Selasa, 19 Agustus 2025

Festival Koperasi Perumahan 2025

Pada Minggu, 16 Agustus 2025 lalu, aku ikut Festival Koperasi Perumahan di Kampung Akuarium Jakarta. Festival ini bertema "Rumah Bukan Impian". Kegiatan ini merupakan festival koperasi perumahan Indonesia pertama. Rangkaian acara terdiri dari: diskusi publik, deklarasi koperasi perumahan, workshop, bazar, pameran, dan stand up comedy

Aku sebenarnya lebih terlibat di agenda Klub Baca Koperasi Perumahan yang juga rangkaian acara ini, tapi festival ini jadi acara puncaknya. Nah, waktu itu ada beberapa pembicara yang hadir, termasuk Elisa Sutanudjaja (RCUS), dan teman-teman dari Locoa Thailand. Aku gak nyatet nama-nama mereka secara detail, tapi festival ini dihadiri oleh banyak warga negara dunia, yang benar-benar menggambarkan semangat lagu "Internasionale". Ada tiga bahasa yang digunakan bersamaan: bahasa Indonesia, Inggris, dan Thailand (ada juga orang-orang India yang ikut). Begini yang kira-kira yang berhasil kutangkap:

Pembicara Thailand:

Mereka bentuk kolektif untuk advokasi rumah-rumah di pinggiran rel kerta api. Cara membentuk kelompok melalui kelompok gabungan, sebagai modal awal membangun. Kerjanya perlahan dari pengurus. Proses kerja dari perumahan kolektif. Ini bisa terjadi karena ada preseden sebelumnya, ada kebijakan sebelumnya. Banyak hal serupa yang terjadi di daerah lain. Seiring bertumbuhnya kota, pemerintah berpikiran apa yang perlu dilakukan, khususnya pada mereka yang membutuhkan rumah.

Eni (Pengurus Koperasi Kampung Marlina):

Kampung Marlina adalah kampung padat penduduk yang diapit dua pelabuhan. Sebelum membentuk koperasi, secara RDTR, sebenarnya daerah itu bukan untuk kampung. Mayoritas penduduknya nelayan, dia jadi bagian yang mendukung ekonomi di pesisir. 2020, bikin koperasi kampung kolaborasi dengan Pemda, anggota koperasi mencapai 200 KK. Kegiatan koperasi seperti membuat jamu, pembuatan makanan, pembuatan pupuk biogas, dll. Terkait pembiayaan (penataan/perbaikan rumah), berkolaborasi dengan toko material bangunan dan konstruksi (jadi tak menerima uang). 

Koperasi Marlina juga tengah membentuk kelompok kecil terdiri dari 10-15 orang untuk kesuksesan program reforma agraria, untuk izin tanah. Juga, untuk menciptakan pemimpin baru di generasi sekarang. Di sana juga ada kegiatan simpan-pinjam. Tiap anggota tiap pertemuan wajib bawa 15 ribu, 10 ribu untuk tabungan dan 5 ribu simpanan wajib koperasi. Dari 5 ribu dibagi tiga bagian: dikelola kelompok (2.000), koperasi kampung (1.500), koperasi induk/santunan kematian (1.500). Kelompok seperti itu adalah bukti pengorganisasian, kampung bisa membangun dengan mandiri. Orang kampung juga harus kaya, kritis, dan cerdas untuk mengubah kebijakan. 

Indri Luyiani (Ketua Koperasi Kampung Susun Kunir): 

Kampung Kunir ini bagian dari wilayah Kota Tua, yang dekat dengan Museum Fatahillah. Kampung ini berdiri tahun 1979, ada enam keluarga. Tahun 2010 dapat penghargaan atas usaha penghijauan. Tapi mengalami penggusuran pada tahun 2015, dan tak mendapatkan surat penggusuran. Tahun 2017, mereka berdiskusi dengan JMRK, kemudian melakukan lobi dengan Pemda, dan kandidat calon gubernur Anies Baswedan. 2018, mereka melakukan pemetaan kampung pra-penggusuran. Juga pembangunan shelter. 2019, mereka mendirikan Koperasi Kampung Susun Kunir. 

Sebelumnya, dilakukan workshop dengan arsitek dan warga. 2021, melakukan proses pencanangan kampung susun. 2022, kampung didirikan kembali bersama dengan dukungan Gubernur Anies. Sekaligus di tahun yang sama peresmian kampung susun. 2024, mereka mendapatkan penghargaan dari IAI terkait public housing.  

Setelah kampung berdiri, ada pemanfaatan dan pengelolaan bangunan. Mereka membayar 285 ribu tiap bulan untuk pembayaran iuran koperasi untuk biaya cadangan, iuran wajib, dan tabungan. Juga ada koperasi kelompok yang terdiri dari dua kelompok. Ada iuran wajib untuk pertemuan. Juga ada usaha menjual beras, membeli dari petani Indramayu. Selain itu juga ada simpan pinjam, perparkiran, sembako, dan usaha di ruang terbuka. 

Kesimpulan Kamil (Moderator): Ada satu benang merah, koperasi sebagai alat advokasi untuk pemukiman. Pemukiman yang berbasis koperasi bertitik tekan pada komunitas. Ini setali tiga uang dengan apa yang terjadi di Thailand, warga di tepi kereta agar tak tergusur.

Ada juga stand up comedy dari Dodok Jogja. Setelah itu, aku ikut worhshop "Pembiayaan Koperasi". Berikut kira-kira beberapa materi dari workshop di festival ini:

Presentasi-presentasi workshop dari kelompok lain di rapat pleno:

Aku belajar banyak, terima kasih orang-orang keren dan baik. :)

Rabu, 13 Agustus 2025

Catatan Film "Bo Burnham: Inside" (2021)

Perkenalanku dengan Bo Burnham cukup unik. Terlebih usai mendengarkan lagunya “Lower Your Expectations” di YouTube. Lagu itu memang komedi, tapi menyimpan satir dan kritik keras terhadap kebudayaan populer yang kita jalani sekarang. Dia mengkritik jika obsesi untuk mendapatkan pasangan sempurna hanya hidup di dalam kepala. Bahkan prince/princess charming sampai kapan pun susah datang di hidupmu yang nyata. Mendengarkan lagu itu, aku serasa tertawa, senang, sedih, dan merasa tragis secara bersamaan. Barangkali, itu salah satu kualitas seniman yang baik, saat karyanya tidak hanya dirasakan dalam satu tone emosi saja.

Dia punya nama asli Robert Pickering “Bo” Burnham kelahiran Massachusetts, AS, 21 Agustus 1990. Umurnya cuma beda 2,5 tahun denganku, karenanya aku merasa seumuran. Di “Bo Burnham Inside”, film indie-nya indie ini, semua dikerjakan oleh Bo Burnham sendiri, dari aktor, skenario, musik, editor, dia serba bisa. Keterampilannya sudah di level palu gada. Bahkan laman No Film School menyebut garapan Bo ini sebagai mode produksi film yang menyimpang dari umum dan bisa mengajarimu banyak hal.

Film “Bo Burnham Inside” dibuat selama masa lockdown pandemi Covid-19 lalu. It’s a weird thing that we've passed the pandemic, though. Bo mendalami dirinya sendiri dengan membangun studio dadakan dari kamarnya. Dia memanfaatkan berbagai alat shooting dengan budget serendah-rendahnya lewat kamera, hape, proyektor, dan laptop yang dimilikinya. Alat-alatnya bisa dibeli dengan harga di bawah 1.000 dollar. Seperti kamera yang digunakannya dengan tipe Panasonic LUMIX 50mm f1.8 yang saat aku menulis ini berharga sekitar 8 juta.

Dia lalu menyelami diri sendiri dengan mendalam, mengomentari isu-isu terkini yang melibatkan opresi dan kekuasaan, serta emosi pribadinya soal keluarga, pasangan, sahabat, mimpi, ambisi, budaya internet, stres karena pekerjaan, dan transisi umur menuju 30 tahun. Film ini juga masuk dalam daftar film terbaik 2011 versi Indiewire. Dia mengolah berbagai isu dengan rasa tidak percaya diri akan konten yang disajikan, bisa jadi konten ini diterima, tapi dia juga tak masalah jika harus ditolak. Berikutnya, alur demi alur film ini lebih mirip dengan live performance music yang disajikan Bo di dalam kamarnya.

Aku melewati transisi umur 30 tahun dengan buruk. Di moment Bo berbicara terkait peralihan umur ini, aku seperti berhubungan sekali. Bo sempat bilang untuk merencanakan bunuh diri, meskipun gagasan ini lalu ditolaknya sendiri. Bo sangat jujur dengan perasaannya, segala makian khas Amerika dia keluarkan untuk mengungkap kejengkelannya, dan ini dikerjakan selama pandemi yang berlangsung lebih dari setahun.

Beberapa bahasan yang menarik menurutku:

Pertama, “White Woman’s Instagram”. Bo seolah sinis dengan postingan artsy yang diunggah di Instagram. Dia mencoba menciptakan parodi akan unggahan-unggahan artsy tersebut. Warna-warna monokrom dan candy-colored jadi sesuatu yang manis untuk dilihat, tapi di sisi yang sama mengundang olok-olok akan kesempurnaan.

Kedua, “Welcome to the Internet”. Ini terlalu banyak isunya, dan bahkan bisa dibedah dengan tulisan sendiri. Dia mengeksplorasi tema-tema terkait performitasnya di internet, bagaimana audiens menanggapi, dan kaitannya ke gerakan sosial.

Welcome to the internetPut your cares asideHere's a tip for straining pastaHere's a nine-year-old who diedWe got movies, and doctors, and fantasy sportsAnd a bunch of colored pencil drawingsOf all the different characters in Harry Potter fucking each other Welcome to the internet

Ketiga, “Sexting”. Lirik-liriknya memang witty karena melibatkan metafora ikon-ikon yang sering kita gunakan di WhatsApp seperti terong, shower, pear, dll. Namun, Bo masih punya sisi lucunya sendiri menjalani obrolan yang lebih memperdalam kesepian itu. Apalagi kondisi ini disadari setelah bangun.

Keempat “Problematic”. Terkait kegelisahan hidupnya sendiri yang direnunginya secara muram. Ada pula adegan Bo menangis yang tak bisa kuartikan dengan jalan, meski rasa pahitnya sampai. 

Kelima, saat Bo mengekspresikan dirinya lewat perbincangan dengan kaos kaki. Haha, entahlah, itu lucu dan menghibur. 

Diksi “inside” yang digunakan Bo sendiri menurutku karya yang unik. Bahkan Bo membuat peta konsep di papan dengan tulisan yang rapi, bersamaan dengan teori-teori yang cukup berat jika kamu mempelajarinya di sekolah. Kekalutan yang Bo rasakan spesifik, dia sedang tak berusaha untuk memenuhi ekspektasi penontonnya. Banyak teknik yang dia gunakan, dari menyampaikan komedi secara stand up, menertawakan diri sendiri, membicarakan dirinya sendiri di sebuah acara TV, atau menjadikan dirinya sendiri serupa games yang dikendalikan dengan remot.

Atau film ini diakhiri dengan ajakan untuk jangan bunuh diri, seberat apa pun masalah yang kau hadapi. Bo memang sempat ingin bunuh diri, tapi dia tak melakukannya. Sebab, ketika dia mengetahui ada temannya yang bunuh diri, dia juga ikut sedih. Sekalipun hidupnya kesepian, meskipun teman-temannya yang bodoh melahirkan anak-anak yang bodoh, hidup ini masih menarik untuk dijalani.

Judul: Bo Burnham: Inside | Penulis skenario: Bu Burnham | Aktor: Bo Burnham | Sinematografi: Bo Burnham | Editor: Bo Burnham | Musik: Bo Burnham | Rilis: 30 Mei 2021 | Durasi: 87 menit

Selasa, 12 Agustus 2025

Catatan Film "Once Upon a Time in Anatolia" (2011)

Minat menonton film ini dimulai sekitar tahun 2021. Kala itu, aku mewawancarai vokalis band Jalan Pulang, Irfan R. Darajat, untuk tugas kelas urbanis yang diadakan oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS). Mas Irfan bilang saat itu, kurang lebih begini, “Jika mood ku serupa film, barangkali akan mirip dengan ‘Once Upon a Time in Anatolia’. Itu film dengan nuansa yang dingin, sendu, dan kelam.” Ucapan ini cukup memberiku gema panjang dan rasa ingin tahu yang lebih. Pertanyaan awal yang kuajukan, seperti apakah ceritanya? Tentu untuk mengetahui ini, aku harus mencarinya sendiri.

Empat tahun kemudian, tepatnya di bulan Agustus 2025 ini, aku memutuskan untuk menontonnya. Ada perasaan senang ketika akan menonton film ini, rasanya seperti bertemu dengan sahabat lama. Aku juga membaca terkait sepak terjang sutradara Turki, Nuri Bilge Ceylan. Esai tentangnya dalam bahasa Indonesia memang belum banyak tersedia, yang pasti, film-film beliau sering membahas terkait bab-bab universal tentang kesepian, isolasi, hubungan antar manusia, kekecewaan, dan pencarian makna hidup. Ini bisa kau temukan di film dengan judul “Winter Sleep”, “About Dry Grasses”, “The Small Town”, dan “The WIld Pear Tree”—sekilas membaca judulnya sudah puitis.

Ceylan mempunyai gaya sinematografi yang khas dengan penguasaan teknik kamera di lanskap yang luas. Pengambilan gambar yang dia lakukan menggunakan mode lambat. Tentu, yang paling kusuka, penggunaan dialog yang minimal. Di film tentang Anatolia ini pun, banyak aspek introvert yang kutemui, bukan hanya tokohnya, tapi juga pengambilan latar, penggambaran suasana, dan soundscape yang diperdengarkan pada penonton. Semua elemen ini melahirkan atmosfer untuk perenungan yang dalam. Penonton tak dicekoki oleh dialog, tapi oleh suasana itu sendiri. Ini benar-benar mirip dengan kehidupan nyata. Tak khayal dengan semua nilai lebih film ini, dia diganjar penghargaan Grand Prix di Cannes Film Festival (2011).

Film-film garapan Ceylan juga mengandung kritik sosial khas khususnya bagi masyarakat Turki. Beberapa produknya aku yakin punya relevansi bagi dinamika sosial-politik Indonesia. Bisa juga jembatan budaya atau setidaknya cermin bagi masyarakat Indonesia yang lebih punya kecenderungan untuk hidup lebih berisik. Keahliannya sebagai sineas dalam menggambar stagnasi pedesaan dan anomali kota punya cara pandang uniknya sendiri dalam memaknai keduanya.

Tempo lambat yang digunakan Ceylan terkadang juga disandingkan dengan karya-karya lain dari sutradara Andrei Arsenyevich Tarkovsky dan Ernst Ingmar Bergman. Judul film Anatolia ini juga disandingkan dengan film garapan Sergio Leone berjudul “Once Upon a Time in the West”. Dari segi penulisan, sepanjang literatur yang pernah kubaca, nama-nama seperti Checkhov dan Tolstoy sering disebut untuk menggambarkan sistem penceritaan kejiwaan yang gelap seperti ini.

Titik tekan yang aku dalami ketika menonton “Once Upon a Time in Anatolia” adalah tentang karakter. Salah satu kejeniusan Ceylan adalah bagaimana dia bisa melampaui yang terlihat. Bahkan, sepotong apel yang jatuh dari pohon kemudian bergulir melewati sungai pun jadi materi yang apik di tangannya. Dia mengakui ada moment-moment tak terlirik seperti itu yang patut dimasukkan ke kamera. Teknik long coda digunakan untuk menunjukkan bagian yang terasa lebih panjang daripada seharusnya. Teknik ini disengaja untuk memberikan penekanan pada pesan yang ingin disampaikan—meski juga bisa jatuh pada kekurangan jika ditampilkan dalam konteks yang tidak perlu.

Bir Zamanlar Anadolu’da

Film “One Upon a Time in Anatolia” dibuat berdasarkan pengalaman nyata yang dialami oleh Ceylan terkait sekelompok orang yang sedang mencari mayat korban pembunuhan di padang rumput luas dan kering di Anatolia. Film ini mengambil latar di sebuah pedesaan bernama Keskin. Konflik utamanya adalah pembunuhan yang dilakukan pada korban bernama Yasar Toprak oleh pembunuhnya Kenan. Kenan dalam pembunuhan itu dibantu oleh saudara laki-lakinya yang tambun dan punya keterbelakangan mental.

Pembunuhan itu dilakukan Kenan dalam kondisi mabuk. Jenazah Yasar dikubur di sebuah padang kering di Anatolia dengan tempat yang tak bisa Kenan ingat dengan tepat. Dia hanya mengingat jenazah itu dikuburkan di dekat mata air dan ada pohon di sekitarnya, tapi sebagaimana kita tahu, berhamburan tempat seperti itu di Anatolia. Kondisi ini memusingkan para pihak yang punya otoritas untuk menyelidiki persoalan. Otoritas itu terdiri dari: Dokter Cemal, jaksa bernama Nusret, Komisaris Polisi bernama Naci, polisi Izzet, tukang gali Abidin, sopir bernama Arap, hingga ahli otopsi Sakir.

Suasana film dibangun pada malam hari. Kita akan disuguhi oleh pemandangan gelap jalanan yang sepi di Anatolia. Di tengah pencarian itu, masing-masing karakter mulai membuka diri. Paling ikonik adalah cerita yang diungkapkan oleh Nusret, yang bercerita kepada Cemal tentang kematian seorang perempuan yang meninggal secara misterius setelah dia melahirkan. Perempuan itu juga meninggal tepat di hari yang dia ramalkan sendiri. Nusret bilang jika perempuan itu meninggal karena serangan jantung, tetapi Cemal skeptis. Di dalam ilmu kedokteran, tidak ada kematian tiba-tiba, apalagi sesuai dengan yang diramalkannya sendiri, pasti ada sebab. Cemal berasumsi jika perempuan itu memang memilih untuk bunuh diri karena ada masalah dengan orang-orang dekatnya, bisa suami atau keluarganya. Bunuh diri bisa menggunakan obat jantung berdosis tinggi.

Nusret mendengar ini langsung berubah muram wajahnya. Di akhir film, kita mendapat plot twist jika sebenarnya perempuan ini adalah istri Nusret yang sangat cantik dan meninggal setelah melahirkan anaknya. Kesalahan Nusret yaitu melakukan perselingkuhan dengan perempuan lain. Awalnya, mereka bertengkar, istrinya berpura-pura untuk memaafkan meskipun aslinya belum, malah istrinya tak hanya mengandung anak, tapi juga mengandung dendam. Ketika hamil, dia bersumpah pada suaminya akan meninggal usai melahirkan. Nusret kemudian berkata, bagaimana bunuh diri dipakai seseorang untuk menghukum orang yang masih hidup. Nusret menangis ketika menyadari kenyataan pahit ini.

Pemandangan yang berulang disajikan dan menyulitkan pencarian mayat Yasar, hingga pihak otoritas itu merasa perlu harus bermalam dulu karena cuaca yang semakin memburuk dan bensin sudah mau habis. Setelah perdebatan, akhirnya mereka menginap di rumah Walikota setempat bernama Muhtar. Walikota memiliki anak perempuan dewasa cantik bernama Cemile. Perempuan ini datang saat desa yang rata-rata dihuni oleh lansia itu mati lampu. Cemile membawakan teh untuk dibagi ke para tamu. Ketika Kenan melihat Cemile, dia menangis. Di rumah Muhtar, banyak obrolan penting dibicarakan, dari soal tempat penguburan yang tak layak dan wilayah di bawah kuasanya yang kurang tersentuh perhatian pemerintah atau otoritas setempat.

Saat Kenan ingin merokok, komisaris polisi Naci melarang Cemal memberikan rokok pada Kenan. Menurut Naci, tak ada yang gratis di dunia ini, semua harus didapat melalui usaha. Namun, ketika dia mengetahui hubungan Yasar dan Kenan, dia jadi melunak dan memberikan rokok ke Kenan sendiri. Perubahan karakter Naci ini bagiku menarik. Aku jujur kurang begitu memahami hubungan antara Yasar, Kenan, dan anak Yasar bernama Adem. Adem melempari Kenan dengan batu setelah tahu jika yang membunuh ayahnya adalah Kenan. Tapi juga dikatakan jika Adem itu anak Kenan, sehingga Yasar dan Kenan terlibat perkelahian berdarah tersebut. Mereka bertengkar soal siapa sebenarnya ayah biologis Adem.

Jenazah Yasar baru ditemukan ketiga pagi hari. Tempat Kejadian Perkara (TPK) berada di perbatasan dua wilayah, sampai si tentara kebingungan memutuskan wilayah mana, lalu Nusret dengan keputusannya yang sepihak memberikan pilihan tempat yang harus ditulis, yaitu perbatasan. Mayat Yasar pun digotong dengan selimut yang tersisa karena petugas forensik tak membawa tas jenazah. Tak hanya itu, mayat Yasar juga ditekuk karena mobil mereka tak muat.

Sementara, kepribadian Dokter Cemal sendiri cenderung misterius. Dia tipe dokter serius yang cerdas, terlihat bertanggungjawab, tapi entah kenapa, ketika melakukan otopsi dia berbohong. Dia mengatakan jika dada Yasar tak ditemukan ada kejanggalan, padahal ada kotoran tanah yang mengendap di sana. Ini sebagai tanda jika bisa jadi Yasar dikubur hidup-hidup sambil kehabisan nafas. Aku tak tahu benar apa alasannya.

Darah Yasar sempat muncrat di wajah Cemal atas kebohongan itu. Dugaan sementara, dia berbohong karena ingin melindungi dirinya sendiri dan menghindari masalah yang lebih besar. Apalagi peralatan otopsi yang digunakan Sakir sangat tidak memadai. Sebab, hasil otopsi yang tidak sesuai dengan temuan lapangan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar keahlian dan profesionalisme Cemal. Dia juga mencegah konflik besar terjadi, dan mencoba untuk menyederhanakan masalah sehingga kasusnya cepat selesai. Ada konsekuensi negatif yang dia pertaruhkan.

Dari film ini aku juga baru mengetahui terkait metode otopsi itu ternyata membuka bagian tubuh mayat, membedahnya, dan melaporkannya. Aku tak bisa membayangkan betapa ngerinya tindakan ini. Memang tindakan ini semacam melanggar kehormatan mayat. Tiba-tiba aku teringat dengan kasus di Indonesia terkait kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang jadi perbincangan di Indonesia. Keluarga tak mau mayatnya diotopsi, dan aku juga ada dugaan, meskipun dilakukan otopsi, bisa jadi hasilnya juga dimanipulasi sebagaimana yang dilakukan Dokter Cemal.

Refleksi yang kupikirkan setelah menonton film ini, tak ada tensi yang berarti di dalamnya. Seolah alurnya seperti flat, seperti kehidupanmu sehari-hari di hari biasa. Nilai penting dalam film terletak di pengungkapan kepribadian para tokoh dan obrolan mereka. Di sepanjang percakapan, kau akan menemukan tema-tema keseharian yang diobrolkan seputar Yoghurt, pekerjaan, daging kambing, resep obat, anak-anak, penyakit yang diidap orangtua, hingga istri yang menelepon. Untuk kamu yang suka kejutan, film ini tak cocok ditonton.  

Refleksi berikutnya, kebenaran selalu bisa dimanipulasi bahkan oleh mereka yang punya otoritas dan kita anggap sebagai pihak profesional. Makin kesini jujur aku skeptis dengan hasil apa pun yang tak sesuai dengan akal sehat dan nurani, sekalipun itu dikatakan oleh orang yang punya banyak titel dan diakui namanya di lembaga-lembaga besar. Sudah banyak hal seperti ini terjadi, dan korban akan selalu dirugikan. “Once Upon a Time in Anatolia” tentu dengan baik telah memotret kejahatan ini.

Judul: Once Upon a Time in Anatolia | Sutradara: Nuri Bilge Ceylan | Negara: Turki, Bosnia – Herzegovina | Durasi: 157 menit | Tahun rilis: 2011 | Produksi: Zeyno Film | Penulis skenario: Nuri Bilge Ceylan, Ercan Kesal, Ebru Ceylan | Pemain: Muhammet Uzuner, Taner Bisrel, Yılmaz ErdoÄŸan

Senin, 11 Agustus 2025

Dewan Perwakilan Rony Parulian

Hari Kamis sampai Sabtu lalu aku ke Bali. Aku ditugaskan tiga hari untuk liputan kerja di sana. Bersyukur, setelah musibah besar yang kualami tanggal 29 Juli 2025 pukul 14.05 WIB lalu, Tuhan masih memberiku hidup yang baik-baik saja. Aku tahu pelakunya orang-orang terdekat yang masih dalam satu sirkel. I will delete you forever in my life. You have broken the really important of me beyond the money, and it is trust. You stole my trust. Dalam banyak hal, aku masih beruntung, dan skill yang sangat kusyukuri adalah karakterku yang mudah bangkit. Setelah kejadian itu, aku ingin tumbuh seperti burung Phoenix. 

Oh iya, seperti sudah kubilang di postingan sebelumnya, "What I Talk About When I Talk About Rony", semangat hidupku di sisi musik kembali menemukan pijarnya lagi semenjak mengenal Rony Parulian. No, dia bukan musikus ndakik-ndakik anak-anak skena indie yang berat itu. Akhir-akhir ini aku benar-benar sinis dengan pelabelan indae-indie, untuk menjatuhkan mereka yang dianggap berselera mayoritas, dan karena mayoritas, mereka dianggap jelek dan rendah. Sempit sekali otaknya.

Kembali ke Rony, dia cuma mas-mas Batak coming of age jebolan Indonesian Idol juara tiga yang pas kecil karier musiknya sempat ditolak di ajang Idola Cilik. Aku menganggapnya sudah seperti adikku sendiri. Adikku di universe lain yang baik. Kalau aku hidup di semesta film "Sore", ketika aku mati-hidup berkali-kali, di samping hal-hal penting seputar jodoh, di pinggirannya, pasti juga aku ada di moment akan ketemu dan mendengarkan lagu-lagu Rony Parulian. 

Aku berharap dia jadi musikus yang bisa jadi teladan di sepanjang kariernya sampai tua nanti, itu saja. Dia masih sangat muda dan perjalannya masih sangat panjang. Sekali lagi kuberdoa, dia bisa jadi role model buat We Are One (WeR1 gank) se-Indonesia. Ujian-ujian hidup akan menerpanya, tapi aku percaya dia perwujudan gembala Tuhan yang baik.

(Sumber Foto: Kompas/Zahira Ayuningtias Yudevi)
Mau bilang ke Rony juga, "Lu mesti pede Ron, lu gak cuma layak bisa di Java Jazz Festival, lu layak tampil di panggung mana pun yang lu sukai dan buat lu nyaman. Sebar energi positif lu di mana pun, Ron." Dan sebagai kakak kamu di semesta lain, aku akan selalu berdoa semoga Tuhan selalu melindungimu. 

Eh, aku mau cerita soal pengalaman take off di Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara I Gusti Ngurah Rai lalu. Saat pesawat mau terbang, aku pasang headset yang kusambungkan di hape versi airplane mode dan mendengarkan lagu Rony Parulian yang judulnya "Dengarlah Cinta". Di bagian lirik berikut entah tiba-tiba saja makna literalnya aku dapat banget: "Dengarlah cinta / kubawa mimpi ini / terbang bersamamu / Melayang melintasi / arungi segala perbedaan / antara kita..." Aku seperti ada di kondisi trance, kondisi spiritual serupa meditasi ketika aku bisa fokus merasakan lirik ini secara mendalam. Lalu disusul lirik sempurnya untuk take off  di antara matahari pagi di tengah awan-awan, "Bila surya pun tenggelam / tapi tidak sinamu / tidak sinar-Mu...." Gokil sih ini Ron, gokil!

Kalau Tuhan memberiku waktu sejam atau 30 menit sama kamu, Ron; aku akan ajak kamu nge-ice cream di Massimo, Sanur, Bali. Terus jalan-jalan di sekitaran Pantai Sanur dekat Prama. Aku akan dengerin semua cerita kamu tentang apa pun Ron. Terus aku akan ajak kamu dengerin lagu "Kuta Bali"-nya Andre Hehanussa--agak nggak nyambung, tapi gak papa, mungkin suatu waktu kamu akan buat lagu tentang Sanur. Telingaku selalu siap untukmu, karena aku kakakmu yang baik (anjay).

Konser BTV Semesta Berpesta Jakarta 2025 

Rony! Kita ketemu lagi. Tepatnya di acara BTV Semesta Berpesta di Parkir Timur Senayan GBK, Minggu, 10 Agustus 2025. Sebagai anggota DPR (Dewan Perwakilan Ronyparulian), dari faksi WeR1 Jabodetabek, tentu melihat bos genk tampil sangat senang. Sore itu aku datang ke acara BTV Senesta Berpesta pada sore hari habis solat Ashar. Awalnya aku ingin naik Trans Jakarta, namun setelah menimbangnya lagi, aku putuskan naik motor dan kuparkirkan Mio-ku di basement Fx Sudirman. Jaraknya sekitar 900 meter dari lokasi acara. Pas sampai sana sudah lumayan ramai, WeR1 sudah antri di paling awal panggung. Aku berada di tengah-tengah.  

Acara tepat dimulai usai solat Magrib. Ini hari kedua Semesta Berpesta. Tiketnya affordable, dua hari 50 ribu. Di hari pertama, aku memutuskan untuk tidak nonton karena tubuhku udah kasih sinyal untuk istirahat saja. Lagian, di hari pertama, tidak ada line up yang aku kenal seperti aku mengenal Rony. Line up yang aku kenal di hari pertama hanya Wali dan Yura Yunita, musik mereka pun juga tak begitu aku dengarkan segitunya. Sebab di bagasi pikiranku B aja, aku tak ada ikatan emosional tertentu sama mereka. Akhirnya aku putuskan untuk istirahat total. 

Di hari kedua, line up ada empat penampil, secara berturut-turut ada: Fajar Noor, Dikta Wicaksono (eks personil Yovie & Nuno), Rony Parulian, dan Juicy Luicy. Cukup mainstream memang kalau ukurannya musik indie. Aku juga tak berkeberatan dikatakan mainstream, karena sekali lagi, aku sudah muak dengan semua label yang menghakimi apa-apa yang sudah aku dengarkan. 

Di penampilan pertama, Fajar Noor, sebenarnya aku tak tahu sama sekali lagunya. Baca profilnya sekilas, dia sama-sama jebolan Indonesian Idol sama kayak Rony, malah dia runner up. Umurnya juga tak jauh dari Rony, asalnya juga dari Medan, Sumatera Utara. Sekilas melihat penampilannya, anaknya baik dan sopan. Fans dia bernama Fajar Soul, bikin poster segede gaban bertuliskan "Persija", Persatuan Istri Fajar, haha. Dari sekitar 7 entah 8 lagu yang dia nyanyikan, setengahnya menyanyikan lagu orang lain kayak lagunya Afghan, ST12 (lagu "Putri Iklan"), juga Yovie & Nuno. Semoga Fajar Noor bisa bikin lagu sendiri dan memainkan lagu sendiri.

Penampilan kedua ada Dikta. Penyanyi yang usianya mau memasuki 40 tahun ini masih begitu-begitu saja perawakannya. Dari gayanya nyanyi udah bisa ditebak jam terbang Dikta emang sudah tinggi. Dia bahkan memperlakukan panggung kayak tempat bermain aja. Bicaranya ngalor-ngidul kek nggak ada beban, dari salah nyebut merk sponsor, sampai curhat colongan terkait lagunya yang dibikin antara yang jujur atau yang dibikin karena tuntutan komersil. Memang, semenjak memutuskan bersolo, karier Dikta tak setenar ketika dia masih sama Yovie & Nuno, mau tak mau, di bawah Y&N lah nama Dikta besar. 

Namun, bagaimana pun, kita tak bisa hidup dalam masa lalu bukan? Juga bukan hal yang salah Dikta mencoba babat alas dengan kariernya sekarang. Dikta mencoba membangun ulang karier lewat dukungan teman-temannya di Dikta Wicaksono Project. Bahkan di single dia "Halal Selamanya" dibuat di Jepang sama sohib-sohibnya. Eh, dengar-dengar dia juga mau nikah. Ya, cuma bisa berdoa yang terbaik, gak bakal menghakimimu Bang. Nikah gak nikah itu pilihan. 

Di konser ini pun, cuma sedikit yang tahu lagu Dikta. Suara Dikta kembali dapat sambutan dari penonton ketika dia menyanyikan lagu-lagu Chrisye, seperti "Anak Sekolah" atau hits populer Chrisye yang lain. Jujur, aku juga di mode lost kalau dengerin lagu asli Dikta yang baru pertama kali kudengarkan itu.

Akhirnya, penampilan yang aku tunggu-tunggu, adik gue, Rony Parulian! Ya Allah, senang banget, meski gak dekatan sama WeR1 yang hard core, tapi di sekelilingku penikmat lagu-lagu Rony banyak. Malam itu, Rony mengenakan kemeja kotak-kotak warna ungu gitu sepenglihatanku, sama kaos oblong warna putih bergambar mobil. Kru instrument yang lain membuka konser dengan alunan lagu-lagu kompilasi Rony, diambil sepotong-potong, kemudian dibuka dengan lagu pertama, "Butuh Waktu". 

 

Saat Rony mengeluarkan suara pertamanya, aku udah gas pol suara tertinggi yang bisa kuproduksi. Selain berpretensi pamer karena aku udah hafal semua lagu-lagu Rony, juga mau release stres. Suaraku sampai serak tapi rasanya plong gitu, apalagi semenjak insiden musibah yang kualami berkaitan dengan penyalahgunaan media sosial, aku benar-benar total mematikan medsos sampai waktu yang tak ditentukan. Aku rasanya benar-benar hidup dan menikmati moment, tanpa kepikiran aku harus show up ke semua pengikutku di Instagram atau temanku di story WA. Bagiku semua itu melelahkan.

Kasian Rony ikut kehujanan hihi
Pesona Sederhana

Sepanjang Rony nyanyi, aku tak henti-hentinya ikutan nyanyi dan terus tersenyum. Kadang di jeda, Rony juga menyapa penonton untuk mengikuti apa yang dia mau, seperti ucapan terima kasih pada sponsor, teriak ea-eo atau menyalakan flash handphone. Rony kadang juga melucu saat membedakan diksi wanita dan perempuan, kemudian bilang "anjay". Aku yakin dia cukup ngeh dengan ideologi yang tersembunyi di balik kata tertentu. Secara liris, lirik-lirik ciptaan Rony hidup, dia cukup berbakat jadi penyair, dan kuharap kemampuan ini terus meningkat di karya-karya dia selanjutnya. Sebab sampai di titik sekarang, aku sudah tergolong WeR1 garis keras, hahaha.

Playlist lagu yang dibawakan Rony di BTV Semesta Berpesta terdiri dari: "Butuh Waktu", "Dengarlah Cinta", "Mengapa", "Angin Rindu", "Tak Ada yang Sepertimu", "Satu Alasan", "Sepenuh Hati", dan ditutup dengan "Pesona Sederhana". Di lagu terakhir ada pertunjukan flash. Rony yang nge-lead tarian flash itu, sama kayak pas dia nge-lead flash saat manggung di Unair, di depan para mahasiswa baru, sekitar beberapa hari yang lalu. Keseluruhan, ada delapan lagu yang Rony bawakan. Pokoknya aku senang banget bisa nonton Rony, kek malam itu aku udah gak butuh apa-apa lagi. Bahkan semua rasa kecewa terasa musnah sementara.

Lalu, penampilan terakhir ada Juicy Luicy. Memang, band ini sudah kutunggu setelah Rony tampil. Aku diam-diam memang menikmati lagu-lagu Juicy Luicy. Mereka mengawali dengan lagu terbaru mereka "Malapetaka" dilanjutkan dengan "Terlalu Tinggi". Entahlah, sependengaranku, semua lagu-lagu Juicy Luicy itu kayak gak ada bedanya. Semua enak dan nyambung. Saking ngepopnya, entahlah, aku tak bisa membedakan lagu-lagu mereka kala dinyanyikan bersama, sebab nadanya juga berkecerendungan sama. Misal aku dengarkan lagu-lagu ini jadi satu "Lantas", "Tampar", "Sialan", "Lampu Kuning", "Asing", "Tanpa Tergesa", "Bukan Orangnya", dll, kek punya vibes yang sama. Tapi sumpah, kalian keren! Juicy Luicy semua lagunya enak-enak, relatable, bisa didengarkan di semua kondisi kegalauan, dan bikin pendengarnya ketagihan mendengarkan lagi dan lagi. Album "Nonfiksi" dan "Sentimental" kalian itu juara sih. Apalagi Uan kulihat sering baca Maya Angelou dan Nietzsche, wih, mantap dah.
Sayangnya, saat vokalinya Julian Kaisar (Uan) nyanyi lagu ketiga, hujan turun. Ini pawangnya sepertinya udah keberatan tak bisa mengusir hujan. Namun, kok ya lirik-lirik Juicy Luicy ini banyak pakai kata "hujan", ampun dah, wkwk. Namun lagi-lagi aku sangat menikmati konser kala hujan ini. Ya, aku rela hujan-hujanan sambil menyanyikan lagu "Tampar" terus menikmati lirik berikut:

"Hujan samarkan derasnya / Tutup air mata / Temani kecewaku yang telah lama..." (Tampar, 2024)

"Sayangnya semua tak berjalan / Sedangkan bertahan bukan satu pilihan / Sayangnya kita hanya bisa mengenang / Menikmati hujan, lebih indah dari kenyataan..." (Sayangnya, 2024) 

"Sepertinya sama / Tatapan khas matanya masih yang lama / Kau ajak bicara, seketika kembali kujatuh cinta / Sialan dia / Sakit dan air mata sia-sia..." (Sialan, 2024)

 

Shit men, shit-shit-shit, bisa aja ini surga dunia. Ini hujan persis jadi metafora air mata yang melebur dengan semesta malam hari itu. Barangkali aku tak akan melupakan moment nonton konser Juicy Luicy hujan-hujanan di Parkir Timur Senayan sampai 20 tahun kemudian. Juga potret dua anak kecil yang berlari-lari sambil hujan-hujanan, atau sekelompok anak muda yang menyanyi lagu-lagu Juicy Luicy di tenda sambil berteduh, fasih betul mereka. Terima kasih, Tuhan.

Jakarta, 10-11 Agustus 2025