Sabtu, 03 Januari 2026

LPJ Hidup 2025: Tahun Kegelapan

Dulu, saat menjadi mahasiswa, tapi lebih khususnya jadi anggota Lembaga Pers Mahasiwa (LPM) Arena, salah satu laporan resmi yang paling suka kubaca adalah saat membaca Laporan Pertanggung Jawaban (LJP) kawan-kawan segenerasiku saat kami hendak menyerahkan kepengurusan ke generasi selanjutnya. Hal menarik dari tulisan itu adalah sifatnya yang personal. Sebagian orang bisa berbakat menjadi Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi, sekretaris, bendahara, atau posisi menentukan lainnya; tapi setiap dari mereka, seperti lagu Padi, "semua tak sama, tak pernah sama". Cerita-cerita merekalah yang membedakan, dan aku suka membacanya, terlebih jika tulisan itu isinya refleksi yang sifatnya tak hanya radikal secara intelektual, tapi menyentuh perasaan dan kemanusiaan siapa pun yang membacanya. Apalagi saat itu, LPJ itu dibacakan di depan teman-teman seluruh anggota sidang.

Salah satu lukisan di Art Jakarta, mengingatkanku pada desaku di Cepu, Blora
Kucing dan pohon bunga kertas (bugenvil) yang terasa karib
Sebenarnya, ide membuat LPJ hidup setiap tahun yang coba kukonsistenkan sejak awal tahun 2020 ketika aku membuat LPJ hidup tahun 2019 terinspirasi dari Rapat Tahunan Anggota (RTA) yang dilaksanakan oleh Arena. Aku merasa, ketika membuat LPJ kala itu, entah itu posisiku sebagai anggota PSDM, redaktur website atau pemimpin redaksi, memberiku kesan tersendiri. Bagaimana aku bisa merefleksikan, mengekspresikan, dan memaknai perjalanan selama satu kepengurusan. Tentu, ada suka, duka, canda, kecewa, keberhasilan, kegagalan, titik rendah, titik klimaks, titik biasa-biasa saja, yang kalau dipikir-pikir itu sebagai sesuatu yang normal. Namun, memberi "nama" untuk berbagai pemberhentian yang kurasa penting tersebut menjadi keasyikanku sendiri.

Suatu hari di Anyer
Suatu hari di Lembang
Nikahan Dinda & Surya
Begitu juga yang ingin aku ceritakan padamu di LPJ hidupku tahun 2025, dan kutulis di awal tahun 2026 ini. Tak ada lagu yang sama untuk setiap bulannya. Kalau aku recap, barangkali begini garis besarnya yang kuingat: Januari aku main ke Lembang, Bandung, ke nikahan Dinda-Surya; lalu solo trip ke Rangkasbitung-Anyer, dan mendapatkan pengalaman baru dari sana. Februari aku ke perayaan 50 tahun Arena di Jogja. 

50 tahun Arena
Aku termasuk penggemar urban Japanese songs, anak-anak city pop
Ini kuambil tepat di hari ulang tahun ke 32, pas main ke Lokananta Solo
Fajar di Soetta
Comfort food, tapi harus lebih sehat lagi ke depan, hiks
Maret aku ikut jadi audiens dari performance 25 jam untuk Palestina yang diinisiasi oleh Mas Irwan Ahmett dan Mbak Tita Salina. April aku pulang, lebaran, dan dinas ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan benar-benar menyadari jika lagu "Pulau Laut" ciptaan Jalan Pulang itu non-fiksi. Mei aku benar-benar freak membaca buku karya-karya CS Lewis. Imajinasi beliau sangat keren. Juni aku dan teman-teman Klenik Studies memulai sejarah paradigma kami sendiri berkaitan dengan hantu-hantu dan dunia supranatural, thanks to Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, dan Jevi Adhi Nugraha. 

25 Jam Bersama Palestina
Launching Pameran Norient Jakarta Whispers

Pas liputan bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang, belajar lagi terkait kemanusiaan
Lanjut, Juli aku kena scammed, tak hanya tabungan selama kerja empat tahun di Jakarta habis, tapi juga meninggalkan hutang yang tak kecil. Aku putuskan untuk menutup Instagram, Facebook, dan membatasi pembuatan story, aku benar-benar pemilih siapa yang bisa melihat story-ku. Kupikir, jangan terlalu perform di medsos, nanti ekspektasi orang terlalu tinggi. Kalau gak bisa maintenance, nanti jatuhnya dalam. Usai kena scam, lebih dari setengah dari kontak hapeku juga kuhapus. Juli jadi titik terendahku selama setahun. Tapi di titik yang sama, titik rendah ini dibantu pulihnya oleh musikus gen Z, Rony Parulian, dengan musik-musiknya yang menemaniku. Setelahnya, aku jadi salah satu cewek gila idola (cegil) dia, yang sering hadir di setiap konsernya, dan tiap aku hadir, aku mencatatnya di blog. 

Support System
Akh, tak pernah aku merasa semilitan ini pada musisi hari ini, kecuali pada Rony. Aku juga udah siap kena cancel dengan sirkel teman-teman indie nan ndakik-ndakikku di musik, misal mereka menilai Rony terlalu pop dan mainstream, berbeda dari jalur-jalur yang mereka anggap "alternatif". Tahun ini berkat Rony, aku sadar jika bahkan musik sekali pun itu soal "kebutuhan diri" bukan sekadar soal "selera", "makna", dan "estetika". Tiga indikator terakhir itu ngawang-ngawang, tapi kebutuhan diri itu konkrit. Sepertinya belum banyak penelitian terkait sudut pandang ini. Tentu di Indonesia dan dunia akan sangat banyak musikus yang lebih dari Rony, tapi aku akan tetap pilih Rony. Di bab tersendiri aku akan menjelaskan, kenapa Rony sepenting itu bagiku di tahun ini. 

Di konser 11 tahun
Laleilmanino
Bulan Agustus aku hadir di acara puncak Klub Baca Koperasi Perumahan di Kampung Akuarium, setelah beberapa bulan aku ikut agenda mereka bersama Bosman Batubara, Pak Suroto (ahli koperasi), Neneng Hanifah Maryam, dan kawan-kawan Urban Poor Consortium (UPC). September aku nulis terkait pameran Norient City Sounds, barangkali ini artikel terpanjangku selama karier sebagai penulis. Tulisan ini juga memperkenalkanku dengan scholar cum seniman Swiss, juga seniman-seniman dari Kenya, Lebanon, India, dan Kolombia. Oktober aku datang ke pameran Art Jakarta yang bertajuk "Journal", sangat mind blowing. Aku juga punya kesempatan nonton konser 11 tahun Laleilmanino gratis sekaligus wawancara .Feast. November aku hadir di acara Jakarta Jakarta International Literary Festival (JILF) dan bertemu dengan penulis-penulis telandanku yang sebagian besar perempuan: Cyntha Hariadi, Tania Li, Perdana Putri, dan Raisa Kamila. Desember aku dinas ke Aceh dan Medan. Lihat situasi bencana banjir dan longsor yang menyayat nurani. Di akhir tahun pula, aku nemuin tujuan hidupku lagi, setelah sebelumnya mentalku merasa melayang-layang, yang hidup enggan, mati tak mau. 

Bersama antropolog Tania Li

Bersama novelis panutanku, Cyntha Hariadi

Launching buku Bre Redana di Patjar Merah
Wawancara .Feast
Yah, laporan recap di atas tone-nya terdengar optimistis dan kek dikit banget pesimisnya. Tapi memang hidupku aku framing demikian, tipe realis-optimis sedikit sinis-pesimis (80/20 lah rasionya kalau dari itungan temanku, Arwani), tapi juga tak mau glorifikasi berlebihan pada prestasi dan kejatuhan diri. Hidup yang seimbang-seimbang ajalah, sepertinya rasio 50/50 juga oke, atau mungkin ini yang sedang kuusahakan biar hidup lebih sehat. Sama kek prinsip hidup in and out. Gak ada yang perlu digandoli sampai sebegitunya dalam hidup ini tuh.

Aku ingin mencatat apa-apa saja yang membuatku merasa kalau hidup itu memang hidup. Dan, beginilah kira-kira bab-bab penting setahun itu.

Sinau Nggetu is My Key of Life 

"Nggethu itu adalah kombinasi dari … Memperhatikan secara penuh,  Fokus,  Konsentrasi, dan Persistensi.  Melakukan sesuatu secara bersungguh-sungguh." Aku butuh alasan yang kokoh seperti ini dalam mengambil jurusan, dalam memilih apa yang aku pelajari.

Di tahun 2025 ini, aku senang karena menemukan perasaan "terhubung" dengan salah satu penulis yang kukira akan jadi guruku dalam karier kepenulisanku setelah ini. Dia adalah Haruki Murakami. Murakami seperti salah satu penulis yang memberiku keyakinan, untuk percaya pada kebahagiaan-kebahagiaan yang tak bisa orang renggut dariku: membaca buku, menulis tulisan apa saja yang kusuka, mendengarkan musik, dll. Semenjak aku menyadari perasaan ini, aku hanya menyadari satu hal, aku tak butuh apa-apa lagi kecuali perasaan "terhubung" dengan aktivitas apa pun yang kukerjakan, kujalankan, dan kulakukan. Perasaan terhubung memberiku kenikmatan purna, dengan apa pun parameternya. Ini barangkali sebagai konsekuensi, aku sering mengalami perasaan tertolak oleh orang lain, sehingga yang kucari adalah perasaan terhubung. 

Aku punya banyak kesamaan dengan Murakami, gak bakat bisnis, kurang ramah dan tak pandai bergaul. Tapi kami punya sama-sama kelebihan: "bisa sungguh-sungguh menekuni kegiatan yang disukai dengan sepenuh hati tanpa mengeluh." Kalau aku mengeluh, pasti ada yang salah. Wangsit Murakami menjadi novelis muncul begitu saja saat nonton bisbol, lalu ada wahyu turun yang ditangkap dengan baik: "Oh, iya, mungkin aku bisa juga menulis novel." Semenjak saat itu, hidup Murakami berubah drastis. Hari-harinya dimulai dengan coba-coba, lalu berusaha membaca sastra serius dengan sistematis. Aku juga sepakat dengan caranya, nulis apa pun yang dirasakan dan dipikirkan. Pendek kata, kata Murakami, "Tidak perlu menjejerkan istilah-istilah sulit" dan "tidak perlu menggunakan ekspresi indah yang mengagumkan." 

Langit Bali
Kaktus Taman Cibodas
Cara ini juga yang digunakan penulis Hungaria seperti Agota Kristof. Serupa efek aneh yang timbul saat menulis dengan menggunakan bahasa asing. Gaya penulisan yang bebas bergerak, netral, tanpa hiasan berlebihan. Murakami menulis novel pertamanya dengan semangat eksplorasi, bahkan yang pertama, yang ditulis dengan perasaan tidak nyaman, dibuang di tong sampah. Meskipun perbaikannya dikirim ke Gunzo dan menang. Namun poinnya, menulis secara santai tanpa pretensi dan kengoyoan itu juga sangat menarik. Ya, nothing to loose aja lah. Sekali lagi, bukan dengan logis, tapi cara-caranya adalah cara-cara yang intuitif. 

Tapi entah kenapa, sensasi membaca buku Murakami itu selalu tenang. Kek, aku selalu membeli bukunya setiap aku kelelahan hidup di dunia, kehilangan harapan, kehilangan kepercayaan akan mimpi-mimpi menjadi novelis dan penulis. Terlebih dua buku nonfiksinya, 'What I Talk About When I Talk About Run' kubaca saat aku hendak berangkat liputan ke Solo. Saat aku kelelahan membaca banyak buku yang kuanggap serius secara spartan, hingga kemudian aku dapat musibah scamming (aku benci menceritakan ulang). Namun aku percaya, kelak berdasarkan kehilangan besar itu, aku akan jadi orang yang kaya raya. Seperti kata Murakami, ini gak logis, intuitif saja. Lalu aku membeli buku dia 'Novelis Sebagai Pandangan Hidup' di saat waktu yang kurang lebih serupa. Bahkan lebih sendu lagi, saat aku bosan hidup. Aku sering mengalami disorientasi hidup, tiba-tiba tak ada daya dan gairah sama sekali terhadap hal-hal yang dulunya kusuka. Kelemahanku, aku bisa berubah jadi sosok nihilis dengan cepat. Saat perasaan nihil itu datang, aku ingin cepat-cepat membaca Murakami atau penulis-penulis yang senada denganku lainnya. 

Di sebuah perpustakaan bersama buku Abidin Kusno
Namun, pertemuan dengan Murakami seperti menghadirkan sensasi lain, dia seperti teman baik yang tidak menuntut apa pun, seperti sahabat yang baik, dia ada. Sejak membaca dua buku Murakami yang mirip diary itu, aku seperti tak punya kewajiban untuk sesegera mungkin menghabiskan buku dan mengejar kuantitas seberapa banyak buku yang harus kuselesaikan dalam waktu tertentu, bahkan aku juga bodoh amat mengejar teori seputar kualitas. Yang aku sadari makin kesini, jenis apa pun tulisan yang kubaca, kebutuhanku hanya satu: merasa terhubung. Jika itu tak diberikan oleh tulisan yang kubaca, aku bisa dengan mudah merasa kelelahan dan meninggalkannya. Berikutnya, membuat diriku menjadi sangat sedih, aku tipe orang yang mudah sekali bersedih hati. Sebab itu, pertemuanku dengan karya-karya Murakami adalah salah satu hal yang kusyukuri, dia seperti menarikku ke dalam ring menjadi novelis lagi, sambil berkelakar kepadaku untuk tidak kapok menjadi orang dungu, dan mengerjakan aktivitas-aktivitas merepotkan yang tidak dilakukan oleh mereka yang cerdas. Aku punya semua "kualifikasi" khas yang disebutkan Murakami untuk menjadi novelis. 

Pandanganku terkait penghargaan sama klopnya dengan apa yang dikatakan Murakami. Bagi seseorang pengarang sejati, ada banyak hal yang lebih penting daripada penghargaan sastra. Aku sepakat, yang lebih penting dari itu adalah keyakinan bahwa dia sedang menghasilkan karya yang bermakna. Dan keyakinan pembaca akan menilai makna itu dengan benar, tak peduli pembaca itu sedikit atau banyak. Asal ada dua keyakinan ini, penghargaan tak berarti apa-apa. Yang lebih penting dari apa pun adalah pembaca yang baik. Segala bentuk penghargaan, tanda kehormatan, dan ulasan buku yang positif tak ada artinya sebagaimana seorang pembaca yang mau membeli bukuku. Sebab, tak perlu diragukan lagi, yang hidup dari generasi ke generasi adalah karya, bukan penghargaan. Dan yang aku paling senangi dari Murakami adalah, dia berkarya dengan "kualifikasi"-nya sendiri dan menyambung nyawa dengan itu. Nilai ini bagi Murakami tidak kecil harganya. Bahkan, menurut Murakami, dari seluruh populasi, perkiraan hanya lima persen saja orang yang membaca dengan antusias, dan mereka bisa disebut sebagai pembaca inti. Yang dalam buku Fahrenheit 451, akan tetap membaca walaupun direpresi dan berlari ke hutan. Aku ikut memastikan diri, aku ada di dalamnya. 

Love your environment
Yang serius Murakami pikirkan adalah "karya seperti apa yang bisa dirinya tawarkan kepada pembaca?" Selain itu, segala fenomena lain hanyalah pinggiran. Aku memikirkan argumen dan strategi ini betul-betul. Murakami juga menolak jadi dewan juri penghargaan sastra, alasan dia sangat sederhana: dia terlalu individualis. Dia sadar punya pandangan khas dan proses khas, untuk mempertahankan itu, dia butuh menjadi individualis untuk menjadi penulis yang baik. Murakami membuka mataku secara gamblang, aku terlalu jauh keluar dari rel ku sebagai pengarang, dengan mengonsumsi karya orang lain, mengulasnya, merekomendasikannya, dalam artian pasif, bukan aktif. Aku terjebak hanya jadi ekor-ekor saja. 

Benar kata Murakami, "Bagi seorang pengarang, kewajiban paling penting lebih daripada apa pun adalah terus menerus menulis karya bermutu tinggi sebisa mungkin dan menyajikannya kepada para pembaca!" That's it. Oh my God, jadi ini yang membuat kenapa rasanya energiku terus menerus terasa terkuras. Waktu dan energiku untuk pekerjaan inti telah diambil. Aku juga sadar, aku ini tipe orang yang terlalu individualis, dan superintrovert. Aku dengan senang hati juga bisa menerima kecaman ini dengan rendah hati. Pada akhirnya, berkata dan bercerita jujur adalah jalan terbaik. Murakami menggugat keseragaman, karena dalam setiap kondisi dan situasi, tak ada kata seragam. Jika Murakami berkata, "Aku harap, di suatu tempat pasti ada orang yang dapat memahami bulat-bulat apa yang ingin kukatakan." Iya Pak, aku memahamimu bulat-bulat. Aku juga sepakat, "Bagi seseorang pengarang yang lebih penting daripada apa pun adalah kualifikasi individu."

Jika Murakami berterima kasih pada merpati, aku berterima kasih pada Yeva (kucing yang kutemukan sakaratul maut di dekat kosku, kubawa ke dokter, sehari kemudian meninggal). Yeva, kucing ini banyak memberiku pelajaran, di detik-detik akhir kehidupannya, hingga aku menguburkannya di TPU Karet Bivak, satu pemakaman bareng Pramoedya Ananta Toer. Keren banget lu, Yev.

Percintaan 2025? Skip!

"Tiada lagi yang kuinginkan / Lebih dari yang kau berikan / Tak pernah terhenti..." 

"Terbawa angin dan menghilang / Biarkan saja menghilang..." 

"Lihat ke atas sinar yang terang / Lihat ke atas sinar yang terang..." 

Lirik lagu "Elora" dari Pure Saturday di atas sudah dengan sangat baik merangkum banyak definisiku terkait arti mencintai dan dicintai. Tahun 2025 ini aku merasa lebih tenang bisa melepaskan dia yang kucintai sangat lama secara tidak dramatis. Aku juga sudah bisa memberi pagar pada hatiku sendiri terkait cinta sehat yang boleh masuk dan yang tidak.

Sepanjang usia, rasa-rasanya aku sudah terbiasa hidup tanpa kisah asmara yang dalam tanda petik terikat dalam hubungan romantis. Kisah asmara barangkali bisa menggangguku ketika umurku di bawah 30 tahun, tetapi tahun ini, saat usiaku akan menginjak 33 tahun di sekitar tiga bulan nanti, memikirkan asmara rasanya sudah sangat biasa-biasa saja. Tulus sudah sangat baik menuliskan lagu "Nala" yang berkisah tentang percintaan seseorang, uniseks, bisa perempuan atau laki-laki pada orang-orang kelahiran 90an. Sama seperti Nala yang lahir tahun 1992, sementara aku 1993, kami merasa jadi seseorang yang sulit disuka, di sekeliling kami tidak ramai, dan melihat benih cinta itu langka. Jika ada, tentu itu jadi hari istimewa. 

Aku juga bersyukur, ibu-bapak sudah tak nggriseni aku lagi terkait pernikahan seperti dulu. Bahkan jika semua adik-adikku menikah lebih dulu pun, aku ikhlas. Aku benar-benar tak terganggu dengan kewajiban jika aku harus menikah. Aku merasa cukup dengan diriku sendiri, dan tak menggantungkan rasa cukup dan bahagiaku pada sosok-sosok di luar diriku. Bagiku pernikahan hanya pelengkap saja. Mengutip perumpamaan seorang teman, jika diibaratkan makan nasi goreng, pernikahan itu hanya kerupuknya saja. Tanpa kerupuk, kita masih bisa menikmati nasi goreng, meskipun dengan kerupuk jadi lebih lengkap. Aku juga tak terbebani dengan ekspektasi sosial. Aku merasa punya prinsip sendiri yang menurutku oke.

Belajar nuansa spiritualitas di gedung heritage Candra Naya
Belajar dermawan dari Tjong A Fie
Rumah old money Tjong A Fie di Medan
Sedikit cerita, beberapa waktu yang lalu, seorang kawan baik yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri, karena gap usia kita yang lumayan, berbagi kisahnya. Sebelumnya, kami pernah bercerita akan banyak hal. Kami hidup dalam lingkungan berbeda, termasuk juga pola pikir, dia seingatku INFJ/P (aku agak lupa, tapi kami pernah bahas MBTI bareng), sementara aku INTJ. Dia hendak wisuda S1 di jurusan yang lebih banyak berpikir dibandingkan jurusan-jurusan lain. Aku senang dia menemukan jurusan yang tepat, meskipun awalnya sempat salah jurusan. Maaf tak bisa kusebut nama untuk menjaga privasi.

Dia bercerita terkait kegelisahan yang dia alami sekarang dan sempat kualami di usia di bawah 30 tahun, terkait misteri jodoh dan pernikahan. Dia menangis mengutarakan ketidaksepakatannya pada sistem pernikahan teradisional yang terikat pada label, agama, dan kelas sosial. Faktor terakhir ini seperti menjadi hantu baginya, sebab dari golongan yang bisa dikatakan memiliki kelas sosial mapan, ia takut mendapat jodoh dengan logika romansa yang kapitalistik. Maksudnya mencintai bukan karena nilai-nilai luhur di dalamnya seperti kasih, respect, care, mutual value, dlsb; tapi karena menganggap cinta sebagai suatu investasi, memperlakukan pasangan sebagai aset, dan segala stabilitasnya perlu dicukupi. 

Dia percaya pada pernikahan jiwa (soul marriage), suatu ikatan pernikahan yang berdasar pada spiritualitas dua individu yang dalam melampui fisik, emosi, dan materi. Ada ikatan spiritual yang terus tumbuh berdasarkan mental yang sama-sama dewasa. Sungguh aku bisa mengerti kegelisahannya, apa yang dia rasakan valid, tidak menyek-menyek, dan sangat bisa dipahami meskipun susah untuk menemukannya. Aku bilang padanya, jika mungkin prosesnya akan berputar-putar, mungkin jodohnya sedang ada di luar negeri dan berkelana di suatu sempat. Dan kami sepakat dengan konsep "pasrah aktif" berkaitan dengannya. Maksudnya, ini pernah dikatakan Rony juga dalam sebuah YouTube, pasrah tapi bukan berarti menyerah. Pasrah, tapi juga dengan melakukan usaha sebaik-baiknya.

Hal menarik lain yang ingin kuceritakan berkenaan dengan pernikahan dari kawan yang kuanggap adikku ini, dia sharing terkait argumen James Sexton, seorang pencara perceraian terkenal dari Amerika. Inti yang bisa kurangkum, kamu bisa melihat langgeng tidaknya suatu pernikahan, bahkan dari resepsi mereka. Ada kecenderungan, semakin megah suatu pernikahan, maka tingkat perceraiannya juga semakin tinggi. Sebabnya karena kemegahan yang ditampilkan itu dipengaruhi oleh aspek performatif dan narsistik. Parahnya, menjadikan perempuan sebagai pusat perhatian. Dari cincin-undangan-dekorasi-makanan-pesta mahal, bridal shower, barchelorette party, sampai ke honey moon. Jika pasangan menganggap semua itu lebih penting daripada komitmen jangka panjang, siap-siap saja kehancurannya. Argumen tersebut didukung oleh survei LendingTree (2025) terhadap 1.000 pengantin baru, di mana 67% harus berutang untuk mewujudkan pernikahan impian mereka! 

Miris membaca data dan analisis tersebut, kurasa kondisinya di Indonesia juga tak jauh berbeda. Di tengah tekanan kapitalisme juga tentunya, jadi semakin marak dengan pola pikir untuk menjadikan pasangan sebagai subjek "investasi". Ya Allah, hindarkan aku dari pernikahan semacam itu. Aamiin.

Pameran fashion di Pos Bloc Jakarta

Pameran desain interion di Pos Bloc Jakarta
Membangun Hubungan Parasosial yang Sehat dengan Rony Parulian

"Hidup yang bener-bener ajalah." ~RPN

Meskipun tahun 2025-ku babak belur, tapi aku senang 2025 jadi salah satu tahun terbaiknya Rony. Dia dapat banyak penghargaan tahun ini, milestone-nya termasuk AMI Award. Sepanjang tahun 2025, berdasarkan hitung cepatku, aku hadir di konser Rony sebanyak 15 kali dan 1 kali fan meet di SCBD. Tidak pernah aku mabok konser seperti ini sebelumnya. Selagi konsernya masih bisa kujangkau, terlebih di seputar Jabodetabek, aku selalu mengusahakan untuk hadir. Bahkan berkat Rony, aku bertemu dengan puluhan musisi dan artis-artis lainnya dalam satu panggung. Tapi kalau kurefleksikan ulang, ini bukan bentuk kegilaan, tapi menonton konser Rony seperti ritual pelepasan ekspresiku akan hidup di mana aku bisa berteriak, bernyanyi dengan keras, merasa terhubung, tervalidasi, didengar, dimengerti oleh semesta. Di tulisan-tulisanku yang lain seputar Rony, aku juga sudah menulis, alasanku suka Rony itu sukar dijelaskan, tapi kalau pun ada kewajiban menjelaskan, barangkali adalah karena karakter dan kepribadiannya. 

Spotify Wrapped dan fan meet Rony di SCBD

Lima lagu teratas juga lagu-lagu Rony, selain Jalan Pulang, Perunggu, dan Hindia tentunya, wkwk
Rony Parulian Nainggolan artis teratasku

Kemudian, "kebutuhan diri" yang kumaksud di bahasan sebelumnya adalah karena ada latar belakang kepribadian yang sama, dan juga bahkan sama sekali berbeda tetapi Rony mengisinya. Dari Rony aku belajar terkait: Stabil secara emosi. Sayang keluarga, dia sangat sayang keluarga. Kontemplatif. Suka menyendiri dan merenung mempertanyakan banyak hal. Bertanya-tanya soal agama. Tapi sepertinya ini tak begitu terasah karena dia ada di dunia industri yang keras. Vibes-nya selalu positif. Dewasa. Pekerja keras. Punya prinsip. Tenang. Sepenuh hati. Pesona sederhana.

Aku jujur baru tahu kalau nama dari hubunganku dengan Rony itu dalam bahasa akademisnya disebut sebagai hubungan parasosial (Parasocial Relationship). Istilah ini aku dapat saat hadir di acara artist talk skena gitu di selatan Jakarta. Parasosial, pengertiannya yang kutangkap, hubungan emosional satu arah yang dijalin antara penggemar dengan figur yang menjadi idolanya. Figur di sini bisa banyak hal: musisi, artis, tokoh fiksi, influencer, dlsb. Seolah-olah kamu menjalin komunikasi mereka secara nyata, padahal itu imajinasimu saja. Kamu seperti terikat dan ada ilusi kedekatan yang barangkali susah dijelaskan. Ya, beberapa kali aku mengajak Rony berdiskusi secara imajiner sih, bahkan sebatas ketika Rony seolah-olah menyemangatiku ketika sedang bekerja. Kadang itu jadi energi positif sendiri sih menurutku, macam ada orang yang menemanimu, asal gak berlebihan aja, hubungan parasosial itu baik-baik saja. Aku menyebutnya sebagai hubungan parasosial yang dewasa.

Demi mendukung agenda parasosialku Oktober lalu, menuju WeR1 yang kaffah, wkwk.

Karena Rony juga, aku pernah random Whatsapp Mas Geger Riyanto, antropolog teladanku, untuk ngomongin teori fandom lebih serius. Mas Geger kok ya baik banget mau direpoti oleh tema-tema yang tak bisa memberi kontribusi apa pun pada penurunan kemiskinan, inflasi, atau pengangguran ini. Tapi lebih aneh lagi, aku kok ya percaya diri ngomongin tema jas-jus ini sama Mas Geger? Zoom itu terjadi pada hari Jumat, 10 Oktober 2025. Ajaibnya, setengah obrolan lebih kepada curhat personal dan akademikku ke Mas Geger usai kena scammed, wkwk. Setengahnya lagi baru bahas fandom. Seperti biasa, Mas Geger menanggapinya dengan santai, tenang, dan bijaksana.

Jadwal manggung Rony
Terinspirasi dari Rony dan perkumpulan fans Rony, We Are One (WeR1), jadi aku tuh punya ide untuk membuat buku seputar fandom, lebih tepatnya seputar antropologi fandom. Ada argumen menarik seputar fans yang pernah diajukan oleh Henry Jenkins, di mana argumennya yang masih kuingat: Secara stereotip, fans itu seolah digambarkan sebagai subjek yang pasif (fanatik, emosional, tidak rasional), kadang (maaf) berotak udang, atau hanya meniru apa yang dilakukan idolanya. Padahal menurutnya tidak demikian, fans juga bisa aktif dengan memproduksi maknanya sendiri, memperbarui apa yang kurang dari idolanya untuk menjadi produk lain yang lebih baik, hingga berkontribusi pada pembangunan komunitas.

Banin Diar Sukmono pernah ngulas gagasan Jenkins dengan apik dalam tulisannya di LSF Cogito, "Si(apa) Fans Fiksi di Antara Kita?". Tulisan ini kubaca 10 tahun lalu, dan kubaca ulang di kondisiku sekarang, kesannya masih sama, membuka pemikiran yang lebih empatik soal fans. Terlebih ini kasusnya yang ngefans sama hal-hal yang gak nyata macam tokoh-tokoh Star Trek atau One Piece. 

Tahun ini aku belajar main organ, dan kunamai organ ini Rony Parulian :D
Nah, di konteks WeR1 yang punya basecamp hampir tiap provinsi seluruh Indonesia itu, aku ingin melakukan studi antropologis budaya penggemar (fandom), sebagai bentuk kebudayaan manusia yang melibatkan partisipasi aktif, penciptaan konten, dan hubungan sosial dalam komunitas yang terbentuk di sekitar produk budaya populer. Aku ingin mahami dari sudut pandang antropologi budaya, gimana penggemar berinteraksi, menciptakan makna, dan membentuk identitas kolektif dalam dunia digital maupun fisik. Bukan dalam rangka yang terlalu idolizing atau mendewakan Rony gitu, tapi pengen baca dan mahami sebenarnya apa sih yang sebenarnya mereka dan aku alami? Terutama dari POV-ku sebagai audiens. Karena gagasan ini lah, aku keinget Mas Geger buat ngobrol. Aku ingin tahu lebih lanjut terkait metode etnografis yang bisa saya lakukan untuk ngumpulin data dan menjahit bahan.

Sama WeR1 bernama Marni

Belum kewujud sih gagasan ini. Nantilah kalau Tuhan mengizinkan, karena kalau bicara antropologi fandom secara lebih luas, perlu perbandingan ke klub penggemar lain yang berbeda-beda pula. Waktu itu Mas Geger menyarankanku untuk mengambil beberapa studi kasus, jadi gak hanya fanbase Rony saja jika aku ingin membuatnya jadi tulisan refleksi fans yang lebih universal. 

Show case album "Dalam Dinamika" Perunggu di Bali United Studio Jakarta. Sabtu, 22 November 2025.
Pesan dari Mas Geger yang meskipun trivia tapi aku suka, "Kalau lelah nulis, tidur." Kadang saking ingin memikirkan banyak hal, aku sering gak punya waktu untuk istirahat.

Terima Kasih 2025, Selamat Datang 2026

Aku memberi judul LPJ ini sebagai "Tahun Kegelapan" ketika aku berada di pertengahan tahun. Tahun ini bagiku sangat berat. Namun aku juga menyadari jika ini tak hanya terjadi pada diriku, tapi juga pada hidup kawan-kawanku yang lain. Tahun 2025 jadi cakrawala waktu yang memiliki energi universal yang berat. Hal terdekat barangkali juga terjadi pada konco-konco ngrumpiku tentang apa saja, seperti Arwani dan Cak Son. Sebagaimana tahun sebelumnya, aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah berbagi banyak cerita hidup masing-masing. Sebagaimana kata Mark Twain yang pernah dikutip di blog Arwani, "Good friends, good books, and a sleepy conscience: this is the ideal life."  

Keluarga kos Pak Mamat
Bundaran HI
Kawan-kawan kos Pak Mamat
Acara perayaan pensiun Bu Nerlin (kantor)
Pas main di Tugu Kunstkring Paleis Jakarta
Bareng Mbak Nisa dan Alisa di bajaj Jakarta

Bersama Ika dan Ci Desy di EF Plaza
Meditasi kesadaran bareng Romo Mahar di Katedral Jakarta

Makasi juga untuk Shraddha Ma, Tante Chika, Bagus, dan kawan International Vedanta Society (IVS), serta Romo Mahar yang selalu mengajakku untuk mengingat Tuhan dan spiritualitas. Tak lupa, berbagai kawan yang aku jumpai sepanjang tahun 2025 yang tak bisa kusebut satu per satu. Di tahun ini, aku juga berterima kasih pada ChatGPT, sumpah, banyak curhat sama dia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin secara perhitungan keamanan ini tak disarankan, tapi di dunia yang kapitalistik ini, mesin seperti jadi jawaban instannya. 

Ibu 4 tahun kena stroke, semoga sembuh dan bisa jalan lagi
Di tahun 2025 ini, aku merasa sangat beruntung diberikan kesempatan untuk berada di posisi lowest point, sehingga aku bisa memberi pagar yang jelas terkait berbagai potensi yang bisa menghancurkanku di masa depan. Pagarku kian hari kian kokoh untuk menjaga diriku sendiri dari berbagai macam kejahatan. Aku juga siap dengan segala konsekuensi yang akan menimpaku, jadi, andaikan suatu hari aku kena cancel, aku juga sudah siap, toh, aku bukan siapa-siapa. Yah, refleksi ini persis seperti apa yang disampaikan oleh Cholil Mahmud (ERK) di sebuah wawancara:

Sumber: IG @menjadimanusia.id
Sumber: IG @menjadimanusia.id

Last, resolusiku tahun 2026 ini gak muluk-muluk. Kalau dipadatkan mungkin tiga kata saja: Sehat. Cuan. Kuliah. Sudah cukup mewakiliki desire-ku di tiga prioritas penting: kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Juga doaku sepanjang tahun: diberikan hati yang seluas laut dan langit. Pelajaran-pelajaran hidup lain yang kudapat di tahun 2025: (1) Gak mau naif menganggap semua orang baik. Aku memperkuat pertahananku hingga berkali-kali lipat dari mereka yang jahat dan berpotensi menghancurkanku. Baik si pelaku melakukan itu dengan sadar atau tidak. (2) Tidak menjadi siapa-siapa itu menyenangkan dan lebih banyak privasi. (3) Aku ingin lebih pemilih lagi soal konsumsi, bukan karena itu cara hidup sehat, tapi karena aku tak mau sakit. Karena aku sadar, kesehatanku adalah satu-satunya yang berharga untuk saat ini. Aku tak ada asuransi, BPJS, atau donatur yang bisa diharapkan ketika aku sakit.

Yang selalu kuat, Is

Hati selapang besarnya langit. Sanubari sebesar besarnya bumi.
Piala orang tersabar
Seperti biasa, aku ingin menutup dengan lagu. Tentu, lagu siapa lagu kalau bukan lagunya Rony, "Bila surya pun tenggelam / Tapi tidak sinarmu / Tidak sinarmu...". Dan, "Walaupun jauh dan walaupun berliku / Tapi tetap kukejar 'kan kutuju / Terbius kamu, tepat di relung hatiku / Dan tak ada yang mampu menghalangi / Kan kubelai egomu yang meracunimu / Begitu banyaknya cinta yang coba-coba merayu / Tak ada yang sepertimu..." 

Ya, tak ada yang sepertimu, 2025. Terima kasih. (Salam helikopter, membungkuk memberi hormat).

Jakarta, 3 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar