Sabtu, 15 Februari 2025

Diskusi Harlah 50 Tahun Arena: Persma Dulu, Kini, Nanti

LPM Arena menggelar perayaan 50 Tahun Arena bertema "Persma Hari Ini, Dulu, Nanti" di Convention Hall (CH) Lantai 2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu, 15 Februari 2025. Diskusi ini mendatangkan narasumber: Hairus Salim (Alumni Arena), Masduki (UII), dan Titah AW (Jurnalis Lepas); dengan penanggap Ach. Nurul Luthfi (LBH Jogja), Aji Bintang Nusantara (PU Arena 2023), Januardi Husin (AJI Jogja), dan dimoderatori oleh Atikah Nurul Ummah. 

Dalam sambutannya, Pimred Arena Maria Al-Zahra mengatakan, Persma punya sejarah yang panjang sejak zaman pergerakan. Bisa memanfaatkan kesempatan yang jarang ini untuk menggali ilmu kepada narasumber.

Narasumber pertama Hairus Salim menceritakan, dia masuk Arena 1989, juga ada Pak Tri tamu dari UNAS. Dia bikin selebaran independen. Persma hubungannya dekat sekali dengan gerakan politik, founding fathers kita mantan aktivis pers mahasiswa, bukan yang resmi dikelola kampus. Tapi mereka bikin media yang tujuannya macam-macam untuk mengkritik gerakan politik. Dia beruntung masuk Arena, masuk gerakan intelektual di UIN, karena pers umum hampir tak bisa bergerak, ada kontrol SIUP. Pers mahasiswa yang banyak menyuarakan kritik sosial, termasuk Arena. Ketika dirinya bergabung, seluruh organisasi intra kampus sedang dibekukan. Seluruh DEMA saat itu memprotes NKK/BKK, kemudian pemerintah membekukan seluruh gerakan ekstra kampus, ditaruh keluar. Yang intra juga demikian, karena selalu mengorganisir gerakan. Hanya satu gerakan yang saat itu hidup, pers mahasiswa.

Saat itu, ada istilah poros Jogja dan poros Jakarta. Ada juga kelompok diskusi (Keldis), poros tersebut salah satu pertemuan pentingnya ada di Arena. Salah satu investigasi penting yang dibikin Arena adalah soal Waduk Kedungombo, ini gusur rumah penduduk dan banyak utang. Ini bisa dibaca di disertasi George Aditjondro. "Arena kemudian menjadi katalisator gerakan," katanya.

Di Arena unik, di sana ada langganan koran. Arena juga terlibat di belakang protes. Ada anggapan di pers itu belajar, ada juga aliran profesional (netral, cover both sides, dan tak boleh demo), tapi Arena beda, pers mahasiswa harus berpihak, menjadi bagian dari demokratisasi, menjadi bagian dari gerakan mahasiswa.

Di UIN juga ada perpustakaan yang peminjaman buku Pram tinggi. Ada pula Perpustakaan Hatta, tanahnya milik UGM, bukunya milik kakek Prabowo. Perpustakaan ini berlangganan hampir semua koran. Di sana ada diskusi tiap Sabtu juga, dan ada snacknya juga. Banyak buku dari berbagai bahasa. "Hampir tiap sore saya menghabiskan waktu di sana, baca-baca," ujarnya.

Di sana juga banyak aktivis mahasiswa. Kondisi UIN dulu mirip bangunan Sadhar yang ada pohon beringin, dan gedung Balairung dulu.

Zaman Hairus, timnya bahas isu majalah, "Gurita Kekayaan Keluarga Soeharto". Saat itu ujian juga dibatalkan karena mengelem pintu, sampai tiga hari. Brimob mengingatkan. Teman-teman ngeri karena dilempar di truk. Sejak itu timnya gak boleh mimpin Arena, menghilang dari gerakan, di tahun ketujuh fokus skripsi. Kata senior itu terlalu cepat kuliah, Imam Aziz dulu 14 tahun. Durasi ini membuat stamina gerakan dan mahasiswa jadi sangat panjang. "Lalu saya buat LKiS," tambahnya.

Di era 94, Orba semakin keras, Tempo, Detik, dan Editor dibredel. Kemudian dibentuklah AJI, kongres pertama di Jogja, panitianya termasuk Hairus, yang dulu jadi sekretaris. Kongres dilakukan di Sadhar. AJI Jogja berdiri setelah AJI Jakarta. Saat itu pers resmi takut, terutama orang yang sudah berkeluarga. Orang yang melawan pasti dibredel. "Yang paling penting, Arena itu nafas gerakan mahasiswa," ungkapnya.

Antara gerakan mahasiswa, gerakan keras, tapi karena UIN Islam, ada operasi meradikalisasi Arena dan KMPD untuk jadi kiri dengan mensuplai buku-buku. Tapi kurang begitu berhasil, karena UIN basisnya Islam. "Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Kalaupun yang berdiri senior kalian (jadi rezim gak benar), hantam saja," tandasnya.

Narasumber kedua Titah AW menyampaikan, dirinya kuliah di UGM tahun 2012, tapi gak sempat masuk Persma. Tapi waktu itu dirinya dan kawan-kawan bikin WarningMagz, bahas musik, budaya, dan politik juga.

Bercerita tentang jurnalisme masa kini, sebagai jurnalis, perempuan, disabilitas visual, dan kelas menengah cenderung ke bawah. Jurnalisme banyak spektrumnya dan lintasannya. Dulu Titah pernah kerja di Vice, masih semester tujuh, dia masuk ke jejaring jurnalis lepas di Jakarta. Momen itu menjerumuskan Titah ke kerja kontributor. Setelah direfleksikan, dia punya trust issues yang besar pada media di Indonesia. Dulu dia bercerita pengen kerja di Rolling Stones Indonesia dan Hai, tapi saat itu tutup. Di Tirto juga pengen masuk tapi ada kabar-kabar itu media mau bangkrut.

Ancaman ketidakpastian dihadapi di mana pun. Terbiasa dengan ketidakpastian membuatnya dia pertahan menjadi jurnalis lepas. Di media juga mesti ikut editor, secara kedekatan aktor dan isu, membuatnya jadi jurnalis lepas. Karena kebebasan itu penting, nulis yang dia suka, dengan ritmenya sendiri. Juga ada ritme di media nulis sekian judul berita per hari. "Itu melelahkan," katanya.

Sebagai jurnalis tetap banyak tantangan, tapi juga jurnalis lepas banyak tantangan. Sehingga, bagi Titah, kerja jurnalis tak memberi kepastian, dia juga punya side jobs, seperti jadi penulis, bantuin seniman, dll. Di sini punya kesempatan untuk bangun wacana kita sendiri di tengah kekeosan. Kalau waktu habis mengurusi survival, lelah, dia juga punya satu scope isu dan temanya itu-itu terus. Dengan cara seperti ini, pembaca akan lebih mengenali hal ini ditulis siapa. Di situ juga punya ruang belajar, dia milih scope ekologi, tradisi, sains, hantu-hantu, dll, hingga dia menemukan skena-skena lain. "Aku memilih tidak mau nulis daycare atau politik praktis, itu penting, tapi aku milih tidak," ujarnya.

Ini menunjukkan ekosistem media di Indonesia itu tidak ideal. Dia sudah tak punya waktu untuk memikirkan menjadi jurnalis lepas. Meskipun ada juga harapan atau kemungkinan yang bisa dilakukan, apalagi dalam konteks Persma. Saat bergabung di WarningMagz, Persma moment penting ketika bisa bereksperimen, secara skill, gagasan, relasi, strategi, pengennya apa, dll. "Persma itu waktu untuk bereksperimen. Cuma di Persma bisa praktik jurnalis tanpa banyak tuntutan ketika jadi jurnalis profesional, ada batas-batas sepanjang di pekerjaan. Persma jadi ruang bebas untuk bereksperimen," ceritanya.

Ketika ditanya arah jurnalisme saat ini, Titah mengimajinasikan suatu hari, ketika jurnalis tak dilekati oleh stereotip tertentu. Misal, pakai flanel, bisa semua, banyak pengetahuan, serius, apalagi untuk jurnalis perempuan. Bagi teman-teman di Persma, beranilah jadi diri sendiri, dia intersectional. Menciptakan ruang dialog antar publik ilmuan, dan pembuat kebijakan (policy makers). Produk jurnalisme harus punya ruang itu. Jurnlis tak cuma fokus ke sospol tapi juga jurnalisme lain, sehingga kontennya beragam. "Interseksionalitas jadi sangat penting. Ketika di Persma, plis pakai waktu itu untuk bereksperimen," ujarnya.

Pembicara Masduki dari UII berujar, sekarang sulit menemukan Persma yang umurnya sampai 50 tahun dan hidup di tiga zaman (Orba, Reformasi, Digital). Ekosistem berubah termasuk ekosistem Perguruan Tinggi. Momen ini perayaan panjang umur gerakan mahasiswa, ketika Arena ini masih eksis. Membaca Persma sebagai underground, melalui distribusi yang sifatnya ilegal, membaca jadi suatu hal yang mewah. Pers umum jadi critical ideology dari Persma.

Berbicara tentang sustainability di era digital, yang penting adalah quality journalism di tengah logika algoritma, konglomerasi media, rezim clicks, bukan berbasis minat. Kelahiran Meta (IG, FB, YT) dengan ideologi pasar bebas, ada berita fast news, dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa dilakukan oleh pers. "Alhamdulillah Arena masih eksis," katanya.

Saat ini di zaman hybrid, Perguruan Tinggi keagamaan lebih represif ketimbang teman-teman di PTN, ini menarik diteliti. Ada pendekatan baru dalam mengungkapkan isu kepublikan di kampus. Edisi 50 Tahun, muncul tanah ideologi yang dikupas. Arena selain Balairung dan Himmah bagian dari perubahan politik. Masduki juga menulis tulisan "Persma dalam Bingkai Gerakan Mahasiswa".

Dulu kantor Arena dekat masjid, sekarang agak jauh dari masjid. Ini juga lumayan ngaruh. Ketika anak Persma jadi akademisi ini akan mempengaruhi mahasiswanya. Arena tantangannya bagaimana menjadi pendulum intelektualisme kampus, yang menjadi pilar kewarasan di tengah gelombang pragmatisme, baik dosen-dosen maupun  mahasiswanya.

Sesi selanjutnya adalah tanggapan.

Januardi Husain menanggapi, dirinya menganggap Arena sebagai rumah tak berpintu. Dia masuk Arena tahun 2010, kerja di JPNN dan jadi Ketua AJI Jogja. Yang dirinya suka dari Arena dan AJI itu semangat egalitarian, senior itu lebih menghargai peran mereka. Dirinya belajar banyak dengan teman-teman di Arena. Di Arena mengajarkan dia berbagai ilmu sosial, tongkrongan dia bukan di kantin barat, tapi di kantin dakwah. Karena di sini dia punya kedekatan emosional. "Selamanya saya berhutang budi pada teman-teman di Arena," ucapnya.

Berbicara jurnalisme hari ini sebagaimana diceritakan Titah AW, menjaga kewarasan itu susah sekarang di jurnalistik. Ketika melihat Persma hari ini berbeda sekali, karena tantangan lebih kompleks. Beberapa faktornya: biaya kuliah mahal, karena gagal mengawal UKT. Ketika dia kuliah tahun 2010, SPP masih 600 ribu, ini pun berkali-kali ditolak. Di pertigaan UIN yang disebut Pertigaan Revolusi itu diprotes. Gerakan mahasiswa sekarang cenderung pragmatis karena biaya kuliah sangat mahal, dan ini berlaku di semua kampus negeri. "Enggan mengulang romantisme masa lalu yang kuliahnya lama," ujarnya.

Ketika jadi jurnalis di Jakarta, dia masuk AJI karena semangat yang sama. AJI menganggap jurnalis harus terlibat dalam gerakan sosial. Kalau kewarasan berekspresi tidak dijaga, akan kehilangan independensi. Tanda-tanda ini tampak, kalau kemarin ramai Revisi UU Penyiaran, ada pasal pelarangan investigasi ini lucu sekali. AJI 13 tahun mengawal RUU Penyiaran, entah kenapa draf itu tiba-tiba ada. Usaha-usaha yang saat ini muncul, kebebasan pers sedang berusaha diotak-atik rezim. Merevisi UU Pers di kondisi saat ini juga kurang bijak. "Kita udah dicukup keras dengan adanya UU ITE," tambahnya.

Januardi melanjutkan, yang disampaikan Titah AW mencerminkan kondisi pers saat ini. Tantangannya bukan lagi pembredelan, para petingginya, penjara, dll, tapi pendekatan yang membuat media massa saat ini melakukan self-sensorship. Media melakukan pembredelan diri sendiri secara halus. Di ruang redaksi yang dipikirkan, bagaimana mendapatkan pendapatan yang signifikan di perusahaan. Semakin banyak pembaca, semakin baik nilainya di mata perusahaan. Juga adanya peraturan yang membuat berputar otak, banyak efisiensi dan PHK dilakukan. Dominasi platform digital saat ini memiliki peran domininan menentukan arah redaksi. Bukan sejauh mana berita penting, tapi bagaimana dia viral. Ini ironi ketika jurnalis bekerja di media saat ini. "Kasta tertinggi atau karir tertinggi bukan jadi pemimpin redaksi, tapi jurnalis freelance. Pimred pun dituntut bagaimana artikel berkontribusi pada pemasukan media massa. Kita mengenal pagar api tapi itu yang dilanggar," ungkapnya.

Ruang-ruang redaksi sekarang menjadi sumir. Perusahaan dan redaksi harusnya lidah, sekarang gak ada lagi garis kalau ada tipis sekali. Membuat berita belasan dalam sehari ini kadang tak masuk akal, mutu akan buruk sekali, jauh dari yang diidealkan. Karier jurnalis freelance, bisa jaga kewarasan berpikir, yang mengedepankan hati nurani. Bagaimana menjaga hati nurani bisa hidup. Persma juga masih waras di tengah media yang kritis. Ada upaya dari rezim menurunkan derajat jurnalistik saat ini, dengan label diinformasi yang keliru.

Sebenarnya berita hoax itu gak ada, karena berita itu disiplinnya kuat. Dulu di Jogja ada liputan yang menerobos etika, Arena jangan terjebak pada positivity toxic. Juga mitos profesionalisme, jurnalis gak boleh bangun masyarakat yang berdaya, ada kasus pembredelan Suara USU, kampus fi IAIN Ambon, di Surabaya juga, kampus yang harusnya punya pandangan clear, malah merepresi. "Sama-sama merawat kewarasan dan demokrasi," ungkap dia.

Juju bertanya pada Hairus, bagaimana dulu aktivis Persma mengartikan produktivitas? Karena dulu majalah Arena sangat ditunggu. Kepada Adi, peran apa yang dilakukan pers mahasiswa di landscape kondisi Indonesia saat ini. Pertanyaan untuk Titah, bagaimana menjadi jurnalis freelance yang masih tetap survive?

Rektor UIN Suka Noorhaidi Hasan yang datang di acara tersebut menyampaikan selamat 50 tahun, semoga memberikan berkah. Saat kuliah 90-94 di sini, dia melihat Arena sangat berjaya, di tengah cengkeraman Orba. Di mana media mainstream belum berani, Arena mengambil inisiatif. Arena punya peran besar dalam melawan otoritarianisme. Selamat tengah menempuh kehidupan yang panjang. Hari ini hari yang membahagiakan, media mainstream, meski berada di media senja yang banyak citizen journalism, yang akhirnya membuat banyak dari kita tak baca koran. Empat hari lalu, Noorhaidi kedatangan orang-orang dari MetroTV, diskusi soal media menghadapi berbagai tantangan dan era disrupsi. "Ini tantangan untuk teman-teman Arena juga bagaimana menjadi tetap relevan di masa sekarang," ungkapnya.

Termasuk hari ini bagaimana soal efisiensi anggaran, termasuk anggaran Badan Layanan Umum (BLU). Tak ada sistem sistemik yang proper untuk melawan. Ini realitas politik paling nyata, padahal ingin memberi yang terbaik bagi mahasiswa. Bagaimana teman-teman Arena mereposisi ulang di tengah kondisi lokal, nasional, dan global. Bagaimana menghadapi perubahan food chains, kemiskinan, ketimpangan, dll. Sehingga Arena memberi pencerahan bagi bangsa. "Semoga Tuhan YME memberkahi Arena," ucapnya.

Penanggap kedua Arena, Ach. Nurul Luthfi menyampaikan selamat untuk Arena ke-50 tahun. Di Arena ada slogan, "Kancah Pemikiran Alternatif", logonya juga orang bingung, Arena kenapa ada kata alternatif? Ketika dicoba refleksikan, alternatif dalam hal berpikirnya atau gerakannya. Dia memperdalam kembali pengertian alternatif. Kata alternatif menjadi slogan, dengan trilogi Arena "membaca, diskusi, menulis", kuliahnya tak di UIN, tapi di Arena. Kantor Arena aktif sore sampai malam, tapi prosesnya, Arena sering berhadapan dengan satpam. Kebebasan Arena di kampus juga dibutuhkan.

Berkaitan dengan tantangan Persma, Arena menjalani banyak masa, gerakannya akan beda dengan dulu. "Arena ini alternatif ketika dia menjadi satu-satunya Persma yang menjadi katalisator gerakan," ungkapnya.

Pembacaan bukan soal apa, tapi berpihak kemana? Akhirnya, ditemukan kata alternatif, yang membedakan dengan Persma dan media lain, karena punya pendekatan yang berbeda. Kualitas persma menurutnya ada tiga, pertama, keberpihakan. Kedua, bagaimana penyajian datanya. Ketiga, platformnya. Harapannya, Arena alternatif bisa dimaknai kembali, khususnya di UIN Suka, Arena jadi oposisi permanen sejak pikiran hingga tindakan. 

Penanggap terakhir, Aji Bintang Nusantara mengatakan, Arena 50 tahun bukan angka kecil. Dia tak sadar jika usia sudah setua ini. Dia tergelitik dengan ucapan Masduki, soal usia Arena yang ke-50 tahun. Saat masuk Arena tahun 2020, dia masuk UIN karena pengen masuk Arena. Sebenarnya dia bosan mendengar pembredelan, Arena sekarang terbebani dengan sejarah yang besar, menginisiasi ini dan itu. Waktu itu pandemi Covid-19 cukup berat. Membaca sejarah Arena dulu dan saat ini jauh sekali, dan mengejar ketertinggalan itu dengan tertatih-tatih. Setuju dengan Januardi biaya kuliah yang mahal juga menghambat.

Di sisi lain, mahasiswa juga pragmatis, juga ada yang gak kenal Arena. Teman saya ada yang nanya, "Arena itu UKM futsal ya?"

Menurut Aji, ada empat masa: Orba, Reformasi, Digital, dan Pasca-Covid19. Ada moment mengorganisir PTKI Persma, yang dihadiri oleh Pemimpin Umum (PU), ternyata di sana mengkonsolidasikan gerakan juga masih susah. Ini yang membuat Arena perlu merefleksikan hal yang alternatif. Bagaimana Arena menjadi motor gerakan hari ini. Hal ini jadi persoalan besar. "Gimana Persma hari ini menciptakan kesadaran kolektif?" tanyanya kepada para mahasiswa.

Sesi tanggapan dari narasumber dari pertanyaan penanggap, Titah mengatakan, untuk survive dia mengusahakan berbagai hal, di antaranya slow journalism, yang udah banyak dipraktikkan. Misal tulisan butterfly effects ini dikerjakan 6 bulan. Dia juga meminta institusi lain seperti pendanaan Pulitzer. Juga side jobs dengan tenggat jurnalisme seminggu atau dua minggu.

Dia juga sadar tengah membangun branding. Di eranya penting mengusahakan tulisannya dibaca publik, dan tidak dipublikasikan baik. Bagaimana mempromosikan tulisan dibaca publik di media sosial. Jika nge-keep tulisa intelektual, orang gak mau baca itu. Mau gak mau ada tugas, ada tulisan ini dan kalian perlu baca. Juga berserikat itu penting, karena praktiknya masih susah. Sekarang yang dueable dengan cara berjejaring, dengan NGO, scientists, masyarakat lokal, dll. Ketika ini dibawa ke jurnalisme, ini akan jadi sesuatu yang baru. Berkenalan dengan sebanyak mungkin orang, agar yang kita bawa ke "meja" tak sama dengan orang lain. Mengambil isu dan angle yang berbeda. Pekerjaan Titah selalu menulis dan storytelling, tapi output-nya bisa beda-beda. Yang bisa dilakukan Persma, bagaimana membuat mahasiswa bisa membaca, bagaimana membuat tulisan megah kita tetap menarik bagi orang paling awam sekali pun.

Tanggapan dari Hairus, Persma bagian tak terpisahkan dari gerakan mahasiswa. Bagaimana Arena bikin sejarahnya sendiri itu penting. Pada masanya, banyak mahasiswa itu kelas menengah ke bawah dan mudah untuk dikompori. Perjuangan adalah memperjuangkan dirinya sendiri. Sekarang style-nya beda, memperjuangkan UKT tapi bahasnya di kafe. Dulu di kos cukup pakai kapal api dan gorengan, ini pertanyaan serius.

Saat dirinya jadi Sekretaris AJI, salah satu jawaban, bagaimana menjadikan wartawan sebagai intelektual seperti Mochtar Lubis dan Mahbub Junaidi. Dia menceritakan cita-citanya jadi jurnalis, di Tempo dan Kompas. Sekarang bahkan bahasa Indonesianya saja belum benar. Jika ingin jadi jurnalis yang dibutuhkan dua: kemampuan kapasitas individu, serta komitmen moral dan sosial. Jurnalis ini tidak mungkin jika tidak membaca, saat itu Hairus membaca di Perpustakaan Hatta dari sore sampai malam. Setahun investasi bacaan. Dulu juga pernah menulis untuk menghidupi juga. Misal nulis tiap hari untuk Mojok dan jadi buku. "Investasi bacaan harus kalian pupuk dari sekarang, kalau enggak ya enggak. Kalian bisa beli banyak buku tapi gak bisa beli waktu membaca," ujarnya.

Selanjutnya, Hairus bingung mendalami masalah, ada senior yang merekomendasikan membaca filsafat, untuk mahami masalah dan tulisan runtut. Ketiga ada problem tidak bisa berbahasa Inggris, lalu belajar otodidak belajar teks Inggris. Diterjemahkan dan dibolak-balik, satu tahun meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Pada saat yang sama, tingkatkan kapasitas individu. "Kalian jadi pengkritik yang baik kalau kalian cerdas. Kalau ada di level memahami filsafat moral, etika publik, dan lain-lain, di sana akan meningkatkan kapasitas moral dengan basis yang jelas," ungkapnya.

Karena ada kawan yang konfrontatif pengen kayak Karl Marx, tapi tak tahu Karl Marx bagaimana, pokoknya seperti Karl Marx. Kemampuan peningkatan kapasitas ini yang sekarang kurang, karena kondisinya sudah berbeda. "Ketika kapasitas individual oke, kapasitas moral dan sosial mengikuti," tandasnya.

Tanggapan narasumber Masduki menyampaikan, Arena perlu menjadikan sejarah sebagai modal sosial, karena ini akan membangun karakter. Misal Tempo itu media investigator dan ini terus berlanjut. Ketika Persma Arena usianya lima tahun juga akan beda dengan 50 tahun. Praktik mahasiswa juga organik. Kemudian, modal sosial lain yang penting adalah konten. Bagaimana Arena mengadvokasi dan mengontrol (watch dog), ini yang harus dirawat terus. Bagaimana misal di Kedungombo diorientasikan hari ini. Di tangan pers umum punya ketentuan sendiri, Persma dituntut punya jurnalisme yang mendalam. Tak mesti setiap minggu, tapi ngikuti konteks yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Misal bagaimana ketika mengkritik mahasiswa mengalami represi, tapi tak dapat jurnalisme mendalam tentang UKT. "Dia relevan bagi situasi Perguruan tinggi, situasi terkini, demokrasi, dan sejalan dengan jurnalisme advokasi," ujarnya.

Sehingga, critical analysis ini sangat penting. Masduki merasa telat ketika belajar Filsafat telah terlambat ketika S3 di Jerman. Tapi memang tantangan berbeda, jika dulu setiap beberapa meter ada perpustakaan, sekarang ada mall. 

Sesi tanggapan dan tanya jawab:

Pak Tri Agus Susanto menanggapi, sebagaimana yang disampaikan Hairus Salim, dia dulu aktif di Didaktika, yang terkenal alumni Didaktika sekarang, Virdika Risky Utama. Ketika teman-teman Didaktika mampir ke Aren, Didaktika main ke APMD. Di kampus-kampus, pelopor gerakan itu Persma. Dulu ada Ukhuwwah Persyiah, persahabatan jejaring Persma lintas kampus. Tahun 98 puncak panjang gerakan Persma. Setelah hiruk pikuk 98, tak dengar Persma ini ironi. "Untuk teman-teman Arena selamat ulang tahun."

Ketika aktivis Persma kerja di dunia profesional, nuansanya masih tetap. Ini contohnya, ketika aktivis berkumpul di UGM, ada aktivis IPT, tiba-tiba di UGM dilarang, teman-teman telepon Tri, hingga akhirnya pindah di APMD (tempat Tri bekerja). Amatan dari tentara bilang, jika di sini seminggu lalu kumpul-kumpul orang-orang PKI. Termasuk juga pas di hari HAM, saat UIN gak bisa, APMD bisa.

Rifki dari UNY (skripsinya terkait AJI), menanyakan kenapa kualitas Persma dan organisasi gerakan  turun? Dari amatannya, karena pergeseran parpol yang pragmatis. Hal ini turun ke politik kampus, bagaimana organisasi mahasiswa mempengaruhi kualitas di kampus. Memunculkan gimana cara cari kursi dan kekuasaan, orientasi bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Persma perlu ideologi yang harus dijaga. Bagaimana pendapat narasumber tentang hal ini? Adakah secercah harapan.

Tanggapan dari Hairus, pragmatisme memang dihadapi di banyak tempat. Dulu itu ada keracunan Paulo Freire, di mana banyak mahasiswa terpengaruh karena bacaan. Proses pragmatisme terjadi di mana-mana, ketika baca tulisan Edward Said, bagaimana tahun 70an awal, intelektual mulai dibatasi perannya dengan memberi banyak beban administrasi. Ini juga terjadi di Indonesia. Dulu pusat intelektual ada Tempo, Kompas, LP3ES, dll. Intelektual zaman itu banyak yang selesai kuliah, misal GM, Gus Dur, Emha Ainun banyak yang kuliahnya tak selesai.

Ada proses profesionlisme yang luar biasa terjadi. Yang duduk di lembaga harus punya titel. Di UIN juga harus doktor semua. Proses penaklukan selesai semua, sehingga akademisi dan mahasiswa gak punya pilihan lain. Pun saat seleksi dosen, ditanya gak kenal ini dan itu. Kenapa perlu menjaga akal sehat di kampus. "Kalian akan jadi minoritas, tapi kalian yang akan didengar dan dibaca. Jadi intelektual ini memang bunuh diri kelas, ini gak disarankan pun orang yang tak kuat akan mundur dengan sendirinya. Ini tanggungjawab etis dan historis baik secara individual dan kolektif," ujarnya.

Hairus menambahkan, Eko Sulistianto pernah nulis skripsi tentang Arena. Bisa dikontak untuk diminta skripsinya.

Masduki menambahkan, komitmen terhadap ideologi ini yang harus dijaga. Kalau tak mempertahankan ini selesai. Untuk dosen misal, ada tulisan kenapa dosen mendukung otoritarianisme? Dosen sekarang lebih ke CEO daripada harus baca buku apa. Tuntutan bukan pada regularity, tapi pada engagement dan advokasinya.

Sebagai penegasan: Persma tak lepas dari gerakan, yang harusnya bisa jaga nilai-nilai jurnalisme yang ada.

Jogja, 15 Februari 2025

Jumat, 24 Januari 2025

Hidup

Let everything happen to you: Beauty and terror. Just keep going. No feeling is final.

(Rainer Maria Rilke, 1875-1926)


Hidup bukanlah

sebuah tangga untuk dinaiki
sebuah teka-teki untuk dipecahkan
sebuah kunci untuk menemukan suatu capaian tujuan
sebuah masalah untuk dipecahkan

Hidup itu
"Suatu kenyataan untuk dialami"

(Soren Kierkegaard)

(57-58)

Yang indah

Rasakanlah satu keindahan setiap hari. Sekecil apa pun. Seremeh apa pun. Bacalah sebuah puisi. Putarlah lagu kesukaan. Tertawalah bersama seorang kawan. Tataplah langit sebeulm matahari surup tersungkur ke arah malam. Tontonlah film klasik. Santaplah sepotong kue bertabur lemon. Apa pun. Ingatkan diri sendiri bahwa dunia ini penuh dengan keajaiban. Bahkan ketika kita berada pada titik yang tidak mampu mengapresiasi apa pun, kadang-kadang sudah cukup membantu bila mengingat berbagai hal untuk dinikmati di dunia ini, ketika kita sudah siap menikmatinya.

Source: The Comfort Book - Matt Haig

Jumat, 10 Januari 2025

50th of Arena

A space can reveal who you are. I will tell you about a place that influenced me so much, and its impact continues until now, and it is Arena, a student press agency (Lembaga Pers Mahasiswa Arena). On this day, Arena gets its birthday of 50th. We call it as a silver anniversary. 

When I registered at Arena eleven years ago, I was hesistant to stay for a long time here. The reason was about personal issues, I couldn't easily get along with people, and I did not feel confidence in myself, and my skill. But, from one place to another place, this was the best place I ever lived: for the people, the person, the ideology, the joke, the treatment... It is difficult to find a place like Arena again.

Belonging to Arena felt like, someone gave you strange food. At first time, you thought that this food was not delicious enough, but you were still eating it day by day, and in the end, you thank to this person because the food that was given to you was food that you needed a lot and weren't aware of. Arena is like a herb for innocence and ignorance.

Rabu, 08 Januari 2025

Stand Up or Enjoy Your Fall

This morning, I am listening Jose Gonzalez's songs, they take me back to my memories when I was a student in Jogja. His works make me cry. I imagine, I have a beautiful world that feels far removed from my life now. A song unfolds my deep heart. I need a solace when the day is going hard like heavy rain. These songs are so me.

1. #9 Dream - Jose Gonzalez

2. Stay Alive - Jose Gonzalez

3. Step Out - Jose Gonzalez

4. Line of Fire - Jose Gonzalez

5. Your Life Your Call - Junip

Rabu, 01 Januari 2025

LPJ Hidup 2024: Ini yang Pengen Aku Ceritain

"The opposite of love is lust, in between just business.” ~Bagus, Sept 18th, 2024

Aku sempat menemukan Tuhan di tahun ini, meski setelah itu iman naik turun lagi, tapi setidaknya, ini adalah capaian puncakku pada 2024. Namun mempertahankan Tuhan untuk terus ada di hati dan tindakanmu ternyata hal tersusah yang pernah aku alami. Jujur, aku masih banyak kalahnya dengan berbagai tantangan yang diberikan-Nya. Padahal, nikmat iman itu bisa terlihat dari dua hal: ringan menjalankan perintah-Nya dan mau menjauhi larangan-Nya. Lainnya, bahagia melakukan apa yang diperintahkan Allah, dan sabar terhadap musibah yang diberikan.

2024 ini tahun yang complicated. Aku akan coba mengingat apa saja yang telah kulakukan setahun ini, beserta suka, duka, dan makna apa yang bisa kutarik. Mungkin tidak akan sistematis, tapi di beberapa bagian aku menulis ini sambil menangis. Gak tahu menangis sedih atau bahagia, tapi mitosnya, kalau air mata jatuh di sebelah kiri duluan berarti itu air mata sedih, kalau dari kanan duluan berarti air mata bahagia.

Bukber EF 2024 di Plaza Tower Jl. MH Thamrin
Tahun ini aku juga mencoba untuk melanjutkan cita-cita bersekolah keluar negeri. Dari awal tahun hingga akhir tahun aku coba untuk menyibukkan diri ikut les bahasa Inggris dan IELTS di sana dan di sini. Hingga pada tanggal 18 November 2024 lalu, aku ikut tes IELTS di Bandung dan mendapatkan skor 6 (B2), sedikit lagi Ya Allah untuk dapat 6,5. Dan mencari sekolah S2 dengan skor IELTS yang pas-pasan seperti ini di Inggris sulit.

Aku ingat kembali bagaimana perjuangan belajar Bahasa Inggris, dimulai pertama kali dari kelas 1 SMP, kemudian SMA, dilanjutkan kuliah, lanjut kursus English First (EF) hampir dua tahun sama cuti-cutinya sampai aku dapat sertifikat C1/C2, dengan tes akhir kasi presentasi tentang pengalaman spiritualku mengunjungi kuburan di diskusi “Finding Spirituality Through Coming to The Cemeteries”. Usaha lain, aku ikut les IELTS di tiga lembaga sekaligus, masih ditambah baca jurnal, nonton serial/film Inggris, tulis blog berbahasa Inggris, dll, dlsb. Ternyata itu tak cukup, bahasa yang punya konsep kayak belajar renang dan naik sepeda ini memang benar: gak guna kalau gak dipraktikkan.

Tantangan yang lebih sulit juga sengaja kuambil tahun ini, aku ikut les Bahasa Jepang di Evergreen, Pasar Baru, Jakarta Pusat, selama enam bulan. Cerita perjalanan les ini tiap minggunya sudah kuceritakan dalam postingan blog berjudul “Pengalaman Les Bahasa Jepang di Evergreen Jakarta”, aku menulisnya hingga empat seri. Sebagai refleksi, belajar Bahasa Jepang sama sekali tidak mudah, harus menghafal hiragana sampai katakana, dan yang paling sulit menghafal kosakata Jepang, belum lagi aturan tata bahasa (grammar) yang konsepnya beda sekali dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Teman sekelasku hanya lima orang, di pertemuan kelas terakhir hanya sisa tiga orang, dan aku perempuan sendiri. Di tes terakhir aku gagal. Nilai tesku menyedihkan, meski ada yang lebih menyedihkan, tapi ada juga yang lulus. Jika dikatakan ketidaklulusanku takdir, sepertinya tidak, karena aku belum berusaha maksimal. Aku mengikuti les ini seolah hanya seperti mengisi waktu senggang saja dan tidak benar-benar memiliki niat yang kuat. Aku pernah membicarakan soal takdir bersama seorang kawan, takdir itu hanya kalau kita sudah berusaha maksimal dan Tuhan tidak mengizinkan, kalau belum berusaha maksimal tapi disebut takdir, itu sepertinya gak tepat. Satu yang aku sadari setelah mengikuti les ini, tanpa tujuan yang jelas, aku seperti memaksakan diri. 

Menulislah
Di tahun ini, aku tidak ingin menyoroti peristiwa, aku ingin menyoroti subjek, ingin meng-highlight beberapa nama orang yang menemaniku tumbuh. Tanpa mereka, hidupku di tahun ini barangkali akan sama saja dengan tahun-tahun datar lainnya, mereka orang-orang yang membuatku bersyukur kenapa aku hidup dan ada di dunia.

Sebelum kamu membaca bagian ini, satu permintaanku, khususnya relasi yang berhubungan dengan lawan jenis, tolong jangan disangkutpautkan dengan relasi sempit soal percintaan, atau romantisme tidak mutu, atau cinta-cintaan melulu, stop, bukan. Aku menceritakan mereka dalam terma kasih sayang yang tulus, persahabatan, persaudaraan, yang mungkin bisa dikatakan unconditional dibandingkan dengan relasi-relasi yang kujalin dengan orang-orang di luar mereka. Bersama mereka aku tak butuh validasi, inspirasi, dan motivasi. Adanya mereka saja sudah cukup.

1. Ahmad Bagus Nur Akbar

Bagus terima kasih
Bagus sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Pokoknya kalau ada yang nyakiti adikku Bagus, dia nyakiti aku juga! Pertama kali aku bertemu dengannya di Arena sekitar 7-8 tahunan yang lalu, Bagus adalah sosok yang sangat-sangat berbeda dari yang sekarang. Dia dulu anaknya rebel, saat ini tenang, teduh, dan yang tak pernah hilang, kualitas kebijaksanaan dia yang meningkat.

Peran Bagus di tahun ini sangat besar bagi hidupku karena dialah manusia yang mempertemukanku dengan Tuhan yang selama ini kucari. Kalau Letto pernah membuat lagu berjudul “Lubang di Hati”, dan lubang itu tak bisa diisi oleh siapa pun kecuali Yang Maha Esa, maka isi dari lubang itu bisa kutemukan tahun ini. Baguslah yang memberikanku jalan, kendaraan, dan tujuan sekaligus sampai aku bisa kesana.

Bagus membawaku pada Advaita Vedanta, dia aktif mengirimiku materi-materi PDF terkait mengenal diri sendiri, menjawab pertanyaan who am I?, memfasilitasi kegelisahan-kegelisahanku berkaitan dengan hidup, dan jalan-jalan spiritual yang perlu aku lewati biar sampai pada Aku yang sejati. Dari Bagus aku jadi kenal dengan Sri Ramakrishna, Swami Vivekananda, Swami Sarvapriyananda, Swami Probudhhananda, juga murid-murid Bhagavan yang lain.

Tak hanya di spiritualitas, Bagus juga membantuku sekira hampir sebulan menemaniku belajar IELTS terutama speaking dan writing sampai aku dengan semua ketidakyakinanku sendiri sampai akhirnya bisa dapat 6. Dia adalah guru yang sabar, belajar bersama Bagus tidak berputar-putar sebagaimana pengalamanku belajar di les-lesan IELTS lain. Bahkan dia masih mau mengajariku meski dia dalam kondisi sakit, tak enak badan, dan masih di luar kota.

Pas retret Vedanta di rumah Tante Chika, aku sempat melihat Bagus menangis, tangis dia untuk Tuhan begitu tulus sampai padaku. Aku sangat terharu.

Aku bertemu Bagus terakhir kali di Taman Surapati, Menteng, saat dia mau pamit akan meninggalkan Indonesia dan hendak bekerja di Australia. Malam itu Bagus membawakanku buah, anggur dan pisang. Kami ngobrol soal persiapannya, dia akan berangkat ke Melbourne dari Bali. Dia bercerita sudah nemuin teman online di Australia, calon rumah tinggal yang pemiliknya orang Indonesia, tingginya gaji di Australia, mendorongku ke Australia untuk liburan juga kapan-kapan, serta mimpi-mimpi masa depan soal sekolah, beasiswa, menjadi scholar, dll.

Bagus sekarang sudah di Australia sana. Kabar terakhir yang kudapat, dia bekerja di perkebunan. Syukurlah di perkebunan, tidak di bagian penjagalan hewan yang tentu membutuhkan mental yang lebih besar. Aku selalu berdoa untuk kebaikan Bagus di mana pun dia berada.

2. Shraddha Ma, Tante Chika, dan Keluarga Besar Vedanta

Di tengah Shraddha Ma dan Tante Chika
Shraddha Ma dan Tante Chika adalah dua perempuan panutanku di banyak sisi. Mereka dua pribadi yang hangat, ramah, penuh kasih sayang, lembut, cerdas, adem, cantik, elegan, dan yang paling penting, memiliki akar ke-Tuhan-an yang kuat. Pertama kali bertemu Shraddha Ma, di acara SSRF (Spiritual Science Research Foundation). Waktu itu beliau memakai pakaian warna putih, masa sebelum menjadi monk, aku melihat beliau benar-benar sosok ibu yang teduh, yang mengingatkanku pada Dewi Kwan Im.

Juga Tante Chika yang kasihnya begitu nampak. Setiap kali Tante Chika ada acara seperti nyanyi, entah kenapa aku ingin datang. Seperti pas dari Palembang lalu, aku sempat-sempatkan habis landing di Soetta (yang makin kece dengan vertical garden-nya), lalu tiba ke kos, dan langsung ke Taman Peruri karena Tante Chika dkk akan melakukan konser di acara reuniannya orang-orang ITB semua angkatan. Sayangnya pas aku sampai sana, Tante Chika main tepat waktu dan aku tak sempat melihatnya menyanyi, hiks. Tapi senang di sana bisa ketemu Tante Chika, Diva (anak Tante Chika), dan suami Tante Chika. Beliau membelikanku somay juga di foodstall.

Cerita sedikit, pas menghadiri acara reunian alumni ITB dari angkatan tertua sampai baru itu, entah kenapa aku seperti terlempar dalam dunia lain kayak di film Michele Yeoh, “Everything Everywhere All at Once”. Di mataku, gaya, wajah, dandanan, dan life style mereka seperti “orang-orang beneran”. Ngerti kan maksudku, dalam peribahasa Jawa itu ada ungkapan “dadi wong”, nah, alumni ITB yang kulihat malam itu seperti itu. Lalu aku tiba-tiba curiga pada masa laluku dan kenapa aku bisa sampai kesini, aku berpikir, “Gw curiga, di masa lalu gw emang anak ITB, wkwk.” Ini kayaknya efek aku terlalu meninggikan ITB, salah satu kampus crush masa SMA pas ingin jadi matematikawan, meski gak perlu juga sih.

Banyak petunjuk kenapa aku bisa menyimpulkan demikian, ini gak perlu kujabarkan, takutnya cocokologi saja, ya, memang, buat naikin semangat ke diri sendiri saja tentang pendidikan. Salah satu petunjuk yang jelas sih, aku sering banget ke Bandung, dan tiap ke Bandung pasti ingin main ke ITB. Pernah sekali keliling ITB gak jelas, di acara wisuda lagi, Ya Allah, kek anak ilang beneran. Yang lucu pas ada pertanyaan di antara konser-konser alumni ITB yang menakjubkan itu (kebanyakan lagu yang dinyanyikan groovy gitu), pertanyaannya sederhana tapi nylekit dan lucu, “Siapa yang gak jadi sama anak ITB?” Kok bisa-bisanya lho aku tertawa, ingat masa lalu sambil mbatin, “Iya lagiiii...”

Kembali ke sosok, selain Shraddha Ma dan Tante Chika, keluarga besar Vedanta juga sangat berarti bagi perkembangan spiritualku, dari Pak Purwanto Sudibyo, Ustadz Hasan, juga Mbak Novi.

3. Budi Agung Wicaksono

Ngopi di Jaksel
Aku ingin memulai cerita tentang Cakson dengan sebuah dunia yang kuidealkan, dunia di mana aku bisa bersepeda dengan orang yang mau mengimbangi kecepatanku, menemaniku selambat apa pun aku, menikmati udara sore bersama di jalan dengan sepeda kesayangan kami, mendorongku untuk terus maju saat berada ditanjakkan tinggi, setelah bersepeda, kita makan dan ngobrol berjam-jam tentang apa saja. Intinya satu, aku butuh sahabat yang seperti ini. Tak perlu sempurna, cukup dia ada dan menerima, itu sudah cukup. Gambaran inilah yang kutangkap dari diri Cakson.

Pada Minggu, 29 Desember 2024 lalu, aku dan Cakson sepedahan bareng di kompleks perumahannya di Pamulang Permai, Tangerang Selatan. Sore  itu dia menunjukkanku landscape jalan dan bangunan yang ada di kompleksnya, sampai ke tugu sederhana yang menelan anggaran hingga berapa miliar, sampai kafe yang dikelola oleh duo suami-istri Endah n Rhesa. Pas lihat Universitas Pamulang, aku jadi ingat kolegaku di Islam Bergerak yang tahun ini menikah di gedung serbaguna universitas tersebut.

Tak direncanakan pula, aku mengajak Cakson main ke rumah pemimpin redaksi Islam Bergerak, Mbak Rizki dan keluarga di kompleks perumahan Bukit Pamulang Indah (BPI) yang tak jauh dari kompleks Pamulang Permai. Karena kebetulan, Mbak Rizki sedang liburan Ph.D dari National University of Singapore (NUS). Rumah beliau sedang direnovasi bagian depannya ketika kami datang. Aku melihat Mas Angga, suami Mbak Rizki sedang berjalan di depan, aku memanggilnya, dan kami bertamu.

Sore itu Mas Angga sedang melakukan pekerjaan domestik, merawat anak-anak beliau yang masih kecil. Jujur aku salut sama Mbak Rizki dan Mas Angga, meski di tengah himpitan pekerjaan domestik, mengurus rumah, dan memiliki banyak anak yang tak bisa dibilang kecil untuk standar keluarga sekarang, home schooling anak-anak sendiri, tapi masih punya semangat tinggi buat sekolah dan belajar. Energi mereka untuk membaca, menulis, dan menuntut ilmu kayak gak habis-habis. Tahun depan Mas Angga nyusul Mbak Rizki di NUS untuk Ph.D jurusan Studi Kewilayahan Asia Tenggara dengan mengajak anak-anak yang masih kecil seperti Iskra dan Zetkin. Saat bertamu itu, kami juga ngobrol terkait nama anak-anak beliau yang Rusia sekali, haha. Lalu dijelaskanlah sejarahnya.

Sebagai sosok yang introvert dan gak bisa cepat bergaul dengan orang baru, aku cukup amazed dengan skill Cakson yang mudah berbaur dengan orang baru. Kayaknya mudah banget buat Cakson bisa langsung ngobrol kayak teman sendiri sama Mas Angga dan Mbak Rizki. Dia bisa sampai membongkar kenapa dulu Mbak Rizki tertarik sama kajian human violence, kenapa neliti Aceh, Palestina, apa yang membuat Mbak Rizki bertahan, sampai pengalaman Mas Angga yang tak diketahui banyak orang seperti pernah menjadi wasit level B, suka basket, pernah kecil di Sumba, besar di Jogja, cerita tentang sejarah Masjid Jenderal Sudirman dengan acara Pak Fahrudin Faiz yang sukses itu, sampai gibah Pamulang dulu dan Pamulang sekarang. Bagian unlocked-unlocked kayak gini, Cakson bisa diandalkan.

Hal lain dari Cakson yang aku pelajari adalah soal loyalitas yang diajarkan oleh ibunya. Ini diperlihatkan sesederhana, ibunya akan menemani Cakson untuk solat berjamaah meskipun ibunya sudah solat, dan itu dilakukan kepada semua anaknya, sehingga anaknya bisa solat berjamaah.  

4. Muhammad Arwani

Piknik di Stasiun Cibinong, wkwk
Persahabatan yang kami bentuk bertiga, aku, Cakson, dan Arwani terjadi tanpa sengaja dan semacam natural saja. Jika dalam Avatar, barangkali aku bisa mengasosiasikan kalau Arwani ini elemen api, Cakson elemen air, dan aku elemen udara. Atau kalau asosiasi di dunia komika, Arwani ini Pandji, Cakson ini Adri, dan aku ini Coki (penengah). Kami bertiga sering cekcok argumen, yang paling kentara bagaimana seringnya Arwani dan Cakson sama-sama tidak bersepakat akan banyak isu sosial tertentu, gagasan filsafat tertentu, sampai ke selera seni tertentu.

Mereka seperti air dan api (lagu Naif dong?) atau Tom and Jerry haha. Sebagai elemen udara, aku bisa masuk ke api dan ke air. Kalau mereka bertikai, aku hanya ingin jadi penengah mereka saja. Aku juga belajar, justru dari perbedaan itu kita bisa saling belajar, dan sadar, persahabatan itu gak sekadar mengiyakan semua yang sahabat lu bilang, tapi juga mengkritisinya.

Saat aku main ke Tegal untuk wisata antropologi dan sejarah di liburan Mauludan Nabi, aku saat itu tak sadar jika Arwani juga tinggal di Tegal. Di Tegal, aku ketemu Arwani dan kami ngopi dari Magrib sampai sekitar pukul 10-an, di Fore Tegal. Semua hal kami obrolkan, dan dari obrolan itulah, aku lebih banyak mengenal Arwani dengan lebih dalam dari penampakan dia yang hanya nampak dari luar. Kami ngobrol banyak hal terutama soal film, musik, buku, keluarga, masa kecil, dan yang paling kuingat adalah obrolan soal nama.

Dia bercerita jika namanya berasal dari salah seorang tokoh agama yang dihormati di Kudus, Jawa Tengah. Dulu dia sebal ketika ada orang asing yang gak mau menyebut namanya karena diasosiasikan dengan ustadz besar tersebut, dan perbuatan orang itu entah bagaimana caranya menyinggung Arwani. Dia juga tertarik dengan namaku, kata dia namaku unik dan mudah diingat, “Isma Swastiningrum” ada campuran nama Arab, Sanskerta, Hindu, dan Jawanya. Kata dia, aku tak perlu ngambil nama pena lain, karena nama itu sudah bagus. Aku lalu bercerita tentang asal-usul namaku dari cerita yang sekilas-sekilas Bapak ceritakan. Namaku sebenarnya adalah kumpulan dari nama-nama mantannya Bapak, itu cerita singkatnya. Dan Swasti adalah mantan Bapak dari Bali. Bapak juga pernah bilang, doa di balik namaku adalah, seperti arti kata Ningrum yang dipakai oleh golongan ningrat, Bapak ingin nasibku juga bisa sebaik itu.

Aku tertawa mendengar cerita-cerita Arwani, juga sedih dengan cerita tentang ibunya, bapaknya, saudara-saudara kandungnya. Cerita pula tentang kerinduan akan ibu, ijazah sarjananya yang dia bakar di depan keluarga. Selain itu juga kemarahan-kemarahan dia akan hidup, akan orang-orang, dan kalau dia sudah sebegitu lelahnya, dia akan bertanya, “Iki urip sido diteruske gak yo?” Iya, dari obrolan kami di Slentang-Slenting, grup omon-omon yang kami buat bertiga, kami pernah membahas terkait kesepian, dan dia sampai di satu titik, pernah ingin bunuh diri saja.

Aku mengenal Arwani tentu sejak masuk organisasi KMPD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi) dulu, di mana dia adalah salah satu tetuanya sebelum angkatanku. Aku tahu sepak terjang Arwani dari pemikiran sampai kisah asmaranya. Dari pengalamannya pula, kurasa dia pernah ngalami posisi kena cancel culture oleh orang-orang di sekitarnya, dia dijauhi dan dicap memberi contoh tak baik. Sejauh ini Arwani hebat masih sanggup bertahan. Makin kesini aku juga lebih paham dengan semua kesinisan yang dia rasakan, atau keoptimisan dia terkait buku-buku bacaan.

Sepanjang aku mengenal Arwani, sebagaimana Cakson, dia adalah sahabat yang loyal dengan orang-orang yang dekat dengannya. Arwani tak akan segan-segan memberikan apa pun yang dia punya karena anaknya tidak pelit, memberikan tempat untuk teman-temannya, perjalanan jauh baginya tak sepenting pertemuan dengan sahabat-sahabatnya, dia juga meski kadang sangat keras kepala dan tak mau argumennya diintervensi, juga punya sisi-sisi halus dan rapuhnya sendiri.

5. Yeva Serbia

Sosok ini satu-satunya dari golongan hewan yang ingin kuberikan ucapan terima kasih. Aku menemukannya tak berdaya di jalanan menuju kosku. Tubuhnya sangat kurus, kuning, perutnya kempes seperti dilindas, tubuhnya bau, anusnya mengeluarkan cairan, wajahnya dikerumuni semut. Perasaanku begitu emosional menyelamatkan nyawanya, kuhubungi beberapa teman, lalu aku membawanya sampai ke dua rumah sakit hewan, dan dia tak sanggup tertolong setelah hampir 24 jam kemudian.

Aku menyaksikan detik-detik kucing jantan ini mengalami sakaratul maut, hingga kugotong jenazahnya mencari tanah pemakaman di Jakarta yang tak ramah pada hewan. Aku saat itu membayangkan bagaimana jika dia manusia? Merasakan kesakitannya, panasnya, kejangnya, hatiku lumer.

Kucing liar ini tak punya nama, dan aku melekatkan nama padanya, Yeva Serbia, artinya “yang memberi kehidupan”. Aku membawa jenazah Yeva ke pemakaman Karet Bivak, dan aku mendapatkan izin Yeva bisa dimakamkan di sana. Dia satu pemakaman dengan Pramodeya Ananta Toer, Chairil Anwar, MH Thamrin, Ismail Marzuki, dan Fatmawati.  

Yev, aku senang bisa mengenalmu, damai selalu di alam sana ya Yev 🩷

KEGAGALAN-KEGAGALAN

Kegagalan-kegagalan yang kudaftar ini adalah kegagalan-kegagalan secara teknis, karena secara filosofis, bisa jadi kegagalan-kegagalan ini berarti lain. Ini beberapa yang kuingat:

  • Ibadah wajibku banyak bolongnya.
  • Aku tidak lolos beasiswa Cheveing 2024.
  • Gagal mencapai standar nilai IELTS yang kutargetkan.
  • Gagal seleksi CPNS BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia), kalah di peringkatan SKD.
  • Minta maaf sama Fai yang belum bisa nyelesain buku terkait pekerja Jakarta.
  • Minta maaf sama netizen/follower IG karena challenge #60daysofindonesianisscholars belum selesai.
  • Meditasiku belum bisa rutin.
  • Banyak lagi, tapi yang konkrit-konkrit dan kuingat baru ini.

CAPAIAN-CAPAIAN

Capaian pertama yang aku syukuri, karena salah satu mimpi masa kecilku terwujud adalah, aku telah berhasil menerbitkan buku “Kaki Lima” dalam wujud buku cetak yang bisa kupegang. Semua berhasil berkat bantuan dari Ichi Publishing Bandung. Menyenangkannya pula, dalam lauching buku itu aku tak sendiri. Aku mengajak dua kawanku lain yang menerbitkan buku pula di tahun ini, mereka adalah Jevi Adhi Nugraha dengan bukunya “Menanam Hantu di Bukit Batu”. Jevi dulu temanku di Sanggar Nuun dan aktif menulis tentang Gunungkidul. 

Launching dan diskusi tiga buku
Kedua, Khumaid Akhyat Sulkhan dengan buku berjudul “Kronik Pembunuhan Selma”. Sulkhan ini temannya Ofek, kami kenal di acara klub buku Simulakra yang bahas materi-materi soal Marxisme. Saat ini dia jadi dosen di UII Jogja. Tiga buku kami ndilallah disatukan oleh benang merah yang sama: Jogja dengan semua kompleksitasnya. Acara peluncuran buku dibantu oleh kawan-kawan pengurus LPM Arena dan Sanggar Nuun. Terima kasih banyak untuk mereka.

Tumpengan dan syukuran buku sama Jevi dan Sulkhan
Tak hanya di Jogja, diskusi buku “Kaki Lima” juga diadakan di Warung Kopi Monolog Pejalan, di Karanganyar, Solo. Dibantu oleh Mas Sidiq, Mas Okki, Mas Rudi, dan Mbak Nabila, alhamdulillah pula acara ini berjalan dengan lancar, dengan banyak masukan, ide, gagasan berharga yang sempat kutulis dan kurekam. 

Di Monolog Pejalan
Tahun ini, barangkali secara perjalanan dan wisata tak sebanyak di tahun lalu. Perjalanan penting tahun ini ketika aku ke Pulau Nusakambangan dan ke pertapaan Jambe Limo serta Jambe Pitu di Cilacap. Ini jadi pengalaman seumur hidup yang akan selalu kuingat. Bagaimana rasanya tinggal di tengah-tengah perbukitan dan hutan, di sampingnya ada ruang mistis dengan patung Punakawan dan Nyi Roro Kidul. Aku juga bertemu dengan bapak yang sedang semedi, memberi saya banyak petuah hidup dan spitirualitas.

Di Cilacap
Tahun ini aku juga dinas dua kali ke Palembang, melakukan perjalanan ke Pulau Kemaro, menyusuri Sungai Musi dengan kapal di sebuah perahu kayu kecil sendirian, jalan-jalan di Kota Palembang, main ke Universitas Sriwijaya, sampai ke makam raja-raja Palembang. Aku juga berkunjung ke Jogja lagi selain launching buku, perjalananku adalah untuk ke makam Romo Mangun dan Pak Kuntowijoyo, lalu mengunjungi Mas Eka, Mbak Tami, Mbak Nastiti, Cuk Nisa, hingga ibu kos Bu Sri Supraptan Ningsih yang saat itu baru saja punya dua cucu kembar, Bima dan Binar. 

Bareng Mbak Nastiti nonton pameran di JNM
Malamnya sempat nonton pameran di Jogja National Museum (JNM), lalu nonton Silampukau juga di acara pameran besar buku yang dikoordinatori oleh Om Dodo. Sempat ke Semarang juga buat nyekar Eyang Soegijapranata, nangis total di sana semacam pengakuan dosa, dan rasanya begitu plong. Juga sempat ke Bandung berkali-kali pas launching albumnya Kang Mukti-Mukti dari edisi pertama sampai tiga, dan serasa Bandung ini kayak sangat dekat. 

Lauching album Mukti Mukti #3 di Gedung Indonesia Menggugat Bandung

Rampah Rasa Bandung
Aku sempat pulang juga ke Cepu, khususnya pas adik keduaku Trian wisuda dari STAI Al-Muhammad Cepu. Wisuda dilaksanakan di Gedung Soos, dekat sama Smansa Cepu. Setelah wisuda, dengan menyewa mobil, aku mengajak ibu, bapak, dan adik-adik ke Blora, wisata dan makan di Waduk Tempuran Blora. Aku senang juga tahun ini bisa bantu Bapak melakukan renovasi rumah dari uang yang aku tabung selama kerja di Jakarta. Meski sejujurnya masih sedih karena ibu belum sembuh dan masih sakit, kenapa ibu kuat sekali, Ya Allah, sembuhkan ibuku, aamiin. 

Waduk Tempuran
Kuliner Waduk Tempuran
Tahun ini juga jadi tahun terakhir aku bekerja jadi penulis lepasnya Remotivi. Saat dapat pertemuan Zoom untuk mengakhiri kontrakku, aku senang karena diberikan alasan-alasan logis terkait model bisnis baru yang dijalankan oleh Remotivi lewat Mas Ilham dan Mbak Yuni, sehingga para penulis lepas sudah tak dilanjutkan lagi kontraknya. Aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih pada keluarga besar Remotivi, khususnya Mas Geger Riyanto dan Mas Yovantra Arief. Kumpulan tulisanku di Remotivi bisa dibaca di arsip berikut: Binardan Kabut Media.

Sorong, Papua
 
Dino's Gate Batam
Terkait pekerjaan utama sebagai staf jurnalistik di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), masih berjalan sebagaimana biasa. Perjalanan dinas tahun ini ke Palembang dua kali, ke Sorong (Papua), ke Batam, ke Balikpapan, ke Semarang, kemana lagi ya? Itu sih yang kuingat.

Ke Nusakambangan Cilacap
Sama bisa nulis rilis yang sudah kuarsipkan di buku “Bergerak Melayani Publik”, di sini ada sebanyak 197 rilis. Informasi baru yang penting soal pekerjaan, bosku masih sama Pak Tito Karnavian, Kabid Pak Aang sudah mau pindah ke Polpum. Temanku Muja sudah keterima jadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Lalu Farid yang sempat kerja di AJI masuk lagi ke Kemendagri, dan sembari kerja, sekarang dia melanjutkan pendidikan S2 di bidang komunikasi di UIN Jakarta. Julukannya sekarang cendekiawan Ciputat. 

Kerja

Ramadan 2024
Ngomongin intelektualisme, tahun ini aku bisa menyelesaikan #30daysofindonesianscholars, mereview 30 judul jurnal dari scholar Indonesia. Challenge selanjutnya yang belum selesai, aku masih ada utang challenge #60daysofindonesianisscholars.

Capaian berikutnya, ini agak material, tapi ya gak papa, karena berhubungan dengan trauma masa kecilku yang gak bisa beli apa-apa karena terbatasnya uang. Aku pernah ada di titik gak ada uang sama sekali, jadi aku menganggap ini sebagai pencapaian dalam bentuk material. Tahun ini aku bisa bebas makan enak apa saja yang kusuka tanpa takut dan perhitungan lagi dengan harga yang perlu kubayar. Tahun ini khususnya aku banyak coba masakan-masakan Jepang, dan tempat makan yang kusuka untuk ramen adalah Ramen Ten10, khususnya yang ada di Gajah Mada Mall. Tahun ini aku juga bisa membeli baju-baju dari brand yang kusuka karena bahannya yang enak banget, desain yang evergreen, life wears, dan worth of money. Aku mulai memperluas preferensiku akan banyak hal, tak hanya cara berpikir, tapi juga soal makanan, pakaian, papan, hingga seni, seperti musik.

Ramen 10
Soal papan, aku tahun ini juga memberanikan diri untuk datang jauh-jauh ke Tenjo, Bogor, buat lihat kompleks penjualan perumahan Podomoro Group. Ini cerita singkatnya:

“Hari ini saya iseng datang ke salah satu developer perumahan di Tenjo milik Podomoro Grup. Jaraknya sekitar dua jam dari Petojo, Tenjo ini tergolong kota satelitnya Jakarta. Saya datang ke gedung marketing-nya yang fancy, setelah dihubungi bagian marketer di sebuah aplikasi. Dilihat dari pengunjungnya, saya bisa menebak kondisi perekonomian mereka. Lalu saya ditunjukkan tipe rumah ukuran 60/90 yang juga sama fancy-nya. Si marketing bilang, ke depan kompleks ini akan dibuat seperti perumahan di BSD Tangerang. Saya bilang ke marketer setelah tour contoh rumah, "saya akan pikir-pikir dulu." --meski nantinya gak akan jadi. Untunglah bagian marketing-nya bukan tipe orang yang suka maksa2 orang buat beli, karena tujuan saya memang membuktikan curiosity saja sebagai salah satu generasi Y yang disebut susah beli rumah. Dari perjalanan ini saya bisa mengambil pelajaran berharga buat ke depan berkaitan dengan papan. Saya juga lebih tahu keinginan dan preferensi saya lebih jelas. Makasi Tenjo, walaupun panasnya pol, hehe.”

Podomoro City Tenjo
Soal seni, jika tahun lalu Boy Pablo adalah artis yang lagunya paling banyak kudengar, maka tahun ini, artis yang paling banyak kudengar adalah Opick. Lagu yang paling banyak kudengar berjudul “Cukup Bagiku Allah”. Selain Opick, top artis lain ada Laruku (L’Arc-en-Ciel), Jalan Pulang, dan Dee Lestari. Aku pernah bilang ke Cakson dan Arwani:

“Tahun ini aku bangga dengan Opick dan Laruku, dan ini selera baru bagiku di tahun-tahun sebelumnya yang gak dengerin mereka seintens ini. Seperti kata teman, musik yang kita dengarkan gak cuma menggambarkan lagu per se, tapi juga perjalanan hidup, jiwa, dan yang tak kalah penting adalah kondisi emosi, yang kadang naik, kadang turun. Kadang juga menggambarkan desire kita sama hidup di waktu-waktu tertentu. Beberapa waktu yang lalu ada teman yang share lagu teratas Spotify-nya tentang pernikahan atau lagu2 nikahan, ya barangkali memang dia pengen nikah. Lagu teratasmu Numb (Linkin Park), ya barangkali itu lagu adalah yang bisa menggambarkan perjalanan hidupmu tahun ini.” 

Spotify Wrapped
Tahun ini, aku juga dipertemukan dengan penulis-penulis panutanku, bahkan satu forum sama mereka Ya Allah. Seperti jadi moderator untuk Mbak Linda Christanty di buku barunya “Jangan Percaya Surat Palsu” di acara Patjar Merah dan Kios Ojo Kios (kurang skena apa). Aku juga ketemu sama Leila S. Chudori dan Adriano Qalbi di diskusi berjudul “Journaling, The History and Evolution of Personal Narratives”. 

Diskusi journaling bareng Leila S. Chudori dan Adriano Qalbi

Donnie Sibarani

Mbak Linda Christanty, Mas Eka, Mbak Reda Gaudiamo

Juga nonton konsernya Novo Amor gratis di Basket Hall, GBK, dan kau tahu? Tiketnya yang jutaan itu dikasi gratis sama adik jauhku yang cerdas, baik, dan tajir berinisial M itu! Gak cuma satu, empat tiket coy! Aku langsung ngajak Mbak Lita, Mbak Intan, sama Mas Langgeng, teman wartawannya Mbak Intan. Pulang konser langsung makan pecel lele bareng, wkwk, unforgetable sih. Yang gak kalah penting juga, ketemu Donnie Sibarani (eks vokalis Ada Band) di Hotel Mulia, penyanyi favoritku sejak SD. Seneng bangetlah, jelas, yang belum cuma ketemu Yoshio Akeboshi di Jepang aja ini, semoga kapan-kapan ya, aamiin.

Konser Novo Amor di GBK Jakarta
Makan pecel lele habis nonton Novo Amor
EPILOG

Sebenernya aku bingung mau nulis apa. Pas awal nulis ini, aku lagi gak mood nulis LPJ (pasti kamu pernah ada kan di momen-momen hidup yang lagi gak mood, entah apa alasannya), apalagi LPJ hidup, nyusah-nyusahin diri sendiri aja. Aku kayaknya udah di zona nyaman gak ingin apa-apa dan cuma ingin nikmatin nafas. Liburan tahun baru gini kayaknya enaknya tidur, dan lagi gak mikir apa-apa, meski akhirnya brain rot sama layar gadget, akh! Sebel. Yang ditonton apa? Ya konten-konten Oza Rangkuti lah, influencer favoritku tahun ini, seluruh dunia harus tahu capaian gue setahun ini yekan, masak iya, cuma gue aja yang tahu, nggak level. Capaian harus kuceritakan lengkap, maaf-maaf ya, kalau niru gaya Adriano Qalbi, gue gak mau juga terlihat mencolok, gue takut prestasi gue menyakiti mereka yang gak berprestasi, wkwk.

Terus aku sadar, karena berhubung tahun ini aku banyak punya orang istimewa yang perlu kuapresiasi keberadaan mereka, dan terima kasih banget mereka sudah hidup, LPJ 2024 ini untuk mereka.

30 Days of Indonesian Scholars
Biar kayak orang-orang bener di tahun baru pada umumnya, aku juga ingin membuat resolusi-resolusi awal tahun, ya, mau terwujud mau kagak biarin, bukan itu intinya, tapi aku ingin punya arah yang jelas saja biar gak diombang-ambingkan badai hidup yang tak menentu ini (etdah):

  1. 2025, pengen loyal sama Gusti Allah, terutama dalam hal-hal kecil kayak solat tepat waktu, rutin puasa meski gak mood, dzikir di banyak kesempatan, ya, ingin ingat Allah terus. Aku mesti ingat pesan yang dibagikan Mas Wisnu Prasetya tadi pagi di Instagram, "Progress doesn't wait for motivation. Do it when you're scared. Do it when you're doubting yourself. Do it tired. Do it unmotivated. Keep going..."
  2. Bisa dapat beasiswa sekolah keluar negeri, kalau boleh di UK biar bisa sekalian beli sepeda Brompton buat keliling gang-gang kecil, lembah, hutan, sungai, dan suguhan alam lain yang pemandangannya indah, hidup seperti dalam gambar foto-foto di kartu pos. Kata Cakson, Brompton di Indonesia mahalnya gak ngotak, sudah digoreng, jadi kayaknya perlu beli di negara pemroduksinya langsung.
  3. Pengen declare kayak temanku Ofek, sebelum meraih gelar Ph.D dia gak mau nikah, tapi sepertinya aku belum seberani itu. Tapi yang jelas, kalau tahun ini bisa ambil master, perlu aku hubungkan dengan riset di doktoral biar kajiannya linier dan gak putus. Soal nikah, aku udah selow banget sumpah, kulo manut Gusti Allah mawon, yang penting pendidikanku sampai. Kalau boleh request, Ya Allah, kasi saya jodoh yang spek-nya kayak Pak Abidin Kusno itu sudah cukup, haha. Muluk-muluk emang, tapi gak papa. Pak Abidin scholar idolaku.
  4. Jadikan aku berkah bagi orang lain, semoga aku bisa membantu orang lain dengan tulus. Ingatkan aku akan “tubuh sosial” yang kupunya, jika diriku tak hanya untuk diriku saja.
  5. Doa yang selalu kuucap setiap tahun: Ya Allah, beri aku badan yang selalu sehat, materi yang melimpah nan berkah untuk hidup dan membantu orang, serta hati dan jiwa yang seluas langit dan laut. Aamiin.

Kutipan di serial "The Road to Red Restaurants List" (2020)
Terakhir, aku ingin menutup LPJ tahun ini dengan lagu dari Bronze Radio Return dengan judul “With Me All Along”. Aku ingin mengutip beberapa larik liriknya yang membuatku terenyuh untuk mewakili tahun 2024 ini:

But that's not you, that's not you

You never put me in the rearview

I wouldn't be the same without you

So I thank you, I thank you

Petojo Enclek XI, Jakarta Pusat, 31 Desember 2024-1 Januari 2025

Selasa, 31 Desember 2024

Buku Rilis 2024 - Bergerak Melayani Publik

Tidak terasa, sudah lebih dari 3 tahun saya bekerja di Pusat Penerangan (Puspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), sejak pertama kali menginjakkan kaki dan menjadi pekerja tertanggal 30 Agustus 2021 lalu. Buku “Bergerak Melayani Publik” ini merupakan kumpulan rilis yang saya buat selama satu tahun, sepanjang tahun 2024. Pada tahun 2022 saya belum melakukan pengarsipan yang rapi, sehingga saya tidak tahu berapa produksi tulisan yang saya hasilkan. Lalu, saya memproduksi sebanyak 291 tulisan pada tahun 2023, dan tahun 2024 ini sebanyak 197 tulisan. Secara kuantitas ada penurunan 97 tulisan, barangkali karena tahun ini ada penambahan personel PNS dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sebanyak dua orang sehingga beban menulis lebih terbagi.

Secara garis besar, buku ini berisi terkait kegiatan yang dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian yang tahun ini terpilih kembali sebagai Mendagri, khususnya pada periode Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Selain itu juga tentang kegiatan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) periode sebelumnya, John Wempi Wetipo, serta Wamendagri yang baru di kabinet baru, yaitu Bima Arya Sugiarto dan Ribka Haluk. Tulisan berikutnya tentang Sekretaris Jenderal (Sekjen) periode sebelumnya, Suhajar Diantoro, serta Sekjen periode baru, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir.

Refleksi yang ingin saya catat tahun ini adalah lurus dan tertib dalam berpikir sangat membantu kita untuk menghasilkan karya-karya yang jelas pesannya. Semakin jalan berputar dipangkas, semakin jelas, jernih, dan bersih tulisan dihasilkan. Saya jadi teringat dengan konsep menulis novelis, pengarang, dan wartawan Amerika Serikat (AS) Ernest Hemingway. Saya tertarik dengan ide menulis yang ringkas dan jelas, menggunakan kalimat-kalimat pendek, mudah dibaca, tanpa bunga-bunga/klise, dan mengekspresikan sesuatu apa adanya. Konsep ini yang coba saya terapkan saat menulis rilis. Tahun ini tentu di berbagai tulisan saya masih mendapat kritik, dan saya belajar. Pelajaran inilah yang membuat kemampuan dan mental saya lebih teruji.

Atas terbitnya arsip buku rilis ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada: Kabid Humas dan Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri yang saat ini telah diangkat sebagai Direktur Bina Ideologi, Karakter dan Wawasan Kebangsaan pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kemendagri Pak Aang Witarsa Rofik, editor rilis Pak Syahdino Pratama, serta rekan-rekan di tim rilis: Mujaeni (yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah), Farid Fakih (cendekiawan Ciputat, lancar untuk S2-nya  ya Rid), Nina Rahayu (Bundanya Raya dan si kembar), Faradilla Wulandari (makasi sudah dipinjami kartu perpustakaan untuk pinjam buku), Muhammad Hafizh Zuhdi (tak hanya nulis rilis, juga sekarang jaga alat liputan), Anggun Cyce Marselya (pada akhirnya, transkrip tangan manual bisa tergantikan dengan mesin Turboscribe juga ya Ce), dan Anggun Primasari (gas terus ukhti amal baiknya). Terima kasih atas kerja sama, pelajaran, pengalaman, dan kehidupan yang diberikan dalam proses-proses semua ini.

Harapan pribadi, semoga tulisan-tulisan di arsip buku ini tak hanya berisi seremoni ala pejabat, tetapi juga bisa menyuarakan berbagai kebijakan penting dan kepentingan masyarakat serta golongan-golongan rakyat terpinggirkan yang perlu mendapat atensi. Semoga pelayanan publik ke depan semakin maju, baik, dan bermanfaat bagi semua orang. Aamiin. Terima kasih. Salam.

Jakarta, 31 Desember 2024

LINK: 

https://www.academia.edu/126701165/Buku_Rilis_2024_Bergerak_Melayani_Publik