Kamis, 17 Maret 2016

Rekuim Angggara

Maret mulai menggigit usia masa. Mulai menyusun ulang langkah-langkah gontai untuk terus berjalan tegak. Tak ada yang salah dengan waktu, ruang, dan orang-orang. Hanya persepsi yang kini mengganggu. Aku tak paham apa-apa.

Adik memberi pesan, tadi jam empat sore kakak tak ada. Ruangan berobituari. Dan udara yang berjarak berkilo-kilo meter di sana mungkin sedang mengadakan misa rekuim. Aku mengenangnya lewat jabatan tangannya yang kuat saat dia menyalamiku dulu. Sangat erat hingga getar energinya masih kurasa hingga sekarang. Atau dari suara bass-nya yang berat. Dia memang punya bakat menyanyi.

Kakak pendiam. Dia tak banyak bicara. Namun dia cerdas, bertanggung jawab, dan acap membuat keluarga bangga. Menjadi panutan. Sejak kecil, kami anak-anak bapak memang tak jauh dari nelangsa. Mungkin kakak lebih menderita. Namun dia bisa mengubah hidupnya dengan tirakatnya. Sinau-sinau-sinau, nek ono waktu luang sinau, aku masih tak mengerti dengan ibrah diksi Jawa itu. Yang kakak pesankan dulu, menyebutnya sampai tiga kali. Sampai kini, aku masih bandel melakukannya.

Salam hormatku. Semoga alam raya mengenangmu.

Kamis, 17 Maret 2016

Kamis, 03 Maret 2016

Rumah Baca, Rumah Segala Macam Kebaikan


Rumah Baca Teratai berdiri di bekas pos ronda yang terbengkalai berukuran 1,5 x 2,5 m. Terletak tak jauh dari bantaran sungai yang setiap tahun meluap, rumah baca ini berdiri juga tak jauh dari pusat pemerintahan dan ekonomi Surakarta bagian urban dan marginal. Rumah baca ini dibangun dari semangat perubahan membangun daerah yang mendapatkan cap buruk. Sangkrah namanya.

Mendengar Sangkrah orang sudah dibuat merinding. Sangkrah, bagi warga Surakarta Jawa Tengah dikenal sebagai daerah yang rawan kejahatan. Daerah ini tercatat sebagai daerah dengan tingkat kriminal yang tinggi. Bahkan oleh Polsek Pasar Kliwon Surakarta diberi tanda merah. Kerap tindakan kejahatan seperti mabuk, penjambretan, perjudian, kenakalan remaja, hingga narkoba menjadi pemandangan sehari-hari.
 
Karena kondisi lingkungan yang dicap negatif, beberapa pemuda RW III Kampung Dadapsari, Kelurahan Sangkrah mulai tergerak melakukan perubahan sosial dengan membangun ruang publik bersama berupa rumah baca. Diki Bangun, salah satu pemuda dan pencetus berdirinya rumah baca Kampung Dadapsari menceritakan ia dan teman-temannya merasa gelisah karena minimnya tempat tongkrongan yang positif. 
 
Awalnya rapat karo konco-konco toh.Trus pengen nggawe tongkrogan.Trus nggawe rumah baca piye? Trus ijin karo Pak RW. Trus ijin uwis toh, tapi ra jalan,” (Awalnya rapat dengan teman-teman. Trus ingin membuat tempat nongkrong. Trus kalau membuat rumah baca bagaimana? Trus izin dengan Pak RW. Sudah izin, tapi tidak berjalan) cerita Diki saat ditemui di rumahnya di Kampung Dadapsari, Selasa (9/2).

Kondisi lingkungan Kampung Dadapsari, Sangkrah.
Tidak berjalannya rumah baca membuat Diki berpikir lagi, hingga akhirnya dirinya bertemu dengan Danny Setyawan yang menjadi perintis dan pembina rumah baca saat ini. Danny ingin sekali mewujudkan rumah baca, terlebih setelah mendengar background Sangkrah. Danny membangun rumah baca dan menggerakan masyarakat dengan cara sederhana. Dia bersprinsip, apapun meski itu sedikit tapi berjalan. Danny menghindari hal-hal yang rumit. 
 
“Saya meghindari hal-hal yang sifatnya susah. Saya menginginkan segala sesuatunya itu simpel aja, sederhana, tapi iso dilakoni(bisa dikerjakan─red).Rumah baca ini juga saya membuatnya sederhana,” kata Danny di basecamp Rumah Baca Teratai yang baru, letaknya tak jauh dari rumah baca yang lama.

Bermodal tekat, awal mula mempersiapkan rumah baca sendiri berangkat pada tanggal  15 Desember 2013, dan perlu persiapan satu bulan untuk mewujudkan. Lalu pada tanggal 17 Januari 2014 Rumah Baca Teratai Sangkrah diresmikan. Nama teratai terinspirasi dari filosofi bunga teratai yang ketika di air yang keruh dia mampu menjernihkan. Semacam itulah, dengan hadirnya rumah baca bisa menimbulkan energi kehidupan masyrakat Sangkrah ke hal-hal yang positif. Dengan membuat rumah baca, Danny ingin membuat pola-pola baru. “Karena menurut saya kampung itu kan semacam pola-pola. Jadi ketika mereka kejebak dengan pola-pola yang sudah ada, kemungkinan mereka akan lebih parah lagi kondisinya.”
 
Danny tidak lagi mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya pengkotak-kotakkan, seperti dari bangsa mana, dari ras mana, garis apa, warna apa. Baginya, seluruh kebaikan itu terkumpul di rumah baca. “Saya prinsipnya itu dalam bentuk apapun kalau dalam kebaikan tidak pernah saya menolak. Karena bagi saya rumah baca itu adalah rumah dari segala kebaikan,” ujar pria berambut gimbal ini.
 
Danny menggunakan media sosial dan web rumahbacasangkrah.com sebagai tempat bertukar informasi dan inspirasi. Gerakan media sosial ini mengundang relawan-relawan dari dalam dan luar negeri. Para relawan itu secara inisiatif membantu operasional dan pengembangan rumah baca. 
 
Ilmu sesederhana apapun bagi Danny kalau itu disampaikan ia akan tumbuh dan berkembang. Pernah suatu ketika ada seorang relawan dari Banyuwangi yang datang ke rumah baca, dia membagikan ilmu tetang kesehatan kanker seviks dan kanker payudara. Relawan itu minta sosialisasinya malam itu juga karena pagi ia harus pulang. “Jadi hanya semalam selesai lalu dia pulang lagi ke Surabaya atau Madura. Jadi kadang itu bantuan itu tak harus materi,” cerita Danny.
 
Dari relawan pula sampai saat ini koleksi buku di Rumah Baca Teratai memiliki koleksi lebih dari 1500 buku. Ajaibnya rumah baca tidak pernah beli buku, karena buku-buku datang dari bantuan yang tak hanya dari dalam negeri, bahkan dari luar negeri.
 
Metode pendidikan                 

Rumah Baca Teratai memberikan kebebasan cara berpikir. Sistemnya mengarahkan anak-anak untuk lebih mengenali potensi. Pendidikan sekarang bagi Danny sangat membiak, tidak mengajarkan anak-anak untuk menemukan passion. Lalu dirinya bersama relawan rumah baca membuat sebuah pola bagaimana anak bisa menemukan jati dirinya. “Prinsipnya pendidikan itu mengantar anak-anak untuk lebih mengenali opo sih sing arep dadi potensiku, ini yang hilang di pendidikan Indonesia,” kata Danny.
 
Di pedidikan sekarang yang dipelajari banyak hal, yang dipelajari tidak fokus dengan apa yang ditekuni. Ketika lulus pun banyak yang masih bingung dengan apa yang harus dikerjakan. Pendidikan yang baik itu hanya mengantarkan anak untuk menemukan jatidirinya. 
 
Mudahnya Rumah Baca Teratai menyediakan ilmu bersama-sama, baik dari kegiatan bersama, pelatihan, dan buku-buku. Metode diserahkan ke anak-anak, sehingga mereka harus menemukan jati dirinya sendiri. Metode tersebut lebih menekankan kepada pembentukan karakter dan membangun pola pikir.
 
Di situ, anak-anak dilatih untuk bisa menjadi pengamat sosial sendiri. Dari awal anak-anak sudah diajari memperalatkan potensi yang ada. Anak-anak tidak hanya melakukan kegiatan sosial, tapi juga memiliki kantung sosisal dan mental sosial.
 
Terlebih, sekarang Rumah Baca Teratai dapat menyewa rumah untuk menjadi basecamp kegiatan-kegiatan. Danny menyediakan tempat baru rumah baca, selain untuk kegiatan juga untuk ruang pamer karya seni. Dalam hal ini juga Danny punya tujuan membuka jaringan seniman juga tempat memberikan pendidikan, agar bisa belajar sesuatu. Tujuan akhirnya adalah kemandirian, jadi mandiri secara pribadi dan mandiri secara kelompok.

Ada banyak kegiatan yang mewarnai rumah baca ini. Bahkan sampai banyaknya kerena sempitnya lahan hingga memakai bahu jalan. Beberapa di antaranya seperti, pelatihan membatik, pelatihan musik dan vokal, karawitan, tari, teater, pelatihan komputer, pelatihan bahasa Inggris, nonton film, dan banyak lainnya. Ada pula kegiatan sosial, seperti aksi sosial peduli bencana, bagi nasi bungkus, kidung surakartan, penyuluhan bahaya narkoba dan HIV/AIDS, seni lukis mural kampung, membersihkan sungai, dan kegiatan mengangkat potensi warga masyarakat.
 
Program kegiatan lain dari Rumah Baca Teratai juga ada yang namanya program parenting. Ini dilatarbelakangi karena ada orang tua yang salah kaprah ketika mendidik anak. Orang tua tidak bisa melakukan apa yang mereka ingini, pelampiasannyake anak-anak. “Nanti yang diajari nggak cuma anak, tapi juga orang tua diajari juga,” ucap Danny.
 
Rumah baca ke depan
 
Rumah Baca Teratai membuka usaha-usaha bagaimana caranya masyarakat bisa berdiri sendiri. Ke depan rumah baca akan membuka usaha-usaha yang berbasis keahlian, menggerakkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan potensi masyarakat Sangkrah, seperti membuat tas, buku, dan lain-lain. 
 
Rumah Baca Teratai juga menyebarkan konsep pembangunan rumah baca ke beberapa tempat lain, khususnya di Surakarta. Dari rumah baca yang lain ini, mereka adalah kelompok-kelompok independen yang yang tidak memiliki kewajiban apapun ke Rumah Baca Teratai. Kemudin, ketika rumah baca-rumah baca independen ini berkembang, akan dijadikan sebuah jaringan belajar untuk saling berbagi. Dengan dasar setiap daerah memiliki karakter, potensi, dan kondisi lingkungan tempat memiliki karakter yang berbeda, sehingga bisa saling belajar. 
 
“Jadi nggak harus wujudnya sama plek dengan rumah baca (teratai).Mereka harus bisa menemukan potensi-potensi di tempat mereka.Kalau udah terjadi spesifik keahlian-keahlian itu nanti pada akhirnya mereka bisa saling belajar,” ujar Danny. Dari jaringan ini Danny berinisiatifmembentuk kegiatan-kegiatan bersama, seperti membuat festival seni kampung.
 
Salah satu rumah baca yang menjalin jaringan dengan Rumah Baca Teratai adalah Rumah Baca Edelweis yang didirikan oleh pemuda-pemuda Desa Tuban Kidul, Gondangrejo, Karanganyar. Rata-rata pemuda di Tuban Kidul sendiri banyak yang tamat SMA,  pengangguran, dan buruh, sementara  akses buku hanya ada di sekolah atau kampus. “Awalnya kami ada minat baca, tapi akses untuk mencari buku bacaan kita tidak punya,” kata Sidiq Bachtiar salah satu pendiri Rumah Baca Edelweis.
 
Sidiq berkenalan dengan Danny baru sekitar setengah tahun. Umur Rumah Baca Edelweis dan Rumah Baca Teratai tak jauh berbeda. Rumah baca Edelweis berdiri sejak bulan Februari 2014. “Kalau dilihat berdirinya hampir barengan, tapi belum saling kenal. Saya tahu rumah baca Sangkrah itu senang juga, ada tempat buat nimba ilmu. Aku berkunjung ke situ sharing-sharing pengalaman,” tutur Sidiq saat ditemui di Stadion Manahan Surakarta, Rabu (10/2).
 
Rumah Baca Edelweis sendiri tempatnya memanfaatkan ruang tamu rumah pribadi milik orang tua Sidiq. Rumah baca ini bernama Edelweis berawal karena awak pendirinya suka naik gunung. “Semua orang tahu juga tentang bunga edelwies. Filosofinya itu kita ngambil edelweis yang ada di gunung itu kepanasan, kedinginan, tapi tetap berbunga.Kita pengen juga,” ungkapnya.
 
Awalnya Rumah Baca Edelweis buku-bukunya berasal dari koleksi pribadi para pendirinya. “Ketika aku share ke medsos, aku kabarin akhirya banyak yang ngasih, banyak yang ngirim. Ada yang dari luar kota juga,” ujar Sidiq. Melihat berjalannya waktu, untuk meningkatkan baca di kampung sendiri menjadi tantangan yang sulit. Selain memprioritaskan membaca juga memprioritaskan kegiatan-kegiatan positif.
 
Perhatian pemerintah setempat terhadap rumah baca- rumah baca itu belum ada. Sampai saat ini Rumah Baca Teratai dan Edelweis menjalani kegiatannya berasal dari sumbangan tenaga dan kantong orang per-orangan. Kebanyakan dari luar Surakarta, nusantara, bahkan luar negeri. []

---
NB: Tulisan buat ulang tahun ibuk yang ke-51, Kamis, 3 Maret 2016... dan sampai usia matahari, sayangku belum usai... Terima kasih untuk Mas Danny, Mas Sidiq, Mas Diki, dan semua kawan-kawan di Sangkrah...

Minggu, 28 Februari 2016

Solo Repertoire


Pasir, aku lelah mengukir, ku terusir tersingkir 
Pasir, tak terukur, kau gugur teratur 
Aku terkubur, tersungkur 

Entah kenapa, rintik hujan di luar seperti rakitan memori otak saya. Seperti pasir di lirik lagu Tigapagi ini. Delapan belas hari yang lalu saya ingin menulis perjalanan saya.  Ini tentang kisah perjalanan bersepeda saya, Jogja - Solo. Sebelum ingatan layu…
Senin, 8 Februari 2016
Saya tiba di Kartasura kira-kia jam 11 malam. Saya berhenti di depan sebuah puskesmas di Pabelan. Saya istriahat di sana.

Selasa, 9 Februari 2016
Dini hari jam dua-an malam, ada seorang bapak yang menemui saya. Dia mengajak saya ngobrol sampai subuh. Bapak ini penuh teka-teki, dia tak mau menyebutkan nama, dia hanya bilang nama dia dengan enigma: hewan, burung, warnanya hitam, dan ada dalam Al Quran. Perkataannya seperti paranormal.

Bapak itu bertanya tentang hal-hal yang bagi saya privasi, dari keluarga, kuliah, masalah, dan lainnya. Saya tak nyaman. Dia seperti investigator yang seumur-umur baru pertama kali ini dia ketemu anak bengal perempuan yang sepedahan sendirian malam-malam dan tidur di emperen puskesmas. Pakai kerudung lagi. Ah, brengsek.

Inti pelajaran yang saya dapatkan dari bapak itu ada tiga: 1) Apa yang menurut kita baik dan benar, belum tentu baik dan benar juga untuk orang lain. 2) Keinginan tanpa perhitungan adalah nafsu--atau boleh saya bilang konyol. 3) Setiap melakukan apapun, bedakan mana yang nurani, nafsu, problem, dan galau. Kalau ia nurani, ia bersih. Memang moralis. Dia berpesan pada saya banyak… dan selebihnya biar saya pendam sendiri…

Usai ngobrol dengan bapak tua berkaca mata itu (dari fisiknya agak mirip sama guru agama pas SMA kelas XII), subuh, saya langsung solat subuh di masjid depan puskesmas. Jamaah di masjid itu dari golongan Islam apa gitu, yang dari pakainnya panjang-panjang. Bapak itu juga sebelumnya bilang tentang kasus yang lagi ramai di berita tentang Gafatar, daerah ini masuk zonanya. Perjalanan ini jadi menebalkan iman saya.

Setelah solat subuh saya melanjutkan perjalanan dengan semangat yang lemas. Saya menuju daerah UMS dan sepedahan di sana sampai ke sebuah pasar. Saya keliling pasar, melihat aktivitas manusia di sana. Lalu saya lanjut ke taman Sriwedari. Di sini saya baru tahu kalau Solo ternyata jadi kota keroncong. Trus juga baca isu-isu kebudayaan yang mengkhawatirkan lewat poster di sebuah tembok, tentang #SaveSriwedari. Ada yang menarik di poster itu: menjual tanah budaya sama dengan menjual harga diri!
Lalu saya berlanjut ke Museum Radya Pustaka Surakarta. Di sana ada banyak koleksi pustaka-pustaka lama, kanon-kanon besar. Sayangnya saat saya kesana ditutup sampai tanggal yang ditetapkan, dikarenakan buku-bukunya sedang dibersihkan.

Trus saya lanjut ke Pura Pakualaman. Sayangnya saya kepagian. Pura masih tutup, buka jam delapan pagi. Di depan pura ketemu sama bapak-bapak yang menceritai saya tentang kisah sukses empat anaknya.
 Di sini ada semacam perkampungan kavaleri.
 Trus lanjut ke Keraton Solo, dan gak sengaja lewat Pasar Klewer
Di keraton saya duduk di semacam pura kecil. Ketemu orang Jakarta yang juga mau liburan. Berhubung perut lapar, saya cari sarapan di sekitar keraton: Dapat nasi liwet khas Solo. Harganya lima ribu.
Nasi Liwet Solo
Lalu saya ngubungi teman yang saya kenal di dunia maya. Mas Sidiq namanya. Sedikit cerita, kenal dia lewat komen-komenan di blog, kami sama-sama suka dengan Sisir Tanah. Saya add FB-nya dan sebelum ke Solo saya udah kontak dia lewat fesbuk. Janjian ketemuan di Stadion Manahan. Karena saya nggak tahu jalan ke stadion, saya SMS buat ketemuan di keraton. Beruntung juga orangnya sedang libur (jadi bisa nemeni saya, haha). Karena kayaknya keraton luas, biar spesifik saya ngajak ketemuan di masjid. Saya nunggu Mas Sidiq di selasar Masjid Agung. Nunggu sekitar setengah jam, sambil nulis. Trus sekitar jam 9.40 Mas Sidiq datang. Kami kenalan.
Mas Sidiq gowes pakai sepeda gunung warna putih, serasi sama warna kaosnya. Kami bersepakat untuk masuk ke Keraton Solo. Ternyata Mas Sidiq juga belum pernah masuk, haha. Tiketnya sepuluh ribu. Yah, foto bareng penjaga gerbang dulu:
 
Sepertinya masuk keraton harus sopan. Melepas sandal. Kesan pertama, ada suasana masa lalu yang mengelus kuduk saya. Ada semacam pendapa yang anehnya dikelilingi patung-patung Romawi. Sungguh sangat kontras. Saya dan Mas Sidiq ngrasani ini. Kami seolah berasa di pertunjukan budaya yang tak jelas. Meski itu kado dari Romawi atau apa, bukankah lebih bijak ditaruh di bagian museum saja?

Sayang juga, pengunjung tak boleh masuk keraton. Ada pagar pembatas. Alasannya keraton luas, kalau lantainya diinjak-injak nggak ada yang ngepel. Shit-nya para abdi yang kerja di sana sebulan hanya dibayar (seingat saya) 50 ribu!  God. Saya jadi membayangkan bagaimana mereka makan. Pantas juga, lampu-lampu juga pada diselimuti kain warna kuning.

Keraton Solo
Dari area keraton, kami langsung ke area museum. Museumnya mirip kayak di Vredeburg Jogja. Ada foto-foto raja, peralatan perang masa dulu, replika permainan anak-anak, kuda, alat-alat masak dan mainan Jaman Doeloe, wayang, porselen, patung-patung seni, dan lain-lain. Sambil nglihat-nglihatin itu, saya sama Mas Sidiq ngobrol tentang banyak hal. Tentang tokoh, fenomena, buku, dan cerita-cerita.

Usai puas di kawasan keraton. Mas Sidiq ngajak saya ke Rumah Baca Teratai (RBT) di daerah Sangkrah, Solo. Pertama masuk di gang daerah itu,  mata saya sudah disuguhi mural-mural keren ajakan untuk membaca. Kami lalu masuk ke dalam sebuah rumah lumayan besar. Dari dalam ada kerumunan orang yang sedang duduk melingkar membahas sesuatu. Sepertinya rapat. Kami masuk, kenalan lagi sama orang-orang baru. Di sana saya kenal sosok keren pemberdaya masyarakat namanya Mas Danny. Kami ngobrol-ngobrol sebentar di sana. Di siang itu kata yang masih melekat dari Mas Danny: simpel, iso dilakoni. Prinsip segala hal. Dimulai dari sesuatu yang sederhana dan bisa dilakukan.

Siang itu Mas Sidiq ngajak saya ke perpustakaan RBT. Keren dah ini perpus. Dengan ruang sesempit itu bisa menghadirkan manfaat buat sekitar.
Usai nglihat perpus, trus solat dzuhur. Habis itu, Mas Sidiq ngajak saya ke daerah pecinan, Pasar Gede. Kemarin (8/2) baru imlek, daerah ini banyak lampionnya. Pas malam pasti keren banget ini.
Saya dan Nuun Junior (sepeda saya)
Sayangnya, saat itu hujan dan hati tetap happy. Dalam gerimis, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Triwindu, pasarnya barang antik dan klithikan. Puas banget lihat koleksi-koleksinya... Benar-benar susah ditemukan dan unik...
Siang masih gerimis. Dan semangat menjelajah masih menggebu. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Museum Pers Nasional Surakarta. Tempat yang direkomendasikan teman jurusan komunikasi saya di Jogja.
koran-koran dahulu
TAS yang revolusioner
Di museum ini ada beberapa ruang. Ruang dekat satpam ada koleksi mesin tik, di ruang sebelahnya ada tokoh-tokoh pers dan koran-koran jaman dulu.
Next, gowes ke tujuan utama datang ke Solo: ziarah ke makam maestro keroncong Inonesia, Gesang! Dan Mas Sidiq baik banget mau ngantar. Yeaaa....

Perjalanan lumayan juga dari pusat kota. Hehe. Sekalian keliling Solo sampai pelosoknya. Alam mengiring kami dengan gerimis yang bagi saya terasa romantis, haha. Setelah mencari dan mencari, kami sampai di sebuah kompleks pemakaman yang begitu luas. Di kompleks makam juga ada semacam monumen Tirta Gesang. Kami masuk ke makam, nyari makam Gesang yang ada tarup (atap)nya. Nanya sama adek-adek, tapi salah. Trus nanya sama ibu-ibu, ternyata masih beberapa meter lagi. Makam ini benar-benar luas, sampai kami nanya lagi sama bapak-bapak dan diantar ke makamnya langsung.
Makam Gesang sama seperti makam-makam lainnya, dia tak mencolok. Dikebumikan di pemakaman keluarga Martodihardjo bersama 14 orang sanak Gesang yang lain. Waktu itu makam ditutup, lalu bapak yang mengantar kami memanggil juru kunci dan dibukakan. Kami masuk ke dalam. Saya mengucapkan salam. Saya ingin bilang ke Gesang: hari ini saya berbahagia..
RIP Gesang
Kami berdoa. Di luar langit gelap, sangat mendung, dan hujan deras jatuh. Entah, saya merasa saat itu saya seperti ada di tempat yang saya sangat kenal. Saya dan Mas Sidiq berteduh di makam beliau, saya putar dua lagu beliau dari HP. Gesang saya anggap seperti kakek saya sendiri, karena mengingatkan saya dengan Mbah Kung dan bapak.

Sore yang syahdu di kuburan. Berdua, kami merenung dan berbicara tentang hidup. Tentang apa yang akan kami tinggalkan ketika nanti mati? Warisan abadikah seperti cita-cita Gesang?.

Sekali kuhidup, sekali kumati
Aku  dibesarkan di bumi pertiwi
Akan kutinggalkan, warisan abadi
Semasa hidupku, sebelum aku mati
--Gesang

Hujan reda dengan sisa gerimis gripis. Lalu memberikan salam perpisahan pulang pada Gesang. Kami melanjutkan perjalanan lagi. Di pinggir jalan kami makan siang sama makanan khas Solo juga, nasi timlo. Semacam sup yang isinya gado-gado. Wenak. Sambil makan, kami cerita tentang pengalaman perjalanan dan sastra. Lain kali saya juga pengen ke Rinjani seperti Mas Sidiq. Amin.
Nasi Timlo
Usai makan, karena waktu juga sudah mulai sore, kami lanjut pulang. Ternyata hujan tak lagi gripis lagi, deras, semakin deras. Saya tak membawa mantol. Mas Sidiq minjami saya, dan dia malah yang basah. Duh Is, kamu ini! Dan semakin deras, akhirnya bernaung juga di gedung apa gitu. Lanjut solat ashar di sebuah masjid yang konsepnya mirip banget rumah.

Hujan sepertinya bakal awet. Lalu kami menerjang hujan. Tujuan selanjutnya ke RBT. Saya berniat nginap di basecamp sana. Kawan-kawan di sini memang baik-baik, pas sampai dibuatkan teh, dikasi roti, diajak nonton film dokumenter. Jan asik tenan.

Malamnya, Mas Sidiq ngajak saya ke Rumah Baca Edelweis, rumah baca di desanya. Ini pemuda memang progresif, jadi dia makai ruang tamu rumah buat bikin perpustakaan umum. Dia mendirikan dan mengelola rumah baca ini sama teman-temannya. Kegiatan-kegiatannya juga membangun. Koleksi bukunya pun keren-keren. Di sana, diajak makan malam juga. Jadi merasa enak. Dan rasanya belum puas main sebentar ke rumah baca ini, tapi sudah larut malam. Mesthi ke RBT. Sampai sana, capek. Tidur.  Zzzz....

Di jalan ada moment kenangan indah yang lindap di memori saya: Di malam hari ada burung-burung yang membariskan diri di kabel-kabel lampu di jalan raya yang sedang berisik dan padat. Saat gerimis-gerimis burung-burung itu bercengkerama.

Rabu, 10 Februari 2016
Esoknya, bangun pagi. Solat subuh. Trus berbincang sama Mas Danny dan Mas Sidiq. Diceritain banyak. Mas Danny ini hidupnya termasuk out the box. Jadi dia pernah pas sekolah itu konsisten bolos. Sejak SMP udah mandiri ekonomi dari orang tua. Dulu pernah juga rutin setiap hari Sabtu-Minggu ke alam, konsisten, ada dan gak ada teman. Ke hutan sendirian, katanya: Ning kutho awake dhewe ijek iso kemaki, jajal ning alas? Banyak pelajaran hidup yang saya dapat. Mas Danny juga cerdas, dia belajar wacana dan keahlian bukan dari bangku kuliah, tapi secara otodidak. Orang yang cerdas baginya itu orang yang "rasa"-nya kuat.
sama Mas Danny, stay rock and roll
Setelah sarapan, saya pamit pulang. Sebelum pulang liputan ke Museum Pers dulu tentang Hari Pers. Usai itu, Mas Sidiq ngajak saya ke Stadion Manahan. Dia memberikan saya buku antologi puisinya: Sebuah Pencarian (Catatan Kaum Kusam).. Fakkk, udah buat buku. Iri saya, haha.
Sebuah Pencarian - Sidiq Bachtiar
Namun emang puisi-puisinya Mas Sidiq ini kebanyakan kritik sosial, kegelisahan-kegelisahannya yang puitis. Saya suka. Jam sepuluh tepat, pamit sama Mas Sidiq dan meninggalkan Solo. Will be miss this town... Thanks for everything comrade Sidiq Bachtiar... Always be progressive okay!!!

Best Wishes: Isma.