Senin, 06 Januari 2014

My Story for Lintang Samudra Basara


Aku ingin bercerita tentang kejadian yang ku alami tanggal 4 Januari 2014. Waktu itu sekitar jam 20.00 WIB sanggar lagi mbahas tentang “Psikologi dan Teater”. Pemateri yang bernama ibu Miftah menyuruh kita memerankan pertunjukan tentang tokoh yang memiliki karakter yang paling dekat dengan kita. Selama lima menit kita beradegan seperti tokoh itu. Dari kognitif, afektif, sampai psikomoriknya. Dari cara dia ngomong, jalan, bergaya, berpikir, merasa sampai perilaku-perilaku lainnya.

Bu Mifta memberi waktu kita 5 menit untuk mencari dan merenung siapa tokoh itu. Bisa dari artis film, pahlawan, atau orang-orang terdekat kita ibu atau bapak kita sendiri. Trus dikasi waktu 10 menit untuk mempraktekan tokoh itu. Silahkan teriak, silahkan berekspresi, ruang milik kalian :D

Aku bingung mau meranin siapa? Aku bertanya ulang, siapa yaa tokoh yang dekat dengan aku? Yang mencerminkan aku gini? Tak ada tokoh mana pun yang kurasa mendekati aku selain Lintang. Ia, Lintang Laskar Pelangi. Bukan sok-sok’an atau apa sih, haha. Yang pasti aku belum secerdas dia, itu aja.

Aku penampil ke-sepuluh. Setelah pertunjukkan dari teman-temanku sanggar yang luar biasa :D Mbak Rosi (yang meranin guru sosiologi dia pas di MAN), Ardi (meranin mas-mas stand up comedy gitu), Ilham (meranin kabayan entah siapa ya? Pakai bahasa sunda, hehe.. gak mudeng), Mbak Isti (meranin gurunya juga), Fahmi (meranin dosennya dia), Madam (meranin teman kuliahnya yang polos bernama Hanafi), Hafidz (meranin tokoh guru entah siapa, pakai bahasa Inggris), Mita (meranin dosennya yang suka ngomong “ia toh? Ia toh?”), Doni (meranin dosen dari luar negerinya yang pas dia tampil itu aku ngerti kalau dosennya keren dan banyak ilmu, haha), trussss Doni nunjuk aku… *musik ilustrasi: Jeng, jeng, jenggg

Aku maju. Pertama aku memberi monolog dulu:

“Pernah nonton film Laskar Pelangi semua kan? Pasti kenal dengan yang namanya Lintang. Nah, mala mini saya ingin meranin dia. Mungkin karena dia pendiam, nggak banyak ngomong  dan suka buku seperti saya” terdengar sorakan #eaa

“Baiklah, saya akan memerankan adegan yang pertama: Lintang itu dari pesisir. Tiap hari dia pergi ke sekolah naik sepeda, tiap hari ada buaya yang menghadangnya. Saat itu pertma kali dia masuk sekolah, dia sendirian, sedang yang lain pada ditemani orang tuanya”  Trus aku duduk meranin Lintang sambil bawa buku dan pensil.

“Adegan kedua. Saat Lintang nyampe ke sekolah saat sekolah mau tutup, dan dia hanya sempat meyanyikan lagu Indonesia raya.. dia nyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati” Aku nyanyi Indonesia Raya bagian reff :D

“Adegan ketiga. Pas Lintang, Ikal, dan Mahar ikut lomba. Saya akan memerankan juri dan Lintangnya sekaligus”. Aku duduk an ngasi pertanyaan yang aku karang, dari pertanyaan fisika, matematika, sampai yang paling narsis “sebutkan tiga pelatih sanggar nuun??” wkwk

“Adegan ke-empat. Sebenarnya dialog ini ada di film Sang Pemimpi, tapi nggak apa-apa yaa.. saya meranin disini. Saat Lintang marah sama Ikal”

Trus aku buat dialog yang seolah Ikal ada di depanku. Masihkah kau ingat Arai ngomong gini boi:
“Apa yang terjadi dengamu Kal? Kemana semangat itu.. mimpi-mimpi itu?!
Tanpa mimpi orang seperti kita akan mati.
Mungkin setelah lulus kita hanya akan jadi buruh, tukang, atau pembantu.
Tapi di sini Kal!! Di sekolah ini!!
Kita tak akan pernah mendahului nasib kita”

Hehe, maaf pak cik Andrea, naskah aslinya aku ganti :p

“Adegan kelima. Saat perpisahan, saat ayah Lintang meningeal, dan dia putus sekolah. Misalkan saya berperan sebagai ibu Muslimah, ada tukang pos yang memberi surat ke saya”

Trus, aku membaca surat Lintang yang juga aku karang:
“Ibunda guru.. Maaf, aku tak berangkat sekolah hari ini.
Ayahku meninggal. Aku akan berhenti sekolah.
Salamku untuk ibunda dan teman-teman.”

Trus, adegan yang terakhir. Saat aku jadi Ikal, saat Lintang pamit dan ninggalin sekolah..
AKU TERIAK KERAS DAN PLONG SEKALI BOIII..
“LINTAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG”
Pertunjukanku usai dan mereka bertepuk tangan, dilanjutkan penampilan teman-teman sanggar lain yang nggak kalah gilanya. Habis itu aku berkaca-kaca :') Akhirnya teriakanku nyebut nama LINTANG kesampaian juga, di depan orang-orang lagi, melebihi ekspektasiku yang pengen teriak di depan laut. Aku pernah nangis terisak-isak nyebut-nyebut nama Lintang. Aku gampang nangis kalau ingat Lintang. Dia anak yang ngajari aku banyak hal, aku mencintai dia dari lubuk hatiku terdalam.

Yogyakarta, 4 Januari 2014

Lirik Lagu "Salam Perpisahan" dan "Menanti Ayah, Menanti Lintang"


Dipopulerkan oleh:  Hilmi Fathurrahman

(#Salam Perpisahan)
Ibunda.. yang kusayangi.. yang ku hormati .. aku mohon diri
Sahabat Laskar Pelangi..  yang aku kasihi
Janganlah berhenti bermimpi..
Doaku.. menyertai.. simpan aku.. dalam hati..
Bila Tuhan.. kehendaki kita akan berjumpa lagi…

(#Menanti Ayah, Menanti Lintang)
 “Ayah dimana kau?? Lama ku menunggu
Betapa ku rindukan.. kehadiranmu…
Kau slalu ada untukku.. Kau slalu yakini diriku..
Tak ada satu pun yang perlu ku takuti
Tapi dimana?? Kau kini berada??
Berhari-hari ku menanti.. Betapa ku berharap..
Kau baik-baik saja.. Ayah kau dimana??
Lintang dimana kau? Lama ku menunggu
Betapa ku rindukan kehadiranmu
Kau slalu memberi semangat
Kau slalu bijak dan hangat
Kau yang telah membuat kami semua bangga
Tapi dimana? Kau kini berada?
Berhari-hariku menanti .. Betapa ku berharap..
Kau baik-baik saja.. Lintang kau dimana?
Ayah dimanakah.. Lintang dimanakah
Lama ku menunggu
Betapa ku berharap kau baik-baik saja
Betapa ku berharap kau akan kembali
Tertawa dan berbagi bersama lagi”

Love you Lintang.. love you..

Jumat, 03 Januari 2014

Sepuluh Kutipan #7


1. "The only way of finding the limits of the possible is by going beyond them into the possible" Arthur C. Clarke

2. "Is live worth living? This is question for an embryo, not for a man" Samuel Butler

3. "Life is either a daring adventure or nothing" Helen Keller

4. "Dalam derita manusia membaja" Lanny Anggawati

5. "When we grow old, there can only be one regret- not to have given enough of oueselves" Eleonora Duse

6. "Aku ingin kau bicara lama. Aku akan mendengarkan dengan senang" (seorang teman)

7. The secret of business is to know something nobody else knows. - Aristotle Onassis

8. If people never did silly things, nothing intelligent would ever get done. ~Ludwig Wittgenstein

9. You can’t stop the waves, but you can learn to surf. — Jon Kabat-Zinn

10. Be not afraid of growing slowly, be afraid only of standing still. — Chinese Proverb

Dear Wisnu and Mas Ali


Tangal 31 Desember 2013 (penutupan tahun), aku mendadak jadi guru ngaji di sebuah TPA masjid Al Huda, Sidoharjo, Samigaluh Kulon progo, YK. Gara-gara agenda susur air terjun Arena nih, hahaha. Ia, kita kan nginepnya di bangunan dekat masjid, nah tiap sore itu kan ada TPA gitu di masjid ini. Bapak dan ibu pengurus masjid menyuruh kami (anak-anak Arena) buat ngajar ngaji. Awalnya sih aku gak pengen ngajar, soalnya nyadar banget bacaan Qur’anku belum lancar (beneran, kadang malu sendiri).

Nah, teman-teman Arena: Mas Andy, Mas Folly, Mbak Nisa,  Mutia, Muza, Fafa, dll pada ngajar dari iqro sampai Al Quran.. Trus aku disuruh salah seorang kakak Arena buat ikutan. Kebetulan ada dua anak yang belum ada pendamping, masih kecil berumur 4 dan 6 tahun (mungkin), akhirnya aku dan Maya maju. Aku bersedia soalnya Iqro :D Ternyata dua anak ini kakak beradik. Maya ngajar kakaknya “Mas Ali” dan aku ngajar adiknya “wisnu”. Dan disinilah hal yang membuatku terharu muncul….

Pertama, aku nanya “adik siapa namanya?” dijawab dengan lucu dan pandangan kemana-mana, “Wisnu”. Trus aku Tanya ngajinya sampai mana? Trus kakaknya ngasi tahu, jilid satu halaman sebelas. Aku ajar dia pelan-pelan. Emang sih susah, mesthi sabarrrr banget ngikuti mood-nya Wisnu. Dia itu kesulitan ngomong “Ja” dia slalu ngomong ja jadi  “da”. Aku pancing-pancing nyuruh dia bilang “jajan” eh malah “dadan”. Aku terusin ngajinya, dia nggak fokus, matanya kemana-mana nggak ngliat iqronya, aku nyuruh dia ngikuti… dan diikuti sih, tapi rada susah juga, dia asyik sendiri. Sampai aku rayu, “Wisnu sayaanggg”.

Nah, kakaknya selesai aku ikutan berhenti ngulang Wisnu. Trus tiba-tiba Mas Andy cerita..
“Kasian dua anak ini ter-ALIENIASI”. Katanya membuatku penasaran…
“Ter-alienasi gimana Mas?”
“Ya gitu, mereka dikucilin sama teman-temannya..” Rasane langsung JLEB.  Aku bertanya-tanya kenapa?? Apa karena otak Wisnu dan Ali kalah sama kecerdasan anak-anak yang ngucilin itu? Atau gimana????

Trus aku dekatin Wisnu, aku ajari dia ngaji lagi… Aku ambil note dan pulpen warna, aku ajari Wisnu nulis. Aku gunakan pendekatan-pendekatan yang dimengerti anak kecil dengan menghadirkan benda-benda nyata bukan konsep abstrak nggak jelas. Misalkan, saat nulis “sa” aku bilang…
“Wisnu… kita buat mangkuknya dulu yaa… Trus, di atasnya ada nasi tiga.. Nah, ini sendoknya (harokat fathah)” Aku rangkul, aku tuntun tangannya, ehhh… dia ketawa sendiri :D Trus aku latih dia nulis sendiri. Pendekatannku cukup berhasil, meski gak sempurna dia buat huruf O di dalamnya ada nasinya lima dan sendoknya satu.. :)

Mas Andy datang.. dia bikin gambar naruto buat Wisnu.. tapi kayaknya Wisnu kagak kenal nih kartun deh.. Trus aku ajak dia gambar hal yang lain.
Naruto dan "sa"
“Kita nggambar yuk Wisnu.. gambar apa yaa? Gambar Wisnu saja yaa…” Aku rangkul, aku tuntun tangannya lagi.. Dari kepala, mata, hidung, telinga, baju.. Pas nyampe baju aku nanya Wisnu, ini kaosnya gambar apa: “Pesawat” katanya samar-samar.. Trus kita nggambar pesawat.. sambil aku bercandai, “Wisnu suka pesawat yaa?”. Trus celana, aku lihat celana Wisnu, aku nanya, “ini gambarnya apa?” . Aku jawab sendiri, “robot yaa”. Aku tuntun dia gambar robot. Aku nanya lagi: “Wisnu mau main apa?” Nggak dijawab, dia asyik ngliatin teman-temannya. “main bola aja yaa” kataku. Akhirnya jadi… Trus, pas mau aku kasi nama.. Wisnu bilang “Mas Ali-Mas Ali”. Akhirnya aku namai gambar itu dengan nama  Mas Ali dan nama Wisnu dibawahnya..
Wisnu :)
Trus, lanjut ke gambar kedua. Bingung sih mau gambar apa? Trus aku ajak dia gambar rumah. Aku nanya, “rumah Wisnu kayak apa?”, “pintunya berapa?” (tiga, tapi cuma ku gambar satu), “ada jendelanya gak?” (geleng-geleng/tidak). Tangannya aku tuntun, kita mensketsa. Nah, Mas Ali menambahi rumahnya dari “gedeg” (sejenis dinding dari anyaman bambu), aku bingung gambarnya.. trus Mas Ali ngajari aku buat sempel dindingnya beberapa biji, seperti ini: “ (=II=II=)”. Trus, aku dan Wisnu nglanjutin buat dindingnya.. Aku konkretkan dan imajinasikan lagi: “sate tidur, sate berdiri, sate tidur, sate berdiri (=II=II)” haha, dia tertawa, kita sketsa sampai dindingnya penuh. Trus aku nanya lagi, “Di depan rumahnya Wisnu ada apa?”, dijawab “krambil”, aku kagak ngerti krambil itu apa, trus Maya ngasi tahu, “krambil itu (pohon) kelapa”. Trus kita gambar deh pohon kelapa. Aku nanya, “ada apa lagi?”. Dijawab, “kandang wedus”. Ohh, kambing. Kita gmbar kambing dengaan rumput dibawahnya. Trus aku nanya lagi: “ada apa lagi?” dijawab, “wit Lombok”. Kita gambar tanaman cabai.. cabainya kata Wisnu warnanya merah, jadi panjang-panjang :D
rumah Wisnu
Trus, tanpa lelah.. aku ajak dia nggambar lagi. Aku ajak dia nggambar ibunya Wisnu. Aku Tanya-tanya…
“Ibu Wisnu cantik nggak?” dia geleng kepala
“Ora, elik..” jawabnya frontal
“Wisnu nggak boleh bilang gitu. Mama Wisnu cantik, nanti bilang yaa ke Mak.e.. ‘Mak.e cantik deh’” Eh, dia malah ketawa :D
“Ibu Wisnu pakai kerudung nggak?”
“Iyo, nganggo”
“Bajunya kaos atau nggak?”
“Kaos”
“Celananya pendek atau panjang?”
“Pendek”
“Ibunya Wisnu lagi apa?” dia diam asyik ngliat sekitar..
“Ibu Wisnu lagi nyapu yaa?” sahutku sendiri
Seperti inilah hasil gambar kami :D
mama Wisnu
Gambar selesai. Aku, Maya, Mas Andy ngomongin mereka berdua. Pengen nangis aku rasanya, kasian anak sekecil itu nggak punya teman. Temen-temennya pada ngejekin, gak mau dideketin. Padahal mereka udah mau deketin buat ikut main, tapi teman-temannya slalu menghindar. . yeah, I can feel  that. Wisnu dan Ali udah terbuka, tapi merekanya yang nggak mau nerima -_- Sampai aku dekati teman-temannya itu (murid mas Andy), aku geret tangannya buat nemenin Wisnu dan Ali, mereka malah menggeliat. Dideketin, menjauh. Dideketin, menjauh. Ya Allah… begitu berat beban psikologis mereka :(

Tak terasa hari udah sore, kita bagi-bagi jajan. Aku kasikan rotiku yang Alhamdulillah masih sisa dua ke Wisnu dan Ali. Awalnya mereka menolak, pas ngliat teman-temannya mau dibagiin jajannya Mas Andy mereka jadi mau. Trus, mereka pulang.

Yang aku salut.. mereka masih ceria, wajah mereka masih terlihat bahagia (tapi entah juga perasaannya). Masa kecil itu jadi masa penentu terbesar karakter seseorang ketika dia besar (setidaknya menurutku). Aku nggak bisa bayangin, kalau Wisnu dan Ali digituin terus sama teman-temannya, besarnya dia akan jadi seperti apa Allah? Sudah besar pun harusnya seseorang itu juga harus ngaca, gak usah “ngina” lah istilahnya atau “ngremehin” atau “ngucilin” orang  lain seolah dirinya yang yes, paling oke, dan nganggep karakter-karekter orang yang mereka tahu orang yang mereka hina dan remehin itu kagak bisa nglawan kayak sampah atau patung yang kagak punya perasaan. Justru, perasaan mereka lebih sensitif daripada mereka yang katanya punya perasaan.

Wisnu, Ali… dear… yang sabar yaa, teruslah ceria, teruslah bahagia. Kakak yakin suatu saat nanti kalian akan memiliki teman-teman yang baik, yang mau bermain dan berbagi dengan kalian.  Semoga Mas Ali yang mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang “petani” berhasil. Jadi petani yang besar, yang sukses, yang mampu menjadikan Indonesia menjadi lumbung padi dunia.
Kak Isma akan selalu merindukan kalian… yang pintar ya Dek…

Kulon Progo, 31 Desember 2013



Senin, 30 Desember 2013

Dramaturgi


Kemah Seni V (Dok. Sanggar Nuun)
Pernah denger istilah “dramaturgi” sebelumnya? Mungkin masih asing ya di Indonesia, heehee. Dari Mbak Resty (anak ISI Jogja) kemarin saya belajar tentang dramaturgi. Orang yang melakukan kegiatan dramaturgi disebut dramatur. Trus apa itu dramatur?? Dramatur itu teman sutradara, pengontrol pertunjukkan, supervisor, sharing partner sutradara, dll. Kalau dari kacamata mbak Resty ia meyebutnya sebagai jembatan yang menghubungkan sutradara dengan elemen-elemen artistik. Dramatur merupakan mata ketiga sutradara. Tugasnya menganalisa naskah, mensinkronkan, controller sebuah pertunjukkan agar pertunjukkan itu bisa diterima atau enggak? Meski begitu seorang dramatur tidak boleh ikut campur dalam hal pembuatan. Jelasnya gini, dramatur itu menganalisa naskah, me-riset, apa-apa saja yang akan dipertunjukkan. Dari setting, bentuk, genre, dan elemen-elemen aktor dan aritistik lainnya di-combine agar bisa DITERIMA. Jadi seorang dramatur dituntut memiliki wawasan luas dan berinteraksi dengan banyak orang.
                Trus teman saya si Hafidz nanya: Dramatur itu perlu nggak sih?? Dijawab sama mbak Resty: tergantung sutradara. Dia perlu nggak? Karena proses penciptaan itu ada dua: dari sutradara dan dari dramatur. Trus, proses panjang dramatur itu seperti apa? Baca buku, riset, mencari referensi, berkomunikasi dengan banyak orang, dll.
Satu hal penting yang harus dipegang oleh seorang dramatur adalah KOMITMEN. Ini jadi alasan jelas yang menjadikan dramatur tidak hanya menonjolkan pengalaman empirisnya aja. Hal pertama yang paling penting dalam sebuah pertunjukkan adalah pesan. Kamu mau nyampein apa? Kowe ape matur opo? Gagasan, pesan, bentuk harus kuat dulu maka elemen-elemen yang lain (seperti musik, kostum, lighting, dll) akan mengikuti.
Trus, gimana sih cara membuat pertunjukan yang menarik? Dijawab sama mbak Resty, semua pertunjukan itu menarik tergantung bagaimana kita mengemasnya.Mbak Resty menuturkan, “ Dimulai dari hal-hal yang dekat dengan saya, dan menarik jika saya kupas. Bukan tergantung orang lain melihatnya kemudian senang. Karena kalau kita saja yang membuat itu merasa menarik dan YAKIN maka orang lain akan terpengaruh dengan energi kita”. Dicontohkan mbak Resty, dia pernah membuat film yang judulnya “Beautiful Nail”. Dimulai karena kecintaannya pada kuku, perempuan cantik kalau memakai cat kuku. Dari ide sederhana ini, bagaimana mengangkatnya menjadi sebuah film? Trus mbak Resty keinget pas SD dulu, dia nggak boleh manjangin kuku. Kemudia ia riset sepanjang pantai selatan Jogja tentang film ini. Dan tak diduga, film yang simple, sederhana, berkualitas ini mendapat sambutan dari berbagai festival dan disambut idenya oleh Aditya Gumay.
Then.. yang penting lagi, jangan minder. Jangan khawatir kalau gagasan itu nggak fresh, karena nggak ada hal orisinil di dunia ini. Tonton pertunjukan yang banyak, cari referensi yang banyak, MEMPERKAYAI DIRI SENDIRI :)
Yogyakarta, 29 Desember 2013
Depan Kantin Dakwah

Selasa, 17 Desember 2013

Membaca Diri


Mari kita berkawan untuk melawan.
Bacalah diri kita sendiri atas ketertindasan masing-masing.
Ayo kita mulai dari hal yang kecil.
Semisal cara kita berpakaian dan beraksesoris, hal itu menjadi sangat urgen bagi kita.
Ya pertanyaan kenapa kita butuh itu semua..
Ya sejauh ini aku butuh pembacaanmu.. 
Setajam apakah kamu tahu tentang ketertindasan dirimu sendiri
Dari itu banyaklah membaca.
Tidak harus dengan buku… baca diri dan realitas saat ini.
Dari-dari itu sering-seringlah berkumpul kepada orang yang lebih berpengetahuan.
Ok! Ajak temanmu mu yang lain..
Kita diskusi bareng-bareng aja.
Coba aja dulu

#Nasihat dan dialektika aku dan Seorang teman :)

Sabtu, 14 Desember 2013

Belajar “Cinta” dari Adam-Hawa, Rama-Sinta (Rahwana)

Terinspirasi dari dongengnya mas Opik :D yang super sekali, haha. Sebuah kisah klasik dengan improvisasi dan perenungan yang dalam… Based on true story… --dengan pengubahan dimana-mana-- :D

ADAM-HAWA
Jadi, dulu tuh gini… Di surga tuh Hawa BT banget gara-gara di cuekin Adam. Hawa cemburu gara-gara Adam lebih sering godain bidadari-bidadari surga daripada dirinya. Trus iblis ngrayu si Hawa buat makan buah khuldi, dimakan sama si Hawa, dan dia dikeluarkan Allah dari surga. Nah, si Adam galau ga ada Hawa (cintanya dia), iblis ngrayu buat makan buah khuldi, dimakan tuh sama si Adam, Allah bersabda, “Adam keluar kamu dari surga!”.Dari buah khuldi mereka belajar cinta.  Si Adam berkata, “Lebih baik hidup di dunia dengan cinta, daripada di surga tanpa cinta” #eaa. Adam diturunkan di Hindus, dan Hawa diturunkan di Jeddah. Mereka saling mencari, bersyair, bermain gitar (?) nyanyi lagunya D’Bagindas (?), Adam melatunkan lagu buat si Hawa. Hingga akhirnya mereka bertemu di Arafah. Dengan gaya slow motion mereka saling berteriak melepas rindu (kayak di film-film gitu), “adammm…”-“hawaaaa…”.
Cinta lahir sebelum agama itu ada. Asas dari semua agama adalah cinta. Hingga Al Farabi menulis dalam syairnya yang keren (puisinya dibacain sama mas Arif, tapi pas aku cari teksnya di google belum ketemu)...

RAMA – SINTA (DAN RAHWANA)
Rama dan Sinta saling berikrar untuk selalu setia. Namun, ada seseorang bernama Rahwana yang menculik Sinta. Rahwana sangat mencintai Sinta. Dewi yang ia sembah dalam mitologi adalah dewi durga (dewi yang memiliki banyak kasih sayang). Sinta diculik di kerajaan Rahwana. Sinta dimuliakan disana, Rahwana pun mengungkapkan rasa cintanya pada Sinta, tapi sayang, Sinta telah berikrar setia pada Rama. Peperangan dimulai, Rama ingin membebaskan Sinta dan membunuh Rahwana. Akhirnya Rama menang, Sinta bebas, dan Rahwana mati.

Namun setelah itu, ada kegelisahan di hati Rama yang meragukan kesucian Sinta. Rama bertanya-tanya, “Apakah Rahwana menjamahmu? Memperkosamu? Sudah di’apa’kan saja kamu sama Rahwana?”. Trus, Rama mendiamkan dan menjauh dari Sinta. Kemudian, Sinta menjelaskan, “Rahwana cuma sekali menyentuhku, saat ia meculikku, setelah itu ia tak pernah menyentuhku lagi, ia sangat menghargai aku sebagai wanita. Jika kamu cinta padaku, kamu tidak akan meminta apa-apa padaku sekali pun aku sudah tak suci lagi. Kau inginkan tubuhku yang suci, sedang tubuh itu sendiri tak memiliki apa-apa, tak tahu apa-apa, dan tak seorang pun di dunia ini yang tubuhnya suci. Kau menuntut kesempurnaan dariku, sedangkan dirimu sendiri tak sempurna. Justru Rahwana dengan cintanya telah menunjukkan kebesran hati sesungguhnya. Meski nyawanya terbunuh di tanganmu, ketulusan cintanya tak akan terbunuh”.
-----
Dua cerita ini lucu dan dalam banget pas diceitain sama Mas Opik, kita semua terpingkal-pingkal, eh, pas aku tuangin dalam bentuk tulisan jadi gini, hahaha. Punten mas Opik. Inti yang ingin disampaikan cuma satu: CINTA.
-----
Oya, makasih buat makan malam bareng-barengnya mbak-mbak, mas-mas di sarang revolutor sana. Pas hujan-hujan, malam-malam, perut lapar,  datang ayam goreng lagi. Kita jejer-jejer nasi dan bersantap bersama. Ga bakal kelupa :D Diskusi tentang teologi pembebasan dan logat kukuruyuk-nya belum selesai :D Kalian adalah guru-guruku.


Yogyakarta, 13 Desember 2013