Jumat, 07 Maret 2014

Nggembel


Ingin sharing pengalaman tadi malam aja (6/3/14) :D 

Tadi malam, usai latihan sanggar jam satu malam lebih. Aku pulang ke kos, dan betapa malangnya pintu udah dikunci. Ia, sangat tabu perempuan pulang malam-malam. Aku sadar tapi aku bangga dan berterima kasih pada diriku sendiri: ‘Is, ternyata lu kuat’. Disaat teman-teman yang lain tertidur pulas dengan mimpi-mimpinya, kita teriak-teriak acting kayak orang gila. Back to topic, aku udah down mau tidur dimana. Udah beli gudeg, kopi sachet sama roti buat nemenin aku nyelesaiin tugas dan berita di LPM ARENA, eh dikunci. HP udah mampus dari siang tadi lagi. Mau tidur dimana coba? Mau ngubungin siapa coba? Gebrak-gebrak pintu ya nggak mungkin. Daerah tempat aku kos (depan UPT Balai Yasa, perumahan PT KAI yang sepi, ke-Belandaan dan banyak pohon besar) kadang-kadang buat bulu kuduk merinding.

Akhirnya ide lama bersemi kembali: nggembel di Malioboro! Ya, pertama kali aku menginjakkan kaki di Jogja, jalan sepanjang Malioboro adalah hotel luar biasa aku dan bapak (hobi nggembel sepertinya aku arisi dari bapak). Nggak peduli dilihatin orang lalu lalang, kami mengambil tempat disana untuk melepaskan tubuh yang lelah, tidur sambil dengerin musik-musik jalanan Maioboro yang tak pernah sepi hingga pagi.

Dengan tubuh yang lelah aku menuju Malioboro, musik angklung adalah elemen paling aku rindukan dari tempat ini. Yaa, seperti dugaanku, jalanan sekitar benteng Vredenburg dipenuhi oleh nyanyian-nyanyian para pemuda pemudi. Tiba-tiba mentalku kerut. Aku jadi nggak yakin mau nglakuin hal kayak dulu lagi. Dulu aku ditemanin bapak? Nah sekarang? Tempat ini serasa asing. Aku memilih berjalan terus menuju masjid gedhe Kauman (berharap bisa tidur disana). Kebetulan malam ini aku lapar. Aku beli nasi 2 ribu di warung depan masjid dan dungaren dapat banyak :D Aku masuk masjid. Di gerbang mau masuk ada pengemis yang sedang tidur. Dan apa yang terjadi? Pintu masuk ke masjid digembok!! Aku menghirup nafas panjang.

Duduk di bangunan pintu. Aku buka nasi dan gudeg, aku makan dengan sedikit tak berselera. Aku sudah tidak peduli kalau malam ini itu malam jumat. Aku berkeyakinan ‘penunggu’ masjid dan area keraton ini dihuni oleh makhluk yang baik-baik. Usai makan, aku bersandar di salah satu temboknya, memejamkan mata sebentar, melepas lelah. Olah rasa. Oh, gini yaa rasanya orang nggak punya rumah? Ini belum apa-apanya Is. Dari jauh ku lihat pintu masjid dibuka sedikit, lampu yang tadinya gelap tiba-tiba terang. Sudah menunjuk pukul 3 pagi ternyata. Daripada ntar dikira dan ditanya yang bukan-bukan aku putuskan untuk keluar. Nyari tempat lain yang lebih tepat. Tapi, cari ku cari sepanjang perjalanan. Semua tempat seolah menolakku. Di jalan ku alami juga ketakutan-ketakutan. Dari sindiran orang-orang di jalan (yang godain gitu), pengemudi motor yang nggak tahu adab membuat jantung terkejut, hantu malam jumat belum termasuk #ehnggakding.

Akhirnya, aku sampai di kos juga. Beberapa jam lagi Is pintu dibuka. Sabar.

Tanpa pikir panjang, aku tidur di depan pintu sebelah barat. Di atas paving tanpa alas tanpa bantal (tas ku isi laptop yang mati suri juga, berat banget bawanya, nggak enak juga kalau aku jadiin bantal). Kedinginan. Bersyukur ‘sedikit’ menikmati tidurku. Hingga akhirnya, jam 5 pagi-an. Pintu itu dibuka oleh mbak yang bekerja di rumah eyang (pemilik kos). Aku masuk. Tanpa basi-basi masuk kamar ambil selimut tidur!

Jam 7 aku baru bangun beneran. Bertepatan dengan kelas Mekanika jam 7 pagi. Aku cukup stress mikir. Berita ARENA tentang demo di fakultas saintek kemarin belum aku revisi juga lagi. Belum lagi DL RR (Rapat Redaksi) kemarin. Yow wis, mikir kelamaan di waktu yang sempit bakal ngrugiin banyak hal. Mandi bebek dan datang ke kelas Mekanika! Meski telat 25 menit, pak Joko masih berbaik hati mengijinkan aku masuk. Meski di kelas masih sempet molor #tak-patut #instropeksi-banyak

Usai mekanika, aku beli sayur, lauk, dan cilok. Nasi gudeg yang tadi malam masih bersarang di keranjang sepedaku, aku makan nasi itu di depan bank X yang ada di sepanjang jalan KOPMA. Sendirian. Beli gelas aqua kecil, makan cilok di pinggir jalan. Serasa nggembel lagi (dan aku menikati ke-gembel-anku)

Semoga kisah tak penting ku ini bisa memberikan sesuatu, hehe. Aku tutup dengan kalimat indah dari Ki Pandji Kusmin, kemarin warga PSDM ARENA diskusi tentang satu-satunya cerpen beliau yang keren beud berjudul “Langit Makin Mendung” (recommended banget buat dibaca :D)

“Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang.”

Jogja, 7 Maret 2014

Senin, 10 Februari 2014

Catatan Untuk Aktor

Dialog Bolevslavsky dan gadis fantasinya... (A: Aku/Bolevslavsky; G: Gadis)

G: Aku sudah merenungi suatu kenyataan yang sangat betul harus disayagkan, bahwa permainan dan suara-suara aktor-aktor besar tidak bisa diabadikan. Kini aku sampai pada suatu kesimpulan: untuk kepentingan ini aku harus merasakan mekanisme dan kemurahan film dalam pekerjaanku.

A: Bukan. Satu-satunya yang harus kau lakukan ialah maju sejajar dengan zaman kita dan berusaha sekuat mungkin – sebagai seorang seniman.

G: Mustahil

A: Ini tidak bisa dielakkan.

G: Film tidak lebih dari selera musiman yang palsu – tidak lebih dari semacam cerewet.

A: Fikiran itu sempit.

G: Seluruh kodratku sebagai seorang aktris berontak terhadap iblis mekanis ini.

A: Kalau begitu kau bukan seorang aktris

G: Hanya karena aku menginginkan suatu kesempatan yang bebas dan tak terganggu-ganggu bagi ilham dan kerja kreatifku?

A: Bukan. Karena kau tak bergembira dalam penemuan sebuah instrumen drama yang besar; suatu instrumen yang telah dipunyai oleh seni-seni yang lain semenjak masa dulu dan yang sampai kini belum lagi dimiliki oleh seni yang tertua – teater; suatu alat yang dapat memberikan kecermatan dan ketenangan ilmiah pada teater, seperti yang dimiliki oleh seni-seni yang lain; sebuah instrumen yang menghendaki dari seorang aktor supaya berlaku pasti laksana skema warna dalam lukisan, bentuk dalam seni pahat, alat-alat bunyian bertali, alat-alat tiup dari kayu ataupun tembaga dalam musik laksana matematik dari seni arsitektur; atau pun kata dalam seni puisi.

__________________

A: Lapangkan hatimu sedikit. Memang demikian halnya. Film adalah pengabdian seni seorang aktor –seni teater. Drama yang dilisankan kini jadi sama dengan drama yang dituliskan. Apakah kau tidak meyadari, bahwa dengan adanya alat perekam pribadi dan skema sukma seorang aktor, maka mata rantai yang selama ini hilang dalam rantai semua seni, kini telah ditemui? Teater bukan lagi soal yang bisa lewat-lampau begitu saja, tapi sudah menjadi catatan abadi? Apakah kau tidak menyadari, bahwa kerja kreatif seorang aktor tidak perlu lagi dipertunjukkan depan mata publik: bahwa kami penonton tidak usah lagi ditarik-tarik ke dalam keringat dan kesibukkan kerja kita? Para aktor bebas dari penonton pada saat ia mencipta; hanya hasil ciptaannya saja lagi yang dinilai.

G: Seorang aktor yang berada dalam seperangkatan pesawat bukaanlah seorang aktor yang bebas. Ia dicencang menjadi potongan-potongan kecil—hampir setiap kalimat peranannya dipidahkan dari kalimat-kalimat sebelumnya dan kalimat sesudahnya.

A: Setiap kata seorang penyair terpisah dari kata-katanya yang lain. Tapi yang penting bagi kita ialah keseluruhannya. (Richard Boleslavsky @Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor)
_____________
I finally grasped the simple truth that imitating another actor did not mean creating an image. I realized that it was necessary to create one’s own image – an image which. I must confess, I understood only outwardly. It is also true that I did know how to approach the image unless I was helped by a stage director like Fodotov, or by chance, as when I played softenville, and therefore approached the image with pose, costume, make-up, menners, or gestures. I felt on the stage as if I were undressed and was ashamed of appearing as myself before specatators. (Konstantin Stanislavsky @My Life in Act)

Selasa, 04 Februari 2014

Katakan Cinta dengan Buku

Iseng-iseng ke ruang referensi perpus.. baca buku asal yang ditaruh di atas meja. Saat ku buka..eh, ada tulisan: Katakan Cinta dengan Buku (buku yang ditulis civitas akademika fakultas adab untuk seorang dosen sebagai hadiah purna baktinya *so sweet banget yaa..). Aku jadi kepikiran.. suatu saat aku ingin menghadiahkan buku untuk orang-orang yang aku cintai (udah lama sih pengennya) :D
Kadang aku juga berharap... ada yang mau menghadiahiku sebuah tulisan.. apa pun.. #eh #keceplosan

_____________________________________________

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
― Mohammad Hatta

“Setiap buku adalah kutipan; setiap rumah adalah kutipan seluruh rimba raya dan tambang-tambang dan bebatuan; setiap manusia adalah kutipan dari semua leluhurnya”
― Ralph Waldo Emerson

“dunia ibarat sebuah buku, kalau kita baru melihat satu tempat sama artinya kita baru membaca satu halaman” 

“Kenyataan-kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri ke dalam apa yang dinamakan orang Inggris ‘Dunia Pemikiran’. Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputusasaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira. Seluruh waktu kupergunakan untuk membaca.” - .- Bung Karno

Sabtu, 01 Februari 2014

Saat Aku Kecil

Masih ku ingat essay ringkas salah seorang temanku. Ia menulis: dua hal yang paling aku benci dalam hidup.. Pertama, saat aku bersedih. Kedua, saat aku kehilangan semangat hidup. Dari lubuk hatiku terdalam, ku amini kalimat itu. Dua hal itu seperti pelumpuh otomatis yang menumbangkan badan sehat. Setiap hari pun aku selalu ingin menghindar dari dua racun itu.

Yaa… tapi kadang racun itu begitu kuat dan sulit sekali buat sembuh. Roda hidup berputar ke titik nadir. Dibutuhkan usaha yang kuat agar bisa naik lagi, sebagai konsekuensi dari beraninya kita meluncur untuk turun (baca: bersenang-senang). Dan saat keterpurukan itu ditunda, ibarat semakin banyak kita nge-rem saat kita naik motor.. maka akan semakin lambat progress kita.

Ada orang yang megajakku untuk membawa diriku saat aku kecil dulu. Saat aku belajar berjalan. Berapa kali aku jatuh? Berapa kali aku sakit? Berapa kali aku tersandung? tapi aku selalu bangkit. Tak ku kenal apa itu “putus asa” apalagi kosa kata “gagal”. Bagaimana bisa sewaktu aku kecil dulu aku se-tabah itu? Rasanya seperti main-main yang mengasyikkan saja.

Jumat, 31 Januari 2014

Review Buku: Filosofi Kopi (Dewi Lestari)


Buku ini hasil pinjaman dari medanku LPM Arena :D Dan ini buku pertama Dee yang aku baca, menarik sekali. Buku ini terdiri dari  kumpulan cerpen dan prosa berjumlah 18 biji. Udah 5 hari yang lalu aku baca, daripada ntar lupa.. mending sebagai pengingat aku tulis saja isinya (karena kebiasaan, habis baca buku itu banyak yang terselip trus gak bisa balik). Oke, cukup segitu prolognya.. langsung saja…
Filosofi Kopi
Cerpen pertama (sesuai judul buku) “Filosofi Kopi” bercerita tentang seorang barista (peramu kopi yang ahli beud) bernama Ben yang mendirikan sebuah kedai kopi bersama temannya Jody. Ben sangat berdidikasi sekali menjadi seorang barista. Bermacam-macam ramuan kopi dalam menunya ia racik sendiri. Keunikan lain dari kedai ini, Ben memberikan kartu kecil yang diberikan pada pengunjung bertulis nama kopi yang diminum berserta filosofinya. Suatu hari ada orang kaya berusia 30 tahun yang menginginkan rasa kopi yang sempurna. “…kopi yang punya arti: kesuksesan adalah wujud kesempurnaan hidup!” (hal 9). Pengunjung kaya itu menantang Ben, ia berani membeli kopi itu seharga 50 juta jika Ben berhasil menyuguhkan kopi sempurna itu untuknya. Ben merasa tertantang.. sebagai the mad barista, kedai ia tutup, ia buat racikan itu siang dan malam.. hingga akhirnya kopi paling enak se-dunia hadir dan dinamai “Ben’s Perfecto”. Dan bapak pengunjung kaya itu pun memberikan cek 50 juta kepada Ben. Suatu hari lagi, ada seorang pria setengah baya yang datang ke kedai Ben. Ia memesan kopi apa pun yang penting enak. Maka, disuguhkanlah Ben’s Perfecto. Ben bercakap-cakap pada pria itu mengenai rasanya. Pria itu ngomong: rasanya lumayan. Ben panik dan berpikir: apa ada kopi yang lebih enak dari ini? Ben mengintrogasi pria itu dan bertanya: dimana bapak menemukan rasa kopi lebih enak dari ini?! Next, kedai ditutup. Ben dan Jody pergi ke sebuah pedesaan di Jawa Tengah (di daerah klaten gitu). Disana Ben dan Jody bertandang ke sebuah warung reyot milik pak Seno yang kata orang-orang menjual kopi enak bernama: KOPI TIWUS. Setelah mencoba kopi itu, Ben kalut dan merasa kalah.
“Pak Seno bilang, kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-macam. Dan dia benar. Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku barista terburuk. Bukan Cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. bodoh! Bodoooh!” (Hal 23)
Lalu ia ingin memberikan cek 5o juta itu kepada pak Seno, tapi Jody melarangnya. Terjadilah ketegangan antara Ben dan Jody hingga kedai kopi mereka ditutup. Hingga akhirnya, Jody memahami Ben, ia pergi ke warung pak Seno dan memberikan cek itu. Jody mendekati Ben yang masih kalut. Jody membuatkan secangkir kopi tiwus dan mendekatinya. “bahwa uang puluhan juta sekalipun tidak akan membeli semua yang sudah kita lewati. Kesempurnaan itu memang palsu…”—“orang-orang ini tidak menuntut kesempurnaan seperti Ben’s Perfecto. Mereka mencintaimu dan Filososfi Kopi, apa adanya”. Ben kembali bangkit dan kedai itu pun kembali mengepul. Di tempat yang jauh dari Jakarta sana, pak Seno bingung cek itu buat apa.

Cerpen kedua berjudul “Mencari Herman”. Singkatnya, cerpen ini berkisah entang Hera yang berambisi mencari sosok bernama “Herman”, sebuah nama yang dilontarkan dari seorang pria yang diam-diam mencintainya. Bertahun-tahun ia mencari. Bahkan kefanatikannya akan “Herman” ini mengakibatkan hidupnya hancur, dari drop out kuliah, hamil di luar nikah, aborsi, hingga akhirnya ia meninggal tersangkut di tengah jurang karena pria tak dikenal bernama Herman Suherman. “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan” (Hal 31).

Cepern ketiga berjudul “Surat yang Tak Pernah Sampai”. Belum bisa ku pahami seutuhnya, sekilas menceritakan tentang seorang yang memendam cinta tapi tak pernah tersampai. Ia menulis surat untuk orang yang dicintainya itu tapi kembali dikonsumsi sendiri. (Ada yang mau menambahi??)

Prosa keempat berjudul “Salju Gurun”. Menurutku lebih mirip puisi :) bagus banget nilai moralnya. Kasarannya jangan jadi “orang kebanyakan”.. jadilah berbeda dan istimewa. Seperti kaktus dalam gurun yang serba serupa. Seperti oase di lanskap gurun yang serba luas. Seperti salju di tengah gurun (jadi ingat lagunya Anggun :D). “Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau… berbeda” (Hal 49).

Prosa kelima (yang kembali mirip puisi-puisinya Kahlil Gibran) berjudul “Kunci Hati”. Tentang sebuah ruang yang hanya bisa kita isi sendiri dan kita yang memegang kuncinya. Ruang itu bernama inti hati. Orang lain hanya berhak ada di terasnya.

Cerpen keenam berjudul “Selagi kau Lelap”.Bercerita tentang seorang yang jatuh cinta selama tiga tahun. Suatu malam saat orang yang dicintainya itu tidur, ia ekspresikan cintanya itu ke dalam sebuah lamunan: “Terkadang, benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing denganya. aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling…” (Hal 54). Haha, kisah ini mengingatkanku dengan pengalaman pribadiku, aku iri pada sandal yang dipakai orang yang aku sukai, sampai ku ajak dia ngomong, “Sandal, andai aku jadi kamu”.

Cerpen ketujuh berjudul “Sikat Gigi”. Mengisahkan tentang seorang Tio yang mencintai gadis filsuf eksentrik bernama Egi. Namun, cinta Tio bertepuk sebelah tangan. Egi mencintai pria lain, dan pria yang dicintainya itu tidak mencintai Egi. Egi mempunyai hobi menyikat gigi, hanya dengan menyikat gigi ia bisa lupa sejenak dengan dunia dan pria yang dicintainya itu. “Waktu saya menyikat gigi, saya tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Dunia saya mendadak sempit… Cuma gigi, busa, dan sikat. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tio, tapi berarti banyak” (Hal 59).

Prosa kedelapan berjudul “Jembatan Zaman”. Kasarannya bercerita tentang umur. Waktu kita kecil sampai kita tua semua memiliki masanya sendiri-sendiri. Yang kadang saat kita menua, kita tak mampu mendengar bahasa-bahasa anak kecil . “Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama, bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu” (Hal 69). Tercipta kutub-kutub pemahaman yang berbeda, yang tak akan bersua jika tidak dijembatani. Jembatan itu adalah RENDAH HATI bukan KESOMBONGAN DIRI.

Prosa kesembilan berjudul “Kuda Liar”. Intinya, mari kita belajar arti kebebasan pada kuda liar :) “Hidup mereka indah dalam keinginan bebas. Hari ini ke padang, esok ke gunung, tak ada yang bingung. Kebimbangan tak pernah hadir karena mereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diingin. Lari mereka ringan karena tak ada yang menunggangi” (Hal 71). Yaa, seperti kata Dee, melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu.

Cerepn kesepuluh berjudul “Sepotong Kue Kuning”. Tentang Indi (seorang guru musik biola) dan selingkuhannya bernama Lei yang sudah beristri. Dan aku masih belum mengeri, metafor apa yang tersembunyi dalam diksi “kue kuning” itu?

Prosa kesebelas berjudul “Diam”. Tarik nafas. Mungkin tentang seorang yang berduka, ia ada di ruang berukuran 4 x 6 neter. Ia berkata-kata dalam diamnya. “Diammu menginfeksi udara…” -_-

Prosa ke-dua belas berjudul “Cuaca”. Yang ku tangkap… ini bercerita tentang satir keadaan kita. Biasanya, kalau sedih itu selalu ditutupi. Kenapa? “…karena awan mendung tak pantas jadi pajangan” (hal 87)

Cerpen ke-tiga belas berjudul “Lara Lana”. Berkisah tentang Lana manusia unik yang mempunyai kacung intelektual (seseorang yang sekaligus dicintai Lana). Namun, seseorang itu menikah dengan orang lain.

Prosa ke-empat belas berjudul “Lilin Merah”. Tentang ulang tahun yang dirayakan melalui kesunyian. “Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari” (Hal 97)
Prosa ke-lima belas (menarik sekali menurutku) berjudul “Spasi”. Tentang sesuaatu yang bernama “jeda”. Bahwa manusia akan bergerak jika ada jarak. Tulisan akan mampu dibaca jika ada jeda. So, mari… berkelana tapi tidak dibebat dan berjalan secara beriringan.

Prosa ke-enam belas berjudul “Cetak Biru”. Mungkin (pandanganku) berkisah tentang nasib dan usaha seseorang. Bahwa sejak lahir kita diciptakan dengan cetak birunya masing-masing, yang memiliki rancangan dan bangunan yang berbeda-beda. Saat kita gagal, pondasi kita tidak hancur, hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan rancangan cetak biru. Rancangan cetak biru disini apa berarti sebuah tulisan atau planning gitu yaa????

Cerpen ke-tujuh belas berjudul “Buddha Bar”. Jujur, sekali membaca aku nggak dong. Berkisah tentang lima sahabat: Nelly, Probo, Omen, Jack, Bejo. Dengan karakter dan sikap mereka masing masing. Dan Nelly menjadi satu-satunya anggota wanita. Probo dalam mitologi Yunani itu kayak dewa Hermes. Omen, seorang lesbi yang tenang tapi nggak nyambungan. Jack, seorang humoris yang hidup penuh dengan keceriaan dan positivitas. Bejo, orang lugu yang menstabilkan teman-temannya yang lain, tapi Bejo tanpa teman-temannya seperti sebatang kayu.

Dannn.. cerpen terakhir berjudul “Rico de Coro”. Banyak ketawanya aku membaca ini cerpen :D Ada saja imajinasi Dee. Tentang kecoak yang bernama Rico de Coro yang mencintai gadis bernama Sarah. Namun, Sarah memiliki kakak-kakak nakal bernama David dan Natalia yang sering memburu para kecoak untuk disiksa atau sebagai santapan ikan arwana mereka yang bernama Michael dan Meil. Suatu hari Natalia membawa binatang eksperimen sekolah yang nggak jadi untuk memburu para kecoak, ia mirip monster kecoak yang nggak jadi bernama Tuan Absurdo. Ia mengandung racun, niatnya…. kerajaan kecoak ingin memanfaatkan tuan Absurdo untuk membalas David dan Natalia karena mereka telah membunuh saudara-saudara kecoak. Tapi, tuan absurdo membidik orang yang salah bernama Sarah. Namun, Rico datang sebagai pahlawan bagi Sarah. Ia rela kena racun tuan absurdo dan rela mati untuk melindungi Sarah. So sweet banget nih kecoak, haha. Jangan-jangan, di dunia lain sana ada semut kecil bernama Kevin de Ant  yang naksir sama aku, hahaha :D

Yogyakarta, 30 Januari 2014 jam 11:11 pm.

Sepuluh Kutipan #8


1. Dua puluh tahun dari sekarang, kamu akan makin kecewa melihat lebih banyak lagi hal yang tak sempat kamu lakukan daripada yang kamu lakukan. Jadi, buanglah segala hambatan. Berlayarlah dari “pelabuhanmu” yang aman. Nikmati semilir angin selama dalam perjalan. Explore. Dream. Discover. (Mark Twain) 

2. Ringkasan hidup paling gelap terdiri dari tiga pernyataan yang selalu diawali: seandainya…, kalau saja…, dan andaikan… (Louise E. Boone)

3. Kia mencari nafkah dengan mengambil, tapi kita menyuntikkan kehidupan dengan memberi. (Winston Churchill)

4. Ide-ide cemerlang tidak diadopsi secara otomatis. Ide-ide tersebut harus dipraktikkan dengan kesabaran yang penuh keberanian. (Admiral Hyman Rickover)

5. Apa yang ada di belakang kita dan apa yang ada di depan kita adalah kecil dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita. (Ralph Waldo Emerson)

6. Dalam kerja keras yang ada hanyalah kemuliaan, bahkan saat kita gagal. (Vince Lombardi)

7. Kita mulai dengan membayangkan bahwa kita memberi mereka. Kita mengakhirinya dengan menyadari bahwa merekalah yang telah mempeerkaya kita. (Paus Yohannes Paulus II)

8. Yang mana pun yang kamu YAKINI, kamu bisa atau kamu tidak bisa, kamu benar. (Henry Ford)

9. Manusia dibatasi bukan oleh tempat kelahiran mereka, bukan oleh warna kulit mereka, melainkan oleh seberapa besar HARAPAN mereka. (John Johnson)

10. Lihatlah ke dalam lubuk hatimu dan putuskan bahwa kamu keren, entah apa anggapan orang lain tentangmu :D (Mawi Asgedom)