Pada pembukaan diskusi, Geger memulai diskusinya dengan memperkenalkan diri. Ia adalah seorang antropolog yang sehari-sehari mengajar di Universitas Indonesia (UI). Di kampus, dia mengajar soal religi dan magi, atau topik-topik yang berkaitan dengan agama dan sihir, dan kajian antropologi tentang hal-hal gaib. Geger membuka dengan pertanyaan: ketika Antropologi mengkaji tentang klenik, sebenarnya apa yang dikaji? Geger menjawabnya dengan paparan slide PPT berjudul “Mengapa Antropologi Sibuk dengan Klenik?”
Ketika berbicara antropologi sehari-hari berkaitan dengan klenik, ada beberapa praktik yang umum kita temukan, seperti orang menyantet, fenomena dukun online, hingga tarot. Antropologi sendiri dekat dengan kajian yang gaib-gaib. Namun, jelas Geger, hal yang gaib-gaib tersebut tidak dikaji semata sebagai ilmu untuk memberi berkat maupun mencelakakan orang lain, tapi dalam sisi antropologi adalah berusaha mengkaji yang gaib sebagai kondisi kemanusiaan. Bahwa manusia mencoba untuk menjawab persoalan-persoalan di dalam hidupnya. Mereka berusaha untuk menjalani hidup, menavigasi lika-liku hidup, lalu menghadapi frustrasi, bahkan melalui hal gaib. Fenomena ini muncul dalam beberapa dorongan atau prinsip disiplin yang sudah dicetuskan oleh para pendahulu antropologi.
Antropolog Polandia bernama Bronislaw Malinowski mempertanyakan: Kenapa magi itu ada di seluruh kebudayaan dunia? Kenapa sihir ada di mana-mana? Kenapa santet ada di Afrika, tetapi juga sekaligus ada di Asia Tenggara? Jika ditarik dalam budaya Indonesia, semisal suanggi (hantu yang ada di banyak wilayah Indonesia Timur khususnya Maluku dan Papua), kenapa ada perbandingannya dengan fenomena serupa di Nigeria? Bahkan, kita tidak hanya membatasi pada negara-negara selatan atau bahasa pembangunannya negara berkembang, hantu juga banyak dibicarakan di negara-negara Utara, seperti Amerika, dan negara maju seperti Jepang. Manusia tidak bisa berhenti berbicara tentang hantu hanya karena teknologi atau perekonomian lebih maju. Magi juga tidak berhenti pada seseorang yang dianggap lebih rasional dan berilmu, bahkan di negara yang mengedepankan ilmu.
Dari hal ini, Geger mengajak untuk memulai pada sebuah premis: Sihir, magi, dan hal-hal gaib adalah universal, ada di mana-mana, ada di segala bentuk kebudayaan, ada di masyarakat di berbagai belahan dunia, bahkan ada pada orang-orang yang memahami ilmu pengetahuan. Geger mencontohkan salah seorang fisikawan bernama Niels Bohr yang memajang tapal kuda di rumah yang identik dengan keberuntungan. Ketika Bohr ditanya apakah dia percaya bahwa tapal kuda membawa keberuntungan? Bohr menjawab, dia tidak percaya dengan keberuntungan yang bisa dibawa oleh tapal kuda, tapi dia percaya dan tidak percaya bahwa tapal kuda itu mempunyai kekuatan untuknya.
Jawaban kontradiktif tersebut sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan selanjutnya, antropolog mencoba untuk menelusuri kondisi-kondisi kemanusiaan apa yang menyebabkan itu terjadi? Mengapa magi itu universal? Pertanyaan ini akan membawa kita untuk mencoba memahami kenapa magi ada di mana-mana.
TINJAUAN ANTROPOLOGIS
Geger menegaskan, antropologi tidak menganggap klenik sebagai kedunguan atau tahayul usang, melainkan sebagai indikasi nyata dari pergulatan dan pergumulan sosial di tengah masyarakat. Kita mencoba untuk menelusuri magi sebagai indikasi, representasi sesuatu yang lebih menandai dinamika kemanusiaan. Dasar dari magi dan praktiknya bisa disebut sebagai kondisi-kondisi kemanusiaan, yang di dalamnya terdapat pergumulan manusia. Karenanya, kata kunci selanjutnya untuk memahami hal ini adalah perlunya mengkaji magi secara empatik.
Klenik tampil sebagai upaya aktif manusia menghadapi dan memasukakalkan realitas dunia yang tidak pasti. Di mana ada ketidakpastian, di mana ada kondisi negatif yang dihadapi manusia, maka di sana ada klenik. Ia adalah bagian dari cara manusia menghadapi ketidakpastian.
Mengutip Rebecca L. Stein dan Philip L. Stein dalam buku The Anthropology of Religion, Magic, and Witchcraft menyampaikan, “Beberapa situasi berada di luar jangkauan penjelasan dan kendali sains serta teknologi. Tak peduli seberapa cermat dan tampilnya seorang petani dalam menjalankan tugasnya, hal-hal buruk tetap bisa dan memang terjadi. Hujan tak kunjung turun, atau serangan hama serangga menghancurkan tanamannya, ‘Mengapa ini terjadi padaku? Apa yang bisa kulakukan untuk mencegah hal-hal ini terjadi?’ Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat dijawab melalui penyelidikan ilmiah.”
Tidak peduli seberapa terampil seorang petani, akan ada ketidakpastian tentang kondisi tanah hingga serangga yang menghancurkan tanaman. Mengapa itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat seseorang berspekulasi dan mengembangkan imajinasi tentang magi. Makanya, dalam tradisi petani di Jawa Barat, untuk menangkal ketidakpastian tersebut, sebelum menanam padi akan dilakukan ritual. Termasuk juga sebagai doa agar hasil panennya melimpah. Meski hal ini tidak menjamin keberhasilan, karena akan selalu ada kemisteriusan, praktik magi digunakan untuk menavigasi ketidakpastian.
Antropolog Malinowski pada awal 1990-an juga mengkaji orang-orang Trobriand yang tinggal di Kepulauan Pasifik yang dianggap primitif dan terbelakang, tapi Malinowski menunjukkan bahwa masyarakat di sana maju. Mereka tahu musim, bisa memancing, tahu cara untuk mendapatkan ikan. Menariknya, Malinowski membandingkan dua cara orang Trobriand mendapatkan ikan, yakni di laguna dan laut. Ketika memancing di laguna (teluk), airnya lebih tenang dan tidak mengancam keselamatan. Masyarakat Trobriand tidak mempunyai ritual khusus untuk memancing. Sebaliknya, ketika memancing di laut yang jauh lebih berbahaya, luas, badai, hingga kemungkinan perahu bisa bocor dan tenggelam di tengah laut, masyarakat mempunyai ritualnya sendiri. Dari hal ini, Geger menegaskan: Magi adalah cara untuk mengintervensi dan menegaskan kontrol atas kehidupan yang tidak terkontrol.
Dalam penelitian yang dilakukan Geger di Maluku Tengah, di mana mata pencaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, mereka sangat jago memancing. Mereka mempunyai pengetahuan yang luar biasa tentang jenis-jenis ikan, cara menarik untuk membuat umpan yang efektif, tapi ketika berbicara tentang laut, maka menjadi tidak pasti. Mereka sering memancing hingga jarak 40-50 kilometer ke tengah laut. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan. Orang-orang di sana tidak berani untuk melaut ketika saat mereka membeli perahu baru, belum didoakan. Mereka menjalani ritual untuk keselamatan. Meskipun perahu baru itu bagus, kokoh, dan kelihatan canggih, mereka tidak berani memakainya dan lebih memilih menggunakan perahu lama yang sudah didoakan. Untuk mendoakan perahu, mereka perlu mengundang ustad dan orang-orang yang dianggap memiliki otoritas. Klenik dalam hal ini membantu untuk menavigasi dan mengarungi kehidupan.
Selain itu, salah satu profesi yang mempunyai ritual yang tak kalah absurd dan tidak sepenuhnya masuk akal adalah olahragawan. Mereka sering berada dalam kompetisi, di mana lengah sedikit akan kalah, kompetisi identik dengan ketidakpastian. Symbaluk and Honey (2009) dalam Introduction to Learning and Behaviour 3rd Edition menyampaikan, “Di bawah ancaman terus-menerus kehilangan posisi oleh pendatang baru yang ambisius, atlet profesional selalu mencari apa pun yang dapat meningkatkan performa mereka. Akibatnya, kejadian tidak biasa yang mendahului penampilan luar biasa (seperti menyenandungkan nada tertentu atau memakai pakaian unik) sengaja diulang dengan harapan dapat memproduksi performa tersebut.”
Ritual dalam sepak bola seperti dilakukan keeper seperti mencium gawang terlebih dahulu sebelum memulai permainan atau hal lain ritual lain yang tidak ada hubungannya dengan kondisi fisik mereka. Secara rasional memang kita tidak benar-benar memahaminya, tapi ketika kita mencoba berempati kepada mereka, mencoba duduk dan ada di posisi mereka—dan ini merupakan prinsip dari penelitian antropologi—maka hal itu menjadi masuk akal karena kondisi mereka tidak pasti. Mereka mencoba menenangkan diri, mengambil kontrol pada hal-hal yang tidak terkontrol.
Antropologi sebagai disiplin mencoba memahami kebudayaan yang berbeda, mencoba untuk berfokus pada konteks. Di dalam psikologi menekankan mekanisme yang muncul dari diri individu seperti tadi, akan mencoba melihat pola-pola yang berbeda dan membandingkannya pada setiap kebudayaan yang berbeda. Antropologi yang penting adalah konteks sosialnya. Semisal di Jawa, mereka memiliki cara yang berbeda untuk mengintervensi ketidakjelasan. Antropologi berusaha untuk melihat fenomena sosial yang terjadi. Bagaimana ia bisa terjadi di masyarakat dan menggambarkannya? Termasuk bagaimana latar belakang fenomena yang terjadi secara lebih komprehensif. Karenanya, antropologi sering dianggap ilmu yang terlalu lama dalam penelitian, karena berusaha untuk membuat konteks yang lebih menyeluruh, berbeda dengan psikologi lebih sering melakukan penelitian dengan menggunakan survei langsung dan mendapatkan sampel. “Pada akhirnya klinik itu menunjukkan kondisi kemanusiaan kondisi manusia berusaha untuk mengintervensi ketidakpastiannya,” katanya.
Malinowski menekankan, “Fungsi dari sihir/klenik adalah untuk meningkatkan keyakinannya pada kemenangan harapan atas rasa takut. Klenik mengekspresikan nilai yang lebih besar bagi manusia atas keyakinan di atas keraguan, keteguhan di atas keragu-raguan, dan optimisme di atas pesimisme.” Kata kuncinya adalah usaha manusia untuk menavigasi dan mengontrol hidup. Meskipun manusia masuk lewat ilmu pengetahuan, selalu akan ada dan banyak ruang yang tidak bisa dijelaskan.
Antropolog lain bernama Ernesto De Martino juga mengatakan, “Akar dari... segala bentuk sihir adalah hal negatif yang merajalela dalam hidup, yang membekaskan trauma, hambatan, frustrasi, dan keterbatasan, serta kerapuhan hal-hal positif.” Dalam kehidupan sehari-hari, praktik itu diwujudkan semisal bagaimana seorang ibu mendoakan anak ketika pergi agar tidak terjadi kecelakaan. Atau studi kasus yang ada di Lombok, bahkan ilmu pengetahuan dalam operasinya di kehidupan sehari-hari bisa mendapatkan status sebagai sihir. Salah seorang teman Geger bernama Rhino Ariefiansyah dalam penelitian “Petani dan Pengetahuan Perubahan Iklim”, Rhino melakukan meneliti di Lombok tahun 2015, terjadi perselisihan antara petani dan ketua adat terkait pengetahuan berkaitan dengan musim kemarau. Dari dua musim basah dan kering, mana yang lebih panjang?
Musim penting karena tembakau butuh dijemur lama. Ketika musim panasnya kering, petani biasanya untung, karena bisa dijemur dan dijual ke gudang pabrik rokok. Ketika musim kemaraunya basah, maka mereka akan rugi. Petani tembakau yang berselisih dengan ketua adat tersebut kemudian mengikuti workshop iklim. Dalam workshop diberikan pengetahuan untuk mengukur curah hujan, lalu membuat prediksi musim panas ini kering atau tidak. Sementara, ketua adat bilang agar tidak menanam, karena kemaraunya akan basah. Sebaliknya, petani yang ikut workshop dari data curah hujan yang dia punya meramalkan jika kemaraunya adalah kemarau kering. Masyarakat kemudian mengikuti petani yang mengikuti workshop, dan terbukti prediksinya lebih benar. Petani tersebut kemudian mendapatkan gelar yang cukup klenik dan gaib, yaitu jadi mangku hujan. Sihir dan ilmu pengetahuan saling bersanding untuk menawarkan bacaan tentang masa depan atau bacaan tentang hidup yang tidak pasti. Sementara, orang-orang berusaha menggunakan sihir sebagai cara mengintervensi dengan cara yang sebetulnya mirip dengan ilmu pengetahuan.
ORANG-ORANG AZANDE
Di studi kasus lain, antropolog Evans-Pritchard pernah mengkaji tentang perdukunan di antara orang-orang Azande di Afrika. Masyarakat Azande percaya, saat kemalangan terjadi, seperti bencana dan petaka yang mereka alami ke dukun. Bahkan sesederhana ada anak kecil yang tersandung tunggul kayu, orang di sana akan bilang hal itu gara-gara dukun. Kemudian, ada atap rumah yang tiba-tiba ronoh, ada yang tertimpa luka parah, juga dianggap gara-gara disantet. Padahal bisa jadi, anak tersandung kayu karena dia ceroboh, atap roboh karena banyak rayap. Mereka bisa menjelaskan itu secara rasional tetapi pertanyaan yang muncul berbeda, kenapa saya yang mesti terus mengalami? Kenapa orang dekat saya yang mengalami? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian direspons dengan pikiran-pikiran spekulatif klenik.
Penelitian Evans-Pritchard pada orang-orang Azande tersebut berkontribusi penting terhadap gagasan: selalu akan ada pertanyaan yang membayangi orang-orang yang terkenal malapetaka. Pertanyaan itu adalah kenapa saya? Kenapa saya adalah pertanyaan yang kemudian dijawab orang-orang dengan penjelasan-penjelasan yang bersifat klenik. Serta berusaha untuk diatasi melalui usaha-usaha yang menyentuh klenik. Ketika menempatkan pada posisi orang tersebut, juga terlihat bahwa hidup kita pun tidak pernah pasti. Selalu ada perasaan yang menggantung berkaitan dengan kenapa saya begini dan begitu, mengalami ini itu, kesialan ini itu. Di sini, “magi adalah ekspresi ketidakpastian dan usaha untuk menavigasi ketidakpastian itu.”
Geger juga menunjukkan salah satu skrinsut dari TikTok berkaitan dengan medium santet. Ada media santet di dekat rumah si pengguna TikTok, kemudian dia berasumsi agar netizen waspada terhadap orang-orang di sekitar. Karena ada orang-orang yang berusaha untuk menjelekkan kita. Berbicara santet secara universal lekat dengan menarik orang-orang dekat. Termasuk dalam kajian Evans-Pritchard, tetangga terdekat Anda adalah dukun santet. Sementara Clifford Geertzs juga menyebut, “Santet di Jawa cenderung dipraktikkan kepada tetangga, teman, kerabat, dan orang-orang dekat.”Ada pun menurut penelitian Rupert Stasch, “Suanggi Korowai merupakan kerabat sangat dekat dengan korbannya.” Di wilayah-wilayah lain, masih banyak lagi kajian-kajian antropologi yang memperlihatkan bahwa biasanya pelaku santet yang dituduh pertama adalah orang-orang dekat. Hal ini menunjukkan, bahkan orang-orang terdekat kita adalah simbol ketidakpastian. Kita tidak pernah bisa menebak isi hati orang. Ada suatu prasangka kita sakit karena tetangga atau sahabat kita. “Ketidakpastian itu selalu ada, bahkan orang yang kita anggap dekat. Orang yang kita anggap bisa kita pegang, juga selalu kita duga, dia punya kepentingan untuk mencelakakan kita. Ini adalah ekspresi ketidakpastian dalam hidup,” terang Geger.
ORANG-ORANG PRANCIS DALAM PENELITIAN FAVRET-SAADA
Ia beralih pada fenomena yang terjadi di Prancis (Bocage). Antropolog Prancis bernama Favret-Saada, di kawasan pertaniannya orang-orang percaya bahwa mereka yang percaya santet dianggap orang terbelakang, orang-orang Prancis lebih senang mengedepankan diri sebagai orang-orang yang mempunyai rasionalitas. Santet dianggap sebagai kultur orang-orang terbelakang yang ada di kampung-kampung. Orang-orang Prancis punya kecenderungan untuk tidak percaya. Namun, ketika orang-orang yang tidak percaya santet itu terkena sakit, mereka mulai berpikir jangan-jangan ini akibat santet. Kemudian mereka mulai pergi ke penyembuh (healer), narasumber Favret-Saada: “Saya tahu [bahwa sakit ini bukan karena santet]... tapi tetap saja...”
Lanjut Geger, kita selalu punya keraguan. Salah satu antropolog Finlandia pernah menggambarkan kehidupan manusia dan kenapa dia akan selalu kembali ke klenik. Manusia mempunyai keraguan yang tidak pernah bisa padam (restlessness of doubt). Satu hal yang pasti tentang hidup adalah ketidakpastian itu sendiri. Perasaan manusia akan ketidakpastian selalu berkecamuk. Meskipun ilmu pengetahuan menawarkan solusi terhadap persoalan praktis, selalu ada celah untuk berkembangnya hal-hal klenik. Makanya, dibutuhkan pendekatan yang empatik untuk memahami, pengetahuan dan teknologi tidak bisa menjamah persoalan di setiap lini kehidupan.
Contoh terkait penyembuhan, meskipun pengobatan modern efektif, tapi satu hal yang sering jarang disadari oleh orang-orang yang berusaha mengutuk pengobatan yang lebih holistik adalah layanan kesehatan profesional itu biasanya dibebani dengan pasien yang luar biasa membludak. Di kampung-kampung, semisal di Puskesmas kampung, dari pagi penuh dan akhirnya di hadapan kondisi seperti itu, bisanya orang-orang yang berhadapan dengan nakes memperlakukan pasien bukan sebagai manusia, tetapi sebagai persoalan yang harus segera selesai. Ini akan berelasi dengan pengalaman personal kita yang sering bertemu dengan nakes yang jutek, dokter yang tidak berusaha untuk menanyakan lebih jauh. Di sisi lain, dokter hanya punya waktu untuk menghadapi pasien selama lima menit, karena sudah menunggu pasien lainnya. Belum lagi dengan pembayaran BPJS yang kecil.
Persoalannya bukan hanya ilmu pengetahuan yang tidak menjawab, tetapi juga persoalan secara sosial, solusi pengobatan modern mempunyai keterbatasan. Belum lagi ketika kita berbicara tentang terapi yang disarankan oleh dokter, belum tentu itu efektif, dokter harus mencoba beberapa kali. Setelah berobat berkali-kali, belum tentu pasien akan sembuh. Kondisi medis bisa menjadi sangat tidak pasti. Ketika pasien ingin mendapatkan komunikasi yang intens dan simpatik dari dokter, sementara nakes kewalahan menghadapi pasien yang banyak, sementara rasa sakit tidak berhenti-henti. Apalagi manusia yang dibawa ke rumah sakit, akan membawa seseorang untuk mencari solusi-solusi lain. Semisal dia pergi ke orang sakti untuk menyembuhkan rasa sakit. Terutama ini juga banyak terjadi di desa-desa dukun putih. Kita sering melihat di Instagram/TikTok yang berusaha untuk memberikan terapi pengobatan yang ekstrem, yang kelihatannya juga konyol dan tahayul. Misalkan, dipukul-pukul anak, ini dipercaya akan menyembuhkan.
Geger melihat juga dan membuatnya cukup terganggu, ketika pergi ke kampung sangat banyak orang-orang yang kemudian berusaha untuk memberikan kesembuhan dengan cara yang agak ekstrem, cuma digosok-gosok, atau hanya dibacakan doa. Biasanya mereka ada tetangga atau kerabat dekat, yang bukan hanya memberi terapi penyembuhan yang sifatnya klenik, tapi juga kepada orang-orang yang datang juga memberikan sugesti-sugesti positif. Pendekatan ini tentu berbeda dengan nakes yang dihadapkan dengan pasien yang banyak, yang dia tidak kenal.
Sebaliknya, ketika berobat ke dukun kampung, biasanya dukun kampung masih merupakan kerabat dan masih sosok yang dikenal, yang bisa diajak ngobrol. Bagaimanapun, treatment ini memanusiakan orang. Geger berefleksi, sebagai antropolog juga seperti itu, paling tidak ketika melakukan penelitian, Geger perlu memahami kondisi kemanusiaan. Bahwa dalam pengobatan holistik, biasanya dukun adalah kerabat. Dukun itu akan berusaha untuk memahami dan memperlakukan yang datang sebagai manusia. Problemnya bukan hanya ilmu pengetahuan yang tidak sampai, tetapi terkadang kondisi sosial tidak memungkinkan model pengobatan yang proper bisa didistribusikan ke seluruh masyarakat, karena biaya yang mahal. Ini menjadikan klenik terus berkembang.
MASEAN’S MESSAGES DI BALI
Studi kasus lain yang ditunjukkan Geger adalah Masean 1965, Masean adalah salah satu banjar di Bali. Pada tahun 2015-2016 sempat ada penggalian kuburan yang berasal dari inisatif warga Banjar, Masean. Sampai dengan tahun 2015, masyarakat di sekitar merasa diganggu oleh makhluk gaib. Berdasarkan orang Bali istilahnya “buto kalah”, dan saking seringnya gangguan, orang di sana bunuh diri—menjadi kampung dengan tingkat bunuh diri paling tinggi di seluruh dunia. Kemudian orang-orang bertanya-tanya. Ada juga cerita-cerita, anak kecil yang sedang berjalan, tidak ada siapa-siapa tiba-tiba dilempar baju. Banyak juga insiden anak kecil yang jatuh.
Muncul berbagai pertanyaan, generasi muda mencari tahu ke generasi yang lebih tua, sebetulnya ada apa sih dengan kampung ini? Ternyata, di kampung ini pernah terjadi pembunuhan dari tahun 1965 sampai dengan 1967. Pada zaman itu, di Bali posisinya lebih parah dibandingkan berbagai tempat lain di Indonesia. Insidennya bisa disebut sebagai pembunuhan orang-orang yang dianggap berkaitan dengan PKI, berdasarkan filmnya, “Masean’s Messages”, beberapa orang di kampung kemudian dikumpulkan. Orang-orang di kampung saat itu diminta oleh pihak keamanan yang sedang membasmi PKI untuk membunuh saudaranya sendiri yang PKI. Hingga sampai hari ini, mereka masih membawa perasaan yang tidak terselesaikan. Perasaan tidak terselesaikan ini berkembang menjadi hantu yang hadir secara harfiyah dan tidak harfiyah di masyarakat.
Lalu, ada inisiatif untuk menyewa traktor, dari pendanaan masyarakat sendiri untuk membongkar jalan. Masyarakat berusaha untuk menghilangkan hal negatif yang lekat dengan trauma politik di masa lalu. Hal-hal negatif dalam hidup bukan hanya terkait dengan usaha manusia mengintervensi rasa sakit, atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tapi juga terkait trauma politik masa lalu yang tidak pernah terselesaikan. Fenomena ini sangat manusiawi, karena ketika seseorang membawa sesuatu yang tidak selesai, dia akan selalu merasa dihantui. Hantu itu akan mewujud dalam imajinasi dan realitas yang berkembang di masyarakat. Hal itu mewujud menjadi hantu yang real.
HUTAN ADAT SEI TOBUN DAN PABRIK KAYU JOKOWI
Studi kasus lainnya terjadi di Sei Tobun, Kalimantan Tengah, tentang kembalinya roh leluhur. Alkisah, pada tahun 2016, Jokowi datang untuk memperkenalkan pohon sengon ke orang-orang di Sei Tobun. Sengon sendiri bukan pohon native masyarakat di sana, tapi mereka diminta menanam dengan kepentingan di sana akan dibangun pabrik kayu lapis. Pohon-pohon sengon yang ditanam tersebut bisa jadi tabungan keluarga pria Solo tersebut. Jokowi meresmikan pabriknya pada akhir 2016. Namun, pada tahun 2019, pohon sengon warga ludes karena kebakaran lahan. Pabrik kemudian sering menggunakan kayu meranti dari hutan.
Kita bisa menduga, jangan-jangan pabrik dibangun untuk mendapatkan persetujuan sosial saja dari warga. Agar warga mengizinkan pabrik masuk ke wilayah mereka. Yang terjadi, warga bukannya untung, tetapi malah buntung. Akhirnya, pabrik menutup akses jalan tani. Jalan tani milik warga ini diambil oleh pabrik. Ketua adat di sana kemudian melakukan ritual “hinting pali” (menandai hutan sebagai wilayah roh yang tidak boleh diakses). Hutan tersebut ditandai sebagai wilayah roh yang tidak boleh diakses. Selanjutnya yang terjadi, pabrik tersebut diganggu oleh kecelakaan kerja, ada penampakan, dan masalah kesurupan massal yang tidak selesai-selesai. Pabrik akhirnya melakukan ritual adat untuk menenangkan roh-roh.
Fenomena ini bukan hanya berbicara bahwa orang-orang Sei Tobun dari awal cuma percaya dengan klenik. Sebab yang sebenarnya terjadi, ketika Jokowi datang, sebagian warga antusias karena mereka berharap akan punya tabungan dengan sengon. Mereka bisa mengkuliahkan anaknya, karena mereka sudah tidak bisa mengharapkan pertanian lagi. Orang-orang dilarang untuk membuka lahan dengan cara dibakar. Mereka perlu uang kas dan mengelola tanaman komoditas. Mereka juga berharap kampungnya akan dibangun jalan, sekolah, hingga akses kehidupan, sehingga mereka senang dengan pabrik kayu lapis tersebut. Namun, begitu pabrik dianggap membawa hal-hal negatif ke masyarakat, roh leluhur kemudian kembali.
Ketika kecelakaan terjadi di pabrik, kemudian dianggap karena roh leluhur tidak suka dengan mereka. Pabrik memperlakukan bentang alam dan roh-roh penghuni sebagai subordinat. Padahal selama ini, hubungan di antara manusia, roh, bentang alam, bersifat resiprokal. Pembukaan hutan dan penebangan pohon yang dilakukan tanpa izin menyebabkan roh-roh jadi haus darah. Berbagai insiden yang terjadi di pabrik karena roh menuntut keadilan. Warga kemudian melakukan pemalangan adat dan berusaha untuk dan ‘apel’ pada kekuatan gaib.
KESIMPULAN
Ini menunjukkan bahwa klenik/hal gaib walaupun hidup di era modern, akan selalu ada kontradiksi yang tidak pernah bisa untuk diselesaikan. Akan ada hal negatif yang akan selalu ada di kehidupan kita. Justru, Geger berasumsi, semakin modern kita, semakin banyak persoalan yang akhirnya modernitas bukan hanya menghilangkan klenik, tapi justru sisi-sisi lain yang mengakselerasi klenik. Karena di masa depan justru semakin banyak ketidakpastian yang terjadi. Kepercayaan klenik adalah sebuah respons. Klenik hadir bukan hanya sebagai ekspresi bahwa orang yang melakukannya terbelakang, tapi dia adalah ekspresi kemanusiaan yang menandai di balik hal tersebut ada “hal lain”. Hal lain ini adalah usaha manusia untuk menghadapi ketidakpastian dalam hidupnya. Klenik adalah kondisi kemanusiaan. Kondisi bahwa manusia selalu dihadapkan dengan ketidakpastian dan berusaha untuk mengintervensi hal itu. Manusia berusaha untuk menavigasi kehidupan, karena semampu-mampunya kita mengendalikan kehidupan, pasti akan ada celah-celah. Ketika ada celah itu, celah itu kemudian bisa diisi oleh hal-hal yang sifatnya klenik.
.png)
.png)

.png)
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar