Selasa, 06 Januari 2026

Catatan Klenik Studies Edisi 25 Desember 2025: "Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi"

I. Pembukaan dan Kilas Balik Diskusi Sebelumnya

Tema Klenik Studies edisi Hari Natal, Kamis, 25 Desember 2026, bertema “Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi”. Peserta yang hadir terdiri dari: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, dan Isma Swastiningrum.

Sulkhan membuka pertemuan dengan menegaskan bahwa diskusi hari ini melanjutkan obrolan sebelumnya tentang hantu di institusi pendidikan. Mengingatkan kembali pembahasan yang berangkat dari hantu sebagai politik ingatan. Ia menyinggung cerita-cerita hantu di sekolah masing-masing peserta: dari cerita turun-temurun di desa, kerangka manusia di ruang laboratorium sekolah Nurizky yang berasal dari tukang kebon, hingga suara-suara misterius di sekolah. Isma sebelumnya menyinggung hantu sekolah sebagai representasi trauma yang diwariskan lintas generasi.

Pertanyaan utama yang hendak diteruskan: mengapa pengalaman traumatis itu terus hidup di dunia pendidikan, dan mengapa ia diwujudkan dalam figur hantu. Dari sisi psikologi, menurut Sulkhan, masih ada celah yang perlu dibahas lebih jauh.

II. Tipologi Hantu di Universitas

Isma membagi fenomena hantu di universitas ke dalam beberapa pola:

1. Relasi Dosen-Mahasiswa: Kisah dosen yang mengajar di kelas lantai tiga pada sore hari. Mahasiswa di kelas itu berwajah pucat tanpa ekspresi. Dosen tersebut tetap mengajar hingga 3 SKS selesai. Setelah keluar kelas, ia baru menyadari bahwa dirinya telah berada di kelas tersebut selama tiga hari.

2. Mahasiswa Abadi: Kasus Mbak Yayuk di UGM, khususnya populer di Fakultas Ekonomi. Ia adalah mahasiswi angkatan lama yang skripsinya berkali-kali ditolak hingga mengalami stres berat dan bunuh diri.

3. Mahasiswa Bunuh Diri: Mahasiswi UI berinisial MPD (21), angkatan 2019 FISIP Ilmu Komunikasi, ditemukan tewas di apartemen Kebayoran Baru, beberapa hari sebelum wisuda.

4. Hantu Perempuan dan Ruang Kampus: Selain Mbak Yayuk, urban legend Mbak Rohana di jembatan Perawan UGM (penghubung Pertanian–Kedokteran Hewan). Sosok perempuan berkerudung yang jatuh dari jembatan lalu menghilang.

5. Hantu sebagai Kontrol Sosial Agar Tak Pulang Malam: Cerita mahasiswa yang menyeberangi jembatan berkabut pukul 11 malam, melihat rambut dan kepala menggantung di tiang jembatan. Di UNILA juga dikenal penampakan dua perempuan kembar bergaun hitam di sekitar beringin, yang membuat mahasiswa enggan keluar setelah senja.

Kisah-kisah ini tidak lepas dari situasi dan problem struktural kampus itu sendiri. 

III. Transisi, Ritus, dan Mahasiswa Abadi

Akbar melihat fenomena hantu di universitas, khususnya mahasiswa berkaitan dengan fase transisi. Mahasiswa berada di masa kepompong. Ketika transisi itu tertahan, terutama di skripsi, muncul trauma dan ketakutan universal: takut tidak berfungsi di masyarakat. Hantu mahasiswa abadi menjadi simbol kebuntuan itu. Dalam konteks transisi dan ritus, mahasiswa diposisikan sebagai subjek yang sedang berada di ambang: belum sepenuhnya menjadi bagian dari dunia kerja atau masyarakat, tetapi juga tidak lagi sepenuhnya berada dalam fase belajar yang aman. Universitas berfungsi sebagai ruang ritus peralihan, dengan skripsi, tugas akhir, dan kelulusan sebagai ambang simboliknya.

Ketika ritus ini gagal dilalui (skripsi tak selesai, wisuda tertunda, atau tekanan mental terlalu berat) mahasiswa seolah terjebak dalam fase liminal yang berkepanjangan. Figur “mahasiswa abadi” kemudian muncul sebagai imaji kolektif atas kegagalan transisi itu: tubuhnya tetap berada di kampus, ruang kelas, perpustakaan, atau lorong-lorong akademik. Ada ketakutan, tidak benar-benar menjadi apa-apa dan tidak sampai ke fase kehidupan berikutnya.

Sementara menurut Isma, label “mahasiswa abadi” tidak selalu merujuk pada hal yang negatif, tetapi juga positif. Dari pengalamannya, dia memperhatikan kadang menjadi mahasiswa abadi juga merupakan pilihan sadar si mahasiswa sendiri untuk memaksimalkan skill dan pengalamannya di kampus, terutama terjadi pada anak-anak seni/teater. Melenceng dari anjuran kuliah dari pemerintah, maksimal 5 tahun.

IV. Hantu Perempuan, Patriarki, dan Perlawanan

Nurul mengaitkan fenomena hantu perempuan di kampus dengan tulisan Aihwa Ong berjudul Spirits of Resistance and Capitalist Discipline”. Hantu perempuan dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap patriarki dan kapitalisme. Selain dipahami sebagai bentuk perlawanan, hantu perempuan dalam konteks kampus dan ruang publik juga bekerja sebagai alat pendisiplinan tubuh perempuan itu sendiri.

Menganalisis lebih lanjut, cerita-cerita tentang Mbak Yayuk, Mbak Rohana, perempuan jatuh dari jembatan, atau sosok berambut panjang di ruang-ruang sepi sering kali berfungsi ganda: di satu sisi menyuarakan trauma, kekerasan, dan ketidakadilan yang dialami perempuan dalam sistem patriarkal; di sisi lain justru menjadi mekanisme kontrol agar perempuan tidak berada di ruang tertentu, tidak pulang malam, tidak sendirian, dan tidak melampaui batas moral yang ditentukan. Dengan demikian, figur hantu perempuan tidak sepenuhnya membebaskan, karena narasi horornya kerap direproduksi untuk menjaga keteraturan sosial dan menegaskan siapa yang “pantas” berada di ruang publik.

Sementara itu, dari cerita Nurizky, kisah Slamet Suroyo di UII memperlihatkan bagaimana hantu tidak hanya hadir sebagai residu trauma, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan. Slamet dikenal sebagai mahasiswa yang berusaha membongkar dugaan korupsi dalam proyek pembangunan kampus, sebelum akhirnya meninggal. Setelah kematiannya, yang beredar bukan sekadar cerita duka, melainkan urban legend tentang buku laporan bertanda tangan darah yang dijaga sosok pocong. Wujud pocong itu mencerminkan posisi perjuangan Slamet yang terhenti di tengah jalan, melainkan tetap “berjaga” pada dokumen, ingatan, dan upaya perlawanan yang gagal diselesaikan semasa hidup, menjadikan perhantuan sebagai arsip aktivisme yang sering tak diakui secara resmi.

V. Ingatan, Benda, dan Ruang 

 

Sulkhan menekankan bahwa hantu merefleksikan sesuatu yang tidak selesai. Ia menyinggung, dalam bahasan tentang ingatan, muncul pula cerita bahwa memori tidak hanya melekat pada manusia, tetapi juga menempel pada benda-benda sekolah: bangku kelas, sudut ruangan, laboratorium, dan perpustakaan.

Ia menautkan ini dengan studi memori: benda bisa menjadi pemicu ingatan. Dia mempertanyakan, mengapa ingatan itu berubah menjadi horor? Menurutnya, mitos-mitos hantu di universitas, termasuk larangan dan cerita seputar lagu “Gugur Bunga”, perlu dibaca dengan menelusuri latar sejarah UGM sendiri, karena sangat mungkin berakar pada peristiwa traumatis tertentu, seperti ingatan kolektif tentang kekerasan negara dan penembakan misterius (Petrus), yang kemudian disublimasikan menjadi cerita horor dan peringatan moral di ruang kampus.

Termasuk dengan mitos “Gugur Bunga” di Bundaran UGM, Nurizky menceritakan bahwa versi kisah bundaran Teknik UGM yang ia dengar agak berbeda, berdasarkan pengalaman teman-temannya di gang “Oestad” yang pernah melakukan vandalisme di area tersebut. Mereka menggambarkan sosok seperti raksasa bermata merah dan berbulu tinggi yang muncul sebagai urban legend untuk mengurangi kenakalan remaja, terutama pacaran yang dianggap melewati batas, mengingat kawasan itu sepi dan hampir tidak dilalui orang pada malam hari.

Isma juga membahas terkait cerita kereta hantu UI–Tebet dibahas sebagai contoh keterikatan hantu pada ruang transisi (kelas, stasiun, kereta). Kisah mahasiswa yang menaiki kereta dari Stasiun UI menuju Stasiun Tebet memperlihatkan bagaimana hantu bekerja sebagai politik ruang. Ketika seorang mahasiswa pulang terlalu malam, kelelahan dan tidak sepenuhnya sadar; di dalam kereta, dia bertemu dengan penumpang berwajah pucat, kereta yang tak berhenti di stasiun mana pun, hingga si mahasiswa bahwa ia sebenarnya berjalan kaki di sepanjang rel. 

VI. Kiai, Kesucian, dan Stratifikasi Hantu

Sulkhan menjelaskan bahwa dalam tradisi pesantren, kiai hampir tidak pernah dicitrakan sebagai hantu menyeramkan. Bahkan jika hadir dalam mimpi, ia dianggap membawa berkah. Ada strata dalam perhantuan: orang suci tetap suci setelah mati.

Sulkhan menyoroti bahwa hampir tidak pernah ada kisah kiai yang menjadi hantu menyeramkan. Jika pun muncul setelah wafat, kehadiran kiai lebih sering dimaknai sebagai pertanda baik, dia muncul dalam mimpi, memberi isyarat, atau dianggap membawa berkah. Bahkan dalam cerita pesantren, ada keyakinan bahwa semakin dekat seseorang dengan Tuhan, rohnya justru semakin bebas: dapat hadir di banyak tempat, “menumpang” makhluk lain, atau berfungsi sebagai penjaga.

Fenomena ini menunjukkan adanya stratifikasi dalam dunia hantu, di mana kesucian semasa hidup menentukan bagaimana sosok itu dibayangkan setelah mati. Santri yang kualat bisa menjadi cerita horor, tetapi kiai tidak; bahkan jika kiai mati secara tidak wajar, imajinasi kolektif enggan mencitrakannya sebagai hantu. Hal ini kontras dengan mahasiswa atau siswa yang mati karena tekanan akademik, tugas akhir, atau ketidakadilan struktural; yang justru dengan mudah diposisikan sebagai hantu gentayangan. Stratifikasi ini memperlihatkan bahwa perhantuan tidak netral: ia mengikuti hierarki moral, religius, dan simbolik, di mana mereka yang dianggap suci tetap suci bahkan setelah mati, sementara yang berada di posisi subordinat lebih rentan dijadikan figur horor.

Sulkhan dan Nurul menyinggung film Pengabdi Setan—ustaz yang bisa dikalahkan oleh setan, tapi kiai hampir tak pernah kalah oleh setan. Pola film seperti ini hadir baru-baru ini (karena ada hubungannya juga dengan politik Orde Baru).

Nurizky mengaitkannya dengan mayoritas agama dan penjagaan citra religius. Dalam diskusi juga muncul catatan tentang bagaimana representasi hantu berkaitan dengan mayoritas agama, khususnya Islam. Di Indonesia, figur kiai hampir tidak pernah muncul sebagai hantu menyeramkan, sementara justru beredar kisah seperti pastor hantu di Jeruk Purut. Hal ini dibaca bukan semata soal iman, melainkan soal penjagaan citra keagamaan di ruang publik: karena Islam menjadi agama mayoritas, figur-figur sentralnya cenderung dilindungi dari representasi horor agar tidak merusak wibawa simbolik. Akibatnya, figur dari agama minoritas lebih “aman” untuk dimistifikasi atau dijadikan cerita hantu, karena tidak menanggung beban representasi mayoritas.

VII. Mahasiswa vs Dosen: Relasi Kuasa

Menanggapi Sulkhan terkait sangat jarang kiai yang menjadi hantu, Isma mencatat bahwa mahasiswa jauh lebih sering menjadi hantu dibanding dosen. Bahasan tentang mahasiswa versus dosen memperjelas bahwa kemunculan hantu di kampus tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa yang timpang. Mahasiswa berada pada posisi subordinat: jumlah banyak dan suara lemah. Karena itu, ketika terjadi kegagalan (skripsi tak selesai, tekanan mental, hingga bunuh diri) yang “menjadi hantu” hampir selalu mahasiswa, bukan dosen.

Akbar melihat ini sebagai jembatan psikologis dan relasi kuasa: mahasiswa berada dalam ritus peralihan, dosen dianggap sudah “selesai”. Dosen jarang dibayangkan sebagai hantu karena secara simbolik mereka dipersepsikan sudah selesai, mapan, dan memiliki otoritas; bahkan ketika mereka problematik, horor tidak diarahkan ke sana.

Sulkhan menegaskan bahwa mahasiswa adalah subjek yang sedang menuju kematangan; kegagalan mencapai titik itu melahirkan hantu. Meskipun jika diberi kacamat pembesar, dosen berada di posisi yang juga problematik, berbeda dengan kiai yang tetap dicitrakan suci bahkan setelah mati.

VIII. Hantu di Kampus Luar Negeri

Diskusi kemudian menyinggung kisah-kisah horor di kampus luar negeri. Isma bercerita, di Universitas Heidelberg, Jerman, selama era Nazi, banyak profesor dikirim ke kamp konsentrasi. Hingga kini beredar klaim bahwa di ruang kelas lama, papan tulis sering terhapus sendiri dan dipenuhi tulisan-tulisan misterius. Di lokasi pembakaran buku-buku terlarang sebelum Perang Dunia II, beberapa orang mengaku masih mencium bau terbakar. Ingatan akan kekerasan negara dan pemusnahan pengetahuan itu seolah tidak benar-benar hilang dari ruang akademik.

Di University of St Andrews, Skotlandia, kampus disebut dihuni oleh beragam entitas gaib: biarawan hantu, perempuan hantu, pemain seruling, hingga kapal hantu. Di Universitas Nagasaki, Jepang, arwah korban bom atom Amerika Serikat pada 9 Agustus 1945 dipercaya menghuni area kampus. Trauma perang dan kehancuran massal tidak hanya tercatat dalam arsip sejarah, tetapi juga hidup dalam imajinasi kolektif dan kisah perhantuan.

Sementara itu, di University College London (UCL), Inggris, dikenal legenda hantu seorang gadis muda bernama Emma Louise. Ia konon muncul jika namanya disebut tiga kali. Emma dipercaya dibunuh di terowongan yang menghubungkan gedung modern UCL dengan gedung Cruciform yang lebih tua. Sekelompok mahasiswa yang mencoba memanggil namanya mengaku mendengar tawa perempuan dan menemukan tulisan “tolong aku”, “mati”, dan “pembunuhan” di dinding.

Sulkhan menanggapi bahwa pola ini konsisten: di luar negeri pun, hantu-hantu kampus hampir selalu berasal dari mereka yang tidak memiliki otoritas, korban perang, korban kekerasan negara, atau individu yang terpinggirkan oleh sejarah besar. Mereka bukan figur berkuasa, melainkan sisa-sisa tragedi yang tidak pernah benar-benar selesai. Bahasan ini mempertegas bahwa hantu, baik di kampus lokal maupun global, berfungsi sebagai penanda ingatan kolektif atas ketidakadilan, kekerasan, dan sejarah yang tidak tuntas.

IX. Hantu, Kelas Sosial, dan Ketidakadilan

 

Diskusi berkembang ke hantu sebagai representasi kelas tertindas, seperti buruh pabrik, mahasiswa, rakyat biasa, bukan elite. Hantu muncul dari posisi yang tidak punya kuasa. Pembahasan tentang hantu, kelas sosial, dan ketidakadilan menegaskan bahwa figur hantu hampir selalu berasal dari posisi yang kalah secara struktural. Yang menjadi hantu bukan manajer, pemilik modal, dosen elite, atau penguasa, melainkan mahasiswa yang gagal lulus, buruh yang mati di tengah kerja, atau individu yang tidak memiliki ruang untuk menyelesaikan konfliknya secara adil.

Nurizky menyebut, elite dan kelompok berprivilege cenderung tidak dihantui karena mereka memiliki jarak emosional, logika rasional, dan sumber daya untuk tidak berhubungan dengan hal-hal mistis, sementara kelas bawah dipaksa menanggung beban hingga ke kematian. Hantu tidak pernah benar-benar menyentuh elite.

Nurizky menambahkan bahwa kemunculan hantu juga berkaitan dengan tingkat rasionalitas dan pilihan subjektif manusia. Ia bercerita pernah berbincang dengan kalangan pengusaha yang cenderung tidak memikirkan hal-hal mistis. Golongan ini tidak berarti lebih beriman, melainkan karena logika dan posisi sosial yang membuat mereka tidak memberi ruang pada pengalaman semacam itu. Sementara itu, dari kecil, kita justru terus mengonsumsi narasi hantu, sehingga lebih “tersedia” untuk dipinjam atau dihantui.

Nurizky lalu berimajinasi soal keinginannya jika kelak menjadi hantu, ingin berwujud hantu yang keren—macam Gundam—seperti di beberapa budaya lain, misalnya ksatria Templar atau figur horor ikonik di Barat. Di kisah lain ada Elizabeth Báthory dengan tradisi satanisnya. Menurutnya, wujud hantu bukan sesuatu yang netral, melainkan hasil negosiasi antara imajinasi budaya, posisi sosial, dan izin personal: hantu menakutkan muncul karena memang difungsikan untuk menakuti, sementara pada tingkat spiritualitas tertentu, manusia justru bisa berdiri setara dengan entitas itu dan tidak lagi takut.

X. Spiritualitas, Elite, dan Kekuasaan

Diskusi berlanjut ke Soekarno, Soeharto, spiritualitas elite, logika mistika, dan kemampuan “bekerja sama” dengan entitas gaib alih-alih dihantui. Isma mempertanyakan dari bahasan sebelumnya terkait kelas/strata perhantuan, dan bagaimana mereka yang katakanlah dari kalangan bawah bisa melakukan “hack” untuk bisa naik kelas?

Nurizky membahas energi, cakra, dan eksklusivitas kelas. Manusia dipahami memiliki spektrum energi (bawah, tengah, dan atas) yang membentuk karakter, cara berpikir, dan posisi sosial seseorang. Energi yang dianggap “di atas rata-rata” membuat seseorang lebih cepat membaca situasi, lebih strategis, dan lebih mudah melakukan “hack” dalam relasi sosial. Contohnya Soekarno yang dipandang memiliki karisma dan wibawa tanpa perlu kehadiran langsung, serta Soeharto yang digambarkan seperti pemain catur ulung, mampu menentukan langkah jauh sebelum situasi terlihat jelas.

Konsep tujuh cakra disebut sebagai kerangka untuk memahami perbedaan ini, di mana bentuk energi tiap orang tidak sama dan mengarah ke fungsi yang berbeda: ada yang menjadi pemimpin, manajer, tentara, atau pemikir akademik. Dalam pandangan ini, spiritualitas tidak selalu sejalan dengan religiositas formal atau moralitas ritual, melainkan dengan kemampuan menyatu dengan alam, membaca keadaan, dan mengelola energi diri untuk bergerak naik dalam struktur sosial.

Soekarno dan Soeharto sebagai contoh figur elite yang tidak dibayangkan sebagai sosok yang “dihantui”, melainkan justru digambarkan mampu mengelola atau bahkan bekerja sama dengan dunia spiritual. Keduanya kerap dipahami memiliki spiritualitas tinggi, bukan dalam pengertian moralitas yang luhur, melainkan sebagai kemampuan melampaui rasa bersalah, takut, dan keterikatan emosional yang biasanya menjadi sumber kemunculan hantu. Dalam logika elite kekuasaan, dunia mistik tidak hadir sebagai gangguan, tetapi sumber daya yang bisa dinegosiasikan, dikelola, atau dijadikan bagian dari strategi.

Spiritualitas tidak selalu berkelindan dengan moralitas sebagaimana dalam kisah pewayangan yang disebut Sulkhan, terkait saudara, perang, dlsb. Karena itu, tragedi kemanusiaan, termasuk kematian massal, tidak serta-merta menghantui pelaku di posisi atas, sebab mereka tidak menghayati peristiwa itu sebagai beban personal, melainkan sebagai angka, kebijakan, atau konsekuensi sejarah. Spiritualitas tinggi tidak otomatis beriringan dengan moralitas, dan justru mereka yang melampaui kemanusiaan sehari-hari sering kali menjadi kebal terhadap hantu-hantu rasa bersalah, sementara yang tertindas dan tak berkuasa terus hidup sebagai cerita perhantuan.

Nurul menyoroti faktor pendidikan dan lingkungan. Dia menyinggung buku The Geography of Genius untuk mempertanyakan apakah Soekarno dan Soeharto memiliki privilese ruang dan waktu untuk belajar dengan lebih tenang, sehingga memungkinkan mereka mengenal diri sendiri dan “meng-hack” situasi ketika sudah berada dalam posisi berkuasa. Ia mencontohkan Soekarno yang sempat mengenyam pendidikan di Eropa dan di ITB, sehingga pengalaman intelektual dan lingkungannya membentuk cara berpikir yang berbeda. Menurutnya, lingkungan dan pola pendidikan sangat mempengaruhi arah energi seseorang: di Eropa, seni dan musik berkembang dalam kerangka institusional, sementara di negara berkembang kesenian lebih lekat dengan rakyat dan pengalaman sehari-hari.

Akbar mengaitkannya dengan karisma pemimpin, kehadiran (presence), dan pertarungan narasi—antara hantu orang tertindas dan figur pemimpin yang dianggap adil. Akbar menyinggung bahwa karisma pemimpin sangat bergantung pada seberapa “nyata” ia hadir di hadapan pengikutnya. Kehadiran ini bukan semata soal jabatan, tetapi soal kemampuan untuk terus muncul, terlihat, dan dirasakan; baik melalui praktik meditasi yang membuat seseorang lebih present dalam hidup, maupun melalui kerja narasi yang konsisten.

Pemimpin dengan logika mistika yang kuat berusaha mengalahkan narasi tandingan dengan membangun citra yang lebih nyata dan meyakinkan, sehingga kepercayaan publik tertarik dan menumpuk pada dirinya. Dalam konteks ini, terjadi pertarungan narasi antara cerita tentang hantu orang-orang tertindas dengan figur pemimpin yang dipersepsikan adil dan hadir. Akbar mencontohkan figur seperti Ferry Irwandi di Instagram, yang oleh sebagian orang diposisikan hampir seperti mesias digital, karena kemampuannya membuat diri terasa lebih nyata dan relevan dibanding narasi lain yang bersaing di ruang publik.

XI. Kesimpulan

Pertama, hantu di institusi pendidikan, khususnya universitas, muncul dari posisi yang belum selesai dan tidak berdaya. Mahasiswa, siswa, buruh, dan korban kekerasan struktural lebih sering menjadi hantu dibandingkan dosen, guru, atau elite, karena mereka berada dalam fase transisi dan relasi kuasa yang timpang. Kematian, kegagalan, atau keterhentian di tengah proses belajar dan berjuang menciptakan residu pengalaman yang tidak menemukan saluran penyelesaian di dunia nyata, lalu hidup sebagai cerita perhantuan.

Kedua, hantu bekerja sebagai politik ingatan dan politik ruang. Ingatan kolektif tentang trauma, ketidakadilan, dan kekerasan melekat pada ruang-ruang tertentu (kelas, bangku, jembatan, stasiun, kereta) yang kemudian tidak lagi netral. Melalui cerita hantu, ruang-ruang ini mengatur tubuh, waktu, dan perilaku. Pendisiplinan ini di antaranya secara tidak langsung mengatur siapa yang boleh hadir, kapan harus pulang, dan apa konsekuensi jika melampaui batas. Dengan cara ini, hantu menjadi medium disiplin sosial.

Ketiga, hantu menandai jurang antara yang tertindas dan yang berkuasa. Elite politik, agama, dan ekonomi jarang dibayangkan sebagai sosok yang dihantui, karena mereka tidak menghayati tragedi sebagai pengalaman personal, melainkan sebagai kebijakan, angka, atau strategi. Spiritualitas elite justru sering dipahami sebagai kemampuan mengelola atau menegosiasikan dunia gaib, bukan tunduk padanya. Akibatnya, hantu tidak pernah benar-benar menyentuh pusat kekuasaan, melainkan terus berputar di pinggiran, pada mereka yang suaranya tidak terdengar semasa hidup.

Sebagai refleksi bersama, merasa dihantui bukan semata soal ketakutan, melainkan tanda kepedulian terhadap kemanusiaan. Hantu mengingatkan bahwa di balik statistik, institusi, dan ritus pendidikan, ada individu dengan nama, tubuh, dan sejarah yang terhenti. Selama ketidakadilan, relasi kuasa timpang, dan perjuangan yang tak selesai terus direproduksi, cerita-cerita hantu akan tetap hidup. Ia berfungsi sebagai peringatan, sebagai arsip, dan sebagai cermin bagi kehidupan.

XII. Tindak Lanjut

Pertemuan Klenik Studies berikutnya dengan tema: Cerita Horor dari Rumah, yang akan dilaksanakan pada Kamis, 22 Januari 2026. Tema ini sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Tema lanjutan tentang hantu dari rumah berangkat dari cerita Rumah Kentang. Rumah itu kosong, tidak dihuni, tetapi setiap kali orang melintas selalu tercium bau kentang yang sedang direbus. Mitos yang beredar menyebutkan seorang ibu lalai saat memasak kentang dalam kuali besar hingga anaknya yang masih balita tercebur ke dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar