Jumat, 06 Oktober 2023

Surya Paloh dan Yohanes Surya

Baca berita soal kembalinya kader Nasdem jadi tersangka korupsi, tiba-tiba langsung keingat awal jadi Maba dulu ada kuliah umum. Pengisinya saat itu Surya Paloh (Ketua Partai Nasdem), aku dan banyak maba lain mendengarkan di ruang utama Masjid UIN Sunan Kalijaga yang juga dianggap sebagai "laboratorium agama". Waktu itu dia kasi ceramah soal perjalanan hidupnya, yang tentu hal-hal seperti itu juga pernah dia ceritakan entah puluhan atau ratusan kali di tempat yang lain. 

Sebagaimana watak pejabat/politisi yang malas membaca (tolong, membaca gak cuma soal buku tapi juga lingkungan) argumennya seperti kaset yang selalu diputar-putar ulang. Kini aku mengingat itu sebagai keabsurdan lain: kenapa kok ya UIN dari sekian banyak tokoh milihnya dia? Apa hubungan UIN dengan politisi lingkar Senayan?

Aku lebih suka membayangkan jika yang mengisi kuliah umum adalah orang-orang yang ahli atau expertise di bidang jurusan atau paling enggak fakultas. Barangkali, kalau saat itu yang dipanggil jadi narasumber adalah Yohanes Surya bukan Surya Paloh, barangkali ketika menghadapi hari-hari berat di Fisika, aku tak sefrustasi itu, ada pilar lain yang bisa kujadikan pijakan. Namun begitulah, para sosok besar di Gedung Rektorat tak berpikir sejauh itu. Koneksi-koneksi tanpa substansi.

Takdir mengizinkanku pernah ketemu dengan keduanya: Yohanes Surya dan Surya Paloh. Jika tak salah itung, tiga kali pernah ketemu Pak YS. Secara penampilan beliau memang kaku, tapi secara pikiran tidak. Beliau membuat satu tradisi baru dalam berhitung yang kini dikembangkan lewat bantuan Jokowi, Luhut, Tito, dkk, sampai lingkar Papua. Lewat metodenya GASING.

Senin, 02 Oktober 2023

Diskusi Buku Ultimus "Angin Menerpa Menara" Karya Han Suyin

Catatan ini merupakan ringkasan dari diskusi karya Han Suyin berjudul "Angin Menerpa Menara: Mao Zedong dan Revolusi Tiongkok (1949-1975)" di Beranda Rakyat Garuda, Jakarta, Minggu (1/10/2023). Bahas buku ini menghadirkan narasumber: Dede Mulyanto, Tatiana Lukman, dan dimoderatori oleh Reza Muharam.

Bilven Sandalista mengatakan, buku ini terbit tahun 2019. Namun karena prosesnya berat dan mengalami covid-19, jadi terhalang. Pihaknya menyesal kenapa buru-buru. Apalagi Ultimus juga menerbitkan buku berjudul Singapura (Poh So Kai). Buku ini dibedah dua kali di Jogja. Pak Te mengedit tiga buku, dua buku memoar dari Ir. Djoko Muljono. Tentang Banten dan memoar di Pulau Buru. 



Narasumber Tatiana Lukman menjelaskan, revolusi Tiongkok sangat penting, meski sudah tak ada. Pengaruh Mao banyak dan meningkat di pergerakan rakyat. Mao meninggal 1976, kemudian komplotan revolusionis melakukan kudeta. Anggota diundang untuk rapat politbiro, kemudian dieksekusi. Terjadi perselisihan antara oportunis kanan dan kiri (opor kaki)--oleh pemimpin-pemimpin partai. Tema pokok di buku Han Suyin yaitu perjuangan dua kelas dan ideologis di negara China, yang memungkinkan restorasi kapitalisme. Perjuangan dua garis, dua partai, di negara. Ada kontradiksi kelas dan perjuangan kelas.

Karena partai hidup di masa perjuangan kelas, anggota partai komunis membawa ideologi kelas sendiri. Mereka partai pelopor, anggotanya paling maju di kelas buruh, meski membawa ideologi dari kelas asal. Mendidik diri itu sampai mati, berjuang supaya ideologi proletar mendominasi. Membimbing dia punya sepak terjang di masyarakat. Sehingga menunaikan tugas, merealisasikan cita-cita partai komunis. Dalam praktik, sekali komunis tetap komunis.

Sosialisme lahir dari kesadaran penghisapan manusia atas manusia. Kekurangan dari buku, kenapa gak bahas peran Tan Sioping yang merupakan sekjen partai. Padahal perannya sangat penting.

Dia melanjutkan, lompatan jauh ke depan Mao digunakan oleh kaum setelahnya. Membangun sosialisme dengan berdikari, bersamaan dengan revolusi agraria. Ada komune rakyat. Semua proses ada perjuangan dua garis. Makanya penting buku Han Suyin. Bahwa Mao tidak sepenuhnya bersalah atas berbagai dampak yang disebabkan oleh revolusi, yang perspektifnya mendenominasi Mao.

Di sisi lain, narasumber Dede Mulyanto menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang ditangkap Dede dalam buku Han Suyin. Pertama, deklarasi republik rakyat Tiongkok, yang menjadi gerbang pintu kemerdekaan. Mao mengantarkan ke gerbang dengan berdirinya rakyat Tiongkok. Revolusi bukan soal durasi, seminggu atau sepekan, atau bagaimana masyarakat mengalami pembenturan, yang penting adalah "perubahan substansi". Struktur sosial ada perubahan, bukan hanya di bidang politik. Misal penelitian terkait ketimpangan lahan, ada golongan petani kaya dan kaya. Yang dimaksud Mao dalam  Oktober 49, revolusi timbul dari sana.

Mao dari sudut pandang Marxis, beberapa hal yang dia cetuskan tidak ada sanadnya. Ketika memutuskan revolusi Tiongkok, mustahil terjadi revolusi di proletariat perkotaan, tapi proletariat pedesaan, yang secara internal feodal. Peta Tiongkok udah dipetak-petak, negara mana saja yang menguasai. Konsesi untuk Inggris, Prancis, Jerman, dll. Dalam Marxisme berpangku pada proletariat perkotaan. Ketika kaum komunis berkumpul, jadi mudah dihabisi. Ternyata Mao berhasil, padal pas Lenin itu perkotaan. Apakah Mao reformis atau revolusionis? "Dia kreatif," ujarnya.

Konteksnya berbeda antara komune Paris, dibandingkan dengan Tiongkok. Pengalihan Mao ada nasabnya, terletak pada inti Marxisme. Martin Suryajaya menulis, inti Marxisme adalah metode. Sanad kreatif Mao ada di metode materialisme.

Kedua, ada lompatan ke depan. Mao melakukan reforma agraria dengan menghabisi tuan tanah feodal yang dibagi-bagi pada rakyat. Meski setelah itu, ada borjuis kecil. Petani mau menghasilkan kekayaan secara individual dan kolektif. Misal tahun 1951, Mao mengusulkan kolektifasi. Sayangnya tak semua petani punya pengetahuan dan teknologi, makanya saat itu menghasilkan kegagalan ekonomi. Sebab orang-orang yang tak paham dan punya pengetahuan gagal, karena lebih terbiasa untuk disuruh-suruh.

Namun, tahun 1978, ada 18 petani desa menulis curhat ke partai, dengan menceritakan desanya ke partai. Penduduk desa yang awalnya 120 tinggal 67 karena kelaparan. Karena ada sistem kuota setor kepada negara. Butuh modal besar termasuk kebutuhan akan alat berat. Ide itu masih diterapkan. Semua industri berat diusahakan, dari traktor sampai peniti. Problemnya sistem kuota sifatnya kuota tetap, seringkali ada yang bisa memenuhi ada yang habis disetor ke negara. Ini yang menjadi cikal bakal reformasi. Ketidakmakmuran mayoritas itu sumber ketidakstabilan.

Setelah 49 terjadi hal-hal besar, termasuk Perang Korea. Termasuk kisruh komunis internasional, demonisasi atas Al Mukarom Stalin. Ini berhubungan dengan kesinambungan moral. Ide soal demokrasi baru, yang penting menyelesaikan kontradiksi dari partai dan rakyat, yang non-antagonistik. Itu tidak antagonistik. Rakyat adalah presentasi, keinginan rakyat direpresentasikan dalam bentuk partai. Terjadi kecenderungan representasi rakyat dengan yang diwakilinya (birokratisme).

Tantiana mengungkapkan beda pendapatnya dengan Dede. Kaum opor kaki hanya menggunakan Marxisme untuk polesan bibir dan menghancurkan intisari dari Marxisme. Ini sebab dari keruntuhan sosialisme di Tiongkok. Mereka yang menang yaitu yang menjalankan kapitalisme. Mao melakukan RBKP dengan memobilisasi massa dan kampanye. Akhirnya mengerti, memecah orang yang ada di garis itu efeknya tak banyak, yang penting di kepala. Lalu soal kaum tani, Mao melakukan analisa kelas. Kaum tani berideologi borjuis kecil, pengen membesar untuk kepentingan sendiri. Lalu Mao bikin grup gotongroyong, selain untuk menyelesaikan teknologi tapi juga pengetahuan. Adanya grup saling bantu, untuk mendidik ideologi, di mana borjuis kecil tujuannya untuk diri sendiri. Supaya mereka sadar semua dilakukan secara kolektif, ini ideologi.

Hal itu diteruskan ke RBKP mengurangi egoisme. Dengan terjangkitnya revolusi itu, ada revolusi yang orang itu tak sadar. Apa yang dilakukan kudeta 46, tak ada hubungannya dengan Mao. RBKP berhasil melakukan sosialisme. Ada sosok baru Kruschev di sana. Mao melakukan perjuangan dua garis di partai, di militer. Mao percaya manusia bisa berubah, dia berusaha menyelematkan Ting Sio Pi yang lebih licik. Dia diterima setelah melakukan otokritik meski itu palsu, munafik.

Mao ngomong ada "perjuangan kelas", diperlukan revolusi dalam perjuangan proletariat. Revisionisme diangkat oleh tokoh-tokoh Indonesia termasuk Ibrahim Isa. Lompatan jauh ke depan dia berhasil melakukan revolusi tanpa utang sepersen pun. Ini juga tentang proses berdikari.

Dede menambahkan, untuk membangun industri berat termasuk dari nonindustri itu berasal dari industri berat. Itu kenapa kolektivisasi merupakan hal penting. Terjadi kecenderungan rekolektivasi diri baik di lingkungan pertanian dll. Rekolektivasi bisa berkembang di masa teknologi. Sistem demokrasi Baru Mao terasa manfaatnya, "menghancurkan ide tentang orang hebat dan berkedudukan." Rakyat mensentralisasi diri.

Industri atau perdagangan lebih tua daripada kapitalisme muncul di Eropa. Artinya tak bisa menyamakan industri/perdagangan dengan kapitalisme. Kapitalisme ada syarat ekopol, kekuasaan kelas tertentu terhadap institusi kolektif, negara. Salah satu kekeliruan Salvador Allende membiarkan alat negara dipegang oleh kapitalis, sehingga muncul Augosto Pinochet baru.

Tantiana mengatakan, Jack Ma pengusaha besar dunia itu anggota partai. Hubungan dengan Indonesia, sebelum Mao meninggal banyak orang dilindungi di Tiongkok. Tapi pas zaman Deng Xiaoping, orang Indonesia diusir. Partai yang dipilih kaum revisionis itu dikhianati. Kapitalisme yang dibangun di China itu sekarang kapitalisme kronis, karena punya hubungan dengan penguasa (pengangguran di China lebih dari 20℅ dan tak diumumkan). Di Indonesia juga begitu. Padal Mao selalu membela massa dan revisionis itu membelakangi massa. Bagaimana kaum revisionis menyabotase. 



DISKUSI:

Daniel Sihombing mengapresiasi adanya diskusi yang menarik ini. Daniel posisinya lebih netral, dia belajar dari tradisi kiri di luar, diskusi tentang sosialisme Tiongkok sangat minim. Salah satu yang ia pelajari, di CPA (Communist Party of Australia), prosesnya sangat sulit. Untuk jadi anggota juga gak mudah. Ada begitu banyak partai komunis dunia yang berelasi dengan Tiongkok. Dari pengalamannya tak demikian. Di Aussie ada program untuk studi banding terkait partai komunis. Partai-partai komunis yang ada di solid map ada di mana-mana. Mereka secara rutin bertemu. Buku ini harapannya bisa memperkaya sosialisme Tiongkok. Belum ada yang sekuat RRC dalam mengancam imperialisme. Apa RRC punya potensi membebaskan negara-negara tertindas?

Tantiana menjawab, China udah partai kapitalis. Yang ngomong aktivis Tiongkok, sensornya sangat kuat yang melawan kapitalisme Tiongkok. Sensor luar biasa terjadi pada Maoisme yang baru. Masalah lain, membedakan partai adalah soal penghisapan. Negara sosialis menghancurkan penghisapan manusia atas manusia. Di Tiongkok setelah Deng Xiaoping naik, banyak hak buruh yang diamputasi. Misal Suar Suroso, tahu-tahu setelah di Tiongkok, malah ngomong apakah salahnya pabrik ngambil nilai lebih? Di mana otaknya? Apalagi buruh migran banyak terjadi penghisapan. Ibrahim Isa gak pernah mengatakan penghisapan, yang diceritakan banyak kelas menengah ke atas. Buruh cuma jadi keset. "Saya nangis lihat itu," katanya. Zaman dia di sana ajarannya merah dan api. Bisa jadi penghisap sekaligus anggota partai!

Dede menjawab, tak ada hadis masyarakat sosilis. Pembangunan tak bisa dilakukan sekehendak hati. Membangun komune satu kota ala terbitan buku Marjin Kiri itu gak bisa. Revolusi bukan soal durasi. Kapitalisme sebagai individu atau kelas tak bisa mempengaruhi program 100 tahun, 1949-2049. Ada perencanaan jangka panjang yang individu tak bisa jalan.

Peserta diskusi Siauw menjabarkan, saya simpati dengan bapaknya. Ada konglomerat yang utangnya 3.000 miliar dollar, anggota komunis 30 tahun, lalu masuk bui. Belajarnya ke Harvard. Mengenai revolusi Kebudayaan terjadi kanibalisme, awal sebabnya keterusan konferensi 7 ribu orang yang mengkritik Mao. Mengekstrasi surplus pertanian desa ke kota. Banyak data yang cuma slogan, ada tulisan Tom Stone, dari berbagai data, total orang mati tercatat 35 juta. China yang populasinya besar jadi minus. Bukan karena bencana, tapi karena orang. Sekitar tahun 60-70 itu periode, tentang opini kekirian itu bukan cuma Asia tapi juga Amerika berkat dekolonisasi. Para wartawan kiri itu perlu. "Saya bisa jadi sponsor (untuk penerjemahan buku)." Tembok China itu cantik, tapi ngikutin rekomendasi Soviet untuk 10 proyek besar. "Kalau mengagungkan revolusi kebudayaan itu gak bener, saya gak setuju." Perlu membimbing pembelajaran bahasa China. Sekarang udah mase kapitalisme finansial.

Tanggapan berikutnya Iwan mengatakan, China itu kompleks sekali. Kita menjajaki sungai dengan menjajaki batu-batu. Cari kebenaran dari fakta. Yang nulis ini ngerti jiwanya China, bukan teorinya. Orang yang menang itu bisa mabuk, harus benerin cara berpikirnya. Dua cara berpikir itu akan terus hidup, benar yang dikatakan Tantiana. Janganlah kita merasa lebih pinter dari Mao dan Deng. Bukan penting kucing hitam atau putih tapi bisa nangkap tikus.

Tanggapan berikutnya Rudi dari GSPI, dirinya pernah baca, melakukan sesuatu ada landasannya. Berdisiplin pada teori. Tapi kok China ini gak lagi sosialisme. Contohnya di ketenagakerjaan tak hanya modal tapi juga tenaga kerja. Paling besar TKA itu dari China. Di China, sudah ada kapitalisme monopoli negara dan swasta. Ada birokrat yang ada di kapitalisme dan partai. Juga terjadi tusi yang melahirkan oligarki finance di China. Tidak hanya mengekspor barang tapi juga modal surplus.

Dede menyampaikan, Tom Stone belum melihat faktor iklim karena hal itu juga berpengaruh ke gagal panen. Beda daerah tropis dengan yang subtropis.

Tatiana tidak sependapat dengan Dede, bukan akumulasi ke barang berat, tapi ke alat-alat pertanian. Seperti mekanisasi pertanian, bukan kota eksploitasi desa, bukan, nei-nei. 



Poin-poin lain:
-Marx tidak pernah mengaku jika dirinya adalah marxis.
-Kebenaran itu seperti cermin besar yang dijatuhkan Tuhan ke bumi, dan siapa pun yang menemukan pecahannya mendaku seolah telah menemukan kebenaran.
-Siapa rakyat, bisa pakai analisa kelas, ala Mao, kaum buruh dan tani.
-Generasi muda diharapkan bisa meningkatkan literasi.
-Kemampuan Mao dalam membaca rakyatnya, bangsanya, itu panduan buat kota. Belajarnya melalui fakta.
-"Dalam Islam, kemiskinan dekat dengan kekufuran. Menjadikan orang lemah dan bisa digiring tak hanya fisik, tapi jiwanya juga. Dalam sosialisme, kemiskinan itu kontrarevolusi."



Sabtu, 30 September 2023

Petualangan Sherina 2 (2023): Hidup Mendewasa Itu Susah dan Banyak Masalah

Kesan pertama lihat layar film Petualangan Sherina 2 saat nonton di Gama Plaza Jakarta, yaitu, "Hidup mendewasa itu susah dan banyak masalah." Warna dan situasi layar sangat berbeda dibandingkan dengan PS 1 yang sangat rural, Bandung, dan katakanlah "perumahan". Di layar pertama, aku sudah disambut oleh duniaku keseharian akan Jakarta: beton-beton yang keras, menara pencakar langit, kostum-kostum profesional, KRL yang penuh, jalan raya yang macet, dan bekerja menjadi jurnalis. 

Kenapa semua hal itu jadi sangat dekat dengan diriku? Sherina juga membuka film dengan menyanyi di jalan raya bahwa hidup itu membahagiakan beserta semua rasa optimistisnya. Belum lagi pas liputan di Gedung Nusantara DPR, duh, rasanya jadi ingat Mbak Puan, Pak Tito, dan kawan-kawannya. 

Sampai akhirnya, Sherina mendapat masalah karena dia gak jadi liputan World Economic Forum di Davos, Swiss. Tim yang berangkat adalah dia yang punya aliran darah dengan si pemilik media. Sementara Sherina dikirim ke KALIMANTAN! untuk meliput orangutan dan bagaimana reservasinya di sebuah LSM bernama OUKAL. Tentu telah menjadi karakter Sherina jika dia suka konfrontasi, dia tak suka dengan keputusan atasan yang sepihak. Memutuskan pulang menemui ayah dan ibunya dan berniat resign dari kantor. Namun, ayah dan ibunya mengingatkan Sherina untuk melanjutkan petualangan dan "menerima nasib".

Namanya juga film kan ya, di Kalimantan, sebentar, aku mau berlebai dulu dengan Kalimantan. Sepanjang film ini yang latarnya diambil di Kalimantan, Kalimantan Tengah tepatnya menurut pengamatanku, di daerah Katingan dan Bukit Raya. Sontak aku langsung teringat dengan petulangan pertamaku pergi keluar Jawa naik kapal sendirian, tersesat di Pangkalan Bun, dan menempuh perjalanan hampir sehari untuk sampai ke Palangkaraya. Lalu, bersama teman-teman dari berbagai wilayah di Indonesia, melakukan studi wisata di Katingan, terkait pendoaan mayat, bakar babi, sampai hal terkecil: nyebrang sungai dengan perahu yang memuat mobil-mobil itu. 

Terus hutan itu, Ya Allah, hutan itu, sungai itu. Aku mengingat air sungainya bisa diminum langsung tanpa ada efek batuk dan alergi, terus rasanya segeeer dan bening banget. Melihat film Sherina seperti mengajakku bernostalgia secara double, gak cuma saat Sherina dan Saddam kecil berubah jadi gedhe, aku pun juga ikut gedhe, tapi tentang hutan Kalimantan dan binatang endemiknya. Itu pengalaman-pengalaman yang rasanya menarik untuk dihidupi kembali, entah dalam bentuk yang lain ataupun dalam bentuk yang sama.

Di Kalimantanlah, Sherina ketemu sahabat masa kecilnya, Sadam atau Yayang. Dia jadi project manager di OUKAL, LSM yang melindungi orangutan di Kalimantan. Di sana juga ada tokoh namanya Sindai, anak SD yang melindungi orangutan. Konflik utama yang diangkat pada PS2 yaitu, pembalakan binatang-binatang langka. Pelakunya tentu orang-orang kaya yang gak ngotak dan hobinya memberi makan ego saja seperti Syailendra (Chandra Satria) dan istri mudanya Ratih (Isyana Sarasvati), dibantu dengan body guard perempuan, Pinkan (Kelly Tandiano). Lagu musikal dari Ratih dan Syailendra pun secara literal menyebut, koleksi binatang langka itu sebagai gengsi dan eksistensi.

Sherina dan Sadam akhirnya melalui petualangan mereka untuk kesekian kalinya. Bukan di Observatorium Bosscha, tapi di rumah pembalak liar yang hendak menumpas mereka. Di situ akhirnya masa lalu keduanya diungkap dengan intim. Pernah gak sih ngalami moment berdua seperti itu? Cerita masa lalu terus ngebicarain diri masing-masing secara jujur. Merefleksikan berapa lama cahaya bintang bisa sampai ke bumi, bukan dengan obrolan yang sok filsafat atau bagaimana, tapi obrolan yang sifatnya lebih ke pengetahuan.

Misal, Sadam jengah dan meninggalkan Sherina karena anaknya selalu pengen mengontrol, selalu pengan mimpin, sering sok tahu, dan apa-apa dia lakukan dengan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan yang lain? Sherina tak sadar itu. Sejak kematian papi Sadam dan maminya yang hidup di Sydney bersama kakak-kakaknya, Sadam memilih jalannya sendiri. Namun ada juga kesamaan-kesamaan yang menyatukan keduanya, terutama bintang-bintang di langit, vega dan canopus, atau capella. Jika aku boleh berdoa, aku pengen hidup selamanya dengan sahabatku, sahabat yang telah mengenalku sangat lama. Bukan hanya soal waktu, tapi juga perkenalan itu sendiri.

Dan, setelah 23 tahun, Sherina dan Sadam tak mudah berubah karakternya. Mereka punya kehidupan masing-masing, tapi kumelihat Derby Romero seperti telah melalui berbagai pengalaman yang membuat wajahnya jadi teduh seperti itu. Sherina pun sebagaimana trend perempuan kiwari, tumbuh menjadi perempuan yang glowing dan bak princess dari negeri Disney. Meski part tersedih yang aku rasakan sebagai perempuan, di tokoh Sherina yang dewasa, nilai-nilai stereotip yang dilekatkan ke perempuan jadi semakin dinormalisasi. Aku merasakannya sangat halus, semisal pemimpin itu ya laki-laki, perempuan sekonfontratif apa pun harus dijinakkan, dan perempuan harus nurut. Haha. Ya, argumennya gak salah, konteksnya juga, bukanlah hidup harus dinikmati? Terlepas dari stereotip-stereotip ini?

Jumat, 29 September 2023

Petualangan Sherina (2000): Mendidik Anak Perempuan Seperti Sherina

Film ini dianggap sebagai film 'pahlawan' pada masanya, karena berhasil mengangkat dunia hiburan yang saat lesu usai reformasi 98 dan aneka krisis masa itu jadi terkerek naik. Setelah menontonnya, kurasa keberhasilan film ini dilandasi pada satu hal: KETULUSAN. Semua pihak yang membuat film ini melaksanakan tugas-tugasnya dengan gembira, passion mereka telah melampui waktu, sehingga bisa menghadirkan nafas lanjutan di film Petualangan Sherina 2, yang dirilis kemarin, 28 September 2023.

Aku memperhatikan, dari penulis skenario Jujur Prananto, sang sutradara Riri Riza, produser Mira Lesmana, hingga kehadiran aktor-aktor klasik Indonesia dari Butet Kertaradjasa, Didi Petet, Djaduk Ferianto, Matias Muchus, sampai artis-artis cilik/muda Sherina Munaf dan Derby Romero. Dari behind scene, aku melihat film ini dibikin dengan gembira sehingga sampai kepada penonton juga dalam perasaan yang gembira. 

Poin kedua, Sherina adalah simbol dari anak perempuan yang meruntuhkan berbagai stereotipe akan anak perempuan. Dia juga sangat egaliter, membuka mata lawan mainnya Sadam yang menjadi karakter mainstream pertelevisian Indonesia. Sherina adalah gadis cilik yang banyak akal, tidak lemah ketika diculik, mandiri, bersahabat dengan siapa saja, menjaga hak-haknya bahkan sampai di hal detail: Sadam harus mencuci roknya yang kena permen karet gara-gara kelakukan temannya itu, meskipun si ibu telah menyederhanakan persoalan bisa dia cuci sendiri, "Oh, TIDAK!" pekik Sherina dalam hati. Sherina sebagai anak perempuan berani melakukan "konfrontasi", sungguh skill langka.

Poin ketiga, aku senang terkait cara orangtua Sherina mendidik anak perempuan satu-satunya itu. Salah satu adegan yang menyentuhku secara personal, ketika ayahnya Pak Darmawan (Mathias Muchus) memberi tahu Sherian akan kepindahannya dari Jakarta ke Bandung. Dialog mereka menyentuhku, si ayah pertama menjelaskan terkait mimpinya yang menjadi alasan kuat kepindahannya, lalu memberi pemahaman pelan-pelan pada Sherina. Meski kesedihan tak bisa ditampik, tapi akhirnya Sherina bisa mengerti pula. Dia menemukan kehidupan lain yang lebih menarik. Si ayah lulusan S1 IPB di bidang pertanian (bukan bank) dan melanjutkan pendidikannya di Jepang. Ibunya sebagai seorang yang ahli musik juga digambarkan berhati lembut dan sangat keibuan.

Poin keempat, berbagai interior, fashion, tempat, dan property yang dipilih dalam film ini sangat unik. Aku sangat suka dengan latar perkebunan di Bandung yang sangat hijau, observatorium Bosscha yang didesain oleh arsitek favoritku Schoemaker untuk melihat bintang-bintang, boneka pink Piglet (aku juga punya!), sampai interior yang dipilih di rumah Sadam, homey banget. Jika diberikan hidup lain, jadi orangtua Sadam yang punya perkebunan besar di wilayah yang sesejuk itu adalah mimpi besarku. Komposisi itu membuat Wes Anderson pun rasa-rasanya kalah dan Indonesia bisa buat film yang gak ke-Wes-Wes-an tapi punya karakternya sendiri. Kostum yang dipakai Sherina dan Sadam juga khas anak-anak nan trendy gak berlebihan. Sinematografi kita sendiri.

Poin kelima, cerita film ini punya narasi intertekstual dengan kisah lain di dunia. Tentu kamu masih ingat dengan dongeng Hans dan Gretel dari Jerman yang dibuang orangtua tirinya ke hutan, tapi bisa kembali berkat taburan kue. Nah, di film Sherina, dia memakai permen warna-warni untuk menandai jejaknya. Aku jadi berpikir terkait banyak narasi interstekstual yang menarik untuk dikolasekan ke dalam satu cerita yang utuh.

Poin keenam, film ini didukung dengan musikalisasi dan koreografi yang mudah diingat. Lagu-lagu yang dinyanyikan Sherina enak didengar, easy listening. Ini perpaduan yang sangat oke.

Sebenarnya pola Sherina ini coba ditawarkan oleh film garapan Riri Riza yang lain, "Kulari Ke Pantai" (2018) yang dibintangi oleh Marsha Timothy. Meskipun kurang se-hype Sherina, namun nilai-nilai kekeluargaan masih sangat lekat. Film-film ini membuatku yakin, berkeluarga tak seburuk itu. Haha.

Cerita-Cerita Jakarta (2021): Membongkar Kegelisahan-Kegelisahan Pusat Urban Indonesia

Ada 10 cerpen dalam buku ini, semuanya terkait Jakarta dan menarik. Kota ini rasa-rasanya jadi tempat yang tak habis untuk digali. Karakter orang-orangnya beragam, moral hidup dan matinya juga beragam. Ada yang memilih berjalan di atas sepatu ketakutan, atau karena saking kayanya, bisa kebal bencana terhadap apa pun.

Cerita berpusat soal pola relasi urban khas Tinder pemuda Jakarta, yang sehari sebelum pernikahan masih pergi bareng stranger keliling pinggiran kota dan makan makanan serupa pecel lele di pinggiran jalan (B217AN, Ratri Ninditya). Judulnya singkatan dari 'Berdua 1 Tujuan', wkwk).

Sebagai etnia China, aku tak menyadari jika membuat paspor akan bisa serumit dan memusingkan itu seperti dialami oleh cici muda yang ngurus paspor di cerpen "Aroma Terasi" karya Hanna Fransisca. Dia bahkan harus memakai calo agar proses dipercepat, dia juga harus mengaku sebagai anak di luar nikah karena ngurus surat nikah ortunya yang susah. Di kejengkelan yang puncak, si cici tokoh utama harus meminjam sarung bau terasi penjual makanan di luar kantor imigrasi karena dia pakai celana pendek.

Hal lain tentu, urban tak lepas dari pengamen. Aku memperkirakan 90℅ pengamen hidup di urban daripada rural, hal itu yang diangkat Sabda Armandio dalam cerpen "Masalah", si tokoh Yuli, Gembok, dan kawannya yang diduga intel menjalani hidup khas jalanan. Meski ilmu mereka akan musik terlalu tinggi pula seperti bukan khas anak-anak jalanan, tapi lebih ke pengetahuan anak-anak skena. Yang pokok di cerpen Dio, bagaimana negara dan suprastruktur yang dimiliki bisa menindas siapa pun. Bahkan lewat orang-orang yang mengaku teman tapi bukan teman.

Cerpen "Buyan" dari utiuts seperti mengajak tamasya ke masa depan dengan menghadirkan tokoh yang terjebak dalam kendaraan yang tak ada sopirnya, lalu dia terjebak di banjir Jakarta. Driverless car ini nyasar dan tokoh kebingungan.

Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya, di cerpen "Rahasia dari Kramat Tunggak" karya Dewi Kharisma Michellia bercerita terkait nasib PSK Kramat Tunggak yang memiliki anak di luar nikah. Lalu mereka harus melarikan diri dari ayah kandung yang mau lepas dari penjara. Yang menarik di cerpen Michel ini lebih ke penggambaran suasana hidup dan tinggal si ibu sebagai PSK.

Lalu, cerita dari Ziggy Zesyazeoviennazabriskie selalu bisa mengernyitkan dahi, tema-tema pilihannya selalu jarang ditulis. Seperti saat dia menulis "Anak-Anak Dewasa", tentang para manula di kompleks yang ingin main di sebuah wahana hysteria di Ancol, tapi berakhir dengan kematian beberapa teman manula tokoh utama. Penyebabnya, si pihak pembikin wahana ini cuma mau untung tapi tak memikirkan keselamatan penumpang. Jadi sadar pula begitu kompleksnya hari tua itu. Orang-orang berubah.

Di cerpen Ben Sohib berjudul "Haji Syiah", lebih legowo lagi. Cerpen ini tak ada kaitan sebenarnya dengan ideologi Syiah, tapi si tokoh hanya memasang gambar Ayatollah Khomeini saja, karena merasa wajah die teduh. Tapi secara prinsip ibadah kagak ikut-ikutan. Tapi simbol itu justru jadi bumerang buat yang masang.

Berikutnya, kisah dari Cyntha Hariadi sebagaimana cerita-ceritanya di "Mimi Lemon", dari pandangan anak keturunan Tionghoa di masa Mei 1998. Ya, kerusuhan itu membuat persahabatan yang erat antara Tata dan Ace jadi bercerai berai.

Yang menyedihkan lagi yaitu kisah yang diceritakan oleh Afrizal Malna dalam "Pengakuan Teater Palsu". Mengambil cerita yang dekat dengan dirinya, Afrizal mengungkap salah satu kisah seniman di TIM bernama Frans yang malas menjadi manusia. Dia melakukan berbagai hal yang aneh dan dianggap gila untuk membuktikan jika dirinya aktor. Meski hasil yang dia dapat hanya kesia-siaan.

Terakhir, cerita dari Yusi Avianto Pareanom berjudul "Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta". Warga Depok ini hanya pergi ke Jakarta ketika keperluan khusus saja, dan tujuannya tak cuma satu, tapi banyak sehingga waktunya tak sia-sia. Dia lebih suka menghabiskan waktunya hanya untuk di rumah. Selama perjalanan di Jakarta selama seharian penuh itu, si warga Depok tokoh utama yang kita cintai itu bertemu dengan banyak orang, dan dia pulang kenyang dengan dongeng. Dari pembuatan visa yang dia lupa bawa paspor, pertemuan dengan teman sejurusan pas kuliah, dll

Dari 10 tulisan yang juga terbit lebih dulu dalam bahasa Inggris berjudul "The Book of Jakarta" yang diterbitkan oleh Comma Press, UK, aku paling suka cerpen Ziggy dan Cyntha. Bagiku terasa unik dan gaya penceritaannya segar.

Refleksi yang coba aku susun:

-Kota tak ada bedanya seperti laut, menerima yang baik dan buruk yang kesemuanya akan ditelan. Dari mereka yang duduk di pusat, hingga yang paling pinggir. Dari tokoh Ace yang kaya raya seolah hidupnya bebas bencana, sampai ibu PSK di Kramat Tunggak. Dari paling wangi sampai busuknya. Dari yang paling serius sampai paling remeh-temeh. Jakarta dagrasinya sekeren itu. Meski dia selalu disalahkan oleh banyak daerah karena dianggap sebagai daerah prioritas apa-apa (DIISTEMEWAKAN), tapi dia juga menanggung "beban" yang paling besar.

-Bagi sebagian orang, kota Jakarta memang "menjijikkan" untuk disentuh, yang membuat seseorang jadi lupa untuk memikirkan dirinya sendiri, apalagi orang lain (menyedihkan bukan?). Meskipun begitu, kota ini juga adalah kota kehidupan.

Rabu, 27 September 2023

Yang Tidak Banyak Dikatakan Soal Pekerja Media (2022): Membongkar Sistem Ekonomi Politik Eksploitasi Pekerja Media

Di bukunya "Yang Tidak Banyak Dikatakan Soal Pekerja Media" ini, aku sevisi dengan Citra Maudy Mahanani dalam banyak hal. Tentang kerentanan pekerja media, prekarisasi, dan membongkar bagaimana struktur ekonomi-politik itu terjadi. Dan secara lebih emosional, apa yang ditulis Citra juga pernah aku alami di masa-masa bekerja. Aku suka metode Citra yang menulis buku ini dengan referensi-referensi yang serius dan yang paling pokok, membongkar sistem struktural mengapa pekerja media bisa mengalami kerentanan yang sedemikian rupa.

Pergantian rezim kepemimpinan tak mengubah banyak, prekarisasi dan informalisasi masih terus berjalan entah sampai kapan. Di titik yang rasanya nadir, aku sadar, aku hanya satu orang pekerja di antara miliaran pekerja lainnya yang siap jadi "cadangan pekerja" para perusahaan. Pemiliknya tak memikirkan kesejahteraan pekerja, yang lebih dipikirkan adalah bagaimana akumulasi kapital yang terus memperkaya segelintir individu berjalan.

Titik menyedihkan lainnya adalah deskillisasi. Dengan banyaknya beban kerja para pekerja media (golongan muda terlebih), yang sehari-hari harus menulis 5-12 berita sehari, membuat mereka hanya menulis yang kelihatan-kelihatan saja, sementara kemampuan analitisnya diamputasi entah kemana. Kondisi ini tentu menguntungkan sistem karena kadar kritisisme menjadi semakin berkurang. Aku seneng Citra gak meromantisasi perjuangan dan individu yang mungkin akan berakhir jadi problem personal dan menghilangkan gambaran besar. Narasumber yang dia wawancara telah menjelaskan senyata mungkin yang mereka alami.

Citra juga tak lupa membeberkan pentingnya membangun dan bergabung dengan serikat pekerja, yang fungsinya untuk memberi perlindungan pada para buruh yang rentan terkait hubungan industrial yang mereka jalani. Hubungan industrial di sini luas: hubungan buruh dengan bos, dengan sesama pekerja, atau konflik lain yang berhubungan dengan hukum. Minimnya kesadaran kolektif itu ditengarai salah satunya, buruh tak merasakan guna dan fungsi dari serikat pekerja itu sendiri. Ditambah beban kerja mereka yang banyak membuat mereka lebih suka beristirahat daripada sibuk-sibuk mikir dan kerja-kerja "volunteer" lagi. Kerja-kerja sosial itu yang dilakukan semisal oleh SINDIKASI dan Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM).

Aku berterima kasih pada Citra yang juga rekanku di Remotivi karena telah menulis ini. Semakin membuka mataku akan berbagai kerentanan yang terjadi pada pekerja media, juga kesempatan lain yang terlihat menggiurkan tapi sejatinya prekarisasi juga. Aku ingin mencontohkan seperti program P3K, yang meski haknya sama dengan PNS, tetapi dasarnya adalah kontrak juga, dan mereka tidak mendapat pensiun. Telah sebegitu menggurita neoliberalisasi ini menjangkiti segala lini, tak hanya di swasta, tapi juga pemerintahan. 

Penelitian Citra ini bisa menjadi penelitian longitudinal yang menarik untuk dikembangkan, meski banyak bahasa dan frasa tinggi yang susah untuk dibumikan, namun tanpa susah payah mempelajari itu, orang juga tak akan membaca struktur besar yang terjadi. Analisis yang bukan menyangkut basis struktur rasanya susah mengubah apa-apa, sementara perang di tanah basis ekonomi dan politik ini terjadi di mana-mana.

Selasa, 26 September 2023

Masih Adakah Spiritualitas di Kota?

Catatan ini diambil dari Seri Diskusi Publik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) berjudul "Masih Adakah yang Spiritual di Kota?". Diskusi menghadirkan narasumber: Adin Hysteria (Art Enthusiasts), Jecko Siompo (Choreographer), Ardianti Permata Ayu (Dosen dan Peneliti), serta dimoderatori oleh Saras Dewi (Komite Tari DKJ). Pertemuan dilaksanakan di Teater Wahyu Sihombing, TIM Jakarta, Selasa (26/9/2023).

Ketua Komite Tari DKJ Josh mengatakan, pihaknya melakukan riset di Banyuwangi tentang Tari Sablang Bakungan. Spiritualitas tak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal. Dari proses itu, pihaknya membuat esai visual singkat bagaimana spiritualitas menjadi inspirasi untuk diperbincangkan.

Lalu, Dave dari DKJ mengatakan, ritual itu dilakukan pada hari Minggu. Sudah ada keluarga yang telah membuat bunga-bunga. Ada juga ibu yang memasak sajen, yang juga menjadi pengudang Mbah Witri. Lalu ke makam, bersih desa, dan ritual berjalan. Acara berlangsung sampai jam 10-11 malam.

Saras Dewi mengatakan, Banyuwangi telah berkembang perkotaannya. Bagaimana warta di Bakungan, juga berbagai elemen masyarakat mengalami urbanisasi. Dari tuturan lisan, ini sudah 300an tahun yang lalu. Tarian ini tarian kuno yang bermakna di tengah urbanisasi. Bagaimana dari tarian itu, bukan bagian perspektif semata, tapi bagaimana sosial dan ekologis.

Narasumber Adin Hysteria menyampaikan terkait anomali imajinasi budaya urban. Ada Festival Bukit Jatiwayang, di sana ada ritual siraman dan cucuk rampah. Ada hal yang ingin disakralkan. Imajinasi terkait urban tak melulu personal. Dia memperhatikan masih primordial. Di Bustaman, ada kuliner petengan. Alasannya kangen listrik mati. Ada kerinduan terhadap itu.

Juga ada tumpengan yang bukan hasil alam, tapi tumpeng makanan sachet. Gunungan bukan hasil sayur mayur, tapi jajanan ringan. Filosofinya, tidak ada lagi tradisi, sudah tak ada orang yang kirim saji ke pohon, kecuali di periperi seperti di dekat Kendal. Atau moment tertentu seperti Agustusan.

Dalam konteks ini, primordialisme bisa dideskripsikan ulang: agama, asal usul, etnisitas, dll, yang bisa mengikat mereka secara bersama-sama. Dia bertanya, apakah doa mereka sudah ditemukan ratusan lalu? Itu dikarang-karang. Dulu tak ada tradisi ke makam, tapi kemudian digawat-gawatkan, harus dibikin sakral. Ada hal seperti itu di kampung-kota.

Realitas itu tunggal, tapi perspektif macam-macam. Misal di beringin, kasi lampu artistik, tapi beda ketika ada yang turun dari pohon. Menurutnya, kampung di Semarang banyak hilang karena pembangunan, perebutan tanah, dan pengilangan laut. Kampung-kampung terancam hilang oleh banyak hal. Industri pariwisata dipakai dalam rangka mengurangi kemiskinan, mesti tak selalu seperti itu. Ada kerinduan kangen main bareng, ngobrol bareng, ada kekangenan atau kohesi sosial. Pemerintah datang dan itu saja yang dia pahami. Dinas Kebudayaan jadi hal krusial, meski dianaktirikan.

"Aktivisme bertemu kebutuhan, konteks sehingga relevan," jelasnya.

Spiritualitas bukan satu-satunya aspek, aktivasi ruang dan aktor menjadi signifikansi dalam place making project. Tapi tak pernah bilang urbanisasi itu apa, dan climate change tak disuarakan. Apa memori kolektif yang disepakati bersama? Siapa yang berkepentingan dan berpengaruh. Di kampung-kota hal ini bisa dilakukan.

Di sisi lain, Ardianti Permata Ayu mengatakan, seni punya spiritualitas di urban. Ruang merupakan lingkungan tempat manusia berada. Ruang juga merupakan bagian dari masyarakat dan kebutuhan (Hoed, 2011). Jika dilihat dari segi morfologi kota, ruang kota bisa dianggap sebagai ruang budaya, bukan hanya sebagai ruang industri dan ekonomi.

Kota harus memfasilitasi warganya bisa berinteraksi secara individual dan komunal. Di sini, komunitas menjadi penting dalam produksi ruang kota. Penting ketika ada interaksi, sebagaimana yang dikatakan Harvey, warga memiliki hak untuk membentuk dan mengubah kota, serta dapat mereformasi struktur kota sesuai dengan kebutuhan dan keinginan secara komunal.

Lefebvre bilang, kota merupakan hasil interaksi kompleks antara elemen fisik dan non-fisik. Tradisi dan kepercayaan merupakan salah satu aspek dalam produksi ruangnya. Ruang fisik kota dipengaruhi yang material maupun non-material, termasuk spiritualitas.

Spiritual tak selalu vertikal, tetapi juga hubungan dengan masyarakat. Bagaimana setiap manusia punya jiwa. Ketika dikaitkan dengan seni tradisi, ada yang disebut roh. Dari penelitiannya terkait Tari Ballet yang dimasukkan dengan seni tradisi (yang hanya menjadi dekorasi saja). Spiritualitas memiliki rasa, intuisi, kelestarian, dll.

Kehidupan di kota banyak, dari kepadatan, kriminal, kerusakan lingkungan, dll. Lalu masyarakat mencari spiritualitas. Mereka keinginannya mau healing dan healing. Bukan sekadar pelarian, tapi juga berhubungan dengan alam. Ada kehati-hatian untuk bertindak. Ini bisa membuat komunitas menjaga lingkungan hidup. Kita bisa mencoba pendekatan kesenian untuk memberikan wawasan.

Masih adalah yang spiritual di kota saat ini? Dalam konteks urban Jakarta, Jakarta merupakan kota warisan kolonial dan patron-patron setelahnya. Masyarakat yang majemuk membuat suatu kebudayaan yang baru. Punya potensi menumbuhkan suatu spiritualitas baru. Ada sense of place, ketika sudah milik publik, ada rasa yang berubah. Ada kampung batik, dll, tapi tidak riset kota butuhnya apa? 

Dia menanyakan, bagaimana cara menggali dan menumbuhkan kembali spiritual yang pernah hadir? Bagaiman kesenian tradisi dengan spiritualitasnya dimaknai masyarakat kota saat ini? Bagaimana regulasi ikut berperan dalam hal ini? 

Lalu, narasumber Jecko Siompo mengisahkan ceritanya di Papua. Berbicara spiritualitas harus ada yang faktual. Budaya spirit, itu perjuangan individu lalu kelompok dan kesepakatan bersama. Seperti fosil menjadi fosil. Ketika hanya orang-orang tertentu, itu akan menjadi kepercayaan baru. Ada bahasa baru yang berkembang.

Pada tahun 80an, dia mengikuti di Senayan ada break dance, dia terapkan itu di Papua jadi battle. Dia menciptakan itu. Dia menemukan spiritualitas individu. Ada logika dan matematis. Ada penelitian, orang US ke Indonesia, mempelajarinya, tapi ketika diterapkan di negara dia, pesertanya cedera.

Sesi diskusi:

1. Hasan Aspahani: Apa hubungannya spiritualitas dan religiusitas? Seperti kisah Mauludan, 40 hari berturut-turut. Ada imam muda dari Jatim di Batam, dan ramai. Ini ternyata bisa tumbuh.

2. Isma: Berkaca pada kasus Kendal, tak dipungkiri tradisi makin lama akan hilang, berbagai seni tradisi juga udah malih lupa ke bentuk yang lain, dan spiritualitas pun tergerus, dan diganti dengan hal-hal yang tak masuk akal, tak berhubungan, dan mengais-ais mitos masa lalu. Apa pendapat narasumber terkait hilangnya tradisi itu? Bagaimana relevansinya?

Tanggapan:

Menurut Anti, ada mindset tentang hidup sejahtera. Misal ART cari uang aja. Artinya nilai yang ditimbuhkan beda. Pendidikan kita arahnya di situ. Rangking dianggap penting, spiritualitas itu hilang. Sudah jadi orang sukses, mereka hilang, akan punya rasa di situ.

Menurut Adin, religiusitas itu agama, spirit kembali ke jiwa. Apapun itu, mau maulidan, semua hal yang berpotensi menggalang massa itu politis. Seni itu bukan bidang istimewa dibandingkan yang lainnya. 

Betapa kota-kota pesisir, Jakarta dan Semarang yang sebenarnya tak jelas. Tak ada beban menjadi Jawa. Itu beban administratif dari Jawa. Termasuk yang anak, warak ngendok. Hewan paling tidak jelas, tapi dibikin paradoks. Itu fenomena sepele, itu mainan yang tak jelas. Misal waraknya harus ngendok, itu puasa, harus jaga nafsu. Orang Tionghoa punya tafsir lain, begitu kebudayaan kota. Supaya lebih spiritual, dikasi tafsir yang aneh-aneh. Misal Maesa Jenar dari Jogja, jadi nama klub sepak bola. Dari assembling itu punya budaya baru. Yang paling penting, memori kolektif apa dulu? Dan orang yang berkepentingan dan berpengaruh. Kelas-kelas yang punya suara bisa menawarkan corak kebudayaan tertentu.

Menurut Jacko, dari caranya melihat agama, sampai saat ini, tradisi ya tradisi, tapi tradisi jadi agama. Ada kebiasaan nenek moyang yang itu dijadikan agama. Misal Maulidan, gunung bukan jadi kebiasaan spiritual. Ketika masuk tradisi tak ada hubungannya sama sekali, seperti bumi dan langit. Bumi dan laut wkwk. Kemudian mereka mengaitkan, misal jilbab, itu tradisi. Dikolaborasi tidak bisa. Yang kuat sebenarnya spiritualitas individu. Tradisi ya tradisi, agama ya agama. Misal juga terkait Haji, itu tradisi, tapi sebenarnya ibadah. Ini ada hubungannya dengan penjajah. Dia menekankan pada spiritualitas individu yang harus dicari dulu. Gak butuh healing tapi dealing.