Membaca buku ini, aku jadi teringat dengan pengalaman kencan pertamaku. Kesannya sendu, berat, menyedihkan, dan rasanya tak ingin kuulang kembali. Iya, itu terjadi di suatu sore, aku inisiatif ngajak si cowok ini jalan duluan. Ketemu di bawah pohon beringin kampus. Aku kesusahan ngikutin langkahnya. Apa yang kuekspektasikan gak terjadi sama sekali, beda 180 derajat. Akhirnya aku merasa drained. Namun, dari kencan pertama itu, aku jadi belajar sangat banyak terkait karakter dia. Ya, kami tidak cocok karena hidup di dua mode yang berbeda saja. Gak lebih, gak kurang.
Kisahnya cukup sederhana, jalan menelusuri rel, ke pameran seni, ke Embung Langensari di Jogja, deep talk di depan Stasiun Langensari. Pulang. Isinya tidak seromantis kisah Celine dan Jesse di film "Before Sunrise" ya, karena itu terlalu baik dan too good to be true di kisah aku. Kadang aku kepikiran untuk bikin novel tipis yang berkisah tentang kencan pertama ini. Wkwk. Lewat pendekatan yang dipakai di film trilogi before.
Kembali ke buku, jadi ada 10 cerita, yang kalau kutarik benang merahnya:
1. "Apakah Kita Hanya Berdua?" -> Kisah mbak-mbak yang dikiranya kencan berdua tapi malah bertiga dan berempat. Ini terjadi pas mau nonton bola, pakai kostum salah, janjian di mal. Tapi karena cowok yang ditaksir ini "terkenal", dia bawa teman cewek dan manajer, wkwk. Ada metafora bagus yang kuingat, bunyinya kira-kira gini: mungkin jantungku terbuat dari kodok yang bisa berdetak-detak dan loncat-loncat lincah.
2. "Haris" -> Kisah kencan pertama dengan sosok bernama Haris. Yang dia ganteng banget tapi ujung-ujungnya nawarin bisnis MLM, yang membuat si cewek jadi gak respect lagi. Ternyata penampakan luar tak seperti yang di dalam.
3. "Tujuh Dosa dalam Kencan Pertama" -> Ini lucu, karena si cewek pas mau kencan nglakuin tujuh dosa berturut-turut, kayak nginjek kaki si cowok, nawarin makan ayam di warteg tapi cowoknya vegan, kejadian konyol pas nonton, lupa salam perpisahan, dll, dlsb. Tapi entah kenapa si cowoknya menerima dan kencan berikutnya berjalan.
4. "Balada Jomblo" -> Ini kisah anak kembar si Kano dan Kana (nenek lampir, haha). Kano si wibu janjian kencan sama Dinda di sebuah konser gitu. Eh gak taunya itu bukan kencan, karena Dinda akhirnya dijemput cowoknya. Dia emang janjian sama teman FB aja biar gak sendiri. Si kembaran udah mengingatkan, tapi gak digubris. Akhirnya dia beli semacam permen yang harganya mirip seperti mi yang bikin kenyang.
5. "Antara Film dan Kenyataan" -> Aku pikir ini paling kompleks, karena lebih mirip sama ceritaku, terutama soal pemakaian dating application. Mbaknya juga pinter, kek menggabungkan antara dunia film dengan aslinya di kenyataan itu jauh beda. Dia bisa lolos di tiga universitas terkenal di Inggris dengan mudah, tapi soal bagaimana melanjutkan dari kencan pertama ke kedua itu susah. Dan tipe-tipe mbak-mbak pinter kayak gini emang susah nemuin cowok yang sefrekuensi. Misal pas bahas soal novel Harry Potter, dia cukup amazed sama cowok yang ngritik kenapa ujung-ujungnya Hermione hanya menikah dan jadi ibu rumah tangga, tapi habis itu gak ada obrolan lebih jauh.
6. "Sussy Celalutercakiti" -> Kisah kencan pertama sama banci yang ditemui tokoh utama di Facebook bernama Sussy Celalutercakiti. Janjian di semacam restoran cepat jadi. Si tokoh utama diantar sama sahabat dekatnya, eh, ketemunya tidak sebagaimana pikiran-pikiran "kotor" yang diimajinasikan. Karena di cowoknya juga tertarik awal karena fisik.7. "Gelombang Tsunami dalam Cangkir Teh" -> Ini yang menurutku paling complicated. Semacam lagu Tulus yang "Sepatu". Sejak SMA udah curi-curi pandang dari jendela kelas, si cowok main ke rumah cewek. Tapi karena deg-degan pas mau nyuguhin teh, malah terjadi airnya kocar-kacir. Meskipun gak jodoh, katanya tiap kali ketemu si pria ini ada perasaan aneh yang susah dijelaskan.
8. "Tembak Aja Langsung!" -> Kisah ini mengingatkan aku pada kisah personalku. Sebab, nembak tanpa lu SWOT dulu tuh kek bunuh diri, haha. Dan nasihat, batu keras kalau ditetesin air terus-menerus akan luluh juga itu bullshit buat hati manusia. Kalau gak suka, mending mundur. Pokoknya jangan buang-buang tenaga. Nanti kisahnya kasihan kayak cowok di judul ini.
9. "Kencan Tengah Hari Tua" -> Aku baru sadar ini yang nulis Erni Aladjai yang pernah nulis novel tentang Kei, dan bukunya "Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga" juga pernah kubaca. Jadi dia illfeel sama dua cowok yang pernah nembak dia duluan, pertama oleh anak yang lebih muda, kedua oleh guru matematika (pakai surat yang dititipkan ke ketua kelas lagi!). Tapi kencan dia itu sama cowok Jakarta yang aslinya dari Depok ke kampung halaman si Erni. Kencannya di bawah pohon yang di pohon itu sering diberakin ayam. Jadi sering tuh kotoran ayam nyangkut di rambut anak cowok. Yang dikritik sama Erni tuh, karena cowok ini "anak nenek". Dia sangat patuh pada nenek. Tiap pulang ke rumah nenek, Erni selalu mengantarkan terus-menerus sampai dia bosan.
10. "Ocehan di Tahun yang Baru" -> Ini ceritanya lebih mirip gerundelan aktivis sok iye yang mencoba puitis jatuhnya wkwk. Sorry to say. Dia kencan sama cewek yang ngaku suka Pablo Neruda, tapi setelah tahu realitas kehidupan si cowok tidak seperti yang diinginkan, akhirnya dia gak suka Pablo Neruda lagi. Mereka kencan di tahun baru, nonton film "City of God", tapi si cewek gak nikmatin itu. Mungkin beda frekuensi, haha.
Ya begitulah cerita besarnya. Benang merah, kencan pertama itu rata-rata banyak gagalnya. Sementara kencan kedua itu probabilitas yang sempit kalau yang pertama gagal. Sebagian cerita ditulis dari dunia kelas menengah atas, di mana penampilan dan dress well itu sangat penting. Sebagian memang sangat duniawi motifnya, dan sebagian memang punya kedalaman dan ideologis. Overall, buku ini sangat ringan, lucunya sih moderate, tapi menghibur.
Judul: Kumpulan Cerita Kencan Pertama yang Memalukan | Penulis: Yessica P.F. Kansil, Nathalia Theodora, Adam Yudhistira, Mogo Fresha, Levy, Agustina Dwi Jayanti, Isyana Arharini, Netty Virgiantini. Erni Aladjai, Muhammad Aan | Penyunting: Dea Naugrah | Penerbit: Moka Media, Jakarta Selatan | Tahun: 2014 | Cetakan: I | Dimensi: 12,7 x 19 cm | Jumlah Halaman: 144
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar