Kamis, 11 Juni 2015

Women Writer at Work

Simone de Beauvoir:
"Cara membaca buku-buku dengan cepat, melihat nama-nama penting, bagaimana mengklasifikasikannya untuk mampu menolak buku yang tidak penting, membuat ikhtisar, melihat/membaca secara acak"
"Aku hanya tertarik pada mahasiswa yang cerdas. Anda di filsafat tidak dapat berbuat apa-apa. Selalu terdapat empat atau lima orang mahasiswa yang selalu berbicara sedang lainnya tidak peduli"
"Sartre merasa ia badai. Ia telah menantang segala sesuatu dalam karya-karya sastranya dan pada harapan bahwa karya-karyanya akan hidup terus."
"Sartre dapat berpikir bahwa hidup itu dapat ditangkap dalam jebakan kata-kata dan aku selalu merasakan bahwa kata-kata bukan hidup itu sendiri, tetapi suatu reproduksi kehidupan, reproduksi dari sesuatu yang mati" (eureka :))
"Kelas memandang Sartre sebagai seorang pengkhianat. Ia penulis anti borjuis."

Eudora Welty:
"Bukan pada pokok persoalannya, tapi pada cara aku mendekatinya."
"Menyelesaikan sebagai seni."
"Berlaku jujur terhadap dua faktor: waktu dan tempat. Dari sana imajinasi dapat membawa kemana saja."
"Cerita itu semuanya merupakan respon terhadap sebuah TEMPAT."
"Tak ada pengulangan yang kubuat dalam tingkat apa pun."
"Anda harus tahu dengan tepat apa yang ada dalam hati dan pikiran "mereka" sebelum mereka melangkahkan kaki dengan tepat ke atas pentas. Hal yang tepat pada moment yang tepat."

Elizabeth Bishop: "Yang kuyakini selama hidupku aku tidak pernah menulis hal-hal yang kusukai untuk ditulis."
Sumber gambar: Elizabeth Bishop Paintings.
Gothe: "Arahkan kapal Anda sejauh ke dalam kehidupan dan apapun yang Anda temukan di sana, itu adalah Anda, subjek Anda."

Joan Didion:
"Segala sesuatu harus bermakna. Setiap kata, setiap koma."

"Membaca novel harus dibaca sekali duduk agar urutan tak hilang dan ketegangan tak pecah."

"Pada titik sunyi dunia yang berputar. Aku ingin bergerak ke TITIK SUNYI."

"Seorang wanita yang menulis novel, sering sekali dirasakan sebagai seorang yang invalid." 

(#IS: Seumur hidup saya tidak akan pernah rela perempuan dikatakan invalid, cacat, petarung sampingan, lebih tertarik pada hiasan, belum menciptakan apa pun tentang keseharian, atau dibilang karyanya lebih banyak "bahan gorden"!)

Joyce Carol Oates:
"Yang paling penting adalah sebuah buku yang paling kuat yang pernah dituliskan."

"Kita haruslah kejam terhadap masalah MOOD ini."

"Semacam arasbeque (desain yang teliti dari dedaunan, cabang-cabang, dan lain-lain.)"

"Keuntungan sebesar kerugian."

"Hidup adalah energi. Energi adalah kreatifitas."

Katherine Anne Porter: 
"Peristiwa itu akan menjadi penting hanya jika mempengaruhi hidup Anda dan kehidupan orang-orang di sekeliling Anda. Gaung, begitulah Anda boleh katakan, nada-nada tambahan yaitu ketika sang seniman itu bekerja. Aku tak tahu apa maknanya sampai aku tahu akibat-akibatnya. Jika aku tidak tahu akhir dari cerita, aku tidak akan memulainya. Aku selalu menulis kalimat yang terakhir atau paragraf terakhir di kalimat terakhir di halaman terakhir lalu kembali dan langsung menulisnya. Sehingga aku tahu ke mana aku pergi. Tahu apa tujuanku. Dan bagaimana aku ke sana."

"Setiap karya sastra yang jujur harus mampu memberikan pada Anda perasaan rekonsiliasi--orang Yunani menyebutnya katarsis, semacam pemurnian pikiran dan imajinasi Anda lewat akhir yang dapat diterima karena tepat dan benar. Kadang-kadang akhir itu sangat tragis, karena memang dibutuhkan seperti itu."

"Semua indraku sangat tajam, benda-benda dan apa saja datang padaku lewat mataku, lewat semua lubang pori-poriku. Anda tahu, segala sesuatu itu menabrak aku seketika itu juga. Hal itu menjadi sulit untuk dilkukiskan setepat mungkin apa saja yang sedang terjadi saat itu. Kupikir, pikiran bekerja lewat variasi seperti itu. Kadang-kadang ide bermula tanpa bisa diartikan sama sekali. Anda terus juga berpikir tentang apa yang akan muncul dari situasi seperti itu dan kemudian ia akan meleburkan dirinya sendiri ke dalam seperangkat pemikiran atau gagasan. Pada saat aku menulis cerita, tokoh-tokohku bangun, hidup, dan berjalan-jalan di sekeliling serta mengambil benda-benda."

"Semuanya yang kutahu tentang orang-orang itu adalah dengan belajar banyak tentang orang-orang."

Franz Kafka: "Sebuah buku seharusnya menjadi kampak untuk menghancurkan laut yang membeku dalam diri kita."

Sumber: Women Writer at Work: The Paris Review Interview. They are: Marianne Moore, Katherine Anne Porter, Dorothy Parker, Simone de Beauvoir, Eudora Welty, Elisabeth Bishop, Nadine Gordimer, Susan Sontag, Joan Didion, Joyce Carol Oates.

Rabu, 10 Juni 2015

Perempuan dan Beban di Kepalanya

Kata Nawal El-Saadawi dalam novelnya Love In The Kingdom of Oil, novel yang sangat surealis. Tentang perempuan arkeolog yang bercita-cita ingin menjadi nabi, juga tentang perpolitikan kekuasaan minyak di kawasan Timur Tengah sana. Dalam novel ini Nawal menggambarkan jika perempuan-perempuan punya tradisi menaruh tempayan di kepalanya (ini simbol), dia bilang begini:
"...keledai tampaknya lebih cerdik daripada kaum perempuan. Ia juga mengerti sekarang mengapa laki-laki menolak membawa beban di kepala mereka. Ia menggeser tempayan itu ke bagian bawah punggungnya dan beban itu rasanya lebih ringan. Hembusan angin yang sejuk perlahan-lahan masuk ke dalam paru-parunya. Kepalanya bebas dari beban itu dan sebuah pikiran baru muncul dalam benaknya. Rasa herannya bertambah semakin ia merenungkan pikiran itu. Tubuhnya mulai bergetar. Gelombang perlawanan menjalar ke seluruh tubuhnya seperti gigilan demam."
Saya mengartikannya begini: perempuan sering menyimpan bebannya di dalam kepala. Kalah sama keledai yang menyimpan bebannya di punggung. Okay, saya paham. Jangan diulangi.

Rabu, 03 Juni 2015

Cioran dan Ionesco

E. M. Cioran: Saya tidak pernah bisa menulis dalam keadaan normal. Bahkan hal-hal yang banal, saya tak pernah mampu mengatakan: "Saya sekarang menulis". Saya selalu berada dalam keadaan tertekan atau marah, geram, muak, atau jijik, dan tidak pernah dalam keadaan normal. Dan saya lebih suka menulis dalam keadaan semi depresi. Seakan-akan di sana ada sesuatu yang tidak beres, tidak benar. Karena saya berpendapat jika kita berada dalam keadaan netral, mengapa harus menulis? Mengapa mengumumkan atau melaporkan sesuatu? Demikianlah, barangkali seperti yang mereka katakan, ada sedikit aspek yang tidak sehat, abnormal, untuk ditulis. Dan ini benar, saya telah meneliti bahwa orang-orang yang menderita neuosis, orang-orang setengah gila, mereka yang bertindak karena nafsunya saja.

Bagiamana dengan yang begini:
 
Eugene Ionesco: Saya selalu berpendapat bahwa mimpi-mimpi itu bukanlah sesuatu yang konyol. Dalam mimpi terdapat kesunyian dan kontemplasi. Kita dapat membayangkan dengan lebih nyata ketimbang dalam kehidupan yang real. Terdapat kejelasan dalam mimpi, yaitu kita tidak dapat mengatakan kita superior atau inferior, tapi lebih bersifat penetrasi, merasuk, menembus.
Saya bangkit dari mimpi saat saya menulis, dengan demikian karya itu tampak segar dengan percikan air mimpi, jika saya diperbolehkan mengatakan begitu. Bercampur dengan realitas. Realitas. Realitas selalu mengejutkan saya, dan terenggut dengan segera.
 =================
E. M. Cioran: Bagi saya, tragedi seorang penulis adalah menjadi terkenal tatkala masih remaja; sesuatu yang benar-benar jelek. Ketenaran itu mendesak apa saja, karena kebanyakan penulis bila mereka terkenal dalam usia muda mereka menulis untuk publik mereka. Menurut pendapat saya, sesuatu harus ditulis tanpa memikirkan orang lain. Anda tidak harus menulis untuk atau ditujukan pada siapa pun, hanya untuk diri anda sendiri. Dan kita tidak akan pernah menulis buku hanya untuk menulis buku, karena buku tersebut tidak mengemban realitas, buku adalah sebuah buku. Segala sesuatu yang sya tulis merupakan pelarian dari rasa tertekan, dari mati lemas, kekurangan nafas. Semua itu bukanlah dari inspirasi seperti yang mereka katakan. Semua itu semacam pemanasan agar mampu bernafas.

Bertolak belakang dengan:

Eugene Ionesco: Saya memang ingin terkenal. Saya ingin lari dari anominitas, dari tidak bernama itu. Eksistensi dalam anonim tampaknya tak dapat saya terima. Saya tidak ingin hidup dalam anominitas ini, karena seperti yang saya katakan pada diri saya sendiri, bahwa bila saya tak dapat hidup dalam Tuhan, artinya hidup dalam kesunyian dan keheningan, dalam kehidupan monastik, maka saya harus hidup paling tidak sedikit bersinar di antara orang-orang. Saya tahu itu adalah sebuah kesalahan, tapi saya tak dapat berbuat apa-apa untuk mencegahnya.


Sumber--Writing at risk: interview with the uncommon writers: Julio Cortazar, Gunter Grass, EM Cioran, Eugene Ionesco, Carlos Fuentes, Milan Kundera, Octavio Paz

Minggu, 31 Mei 2015

Elegi Pengusir Minor

masih juga di tempat ini
tempat yang mampu membuatku merasa dengan ikhlas
menjadi debu-debu beterbangan.
pada saatnya nanti kamu akan mengerti sendiri
ada hal sendu yang coba diucapkan bunga pada lebah yang menganggapnya biasa saja
juga tentang huruf yang tersesat pada rangkaian takdirnya sendiri
ke dalam kertas-kertas yang kadang dibaca dan dilupakan

berdua, kita memang pernah saling membaca
tak perlu saling bicara
aku disentil seseorang: kamu tak memberiku harapan
baiklah, aku paham, aku akan mengubur pelan
ini biasa saja
aku tak menyesal
aku tak perlu bersembunyi
biarkan kita saling beterbangan

dekomposisi
lagi, lagi, lagi

Senin, 25 Mei 2015

Tuhan juga Penulis

Tuhan mengawali semua ceritanya dengan permulaan yang sama, yakni kelahiran. Dan mengakhiri semua ceritanya dengan akhiran yang sama, kematian. Hidup adalah apa yang terjadi di antara dua hal ini: kelahiran dan kematian. Tuhan tidak pernah membosankan.

Jogja, 24 Mei 2015

Film Gula-gula Usia: Romantika Cinta yang Seksi

Tadi malam (24/5) sama Anis dan Madam nonton bareng tiga film persembahan Jamaah Cinema Mahasiswa (JCM) UIN Suka di gelanggang. Film terakhir bagiku paling menarik. Judulnya: Gula-gula Usia.
Doc: Festival Film Solo
Film ini berkisah tentang seorang wanita yang usianya udah nenek-nenek. Dia hidup sendirian. Aktivitasnya menjahit. Seiring tuanya usia, barang-barang di rumahnya pun telah tua. Banyak barangnya yang rusak dan minta untuk direparasi. Dimulai dari jam tuanya yang mati, lalu wanita tua ini pergi naik becak ke tukang reparasi. Nah, tukang reparasinya ini juga kakek-kakek, dia sudah tua, nada bicaranya mbah nang banget, haha.

Setelah wanita pulang, ada lagi yang rusak setrikanya nggak panas. Dibawa lagi ke tempat reparasi kakek itu. Obrolan-obrolan terjadi. Sampai-sampai si kakek ini mengantarkan barang reparasi nenek ke rumah nenek langsung pakai onthel.

Si nenek kan suka mendengarkan radio, radionya sudah tua dan rusak lagi, dibawa lagi ke tempat reparasi kakek. Setelah usai diperbaiki, diantar langsung ke rumah nenek. Nenek menyambutnya di ruang tamu, trus tiba-tiba hujan turun dan lampunya mati. Mereka saling berdua di rumah, haha... lucu banget, serasa muda lagi, penonton pada berisik ciye-ciyein.

Nah, suatu hari si nenek gelisah. Dia rindu kakek tukang reparasi. Nenek keliling rumah, siapa ahu ada perabotan yang rusak. Dia meriksa alat elektroniknya dari kipas angin dan lampu yang masih sehat semua. Nenek kecewa, haha, cinta kadang aneh ya. Puncaknya si nenek ini ngrusak kipas anginnya sendiri coba, nenek mbanting kipas angin ke lantai sambil ketawa. Penonton di gelanggang pada ikut ketawa. Yah, seperti hutang kan, rindu harus dibayar dengan tuntas. Haha...

Trus si nenek bawa itu kipas angin ke tempat reparasi kakek naik becak. Namun, pas sampai sana tempat reparasi kakek tutup. Nenek duduk sendirian di depan toko kakek. Tamat. Ending terbuka. Uh, kasian.

Film ini menggelikan sekali. Idenya sederhana, konyol, tapi menarik dan baru. Aku setuju dengan pendapatnya si Surya (anak Teater Eska) dia bilang: "Ia memandang terbalik. Cinta yang kadang cuma monopoli anak-anak dan remaja, sekarang dibalik.  Itu sangat seksi. Mahasiswa berkaryanya lebih seperti itu."

Bagiku sendiri melihat film itu sebagai subaltern yang coba diangkat oleh sutradanya Ninndi Raras. Nggak mainstream, dan menggelikan tadi. Ninndi nglepas hegemoni cinta ala remaja picisan. Pemuda memang berkaryanya harus seperti ini. Kritiknnya mungkin pas awal-awal temponya lambat (mungkin karena subjeknya manula kali ya) dan di awal juga kerasa membosankan, karena spot yang di-shoot itu-itu aja. Ending-nya juga menurutku kurang menohok, datar, nggak surprise, kayak orang di-PHP-in.

Last, manusia itu ibaratnya juga bagai perabot-perabot usia yang lambat laun ia akan ada pada titik menjadi "tua". Manusia kadang butuh direparasi untuk membuatnya sehat kembali. Mungkin begitu. Tentang cinta, tema yang digali tak ada habisnya. Mungkin ember jika diakatakan jatuh cinta tidak mengenal usia, bagiku cinta adalah bahasa kesunyian antara kakek dan nenek.

Kamis, 21 Mei 2015

Presentasi

Ini puisi yang saya bacakan tadi (21/5) setelah presentasi tentang  resonansi siklotron.
Terima kasih telah mau mendengarkan... Pak Wahyu, Fisika 2013 UIN Suka... tentang sebuah apa yang kita sama-sama sebut "attitude".

Presentasi
: Wahyu Aji Eko Prabowo

Power point menatap aku, kamu, kita yang hampa
Kipas menari, aku bicara, kalian mendengar
Masukkah? Pahamkah? Mengertikah?
Setelah pulang apa yang kau dapatkan?
Aku seperti berada dalam pelat tabung dioda
Yang menyerap efek-efek klasik masa lalu
Berarus laksana prinsip kerja LED
Enyah kau Schrodinger, pergi kau Fermi-Dirac
Setelah itu masuk lagi
Aku ingin bebas laksana elektron bebas
Mengubah ambang laratmu menjadi energi
Lewat transuder yang berisi ribuan potensial
Mengalirkan cahaya ke otakmu, ke hatimu

 Selasa, 19 Mei 2015