Sabtu, 25 Oktober 2025

Catatan Konser Malam 100 Cinta 2025: Erwin Gutawa Orchestra

Hari ini aku menghadiri konser "Malam 100 Cinta" yang digelar oleh Smartfren di JIEXPO Convention Centre and Theatre, Sabtu, 25 Oktober 2025. Pertunjukkan ini dipandu oleh Erwin Gutawa Orchestra. Konser ini 100 persen untuk Indonesia dengan dress code batik. Aku datang dengan transportasi motor, berangkat sekitar pukul 16.00 WIB karena acaranya jam 17.00 WIB. Aku parkir motor di Jiexpo 6A, aku biasa parkir di sini ketika beberapa kali datang ke Art Jakarta. 

Niat utama, tentu, mau nonton Rony Parulian. Ini pengalaman kedelapan aku nonton konser Rony secara langsung. Aku juga mau nonton Tulus, yang quote dia pernah aku jadikan kata-kata mutiara di skripsi, terkait seni merasa cukup. Pas tinggal di Semarang, aku juga sempat pengen nonton konsernya. Namun saat itu situasi dan kondisi, terlebih ekonomi belum mendukung, dan baru kali ini saat di Jakarta ada kesempatan. Rasanya senang. Bener kata Rony, Tuhan tahu waktu yang tepat di tempat yang tepat. 

Gara-gara Rony, aku punya kesempatan datang konser kemana-mana, wkwk. Sabtu ini nonton Malam 100 Cinta. Konser ini instrumen musiknya dimainkan oleh Erwin Gutawa Orchestra. Untuk penyanyinya, selain Rony, ada Tulus, Lyodra, King Nassar, Swain Mahisa, Yura Yunita, dan kek random banget ada Andre Hehanussa yang nyanyiin lagu "Kuta Bali".  

Berhubungan dengan konser Malam 100 Cinta, ada hal yang menurutku menarik. Pas aku ada liputan kerja di Bali, di tulisan ini "Dewan Perwakilan Rony Parulian", aku sempat nulis random:

"Ron... aku akan ajak kamu dengerin lagu "Kuta Bali"-nya Andre Hehanussa--agak nggak nyambung, tapi gak papa, mungkin suatu waktu kamu akan buat lagu tentang Sanur."

Aku nulis ini tanggal 11 Agustus 2025 lalu, dan di tanggal sekarang, 25 Oktober 2025, tiba-tiba dari arah yang gak kusangka-sangka, Rony Parulian bisa satu konser dengan Andre Hehanussa. Sempat nulis juga, Rony, kalau aku punya kesempatan 30-60 menit ngobrol sama kamu. Aku akan ajak jalan-jalan di Pantai Sanur sambil nyanyi lagunya Andre, terus nge-ice cream di Massimo. Eh, akhir Oktober kejadian, Rony dan Andre Hehanussa sekonser. Serandom itu kadang hidup. Aku masih suka Bali. Kata kawanku Bagus, energi spiritual Bali itu baik, karena masih banyak ritual keagamaan yang masih dijaga kuat di sana. 

Selain spiritualitas juga kenangannya, terutama Massimo Sanur. Dia Italian restaurant, tapi lebih terkenal ice cream-nya. Kalau malam, ramai, tapi yang paling kusuka, banyak orang yang setelah beli pada duduk-duduk di depannya, mau lokal, mau bule. Menurutku, itu salah satu momen yang bikin rindu. Bisa jalan-jalan sendiri, sambil ngeliat jalanan dan orang-orang lewat. Harganya cukup terjangkau dan banyak banget pilihan rasa. Di Jalan Veteran Jakarta dekat kantor, juga ada tempat makan ice cream legendaris, namanya "Ragusa Es Italia". Kalau Massimo berdiri 1996, Ragusa lebih tua, 1932. 

Dalam psikoanalisis, ini kayak fenomena singkronitas Jungian-ku yang lain. Tiba-tiba aja, hal random yang pernah kuucapkan, tahu-tahu berhubungan dan terjadi dengan peristiwa yang kualami sekarang. Di konser ini, aku cuma ingin menikmatinya saja. Aku tak ingin punya pretensi apa pun kecuali kemurnian motif.

***

Aku memarkir motor di dekat Masjid At-Taqwa, tak jauh dari gerbang 6A. Awalnya bingung tempatnya di mana, kemudian cari jalan sendiri, karena di sekitar itu juga ada pembangunan infrastruktur. Setelah cari jalan, ketemu juga. Bangunannya macam ada di sebuah mall gitu. Di sana udah banyak orang datang, peserta diberi kesempatan buat foto studio gratis gitu. Jadi, ini Jiexpo Theater ada tiga tingkat, di dasar, tengah, atas. Setelah tukar tiket dengan gelang, aku dapat nomor B12 di lantai atas, tipenya Silver. Ini tiket paling ekonomis memang, hihi. Di setiap lantai ada jasa foto studio, di bawah paling ramai, tapi semakin atas makin sepi, aku jadi punya kesempatan foto studio lebih cepat. Hidup gitu juga kali ya, kalau di bawah sepi, kita bisa usaha dikit buat ke atas. Kita hanya ignorance aja sama apa yang terjadi dalam hidup kadang. Untuk melihat kesempatan yang lebih terbuka, lebih luas.

Sesampainya di lantai atas, pas mau masuk ke kursi penonton, ternyata gate baru dibuka pukul 18.00 WIB. Aku bersama penonton yang lain kemudian duduk lesehan menunggu. Menunggu satu jam di depan. Seharusnya aku bisa solat Magrib dulu, tapi kamu tahu kek malas gitu di situasi seperti itu buat ibadah. Pas udah masuk jam enam, masih menunggu hampir 1,5 jam lagi di dalam, karena kuperhatikan, acara benar-benar dimulai pukul 19.25 WIB. Ada pembukaan dari MC, kemudian para artis satu per satu muncul. Konser ini sekitar dua jam. Awal-awal aku merasa sepi, tapi menuju jam 7 malam, sudah penuh orang. Dan inilah urutan para penampilnya:

Pada sesi pembukaan, ada tarian tradisional dari berbagai budaya di Indonesia. Ada musik pembuka yang megah khas orchestra oleh Erwin Gutawa and friends. Lagu yang dinyanyikan seperti "Tanah Airku" yang dinyanyikan secara koor (dengan paduan suara). Kemudian dibuka oleh Lyodra yang hadir dari tengah-tengah penonton. Lyli menyanyikan lagu "Gemintang Hatiku" yang dipopulerkan oleh Tiara Andini, dan lagu "Pesan Terakhir", lagu dari Lyodra sendiri. 

Kemudian penampilan yang paling kutunggu lainnya, penampilan Om Andre Hehanussa dengan "Kuta Bali"-nya. Beliau muncul dari panggung sebelah kanan. Panggung itu secara tata letak mirip koma besar gitu. Mendegarkan ulang rekamannya, rasanya aku ingin menangis. Aku sing along, tapi salah lirik, harusnya Kuta Bali malah Kota Bali, wkwk. Om Andre usianya sekarang 61 tahun, memang beda ketika dia masih muda, atau pas masih ada di video klip "Kuta Bali". Orkestranya luar biasa sih, Om Andre nyanyi dengan versi yang tenang. Kemudian lagu kedua yang dinyanyikan, "Karena Ku Tahu Engkau Begitu" (KKTEB). 

Berikutnya, ada sesi menyanyi bareng Erwin Gutawa Orchestra dengan penonton yang menyanyikan lagu Sheila on 7 berjudul "Dan". Megah, emang beda standar orkestra dengan iringan band biasa. Disusul penampilan dari Swain Mahisa yang juga membawakan lagu Sheila on 7 berjudul, "Seberapa Pantas". Jujur, aku baru kenal nama Swain pertama kali di konser ini. Baca profilnya sekilas, dia anak muda yang berbakat.

Nah, ini yang paling kutunggu-tunggu, Rony!!! Kaget pas dia muncul, gak dari belakang atau samping, nggak kayak artis lainnya, tapi dari atas: Rony nyanyi sambil terbang. Dia melayang-layang menyanyikan lagu "Mengejar Matahari", smooth banget. 

Rony kayak gak ada keder, gemetar, dan takutnya. Istimewanya, suara Rony masih stabil Ya Allah. Keren banget Rony sumpah. Aku merasa speechless mendeskripsikan bagian ini. Gak tahu, tiba-tiba semua kata ilang aja, cuma pengen dengerin aja.

"Tetes air mata
Mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita
Tak akan berhenti mengejar matahari"

Rony kemudian menyanyikan lagunya sendiri "Pesona Sederhana", meskipun di booklet yang ditulis "Tak Ada Ujungnya", but that's okey, keduanya aku suka. Rony teriak, "Erwin Gutawa Orchestra!" Dan kau pasti juga ngeh ada yang pernah bilang, WeR1 kadang lebih Rony daripada Rony sendiri, aku sempat ngeh Rony ada bagian salah lirik, wkwk. Ya ampun Rony, yadahlah. 
Selanjutnya, duet antara Rony dan Lyodra menyanyikan lagu "Kau Selalu di Hati". Rony bilang, "Dan, tentunya, saya ingin sekali, di sini saya tidak sendiri, ada seseorang yang sangat spesial yang menemani saya malam hari ini. Kita panggil aja gak sih...." Lalu, iklan sebentar, yang bikin hati hangat juga, meskipun itu hal kecil, ketika mas-mas asisten mengambil standing mic dia, Rony bilang, "Thank you, Mas." Kek dimanusiakan banget rasanya. Rony melanjutkan, "Langsung saja, ladies and gentlement, please welcome, perempuan yang sangat luar biasa, Lyodra!!!" Habis dengerin lagu ini, nyanyiin lagu ini bareng sama mereka, tiba-tiba aku ngide, asik kali ya pakai lagu Rony dan Lyli ini buat undangan nikahan, wkwk. Lyli berkata:

"Hari ini saya bisa melihat energi antusias Bapak-Ibu semua yang sudah hadir, pada cantik-cantik dan ganteng-ganteng banget malam hari ini. Kita benar-benar sangat-sangat Nusantara, Indonesia, ya. Semua dress code-nya cantik, rapi-rapi, dan pastinya di Malam 100 Cinta ini kita bersenang-senang juga pastinya lewat lagu, tapi juga sambil merayakan (budaya Indonesi)."

Persembahan spesial kedua dari Rony dan Lyli, mereka berdua menyanyikan lagu Batak. Mengingat keduanya punya latar belakang Batak: Nainggolan dan Ginting. Lagu Batak yang mereka nyanyikan, "Nasonang do Hita Nadua" ciptaan komposer Batak, Nahum Situmorang. Lagu ini berarti berdua kita bahagia. Kira-kira begini lirik dan artinya:

Nasonang do Hita nadua
Saleleng au rap do hot ho
Nang rodi nasari mattua
Sai tong ingoton hu do ho
Hupeop sude denggan ni basam
Huboto tu au do roham
Nasonang do hita nadua
Saleleng au rap dohot ho
 

Senangnya kita berdua
Selama aku bersamamu
Bahkan sampai tua
Akan selalu aku ingat kau
Semua kebaikanmu, aku simpan dalam hati
Aku tahu hatimu untukku
Senangnya kita berdua
Selama aku bersamamu 

Lagu khas daerah lain, yang menggunakan lirik bahasa daerah, juga dinyanyikan oleh Om Andre Hehanussa yang menyanyikan lagu (CMIIW), "Rame-Rame (Amboina)" dengan bahasa Ambon. Lagu ini pernah dipopulerkan oleh Glenn Fredly dan Utha Likumahuwa. Juga lagu "Tabola-Bale" yang dinyanyikan bersama-sama oleh Om Andre, Swain, Lyly, dan Rony.

Atmosfer berpindah. Beda lagi sama King Nassar. Kalau kamu udah terlalu stressnya sama hidup, mending nonton King Nassar, aksi panggungnya bisa kasi obat beyond psikiater. Dan kurasa cuma dia yang bawa Perahu Nabi Nuh ke panggung, wkwk. Keren banget ini penata panggungnya. Penampilan beliau paling membuat "gerrr" penonton. Nassar nyapa, "Nungguin ya?" wkwk. Entahlah, panggung jadi kian ramai dan sangat meriah. Nassar membuka pertunjukannya dengan lagu "Laksamana Raja di Laut". Oppa Nasar kemudian melanjutkan lagu keduanya "Seperti Mati Lampu", dan lagu ketiga "Penasaran". Erwin Gutawa Orchestra juga enjoy banget pas sesi dangdutan ini. Apalagi pas lirik, "Sungguh mati aku jadi penasaran / Sampai mati pun akan ku perjuangkan...." Kostum Nassar juga cetar berwarna biru, mirip sultan-sultan Melayu. Lighting show ini juga bagus banget, pas Nassar kelihatan keemas-emasan gitu, cantik.

Usai Nassar, Yura Yunita datang dengan aksi panggung yang menarik. Dia datang dengan menggunakan becak! Ini menyita perhatianku banget isu tentang becak ini, apalagi kamu tahu becak sudah tak diperbolehkan di Jakarta. Isu ini ditulis baik oleh Yosh Azuma dalam buku "Abang Becak: Sekejam-kejamnya Ibu Tiri Masih Lebih Kejam Ibukota". Becak itu warna pink, dan Yura menyanyikan lagu yang menjadi favoritku, "Bandung"! Liriknya memang berbahasa Sunda, tapi ini satu-satunya lagu Yura yang paling aku suka. Aku pernah punya kenangan personal terkait lagu ini ketika main ke Bandung. 

Nu dijungjung
Dipiluhung
Lembur tempatna indung ngakandung
Salira teh Bandung
Ningnang nineung rerendengan
Cumarita pacantel rasa
Huhujanan Paduduaan
Duh urang micinta 

Yura kemudian menyanyikan lagu miliknya: "Dunia Tipu-Tipu", "Tutur Batin", dan "Harus Bahagia". Yura malam itu mengenakan kostum warna indigo yang cantik, sangat luwes sekali ketika menari-nari dengan penari latar juga.

Penampilan pamungkas datang dari Tulus. Dia datang menyanyikan lagu, "Tujuh Belas", "Jatuh Suka", "Jangan Cintai Aku Apa Adanya", serta "Hati-Hati di Jalan". Lagu "Titi DJ" terakhir ini seingatku Tulus duet sama Yura. Konser ditutup dengan menyanyikan lagu "Manusia Kuat" oleh all artist. Acara selesai, gerai kelambu merah menutup konser.

 
Di konser itu, di samping kiriku, duduk satu keluarga kecil yang terdiri dari bapak, ibu, dan dua anak. Aku perhatikan, si Bapak yang duduk di sampingku pas, gak pernah sekali pun mengeluarkan hape, bahkan untuk mengabadikan moment si penampil saja tidak. Dia murni menikmati sajian yang disajikan panggung. Aku kagum dengan konsistensi ini. Dia kayak feel content dan mindfulness gitu dengan aktivitas menontonnya. Beda sama aku yang ada kebutuhan perekaman untuk tulisan, atau sekadar sebagai dokumentasi konser. Sementara, di sebelah kananku duduk seorang mbak berhijab yang sepertinya tak jauh usianya dengan umurku. Dia nampak datang dengan sekumpulan kawan atau kolega kantornya. Di sisi depan, ada dua sejoli yang sepertinya sedang pacaran. Mereka seperti Gen Z lain, aktif merekam.
 
Sesi mengharukan lainnya secara personal terjadi ketika Yura bernyanyi lagu "Tutur Batin". Dia meminta penonton untuk menatap mata orang di sampingnya, yang dia kenal, sambil bilang, jangan pergi kemana-mana. Aku kan datang sendiri ya, di sebelah kiriku orang punya keluarga; di sebelah kananku orang yang datang sama bestie dan kolega mereka. Rasanya ada detik-detik yang kek jones (jomblo ngenes) gitu, hahaha. Namun ya, enjoy aja sih gua. Beginilah hidup. Mau nutup dengan lagu Rony sajalah:
 
"Saat dunia tak anggapku nyata
Saat hariku tak sempurna
Kau ada oh tuk satu pelukan yang tak menuntut
Satu alasan" 
 
Terakhir, makasi banyak konser 100 cinta. 
Pulang
Ketemu patung Soekarno di Jiexpo

Jakarta, 26 Oktober 2025 

Jumat, 24 Oktober 2025

Tetap Bukan Kamu: Refleksi Lagu Raisa dan Rony Parulian

Jujur sedih sama gugatan cerai Raisa ke suaminya HD. Yah, karena tahun 2025 ini Raisa gandeng Rony buat duet lagu "Tetap Bukan Kamu", aku jadi pengen berbagi cerita juga. Lagu ini kuhafal dengan baik, dan gak nyangka ini lagu yang ngide Raisa sendiri ditemani Rony Parulian dan Rendy Pandugo (duo RP). Liriknya emang kurasa buat HD. Meski dia nikah sama Hamish, tapi bukan dia jodohnya. 

Rumor dah banyak, dari yang bilang si Hamish mokondo, numpang hidup, pelecehan seksual, open BO di Bali, hingga tunggakan gaji ke karyawannya di Octopus. Pernikahan Raisa dan Yaya awalnya juga tidak direstui sama keluarga Raisa. Mbak Yaya, kamu keren, talented, dan patut dapat pria yang lebih baik. Aku yakin Mbak udah banyak nahan, tapi baiknya emang dilepasin aja Mbak. 

Bahkan di video klipnya ini Raisa emang pengen menghadirkan sosok dirinya dan suaminya dari model yang mereka pilih. Karya apa pun sepertinya emang gak bisa dilepaskan dari kisah pribadi pembuatnya. Palagi kalau udah masuk alam bawah sadar, tinggal ngolahnya jadi lebih baik. 

Lagu Rony yang jarang dinyanyikan live ini bagus banget nyeritain soal² patah hati macam dialami Yaya--yang mengaku pernah menderita anxiety disorder. Pernah nangis dengerin lagu ini di bis, gatau napa, kek ngrasa, oh, iya aku mesti berhenti mutus pola² yang gak bener.

Dari lagu ini aku cuma mo bilang based on my experience: Orang banyak yang gak maju-maju di percintaan karena pola buruk di masa lalu yang terus diulang. Pola jahat itu kadang bikin kita addict sampai-sampai gak sadar itu racun. Misal, ada slogan cinta itu perlu diperjuangkan dan dipertahankan mati-matian sampai gak mikirin diri sendiri, sampai nyakitin diri sendiri. Ini gak sehat.

Saat mencintai orang dengan dalam dan ditolak, dulu aku mikir, apa aku kurang berjuang ya? Sampai-sampai banyak plan di kepala dari A sampai Z yang perlu dilakukan, sampai sadar, oh, ternyata aku berjuang sendirian. Tapi setelah sadar di situ, dampaknya yang berat. Polanya masih ngikut ketika kenal sama orang-orang baru, menganggap cinta yang baik itu seolah cinta yang susah didapatkan, yang membuat terus bertanya-tanya, yang bikin diri sendiri tambah insecure, yang buat lu ngrasa gak cukup, yang buat value dan self worth lu jatuh, dll, dlsb. Itu bukan cinta, itu nyiksa diri (dan itu litelbit tolol). Setelah itu gak henti²nya meriksa diri biar gak terjerat sama pola-pola kek gitu lagi.

Pola jahat yang gak disadari itu kadang kita anggap sebagai "ruang aman" buat kita, padahal bukan. Apalagi manusia itu tipe pemburu, punya naluri ngejar apa pun yang dia pengen, dalam artian sehat maupun tidak sehat. Mau laki-laki mau perempuan punya gayanya sendiri-sendiri. Jebakan past life emang berat buat bongkar hal-hal yang kita anggap nyaman padahal bukan. Terkait relationship, aku masih percaya, cinta yang baik ya cinta yang buat diri lu sehat dan progres waktu demi waktu. Bahkan ujian bakal bikin lu tambah kuat, bukan malah terpuruk. Terpuruk dan gamon itu tanda, cinta lu gak sehat.

Selasa, 21 Oktober 2025

Catatan Klenik Studies Vol. V Edisi 16 Oktober 2025: "Tuyul dan Hantu-Hantu Anak"

I. Pembukaan Diskusi

Tema Klenik Studies edisi Kamis, 16 Oktober 2025 yaitu, “Hantu Anak dan Tuyul,” datang dari celetukan pertemuan sebelumnya. Setelah di edisi keempat berbicara tentang “Pesugihan, Horor, dan Ekonomi Politik”, malam itu para peserta ingin menengok sisi lain dari dunia roh—yang kecil, polos, kadang menyedihkan: hantu anak-anak. Nama-nama kawan-kawan muncul satu per satu di layar Zoom: Akhyat Kumaid Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Isma Swastiningrum, Jevi Adhi Nugraha, Nurizky Adhi Hutama, Fadil Riyanto, Alberta Vania Tirani (Tiren), dan Dwi Oktalina Lestari.

Sulkhan membuka pertemuan dengan memperkenalkan wajah baru dan wajah lama yang masing-masing memiliki latar belakang yang menyukai soal klenik, baik dari sisi akademis, pengalaman pribadi, sosial-masyarakat, maupun minat budaya. Sulkhan menggambarkan malam ini sebagai sesi yang lebih santai, dengan topik mengenai hantu anak-anak. Diskusi ini mengajak peserta untuk berbagi pandangan terkait fenomena hantu anak, yang sering kali dikaitkan dengan fenomena tuyul. Kalau dilihat dari jauh tuyul itu seperti miniatur keluarga, ada anak, ada ibu, ada majikan.

II. Keterkaitan Hantu Anak dengan Pesan Moral

Nurul mulai membuka diskusi hantu anak dengan mengaitkan fenomena ini dengan pesan moral, khususnya di dalam mitos-mitos dari berbagai budaya. Dalam pengamatannya, salah satu contoh menarik berasal dari Islandia, mengenai hantu anak yang dikenal dengan nama Útburður. Hantu ini berwujud bayi dan dipercaya muncul untuk membawa pesan terkait tragedi masa lalu, seperti pembunuhan bayi akibat ketidakmampuan orang tua merawat mereka. Dalam legenda Islandia, bayi-bayi itu muncul di malam hari di depan rumah, kadang mengetuk pintu, kadang menangis minta diakui.

Nurul berpesan bahwa hantu anak-anak dalam banyak budaya berfungsi untuk menyampaikan pesan moral, baik itu terkait dengan kesalahan orang dewasa atau tragedi keluarga. Mereka adalah anak-anak dari masa lalu, korban tradisi lama ketika perempuan yang hamil di luar nikah membunuh bayinya karena malu; sering dikenal dengan istilah Married by Accident (MBA). Nurul melanjutkan, mereka adalah bentuk rasa bersalah. Hantu-hantu anak yang muncul untuk mengingatkan masyarakat pada dosa yang disembunyikan di balik moralitas.

Nurul juga mengingat masa kecilnya. Ia berkata, dulu dilarang keluar magrib, katanya nanti ada gendruwo, wajahnya merah, keluar api, sosok besar, nanti ada kuntilanak ada di atas pohon. Tapi aku pikir, kalaupun iya, mungkin mereka cuma ingin teman bermain. Hantu anak di sini juga berfungsi sebagai pendisiplinan sosial. Mitos-mitos itu juga cara orang tua mendisiplinkan anak.

III. Hantu Anak dalam Perspektif Psikologis

Akbar melanjutkan pembahasan dengan memperkenalkan konsep Puer Aeturnus (anak kekal) yang mengacu pada anak-anak yang terjebak dalam kondisi kekal tanpa bertambah tua, sebagaimana yang digambarkan dalam mitologi seperti cerita Peter Pan. Ia menghubungkannya dengan hantu anak yang sering kali tampak tidak berkembang, terjebak dalam bentuk anak kecil. Menurutnya, konsep ini berkaitan dengan hilangnya tanggung jawab orang dewasa yang tercermin dalam cerita seperti Útburður sebagaimana dijelaskan Nurul, di mana tanggung jawab orang tua terhapus dalam tragedi.

Akbar juga mengaitkan hantu anak dalam sastra, seperti dalam novel Beloved karya Toni Morrison, yang menggambarkan rasa bersalah ibu terhadap anak yang dibunuh dan bagaimana trauma tersebut berpengaruh hingga generasi berikutnya. Dalam karya karya Toni Morrison, di mana hantu anak adalah perwujudan rasa bersalah sang ibu. Ketika seseorang melihat tuyul, ia sebenarnya anak kecil yang dipaksa bekerja. Bukan hanya soal mistik, tapi simbol eksploitasi—child labor—dalam bentuk spiritual. Tema besarnya bukan soal jahat atau baik, tapi soal kerentanan. Mereka hanyalah anak-anak yang jadi korban dunia orang dewasa.

Ada juga contoh dari film legendaris Bayi Ajaib (RCTI), dalam salah satu sekuelnya, yang menceritakan seorang anak yang direbus sambil memeluk orangtuanya. Bayi tersebut kemudian dirasuki oleh sosok Portugis, menampilkan wajah penjajah dan sosok-sosok tua yang melayang, serta mengalami prosesi sunat yang sulit. Kisah ini cukup traumatis jika dilihat dari perspektif kajian poskolonial, karena menekankan kondisi anak yang tidak berdaya, sekaligus menyoroti hilangnya tanggung jawab orangtua dan terciptanya ketidakberdayaan. Tema serupa juga dapat ditemukan dalam cerita rakyat, di mana anak-anak sering digambarkan menghadapi situasi tak berdaya di rumah.

IV. Hantu Anak dan Kekerasan terhadap Anak

Menyambung Akbar, Sulkhan memberikan analisis dengan mengutip buku Evil Children: In the Popular Imagination karya Karen J. Rener. Dalam buku ini, disebutkan bahwa kekerasan terhadap anak dapat menciptakan siklus kekerasan yang berkelanjutan, di mana hantu anak menjadi manifestasi dari korban kekerasan yang berulang. Hantu anak-anak menjadi simbol ketidakberdayaan dan trauma yang tak terselesaikan. Sulkhan menyebut bahwa hantu anak dalam cerita rakyat sering kali berfungsi sebagai peringatan terhadap kekerasan dan kehilangan tanggung jawab orang dewasa. Dalam budaya populer, fenomena ini kerap kali dikaitkan dengan anak-anak yang lebih sensitif terhadap dunia gaib dan menjadi sasaran dari makhluk gaib yang pernah mengalami kekerasan. Hantu anak itu bukan sekadar roh penasaran, tapi jejak trauma sosial. Mereka muncul karena orang dewasa gagal melindungi anak-anak.

V. Perkembangan Tuyul sebagai Folklore Modern

Nurizky berpendapat bahwa tuyul sebenarnya merupakan bagian dari folklore yang berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Tuyul dianggap sebagai makhluk anak yang gemar berbuat iseng, seperti mencuri barang atau uang. Kalau di Barat ada Casper, di Indonesia kita punya tuyul. Bedanya, Casper jadi teman manusia, tuyul jadi pekerja manusia.

Namun, menurutnya, dengan perkembangan zaman dan budaya digital, konsep tuyul kini semakin menjadi bagian dari urban legend, yang dalam konteks modern sering kali dikaitkan dengan penipuan elektronik atau uang virtual. Nurizky menunjukkan bahwa meskipun kemajuan teknologi telah mengubah bentuk kejahatan, cerita mengenai tuyul tetap relevan dalam masyarakat yang masih mempercayainya. Semisal urban legend di Jakarta Barat: hantu pastur tanpa kepala di Kebon Jeruk. Cerita itu, katanya, berubah-ubah dari waktu ke waktu—kadang dianggap penjaga gereja, kadang korban kolonial. Hantu juga mengikuti struktur kekuasaan. Kalau zaman dulu babi ngepet itu simbol kapitalisme, sekarang mungkin berubah jadi tuyul digital—yang main saham, main kripto.

Sulkhan menambahkan, dongeng-dongeng tentang tuyul merefleksikan perbedaan kelas sosial dan akses terhadap teknologi, seperti internet, mobile banking, e-wallet, dan layanan perbankan tertentu. Cerita tuyul masih eksis di kalangan yang memiliki akses terbatas, misalnya di pelosok desa saat dia KKN. Kehadiran cerita ini menunjukkan bahwa penetrasi pengetahuan digital mulai menggeser mitos tuyul, meskipun narasi tentang hantu anak tetap bertahan.

VI. Pengaruh Tuyul dalam Budaya Jawa

Isma bercerita tentang tuyul—atau thuyul dalam lidah Jawa—makhluk halus berwujud anak kecil, gundul, kadang berkulit perak, suaranya menyerupai anak ayam. Clifford Geertz menulis tentangnya dalam The Religion of Java (1976) di daerah Mojokuto atau yang lebih dikenal dengan Kediri: makhluk kecil ini dipercaya mencari uang bagi majikannya, tapi pemeliharanya akan mati susah. Ia menyebut varian lain dari tuyul, seperti: Ghundhul dari Malang abad ke-19, Kecit yang muncul di catatan kolonial 1930-an, dan Mentek—makhluk serupa tuyul di desa-desa agraris yang mencuri padi, bukan uang. Kalau dilihat dari fungsi sosialnya, tuyul muncul dari kecemburuan sosial. Dari tanya yang tak terjawab: kenapa seseorang tiba-tiba kaya?

Sejarawan Peter Boomgard menjelaskan bahwa kemunculan hantu gundhul dan kecit dalam imajinasi masyarakat Jawa kuno terkait tingginya angka kematian anak. Kedua hantu ini menghilang pada 1930-an karena depresi ekonomi yang membuat sedikit orang kaya; keberadaan hantu pencuri uang, seperti tuyul, terkait dengan munculnya orang kaya baru yang menjadi sasaran iri petani. Saat krisis berakhir dan orang kaya muncul kembali, narasi hantu pencuri uang hidup kembali, digantikan oleh tuyul.

Isma menjelaskan bahwa dalam mitologi Jawa, tuyul sering digambarkan sebagai makhluk halus yang berbentuk anak kecil dengan kepala gundul. Kepercayaan ini berakar dari cerita tentang janin yang keguguran atau bayi yang meninggal saat lahir. Tuyul diyakini memiliki kemampuan untuk membantu pemiliknya menjadi kaya melalui bantuan supernatural. Mengutip penelitian Geertz yang menjelaskan tentang keberadaan tuyul dalam masyarakat Jawa sebagai simbol dari kecemburuan kelas bawah terhadap orang kaya.

Sulkhan menyebut James Scott dan bukunya “Weapons of the Weak” tentang bagaimana gosip bisa menjadi bentuk perlawanan masyarakat bawah. Cerita tentang tuyul itu juga gosip sebenarnya, cara orang miskin menuduh orang kaya tanpa menyebut nama. Kalau ada tetangga tiba-tiba kaya, dibilang punya tuyul. Padahal itu bentuk protes halus.

Sulkhan menegaskan bahwa tuyul bisa dianggap simbol masyarakat miskin yang tak punya akses ekonomi. Kaya mendadak lewat cara ajaib adalah mimpi yang tak pernah sepenuhnya mati. Jevi menyahut, mengatakan bahwa baginya tuyul adalah hantu yang paling rakyat. Dia tidak seperti genderuwo yang besar, atau kuntilanak yang menyeramkan. Tuyul itu iseng, main-main, kadang membantu. Di Gunungkidul, malah ada cerita tuyul baik yang membantu petani.

 

VII. Keberadaan Hantu Anak dalam Folklore Lain

Jevi menambahkan bahwa dalam mitologi dan folklore di Gunungkidul, hantu anak sering kali berfungsi sebagai simbol ketidakberdayaan atau sebagai makhluk yang terperangkap dalam kesulitan sosial. Di daerahnya, misalnya, hantu anak dianggap sebagai salah satu makhluk gaib yang paling sulit untuk diatasi oleh para dukun. Tuyul digambarkan sebagai makhluk yang telanjang, murni sebagai entitas tuyul, sehingga sulit menentukan “kejahatan” yang melekat padanya.

Jevi menyebut juga mitos menanggulangi tuyul tradisional biasanya dengan meletakkan cermin di tengah-tengah jagung atau padi agar mereka lari. Tuyul berperan sebagai pelayan majikan, lahir dari lingkungan pinggiran dan keterbatasan, yang harus berusaha dan bekerja sendiri. Tidak semua tuyul mau mencuri ke sembarang tempat; mereka memilih, misalnya, mengincar rumah tertentu, sementara rumah orang biasa jarang disasar. Dalam konteks ini, Jevi mengaitkan tuyul dengan simbol anak yang berada di luar kontrol sosial, yang digambarkan sebagai makhluk yang lahir dari keterbatasan dan ketidakmampuan orang tua mereka. Tuyul, bagi Jevi, lebih merupakan simbol ketidakadilan terhadap dunia anak-anak.

Jevi menekankan bahwa mitos tuyul diperkuat oleh budaya segan menuduh: ketika uang hilang, masyarakat cenderung menyalahkan makhluk gaib, bukan individu, sehingga tanggung jawab dilepaskan. Dalam konteks sosial Jawa, masyarakat enggan menuduh orang lain secara langsung; jika ada barang hilang, kecurigaan biasanya dilempar pada tuyul, bukan individu tertentu. Dari sini muncul hikmah bagi masyarakat: berhati-hati dalam menyimpan harta.

VIII. Konstruksi Sosial Tuyul dan Hantu Anak

Lina mengungkapkan pandangan mengenai hantu anak sebagai konstruksi sosial, yang digambarkan melalui cerita-cerita rakyat dan media—dari cara masyarakat memandang kerja, keluarga, dan tanggung jawab. Di “Tuyul dan Mbak Yul” hantu ini justru jadi domestik. Ia mengungkapkan bahwa dalam banyak budaya, hantu anak dibentuk oleh kebutuhan sosial dan psikologis masyarakat terhadap struktur keluarga. Hantu anak dalam cerita rakyat seringkali menjadi representasi dari ketidakberdayaan anak, atau sebagai korban dari pola sosial yang merugikan. Dalam hal ini, Lina menunjukkan bagaimana konstruksi sosial dan patriarki turut membentuk keberadaan hantu anak dalam masyarakat.

Lina juga menyebut perspektif teori abjeksi, hantu-hantu ini memiliki daya ketika dihancurkan, bukan dalam wujud utuhnya. Tuyul, misalnya, dipercaya berasal dari jabang bayi yang meninggal, termasuk bayi yang digugurkan. Fenomena ini juga dilihat sebagai dampak patriarki, di mana kekuatan atau daya hantu muncul dari ketidakadilan dan kematian yang dialami di dunia nyata.

Lina juga mengajak diskusi dengan pertanyaan tentang bagaimana peserta Klenik Studies memahami konstruksi hantu: apakah keberadaan mereka murni imajinasi masyarakat, produk klenik, atau hasil konstruksi media. Ia menekankan bahwa banyak hantu yang kita kenal, terutama hantu anak, muncul sebagai bagian dari narasi sosial yang dikonstruksi, bukan sekadar fenomena supranatural.

Sulkhan menanggapi, bahwa perspektif setiap peserta berbeda: Akbar lebih menekankan sisi psikologis, Nurul melihat dari kacamata klenik di lingkungannya dan pengalaman, Isma menyoroti konstruktivisme, dan Jevi menekankan kajian masyarakat di lingkungannya di Gunungkidul. Tuyul, menurut Sulkhan, bisa dipahami sebagai entitas yang berada “di antara dunia,” memiliki fungsi sosial, sekaligus menjadi refleksi hubungan manusia dengan kekuasaan dan tanggung jawab.

Akbar juga menyinggung bahwa asumsi keberadaan hantu bisa dualistik—sebagai konstruksi sosial dan sebagai fenomena yang diyakini nyata—yang keduanya saling mempengaruhi. Nurul menambahkan bahwa pengalaman personal dan warisan budaya membentuk konstruksi hantu di rumah atau lingkungan sekitarnya.

Sulkhan menambahkan bahwa setiap orang punya cara berbeda membaca hantu. Ada yang religius, ada yang antropologis, ada yang psikologis. Klenik Studies menekankan pentingnya memahami hantu tidak hanya sebagai fenomena supranatural, tetapi sebagai simbol psikologis, sosial, dan historis yang memantulkan relasi manusia dengan kekuasaan, moralitas, dan ingatan kolektif. Secara keseluruhan, diskusi menegaskan bahwa hantu, terutama hantu anak dan tuyul, merupakan konstruksi sosial-kultural yang lahir dari interaksi manusia, trauma, kelas sosial, dan kepercayaan.

IX. Hantu Anak, Gender, dan Eksploitasi Sosial

Tiren kemudian menanyakan hal yang selama ini jarang dibahas: kenapa tuyul selalu laki-laki? Apakah karena pekerjaan mencuri dianggap maskulin? Isma mencoba menjawab, bahwa hal ini tak lepas dari imajinasi kebanyakan masyarakat Indonesia yang menginginkan anak laki-laki, karena laki-laki bisa cepat bekerja. Juga tak lepas dari tradisi patriarki di Indonesia, hantu laki-laki yang cenderung maskulin, sementara anak perempuan lebih ke pesona feminitas seperti Nyi Roro Kidul.

Nurizky menambahkan bahwa di folklore modern, hantu anak perempuan sering muncul dalam bentuk boneka atau teman bermain. Nurul teringat tentang hantu anak perempuan, seperti Anabelle, yang terkenal karena kutukannya. Ada juga kasus Chucky, di mana seorang psikopat dewasa jiwanya masuk ke dalam boneka. Awalnya, dia bertindak sebagai pembunuh, dan kemudian jiwanya dipindahkan ke boneka tersebut.

Tiren juga menyoroti aspek psikologis dan relasi kuasa dari fenomena tuyul dan hantu anak. Ia menekankan bahwa anak-anak dalam kisah ini sering kali menjadi korban eksploitasi—bukan sekadar secara ekonomi, tetapi juga psikologis—sehingga relasi kuasa antara orang dewasa dan anak tercermin dalam konstruksi hantu tersebut. Tiren mempertanyakan bagaimana entitas seperti tuyul atau bayi bajang tidak hanya muncul sebagai alat atau korban, tetapi juga sebagai simbol posisi rentan anak dalam masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya memahami konteks sosial dan politik di balik mitos ini, termasuk bagaimana imaji anak korban kekerasan diolah dalam kesadaran kolektif untuk mengekspresikan ketidakadilan atau kontrol sosial.

Tiren melanjutkan pembahasan dengan menyoroti sisi eksploitatif dari figur tuyul dan hantu anak. Menurutnya, banyak cerita tentang hantu anak yang menggambarkan bagaimana anak-anak menjadi korban kekerasan dan eksploitasi, baik dalam dunia nyata maupun dalam bentuk figur gaib seperti tuyul. Tiren mengaitkan fenomena ini dengan ketidakadilan sosial, di mana anak-anak, baik yang hidup maupun yang mati, sering kali menjadi simbol dari ketidakadilan sosial dan ekonomi yang ada dalam masyarakat.

Bahasan lain juga tentang mitos pesugihan di mana istri atau perempuan menjadi wadah energi tuyul—kadang disusui, kadang dikuras darahnya. Nurizky di sini melihat tubuh perempuan dalam kisah pesugihan selalu dijadikan alat—baik sebagai medium penarik kekayaan, maupun sebagai korban. Dalam beberapa versi, janin yang dikorbankan itu sendiri berubah menjadi tuyul atau bayi bajang. Bajang adalah jabang bayi, janin yang gugur. Dalam tradisi lama, roh anak yang tak sempat lahir lalu dijadikan pekerja spiritual. Tragis tapi juga simbolik—tentang bagaimana tubuh perempuan dan anak sama-sama tak punya kuasa.

Nurul menambahkan deskripsi ritual yang pernah ia baca. Untuk memelihara tuyul, seseorang harus membeli dari dukun atau mewarisinya. Ia perlu diberi susu, kemenyan, dan uang logam di kendi kecil. Setiap malam Jumat Kliwon, tuannya harus memanggil dengan mantra, memastikan si anak gaib itu tetap loyal.

X. Tuyul sebagai Simbol Kapitalisme

Yanto mengungkapkan bahwa tuyul dapat dianggap sebagai simbol kapitalisme, di mana ia berfungsi sebagai "tenaga kerja murah" yang dieksploitasi oleh pemiliknya untuk memperoleh kekayaan. Tuyul, yang dapat dibeli dan dijual, mencerminkan bagaimana kapitalisme modern mengandalkan pekerja murah untuk memperoleh keuntungan. Yanto mengaitkan fenomena ini dengan struktur ekonomi yang lebih besar, di mana orang yang memelihara tuyul melibatkan diri dalam sebuah siklus ekonomi yang eksploitatif.

Yanto menemukan benang merah bahwa tuyul bisa dilihat sebagai simbol kapitalisme yang representatif. Tuyul relatif mudah diperoleh, bisa dijual atau dibeli, dan memiliki “spesifikasi” tertentu, mirip dengan pasar tenaga kerja. Mereka diberi sesajen sebagai bentuk lain dari “THR”, sehingga cenderung tidak berpindah ke “employer” lain atau simbol majikan. Dalam perspektif studi HRD, tuyul bisa dianalogikan sebagai tenaga kerja yang loyal dan khusus. Konsep ini juga relevan bagi pengusaha modern, yang bisa memanfaatkan outsourcing untuk mendapatkan tenaga dengan spesifikasi tertentu—mirip prinsip kerja tuyul yang efisien dan terkendali.

Yanto menyoroti aspek ekonomi dan efisiensi antara tuyul dan babi ngepet, menyebut bahwa tuyul lebih menarik sebagai “instrument investasi” karena sifatnya yang pasif, mudah dipelihara, dan sumber daya yang dibutuhkan relatif sedikit dibanding babi ngepet, yang membutuhkan proses semedi dan ritual panjang.

Jevi menanggapi, meskipun tuyul bisa didapatkan melalui dukun, namun prosesnya tidak semudah itu. Terdapat syarat-syarat khusus, transaksi tertentu, dan risiko yang harus diperhitungkan. Selalu ada konsekuensi dari kepemilikannya. Selain itu, praktik 'neteki' juga tidak bisa dilakukan secara sembarangan; ada ritual khusus yang harus diikuti, sehingga keseluruhan proses jauh dari kesederhanaan.

XI. Kesimpulan

Pertama, hantu anak, termasuk tuyul, berfungsi sebagai simbol moral dalam banyak budaya, baik untuk memperingatkan orang dewasa tentang kekerasan, tanggung jawab yang diabaikan, maupun ketidakadilan sosial terhadap anak-anak. Fenomena ini muncul dari pengalaman tragedi nyata maupun konstruksi sosial yang membentuk persepsi masyarakat.

Kedua, tuyul tidak hanya makhluk gaib, tetapi juga mencerminkan ketimpangan sosial dan ekonomi. Dalam budaya Jawa, tuyul dianggap sebagai “tenaga kerja supernatural” yang dieksploitasi untuk memperoleh kekayaan, menggambarkan kecemburuan sosial, kapitalisme, dan hubungan ketergantungan antara orang kaya dan miskin.

Ketiga, fenomena hantu anak mencerminkan trauma psikologis, rasa bersalah, dan ketidakberdayaan anak yang tidak terselesaikan. Dalam sastra dan folklore global, hantu anak melambangkan anak yang terjebak dalam kondisi kekal atau korban ketidakadilan sosial, sekaligus menjadi sarana masyarakat memproses rasa bersalah, tragedi, dan ketidakadilan terhadap generasi muda.

Tindak Lanjut

Pertemuan berikutnya akan membahas tema “Hantu di Institusi Pendidikan” dengan studi kasus hantu-hantu di berbagai kampus, seperti kasus bunuh diri Mbak Yayuk yang tak selesai skripsinya. Berbagai instansi pendidikan dari institusi agama seperti pesantren hingga instansi pendidikan umum akan dibahas. Tindak lanjut dan tema diskusi selanjutnya dijadwalkan pada Kamis, 13 November 2025 pukul 21.00 WIB via Zoom Meeting.

Senin, 20 Oktober 2025

Catatan Konser Rony Parulian di Acara Tring! @Sarinah

Rony Parulian

Ini konser Rony ketujuh yang kutonton setelah konser di GTV. Diadaikan di Anjungan Sarinah pas acara Tring! Pegadaian pada Minggu, 19 Oktober 2025, sekitar pukul 08.45 WIB. Rasanya ini emang booster Vitamin R! Ini konser terpagi Rony di CFD Thamrin-Sudirman. Soalnya, malam minggu aku insomnia, tidur pukul 1-an pagi, bangun jam 4, tidur lagi, terus bangun lagi jam 5, tidur lagi, terus benar-benar bangun jam 6 untuk ibadah dan mandi. Aku berangkat ke Sarinah sekitar pukul 07.10 WIB. Aku putuskan untuk berjalan kaki, dengan jarak sekitar tiga kiloan dari kos, jalan kurang lebih dengan waktu 45 menit. Lokasi udah dibanjiri penonton dan WeR1. 

Untung aku tahu celah-celah nonton di Sarinah. Karena jelas kalah nglawan WeR1 terniat yang datang setelah solat tahajud dari kota satelit. Aku berdiri di lokasi dekat sama halte TransJakarta, membelakangi panggung utama, tapi Rony dengan khasnya selalu menyapa semua sisi. Yang gak bisa kulupain juga, aku berdiri di belakang mas-mas cerewet tinggi yang suka desak-desak penonton lain, dan menghalangi penonton di belakang karena dia video pakai dua hape.

Sebelum Rony tampil, ada juga diskusi dan sharing session soal investasi. Acara yang dipandu oleh Melani Ricardo ini juga mendatangkan Dave Hendrik dan petinggi pegadaian lainnya gitu yang aku lupa nama dan jabatannya. 

"Yang aku pelajari di 2025 adalah...." kata Dave Hendrik.

Aku ngrasa Dave ini sejak dulu awet muda, dan gak keberatan ditanya umur, bahkan bangga dengan pencapaian umurnya sekarang yang ke-48. Dulu sering ngelihat dia ngehost bareng Oki Lukman di acara Idola Cilik. Suka sama cerita dia soal investasi, yang kalau bisa seawal mungkin lakukanlah. Investasi menurutnya juga bukan soal materi, tapi juga relasi. Networks lead to assets. Dia cerita juga punya teman yang literally ortunya tajir melintir, dan ketika ditanya terkait investasi dia apa? Temannya bilang, investasi dia ortunya, kek ngandalin bokap nyokap banget. Temannya itu nyesel karena sekaya apa pun harta akan habis kalau digerogoti terus. Thanks Dave. 

Dari dokumentasiku, ini playlist Rony Sarinah 19 Oktober 2025:

  1. Sepenuh Hati
  2. Satu Alasan
  3. Dengarlah Cinta
  4. Butuh Waktu
  5. Mengapa
  6. Salahi Aku
  7. Tak Ada yang Sepertimu
  8. Tak Ada Ujungnya
  9. Tetap Bukan Kamu
  10. Pesona Sederhana 

Kaos dan tasnya dah Rony banget nih, haha

Misi komplit, dah seneng nonton R! dan foto bareng tas bergambar Winnie The Pooh geprek. Tadi sempat keliling sekitar Sarinah dan Rubanah Hub juga sampai ke Gereja St. Theresia, di situ ada kedai makan organik enak; yang kok ndilalah di sana ada gathering driver ojol soal baterai listrik dari salah satu produsen di Jakarta. Yadah, nimbrung ajalah, wkwk. Pulangnya ada demo humanity for Palestine. Berwarna sekali mingguku. Berwarna sekali hari Mingguku. 


Rony, seperti biasa, mempersiapkan dua look, satu pakai jaket jeans warna biru. Kedua look pakai kaos putih polos gitu. Dia pakai celana warnah hijau daun. Hal lain yang menarik perhatianku adalah tentu pekerja informal yang menjajakan fan art Rony Parulian, seperti kipas, bando, dlsb. Menarik juga memperhatikan jual-beli fan art ini. 

*** 

Oh iya, malam ini, Senin, 20 Oktober 2025, tepat dua tahun perayaan lagu "Mengapa" dan dua tahun perayaan karier Rony. WeR1 Jabar buat konten menarik, yang menanyakan "Di moment apa pertama kali suka Rony?" Aku menjawab:

"Aku tipe mbak² 32 tahun yang suka kerja. Gak begitu ngeh sama berita dan perkembangan musik terkini di luar, tapi suatu hari kolegaku nyetel video klip "Tak Ada Ujungnya" di kantor circa pertengahan tahun 2025. Pertama kali aku lihat klip itu entah kenapa langsung klik, karena diambil di Jepang (negara favorit yang pengen kukunjungi, sempat juga belajar basic Japanese). Aku gak begitu naruh perhatian sama penyanyinya, aku nganggap mungkin itu penyanyi pendatang baru. Tapi karena kolegaku yang mengikuti lagu-lagu terkini itu gak cuma sekali nyetel "Tak Ada Ujungnya", lama-lama aku perhatiin penyanyinya juga. Kok ada yang gak biasa dari POV-ku, karena di klip itu, ini yang nyanyi cowok tapi confidence pakai jas warna pink. Bahkan di situ kelihatan macho, energi feminim dan maskulinnya ngeblend. Dari lagu itu, aku semakin dalami liriknya, kek, Ya Allah, ini lagu aku banget secara isi, terutama yang bagian ini, "Kan kujaga, di luas hatiku, di dalam samudra perasaan..." Ini tuh semacam jadi inti yang bisa ngegambarin filosofiku ngelihat hidup. Nah, suatu hari aku kesempatan nonton Rony di Anjungan Sarinah pada suatu malam, dari situ aku ngedalamin lagu-lagu Rony yang lain. Akhir Juli juga, aku dapat musibah lumayan besar, aku kena scamming sampai puluhan juta, tabunganku kerja empat tahun di Jakarta abis dengan ninggalin utang yang mayan juga, tapi aku ngerasa kuat lagi tiap dengerin lagu-lagu Rony, terlebih pas dengar YouTube Daniel Mananta yang ngundang Rony. Di situ banyak nilai dan perjuangan hidup yang aku pelajari. Semenjak itu juga, aku merasa punya daya hidup lagi. Aku terinspirasi kisah hidup Rony. Tiap konser Rony yang bisa kujangkau, pasti akan aku datangi, terutama yang di sekitar Jabodetabek. Konser di acara Tring! Sarinah minggu pagi lalu jadi konser ketujuh Rony yang kutonton. Aku selalu nulis pengalaman nonton konser Rony di blogku pilea-eureka.blogspot.com, suatu hari juga, aku ada semacam niat pengen nulis buku buat Rony dan WeR1. Doaku, semoga Rony selalu sehat, Tuhan selalu melindungi, serta selalu dewasa dan bijaksana ya, Ron. Lof you as always. Happy 2th of your achievement. ありがとう。🌻🌷🌹" 

Hari ini juga, pesanan parfum dari Hyodo bergambar Rony aku unboxing. Aku jarang nemu parfum yang baunya cocok. Ini random aja pas lihat di medsos ada iming-iming foto idola, makanya aku pesan. Sasarannya fandom dan kpop² gitu, tapi mereka juga nyediain yang nasional-lokal. Harganya hemat kantong juga, standar 50 ml 55 ribu di Shopee. Lebih murah dibandingkan parfum lokal langganan yang kubeli dari Pekalongan atau in perfume Bandung; tapi gak ada apa-apanya juga kalau dibandingkan parfum Yves Saint Laurent (YSL) yang dulu dapat testernya 5 ml dari Grand Indonesia. 

Untuk Hyodo ini, pas kubuka, wkwk, gatau seru aja, dan seneng. Wanginya juga aku suka. Ada empat aroma seingatku. Awalnya aku bingung milih mana, setelah diskusi dengan dengan AI dan riset terkait pilihan aroma apa yang cocok dengan kepribadianku dari berbagai piliha itu, akhirnya aku pilih Sugarvoid. Pas kucium, asli, wangi. Parfum jasmine andalanku yang katanya mirip bau alam gaib kalah, segeran ini. Ah, entahlah, ini ada faktor emosi juga soalnya. Jelas sangat subjektif. But that's good. Dalam sudut pandangku yang lain, Rony mah bisa jadi cuma sebentar dan perantara aja, yang panjang bin memutar itu gimana mahami dan mengenal perasaan sendiri.

Beberapa hari yang lalu pas WeR1 official bikin konten: "Lagu yang paling suka dinyanyiin? Udah biasa! Kita tanya ke personel Ron The Room, lagu apa yang paling suka mereka mainin di album Rahasia Pertama!", aku ketrigger Rony yang asbun nyebut lagu "Manusia Bodoh" sebagai lagu dengan instrumen paling suka dimainkan. Kalau kuperhatikan, sepertinya ada episteme tersendiri yang ngebuat band yang kuidolakan di masa lalu bisa akhirnya nyambung ke Rony. Jujur, amazed. Kok bisa ya. Mungkin benar kata seorang teman, kita narik yang emang udah ada di kita sejak lama.

Album cinta pertama ku sebelum aku kenal album-album lain yang ndakik-ndakik. Sampai hafal susunan lagunya dari awal sampai akhir, dari Surga Cinta sampai Jalan Cahaya. Album bajakan pertama yang kubeli di Pasar Induk Cepu dengan harga 6 ribu. Semua lagu di album ini memorable.

Oh, iya, aku mau nambahin satu hal lagi @ronyparulian__, Ada Band punya album "Romantic Rhapsody". Entah kenapa inget kamu aja dengan sebutan rockmantis, aku berharap suatu hari nanti Rony bisa collab sama Ada Band/Donnie Sibarani. Rony dan Donnie sama-sama orang Batak favoritku, sama-sama berbakat nyanyi, bikin lirik, dan (idk) kalian tipe manusia² religius dan sayang keluarga. 💌 

Selasa, 14 Oktober 2025

Ulang Tahun Cakson ke-33

Mari kita mulai pelan-pelan, karena obrolan ini lumayan panjang. Dan hanya sedikit yang aku ingat. Dan dari yang sedikit itu, beginilah obrolannya:

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun ke-33 untuk kawanku Budi Agung Wicaksono atau yang kami sapa Cakson pada 10 Oktober 2025 lalu. Sebagaimana kubilang, ulang tahun Cakson ada di angka cantik, 10.10. Aku dan Arwani sebelum hari-H sudah janjian untuk menelepon Cakson di hari Jumat malam sekitar pukul 22.00 WIB. Jumat itu aku lumayan sangat sibuk sejak pagi, ada beberapa agenda seperti membimbing anak magang Humas latihan menulis rilis, liputan di Kemenko PMK, hingga janjian Zoom Meeting dengan dosen Antropologi UI, Mas Geger Riyanto untuk membahas terkait antropologi fandom--meskipun sebenarnya alasan aslinya mau curhat gimana nulis terkait WeR1 dan Rony Parulian secara proper dari sisi akademik. Banyak hal yang kucatat, kalau sempat, aku akan menuliskannya dalam tulisan atau bahasan tersendiri.

Malam itu, dengan mata yang sebenarnya kriyep-kriyep sudah mau tidur, aku kembali terjaga saat mendengar suara Cakson dan Arwani melalui WhatsApp call. Kami melakukan sesi calling dua kali, pertama dari jam 23.14 WIB dengan durasi 3 jam 48 menit dan 38 detik. Sesi kedua, dari jam 3.01 dini hari dengan durasi 30 menit 34 detik. Sebelumnya, aku juga berkabar dengan Arwani terlebih dulu selama 5 menit 27 detik, sampai kita putuskan untuk menunggu Cakson. Setelah kami bertiga tersambung, kami saling berbagi kabar. 

Di awal-awal, Cakson banyak mengeluhkan terkait capaian yang diraih saat umur 33 tahun. Aku menangkap ada semacam ketidakpuasan di dalam diri yang berkaitan dengan capaian. Sampai di titik ini aku malah tak begitu memikirkan capaian. Lalu Cakson bertanya padaku, "Lha, capaianmu apa, Is?" Aku jawab spontan kalau capaianku gak muluk-muluk, hal-hal yang sederhana seperti bisa mandiri, badan masih sehat, dan masih bisa makan dengan enak. Dulu mungkin aku merasa, capaian dalam bentuk konkret seperti aku bisa lulus S1 Fisika, karena aku tak menyangka bisa lulus. Namun sekarang, capaian sederhana yang mudah dicapai lebih baik.

Kami bahkan melebarkan diskusi soal foto profil masing-masing. Misal Arwani yang menggambarkan fotonya sebagai simbolisasi dari ajaran zen dalam Buddhisme, bahwa hidup ini kosong, bukan nihilisme, tapi lebih dalam lagi kaitannya dengan spiritualitas. Aku menjelaskan jika fotoku yang menunjukkan laut dan langit merupakan simbol dari Vedanta terkait jiwa yang meluas.  

Puncak acaranya adalah diskusi, masing-masing dari kami menanyakan tiga pertanyaan pada pihak yang berulang tahun. Berikut kira-kira yang masih aku ingat:

Arwani: Kalo kamu mati besok, hal apa yang kamu sesali karena belum kamu lakukan??

Sepenangkapanku, Cakson menjawab pertanyaan Arwani ini dengan sesuatu yang tak bisa dia deskripsikan dengan baik. Kami berbicara soal filsafat "ilmu kelakone kanthi laku". Sebab, Cakson merasa, secara konsep kebijaksanaan, barangkali dia bisa sampai; tapi secara praktik tidak semudah itu. Baginya itu sangat berat. Masih perlu banyak penyesuaian-penyesuaian.

Isma: Selama setahun ini, ada gak semacam moment titik balik (turning point) dalam hidupmu? Misal kalau aku, salah satunya seperti aku kena scamming. Ini jadi titik balikku, yang mengajariku jika rejeki yang sebenarnya itu ya cuma yang kita pakai dan kita telan.

Seingatku, Cakson bilang ada dua hal. Pertama, saat ibunya sakit. Kedua, saat dia menghubungi temannya yang seorang perempuan. Suatu hari, Cakson menelepon temannya karena ingin minta maaf. Dia juga merasa tidak tahu, kenapa harus minta maaf. Namun jawaban perempuan ini seperti menyudutkannya, "Kamu telepon memang untuk apa?" Setelah Cakson perdalami ini, dia seperti masih menyimpan luka di masa lalu akan hubungan yang belum selesai. Dia tidak ingin menyakiti perempuan ini, sehingga dia minta maaf.  

Arwani: Uang saldomu sekarang 10 juta ada gak? 

Cakson: Tidak.

Arwani: 5 juta?

Cakson: Tidak.

Arwani: Berapa terus?

Cakson: Kira-kira 1,6 juta, dan itu barangkali juga akan kuberikan ke urusan lain yang berkaitan dengan nama baik, karena aku lebih mementingkan nama baik daripada uang. 

Obrolan ini bagiku agak awkward karena membongkar dapur sendiri ini bukan hal yang mudah kita bicarakan dengan sembarang orang. Kami saling bercerita jika ketakutan terbesar kami bertiga adalah soal keuangan (financial freedom). Kami memang sekarang ada di fisik yang tengah berada di puncak-puncaknya jika diibaratkan mesin, kami saling khawatir dengan masa depan yang tidak jelas, kami takut misal tua tapi gak ada pondasi finansial yang kuat. Sementara, saat ini, kondisi keuangan kami boleh dikatakan berada di tahap yang megap-megap, bahkan minus. Namun, aku juga punya refleksi lain saat berdiskusi dengan salah seorang musikus dari Jogja yang tinggal di Bandung. Obrolanku dengannya entah kenapa mengubah sudut pandangku, jika hidup dengan hati yang kaya lebih berharga daripada kaya secara materi. Memperkaya dunia batin lebih berharga daripada sekadar hal-hal yang bisa kita lihat.

Isma: Berbicara tentang pernikahan dan rumah tangga, apakah kamu ada tekanan dari orangtua untuk segera menikah? Jika kamu memang ingin menikah, rumah tangga yang seperti apa yang ingin kamu bangun?

Jawaban akan pertanyaan ini sangat panjang. Dari yang aku tangkap, dia ingin punya istri satu, rumah yang aman-nyaman, bisa jadi dirinya sendiri. Yang paling dia takutkan adalah apakah dia bisa menjadi Bapak yang baik untuk anak-anaknya nanti. Dia begitu detail cerita terkait ini, menurutku ini poin yang baik. Cakson tidak ingin mengulangi gaya didikan ayahnya, yang menurutnya agak seperti robot dia dididik, tidak memiliki perasaan. 

Obrolan ini juga berlanjut terkait hidup "slow living" di desa-desa yang dikutuki Arwani. Dia keberatan hidupnya di desa disebut slow living. Padahal hidup ala Arwani ini dirindukan orang-orang kota.  

Arwani: Kalau kamu dijodohkan sama orangtuamu, kira-kira kamu terima gak Cak?

Cakson menjawab sepertinya orangtuanya tidak akan sampai kepikiran untuk menjodohkannya. Tapi karena ini adalah sebuah pengandaian, ini akan tergantung dengan cocok tidaknya dia dengan siapa dijodohkan. Kalau cocok yang lanjut, kalau enggak ya tidak. Bahasan melebar ke memilih jodoh yang sebenarnya bisa kita mulai dari hal sesederhana kayak seseorang memilih baju, meskipun keduanya tidak apple to apple. Saat memilih baju saja misalnya, ada berbagai indikator yang kita pertimbangkan, dari kualitas, warna, bentuk, hingga harga. Begitu juga memilih jodoh, indikator banyak. Namun bagi Cakson, ada perbedaan di keduanya, kalau milih baju, kita bisa buang atau ganti dengan sesuka hati, tapi kalau jodoh tidak seperti itu. 

Arwani kemudian meng-counter-nya, kata dia yang aku ingat, "Emang kamu mikir kegagalan dengan pasangan itu hal akhir yang membuat hidupmu hancur? Kenapa kita gak melihatnya sebagai sesuatu yang membuat kita justru berkembang?"

Isma: Kamu pernah gak mengalami semacam, aku gak tahu istilah apa yang tepat, semacam guilty pleasure. Konteksnya gini, kadang aku merasa lingkungan kita itu terlalu 'bro' dan tidak mengakui hal-hal yang menyek-menyek, yang tak selesai sama diri sendiri, atau menolak yang populer dan mainstream. Seperti, kayak aku suka dengerin Rony, Juicy Luicy, hingga Opick; tapi suatu waktu Cakson juga bilang kalau seleraku mendengarkan Opick itu selera yang jelek. Pernah gak kamu ada moment seperti itu?

Pertanyaanku ini sebenarnya yang banyak jawab malah Arwani. Inti yang aku tangkap, ini berkaitan dengan dinamika sosial dan dinamika publik. Memang kita punya minat privat, tapi masalahnya, ketika dia sudah dibagikan di publik, jangan salahkan publik ketika mereka menghakimi. Sebab, masing-masing dari mereka punya preferensi dan selera masing-masing. Jika itu ditabrakkan ya meski kuat-kuat mental. Apa yang aku rasakan dan sukai gak salah, tapi titik tekannya adalah bagaimana menjadi "bijaksana" di tengah dinamika sosial dan publikmu sendiri. 

Arwani juga cerita pengalamannya menghayati dengan sangat dalam buku puisi Chairil Anwar, khususnya puisi tentang Karawang-Bekasi yang saat itu sekitarnya tak ada yang menganggap puisi itu keren, tapi Arwani menganggap ini keren. Dia juga baca Kahlil Gibran, yang secara otomatis itu mempengaruhi preferensinya pada musik dan lirik yang dia dengar. Kadang, citra yang ingin kita tampilkan ke publik tidak melulu soal orang itu sendiri, tapi juga menunjukkan kebutuhan dan keterikatan kita juga. Itu kenapa, ketika mereka diejek atau direndahkan, kita ikut sakit.

Sementara itu, Cakson menjawab kalau sama teman-teman sirkel terdekatnyalah dia bisa jadi diri sendiri. Dia cerita tentang satu orang dalam satu kelompok yang sangat perfect, tapi terus ditegur, ngapain sih kayak gitu? Kamu gak capek pakai topeng terus? Ini berkaitan dengan preferensi mencari jodoh juga, salah satu kriteria jodoh yang dia cari, gimana kita tak pakai topeng di depannya. Bahkan menerima segenap kebiasaan-kebiasaan jelek dia. Sebab, Cakson juga bilang, setiap orang memiliki enam topeng yang bisa dia pakai dan lepas berdasarkan kondisi. 

Obrolan kami yang hampir berjalan empat jam ini kemudian meluas kemana-mana. Aku cerita soal grup Klenik Studies dan menawarkan pada Cakson dan Arwani untuk mengikuti diskusinya jika tertarik. Juga cerita-cerita lucu seputarnya.