkait suara-suara di Jakarta. Nah, pas aku buat tulisan tentang NCS Jakarta ini ada hal lucu, aku salah nulis salah satu nama senimannya, harusnya Robby malah aku tulis Ronny. Kacau-kacau, wkwk. Sepertinya sampai alam bawah sadarku akhir-akhir ini isinya melulu Rony. Dan aku jujur senang banget setiap kali bisa nonton konser Rony. Meskipun badanku rasanya lelah, tapi demi Rony, apa pun aku perjuangkan. Nonton konser Rony adalah bagian dari agenda parasosial yang kujalani, dan menurutku sukses.

Sebelum meluncur ke MKG, aku sempatkan dulu laundry bed cover, karena sudah kotor. Dua bulanan ini aku memutuskan untuk menjadikan bed cover sebagai alas tidur, kek orang-orang Jepang gitu. Kasur aku anggurin, aku biarkan saja, karena aku sedang berusaha menjani tirakat setelah dapat musibah kena scamming lumayan besar sampai puluhan juta. Aku ingin menerapkan pola hidup ala-ala Gandhi, dengan kredonya, "Plain living, high thinking." (Hidup sederhana, pikiran luhur). Kalau gak ada bed cover, aku juga sekarang lebih milih tidur di atas matras yoga. Bagiku itu lebih simple, minimalis, dan membuat kamar kosku yang sempit jadi lebih luas, bahkan bisa buat senam tabola-bale di YouTube. Awalnya, tulang belakang agak sakit, tapi lama-lama biasa juga. 

Intinya gitulah, ini kan mau bahas Rony ya, kok malah kemana-mana, wkwk.

Saat naik motor itu, aku juga menyetel Spotify dari playlist khusus yang kubuat sendiri dan berisi semua lagi-lagu Rony. Aku mengendarai motor kecepatan santai. Aku juga punya filosofi untuk mendahulukan selamat daripada cepat-cepat, apa sih yang dikejar? Aku kadang berpikir seperti itu. Aku juga sempat mau kesasar jalan dua kali setiap bertemu simpang Jakarta yang mirip pola daun semanggi itu. Aku masih lemah dalam membaca peta, jika tak akurat, aku bisa muter-muter sampai berkilo-kilo jauhnya. Singkat cerita, aku sampai di La Piazza MKG pukul 18.40 WIB, masih ada 20 menitan lagi sebelum Rony tampil. Aku parkir di luar mall, kena biaya Rp10 ribu. Lumayan mahal kalau dibandingkan parkir normal untuk durasi yang hanya sekitar 2 jam, tapi tentu aku lebih ikhlas uangku untuk orang-orang yang serius kerja seperti abang-abang tukar parkir malam itu, daripada disedot sama penipu online atau membeli barang lain yang tak kubutuhkan.

Aku bertanya pada satpam letak La Piazza yang ternyata tak jauh dari tempatku parkir, dekat malah. Di sana, aku langsung melihat billboard bergambar wajah Rony dan tulisan acaranya "Night Beat with Rony Parulian". Rasanya kayak pengen teriak, "Arghhh Ronyyy!" Kamu keren banget! Terus aku langsung menuju dekat panggung. Ternyata panggungnya outdoor, dan melingkar gitu, jadi audiens bisa nonton melingkari panggung. Nah, aku tuh kebagian yang belakang, jadi bisa jelas lihat Ron The Room macam Bang Boy, Bang Andreas, Bang Rusty, Bang Sugih, dll, datang dan mau preparation. Menurutku, itu posisi yang unik dan gak biasa. Ya, meski gak dapat di depan, Rony selalu adil karena dia bisa membagi panggung dengan baik. Dia mendatangi semua sisi panggung untuk menyapa penonton. Jujur, itu kesempatan yang menurutku paling dekat dengan Rony dari panggung sepanjang lima kali nonton konsernya bos genk.

Salut banget sama konser ini, karena tepat waktu dimulai 18.59 WIB pas! Setelah dibuka sama MC yang gak banyak wa-we-wo, para WeR1, cegil-cegil Rony, dan peserta lain pada teriak-teriak histeris nyebut nama Rony. Waktu itu La Piazza penuh. Rony datang pakai kemeja bekerah warna hijau kehitaman dan jeans berwarna hitam. Argh, gila, ganteng maksimal seperti biasa. Rony menyapa para penonton, dia juga bilang senang bisa manggung di MKG karena dua hal yang kutangkap. Pertama, konsernya kali ini ditemani oleh kedua orangtuanya, ada Mama dan Papa sedang nonton. Kedua, MKG gak jauh dari tempat tinggal Rony, seingatku dia bilang rumanya di seberang gitu di sekitar Tanah Merah. Aku lihat Rony happy malam itu, aku bisa merasakan energinya. Rony juga manusia genk, sebagai fans bos yang baik, aku cukup peka terhadap energi itu. Menurutku, La Piazza salah satu panggung terbaiknya Rony.

Malam itu, Rony menyanyikan 11 lagu, set list songs yang aku catat, dia menyanyikan lagu:

  1. Butuh Waktu
  2. Dengarlah Cinta
  3. Mengapa
  4. Salahi Aku (pertama kalinya dinyanyikan live kata Rony)
  5. Angin Rindu
  6. Tak Ada yang Sepertimu
  7. Satu Alasan
  8. Tetap Bukan Kamu (featuring WeR1)
  9. Sepenuh Hati
  10. Tak Ada Ujungnya
  11. Pesona Sederhana

Seneng banget, sealbum lebih plus kolaborasi-kolaborasi Rony dengan musisi Indonesia lainnya dinyanyikan. Komplit sih ini, kurang lagu "Sampai di Sini" dan "Kau Selalu di Hati" aja yang belum--plus lagu "Tenang" yang dibawain Judika, hihi. Moment yang paling tak bisa aku lupakan tentu ketika Rony ada dekat banget sama aku berdiri, bisa videoin Rony sedekat itu rasanya speechless, haha. Moment lainnya saat Room The Ron pada foto bareng, Rony gak diajak, terus dia fomo ikut, wkwk, sambil Rony bilang, "Kerja, kerja, kerja, malah foto," dengan nada bercanda. Rony kuperhatikan juga perhatian dengan tim dokumentasinya, ada mbak-mbak yang aktif banget dokumentasiin Rony pakai hape, aku tidak tahu siapa namanya. Namun, ada moment pas Rony nyanyi "Tak Ada Ujungnya" di depanku pas sambil bawa tamborin, Rony memainkan tamborin itu ke si mbak-mbak ini sebagai kode menyapa. Manis sekali. Setelahnya aku baru tahu nama Mbak ini Verina Alifia.

Ya Allah, ini Rony selalu bisa bikin aku meleleh dari banyak hal: beban hidup, pekerjaan, kesialan, dan masalah-masalah duniawi lainnya. Nonton konser Rony jadi semacam ritual selebrasi dan liberasi, aku bisa menghabiskan suaraku di konser itu, dan bodoh amat dengan suara-suara lain di sekitarnya. Ahh, aku senang banget malam di MKG ini, sampai gak terasa konser tiba-tiba berakhir. Aku merasa ini sangat cepat sekali. Rony dan Ron The Room juga pamit kemudian dengan melakukan "salam helikopter" mengelilingi penonton, wkwk. 

Usai konser itu, aku duduk-duduk sambil rekap berita kerjaan. Aku sempatkan rekreasi masuk ke mall, mampir ke gerai Oh Some dan Uniqlo, cuma cuci mata aja, haha. Pas pulang, aku pasang headset, masih menyanyikan lagu-lagu Rony lagi. Di sepanjang jalan aku bisa nyanyi-nyanyi sendirian dengan bebas dan suara kencang. Ya Allah, senang banget rasanya. Aku juga merasa melewati suatu tempat yang dulu sempat membuatku trauma karena kejadian yang bisa kubilang bodoh dan menyakitkan, tapi malam itu rasanya aku legowo dan ikhlas. Rony membuat segala hal jadi lebih baik. Terima kasih banyak ya Rony, semoga Tuhan selalu melindungimu dan sehat-sehat lalu.

Menurutku, sebagai kesimpulan, MKG concert adalah salah satu panggung terbaiknya Rony. Pertama, karena mama-papanya datang. Kedua, karena dekat rumahnya Rony. Ketiga, karena Rony ditemani pacarnya (standing mic). Aku juga sepakat dengan perkataan salah satu netizen, "Pertama kali nonton dan cuma bilang dalam hati dia pantas bisa sampai saat ini, karena sepanjang acara dia gak pernah nglihatin capek, badmood, atau negative vibes lainnya. Dia benar-benar keren, semoga akan selalu seperti itu ya Rony." (@rickaicha). Yappp, ini betul banget, kadang aku pernah bertanya random, "Pernah gak sih Ron, lu capek?" Pasti pernah sih, tapi gimana kamu handle semua itu keren banget.

Hal menarik lainnya, waktu itu ada pertemuan WeR1 juga, mereka sedang foto-foto. Mereka pakai dress code merah maroon. Surprisingly, entah kenapa saat nonton aku juga pakai kaos warna maroon yang kubeli dulu saat pameran seni rupa tribute to Pramoedya Ananta Toer bertajuk "Jejak Langkah dalam Pertarungan". Pada hari Minggu, 4 Mei 2025 di Balai Budaja Jakarta. Aku beli kaos bergambar Pramoedya dengan tulisan, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.” Rasanya, kek, semesta sepertinya secara alami udah menjodohkanku menjadi WeR1.

I lof you as always.

 
Sumber: WeR1 Jabodetabek
PS: Siang ini aku udah siap-siap war ticket "Sing As We R" di perayaan dua tahun Rony Parulian untuk tanggal 20 Oktober 2025. Ya Allah, belum ada semenit udah sold out! Sedih banget! Banyak yang komentar sama, ini war ticket ngalah-ngalahin Black Pink wkwk. Aku udah pasang alarm, refresh terus sampai link ada, dan usahain internet stabil. Namun, ya, semesta belum mendukung. Kita harus bersikap dewasa genk. Ya sudahlah, bukan rejekinya, ketemu kamu di event-event lain ya, Ron! I lof you as always.