Senin, 16 Maret 2026

Catatan Buku "The Virtuous Puppeteer" (Seni Para Penguasa Pikiran) karya Balqis Humaira

Ini salah satu bacaan paling brengsek dan berguna yang pernah gw baca. Gw baca ini hanya butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk buku sepanjang 30 halaman. Agak lambat, tapi setiap halamannya gw kuningin. Si Balqis emang brengsek, gw gak peduli dia dikendalikan AI, atau dibuat dari AI, yang penting pikirannya dan tulisannya bukan AI. Gw beli buku ini di akun Lynk.id dia dengan harga 10 ribu. Buku tipis ini tebal sekali bobotnya. Ini link kalau mau beli: https://lynk.id/balqisable/22x7o56er32m/checkout

Gw tahu orang-orang kayak Balqis ini membahayakan sistem. Makanya dia bersembunyi di balik anonimitas dan avatar perempuan Timur Tengah yang cerdas, lugas, dan blak-blakan. Sementara bahasaku pakai lu dan gw dulu untuk mengimbangi bahasa Balqis.

Jadi ada 12 cara biar lu gak cuma jadi minion di papan catur, tapi juga jadi puppeteer:

1. Kill the "Nice Guy" (Matinya Si Paling Baik): Pertama, dia membuka untuk membunuh kesan diri lu sebagai orang yang "paling baik". Menciptakan aman sendiri di dunia yang kacau, ini cukup bodoh. Lu harus punya daya survival. Untuk itu, lu perlu jadi seorang "the virtuous puppeteer" (Seni Para Pengendali Pikiran). 

2.  Calculated Imperfection (Ketidaksempurnaan yang Terukur): Ini ngebuat lu lebih terasa manusiawi. Ada penelitian, kalau lu jenius, kesalahan lu bisa dimaklumi, tapi kalau lu biasa-biasa saja, lu dianggap bloon dan tak termaafkan. Intinya, ciptain bagian yang tidak sempurna di diri elu. Ini juga yang dilakukan dengan orang-orang hebat dan artis-artis di luar sana. Jangan perlihatkan diri lu yang terlalu sempurna, karena lu rentan dihujat kalau salah total.

3. The Reluctant Leader Strategy (Strategi Pemimpin yang Enggan): Jangan ambis jadi bos atau pemimpin. Lu punya kuasa nolak, itu bikin power lu lebih kuat. Bau mulut bisa dibauin semua orang, kecuali yang punya mulut.

4. The Common Enemy (Menciptakan Musuh Bersama): Tim kuat karena dia punya musuh bersama untuk dilawan. Musuh bersama yang kuat ada di dalam diri mereka sendiri. Ciptakan momen yang awalnya mereka tak bisa, jadi bisa; dari mereka yang tak percaya menjadi percaya. Musuh di sini gak selalu yang kelihatan, tapi juga yang gak kelihatan.

5. Operationalized Empathy (Empati Operasional): Kalau ada teman yang curhat sambil nangis, jangan ikutan nangis. Validasi mereka, dan seret mereka ke tempat yang lebih baik sesuai dengan rencana elu. Coba ciptakan ilusi mayoritas lewat metode orang-orang tarot, yang seolah itu ke mereka, padahal itu hal umum saja. Ini namanya "The Barnum Effect (Forer Effect)", yang biasa dipakai ramalan zodiak-zodiak.

6. The Law of Reciprocity Debt (Hutang Budi Abadi): Hutang budi bukan di saat moment Lebaran atau musim kasih hadiah, tapi di waktu saat mereka butuh banget, dan di moment yang mereka gak sangka-sangka. Mereka akan loyal ke elu tanpa lu minta.

7. Social Proof Engineering (Rekayasa Bukti Sosial): Ciptakan rekayasa kondisi, mereka mau karena kepengenan mereka sendiri, bukan karena paksaan dari elu. Semacam Bandwagon Effect, orang loncat bukan karena tahu tujuannya, tapi karena gerbong itu lebih meriah. Orang makan di restoran bukan karena restoran itu enak, melainkan karena itu ramai.

8. Gashligting for the Greater Good (Gaslighting Demi Kebaikan): Pelajari letak inti ilmu gaslighting. Caranya bukan dari sama-sama menyerang ke luar, tapi diarahkan dari luar ke dalam. Termasuk, misalnya, dengan menyerang "identitas" atau "integritas" mereka. Bingkai pengeorbanan yang mereka lakukan adalah investasi buat mereka sendiri.

9. The Cult of Personality Code (Kode Etik Kultus): Buat bendera atau simbol-simbol tertentu sebagai totem. Ciptakan seragam bersama yang bedain antara klub elu dan klub lain. Buat jadi lebih eksklusif, miliki bahasa-bahasa sendiri.

10. Weaponized Humility (Kerendahan Hati sebagai Senjata): Praktik nyatanya, kalau bos lu bilang karya lu sampah, akui saja dengan rendah hati, baiklah, memang begitu, dan saya akan belajar. Tapi kata-katanya manis, dengan begitu elu gak cuma bikin situasi berbalik, massa berpihak sama elu, tapi juga bikin bos yang ngata-ngatain elu jadi kelihatan buruk. 

11. The Teflon Shield (Perisai Anti-Lengket): Bagi gw pribadi, ini penting banget. Karena sifat teflon, meskipun lu goreng telur gosong, ngebersihinnya gampang, dan lu gak larut sama kotoran yang diciptakan di atasnya. Lu perlu jadi pribadi yang kayak gitu juga. Kalau perlu, dalam mengerjakan sesuatu, punyai kambing hitam dan gunakan doktrin tangan bersih. Jangan kotori tangan lu sendiri, meskipun elu otaknya.

12. The Legacy Trap (Perangkah Warisan): Ciptakan situasi atau kualitas di mana elu seperti pasak bumi, bukan sekrup yang bisa digantikan oleh orang lain. Kalau kamu tahu prosedurnya 100 persen, jangan berikan seluruhnya, sisakan 20 persen sebagai rahasia. Ini yang disebut dengan centralization of vital complexity. Kedua, pakai ,, ilang bentar dan tunjukkan kalau lu gak ada kantor bakalan bangkrut atau tutup. Terus lu kembali lagi menyelesaikan semua.

Meski begitu, ada beberapa pertidaksetujuan gw:

1. Gw kurang cocok sama ide buat diri lu sendiri jadi pusat semesta seperti yang ditawarkan di poin 12. Warisan bagi gw tetap penting selama itu warisan positif, tapi membuat sistem ketergantungan sama diri gw itu bukan gw banget. 

2. Ada peribahasa semakin lu keras genggam pasir, semakin pasir itu lepas. Nah, 12 prinsip ini barangkali hanya bekerja dalam kondisi tertentu. Banyak benarnya, tapi malah jadinya tidak menunjukkan elu orang, tapi nunjukin lu diktator baru. Ide-idenya memang Machiavelian, jadi perlu hati-hati biar trik-trik ini secara alamiah bekerja sesuai jalurnya.

3.  Ilmu-ilmu ini bisa langsung dipraktikkan kalau elu punya skill yang mumpuni. Jangan coba-coba, misal lu tipe orang yang gak pandai akting, terus mencoba ini. Fake elu bakalan kelihatan banget. Melakukan tips-tips ala Balqis ini perlu jam terbang panjang dan perlu mengubah total software otak lu jadi seorang "player". Tulisan ini bisa jadi switch yang besar bagi mereka yang berjalan di hidup yang lurus yang menjunjung nilai 

Ihdinash-shirâthal-mustaqîm
(اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ).

4. Dimensi buku ini begitu intelek (otak) dan menyerang atau meng-hack secara psikologis, tapi lupa ada unsur spiritualitas atau faktor X yang berperan juga.

5.  Menjalankannya perlu hati-hati, dan setidaknya lu punya privilege, paling tidak di tingkat pikiran dan itung-itungan yang tepat.

Yang membuat gw terinspirasi dari buku ini:

1. Setelah baca ini, Balqis buat gw jadi manusia yang gak polos lagi. Gw lihat orang juga jadi gak polos lagi, tapi bisa mengenali motif-motif di baliknya. Kenapa mereka seperti itu? Kita punya pilihan untuk menjadi seorang puppeteer dengan bijak. Gak semua orang memang baik, dan kalau lu terlalu baik, lu bisa dimakan dan jadi korban orang yang lebih berkuasa dari elu.  

2. Emosi orang lebih penting dibandingkan dengan intelektual dan fakta. Jadi, senjata utama untuk memenangkan emosi orang adalah mengenali hasrat utama mereka, insekuritas mereka, dan dimensi-dimensi dasar mereka, seperti cinta, bahagia, ketakutan, dll. Kalau lu paham ini, lu bisa jadi teflon yang gak kena getah-getah sampah itu, tapi juga bisa bantu menyeretnya ke sesuatu yang lebih baik.

3. Buku ini ngebawa gw lebih paham sama diri gw sendiri, masyarakat, dan lingkungan sekitar gw. Klise, tapi ini repetisi tak henti-hentinya yang selalu gw pegang saat belajar. 

Jumat, 13 Maret 2026

Catatan Buku "Penziarahan: Pemurnian Jiwa" karya Maharsono Probho, SJ

Buku Romo Mahar ini aku beli setelah mendapat rekomendasi dari grup "Meditasi Kesadaran", yang rutin digelar di Katedral Jakarta setiap Kamis malam. Romo Mahar sendiri yang memimpinnya. Awal-awal dulu, aku sering datang. Namun, setelah ditempatkan live in di Aceh selama sebulan, kemudian dilanjutkan Ramadan dan Lebaran, sudah hampir tiga bulanan aku tak ikut meditasi lagi. Aku senang mengikuti meditasi itu, meskipun aku satu-satunya umat Islam dan berkerudung di sana. Rindu ikut meditasi itu lagi, meskipun di keseharian juga ada grup meditasi pagi yang jarang aku ikuti. Mungkin, aku masih di fase ups-down dalam melaksanakan meditasi, meskipun niat untuk menyeriusinya sudah ada.

Buku penziarahan ini aku selesaikan juga dengan sekali duduk. Lebih tepatnya, aku menyelesaikan selama satu jam. Aku kagum dengan referensi yang digunakan Romo Mahar dalam buku ini. Bagiku bukan referensi biasa, karena bahasanya berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Buku ini juga dianggit dari hasil pengalaman Romo Mahar mengikuti kegiatan meditasi ketika masih tinggal untuk pengabdian umat di Thailand. Ia menjalani perutusan sebagai anggota Serikat Yesus sejak 1992 sampai 2015 di negeri gajah tersebut. Dengan waktu yang lama, tak heran Beliau juga aktif berbahasa Thailand. Buku ini jadi sarana "sharing" Romo.

Isi dari buku ini lebih banyak berbicara tentang teknik, mekanisme, atau langkah-langkah melakukan meditasi. Di awal, Romo menekankan betapa pentingnya "berdoa". Ini sebagaimana yang dikatakan mistikus kuno bernama Evagrius, "Jika engkau sungguh seorang teolog sejati, engkau tentu sungguh-sungguh berdoa; jika engkau berdoa sungguh-sungguh, engkau adalah seorang teolog." Mistik di sini bukan berarti klenik. Mistik di sini diartikan "pengalaman berhubungan langsung dengan Yang Ilahi secara mesra-akrab." Ketika seseorang makin dekat dengan Allah, akan ditemui suatu paradoks yang barangkali dihindari manusia: ketidakpastian karena dosa-dosa, makin miskin karena Allah saja kekuatannya, hingga dia menemukan berbagai ungkapan cinta. Cinta Allah itu bergerak.

Hal paling utama dalam melakukan meditasi adalah menyediakan diri. Ada dua catatan dasar yang perlu dipahami bersama: (1) Hiburan rohani dan pengalaman mistik adalah murni dari Allah, (2) Apa yang menjadi niat manusia adalah penyediaan diri, perlu ada kesungguhan hadir di hadapan Allah, "cinta memerlukan penyerahan segalanya, dan lepas dari berbagai kelekatan", (3) Semua itu terjadi di bumi dalam lingkup semesta, dalam hubungan antarsemua makhluk hidup. Penyediaan diri adalah bentuk latihan rohani. 

Meditasi sendiri diartikan sebagai latihan rohani yang berumur tua, khususnya dari tradisi Hindhuisme dan Buddhisme. Fungsinya untuk menghadirkan kesadaran dalam setiap tindakan kita. Mengapa kesadaran penting? Salah satunya untuk penjagaan terhadap kelima panca indra, dan mengecilkan ego. Meditasi menjadi penziarahan kesadaran. Lalu, Romo menjelaskan terkait empat unsur kehidupan: meditasi api, meditasi air, meditasi udara, dan meditasi tanah. Paling mudah meditasi udara, karena lebih bisa kita lakukan di mana saja. Apalagi jika kamu hidup di kawasan urban dan perumahan vertikal, susah menemukan tanah, air untuk berendam, atau api yang didapat dari sinar matahari.

Menariknya, Romo di buku ini juga membahas meditasi lain: meditasi makanan, meditasi berjalan, dan latihan pancaindra. Aku tertarik dengan meditasi makanan, karena kita jadi belajar untuk menghormati setiap unsur makanan yang ada di piring kita, lalu memberikan ucapan terima kasih kepadanya. Makanan dalam tradisi Kristiani juga merupakan ekaristi (perayaan kurban Tubuh dan Darah Yesus Kristus yang diubah dari roti dan anggur) semesta. 

Terakhir, Romo Mahar mengajarkan terkait meditasi cinta. Prinsip utamanya, "Menjaga budi, pikiran, dan hati agar tetap bersih, hanya bisa dilakukan dengan mengalirinya dari sumber yang bersih!" Romo meminta kita untuk mengalami cinta, alih-alih menganlisisnya, karena itu hanya akan membuang energi. Tujuan dari meditasi cinta yaitu menyemai cinta, sementara medannya adalah diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan alam semesta. Ini berhubugan juga dengan meditasi berkat, dengan cara nafas masuk (menyebut nama), dan nafas keluar (mengucapkan berkat). 

Pendekatan buku ini memakai POV umat Katolik. Romo Mahar juga mengajak kita untuk membaca gerak dunia. Namun, meski keyakinan kami berbeda, aku bisa mengambil pesan universal yang disampaikan Romo Mahar. Semisal bagaimana agar manusia lebih mendekatkan diri pada Allah, dengan cinta Allah. Romo mengingatkan, "Dalam gerak penziarahan mencari Allah ini, manusia bisa mengalami banyak gangguan, penyimpangan, dan bahkan bisa tersesat, sadar atau tidak. Sekaligus juga manusia menemukan bentuk-bentuk tuntutan-Nya yang kreatif." (vi) Dan ini bisa menjadi sejarah rahmat bagi kita.

Judul: "Penziarahan: Pemurnian Jiwa" | Penulis: Maharsono Probho, SJ | Editor: Rosalia Retno | Penerbit: PT Kanisius Yogyakarta | Tahun terbit: 2023 | Jumlah halaman: xiv + 66

Kamis, 12 Maret 2026

I am Ready to be Forgotten, More Than Ready

I feel overwhelmed and so much overthinking with many things, even it is just a small thing. I want to stop. I never need a validation, I will close that curtains of performance. Social media is not my nature pool. It is messy, creepy, exhausted, mental static... It makes me feeling hurt as easy as I use it: more cynical, colder, defensive. 

I want to find my own voice again, quiet, imaginative, and untainted by the judgement of the public eye. I want to step away from public gaze. I am not trading my peace with like or love or comment or share or repost.

I choose private. And of course, I am ready to be forgotten, even, more than ready.

Rabu, 11 Maret 2026

Catatan Buku "Seakan Bisa Dipisahkan" karya Ruhaeni Intan

Ini buku kedua Ruhaeni Intan yang kubaca dalam waktu sekali duduk, sekitar dua jam selesai. Aku membelinya pas bulan Ramadan, saat jalan-jalan di Grand Indonesia. Aku mampir ke Gramedia dan menemukan buku ini nyelip di antara novel-novel populer yang sampulnya cantik-cantik. Novela ini tidak kelihatan karena tinggal satu, dan sampulnya tak terlihat dari jauh. Namun, karena aku tipe pembaca yang suka eksplor tata rak, refleks aja kuambil. 

Sebagai kaum yang mendang-mending, apalagi mau lebaran 2026; aku sempat cek harga buku ini di Shopee, harganya beda jauh sama di Gramedia GI. Aku akhirnya terlibat dilema yang bagiku "tidak terlalu penting" (andai aku banyak uang) untuk membeli di GI atau Shopee saja? Sampai-sampai, aku diskusi sama ChatGPT untuk pengambilan keputusan. Menyusahkan memang. Argumen ChatGPT, kalau aku mau ngejar momen, beli dari GI, karena pengalaman ini gak bisa terulang. Membeli secara online dan offline tentu pengalamannya akan sangat berbeda. Belum lagi aku harus menunggu beberapa hari dan semangat belajar itu barangkali sudah hilang. "Anggap aja selisih harga 35 persen itu untuk biaya kursus menulis," katanya mengompori. Baiklah, terdengar masuk akal, akhirnya aku membelinya di GI.

Setelah membacanya, aku suka bagaimana Intan mengangkat tema sehari-hari dan domestik menjadi hal yang menarik untuk ditulis. Premis buku ini sederhana saja: Seorang anak pertama perempuan yang memiliki hubungan tidak baik dengan orangtua, khususnya sang ibu, dan mencoba untuk menghadapi hubungan rapuh itu. Tema semacam ini tentu banyak relate-nya dengan pemuda-pemudi sekarang, yang rata-rata yatim pasif atau piatu pasif, atau yatim-piatu pasif. Kalau mengamati hidupku sendiri, barangkali aku masuk yang golongan akhir, orangtuaku ada, tapi hubungan kami tak berjalan sebagaimana mestinya.

Simaklah kutipan menyayat berikut, "Karena aku telah membenci ibu, aku berhenti belajar darinya. Aku berhenti mendengarkan nasihat ibu, aku berhenti menuruti permintaannya, dan aku berhenti menghiraukannya. Aku merasa kasihan dengan ibuku. Aku seharusnya menyanyangi ibuku seperti ibuku juga menyayangi ibunya. Seperti ayahku menyayangi ibunya. Seperti teman-temanku menyayangi ibunya masing-masing. Seperti tetanggaku menyanyangi ibunya." (hlm. 1) 

ALUR: 

Terkisah, tokoh utama bernama Sofia yang bekerja sebagai Personal Assistant sebuah kantor di lingkungan urban memutuskan untuk berhenti bekerja. Nama Sofia jujur mengingatkanku dengan video klip Boy Pablo yang berjudul "Hey Girl", modelnya dinamai Sofia. Si Sofia mencari kosan baru dan meninggalkan kos lamanya yang dirasa tak representatif lagi. Dia menghubungi sahabat SMA-nya bernama Karin yang kosnya hendak ditukar gulingkan dengan harga sewa yang murah, karena Karin hendak kumpul kebo bersama pacarnya. 

Di kos-kosan baru inilah, aku membayangkan sebuah rumah tua bertembok dan Sofia tinggal di lantai dua. Kontrakan ini ada di belakang ruko, dengan gang yang sering dilewati para pekerja sektor informal. Rumah ini agak suwung karena penghuni utamanya hanya Sofia dan seorang pria paruh baya yang berpretensi jadi karakter yang dikasihani sepanjang cerita bernama Pak Kaslan. Awalnya, aku mengira dia tokoh jahat yang punya kelainan jiwa dan akan mengganggu Sofia. Ramalan ini aku buat di awal karena aku masih teringat dengan pola alur di novela "Arapaima", di mana tokoh laki-laki kebanyakan adalah pria belang.

Namun, aku salah. Pak Kaslan ini sangat baik pada Sofia. Bapak ini membantu perempuan madesu itu pindahan, membawakan perabotan ke atas, memberi Sofia makanan dan minuman. Pak Kaslan ini jago masak ikan, dan berhubungan dengan ikan, dia juga punya jadwal tetap memancing setiap weekend (seingatku). Jadi, dia tidak akan membuat janji apa pun di hari khususnya hanya untuk memancing. Baginya, memancing tidak untuk mendapatkan ikan, hanya untuk senang-senang saja.

Pak Kaslan hidup sendiri di kamar yang lebih kecil, dengan barang rongsokan yang sangat banyak. Dia seperti mewakili karakter orangtua lama, para boomers yang hobi hoarding barang-barang pecah belah seperti gelas, cangkir, dan piring. Barangkali ini juga bentuk trauma masa lalu, saat mereka kesusahan memiliki barang pecah belah tersebut dan saat mereka mampu, mereka mengoleksinya. Meskipun dalam tahap tertentu, itu seperti mengoleksi sampah. Barang-barang Pak Kaslan, barangkali kalau di Jogja dia mengoleksi dari Pasar Klitikan, atau kalau di Jakarta thrifting atau hunting barang bekas di pasar loak sekitar Stasiun Kebayoran.

Konflik yang terjadi antara Sofia dan ibunya sebenarnya cukup kompleks. Inti yang kutangkap, kondisi ekonomi keluarga Sofia tidak baik saat kecil. Meskipun si Bapak jadi guru, tapi malah kegocek sama bisnis MLM tak jelas sehingga jatuh miskin. Si Bapak juga terlibat perselingkuhan dengan perempuan lain, ini yang membuat ibu Sofia mengambil alih posisi menjadi Ibu Kepala Rumah Tangga. Ibu Sofia membanting tulang membuka bisnis makanan, salah satunya membuat pastel isi wortel (sampai wortel kemudian jadi makanan yang dibenci Sofia karena ibunya meminta memakan dengan paksaan).

Lambat laun, usaha ibu Sofia bisa menghidupi seluruh keluarga. Namun, di sisi lain, bapak Sofia merasa seperti tidak dianggap di rumah. Si bapak pulang pergi dari rumah seenaknya tanpa kabar, seolah tidak menghiraukan Sofia, dan mereka yang tinggal di rumah. Perselingkuhan tetap berjalan, meskipun tidak dijelaskan dengan detail. Perkawinan yang sebenarnya sudah pecah sejak awal itu terpaksa dilanjutkan karena alasan anak-anak, yaitu Sofia dan adiknya Novia.

Awalnya, si ibu masih sering mengontak Sofia, tapi lama-lama tidak lagi. Kasus memuncak ketika Novia dikabarkan kabur dari rumah. Ibunya blingsatan menghubungi Sofia untuk mencari si adik yang ternyata dia nginep di sahabat baiknya. Novia kabur karena di rumah dia tak merasa aman, ibunya juga terbilang keras, dan bapaknya tak perhatian. Uang kaburnya didapat dari menjual HP. Setelah dibujuk, Novia pun mau kembali, tapi terlebih dulu tinggal di kontrakan Sofia. Novia mengamati kakaknya yang gelundang-gelundung di kamar tanpa pekerjaan jelas. Sementara Sofia berdalih sedang cuti panjang.

Setelah sekitar seminggu, Sofia membujuk Novia kembali ke rumah. Mereka pulang naik bus cepat. Di rumah pun, hubungan ibu dan anak tak kembali baik. Bahkan Sofia enggan makan masakan ibu dan memilih makan mi instan. Terjadilah perang dingin antara keduanya, Sofia tak betah, dan ingin cepat-cepat ke kamarnya.

Namun, ketika dia tiba, lelaki paruh baya Pak Kaslan ditemukan meninggal secara mengenaskan. Mayatnya telah membusuk dan tak ada yang peduli padanya. Dia meninggalkan harta karun barang-barang rongsokan yang sangat banyak, dan cairan tubuh Pak Kaslan mengenai barang-barang itu. Di belakang cerita, terungkap jika Pak Kaslan punya keluarga, dia punya satu anak perempuan. Sofia mengingatkan Pak Kaslan dengan anak perempuannya, sehingga dia baik hati pada Sofia. Pak Kaslan menulis surat yang tak pernah dia kirim untuk si anak, juga uang tabungan yang disimpan di sebuah kursi. Naasnya, uang tabungan itu pun dimakan rayap. 

Ketika pemilih rumah ingin membuang barang-barang Pak Kaslan, Sofia tak tega dan membelinya. Barang-barang itu dialihkan di kamarnya. Suatu hari, pacar Sofia bernama Agam, membantu untuk membersihkan dan menata barang-barang itu agar lebih rapi. Agam satu pekerjaan dengan Sofia di semacam klinik hewan anabul. Dari barang hoardingan yang amat banyak itulah, rahasia Pak Kaslan tentang surat dan anak terkuak.  

ANALISIS: 

Penilaianku pribadi untuk novela ini, aku menikmatinya, dan lancar-lancar saja dibaca secara santai. Namun, aku merasa karakter di buku "Seakan Bisa Dipisahkan" ini tak lebih kuat dari karakter "Aku" di novela "Arapaima". Keduanya sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan yang mumet, entah karena pekerjaan, relasi yang tidak baik dengan keluarga dan kolega, maupun hubungan yang tidak baik dengan diri sendiri; tapi aku merasa tokoh utama di "Arapaima" lebih kompleks. Intan yang barangkali bisa kuanggap bisa menjadi penerus Budi Darma versi perempuan seperti kehilangan distingsi karakter unik ini di novela SBD: kurang greget, kurang nakal, kurang antagonis, kurang out of the box. Mungkin penilaianku salah tapi itu yang kurasakan.

Tak diragukan, buku ini juga menghadirkan isu-isu keperempuanan dan gender yang kompleks. Temanya khas dengan masalah umum banyak keluarga di Indonesia. Hubungan orangtua dan anak bisa menjadi kisah dan sumur inspirasi yang sangat bisa digali, dan tak pernah basi. Meski begitu, karakter "ibu" di buku ini juga masih kurang digali, padahal dia menjadi sorot utama, justru yang tergali lebih ke karakter Novia dan Pak Kaslan. Apalagi si bapak, bahkan karakter ini tak tergali sama sekali. 

Isu besar lainnya terkait dilema pekerjaan di usia setelah kuliah. Isu kesejahteraan pekerja dengan segenap mental health-nya. Aku suka bagaimana penggambaran keseharian pekerja yang dekat, seperti berhenti lama melihat jemuran, karena aku teringat kosku di Semarang. Di sana, jemuran bajunya di tingkat dua, jadi tempat yang menarik untuk melamun. Saat itu aku jadi jurnalis freelance, pun nasibnya sama, dengan gaji yang tak seberapa, dan gaji hanya untuk sekadar hidup, tanpa simpanan.

Kekuatan novela ini: (1) Penceritaan keseharian dengan bahasa yang dekat dengan pembaca, (2) Isunya aktual dan dekat, (3) Tidak bertele-tele. Kelemahan: (1) Karakter beberapa kurang terolah dengan baik, (2) Hubungan dengan ibu dan bapak kurang intens, (3) Lebih banyak drama dengan dunia luar (pekerjaan/Pak Kaslan) alih-alih drama dengan dunia dalam (orangtua).

Judul: Seakan Bisa Dipisahkan | Penulis: Ruhaeni Intan | Penyunting: Teguh Affandi | Cetakan: Pertama, Juni 2025 | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Jumlah halaman: x + 117 | Dimensi: 13,5 x 20 cm

Selasa, 10 Maret 2026

Hidup di Zona Ekstraksi Tambang pada Masyarakat Sagea

“Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”
Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia
Selasa, 10 Maret 2026 | 10.00–11.30 WIB | Zoom

Narasumber: Supriyadi Sudriman (Koalisi Save Sagea / SEKA)
Moderator: Geger Riyanto


Pengantar Diskusi

Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”. Diskusi ini bertujuan memberikan gambaran mengenai situasi sosial, ekologis, dan politik yang terjadi di Sagea, Halmahera Tengah, di tengah ekspansi industri nikel.

Moderator, Geger Riyanto, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa kawasan Teluk Weda menjadi salah satu pusat perkembangan industri nikel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sejak sekitar 2017–2019, aktivitas eksplorasi dan industrialisasi nikel meningkat pesat, terutama setelah masuknya investasi besar, termasuk dari Tiongkok. Perkembangan ini terhubung dengan model kawasan industri seperti yang juga berkembang di Morowali.

Dalam sistem industri tersebut, keberadaan industrial park seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menjadi penting karena berfungsi sebagai offtaker atau pembeli utama nikel. Kehadiran kawasan industri ini membuat tambang-tambang yang sebelumnya tidak aktif dapat kembali beroperasi karena adanya kepastian pasar.

Namun, menurut Geger, perkembangan industri tersebut juga memunculkan berbagai persoalan sosial dan ekologis di tingkat lokal. Di wilayah seperti Sagea, masyarakat pesisir mulai merasakan perubahan lingkungan, misalnya keruhnya air sungai akibat aktivitas pertambangan di hulu. Bahkan, dalam perkembangan terbaru, terdapat 14 warga Sagea yang diperiksa aparat setelah dilaporkan oleh perusahaan terkait konflik dengan aktivitas tambang.

Diskusi ini diharapkan dapat memberikan perspektif langsung dari masyarakat yang hidup di wilayah terdampak.


Paparan Narasumber

Supriyadi Sudriman, yang merupakan bagian dari Koalisi Save Sagea (SEKA) sekaligus warga Sagea, memulai paparannya dengan menjelaskan perbedaan cara pandang antara wacana pembangunan di tingkat nasional dan pengalaman masyarakat di daerah.

Menurutnya, di tingkat pusat nikel sering dibicarakan dalam kaitannya dengan agenda global seperti energi bersih dan mobil listrik. Namun bagi masyarakat di wilayah yang menjadi lokasi ekstraksi, pengalaman yang dirasakan sangat berbeda.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Sagea telah lama berhadapan dengan ekspansi pertambangan, bahkan sebelum industri nikel berkembang pesat di Teluk Weda. Dalam kehidupan masyarakat Sagea, terdapat nilai-nilai budaya yang mengatur hubungan manusia dengan alam.

Salah satu ungkapan yang dikenal dalam masyarakat Sagea adalah “Ngat rori tarori, ite ror e ite roo”, yang berarti bahwa milik kita adalah milik kita dan milik orang lain adalah milik orang lain. Prinsip ini menekankan penghormatan terhadap batas kepemilikan dan keberadaan pihak lain.

Selain itu terdapat prinsip “Myo facici ie”, yang berarti mengambil dari hutan atau alam secukupnya. Nilai ini menolak sikap rakus terhadap alam dan menekankan keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya.

Dalam kehidupan masyarakat Sagea, salah satu pusat kehidupan adalah Sungai Sageyen (Woye Sageyen). Sungai ini menjadi sumber air, pangan, dan berbagai aktivitas sosial masyarakat. Supriyadi menegaskan bahwa bagi masyarakat Sagea, mineral paling berharga bukanlah nikel, melainkan air.

Peradaban kampung Sagea dibangun di sekitar sungai tersebut, yang juga memiliki makna simbolik dan sakral dalam kosmologi lokal. Dalam tradisi masyarakat, dikenal kisah tentang dua figur simbolik: Bokimaruru, sosok perempuan yang menjaga sungai, dan Legaya Lol, yang melambangkan kekuatan pengetahuan dan kepemimpinan. Kisah ini menggambarkan relasi yang tidak terpisahkan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.

Dalam konteks tersebut, masyarakat Sagea memiliki ungkapan:
“Hutan lestari, sumber air mengalir. Hutan binasa, air mata mengalir.”

Menurut Supriyadi, ungkapan ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat mulai merasakan dampak perubahan lingkungan. Ia menyebut bahwa sejak sekitar 2013 masyarakat mulai merasakan ancaman terhadap keberlanjutan sumber air dan hutan mereka.

Merespons situasi tersebut, pada sekitar tahun 2014 muncul gerakan masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Save Sagea. Gerakan ini bertujuan mempertahankan kampung dan identitas masyarakat di tengah ekspansi industri ekstraktif.

Dalam paparannya, Supriyadi mengutip sebuah ungkapan yang menggambarkan situasi yang dihadapi masyarakat saat ini: “Rendah karbon, tinggi korban.”

Ia menjelaskan bahwa narasi global mengenai transisi energi dan pengurangan emisi karbon sering kali tidak memperhitungkan dampak yang dialami masyarakat lokal yang hidup di wilayah ekstraksi. Ketika negara berbicara tentang agenda besar pembangunan dan energi bersih, masyarakat di tingkat komunitas justru menghadapi berbagai konsekuensi sosial dan ekologis.

Sejak sekitar 2018, kawasan Teluk Weda mengalami percepatan industrialisasi dengan hadirnya berbagai perusahaan yang terhubung dengan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Beberapa perusahaan yang disebut dalam diskusi antara lain Weda Bay Nickel, Karunia Sagea Mineral, Putra Prima Sejahtera, First Pacific, Gamping Mining Indonesia, dan Kaia Pilar Indonesia.

Menurut Supriyadi, aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan sistem sungai yang bermuara ke Teluk Weda. Limbah dan sedimen dari aktivitas pertambangan di hulu pada akhirnya mengalir ke wilayah pesisir dan laut, sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.

Selain dampak ekologis, industrialisasi juga memunculkan perubahan sosial yang signifikan. Kehadiran kawasan industri menarik migrasi tenaga kerja dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini mengubah struktur sosial komunitas lokal yang sebelumnya relatif kecil dan homogen.

Banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani atau nelayan akhirnya kehilangan akses terhadap sumber penghidupan mereka. Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat kemudian bekerja sebagai buruh di industri yang sama yang sebelumnya mengubah lingkungan hidup mereka.

Supriyadi juga menggambarkan kondisi lingkungan di sekitar kawasan industri, termasuk asap pabrik yang terasa di mata dan hidung serta meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA. Di beberapa wilayah seperti Lelilef dan Gemaf, masyarakat juga mulai merasakan berbagai perubahan sosial, termasuk konflik kecil di masyarakat dan meningkatnya tekanan sosial dalam kehidupan keluarga.

Menurutnya, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri sering kali harus menanggung beban ekologis yang besar, sementara wacana pembangunan di tingkat nasional lebih banyak menekankan manfaat ekonomi dan kontribusi terhadap agenda energi global.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap respons pemerintah daerah dan pemerintah provinsi yang dinilai belum memberikan perhatian memadai terhadap kekhawatiran masyarakat pesisir.

Bagi masyarakat Sagea, perjuangan mempertahankan wilayah mereka bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan martabat, kedaulatan komunitas, serta masa depan generasi berikutnya.

Dalam presentasinya, Supriyadi juga menampilkan gambar Danau Lagaelol, yang terhubung dengan laut dan menjadi salah satu sumber protein penting bagi masyarakat Sagea serta kampung-kampung sekitar seperti Fritu dan Gemaf. Danau tersebut selama ini menjadi tempat masyarakat memperoleh kerang, ikan bandeng, dan berbagai sumber pangan lainnya.

Namun dengan berkembangnya aktivitas industri di wilayah tersebut, masyarakat mulai merasa khawatir terhadap keamanan sumber pangan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.


Sesi Tanya Jawab

Pada sesi diskusi, moderator menyinggung konsep “cheap nature” atau alam murah, yaitu kondisi ketika sumber daya alam diperlakukan seolah-olah tidak memiliki biaya sosial dan ekologis. Dalam model pembangunan seperti ini, negara memberikan konsesi kepada perusahaan tanpa memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial yang harus ditanggung masyarakat lokal.

Menanggapi hal tersebut, Supriyadi menyatakan bahwa sejak awal masyarakat Sagea melihat kehadiran perusahaan sebagai potensi ancaman terhadap kehidupan mereka. Dalam berbagai kegiatan komunitas, Save Sagea berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak industri ekstraktif melalui diskusi, pemutaran film, serta pendidikan komunitas.

Pertanyaan lain menyoroti dilema yang dihadapi masyarakat, di mana sebagian warga berharap pada lapangan kerja dari industri, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap dampak ekologis.

Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea tidak memusuhi warga yang bekerja di industri. Banyak anggota komunitas mereka sendiri yang bekerja di perusahaan tambang atau industri terkait. Menurutnya, situasi tersebut lebih merupakan bentuk keterpaksaan karena masyarakat kehilangan alternatif sumber penghidupan.

Dalam beberapa kasus, Save Sagea bahkan menjadi tempat bagi warga untuk menyampaikan keluhan terkait kondisi kerja maupun persoalan keselamatan di tempat kerja.

Pertanyaan lain menyinggung apakah terdapat kepercayaan lokal mengenai “kutukan” ketika alam dieksploitasi secara berlebihan. Supriyadi menjelaskan bahwa dalam budaya Sagea terdapat keyakinan bahwa alam harus diperlakukan dengan keseimbangan. Ketika manusia mengambil terlalu banyak dari alam secara rakus, maka alam akan “marah”, yang dalam konteks modern dapat dipahami sebagai munculnya bencana seperti banjir atau kerusakan ekosistem.

Diskusi juga menyinggung dampak yang dirasakan secara berbeda oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Menurut Supriyadi, perempuan merupakan salah satu kelompok yang merasakan dampak paling langsung, karena banyak aktivitas sosial perempuan berlangsung di wilayah sungai dan perairan. Ketika wilayah tersebut berubah menjadi kawasan industri, ruang sosial perempuan juga ikut hilang.

Selain itu, masyarakat juga melaporkan meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA di wilayah Teluk Weda. Namun menurut Supriyadi, data tersebut sering kali tidak muncul dalam laporan resmi di tingkat pemerintah yang lebih tinggi.

Pertanyaan mengenai hubungan Save Sagea dengan pemerintah daerah dan akademisi juga muncul dalam diskusi. Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea pernah terlibat dalam diskusi mengenai perlindungan kawasan karst bersama pemerintah dan akademisi, namun diskusi tersebut tidak berlanjut menjadi kebijakan konkret.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap sebagian akademisi yang terlibat dalam penyusunan dokumen AMDAL untuk proyek pertambangan, yang menurutnya sering kali justru memberikan legitimasi terhadap eksploitasi sumber daya alam.


Penutup

Sebagai penutup, Supriyadi menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Sagea menghadapi kekuatan industri yang sangat besar bukanlah hal yang mudah. Namun mereka akan tetap bersuara untuk mempertahankan kehidupan dan wilayah mereka.

Ia menutup dengan refleksi bahwa di tengah berbagai narasi besar tentang pembangunan dan energi, terdapat masyarakat di berbagai tempat yang berjuang mempertahankan ruang hidup mereka.

Menurutnya, perjuangan masyarakat Sagea merupakan bagian dari upaya mempertahankan kehidupan, martabat, dan masa depan generasi yang akan datang.

Senin, 09 Maret 2026

Catatan Buku "Bersama Para Kamerad" karya Arundhati Roy


Ketika hendak mengulas sebuah buku, biasanya aku akan memulai dengan entri tertentu yang aku merasa dekat. Aku tak perlu membahas sesuatu yang aku tak paham, sebab bagiku itu tak hanya melelahkan, tapi juga membuatku ketika menulis merasa tidak nyaman. Setelah membaca buku Arundhati berjudul "Bersama Para Kamerad" ini, aku pernah memikirkan satu entri poin yang menurutku penting. Tapi ingatanku sebegitu rapuhnya, sehingga aku lupa pintu masuk yang kumaksud itu. Akhirnya, aku masuk ke pintu lain. Begini ceritanya...

Saat aku kuliah di UIN Jogja dulu, menjadi aktivis LPM Arena, aku ditawari untuk menjadi proofreading (entah mengulas) buku dari pejuang Timor Timur. Buku itu berjudul "Timor Timur: Sebuah Memoar" yang ditulis oleh Naldo Rei, dan disunting oleh Linda Christanty. Buku itu rasanya begitu pekat, sedih, dan lembar demi lembar adalah catatan luka yang terasa sesak ketika kamu baca. Wajah kemanusiaan digambarkan se-raw itu di antara perjuangan di hutan-hutan, derap perang, dan darah. Meski tak sepekat narasi Naldo Rei, Arundhati Roy kurang lebih menuturkan suatu perjuangan yang kurang lebih sama: melawan penjajahan dari mereka yang punya kuasa terhadap mereka yang dianggap pemberontak.

Aku mengoleksi sekitar tiga buku Arundhati di kosku, tapi baru ini yang pertama kubaca. Aku cukup shock ternyata penulis perempuan yang sepertinya bertubuh kecil itu punya keberanian yang sangat besar untuk melakukan turun bawah (turba) di sebuah kamp terlarang, tepatnya di Hutan Dandakaranya, India. Dia melakukan suatu liputan etnografis terkait perjuangan sekelompok masyarakat adat dan marjinal yang menolak tanah mereka menjadi ladang eksploitasi tambang pemerintahan yang berkuasa saat itu. Rezim yang sewenang-wenang melakukan pembunuhan, pembakaran, pemerkosaan, dan pencurian besar-besaran melalui instrumen berseragam mereka. Operasi Salwa Judum inilah biang keroknya. Ketika kau mengetik, "salwa judum", kau akan menemukan banyak pelanggaran yang dilakukan mereka atas tindakan tidak beradab yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan.

Perlawanan itu terhimpun dalam sekelompok golongan yang disebut Naxal, yang memiliki nama lain pengikut ajaran Mao. Inti ideologis kelompok ini adalah berbasis pada pemikiran Mao Zedong, yang percaya bahwa revolusi bisa dipimpin oleh petani. Mao berfokus pada masyarakat agraris, percaya pada strategi perang gerilya dari desa ke kota. Mao percaya petani adalah kekuatan revolusi utama, bukan hanya buruh kota saja. Ini tentu berbeda dengan pandangan Leninisme (yang basisnya buruh industri dengan strategi utama partai pelopor di tingkat nasional), Trotskisme (berbasis kekuatan buruh dengan skala revolusi yang internasional), dan Stalinisme (revolusi dengan sentralisasi kekuasaan ekstrem, industrialisasi cepat). Tentu isme-isme ini berfondasi pada pemikiran Karl Marx bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas. 

Berbekal kekuatan para petani yang kehilangan tanah, rumah, dan keluarganya itulah; kemarahan ini disulut. Perlawanan ini terjadi di daerah-daerah dengan kekayaan mineral yang kaya, di Chhattsgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Di sini, secara telaten, Arundhati juga menceritakan berbagai kamerad-kamerad yang ditemuinya sepanjang perjalanan: 

Chandu, Mangtu, Didi, Kamerad Mahdav, Kamerad Narmada (sosok yang bertanggungjawab di Krantikari Adivasi Mahila Sangathan/KAMS yang kepalanya punya label harga), Kamerad Saroja dari PLGA, Kamerad Maase (perempuan hitam di Gondi), Kamerad Roopi (sang penyihir teknologi), Kamerad Raju, Kamerad Veny/Muralli/Sonu/Sushil (yang paling senior dari Komite Sentral atau Politbiro). Kamerad Kamla. Setiap kamerad-kamerad ini mempunyai kisah-kisahnya sendiri. Salah satu sobat yang paling kuingat adalah dia yang membawa sepeda. Sepeda selalu mengingatkanku dengan diri sendiri.

Hal yang sangat menggugahku adalah bagaimana Arundhati menganggap bahwa tidur di hutan yang penuh kesusahan, capek, kelegaan tak terkira itu nilainya lebih tinggi daripada tidur di hotel mewah mana pun! Dia juga tak pernah mengeluh meskipun dia perempuan, punya disleksia arah, kekurangan makanan, mungkin tidurnya tak nyenyak, tapi dia menganggap bahwa apa yang dia lakukan adalah suatu "tugas mulia". Arundhati bekerja bukan untuk dirinya, tapi untuk kepentingan yang lebih tinggi dari golongan minoritas yang dianggap hama yang perlu dibasmi. Arundhati menulis dengan nada menyentuh seperti ini:

Ini adalah kamar paling indah yang pernah kutiduri selama ini. Sebuah kamar khusus di sebuah hotel berbintang seribu. Aku terkepung oleh keasingan, bocah-bocah luar biasa dengan kantong senjata yang aneh... Kenapa mereka harus mati? Untuk apa? Hanya untuk mengubah dan menukarnya dengan tambang?. . . Aku tak menyangka keberadaanku di sini akan sebahagia ini. Tidak akan ada lagi tempat-tempat di dunia yang ingin aku kunjungi. (25-27) 
Para pejuang dalam buku ini digambarkan sangat beragam latar belakangnya. Ada yang masih anak-anak, ada yang ibu-ibu atau orang tua yang kehilangan anaknya, ada para remaja, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama berjuang. Perjuangan ini tidak mengenal gender. Aku terenyuh saat di bagian ketika para pejuang ini secara logistik dibatasi, mereka tak boleh membeli sembako yang dibutuhkan karena pasarnya dijaga aparat, para kamerad yang kepalanya seolah ada label harganya, hingga perempuan terpaksa tidak bisa haid lagi. Belum lagi kondisi kesehatan dan pengobatan yang sangat terbatas. Tentu akan sangat sedikit menemukan dokter yang mau bekerja di kondisi seperti itu, dengan persediaan obat yang juga sangat terbatas. Aku ingin menangis. Masa depan tak ada harganya di depan mereka.

Di buku ini juga diceritakan tentang kebudayaan khas Naxal, dari pakaian khas mereka, persenjataan mereka, hingga tradisi bertemu keluarga di sebuah lapangan besar. Khususnya saat berkumpul dan menari dalam perayaan Bhumkal. Aku sangat tertarik dengan kerja-kerja yang dilakukan Arundhati menulis terkait hal-hal marjinal seperti ini. Karena katertarikan awalku membeli buku ini adalah, aku sudah mendapat getaran jika dia akan mengulas hal-hal yang aku hidupi sejak dulu: studi marjinalitas.

Terbagi ke dalam 20 bagian, Arundhati menulis ini tidak sepenuhnya mirip dengan catatan harian. Namun, dia mengelompokkan ke bagian-bagian tertentu sehingga memudahkan untuk dibaca. Sebenarnya tidak terlalu tebal, bisa kamu baca sekali duduk, dengan tambahan foto-foto di lapangan dan lembaran khusus "quote" untuk mempertebal part-part penting, buku ini jadi bacaan penting untuk mempertebal humanisme di siatuasi konflik (atau perang). 

Buku ini diberikan pengantar yang sangat baik oleh Hilmy Firdausy, meskipun bagian-bagian buku yang dikutip dari Arundhati tidak berhubungan langsung dengan isi buku, melainkan dengan karya Arundhati yang lain. Dari pengantarnya, keresahan dan kritik Arundhati menjadi terang benderang. Pengantarnya adalah salah satu pengantar terbaik, dari berbagai buku yang pernah kubaca. Judulnya, "Lipatan Fiksi Arundhati Roy, Walking with The Comrades dan Problem Pascakolonial". Dia membaca dari POV kajian poskol. Aku mengutipnya sangat banyak di bagian "Kutipan". 

Di Islam Bergerak, salah khas yang kami berikan untuk para kamerad adalah "Lal Salam". Salam ini dipopulerkan oleh Mas Azka Fahriza. Setiap postingan, kami memakai salah "Lal Salam", untuk membalas email pun juga diakhiri salam tersebut, yang juga digunakan oleh para golongan Naxalite di buku Arundhati. Belakangan, aku baru ngeh, salam ini "Lal Salam" (लाल सलाम)  diambil dari bahasa Hindi/Urdu yang berarti "salam merah". Merupakan sapaan revolusioner yang oleh kaum sosialis dan komunis di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Nepal).

KUTIPAN:

Arundhati Roy terlibat dalam agenda kebudayaan bagaimana seharusnya "menulis" novel sekaligus mengembalikan novel sebagai sebuah "genre". (iii) 

Sastra menjelma tidak hanya sebagai novel atau fiksi, namun juga korpus historiografi, laporan antropologis hingga gelanggang perlawanan serta gugatan pada hegemoni. (iv) 

Realitas tidak hanya dijadikan bahan mentah dan dipilih hanya karena ia unik, epik, dan "lokal". Keunikan dan lokalitas hanya akan menjadi peneguh identitas "liyan" kala ia tidak disokong oleh suatu keresahan eksistensial berikut kejelasan mengenai apa yang hendak dilawan dan diperjuangkan. Dengan kata lain, ada latar belakang keberpihakan yang kuat sekaligus keresahan terhadap satu problem identitas... Arundhati tidak muluk-muluk. Ia melihat sekelilingnya, memaksimalkan keresahan dan mempersoalkan ketersudutan beberapa komunitas yang terpental dari tanahnya sendiri... Memintal pertanyaan-pertanyaan dan menyusun amarahnya menjadi mozaik-mozaik cerita. (iv) 

Sosok asing tiba-tiba datang mengomentari satu hal berdasarkan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang sedang-sedang saja. Karena sudah menjadi ke makluman, kecongakan intelektual seringkali muncul dari orang yang baru setengah tahu, atau baru tahu... Tidak ada yang ingin dicapai kecuali monopoli makna dan identitas. (vii)

Kolonialisme memang selalu akan menemukan ruang kabur, hibriditas dan kebingungan-kebingungannya sendiri. Dan dalam kebingungan itu, obyek kolonial yang mulanya berupaya didisiplinkan, berbalik menatap dan keluar melawan. (viii) 

Arundhati melakukan gugatan atas seluruh aspek kolonialistik dalam kebudayaan beserta sempalan tradisi dengan konservatisme akut yang sudah terlanjur didaku sebagai yang asli dan fitrah. Arundhati juga menggugat kapitalisme, kecongakan negara yang baru kaya, tindak pembalakan dan setiap praktik ketidakadilan pada kelompok-kelompok minoritas. (ix) 

Ia fiksi karena tokoh-tokohnya dan plot ceritanya mungkin hanya rekaan semata. Ia nonfiksi karena problem, latar kesejarahan dan tragedi yang dipotret di dalamnya benar-benar terjadi di dunia nyata. (x) 

Keserakahan pihak-pihak yang diperbudak perutnya sendiri. (xiii) 

Yang lebih penting dan krusial sejatinya adalah keretakan mentalitas dan konstruksi imajinatif yang berujung pada pembelahan identitas, bahasa sampai kebudayaan. (xvii) 

Kata Arundhati, Orang-orang Maois tampaknya tidak terjebak dalam politik teritori semacam itu. Sebagai bagian dari hutan, mereka punya petanya sendiri. Peta itu terukir secara permanen dalam benak dan memori mereka. (xviii) 

Yang tidak boleh hilang dalam proses perjuangan adalah bahwa nyawa manusia tetap prioritas dan berada di atas segala-galanya. (xx) 

Bukan hanya mengalihbahasakan, tapi mendekatkan problem yang dimiliki Arundhati, menafsir ulang dan menyuguhkannya seakan-akan problem itu juga problem kita hari ini. Hilmy Firdausy. (xxi) 

Arundhati pada Februari 2010, diam-diam mengunjungi kamp terlarang di tengah Hutan Dandakaranya, India. Di sana ada masyarakat yang mengangkat senjata dari perampok dan eksploiter yang didukung negara. Ia hidup bersama gerilyawan, ini buku etnografis yang penuh darah, senjata, traktor, truk besar, dari kaum yang dipinggitkan dan diusir dari tanah sendiri. (hlm. xxv) 

Ada banyak cara untuk menggambarkan Dantewara. Ia adalah oksimoron. Sebuah kota perbatasan yang tepat berada di jantung India. Ia adalah pusat gelanggang peperangan. Luar dalam, Dantewara adalah kota yang serba terbalik. (3) 

Antagonisme di dalam hutan memang berbeda dan tidak setara hampir dalam segala hal. Di satu sisi pasukan paramiliter, di sisi lain masyarakat sipil yang terinspirasi gerakan Maois (Naxatile)... Pemberontakan telah menyebar melalui hutan-hutan kaya mineral di Chhattisgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Tanah air jutaaan masyarakat adat India, sekaligus surga yang menggiurkan bagi kaum korporat. (5) 

Pemilu palsu, parlemen sebagai kandang babi, dan secara terbuka ingin menggulingkan pemerintahan India. (6)

Pemerintah menggunakan dalih kemiskinan sebagai alat untuk melawan masyarakat adat. (7) 

Setiap kali pemerintah berbicara soal kesejahteraan masyarakat adat, saat itulah sebenarnya waktu yang tepat untuk merasa khawatir dan was-was.... Pemerintah negara bagian telah menandatangani ratusan MoU bernilai milyaran dollar untuk proyek industri besi, perusahaan bijih besi, pembangkit listrik, kilang minyak, bendungan, dan beberapa tambang. (8) 

Keywords: Sandwich Theory, PWG (Peoples War Group) faksi dari Communist Party of India), cordon and search, Salwa Judum, Dandakaranya, Charu Mazumdar, Kamerad Niti, Kamerad Vinod, 

Bahasa genosida dilumrahkan dan secara perlahan masuk ke dalam kosakata bahasa kita sehari-hari... Dana CSR menutupi ekonomi kotor yang menopang sektor pertambangan di India.(12) 

Keberadaan rumah sakit kanker di satu tempat menunjukkan keberadaan bauksit dengan gunung yang sudah rata di tempat yang lain. (13) 

Operasi Salwa Judum, kelompok vigilant yang ditakuti dan disponsori pemerintah serta bertanggung jawab atas praktik pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran desa-desa, dipimpin oleh Mahendra Karma, anggota Kongres MLA. (14) 

Permasalahan dari masyarakat adat ini adalah mereka tampaknya tidak mengerti soal keserakahan. (16) 

Mereka adalah Peoples Liberation Guerilla Army (PLGA). Untuk merekalah detektor suhu dan senjata pengintai laser disiapkan. Dan untuk mereka juga Jungle Walfare Training School diadakan. (29) 

Tidak ada yang disia-siakan dalam perjalanan menuju revolusi. (33) 

Membangkitkan kebencian diri. 

Operasi pembersihan wilayah yang ditujukan untuk memindahkan orang-orang dari desanya ke kamp-kamp pinggir jalan, tempat mereka diawasi dan dikendalikan. Dalam istilah militer, hal itu disebut sebagai strategi hamleting. (55) 

Gadis-gadis (atau anak-anak) tetap tinggal di dalamnya sebagai "perisai" manusia. (59) 

Salwa Judum sejatinya adalah operasi gabungan antara Pemerintah Negara Bagian Chhattisgarh dan Partai Kongres yang berkuasa di pusat. Maka ia tidak bisa dibiarkan gagal... Terbagi ke dalam CAF, CRPF, BSF, ITBP, CISF... Kebijakannya penuh kemesraan, winning hearts and minds...(61) 

Tata Steel dan Essar Steel adalah pemodal utama yang berada di balik Salwa Judum. (62) 

50 orang dari masyarakat adat disewa. Media merilis berita-berita bohong agar iklan masuk dan laku. 

Sedangkan iklan-iklan di yang berserakan di televisi, yang telah mencuci otak anak-anak kecil bahkan sebelum mereka mampu berpikir, tidak dilihat sebagai proses indoktrinasi. (67) 

Keyakinan, harapan, dan cinta mereka untuk partai. Aku menemukan letupan itu berkali-kali dalam wujudnya yang paling dalam dan bentuknya yang paling personal. (70) 

Dalam hal konsumsi, ia lebih Gandhian daripada Gandhian-Gandhian lainnya. Ia juga meningalkan lebih sedikit jejak karbon dibanding kelompok evangelis pejuang climate change lainnya. (73) 

Dalam peperangan ini, hanya orang mati yang namanya aman untuk dipakai. (79) 

Sebuah majalah seperti Frontline juga mengatakan kalau kami telah membunuh 18 masyarakat adat yang tidak bersalah. Bahkan K. Balagopal, seorang aktivis hak asasi manusia yang biasanya selalu berpijak pada fakta-fakta juga mengatakan hal yang sama... Balagopal mengakui kesalahannya...(89) 

Semakin banyak yang mereka bunuh, semakin banyak pula penghargaan yang akan mereka peroleh. Mereka dijuluki "Bravehearts", " Encounter Spesialist". (90) 

Dengan seluruh hal yang terjadi di sini, sungguh sangat disayangkan, bahwa satu-satunya yang bisa dilihat dari dunia luar hanyalah aspek ketakutan serta ideologi partai yang keras dari sebuah kelompok yang lahir dari masa lalu yang problematik. (99) 

Dia memang gila kerja. 

Jika ini bukan "peperangan jangka panjang," lalu apa?. . . "Saya sedang memikirkan para jurnalis yang tahun lalu datang ke Perayaan Bhumkal. Mereka datang satu dua hari. Salah seorang berpose dengan senjata AK saya. Kemudian mereka pulang dan meyebut kami sebagai mesin pembunuh atau sejenisnya." (103) 

Para komunis muda mengambil dan membawa klip-klip catatan untuk bahan latihan membaca. Mereka berkeliling di sekitar kamp sambil membaca artikel-artikel anti-Maois dengan lantang seperti penyiar radio. (109) 

Tidak ada klinik di hutan ini selain satu atau dua klinik di Gadchiroli. Tidak ada dokter. Tidak ada obat-obatan. (110) 

Naxalvad berarti keluarga kami. Saat kami mendengar sebuah serangan, itu sama saja berarti keluarga kami telah disakiti... Mao adalah seorang pemimpin, kami bekerja untuk visinya. (116) 

Di pasar.... Para wanitanya diawasi ketat. Jika mereka berbelanja terlalu banyak, polisi akan menuduhnya membeli untuk Naxal. Para kimiawan memberikan instruksi untuk tidak memperkenankan orang memberi obat-obatan kecuali dalam jumlah yang sangat kecil. Sembako murah dari Public Distribution System (PDS) disimpan di dalam atau dekat kantor polisi sehingga kebanyakan orang sulit membelinya. (119) 

Lagi-lagi, sebuah kamar premium di hotel berbintang seribu. Aku sakit. Hujan mulai turun. (121) 

Di satu malam, orang-orang ber kerumunan di sekitar titik cahaya seperti ngengat. Itu adalah komputer kecil Kamerad Sukhdev. (123) 

Hal itu adalah lampu pengingat, bahwa betapa mudahnya disiplin perjuangan bersenjata larut dalam sebuah tindakan "lumpen" kekerasan yang dididiskriminalisasi, atau larut dalam sebuah perang identitas bodoh di antara kasta-kasta, komunitas dan kelompok agama. Dengan melembagakan ketidakadilan dengan cara-cara tersebut, India sebenarnya telah mengubah dirinya menjadi sebuah kotak yang mudah terbakar oleh kerusuhan besar-besaran. (125)

Judul: Bersama Para Kamerad | Penulis: Arundhati Roy | Penerjemah: Hilmy Firdausy | Ceakan: Pertama, Maret 2022 | Penerbit: GDN, Tangerang Selatan | Jumlah halaman: xxiv + 138

Minggu, 08 Maret 2026

Catatan Buku "Potret-Potret Tak Berbingkai" oleh Siswa-Siswa SMA Santa Ursula Jakarta

Ketika aku menemukan judul buku ini di Shoppee, reaksi pertamaku satu, "Eureka!" Ini jenis buku yang aku cari-cari untuk memperkuat fondasi teoritisku di bidang yang kugeluti: studi marjinal. Ada beberapa alasan mengapa buku ini revelan: (1) sejak dulu aku menggiati isu pekerja sektor informal, (2) pekerja sektor informal untuk perempuan masih jarang dibahas, (3) aku punya rencana riset yang menyangkut pekerja sektor informal perempuan. 

Menariknya lagi, buku ini tidak ditulis oleh para akademisi handal lulusan luar negeri atau akademia lulusan universitas-universitas prominen, melainkan anak kelas I SMA! Bayangkan! Dan tambah lagi, ini ditulis oleh SMA Santa Ursula Jakarta yang notabene sekolah Katolik khusus perempuan yang cukup elite di kawasan Jakarta Pusat. Mereka dari golongan kelas menengah ke atas yang diajak untuk menyelami lika-liku kehidupan hutan belantara sektor informal yang menurutku cukup beringas ini. Yang secara kelas sosial hingga "ras" dan "agama" berbeda dari mereka yang ditelitinya.

Buku ini dikerjakan secara berkelompok, dengan banyak format (dari laporan jurnalistik, puisi, cerpen, sampai drama), serta yang paling menggugahku adalah di bagian "menurut kami". Bagian terakhir ini memperlihatkan sisi jujur dan personal para anak SMA yang ternyata sudah bisa berpikir secara dewasa. Mereka cukup kritis juga membaca kondisi sosial di sekitar. 

Banyak pekerjaan yang dibahas, jika kubagi ke dalam berbagai kluster akan menjadi:

Pertama, "pedagang pakaian, tas dan perhiasan". Di bagian ini dijelaskan seperti ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjualan loak. Ada stereotip jika mereka adalah tukang tadah. Jika makanan bisa ada label halalnya, lalu bagaimana dengan pakaian? Ada juga mereka yang kena gerebek polisi, lalu menangis karena tak ada biaya tebusan. Termasuk kisah penjual yang punya omset per hati Rp500 ribu pada zaman itu. Termasuk protes para anak SMA dan pelaku sektor informalnya sendiri jika kecakapan kerja itu tidak bergantung jenis kelamin. Para siswa berkelana dari Pasar Baru, Jatinegara, Kawasan Blok M, Sarinah, dlsb.

Kedua, "pekerja malam (waitress, bargirl, pemijat, pelacur)". Kisah di sini yang menurutku paling beragam, dan bisa dikatakan suram karena stereotipnya kuat sekali. Waitress dan bar girl yang bekerja malam ini ternyata ada training-nya, dan ketika diidentikkan dengan pelacur, ini kesalahan besar. Termasuk juga pekerjaan sebagai pemijat, yang rata-rata dikerjakan oleh (maaf) mereka yang tunanetra. Padahal, pekerjaan ini sangat membantu juga bagi kaum difabel.

Terkait kisah pelacur yang mangkal di sekitar Monas (aku teriingat dengan novel Pramoedya terkait kisah dari Jakarta), ini aku ketawa-tawa, terlebih dengan kutipan spiritual yang intinya, "Tentu aku masih ingat Allah, kalau kesandung setidaknya mengucap, Ya Allah-Ya Allah." Termasuk juga kisah anak perempuan rawa yang dipaksa menikah dengan kakek-kakek. Dia menolak terus kabur ke Jakarta. Dia menemukan orang yang kelihatannya baik, tapi juga malah menyetubuhinya, hingga akhirnya anak rawa yang bisa renang berkilometer di laut ini menyerah dengan tuntutan perut.

Ketiga, "pedagang makanan dan kudapan". Nah, ini banyak pekerja yang dipotret, dari tukang bakso, penjual rujak, hingga pedagang asongan. Yang lucu dan absurd kisah pedagang asongan bernama Ayu yang disukai anak konglomerat bernama Angga. Dengan bantuan adik Angga bernama Inge, didekatilah si Ayu sampai ke rumah bedengnya. Tapi ortu Angga tidak setuju, pas diajak main ke rumah gedong, diusir secara gak langsung terus mati tertabrak. Ini ceritanya menggelikan, khas khayalan anak SMA memang, karena banyak part yang sepertinya susah dicerna secara realistis.

Keempat, "penjaga WC". Yang paling kuingat dari bab ini adalah kutipan dari seorang nenek yang menjaga WC, dia merantau dari desa ke Jakarta. Dia ikut orang yang disegani di Jakarta, disuruh sama orang ini untuk jaga WC. Kata Mbahnya, "Menderita dulu, nantinya nggak tahu!"

Kelima, "pembantu rumah tangga". Rata-rata PRT yang ada di Jakarta berasal dari kampung. Namun, nyaris semua cerita PRT yang ada di buku ini memiliki nasib baik. Seperti mendapat majikan yang menghormati mereka, dikasih gaji layak, hingga ada waktu berlibur khusus. Mereka juga memaafkan misal ada majikan cerewet karena dianggap itu memang sudah menjadi karakternya. Yang kasihan mungkin kisah TKW, terkhusus mereka yang disalurkan ke Arab Saudi. Bab pembantu ini mengingatkanku dengan kepindahan pertama ke Jakarta pertama kali. Awalnya, aku disambut dengan langit biru. Kemudian aku tinggal sekitar seminggu di rumah yang cukup berpunya di daerah Cipete. Lalu, aku bertemu pembantu perempuan yang memperlakukanku dengan tidak baik dan terkesan seenaknya. Dia baik di depan majikan, tapi tidak di depanku. Mungkin suatu hari aku akan membuat tulisan tentang ini.

Keenam, "pemulung". Dari buku ini aku lumayan kaget jika pemulung pun ada serikat atau laskar yang menaungi mereka. Laskar ini membagi para pemulung ke wilayah-wilayah tertentu. Nah, ada laskar yang menyediakan alat produksi hingga jaminan kesehatan, tapi ada laskar yang tidak sama sekali. Malah disuruh membeli alat produksi dan mengembalikannya lebih mahal, dan boro-boro ada jaminan pekerjaan.

Ketujuh, "pengamen". Selain pemulung, pengamen ternyata di Jakarta juga punya serikatnya sendiri yang membagi wilayah-wilayah kerja. Latar mereka juga cukup beragam, dari perantauan, anak kuliahan, sampai mereka yang memang terjebak dilema antara passion di musik dengan tuntutan hidup (materi). Seperti kisah Kokom yang dibuat dramanya oleh anak-anak SMA ini. Diubah namanya jadi Konny G apa ya, plesetan dari Kenny G. Dia anak perempuan dari Sumatera Barat, anak kiai yang berontak karena ortu mereka menganggap musik haram. Si Kokom diminta sekolah perawatan saja. Dia menuruti keinginan orangtuanya, tapi dia juga tak melepaskan passion-nya untuk jadi penyanyi dengan menjadi pengamen. Hal menarik yang bisa kupetik dari kisah Kokom adalah prinsip hidup dia yang tak mau merepotkan orang lain dan mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya dengan bersungguh-sungguh.

Tujuh golongan pekerjaan ini telah mengajarkanku banyak hal terkait hidup dan kehidupan. Aku melihat kehidupan sektor informal terutama dengan kacamata yang tidak hitam putih. Setiap bidang di SI selalu ada dinamika, khususnya, baik itu senang, sedih, kecewa, harapan, mimpi. Setelah membaca ini, aku juga berpikir bahwa memiliki kemampuan bermimpi itu juga adalah sebuah privilege. 

Ada kesamaan dari para pekerja sektor informal ini, sebagian memang tidak memiliki cita-cita tinggi. Hidup bagi mereka ya subsisten saja, saat ditanya apa rencana di masa depan? Ternyata kemampuan membuat rencana itu juga sebuah "privilege", karena mereka hanya menjawab, " Yah, namanya Jakarta, pasti hanya begini-begini saja, dik." Atau, "Belum direncanakan dik, asal sudah cukup untuk hidup sehari-hari saja kami sudah senang."

Judul: "Potret-Potret Tak Berbingkai: Studi Kasus tentang Perempuan Pekerja Sektor Informal di Jakarta" | Penulis: Siswa-Siswa Kelas I SMA Santa Ursula Jakarta Tahun Ajaran 1991-1992 | Penyunting: Tian Bahtiar | Penerbit: Penebar Swadaya | Tahun: 1992 | Jumlah Halaman: x + 176

KUTIPAN:

Ia tidak percaya dengan kebiasaan sebagian pedagang yang menganggap dengan menepuk-nepuk uang perolehan medali pertama, maka dagangan mereka akan lebih laris. (16) 

Ia mengaku tidak berani mengeluh. (18) 

Iya, aku juga ingin cepat! Tapi kenapa badanku seolah menolak untuk bekerja cepat?! Menolak untuk berlari dari satu pelarian ke pelarian yang lain? Suara polisi-polisi itu semakin dekat... Duh.. Apa kehidupan selalu memusuhiku atau aku yang tak pernah karib dengan kehidupan?? (22) 

Hidup adalah kata-kata bagi mereka, dan, 
Hidup adalah deraan kata-kata bagiku. (22) 

Kami datang untuk belajar
Bukan mengajari bagaimana hidup itu seharusnya (27) 

Perempuan jaman sekarang harus mempunyai keahlian agar tidak diremehkan kaum pria. (34) 

Mereka cuma tau dari cerita aja terus tinggal buat laporan, kumpulin, diponten, selesai... Tapi kalau kita? Kagak tau kapan selesainya nih tugas. (52) 

"Kalau bekerja memang mesti betah." (142) 

Bekerja sebagai pengamen bukanlah sesuatu yang harus dinilai baik atau buruk. Semua mereka lakukan agar dapat tetap hidup dan membantu orang tuanya mencari uang. Pendapat yang positif itu ia peroleh dari rekan-rekan dan gurunya yang bertemu dengannya ketika ia tengah mengamen di bus. (172) 

"Asalkan mereka tidak mengejek saya karena apa yang saya lakukan ini merupakan hak pribadi saya sebagai manusia." (174) 

Bukan perasaan sudah tumpul namun kebutuhan tidak mempersilahkan perasaan untuk berbicara. (176)