Sabtu, 16 Mei 2026

Value-based Education oleh DGB UI



Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia mengadakan webinar terbuka bertema "Value-based Education" (VbE) melalui Zoom Meeting, Sabtu, 16 Mei 2026. Webinar ini menghadirkan narasumber:

1. Prof. Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI) 

2. Prof. Theddeus O.H. Prasetyono (FK UI) 

3. Prof. Agus Sartono (FEB UGM) 

4. Prof. T. Chan Basaruddin (Fasilkom UI) 

5. Prof. Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB) 

Sambutan:

Prof. Eko Prasojo (Ketua Umum DGB UI) 

Prof. Riri Fitri Sari (Ketua Komite 1 DGB UI) 

Moderator:

Prof. Cynthia Afriani Utama (FEB UI) 

ISI DISKUSI:

Agus Sartono (Guru Besar FEB UGM) menjelaskan, hakikat hidup tertinggi manusia terletak pada kemampuannya untuk berpikir kritis dan berefleksi. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang berperan dalam pendidikan itu? Yang paling berperan guru dan dosen, tapi tak sekedar di kelas, orang tua juga harus jadi guru. Mereka harus bisa menjadi contoh. Menguasai materi itu mudah, tapi perlu punya satu value, integrity, dalam konteks agama ini ketakwaan (Allah selalu melihat). Di UGM ada contoh misal kasus sexual harrasment, runtuhlah kredibilitas dosen. Bagaimana kita memberi penilaian tidak hanya numerik, tapi juga karakter. Manner sangat penting. Bukan untuk dosen, tapi untuk masa depan mahasiswa. Guru harus jauh dari rasa ketakutan juga karena mendisiplinkan anak didik. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab formal, tapi juga orang tua dan orang-orang terdekat. 



Dalam sambutannya, Eko Prasojo (Ketua Umum Dewan Guru Besar UI) mengatakan, tema ini sangat penting sekali dalam berbagai perkembangan sosial dan perilaku masyarakat. Ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi, juga perubahan generasi. Ada digitalisasi, globalisasi, dan milenialisasi. Ini berpengaruh pada mental model dan perilaku masyarakat. Tidak hanya transfer pengetahuan, tapi juga membentuk budaya yang baru, yang sesuai dengan perjalanan saat ini. Universitas sebagai salah satu institusi pendidikan, berperan dalam melahirkan sosok yang tak hanya baik dalam pengetahuan, tapi juga perubahan kultur. Alumni universitas harus jadi agen perubahan sehingga membantu perumahan sistem yang lebih kondusif, misal untuk pencegahan korupsi. Kemajuan setiap bangsa dipengaruhi empat hal: (1) sumber daya alam, (2) sumber daya manusia, (3) institusi atau sistem/good governance, (4) good value. Sehingga lulusan tak hanya pintar dan kompeten, tapi juga punya budaya yang baik. 

Nilai Itu Inheren dengan Konflik

Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI) melanjutkan, kalau melihat anak muda sekarang punya perkembangan yang berbeda. Mereka dalam informasi overload, ada informasi baru yang muncul tiap hari di gadget. Kalau dulu jam 9 malam tahu dunia dalam berita. Sebelum masuk kelas, mereka udah dapat informasi duluan. Informasi banyak yang membingungkan, ada inkonsistensi, sehingga bingung melangkah bagaimana. Semua ingin langkah kita aman jika peraturan berubah-ubah. Mahasiswa mengalami uncertainty yang tinggi. Mahasiswa juga hidup dalam perbandingan sosial yang tinggi, bahkan juga ada budaya cancel. Mereka bingung, kalau berbeda pendapat haruskan kita cut atau bagaimana. Mahasiswa dalam kondisi hampir tenggelam. Dalam menolong, kita tolong dari belakang. Nilai-nilai yang baik itu tidak selalu sejalan, bahkan sering berkonflik, satu dengan yang lain (Schwartz, 2012). Contoh: kreativitas vs kepatuhan; prestatif vs kebaikan/pehatian. Dengan resources terbatas, kita tak bisa memenuhi semua dalam waktu yang sama. Harus tahu prioritas. "Value inherent in conflicting," katanya. 

Value-based education bukanlah upaya untuk mengajarkan tentang "to be good", tapi untuk merumuskan apa yang bermakna untuk dikejar, apa yang penting untuk tidak dilanggar, dan bagaimana membuat keputusan yang saling bertentangan. 

Ada penelitian yang bagus, "Individual and Generation Value Change in an Adult Population, a 12-year Longtitudinal panel study", menunjukkan semakin tua, akan semakin konservatif. Barangkali tidak hanya self-bias. Selain itu, ada value transformation, tak hanya sekadar bagaimana caranya tapi juga "reason" (alasannya). Membantu untuk identifikasi konflik yang ada (contoh: kejujuran vs tekanan untuk berprestasi, takut gagal), memahami konsekuensi jangka panjang dari tiap keputusan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Ketika seorang memilih tidak jujur, kita cari tahu alasannya. Bukan tak mau tanggung jawab, tapi ada value lain yang diprioritaskan. 

Indonesia hanya sekadar ekspos value, bukan action. Kita hanya omon-omon saja. Kita tutup mata misal soal menulis dengan AI, dosen menyuruh tidak pakai AI, tapi dosen publikasi pakai karya mahasiswa. Bagaimana jika mahasiswa mengukur value dosen? Apakah mereka kasi role model atau dosen cuma omon-omon saja. Ditanya juga dosen yang dikagumi, karena dia bisa berperan sebagai role model, ini yang harus saya lakukan. Jika mereka melihat dosennya harus berprestasi, tapi ketika mahasiswa butuh pertolongan dan dosen memberikan, mereka belajar terkait passion. Banyak orang belajar dari "actions".

Universitas perlu melakukan soul searching: Apakah yang menjadi tujuannya? Pemerintah perlu merenungkan mungkinkah universitas diberikan beban begitu tinggi dengan dukungan yang sangat terbatas? Ada cerita mahasiswa UI yang home broken, dia harus jalan dari Cinmanggis ke UI, dia dapat beasiswa, ibunya tidak bekerja, dan uang beasiswa untuk ibunya, mengatur ekonomi keluarga; tidak mungkin dia secermelang yang punya privilege mahasiswa dengan ekonomi lebih. Dosen PTNBH 52% merasakan beban lebih. Cara dosen mengajar perlu dipertimbangkan, mahasiswa butuh dialog. "Our job is to prepare students to be responsible," ujarnya. 

Dari Volume ke Value










Materi selanjutnya dari Theddeus OH Prasetyono (FK UI) menjelaskan tentang pengantar hidupnya, "to educate a man in mind and not in morals is to educate a menace to society..." (Theodore Roosevelt). Dia cerita bagaimana mahasiswa PPDS melakukan refleksi. Dalam kondisi lelah muncul jalan pintas, tapi dampaknya berpengaruh buruk dalam jangka panjang. Ada nilai yang perlu dibangun, UI jadi acuan sebagaimana UGM dan ITB, menggali nilai apa yang menjadi topik dialog internal? Kejujuran, keterpercayaan, ini bagian dari tanggung jawab, kepatuhan pada aturan. 

Contoh lain pernah memberikan contekan saat ujian. Berpikir ini bentuk kepedulian pada temannya, tapi setelah refleksi ini melanggar nilai. Dialog internalnya tentang kejujuran. Ada kelonggaran terhadap nilai. Ternyata ada dokter spesialis, ada yang merasa tidak salah, ini surprising

Studi kasus lain, ada pasien yang punya ambang batas rendah. Dokter ini menemani pasien ngobrol, ternyata pasien gelisah atau nyeri tapi karena tidak ada keluarga dekat yang ada di sampingnya. Dialog internal terjadi karena ada kesadaran akan kemartabatan sebagai manusia. 

Etika profesi dan pendidikan yang berkarakter keluar bukan hanya sekadar teknik, tapi juga compassion yang proper, ethics, dan patient dignity. Termasuk leadership yang melayani, menekankan kesetaraan. Ada tiga prinsip nilai berbasis pendidikan: (1) holistic development, (2) critical thinking as a value, (3) civic engagement. Di dunia apa pun bisa menerapkan ini. 

Ada tiga kurikulum tersembunyi mempelajari nilai: (1) role modeling, (2) institutional culture, (3) collborative learning. Setiap kita punya kesempatan role model di setiap kesempatan. Sebagai pendidik, selalu terpotret, conduct yang kita lakukan akan selalu terpotret. Tindak profesional akan jadi ukuran nilai, dan jadi feedback. Kita juga mesti lihat institusionalnya. Mengubah budaya institusional dari "volume ke value". Ini jadi perenungan penting tak hanya di dunia kedokteran. Ada the value star: (1) clinical excellence, (2) operational efficiency, (3) patient experience, (4) profesional value, (5) professional well-being. Gak hanya bicara body of knowledge saja, tapi juga memahami ada competent humility. Not just an individual trait, tapi juga sistem. 


Materi terakhir dari Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB) menjelaskan, tema ini penting karena masalah perubahan yang besar: AI, disrupsi, perubahan kerja, hingga degradasi etika. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan gak hanya pintar saja. Jika hanya berdasarkan pada kompetensi, VbE ini jadi penting, agar siap memimpin. Pendidikan masa depan akan jadi beyond knowledge and skill. Di era AI, akses mudah tapi tantangannya bukan hanya apa yang diketahui, tapi untuk tujuan apa digunakan. Integritas akademik jadi fondasi yang utama.

P.S.:

Untuk materi dari Prof Chan dan Prof Riri, saya tidak mengikutinya karena datang ke webinar terlambat. Baru mengetahui acara setelah menonton stori Instagram UI. Overall, saya berterima kasih untuk ilmu baru dari kegiatan ini karena semakin memperkuat pengajaran terkait dengan nilai yang saya terima.

 Tanya Jawab:

1. Adelashal: Banyak teori value, tapi kenapa pejabat sekarang tidak sesuai nilai? 

Agus: Ada dua tipikal pejabat, pejabat karier dan pejabat bukan karier. Kalau karier tidak ada pilihan, tapi kalau punya side job bisa ada pilihan. Yang karier ini akan sulit lurus. Ikan tergantung kepala ini juga betul. Sistem monitoring ini sangat penting. Korupsi ini terjadi karena mengorbankan identitas. Sebagai pejabat jangan diukur dari intesifnya, tapi juga integritas. Kalau melanggar pasti tidak sustainable. Mengejar dunia iya tapi tidak yang utama. Kejar akhirat, dunia akan mengikuti. 

2. Question: Bagaimana cara terbaik mengatasi dekadensi moral? 

Agus: Harus dimulai dari rekrutmen guru, beri guru intensif yang cukup. Masih sedih dengan nasib guru sekarang. Kalau Desember gak ada guru honorer, akan sangat kesulitan. Orang lebih mementingkan investasi jangka pendek daripada jangka panjang. Menanam nilai-nilai itu harus dari kecil, bukan dari malah pendidikan tinggi. 

3. Sabang: Budaya kita paternalistik. Kita banyak orang pintar tapi kurang bijak. Mulainya darimana? 

Corina: Kalau benar kita budaya yang membutuhkan role model, ini memberi kesempatan kita sebagai dosen untuk jadi role model. Saya mengundang ibu-bapak Profesor jadi role-model. Untuk membentuk mahasiswa, perlu refleksi apakah kita jadi role-model. 

4. Dwi Wahyu: Bagaimana cara membantu mahasiswa dalam berbagi nilai? Tantangan utama menerapkan berbasis nilai? 

Corina: Mengingat kita banyak yang hadir, forum DGB bisa bicara. Bagaimana kalau forum DBG alokasikan 30 persen untuk mendiskusikan dilema moral. Ini memungkinkan karena mahasiswa ada AI. Barangkali keseluruhan mengajar perlu diperbaiki. Alokasi waktu diberikan pada diskusi dilema moral, sehingga tak sekadar lewat. 

Jumat, 15 Mei 2026

"Marx dan Mode Produksi Asiatik" Oleh Martin Suryajaya

Lombok Studies Center bersama dengan Odyssey Filsafat mengadakan diskusi bertema "Marx dan Asiatic Mode of Productions" secara online via Zoom, Jumat, 15 Mei 2026 (19.30-21.15 WIB). Diskusi ini menghadirkan pembicara akademikus dari IKJ, Martin Suryajaya. Berikut catatan diskusi tersebut:

Diskusi ingin membahas, Marx and Asiatic Productions. Martin menjelaskan, konteksnya diminta mengisi materi terkait buruh dan buruh migran. Ada topik yang bisa Martin bantu jelaskan, yaitu Marx. Ini wacana Marx di luar Barat, di Asia tidak banyak. Dia menjelaskan perkembangan yang terjadi di Eropa. Marx juga nyebut beberapa aspek di luar Barat, yaitu "Asiatic Mode of Productions". Awalnya Marx berpikir ini ekonomi di luar Barat sama sekali, mereka masyarakat di luar sejarah. 

Martin menganggap perlu didefinisikan dulu apa itu mode produksi, dia basis. Bagaimana masyarakat mengorganisasikan lewat ekonomi-politik vs atas. Mode produksi ini komponen bawah secara detail, bagaimana dia hidup secara material. Modus produksi dibagi jadi sua unsur: tenaga produktif (keterampilan, tanah, mesin, hingga teknologi, keseluruhan aspek yang bersifat material dan ide); dan relasi sosial-produksi (hubungan sosialnya, bagaimana menjalin produksi antara pekerja dan bos, intinya adalah pembagian kerja/social divisions labor). Sejarah bergerak dari dua aspek ini. Tenaga produktif selalu ada relasi sosial-produksi. Mana yang lebih dulu ini susah, kayak jawab telur atau ayam dulu? 

Akibat dari relasi produksi itu muncul hal yang khas. Misal perkebunan anggur di Eropa. Pada gilirannya, ketika tenaga produktif terlalu advanced, maka relasi sosial-produksi jadi kuno, seperti kemunculan kapitalisme. Ini terjadi di area urban khususnya. Ini menghasilkan relasi produksi yang baru, yang menyebabkan adanya kelas baru, kapitalis. Produksi lebih besar dan berpengaruh pada ekonomi. Ketika muncul teknologi baru, maka relasi sosial-produksi jadi usang, misal sekarang zaman algoritma dengan aplikasinya. Ada fleksibilitas tenaga kerja, eksploitasi yang fleksibel akibat teknologi (platform). 

Ini di kalangan gerakan, ada perubahan kuantitatif dan kualitatif di dua aspek tadi. Ada kontradiksi, sejarah bergerak karena ada kontradiksi di basis: cost of productions dan relation of productions. Kuasa tak lagi di kapital yang lama, tapi ke yang baru. Bentuknya selalu itu, tapi manifestasi dalam sejarah selalu berubah-ubah. Misal dari sosialisme ke kapitalisme. 

Ada setidaknya sembilan modus produksi sampai sekarang dari primitif ke kapitalisme. Primitif (meramu, agrikultur bukan sistem yang otomatis). Dari sembilan itu dijelaskan masing-masing ke basis kepemilikan, unit produksi dominan, produsen langsung, bentuk kontrol atas produsen, mekanisme ekstraksi surplus, bentuk negara dominan, struktur kelas utama, hingga basis teknologi produktif. 

Misal, pada modus produksi feodal yang utama adalah kepemilikan tanah, ada kerja wajib bagi masyarakat untuk menggarap tanah, ada setoran juga. Lalu, ke masa Renaisans, ada modus produksi pedagang kecil-kecilan yang membuat sepatu, penerbit buku, sehingga ada perdagangan. Ada nilai lebih di tanah sirkulasi, bukan di produksi, sebutan lain merchantilisme. Lalu, berkembang ke kapitalisme lebih lanjut. Ada konsentrasi tenaga kerja di kawasan industrial. Konsep nilai lebih ini untuk menjelaskan model produksi yang ini. 

Muncul di masa abad 20-an berkaitan dengan finance-capital, produksi komoditas turunan. Instrumen finansial yang diperjual belikan, seperti saham. Sekarang juga di era digital yang teorinya macam-macam, yang ramai itu di Yunani, techno-feodalism. Bayar sewa tapi data kita diekstraksi pemilik platform. Ada tahapan-tahapan. 

Sementara itu, modus produksi Asiatik ini tergolong kuno. Misal pembebasan di Cina, Vietnam, negara-negara Asia Tenggara. Ada transisi ke sosialisme yang melawan kapitalisme. Di Asia, yang masyarakat masih despotik, ada argumen irasional yang masih dibawa. Ada penggambaran Asia yang tidak rasional, tidak seperti Eropa. Kita tahu ada problem utama dalam relasi produksi tadi. Asia hanya dilihat sebagai deviasi dari Eropa. Ini juga terjadi saat Orba, 80an pertumbuhan dikodifikasikan ke tahapan seperti teori Rostow. Ada istilah Global North. Seolah-olah hanya satu yang maju. Masyarakat di beberapa tempat lain, beda dengan Eropa. Jalur perkembangan punya teori khsusu, ada mode produksi yang menumpuk. Mode produksi ditandai dengan adanya tradisi, dan juga kepentingan self-interest untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. 



Di Marx sendiri, AMP (Asiatic Mode of Productions), sebenarnya Marx ini sangat bias Barat. Misal dalam menggambarkan masyarakat India, seperti tidak ada sejarahnya. Dilihatnya Asia itu stagnan dan tidak punya sejarah. Ada klaim-klaim adat yang susah dinalar. Despotisme yang tidak jelas. Pelan-pelan Marx mengubah, Asia dilihat dengan lebih bernuansa. Dia menjelaskan, ini transisi dari primitif ke mode selanjutnya. Asia punya jalurnya sendiri. Secara tahap sejarah ini sejajar dengan feodalisme. Adanya kaisar yang menarik surplus di region masing-masing, basisnya di perdesaan--kalau di Eropa di perkotaan, surplus para artisan. 

Waktu di abad 19, Marx banyak baca buku-buku Antropologi dan Arkeologi. Marx mulai melihat dan punya konsepsi yang lebih jelas. Marx bicara redistribusi tanah, pedesaan di Asia, dan negara despotik yang mengambil surplus dari masyarakat. Di tahap terakhir pun belum kelar. AMP, unit dasarnya bukan individu dan bangsawan, tapi komunitas desa. Ada pertanian kolektif satu desa. Dia mengakses tanah bersama, ada lumbung. Kalau ada masyarakat yang berkekurangan bisa mengambil. Itu juga diorganisir secara kolektif. Diferensiasi kelas terlihat dari jumlah kepemilikan tanah, rumah, ternak, dll. Surplusnya bukan perbudakan tapi upeti. Ini asal-usul dari negara despotik. Buku "Hydrolic Society" juga ada basisnya pengelolaan sumber daya air, untuk mengerjakan pekerjaan padat karya. Di sini, Asia, ada konsolidasi vertikal. Raja dianggap sebagai hal tertinggi. Kontradiksi antara raja dan masyarakatnya. Ini runtuh ketika unit produksi gak lagi kolektif, modus produksi kemudian bergeser. Bisa ke feodalisme dan kapitalisme. Sejarah AMP bisa baca bukunya Dunn. 


Teori AMP dijelaskan untuk masyarakat Asia. Ketika gaya Eropa diterapkan ke Asia, akan tidak fit. Di situ ada problem, tahap perkembangan sejarah AMP. Seperti dari Marx, Lenin, dll, semisal bagaimana mengkonsolidasikan Asia dan Afrika untuk melawan kapitalisme dan memihak ke Soviet. Penggunaan AMP berhenti dilakukan ketika zaman Stalin, AMP dianggap tidak ada. Yang ada hanya kategori Eropa. Alasan politiknya untuk sejarah universal yang sifatnya tunggal. Kalau ada AMP, berarti ada pengecualian. Dihidupkan kembali ketika tahun 70an, termasuk saudara Ben Anderson. AMP sebagai hal yang teoritis, ini banyak kajian Antropologi. Teorisasi AMP ini jadi semakin ramai. 

Konsep Asiatik sendiri dikritik, karena dibawa orientalis, dibangun atas kepentingan kolonial, misal nilai-nilai ketimuran. Esensialisasi Asia ini dipertanyakan. Perkembangan kontemporer di mana? Ada banyak, tapi kita ambil tiga rute. 

Pertama, cara melihat mode produksi dekolonial. Imperialisme dan kapitalisme itu saudara kembar. Bisa baca buku suami-istri Ulsa dan Prabhat Parnaik, "Capital and Imperialism". Ada konsepsi sejarah yang berkaitan dengan India, kapitalisme bisa gitu karena mengembangkan imperialisme ke negara-negara lain, khususnya dari Dunia Ketiga. Sebagai sistem, dia imperialisme. Mengkritik Lenin, yang mengatakan imperialisme itu kondisi tertinggi dari kapitalisme, tapi menurut Patnaik, gak bisa, justru hidup berdampingan dengan kapitalisme. Yang ambil keuntungan besar dari negara-negara ketiga ke core nation. Termasuk peran semi-peri nation atau negara pansos, yang mau jadi core nation. Seperti halnya VOC mengandalkan relasi yang sifatnya despotik, asal setor ke VOC. 

Kedua, rute ekologis, bukan urusan manusia dan pabrik, tapi juga bagaimana manusia mengorganisir dirinya dengan alam. Ini dikembangkan oleh Marxis Amerika Latin. Bukan hanya metabolisme ekologis tapi juga politik. Bisa baca buku "The Social Metabolism" bicara sustainability tapi konteksnya Marxis, karya Manuel Gonzales de Molina dan Victor M. Toledo. Skema yang digunakan masyarakat ini semacam proses, ada input-output. Ada ekskresi juga, bagaimana dia berinteraksi dengan alam. Setiap masyarakat punya peran yang berbeda-beda, misal masyarakat perdesaan aprosiasi sangat tinggi, tapi limbah (ekskresi) kecil. Beda dengan masyarakat urban, di mana limbahnya sangat banyak. Endosomatik (di dalam tubuh) dan eksosomatik (di luar tubuh) ini saling berkaitan. Entropi kemudian disebar. Apa pun yang disebut wasted, akan kembali ke alam, tidak ada wasted. 

Ketiga, konsep kepedulian, reproduksi sosial. Dikembangkan orang seperti Silvia Federici, mengupah kerja-kerja rumah tangga, dll. Reproduksi bukan hanya seksual tapi juga reproduksi sosial. Bagaimana manusia bereproduksi ngurus urusan-urusan yang gak dipikirkan ekonomi. Urusan-urusan care work ini sering gak diitung, seperti dianggap itu hal natural. Beban ini juga dibebankan ke perempuan. Padahal ini juga urusan ekonomi, kalau gak ada ini, maka relasi kapitalisme bisa rontok. Pabrik gak itung kebutuhan rumah tangga yang memungkinkan dia ada. Ini yang menjadi persoalan. Care sector ini juga di bidang lain seperti budaya. Ada ekstraksi berlebihan di care sector, gak ada baliknya. Dianggap sesuatu yang given, sudah dari sononya. Ini cara berpikir yang berat sebelah. 

Solusinya membuat yang gak dipedulikan ini jadi dipedulikan. Misal ada pajak yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Kita harus ngurus sesuatu yang sifatnya commoning, meritualkan kebersamaan, ini dihidupkan lagi untuk melawan kapitalisme. Kepemilikan bersama atas hal apa pun. Ini praktik lokal sebenarnya seperti di masyarakat adat. Bagaimana mengatur peer governance juga. 









Tanya-Jawab:

1. Gigih Saputra: Ada buruh dosen, ada kapitalisme dalam karier dosen. Apakah bisa dibaca secara AMP? 

Martin: Sebenarnya bisa-bisa saja, tapi dilonggarkan lagi, karena AMP itu ekonomi. Baca saja "Hegemoni dan Kemandirian Ilmu" karya SH Alatas, kita (Asia) produksi data, tapi yang buat teori ini orang Eropa. Daripada langsung ke AMP, lebih baik jembatan pakai SH Alatas. 

2. Surya Anta: Persoalan AMP dalam konteks Indonesia menjadi persoalan masyarakat kapitalis jadi ketimpangan di Jawa dan luar Jawa. Transformasi dari feodal ke kapital tidak cepat? Perdebatan antara Lenin, berkaca di Indonesia apa bisa diambil sintesis? Apa sebenarnya, Marx ambil konteks Jawa, apa yang terwariskan secara suprastruktur pada kaum buruh? Sebenarnya tidak ada kapitalisme yang secara koheren ini tuntas. 

Martin: AMP ini perdebatannya, apa adakah pengecualian. Bahwa sebetulnya tiap masyarakat itu punya jalannya sendiri, ketika melakukan by pass itu memungkinkan, tak perlu ada tahap-tahap karena titik tolaknya berbeda-beda. Lebih ke arah sana yang penting, Marx membuka ada jalur lain dalam memproses sejarah yang berbeda, gak semua masuk yang tipikalnya Barat. Bagaimana mengembangkan satu transisi yang secara modus produksi gak bisa disamakan dengan Eropa. Membuat road map-nya tentu saja berbeda. Di sana eksperimen menariknya. Ketika mau menguntungkan kelas pekerja, tergantung konteks masyarakat masing-masing. Ngiri, ngirinya itu harus localised. Bisa berangkat dari suprastruktur yang sudah siap, tapi di Indonesia gak gitu, misal HAM, hak politik, di sini gak bisa taken from granted. Gak mengasumsikan tentang teori dasar seperti HAM, karena gak tuntas di sini. Beda ketika terjadi di negara yang demokratiknya selesai. Yang digambarkan Habermas ini sangat-sangat muluk kalau di Indonesia. Yang bisa diadopsi melihat masyarakat yang lebih cair, dan menguntungkan mereka pada hari ini.

3. Ana: Apakah memungkinkan modus produksi sebagai reproduksi bisa berkurang atau meningkat? 

Martin: Ini dikembangkan oleh feminis Marxis yang melpadahal ekonomi digerakkan gak hanya formal, tapi juga yang gak terlihat. Dari rumah tangga hingga inisiatif warga untuk dapur umum misal pas Covid-19. Ini gak ada biayanya. Kalau mau memasukkan ini ke ekonomi, dianggap gak ada justru kita defisit dalam pembayaran yang reproduksi sosial ini. Ini gak pernah dimonetisasi. Kalau diitung ke ekonomi, ini bukan tumbuh, tapi boncos. 

4. Habib Al-Qanhar: Berangkat dari rute India, ketika lihat imperialisme dan kapitalisme, ada open system semua masuk. Open system ini lihat dua hal ini atau gimana? 

Martin: Yang dimaksud sistem tertutup itu ada di kapital. Bagaimana mengevaluasi kerja yang necessary labor jadi komoditas. Tujuannya mengembangkan untuk sirkuit kapital. Kapital dapat laba dari eksploitasi. Roy Baskar ini beda konsepnya dengan yang di Marx. Jangan lihat kapitalisme sebagai model utama, tapi model historis, termasuk yang Asiatik. 

5. Abdul Rauf: Apakah partisipasi politik dari satu kawasan ke kawasan lain, apakah jika mihak pihak tertindas bagaimana? 

Martin: AMP gak bicara taktik, beda pembahasan. 

6. Galih Winata: Bagaimana Martin melihat kerja migran dan aliran dari core countries ke negara berkembang? 

Martin: Sangat bisa pisau bedah Marx dipakai. Misal Singapura butuh buruh murah, dibandingkan bayar orang Singapura sendiri. Teori reproduksi sosial bisa dipakai. Sektor-sektor tertentu banyak diisi oleh pekerja migran, karena biayanya bisa ditekan. 

Rabu, 13 Mei 2026

Refleksi Satu Tahun Klenik Studies

Komunitas ini didirikan dengan selow, dan kami namai spontan aja bernama "Klenik Studies". Awalnya, Sulkhan suatu hari bikin story Instagram tentang semacam pembahasan klenik gitu secara lebih proper dari sisi keilmuan. Aku mengomentarinya dan bahasan berlanjut di WhatsApp.

Sebab, pada Minggu, 8 Desember 2024 lalu kami ada peluncuran buku pertama kami di Jogja bertiga: Sulkhan, Jevi, dan aku. Kami juga udah ngobrol berbagai ide terkait buku, akhirnya aku inisiatif untuk menghidupkan grup itu jadi kegiatan yang lebih berkelanjutan. 

Aku ngabarin Jevi untuk gabung, lalu, Sulkhan mengajak dua temannya yang lain untuk gabung juga, mereka adalah Akbar dan Nurul. Di kemudian hari, komunitas ini turut diramaikan pula oleh nama-nama lain, di antaranya Nurizky dan Lina.

Pertemuan Zoom pertama itu berlangsung pada Selasa, 13 Mei 2025 (secara pasaran Jawa ada di waktu malam Rabu Legi). Kami bahas secara sederhana saja mulai dari komunitas ini bahas apa, diskusinya tiap kapan, terbuka atau tertutup, dlsb. Hari pertama pembahasan Klenik Studies ini jadi semacam milestone awal untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Nurul juga membuat rangkuman begini:

1.Model diskusi di awal: lempar tema dan dikendalikan moderator.

2.Tema pertama: Pamali soal tempat/jalan bagi pejabat/pengantin (jalan Karanggetas, peninggalan kerajaan Buton, menara Kudus, pengantin dilarang lewat di Gunungkidup) - mitos dan ruang.

3.Kapan? Kamis, malam Jumat (22/5) jam 20:00 - 22:00 WIB.

4.Hasil tema klenik yg dikumpulkan:

    a. Tenaga dalam (klenik).

    b. Urban legend kampus.
 
    c. Tempat terlarang untuk perempuan dan mengurai rambut.

   d. Musik dan mistis (black metal dan death metal atau bisa ke seni juga)

    e. Bagaimana presiden memilih semedi untuk menentukan peristiwa besar.

    f. Pamali soal tempat/jalan bagi pejabat/pengantin (jalan Karanggetas, peninggalan kerajaan Buton, menara Kudus, pengantin dilarang lewat di Gunungkidup) - mitos dan ruang.

    g. Hari weton (penentuan hari baik)

     h. Hantu/klenik dan gender.

     i. Eksploitasi perempuan dalam film horor

     j. Klenik di Kalimantan (stigma Dayak) 

Awalnya, kami juga sempat mendiskusikan soal nama komunitas. Ada beberapa tawaran dari teman-teman untuk nama komunitas ini, di antaranya: "Kamar Merah", "BGN (Badan Gaib Nasional)", "Anamnesis", "Laboratorium Klenik", Ruang Ambang Batas", "Liminal Space Society", "Hauntologi", sampai "Ngaji Klenik". Obrolan ini belum tercipta kesepakatan, hingga akhirnya pakai nama awal "Klenik Studies".

Dan setelah tanggal 13 Mei itu, kami rutin setiap 35 hari sekali, di Jawa istilahnya selapan, satu putaran lengkap dari lima pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Kami mengadakan diskusi tiap malam Jumat Kliwon, tapi tak jarang juga, jika berhalangan, diganti malam Jumat Legi. Diskusi dilaksanakan biasanya dari jam 21.00-23.00 WIB atau 20.00-23.00 WIB, tergantung kesepakatan dan pulang kerjanya kapan.

Malam Jumat Kliwon kami pilih karena secara kebudayaan populer di Indonesia dianggap sebagai malam paling angker. Dalam budaya Jawa, malam Jumat Kliwon itu juga jadi waktu yang sakral, punya energi spiritual, dan mistis dibandingkan malam-malam lainnya. Malam Jumat Kliwon juga dipercaya menipiskan batas antara dunia gaib dan manusia, sehingga banyak yang memilih laku spiritual. Laku spiritual kami, kami alihkan untuk memahaminya secara keilmuan masing-masing.

Sepanjang satu tahun itu Klenik Studies (2025-2026) telah membahas sebanyak sepuluh tema yang terdokumentasi dalam catatan berikut:

  1. Tempat-Tempat Pamali (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/05/catatan-klenik-studies-edisi-23-mei-2025.html)
  2. Hantu, Ruang, dan Teknologi (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/06/catatan-klenik-studies-edisi-26-juni.html)
  3. Demonologi: Iblis dalam Kebudayaan Islam (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/08/catatan-klenik-studies-edisi-31-juli.html)
  4. Pesugihan, Horor, dan Ekonomi-Politik (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/09/catatan-klenik-studies-edisi-4.html)
  5. Tuyul dan Hantu-Hantu Anak (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/10/catatan-klenik-studies-edisi-16-oktober.html)
  6. Hantu di Institusi Pendidikan (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/11/catatan-klenik-studies-edisi-20.html)
  7. Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/01/catatan-klenik-studies-edisi-25.html)
  8. Cerita Horor dari Rumah (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/01/catatan-klenik-studies-vol-viii-edisi.html)
  9. Kanuragan dan Ilmu Hitam (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/02/catatan-klenik-studies-vol-ix-edisi-26.html)
  10. Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/04/catatan-klenik-studies-vol-x-edisi-9.html

Tentu, masing-masing di antara kami punya refleksi masing-masing. Untukku sendiri, aku setidaknya jadi belajar:

Hantu dan klenik tidak untuk ditakuti, tapi dipahami. Kita takut karena horor dan klenik itu berada di wilayah abu-abu dan liminal, seperti bidang apa pun di dunia yang tidak kita pahami dan ketahui, kita akan cenderung takut dan menghindar. Dengan memahami klenik, timbul simpati dan empati terhadap entitas yang disebut sebagai hantu. 

Klenik Studies memiliki motto: "Membahas Klenik dengan Pendekatan yang Tidak-Tidak." Kami percaya jika klenik tak hanya bisa dipahami dengan satu pendekatan, tapi berbagai pendekatan, sebanyak mereka yang mau memahaminya.

Minggu, 10 Mei 2026

Terima Kasih Rayap

Terima kasih surprised-nya rayap yang gemuk-gemuk dan ginuk-ginuk. Aku tak menyangka ini akan terjadi pada buku-buku dan koleksiku juga. Kesalahanku:

  1. Memepetkan rak berbahan kayu ke tembok. 
  2. Menaruh kardus di bawah kolong meja yang lembab. 
  3. Serangan rayap ternyata seklandestin itu. Meskipun dari depan terlihat rapi dan baik, eh, koloni rayap kelas pekerja atas perintah ratu rayap berhasil memomotkan buku-buku yang dikiranya snack itu.
 
Tapi baiklah, kau sudah bisa kuatasi, tapi makan Indomie telor dulu. Dan aku pakai rak kayunya untuk barang-barang lain yang sering kupakai saja. Darimu rayap, aku belajar:
  1. Kau mengajariku untuk gak hoarding dan impulsif beli buku banyak lagi. Kehilangan ini benar-benar membuka kesadaranku yang lain akan benda-benda yang kusuka juga adalah sementara. No greed, no hoarding. 
  2. Kau mengajariku tentang equality. Rayap tak bisa membedakan mana buku berkualitas, mana yang tidak, mana tulisan top, mana yang cuma 'yapping', mana yang mahal, mana yang murah, mana yang emosional, mana yang biasa saja; baginya, semua kertas adalah sama. Persetan dengan isinya. 
  3. Meskipun kau kecil, lemah, ringkih, tak berdaya, dan bisa kupites dengan mudah, kau punya kemampuan luar biasa meluluhkan benda sekeras kayu.

Salah satu prestasiku keknya bisa menghadapi up and down segala tentang buku, tapi juga sesuatu yang berhubungan dengan materi. Yang kehilangan setahunan yang lalu juga berat, tapi terlalui juga kan. Jadi, ikhlas dan tenanglah.

Selasa, 05 Mei 2026

Poskolonialisme dalam Kritik Sastra

Sesi IV kelas kritik sastra DKJ, "Poskolonialisme dalam Kritik Sastra" oleh Asri Saraswati via Zoom, Selasa, 5 Mei 2026.

Asri menjelaskan, teori hanya dipakai ketika dibutuhkan. Teori poskolonialisme merupakan salah satu teori pascastrukturalis dan posmodernis. Mengenali struktur dan hierarki antarkelompok, tapi juga mencari ketidaksinambungan dan ambivilansi dalam struktur. Bersilangan dengan feminisme dan Marxisme. Para ahlinya membaca dekat teks dan memperhatikan hubungannya dengan konteks. 

Poskolonialisme terdiri dari dua kata: post merupakan masa, penunjuk waktu "setelah". Namun, tak sekadar setelah dia juga sebagai pemikiran yang "melampaui" kolonialisme. Mencermati dan mengkritisi kolonialisme dan instrumennya. Seringkali yang dianggap awal dari poskolonialisme adalah buku Edward Said dalam bukunya "Orientalisme" (1978). Saat kelahiran buku ini, memberikan pengaruh yang besar dalam dunia akademia. 

Said sendiri merupakan penulis dari Palestina. Ia mengkaji sastrawan dan ilmuwan Barat yang mempelajari orient (Timur). Said mengumpulkan tulisan para orientalis yang menafsirkan Timur sebagai "terbelakang", "kosong", dan "perlu diselamatkan". Ia mencermati jika sastra dan akademisi menjadi alat bantu penjajahan. Ada ideologi yang ada dalam karya atau yang bekerja dalam tulisan, yaitu supremasi ras kulit putih dan imperialisme mempengaruhi sastra dan ilmu pengetahuan. Mereka justru membantu penjajahan. 

Karya-karya sastra ini bisa ditemukan di mana-mana. Namun di sini, Asri menunjukkan puisi karya Rudyard Kipling berjudul "The White Man's Burden" (1899). Puisi ini tentang Spanyol menyerahkan jajahannya Filipina ke Amerika Serikat. Tulisan ini bicara dorongan penulis agar orang AS mengambil beban kulit putih, menyelamatkan orang-orang Filipina. Ada kata-kata yang stereotiptikal, seperti "half devil and half child" atau "run amok" (yang tidak bisa diatur). Nada-nadanya seolah-olah yang dilakukan orang kulit putih ini hal yang baik. Penjajahan bukan kekerasan tapi dianggap penyelamatan! Di mana sebuah ras dianggap lebih kuat dibanding ras yang lain. 

Tulisan Kipling juga diberikan ilustrasi yang jelas sekali antara kulit putih dan kulit hitam. Ia bersandar pada stereotip: kita vs mereka, logis vs primitif, maju vs sederhana. Penduduk asli dianggap tidak mampu memutuskan nasib dan mengatur dirinya. 

Said dalam "Orientalisme" menggambarkan mekanisme penjajahan. Penggambaran Timur sebagai terbelakang dan kosong menjadi pembenaran bagi kolonialisme dan imperialisme untuk terjadi. Imperialisme digambarkan sebagai bentuk "penyelamatan" dan "bantuan" pada pihak yang dijajah untuk menjadi maju. 

Dampak orientalisme pada seni, di antaranya lukisan lanskap dan fotografi di abad ke-19 Amerika. Misal lukisan oleh Thomas Cole. 

Yang menarik dari orientalisme Said, kelompok yang dianggap berbeda (the others) juga digambarkan sebagai hal yang eksotis, yang misterius, yang diinginkan, yang difetiskan, karena nampak yang berbeda. Ini hubungan yang cukup sakit. Ini terjadi hingga hari ini, misal ketika seseorang melihat Afrika.

Kenapa masih membahas poskolonialisme? Karena hingga sekarang, pembedaan dengan yang liyan itu masih kental. Masih ada struktur dan ideologi sebagai dampak dari kolonialisme, seperti feodalisme, atau kerja sama dengan ideologi baru seperti kapitalisme. Kolonialisme tidak terhenti, tapi berubah bentuk. Sebagai pendekatan, pascakolonialisme mencermati pemisahan kita dan mereka, termasuk istilah global south - global north. 

Asri mencontohkan juga foto di sampul majalah National Geographic berjudul "The Afghan Girl" (1985), dengan caption, "haunted eyes tell of an Afghan refugee's fears", yang juga menunjukkan bagaimana orientalisme bekerja. Perempuan yang difoto ini ternyata masih hidup, dia sedang ikut sekolah, lalu dipotret oleh fotografer laki-laki dari Barat. Ada proses pengambilan foto yang tidak menghormati budaya setempat, hanya mengambil eksotisasi perempuan Timur. Seakan-akan mencuri privasi subjek yang difoto. Ada relasi kuasa narasi yang ingin disampaikan. 

Selain Said, tokoh lain yang bahas orientalisme adalah Gayatri Spivak, dalam gagasan can subaltern speak (1978). Golongan subaltern tak diizinkan berbicara atau didengar pendapatnya. Spivak mendiskusikan akademisi laki-laki yang membahas tradisi sati perempuan India kelas ekonomi bawah. Subaltern tidak diizinkan berbicara atas dirinya sendiri, melainkan selalu direpresi suaranya. 

Asri juga merekomendasikan buku "Empire Writes Back" karya Bill Ashcroft, Gareth Griffits, dan Helen Tiffin. Bahwa koloni mampu berbicara pada penjajah dengan berbagai strategi: menolak bahasa Inggris standar, menggunakan bahasa Inggris sebagai senjata untuk menyuarakan suaranya. 

Pendekatan poskolonialisme dalam kritik sastra terlibat dalam praktik diskursif. Ia mencermati karya dan medan budaya yang melingkupinya (penerbitan, penerjemahan, dst). Ia bisa membantu pembacaan dekat; membantu menghubungkan karya dengan kondisi politik, sosial, budaya; dan karya dibahas tak terbatas pada bentuk. Pemilihan lensa kritis kembali pada tujuan kritik, posisi karya, dan kegelisahan kita. 

SESI TANYA JAWAB:

1. Lukman Hakim: Terkait teori Spivak, kebetulan saya lulusan India, saya pernah beberapa kali Spivak di kelas saya. Yang diangkat Spivak tentang subaltern itu dari realitas India sendiri, di sana ada persoalan kasta. Termasuk satu, seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, maka janda yang ditinggalkan ikut membakarkan diri. Ini sudah dilarang tapi juga sebagian dilakukan. Perempuan itu makhluk yang dikurung, ngomong saja tidak boleh. Ia mengkritik dominasi patriarki yang luar biasa. Di Indonesia kasus pelecehan dan perkosaan tinggi, ketika melapor yang dipenjarakan justru perempuannya. Ada dokter di Kolkata yang mogok karena itu. Juga soal ingatan dan bahasa, ada yang ingin mengubah nama "India" dengan "Barat", kayak Belanda menyebut Indonesia itu Pribumi (merendahkan). Barat di sini dari Mahabarata, Biksu Tong melakukan perjalanan ke Barat bukan Barat versi arah angin sekarang, tapi Tanah Leluhur yang Mulia. Terus bicara kolonialisme, juga bicara geografi. Saya ditunjukkan peta dunia. Apa yang disebut Timur? Apa pun yang di luar Eropa. Sebenarnya orang Asia bagi Barat itu disebut India semua, termasuk Indonesia, itu dengan sebutan Hindia Belanda. Sehingga itu berdampak pada berbagai wilayah-wilayah atau nama-nama tempat di India. Ada politik ingatan yang dimainkan. Poskolonialisme itu gak cuma Barat-Timur tapi juga kesadaran yang dimainkan. 

Asri: Ada kritik lebih lanjut, yang Spivak bicarakan juga akademisi yang notabene bisa dipertanyakan akses perempuan mendapatkan ilmu bagaimana. Tidak hanya ranah gender, tapi juga kelas sosial. Baru para akademisi seperti Spivak yang bicara. Penjajahan bukan sekadar ambil SDA, tapi juga cara memahami dan memikirkan sesuatu (way of knowledge). Misalnya, rasa belum sah ketika tidak mengutip filsuf Barat. 

2. M. Fadhil: Apakah poskolonialisme bisa gugur dalam konsensus? 

Asri: Kalau memakai poskolonialisme, konstruksi sosial, pendekatan ini akan mempertanyakan konsensus itu sendiri. Misalnya, pekerja harus menandatangani sesuatu untuk bertahan hidup. Kita akan dikejar terus struktur kuasa yang berjalan. 

3. Asri membahas juga esai karya Dymussaga berjudul "Identitas dan Pengkhianatan: Membaca Poskolonialisme di Mata Kolonial". Dari esai itu, Asri memberikan dua pertanyaan: (1) Bagaimana pendekatan poskolonialisme membantu memahami cerita? (2) Apa yang luput ketika kritik berfokus pada pendekatan poskolonialisme? 

Ratih: Menjawab pertanyaan pertama, ada inkonsistensi orang Belanda dalam memandang tokoh yang di luar Belanda. Untuk bisa memahami cara pandang seperti itu, karena pakai pendekatan poskolonialisme, termasuk bagaimana si penulis menggambarkan alam sekitar seperti apa. Meromantisasi tapi juga mengkeramatkan situs-situs tertentu. 

Gladhys: Pertanyaan pertama, saya tumbuh membaca "Oeroeg", ketika besar dan belajar poskolonial dan dekolonial. Aku merasa sekali bagaimana naratornya menarasikan tokohnya secara pasif. Seolah narator itu mau paham, tapi gak paham dengan Oeroeg. Othering atau peliyanan di novel itu sangat kelihatan. Pertanyaan kedua, yang luput, kenapa tembok itu bisa sekontras itu dalam cerita Oeroeg? Kalau pakai poskolonialisme, mempertanyakan posisi politik penulis, bukan cuma objeknya. Yang ini akan berpengaruh pada karyanya. Poskolonialisme belum menjawab itu. Beda dengan dekolonialisme. 

4. Fadli Muslimin: Poskolonialisme kadang mengabaikan aspek kekerasan struktural. 

Asri: Berhubungan dengan Gladhys, memang ketika poskolonialisme hanya membedakan saya dan mereka, poin-poin lain tentang agensi, kesadaran yang disebut pengkhianatan, dll, sehingga mengabaikan hal-hal lain. Bhabha juga bahas mimikri dalam ruang ketiga. Copy meng-copy untuk membuktikan diri. 

5. Asri juga bertanya pada peserta, terhadap tulisan karya Gerson Poyk dalam cerpen "Matias Akankari". Bagaimana pendekatan poskolonialisme bisa digunakan untuk memahami cerita ini? Adakah pendekatan dan/atau kacamata kritis lain (maupun kombinasi perspektif) untuk menginterpretasi cerita? 

Mohammad Daffa: Dalam pembacaan saya, Matias digambarkan dengan terkagum-kagum melihat kota, bahkan dengan speaker. Matias bingung hidup di Jakarta ketika dia tak bisa berbahasa Indonesia. Naratornya tak bisa menggambarkan bagaimana Matias berkomunikasi dengan bahasanya sendiri. Seolah-olah Matias tak punya suara sendiri, padahal dia dikatakan buta bahasa Indonesia. Juga di akhirnya, yang ada di kampung halaman. Banyak yang senang dengan tarian Matias, karena melihat Matias sebagai sesuatu yang eksotik. Saya melihat endingnya, Matias berpikir pada akhirnya ketika kembali ke kampung halaman apa yang disebut high class di Jakarta itu sama saja dengan di kampung, sama-sama pakai cawat. Pertanyaan, kenapa negara mengambil kebijakan yang sama dengan apa yang dilakukan penjajah ketika dulu ada? Kenapa ada pikiran tentang primitif pada suku lain misal, padahal sama-sama dijajah? 

Asri: Kita melihat kuasa berlapis-lapis dalam cerpen Poyk. Bisa saja persentuhan dengan kolonialisme juga memberikan inspirasi, misal soal rasisme yang bertemu bentuk dengan ide, laku, dan gagasan lain. 

6. Ilda Karwayu: Narator di cerpen Poyk ini yang menggunakan pendekatan poskolonialisme, misal perjalanan dia dari Irian Barat ke Jakarta. Dari primitif atau yang dikuasai ke yang berkuasa. Termasuk fungsi ruang ibadah yang berfungsi sebagai tempat tidur. Meskipun tampak asing, tapi juga membuat diri sendiri itu superior. Jakarta di sini juga representasi sebagai Barat. 

Asri: Menarik, ini berhubungan dengan yang disampaikan Lukman Hakim. 

Daffa: Matias dibawa di Jakarta bukan karena keinginan sendiri, banyak kemungkinan, yang seolah-olah merepresentasikan sebagai Timur. Ada identitas yang dipaksakan. Pada akhirnya, Matias merasa tak nyaman karena dia punya identitas sendiri. Secara kebahasaan juga berbeda, yang membuat peristiwa ini jadi uncanny. Masalah inferior dan superior ini soal sudut pandang saja. 

Asri: Lepas dari orientalisme dan lawannya oksidentalisme, di Indonesia relasi kuasa ini tak hanya Barat-Timur, tapi juga pusat dan pinggiran. Lantas, pembaca siapa yang dituju? Dalam konteks cerpen Poyk, karena pembaca di Jakarta berbeda dengan pembaca di Papua. 

7. Dendi Madiya: Pendekatan poskolonialisme mendekatkan konteks sosial pada karya. Di cerpen Poyk, koteka malah seperti olok-olok, hanya Matias tidak melakukan perlawanan karena budaya hidupnya seperti itu. 

Asri: Itu poin yang saya pikirkan juga. Ada relasi kuasa antara Matias dan Jakarta. Juga si narator dengan apa yang disangkanya sebagai suatu yang primitif.

Senin, 04 Mei 2026

Tentang "Kober"

Sabtu lalu aku mendatangi acara Kober Memanggil. Kober di sini baru kuketahui adalah nama gang strategis di kawasan permukiman di Depok. Suatu hari, saat ngobrol dengan tetangga kosku, di dekat Museum Prasasti Jakarta, yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilo meter dari kos, ada daerah bernama Kober pula. Daerah ini terkenal angker, dan secara harfiah katanya kober itu artinya kuburan. 

Hari ini, aku bertemu dengan kata ini lagi dalam konteks yang berbeda. Di sebuah acara yang isinya para veteran yang anggotanya berusia lebih dari 60an tahun, salah satunya berkata dalam sebuah sambutan. Ada empat karakteristik seorang pemimpin: pinter, pener, bener, dan kober. Pinter itu syarat biar jadi sumber inspirasi. Pener itu taat hukum. Bener itu bersikap jujur. Kober itu, aku tak menyangka diartikan veteran berumur 76 tahun ini dengan makna peduli, respect, dan respons. 

Veteran ini Jawa tulen, aku langsung ingat juga percakapan di kampung dulu, kata "kober" diartikan memiliki waktu untuk melakukan sesuatu. Kalau ada yang bilang, "wis lah, ora kober", mengindikasikan jika orang ini tidak sempat, atau juga tidak mau. Bagiku cukup menarik juga ketika "kober" dimaknai dengan suatu respons dan kepedulian. Untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita, rasa-rasanya tiap hari adalah usaha untuk mengkober-koberkan sesuatu. Aku sepakat dengan veteran yang sebenarnya lebih suka ngarit dan berkebun di tegalan di masa tuanya ituitu bahwa makna "kober" itu perlu diuri-uri.

Kober dalam nama gang atau daerah di Depok, meskipun secara penulisan sama dengan kober yang dimaksud dalam pengertian si veteran, secara pengucapan berbeda di "e". Kalau secara lingustik namanya homograf, sama dengan kata "apel" (buah) yang diucapkan dengan e pepet /É™/. Lalu, "apel" (upacara) yang diucapkan dengan e taling /a/. Jawa lebih suka pakai pepet, sementara yang mode Depok, pakai mode taling. Pepet (ꦼ) dalam aksara Jawa sangat umum karena secara linguistik, tapi ini bahasan lain. Titik tekan tulisan ini adalah ingin menekankan tentang "kober" yang selaras dengan kepedulian.

Perpusnas Jakarta, 4 Mei 2026 

Minggu, 03 Mei 2026

Diskusi Buku "Oni Jouska" karya Asep Ardian

Diskusi buku "Oni Jouska" menghadirkan pembicara Evi Sri Rezeki dan penulisnya langsung Asep Ardian, dengan moderator Rafqi Sadikin. Diskusi membahas perspektif sastra, ekologi politik, hingga proses kreatif penulisan novel. Kegiatan berlangsung di The Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026.

Moderator Rafqi Sadikin melihat adanya kecenderungan alegoris dalam novel ini, mirip dengan Animal Farm. Ia menilai cerita tersebut dapat dibaca sebagai representasi masyarakat Indonesia, di mana kelompok kecil cenderung mengikuti yang lebih besar.

Pemaparan Evi Sri Rezeki

Evi membuka dengan menyampaikan bahwa Oni Jouska menarik setidaknya karena tiga hal utama.

Pertama, novel ini berbentuk fabel dengan tokoh utama ikan remora—pilihan yang tidak lazim dan memberi pengalaman membaca yang unik. Meski tipis, buku ini memberikan kesan yang menggetarkan sekaligus menyenangkan.

Novel ini juga menghadirkan kritik ekologi politik melalui sudut pandang non-manusia. Selama ini, isu kerusakan lingkungan cenderung dilihat dari perspektif manusia, sementara makhluk lain hanya menjadi latar. Dalam Oni Jouska, Asep menghadirkan “hidangan” tentang relasi ikan dan sampah laut—mengingatkan pembaca pada ironi bahwa manusia mengonsumsi ikan yang juga terpapar plastik, sering kali tanpa kesadaran.

Dalam kajian ekologi politik, relasi kuasa menjadi aspek penting, namun biasanya tetap berpusat pada manusia. Fabel dalam novel ini menjadi jembatan untuk menghadirkan perspektif alternatif: bagaimana jika dunia dilihat dari sudut pandang ikan?

Kedua, kesulitan dalam ekologi politik untuk menggambarkan “perasaan” makhluk non-manusia dijawab melalui pendekatan sastra. Fabel memungkinkan pembaca memahami emosi dan pengalaman ikan secara imajinatif.

Ketiga, novel ini bersifat reflektif. Jika fabel umumnya menyajikan pesan moral di akhir, Oni Jouska justru mengajak pembaca mempertanyakan hidup itu sendiri. Para tokohnya—ikan-ikan—bahkan tidak sepenuhnya tahu apa yang mereka cari dalam hidup, yang sekaligus merepresentasikan kondisi manusia.

Relasi kekuasaan juga tampak dalam interaksi antarklan dan bentuk simbiosis. Ikan remora sebagai makhluk kecil mampu bertahan dengan memanfaatkan kekuatan ikan besar—menjadi metafora kecerdikan dalam struktur sosial. Konflik diperkeruh oleh perilaku membuang sampah sembarangan.

Selain itu, novel ini kaya akan unsur mitos, kenabian, dan imajinasi. Misalnya, kisah ikan yang konon memakan nabi (mengacu pada cerita Nabi Yunus), serta mitos tentang dewa laut dan asal-usul hujan. Asep berhasil membangun mitologi baru dalam dunia ceritanya.

Evi juga menyoroti konsep “Jouska,” yang dalam psikologi merujuk pada dialog internal dengan diri sendiri. Jouska menjadi cara untuk memproses dan menjernihkan pikiran, serta menghadirkan pelajaran tentang empati dan simpati.

Ia membandingkan pengalaman membaca novel ini dengan nuansa serial SpongeBob SquarePants—tokoh Oni yang penuh pertanyaan seolah mengajak pembaca ikut “terjun” ke laut dan mengalami dialog batin tersebut.

Namun, Evi mencatat kelemahan pada penggambaran karakter yang cenderung hitam-putih.

Di sisi lain, novel ini juga terasa seperti membaca buku biologi karena dilengkapi ilustrasi dan deskripsi dunia laut. Pada bagian akhir, terdapat kemiripan dengan kisah Nabi Yunus, terutama pada motif “ditelan paus” dan refleksi spiritual yang menyertainya.

Secara keseluruhan, Evi melihat novel ini sebagai representasi perjalanan dari “nobody menjadi somebody,” yang memberi harapan sekaligus menunjukkan sisi marginal penulis.


Penjelasan Asep Ardian

Asep menjelaskan bahwa awalnya ia ingin menggunakan paus sebagai tokoh utama, tetapi setelah riset, ia menemukan ikan remora lebih relevan sebagai representasi diri.

Ia mengaitkan pilihan tersebut dengan pengalaman pribadi, termasuk fenomena “buntutisme” sejak masa sekolah—kecenderungan mengikuti kelompok tertentu demi terlihat kuat atau keren, yang justru ia anggap tidak menarik.

Menurutnya, novel ini juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam pola tersebut. Ia menekankan bahwa manusia memiliki pilihan dalam menentukan “simbiosis” atau relasi yang dijalani dalam hidup.

Dalam proses kreatif, Asep menyebut menulis bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kebiasaan. Ia menulis di sela aktivitas sehari-hari, bahkan di tempat berjualan. Ia mengibaratkan menulis fiksi seperti memasak: menggunakan bahan yang ada—pengalaman, ingatan, dan imajinasi—untuk diolah menjadi cerita.

Ia juga menyoroti bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek ekonomi, termasuk pedagang kecil dan nelayan. Dalam narasinya, “musuh” utama bukanlah sesama manusia secara horizontal, melainkan juga persoalan struktural (vertikal), seperti kebijakan.

Asep mengakui bahwa penulisan novel ini berangkat dari fase hidup yang suram. Interaksinya dengan lingkungan sekitar, termasuk laut dan isu sampah, membentuk gagasan cerita.

Ia juga menegaskan bahwa buku ini ditujukan untuk semua umur, dengan harapan pesannya dapat tersampaikan luas. Baginya, yang utama bukanlah figur penulis, melainkan gagasan dalam karya. “Pengkarya adalah wadah, karya adalah isi.”



Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan (Rayan):
Menyoroti kontradiksi antara kesadaran akan sampah dan praktik penggunaan plastik, termasuk dalam kehidupan sehari-hari seperti pedagang.

Jawaban Asep:
Ia menyatakan bahwa pengalaman hidup dan lingkungan membentuk kesadaran seseorang. Ia sendiri merasakan perubahan perspektif setelah sering melihat laut dan fenomena sampah, bahkan dalam hal kecil seperti penggunaan sabun. Ia menyebut perjuangannya masih terbatas, berbeda dengan gerakan langsung seperti Pandawara Group.

Tanggapan Evi:
Setiap orang memiliki peran dan cara masing-masing dalam berkontribusi. Sastra, termasuk "Oni Jouska", dapat menjadi medium untuk mengubah cara pandang masyarakat.

Penutup

Evi menutup dengan menegaskan bahwa setiap penulis memiliki proses yang berbeda—ada yang memulai dari karya, ada pula yang dari komunitas. Diskusi ini menunjukkan bahwa "Oni Jouska" bukan hanya karya sastra, tetapi juga ruang refleksi atas relasi manusia, lingkungan, dan diri sendiri.

Sabtu, 02 Mei 2026

Diskusi “Mitos dan Mimpi” – Kober Memanggil

Diskusi “Mitos dan Mimpi” telah terlaksana di Gramedia Margonda, Depok, pada Sabtu, 2 Mei 2026. Diskusi menghadirkan dua antropolog, Hestu Prahara dan Geger Riyanto, dengan moderator dari pihak Kober Memanggil. Tema utama yang dibahas adalah posisi mimpi dan mitos sebagai bentuk pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Pemaparan Hestu Prahara

Hestu memulai dengan menegaskan bahwa mimpi bukan sekadar “bunga tidur,” melainkan dapat dipahami sebagai teknologi untuk menavigasi hidup dan waktu. Mimpi tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Dalam banyak masyarakat adat, mimpi digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan—misalnya untuk menentukan masa tanam, pembukaan ladang, hingga relasi manusia dengan tanah dan lingkungan.

Dalam risetnya tentang kematian dan kesejahteraan, Hestu melihat bagaimana pengalaman manusia—termasuk mimpi—dapat menjadi sumber pengetahuan alternatif. Ia menekankan bahwa mimpi bisa menjadi bagian dari sistem pengetahuan yang sah, bukan sekadar fenomena psikologis.

Dalam praktiknya: Mimpi sering kali tidak diceritakan sembarangan. Ada otoritas sosial tertentu (misalnya ketua adat) yang menafsirkan mimpi. Mimpi dapat dinegosiasikan dan dimaknai secara kolektif.

Dengan demikian, mimpi bersifat cultural universal, tetapi cara memaknainya sangat bergantung pada konteks kosmologi masing-masing masyarakat. Selain itu, mimpi juga dapat dipahami sebagai respons terhadap trauma, sekaligus alat untuk membaca kemungkinan masa depan.

Hestu menambahkan bahwa pengalaman etnografi sering kali bersifat personal dan penuh kejadian “uncanny” (ganjil namun bermakna). Dalam praktiknya, batas antara hidup dan penelitian menjadi kabur. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari teori, tetapi juga dari pengalaman langsung dan perjumpaan tak terduga (serendipity). 

Pemaparan Geger Riyanto


Geger membahas mitos dengan pendekatan yang tidak hitam-putih. Menurutnya, mitos tidak bisa dilihat sekadar sebagai benar atau tidak benar, tetapi berada dalam “ruang antara”—di mana kepercayaan dan ketidakpercayaan bisa hadir bersamaan.

Ia mengibaratkan pengetahuan manusia seperti memiliki “kamar-kamar”, seperti ada kamar mitos, kamar mimpi, kamar empiris, dll. Semua kamar tersebut sama-sama valid dalam membentuk cara manusia memahami dunia.

Geger juga bercerita tentang penelitian disertasinya yang mengambil studi kasus: Mitos Siluman Ular di Maluku Dalam penelitian disertasinya (2018–2022) di Maluku, Geger menemukan mitos tentang siluman ular sebagai bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat, khususnya terkait komunitas migran Buton.

Tokoh seperti La Ode Una (yang digambarkan setengah manusia dan setengah ular) di Sulawesi Tenggara dipahami sebagai sosok “siluman,” tetapi di Maluku diposisikan sebagai nenek moyang. Mitos ini berfungsi sebagai: alat legitimasi identitas, dasar pengakuan sosial, bahkan berkaitan dengan klaim atas tanah. Dalam konteks Indonesia, di mana legitimasi kepemilikan sering terkait dengan “siapa yang lebih dahulu,” mitos menjadi instrumen penting untuk mendapatkan pengakuan.

Geger menekankan bahwa kekuatan mitos justru terletak pada sifatnya yang kontra-intuitif (tidak masuk akal). Hal-hal yang absurd cenderung lebih mudah diingat, menyebar, dan “menjajah” pikiran manusia. Ia juga mengaitkan motif ular dengan berbagai budaya, termasuk figur seperti Nyi Blorong dan bahkan karakter Nagini dalam semesta Harry Potter, yang menunjukkan pola serupa di berbagai wilayah.

Baik Hestu maupun Geger sepakat bahwa manusia tidak selalu berada pada posisi percaya atau tidak percaya secara mutlak. Ada kondisi “berayun”, di mana seseorang bisa sekaligus ragu dan percaya dalam waktu yang sama. Contoh yang diangkat: pengalaman melihat hal gaib, fenomena “ketindihan” saat tidur, interpretasi bentuk-bentuk visual yang ambigu.

Dalam situasi lapangan, seorang antropolog tidak bisa langsung menolak atau menerima, tetapi perlu memahami bagaimana pengalaman tersebut bermakna bagi pelakunya. 

Sesi Tanya Jawab (Ringkasan) 

1. Fungsi mitos dalam masyarakat: Pertanyaan menyoroti apakah mitos perlu dinilai benar atau salah, atau cukup dilihat dari fungsinya.

Geger menjawab bahwa mitos penting sebagai cara membaca kondisi manusia dan membantu pengambilan keputusan sosial. Ia memberi contoh petani tembakau di Lombok yang dihadapkan pada pilihan antara data ilmiah dan tafsir tradisional (dukun/peramal hujan).

2. Relasi antara tradisi dan modernitas: Pertanyaan lain menyoroti kecenderungan “mengilmiahkan” tradisi secara reduktif.

Diskusi menekankan bahwa sistem pengetahuan lokal seharusnya diposisikan setara, bukan lebih rendah dari ilmu modern.

3. Mitos dan perempuan: Mitos sering kali berkaitan dengan kontrol terhadap perempuan (misalnya dalam sejarah atau narasi tertentu).

Geger menegaskan bahwa mitos juga merefleksikan struktur kekuasaan, termasuk patriarki. Antropologi, pada akhirnya, harus peka terhadap ketimpangan dan cenderung berpihak pada kelompok yang rentan.

Diskusi juga menyinggung praktik lokal seperti: konsep sasi dalam menjaga laut, mitologi penjaga kebun, serta pengalaman keseharian yang membentuk etika dan batas sosial. Hal ini menunjukkan bahwa mitos dan mimpi memiliki dimensi praktis dalam menjaga tatanan sosial dan ekologis.

Penutup dan Refleksi

Bareng Mas Geger dan Neneng

Moderator menutup dengan menekankan bahwa tidak ada satu “pisau bedah” tunggal untuk memahami realitas. Pengetahuan bersifat jamak, dan forum lintas disiplin seperti ini menjadi ruang penting untuk memperluas cara pandang.

Salah satu refleksi menarik dari Geger sebagai “life hack”: Tidak apa-apa mengambil keputusan di mendekati titik akhir, karena semakin dekat dengan momen tersebut, variabel yang terlihat justru semakin jelas.

Sementara itu, Hestu menekankan bahwa menjadi antropolog berarti membuka diri pada pengalaman—karena belajar tidak selalu terpisah dari kehidupan sehari-hari.

Kamis, 23 April 2026

Catatan Buku "Balqis Mentality" karya Balqis Humaira

"If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles." Sun Tzu

 Pemikiran ini selalu terngiang-ngiang di diriku, dan pemaknaannya secara lebih mendalam telah aku dapatkan ketika membaca buku Balqis Mentality karya Balqis Humaira ini. Sampai kapan pun, jika kita tahu diri, tapi tidak tahu musuh, maka pertempuran apa pun punya peluang besar kita akan kalah. Dan, sebagian orang tidak tahu apa, siapa, musuh yang dimaksud itu. 

Kebanyakan orang ketika ditanyai musuhnya selalu dalam keadaan mengambang. Semisal, kamu tanya perempuan random yang berbicara soal feminisme di sebuah demo, jawaban itu tak kalah ngambangnya juga. Dia bisa jawab, musuhnya patriarki, laki-laki, pasar, atau perlu dirinya sendiri. Jika perempuan tidak tahu jelas siapa musuhnya, jatuhnya hanya pelarian, mereka marah tapi tersesat dan tak punya tujuan.

Balqis menjelaskan, musuh yang lebih jelas itu misalnya: "musuhnya adalah dirinya sendiri yang masih haus diperhatiin laki-laki." Secara lengkap: "Dia pikir musuhnya patriarki, padahal musuhnya adalah trauma yang gak pernah dia obati. Dia pikir musuhnya standar kecantikan, padahal musuhnya adalah ketakutan terlihat biasa saja. Perempuan sering mengalihkan perang ke luar, padahal perang terbesar mereka seharusnya ada di dalam." (36) See, ini internal dan subtil banget ladies, dan kita perlu mengakui itu.

Pengetahuan ini perlu dikenali betul agar tidak berakhir pada pertunjukkan luka yang gak selesai. Niatnya mau protes tapi malah nunjukin trauma sendiri. Biar lukanya gak mencari panggung. Jelas banget Balqis bilang, "Musuh perempuan yang sebenarnya cuma ada dua: 1. Ketidaksadaran diri; 2. kebodohan yang dia pelihara tanpa sengaja." Karena itu, jika hendak melawan, melawanlah dengan akal, punya arah, dan sadar. Harus tahu dulu musuhnya. Termasuk jika musuh itu keputusan-keputusan hidup yang dijalani tiap hari. Berhenti melawan pada yang tidak salah.

Ketika kesulitan menentukan musuh, perempuan juga kesulitan menentukan tanggung jawab. Padahal, tangung jawab ini berkaitan erat dengan kebebasan. Menurutku, tanpa tanggung jawab, tidak ada kebebasan. Maka benar ada salah satu tokoh yang aku lupa namanya bilang, patung liberti yang ada di USA itu perlu diimbangi dengan patung tanggung jawab di sisi lain agar seimbang. 

Aku membeli buku ini dengan tujuan yang sangat spesifik: Aku ingin tahu bagaimana mentalitas Balqis bekerja. Sebab inilah yang dia janjikan di dalam judul. Secara umum buku ini terdiri dari sembilan bab, yang terdiri dari: (1) Dunia yang Menjual Kekuranganmu, (2) Perempuan, Uang, dan Harga untuk Bahagia, (3) Harga Diri yang Dijual Kiloan, (4) Perempuan dan Luka yang Diturunkan, (5) Cinta yang Bikin Perempuan Bodoh, (6) Izin untuk Bahagia, (7) Tubuh, Pikiran, dan Diri yang Asli, (8) Revolusi Sunyi: Perempuan yang Selesai dengan Dirinya, (9) Epilog - Cukup adalah Perlawanan.

Kesanku setelah membaca, aku merasa Balqis, untuk rangkuman buku di awal-awal, lama-lama aku merasa tulisannya jadi mirip ChatGPT, tapi setelah masuk ke bab lain, jadi kembali ke gaya Balqis lagi. Dalam renungan di beberapa babnya, seperti di bab yang menjadikan kekurangan sebagai komoditas, aku mikir juga: Qis, gw jadi mikir ini terjadi juga di dunia sastra. Seolah gw jadi penulis sastra harus serba sempurna dulu. Bener kata lu Qis, "Kekurangan adalah sumber daya yang gak pernah habis." Lalu, "mengemas penderitaan jadi hiburan." Bagian ini kena banget sih.

Setelah baca buku ini aku juga mikir, sebegitu pentingnya uang buat perempuan ya Qis. Aku merasa tergugah dengan cerita perbandingan, perempuan yang diselingkuhi partnernya. Yang punya uang dia bisa healing di Bali, tapi yang gak punya uang cuma nyesek di kamar sambil kelaparan. Itu nyesek yang lebih nyesek sih. 

Overall, aku suka buku ini. Thanks Balqis. 

Judul: Balqis Mentality | Penulis: Balqis Humaira | Cetakan: Pertama, 2026 | Harga: Rp10.000 | Format: PDF | Link beli: https://lynk.id/balqisable/w45q1ym7ko4m 

KUTIPAN:

Kesadaran — bahwa keinginanmu buat “jadi lebih baik” sering kali bukan kebutuhan, tapi hasil didikan industri. (2)

Perempuan baru bisa memilih kalau dia punya daya beli... realitas pahit — perempuan kuat bukan karena kata-kata manis, tapi karena saldo yang cukup buat bilang tidak. (2)

Refleksi moral — bukan soal benar atau salah, tapi soal sadar siapa yang sebenernya ngatur pilihanmu. (2)

Penyembuhan dengan logika — bukan dengan air mata. Kesadaran bahwa ilmu dan berpikir kritis adalah obat paling spiritual. (3)

Jadi perempuan yang damai tanpa minta restu dunia. (3)

Dunia gak bisa ngontrol perempuan yang udah selesai dengan dirinya sendiri. (4)

Damai adalah bentuk tertinggi pemberontakan. (4)

Perempuan gak pernah dilatih buat cukup. Mereka dilatih buat memperbaiki diri, tanpa jeda, tanpa ujung. (4)

Pemulihan mental bisa diganti dengan kandungan niacinamide. Bahwa bahagia itu satu paket dengan bonus pouch edisi terbatas. (5)

Ke labirin yang sama: rasa gak cukup. (5)

Lebih dari 70 persen perempuan usia 18-30 di kota besar Indonesia merasa penampilannya “tidak ideal.” Itu bukan angka sepele. Itu artinya tujuh dari sepuluh perempuan bangun pagi dengan pikiran bahwa mereka belum pantas. Dan tiap kali mereka ngerasa begitu, dunia untung. (5)

Ada bagian dari diri perempuan yang ikut memelihara penyakit yang sama, karena tanpa sadar, mereka udah ketagihan perhatian. (5)

Algoritma kasih validasi dalam dosis kecil, cukup buat bikin nagih, tapi gak cukup buat bikin puas. Setiap notifikasi jadi candu. (6)

Jadi, ini bukan perang antara gender. Ini perang antara kesadaran melawan industri yang hidup dari kebodohan manusia. Dan selama manusia masih percaya bahwa nilai diri bisa ditingkatkan lewat belanja, perang ini gak akan berhenti. (6)

Bahagia gak dijual di toko mana pun dan perempuan udah keburu dilatih untuk cari kebahagiaan lewat barang. (6)

Semua orang pengen menonjol. Semua pengen jadi “yang paling.” Padahal jadi cukup itu juga bentuk kemenangan, cuma gak dijual di etalase mana pun. (7)

Ritual keagamaan baru: ibadah di depan kamera, kurban lewat tubuh sendiri. Kalau zaman dulu orang nyembah dewa, sekarang orang nyembah citra. (7)

Perempuan yang ngerasa cukup gak akan belanja banyak. (7)

Kalau semua perempuan tiba-tiba sadar bahwa mereka udah cukup, miliaran dolar di iklan kecantikan bakal hancur dalam semalam. (7) (Isma: Aku tiba-tiba kepikiran buat cerpen dari kalimat lu ini Qis)

Kebodohan yang dibungkus kebiasaan. (7)

Padahal kulit mereka udah sehat dari sononya, atau dari perawatan yang mahal, laser jutaan, klinik premium, nutrisi yang gak semua orang bisa akses, tapi ketika promosi, mereka bilang itu semua karena produk yang mereka pegang. Dan parahnya, perempuan percaya. (8) (Isma: Anjirlah)

Gue ngajak lo semua khususnya perempuan buat gak gampang disetir atau percaya, lo harus curiga biar gak rugi, lo boleh beli skincare yang dia jual, tapi minimal lo baca dan tau kalo itu emang kebutuhan buat wajah lo. (8)

Mereka tahu perempuan tidak membeli produk, mereka membeli harapan. Harapan untuk terlihat lebih cerah, lebih mulus, lebih glowing, lebih cantik, lebih ideal, lebih diterima. Dan harapan itu dijual lewat wajah influencer. (8)

Perempuan baik harus rapi. Perempuan sukses harus elegan. Perempuan berani harus tetap manis. Gak ada tempat buat perempuan yang biasa aja. (8)

Kesadaran tanpa tindakan cuma jadi bahan konten motivasi. Lo harus beneran ubah cara berpikir, bahkan di hal kecil. Waktu lo beli produk baru, tanya: gue beli karena gue butuh, atau karena gue pengen ngerasa lebih berharga? Waktu lo upload foto, tanya: gue pengen berbagi, atau pengen diakui? Waktu lo bandingin diri sama orang lain, tanya: gue pengen jadi dia, atau gue cuma lupa caranya nerima diri sendiri? (9)

Tapi kalau dijawab jujur, pelan-pelan lo bakal sadar: banyak yang lo kejar padahal sebenarnya gak perlu. (9)

Hargai tenangnya, pikirannya, sikapnya, hal-hal yang gak bisa difilter. Karena kalau lo bisa liat perempuan tanpa nunggu dia bersinar, lo udah bantu satu langkah kecil buat ngeruntuhin sistem yang nyiksa dia. (9)

Dia juga pengen memilih bahagia, tapi besok anaknya harus makan, dan di dompet cuma ada dua lembar lima puluh ribuan. (10) (Isma: Ngena banget kisah dua perempuan ini Qis)

Uang ngasih satu hal yang gak bisa dimiliki perempuan yg gak punya uang yaitu pilihan. (10)

Uang menentukan siapa yang bisa marah, siapa yang harus diam. Uang menentukan siapa yang bisa ninggalin, siapa yang harus bertahan. (10)

Uang adalah satu-satunya alat buat nolak. Lo gak bisa ngomong soal martabat kalau lo masih harus minta uang buat beli sabun. (10)

Ada sabar yang sebenarnya bentuk lain dari kemiskinan. (11) (Isma: Iya lagi Qis)

Uang bukan cuma bikin hidup nyaman, tapi bikin kepala jernih. (11) 

Kalau hidup perempuan itu ibarat permainan, maka uang adalah tombol “save progress.” Lo bisa jatuh, bisa disakiti, tapi selama lo punya uang, lo bisa mulai ulang. (12)

Banyak perempuan gak sadar bahwa ketenangan itu bisa dicicil. Bukan harus langsung kaya, tapi mulai dari keputusan kecil: punya uang atas nama sendiri. (13)

Padahal aman itu bukan soal punya orang, tapi punya pegangan... Kebebasan bukan urusan karakter, tapi akses... Kemandirian bukan cita-cita muluk. Itu survival kit.  (13)

Kerja itu bentuk doa yang paling konkret: doa buat punya pilihan. Karena di dunia yang sekejam ini, pilihan adalah bentuk paling nyata dari martabat. (13) (Isma: BENER BANGET!)

Punya arah itu lebih penting dari punya hasil. (13)

Cinta gak bisa jadi rencana keuangan. Dan kebahagiaan gak bisa diserahkan ke tangan orang lain, bahkan yang lo cintai... hubungan bertahan bukan cuma cinta, tapi keseimbangan kuasa. (14)

Karena yang bikin perempuan kuat bukan sabar, tapi sadar. Dan sadar itu butuh biaya. (14)

Kenapa banyak pernikahan berantakan? Bukan cuma karena dua orang gak cocok, tapi karena salah satunya masih percaya konsep “diselamatkan.” (15)

Kerja buat diri sendiri jauh lebih ringan daripada kerja buat hubungan yang nyiksa. (15)

Kalau lo miskin, kerja.
Kalau lo kosong, isi diri lo. (15)

Kesadaran bahwa hidup lo bukan proyek sosial yang harus diselamatkan orang lain... Kesadaran bahwa bahagia itu bukan hasil pembuktian, tapi hasil pemahaman bahwa lo berharga bahkan tanpa siapa pun di sebelah lo. (16)

Perempuan dulu dijual tanpa pilihan. Sekarang, banyak yang menjual dirinya dengan sadar. Bedanya tipis: dulu dipaksa, sekarang dipelajari. (17)

Pasar paling besar di dunia modern ini bukan saham, bukan kripto, tapi tubuh perempuan... wajah cantik bisa bikin lo viral dalam semalam. Dunia ngasih tepuk tangan lebih keras buat yang berani buka baju, daripada buat yang berani buka pikiran. (18) (Isma: Balqis, aku marah!)

Lo pernah liat gak, di kolom komentar sosmed perempuan yang berani tampil terbuka? Setengah isi komentarnya cowok-cowok haus validasi, sisanya perempuan-perempuan yang sibuk bilang, “ih murahan,” “malu dong jadi cewek,” “aku sih gak gitu.” Padahal kalau dikulik lebih dalam, yang ngetik kata “murahan” itu juga pernah berdiri di depan cermin, membenci tubuhnya sendiri karena gak sekencang tubuh yang dia hina tadi. (18-19)

Itu kenapa gue bilang, harga diri sekarang dijual kiloan. Bukan cuma di jalan, tapi di semua platform yang punya tombol upload. (19)

Karena perhatian bisa bikin orang waras jadi pengemis. Sekali lo ngerasa dicintai karena penampilan, lo bakal terus ngulangin trik yang sama, sampai lo gak tahu lagi di mana batas antara “gue” dan “konten gue.” (19)

Semua yang dijual di dunia ini, cepat atau lambat, akan jadi murah. (19)

Sadar bahwa tubuh lo bukan bukti eksistensi lo. Sadar bahwa lo bisa cantik tanpa harus disetujui publik. Sadar bahwa lo punya hak untuk gak dijadikan komoditas, bahkan oleh diri lo sendiri. (22)

Tapi lo harus bedain antara menggunakan platform dan dijadikan platform. Kalau lo yang ngatur isi konten lo, lo masih pemiliknya. Tapi kalau isi konten lo udah ngatur siapa lo harus jadi, lo udah jadi produknya. (22)

“Gue cukup, bahkan kalau gak ada yang liat.” (23)

Sesuatu yang lebih mahal dari apa pun di dunia ini: harga diri... Etalase yang paling sepi tapi paling mahal: kesadaran. (23)

Ada perempuan yang hidup bukan cuma dengan luka miliknya sendiri, tapi luka milik ibunya, neneknya, bahkan buyutnya. Luka-luka lama yang gak pernah dibereskan, cuma diturunkan. (23)

Banyak perempuan takut dicintai karena keluarganya penuh pertengkaran.... perempuan sering gak sadar bahwa cara mereka mencintai juga hasil warisan luka.  (24)

Kalau ibunya tersiksa tapi bertahan demi anak, itu harus disertai pengorbanan sampai tulang patah. Kalau ibunya takut kehilangan laki-laki, dia akan belajar bahwa cinta harus dijaga dengan ketakutan. Kalau ibunya selalu menunduk, dia akan pikir bahwa menunduk itu cara perempuan hidup yang benar. (24-25) (Isma: Nangis aku Balqis)

Bahkan ketika mereka gak suka dengan hidup ibunya, mereka tetap kepeleset ke pola yang sama... perempuan sering mewarisi luka, tapi jarang mewarisi cara untuk sembuh... Bagaimana perempuan bisa menang dalam permainan yang aturannya saling bertentangan? (25)

 Kita ini sering hidup dengan luka yang bukan milik kita. Bukan hasil keputusan kita, bukan hasil pilihan kita, tapi hasil panjang dari apa yang ibu kita alami, apa yang nenek kita telan, apa yang generasi sebelum kita tahan dalam diam. Tapi seberapa pun kuatnya luka itu diturunkan, ada satu hal yang selalu bisa menghentikannya: ilmu. (25-26)

Tapi ada juga perempuan yang jalan hidupnya jauh lebih terang bukan karena dia lebih cantik atau lebih beruntung, tapi karena dia memilih untuk mengisi hari-harinya dengan ilmu... Dia bukan hidup untuk mengulangi cerita ibunya. Dia hidup untuk menulis cerita baru. (26)

Anak ketiga beda. Dia belajar, dia baca, diia mengamati, dia gak buru-buru. Dia tahu apa yang dia mau, dia tahu apa yang gak boleh dia ulang, dia tahu luka ibunya bukan kewajiban dia untuk diteruskan. (26)

Perempuan yang punya ilmu, bukan cuma menemukan tipe laki-laki ideal, tapi juga menjadi perempuan yang pantas untuk tipe laki-laki ideal itu. (26)

Perempuan yang berilmu bisa memilih dari tempat yang jernih. Dan perempuan yang bisa memilih dari tempat yang jernih tidak akan pernah hidup sebagai replika dari ibunya... Dia bukan cuma siap menikah, tapi siap memilih siapa yang layak menikahinya... dia punya navigasi, dia punya arah, dia punya pemahaman. (27)

Ilmu adalah jalan keluar, ilmu adalah penjeda, ilmu adalah pagar, ilmu adalah pondasi, ilmu adalah penebas rantai luka yang turun tanpa henti. Perempuan yang belajar, menang. Perempuan yang gak belajar, mengulang. (28) (Isma: Persis yang aku alami Qis)

Perempuan sering punya satu kemampuan aneh: kemampuan untuk membela seseorang yang bahkan tidak berusaha mempertahankan dirinya...  perempuan sering pacaran sama versi imajinasi dari laki-laki itu, bukan sama laki-laki yang nyata... Dia jatuh cinta sama potensi, bukan karakter, bukan perilaku, bukan integritas. (28) (Isma: Najis gw Qis balik ke tipe cowok-cowok kek gini).

Perempuan harus paham: tubuh bukan alat tawar-menawar. Cinta sejati tidak pernah meminta tubuh sebagai syarat komitmen... perempuan memberikan terlalu banyak, dengan laki-laki yang memberi terlalu sedikit... Cinta yang sehat selalu bikin perempuan lebih besar, lebih tenang, lebih jelas, lebih berharga. (30)

Perempuan belum selesai dengan dirinya sendiri. Selama perempuan belum tahu nilai dirinya, dia akan menerima apa pun. Selama perempuan belum punya standar, dia akan jatuh ke pola yang sama. (31)

Butuh itu bikin lo nurunin standar, ngejar, ngemis, memaklumi, dan bertahan di hal-hal yang seharusnya lo tinggalkan sejak lama. (32)

Cara berhenti jadi bodoh dalam cinta dimulai dari sini: isi hidup lo dulu, baru tentukan siapa yang pantas masuk. (32)

Perempuan juga harus belajar membaca laki-laki dari pola, bukan dari momen manis, karena momen manis itu tipuan. Laki-laki bisa manis sehari, seminggu, sebulan. Tapi pola hidupnya gak bisa bohong... Cara dia marah, cara dia kecewa, cara dia mengelola konflik, cara dia ngobrol ketika lagi pusing, cara dia treat lo ketika dia gak dapat apa yang dia mau. (32)

Banyak perempuan merasa “disakiti,” padahal yang menyakiti dia bukan laki-laki itu, tapi ekspektasi liar yang dia tulis sendiri... membangun standar yang datang dari nilai diri, bukan dari luka. Standar yang lahir dari pengalaman, bukan ketakutan. Standar yang lahir dari visi hidup, bukan dari keinginan untuk tidak sendirian. (33)

Padahal perempuan yang tetap hidup, tetap belajar, tetap dibangun, tetap punya arah, akan tetap punya diri, meskipun hidupnya sedang hancur-hancuran. (34)

Banyak perempuan ngerasa mereka sedang melawan sesuatu yang besar, tapi kalau lo tanya, “Musuh lo siapa?” jawabannya mengambang. Kadang patriarki, kadang laki-laki, kadang mantan, kadang standar sosial, kadang agama, kadang keluarga, kadang diri sendiri. Padahal kalau lo melawan tanpa tahu musuh lo, yang lo lakukan bukan perlawanan. Itu pelarian. (35) (Isma: Anjay, ini bener banget Qis, kalau kita gak tahu musuh, sampai kapan pun lu bakal kalah.)

Perempuan yang benar-benar kuat gak perlu bilang dirinya kuat, kita bisa lihat dari cara dia hidup... Padahal kebebasan tanpa tanggung jawab bukan kemerdekaan. Itu kekacauan. (36)

Dan jangan lupa bagian paling pahit: perempuan gampang banget diprovokasi. Gampang kebakar isu, gampang teriak di komentar, gampang ikut gerakan viral tanpa paham konteks. Gampang merasa mewakili semua perempuan padahal dia cuma melampiaskan rasa sakitnya sendiri. (36)

Karena perlawanan yang terbesar dan paling penting bukan melawan dunia, tapi melawan kemalasan diri untuk tumbuh. (37)

Algoritma tidak punya etika. Tujuannya cuma satu: membuat lo kecanduan sampai lo kehilangan akal sehat. (38)

Kasus Lina Mukherjee: hidup lo belajar apa dari orang yang bahkan gak belajar dari hidupnya sendiri? ... Perempuan sering memilih panutan berdasarkan luka, bukan logika. (39)

Dunia ini tidak peduli sama lo. (Isma: Lu harus sadar bahwa gak akan ada yang jemput lu, dan lu akan selalu sendiri sampai lu mati.) (41)

Kesadaran bahwa keluarga tidak selalu bisa diandalkan, bahwa validasi tidak punya nilai, bahwa tubuh tidak bisa selamanya jadi modal, bahwa hubungan tidak selalu aman... kesadaran bahwa hidup tidak akan menunggu perempuan untuk siap. (42)

Perempuan utuh adalah perempuan yang menghargai dirinya bukan karena dunia memuji, tapi karena dia tahu dirinya layak dihormati. (42)

Yang menyelamatkan perempuan cuma satu hal: kesadaran untuk tidak mengkhianati dirinya sendiri. (43)

Hidup lo gak akan pernah lebih baik daripada orang-orang yang sekarang udah mulai belajar, ngisi otak, dan naikin kualitas diri. (43)

Gue sampai di titik ini bukan karena gue selalu benar. Gue sampai di titik ini karena gue gak pernah berhenti belajar, bahkan ketika hidup lagi kayak sampah. (44)

Karena kepalanya kosong. Dan hidup paling kejam sama orang yang kepalanya kosong. (44)

Lo harus belajar, bahkan kalau semua orang di sekitar lo berhenti. Belajar, bahkan kalau hidup lagi gak masuk akal. Belajar, bahkan kalau lo lagi gak punya tenaga. Belajar, bahkan kalau gak ada yang tepuk tangan. (45)

Mereka pakai pikiran untuk memahami hidup. Lo pakai pikiran untuk menghindari rasa sakit. (45)

Karena dunia ini gak punya kewajiban untuk baik pada lo. Dunia gak punya kewajiban untuk ngertiin lo. Dunia gak punya kewajiban untuk lembut sama lo. Satu-satunya yang punya kewajiban menyelamatkan lo adalah diri lo sendiri.  (45)

Jadi perempuan yang belajar sampai kepalanya terlalu kuat untuk dibodohi siapa pun. Itu adalah mentalitas yang akan membawa lo ke hidup yang tidak lagi ditentukan oleh siapa
pun. (46)