Rabu, 15 Desember 2021

On Your Wedding Day (2018): Menjaga Jodoh Orang Lain

Hwang Woo Yeon (Kim Young Wang) dan Hwan Seung Hee (Park Bo Young) sama-sama remaja bermasalah yang sering membolos, berantem, dan salah satunya punya drama home broken yang menyakitkan. Mereka bertemu di sebuah SMA di Korea dan segera menjadi teman dekat. Woo Yeon akan melakukan apa pun untuk melindungi Seung Hee yang terlihat kecil itu, mereka berdua secara fisik diibaratkan seperti jerapah dan kurcaci oleh gurunya.

Waktu akhirnya mendewasakan tokoh ini. Setelah Seung Hee menghilang, Woo Yeon menemukan sosok cinta sekolahnya itu di sebuah brosur perkuliahan, Universitas Hankook. Woo Yeon yang bodoh pun belajar keras agar masuk universitas itu, perjuangan dia untuk masuk jurusan Pendidikan Jasmani karena fisiknya yang tinggi besar diperlihatkan getol. Yang lucu ketika bapak-ibu Woo Yeon menertawakan anaknya untuk masuk ke universitas yang sulit pendaftarannya itu. Namun motivasi cinta mengalahkan segalanya.

Hingga akhirnya Woo Yeon satu kampus dengan Seung Hee yang mengambil jurusan desain fashion. Meski seiringnya waktu, Seung Hee kehilangan passionnya dengan menjajal berbagai pekerjaan yang bukan dia. Lalu Woo Yeon seingatku berkata: "Kamu keren melakukan pekerjaan apa pun, tapi kamu paling keren kalau sedang mendesain. Bukankah itu cita-cita pertamamu?"

Meski pikiran manusia memang selalu bisa membuat sakit pasangannya. Woo Yeon melakukan kesalahan yang menurutku cukup ideologis diucapkan, dia semacam playing victim pada Seung Hee karena kegagalannya tak mendapat kerja, karena penyesalannya mengenal Seung Hee, dan hal mendalam lain yang kukira ketika itu diucapkan oleh seorang yang kamu cintai, kamu akan lebih baik memutuskan untuk pisah. 

Seung Hee merupakan orang yang tak mudah untuk mengucapkan terima kasih, sangat susah baginya, walau Woo Yeon memberinya banyak hal. Bagi Seung Hee mengucapkan terima kasih seperti sebuah perpisahan. Dan film ini mengajarkanku pula, semakin kamu terobsesi pada sesuatu, semakin obesesi itu akan menjauhimu. Semakin Woo Yeon menginginkan Seung Hee, semakin dia kehilangan Seung Hee, bersebrangan dengan apa yang menjadi obsesinya. Aku merefleksikan hal ini bisa terjadi juga di bidang yang lain.

Menyesakkan memang akhir kisah film ini, tak seperti judulnya yang bahagia "On Your Wedding Day". Woo Yeon pada akhirnya ditakdirkan untuk menjaga jodoh orang lain, karena Seung Hee memilih untuk tidak berjodoh dengan dirinya. 

Background film ini menurutku manis, semua musim ada, dari musim salju, gugur, panas, dan semi. Sinematografinya juga indah di layar full HD, apalagi ketika situasi senja Woo Yeon dan Seung Hee ada di sebuah tempat yang terasa hangat karena sinar gold mentari memberi energi yang jauh lebih berkata-kata. Juga adegan di pantai atau ketika membeli makanan pinggiran kesukaan Seung Hee.

The Grand Budapest Hotel (2014): Anak Tangga Karier Sang Lobby Boy

Hal utama yang kuacungi jempol dari film ini adalah sinematografinya yang super keren. Asli Wes Anderson tahu gimana cara memanjakan mata penonton dengan warna dan citra yang diangkat dari tangan layarnya. Semula, saya mengira ini adalah film cinta seorang perempuan yang terkurung di sebuah hotel dan bertemu dengan pria aneh di sana. Premis karangan saya salah, film ini justru mengambil sisi seorang lobby boy (pramutamu/penjaga pintu) yang sukses mendapat warisan The Grand Budapest. Ia bertemu dengan lobby boy lain, pegawai baru, yang menemaninya berpetualang mempertahankan lukisan "Boy With Apple" yang dihargai setara dengan (mungkin) lukisan "Monalisa".

Lobby boy baru bernama Zero Moustafa (Tony Revolori) yang juga seorang imigran gelap karena negara aslinya dilanda perang, mesti mengungsi ke negara lain dengan cara apa pun dan bekerja apa pun. Zero pindah ke Republik Zebrowka. Namun, Zero punya track record bekerja di bidang hospitality, pelayanan, di bidang perhotelan. Zero bertemu dengan bos yang sangat klik dengannya dan sangat mempercayainya karena keduanya punya latar belakang yang sama secara emosional. Bos dia bernama M. Gustave (Ralph Fiennes). Bersama bosnya, Zero terlibat dalam konflik sejuta umat pembagian warisan Madam D. (Tildon Swinton), perempuan aneh yang takut bepergian sendiri dan hanya mau ditemani Gustave. 

Petualangan dari satu tempat ke tempat lain, satu peristiwa ke peristiwa lain inilah yang membuat seru. Apalagi dibaluri dengan kisah cinta Zero dengan seorang pembuat kue hotel bernama Agatha (Saoirse Ronan). Agatha juga perempuan aneh karena tanda lahirnya atau kebiasaannya akan detail-detail dan petualangan--yah, bukan Wes Anderson kalau karakternya tidak aneh, pun karakter hotelnya pun aneh karena pemilik hotel gak peduli hotelnya sepi, gak modern, dll, ia ingin mempertahankan itu hanya untuk Agatha.

Di film ini saya suka dengan karakter Gustave. Entahlah, dia sangat selow banget ngadepi semua tantangan yang ada selama masa-masa terburuknya di penjara, dikejar-kejar, dan hampir dibunuh. Karakternya agak mirip sama The Dude di film Big Lebowski. Sedangkan Zero anaknya khawatiran, taat, dan penurut pada Gustave. Cinta antara Zero dan Agatha pun unik, meski secara ikatan emosi, saya belum ngrasain. Yang oke dan paling oke tentu adalah pemandangan dark tapi misterius dalam film.

Senin, 13 Desember 2021

The Voice of the Autumn Wind (秋風のうた By 明星)

I know it bothers you that I've always been the popular type

Because when I'm holding your hand, it's a little cold to the touch

And I realize that no matter what I say to you

Nothing between the two of us is ever gonna change


You're tearing me down

You're tearing me down


Now that the passion's died down

I'm left  feeling lonely and little morose

While I'm still on a journey of my own

Late at night I suddenly realize: rain


It keeps me calm, it keeps me calm

It keeps me walking


Coz I know you never gonna stay


So long... The rain isn't gonna let up soon

Just like yesterday, I'm left all on my own again

So long the rain washes through the city streets

Just like yesterday, I'm left all on ny own during autumn again

You ain't gonna stay


So long... Someday I will...

So long... I keep walking...

So long.. Someday I will...

So long... I keep walking...


You ain't gonna stay

Minggu, 12 Desember 2021

Sabtu, 11 Desember 2021

You Keep Me Calm, Keep Me Walking

Jika bukan karena keyakinanmu yang menguatkanku, rasanya mungkin aku tak akan menginjakkan kaki ke kota ini lagi. Dan suatu hari kau meneleponku, bertanya padaku gimana kabarku, kamu merasa tidak enak jika aku malah tidak baik-baik saja di kota ini. "Aku ikut bertanggungjawab atas kepindahanmu," katamu. "Enggak, ini semua atas keputusanku juga," jawabku. "Iya, tapi aku ikut berperan..." 

Hari ini sudah tiga bulan lebih dan aku bisa membeli begitu banyak hal-hal yang dahulu hanya angan-angan saja. Namun kadang aku juga sedih karena kota ini menjauhkanku padamu dibandingkan kota sebelumnya di mana hampir setiap malam kita berbagai cerita. 

Aku menulis ini sebagai pengingat, sore tadi aku ke Mangga Dua membeli alat kerja dan kupilih merknya juga atas rekomendasimu. Aku menamai alat ini Melly, kepanjangannya Melly Goeslaw Anto Hoed Komjingku. Kau tahu, semalam hingga hampir Shubuh waktuku kugunakan untuk mendengar kisah perjalanan rumah tangga Melly Goeslaw Anto Hoed yang bagiku menarik. Kuceritakan yang masih kuingat:

Tiap rumah tangga punya resepnya sendiri-sendiri. Dari Melly Goeslaw Anto Hoed aku belajar bahwa di luar sana akan sangat banyak orang yang lebih baik, lebih cakep, lebih pintar, lebih tajir, dan lebih-lebih semuanya, namun bagi seorang pecinta yang mencintai pasangannya, hanya akan ada satu yang tak akan tergantikan. Satu yang paling klik di antara milyaran umat manusia, suatu rasa, "Aku dengan dia akan cocok." Mas Anto sering menggunakan ilmu "Yaudahlah ya" untuk permasalahan dalam rumah tangganya. 

Kata Teh Melly juga, seorang perempuan bisa pacaran dan berhubungan dengan sekian lelaki di dunia ini, tapi jika ada satu laki-laki yang berani melamar, berarti dia serius. Jangan lepas. Dan jangan ragukan feeling sahabat sebagaimana Nike Ardilla sahabat Teh Melly yang langsung setuju ketika Teh Melly bersama Mas Anto, dengan pacar Teh Melly lainnya, Nike tak setuju.

Dan malam ini aku membuka lagi karyaku ketika sekolah, oh, bagaimana bisa penggambaranku sedekat itu dengan lingkungan tempat tinggalmu, haha. Lalu aku mendengar lagi lagu Akeboshi berjudul Akekaze No Uta. Yah, intinya, selamat datang Melly Goeslaw Anto Hoed Komjingku dengan tagline: Awet, berberforma cepat, dan memunculkan inspirasi baru.

Jakarta, 11.12.2021

Selasa, 07 Desember 2021

13 Film Pendek yang Bisa Kamu Tonton, Dari Sore Sampai Rahasia

1. Unbaedah (2019)

Pemain film Tilik Siti Fauziah di film Unbaedah masih konsisten dengan karakternya yang menyebalkan. Kali ini tingkahnya lain, dia jadi ibu serakah yang mengkorupsi nasi berkatan. Sampai tetangganya yang kesal menjebaknya dengan hantu-hantu. Film yang dibuat atas restu KPK ini bisa jadi film yang horor sekaligus lucu.

2. 50:50 (2019)

Film dokumenter yang berkisah tentang kelompok waria di kawasan Depok-Jakarta. Saya menonton film ini karena tengah membaca novel A. Mustafa berjudul Anak Gembala yang Tertidur di Akhir Zaman. Tokoh utama di novel itu bernama Mbok Wilis, tetua waria di Simpang Lima, Semarang. Dulu saya juga pernah punya pengalaman mewawancarai persatuan waria di Semarang, film ini mengingatkan saya lagi. Fokus penceritaan di film ini adalah tokoh Dona. Waria masih punya kebebasan untuk memiliki anak, dengan menikah dengan perempuan. Teman-teman Dona dengan latar belakang yang beragam membuat film ini jadi kompleks.

3. Bandung Renjana (2017)

Film ini bertabur kata-kata puitis dan romantis seputar Kota Bandung. Film yang ala-ala anak senja dan fans Fiersa Besari. Suasananya gloomy, udara yang minor, dengan tokoh yang bernama unik karena dinamai dengan nama gunung: Rinjani, dan kakaknya Renjana. Orangtua mereka yang suka naik gunung itu meninggal dan menyebabkan banting setir kerja apa pun untuk bisa hidup. Meski begitu, premis film bergenre romansa cinta segitiga ini kalau saya simpulkan: sejauh apa pun kamu pergi, kau akan kembali pada rumahmu. Rumah dalam arti kiasan. Film yang dibuat untuk hadiah HUT Bandung ini seperti mengajakmu jalan-jalan pada suatu petualangan hidup.

4. Hitlove (2017)

Ide film ini menarik, ada seorang cupid yang punya peluru. Ketika ditembakkan ke sepasang orang cewek-cowok, mereka akan jatuh cinta seketika itu juga. Magic bukan? Bahkan oleh dua orang yang sedang musuhan. Yang unik ketika cupid menerima seorang klien yang ternyata dia ditembakkan dengan body guard-nya sendiri.

5. Kinetik (2017)

Film yang disutradarai oleh Putri Tanjung ini boleh dikatakan sebuah film motivasi bagi orang dewasa awal yang merasa dirinya hampa. Kalimat tokoh yang kutingat: Kalau kamu merasa hampa dan ngerasa mentok sama kerjaan dan hidupmu, itu berarti ada ruang kosong yang membuatmu tambah lebih kreatif. Tinggal dicari isinya, apa, kapan dan di mananya; ini tergantung padamu. Film ini memperlihatkan perjuangan hidup dari tiga orang sahabat: Dhea, Karim, dan Kevin. Dua di antaranya ketika kecil hidup dengan nelangsa, sampai mereka mewujudkan mimpinya dan mengisi kehampaan hidup dengan membantu sesama. Mereka datang ke sekolah yang masih sangat kekurangan. Film ini coba bilang: Teruslah bergerak!

6. Rahasia (2011)

Plot twist-nya juara sih film ini. Seorang anak SMA nekat menemui pacarnya yang ada di Surabaya. Di kereta dia bertemu dengan seorang Bapak yang terlibat percakapan empat mata dan rahasia. Film yang mewakili tindakan primitif manusia, kebutuhan akan manusia lainnya dari perselingkuhan hingga seks. Dua rahasia anak manusia telah terbongkar dan usai film ini menyisakan perasaan yang suwung. Saya teringat kata-kata sang ibu si anak SMA: "Ibuk ra setuju, wong wedok kok ngampiri wong lanang." Film ini mendobrak itu.

7. Sore (Ep. 1 dan 2) (2017)

Berniat untuk menjadi futuristik, film ini justru punya banyak plot hole. Bagaimana mungkin bisa seorang istri masa depan datang ke masa kini dan menemui suaminya yang sedang merantau ke Italia? Kemudian mengikuti suaminya dan ngobrol terkait keluarga di sebuah restaurant. Saya menonton film ini karena ingin tahu terkait Tika Bravani dan Dion Wiyoko ketika dipasangkan. Mereka bertemu di film besutan Hanung Bramantyo berjudul Hijab. Mereka cukup menjadi pasangan yang manis. Bisa kau bayangkan semisal sekarang kamu jomblo dan berhalusianasi pasanganmu datang di hadapanmu, apa yang ingin kau katakan?

8. Fresh To Move On (2012)

Jika kau tengah putus dan berniat balik lagi ke mantan, film ini barangkali tepat. Barangkali setelah peristiwa putus tersebut bisa memberi ruang dan menjadi refleksi untuk lebih mengenal pada pasangan. Film pendek garapan Joko Anwar dan dibekengi oleh iklan pasta gigi ini bisa dibilang bergenre komedi romantis. Berkisah tentang tokoh yang diperankan Tara Baso dan Fachri Albar, mereka putus. Si Tara diberi buku panduan move on, ada 7 tips dari memberi nama mantan dengan nama aneh hingga ngedate dengan orang Tinder atau app date lainnya. Meski yang purna tetap menghadapinya secara langsung, rekonsiliasi. Sinematografi film ini menarik, mirip film-filmnya si Wes Anderson.

9. Djakarta 00 (2015)

Film masa depan tentang Jakarta yang sepertinya masa itu saya tak ada atau ber-reinkarnasi jadi makhluk lainnya. Jakarta dan kehidupannya sekarang telah musnah dan digantikan dengan kehidupan angkasa dengan makin banyak kesenjangan di sana-sini. Pohon-pohon dan pemandangan hijau adalah surga yang ketika kau masuk harus membayar sekian juta saking mahalnya. Nasib seniman masa depan semakin kesepian, begitu pun dengan para pembaca buku. Saya jadi ingat pidato Martin Suryajaya saat ulang tahun IKJ ke-49.

10. Ning Kene Aku Ngenteni Kowe (2015)

Sepanang film, saya tak henti-henti untuk tertawa nonton film ini. Seratus persen film berbahasa Jawa, Jawanya Jawa Jogja karena lokasi syutingnya di Jogja. Berkisah tentang Anjar dan Intan dengan segenap kompleksitas hidup di desa. Intan ingin merantau ke Jakarta karena kondisi desa tak menjanjikan apa-apa, ia ingin pergi bersama adiknya Bondan dan direstui oleh neneknya. Bagian epik dari film ini adalah sepanjang perjalanan dari rumah menuju Stasiun Lempuyangan. Banyak kritik urbanisasi dan ruralisasi yang disampikan dengan gaya yang beneran kocak. Tapi ingat ya, ini bukan lagu Didi Kempot, haha. 

11. Purnama di Terminal 3 (2016)

Jika di kehidupan lain kau pernah bertemu dengan seseorang, barangkali di kehidupan saat ini kau juga akan menjumpainya lagi dan berjodoh dengannya. Mungkin itulah yang kubayangkan saat Adam bertemu dengan sebut saja Hawa di sebuah bandara, saat menunggu waktu terbang. Mereka belum pernah berkenalan sebelumnya tapi langsung akrab dan melakukan hal-hal sebagaimana orang yang sangat dekat.  Pas lihat film ini jadi kepikiran ketika datang ke tempat baru, barangkali tidak ada salahnya untuk bersikap sok kenal dan sok dekat dulu dengan orang yang baru kita kenal. Barangkali cocok, haha, enggak sih, untuk cari teman baru aja. Judul film ini bagiku menarik, padahal saat purnama, ada mitos tertentunya lho.

12. Rindu (2018)

"Gak ada yang gak bisa Kak, belum ketemu caranya aja." Begitu pesan moral yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini. Suatu hari di sebuah agen kerja IT begitu katakanlah, seorang junior ingin mencari senior kerjanya yang tak masuk beberapa hari terakhir. Junior berkelamin jantan tersebut mencari seniornya yang betina ke Jogja, si Junior tidak tahu di mana rumah orang yang dicarinya itu, yang disangka teman-teman kerja di sana senior itu mengalami stres. Berbekal laptop merk HP yang juga menjadi sponsor film ini, perjalanan tokohnya menghidupkan jiwa-jiwa petualangan dalam diri kita.

13. Surat Untuk Jakarta (2016)

Film berdurasi sangat pendek ini sama sekali tak kumengerti. Dua menit memang, tapi saya gak paham. Yang kutangkap seputar kehidupan sehari-hari Jakarta yang metropolitan. Seputar mall, KRL, MRT, Pasar Raya, Monas, macet, dst, dll. Dan diakhiri dengan surat cinta untuk Starla, eh, untuk Jakarta.

Senin, 06 Desember 2021

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021): The Best Revenge Is Not Massive Success

Suatu hari di suatu masa, saya tengah jadi panitia di sebuah In House Training jurnalistik persma kampus. Teman saya salah satunya membawa buku karya Eka Kurniawan yang boleh dibilang kategori tipis dibanding novel Eka lain yang pernah saya temui. Judulnya "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" (2014)--dengan cover warna hijau rumput muda dan burung yang keok. Dari judulnya, saya mengira ini novel cinta-cintaan tapi dibuat lebih menarik dari sudut pandang Eka, pas saya baca, di luar perkiraan ini novel terkait pria yang tak bisa ngaceng dan dia gelisah sepanjang waktu karena itu. 

Kata-kata Eka sungguh banyak mengundang birahi--padahal saya bacanya di pondok pesantren, tempat In House Training--dari segi tema, alur, karakter, novel ini memang berani. Tak banyak penulis Indonesia yang akan kepikiran se-out of the box itu. Yah, karena waktu itu acara hampir selesai, saya hanya sampai sekitar 50-an persen halaman, dan buku itu kembali ke pemiliknya yang saya lupa siapa, yang jelas saya tidak enak kalau meminjam dan membawanya pulang.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya kemarin, Minggu (5/12/2021), saya dan dua orang teman (panggil saja Nisa dan Ola) memutuskan untuk menonton film ini karena gagal berangkat ke Bogor untuk menghabiskan weekend. Jakarta dirundung hujan beberapa hari ini mengakibatkan kemageran yang begitu parah untuk sekadar keluar. Setelah cap-cip-cup ala kelas menengah dengan nongkrong di coffee shop, kami pun nonton dengan tempat duduk berdekatan. Sayang, film yang juga tayang di Cinepolis Penvil itu diputar beberapa menit sebelum jadwal aslinya dimulai. Kami pun ketinggalan, tapi masih memenangi adegan Ajo Kawir (Marthino Lio) dengan motor edisi tuanya yang meraung-raung di jalanan meski sekilas suaranya saja.

Oiya, sorry, ini too much spoiler alert yak!

Pas nonton film ini, kalau ada tiga kata yang ingin saya gambarkan untuk mewakili adalah dendam, balas dendam, balas dendam lagi. Dendam adalah motivasi utama film ini. Ajo Kawir merupakan korban pelecehan seksual ketika masih kecil, di film tidak ditampilkan dengan detail, tapi di buku saya masih ingat Ajo melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pembunuhan, pemorkosaan, dan kekerasan terhadap Rona Merah (Djenar Maesa Ayu) dilakukan hingga membuat burungnya itu tak bisa berdiri. Kekerasan itu dalam film dilakukan oleh dua orang, Codet (Lukman Sardi) dan seorang militer begitu.

Adegan awal-awal film ini dimulai dengan sebuah perkelahian antara Ajo Kawir dan Iteung yang penuh adrenalin. Saya pribadi suka dengan tokoh Iteung yang dimainkan Ladya Cheryl, entahlah, sekilas mengingatkanku dengan Anita Roddick pas rambutnya keriting. Tokoh Iteung di film itu segar, tegar, pemberani, mandiri, dan menarik. Iteung sendiri juga adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh gurunya ketika sekolah. Kala itu Iteung berani berbalas dendam dengan menjepit anu gurunya di lemari.

Alur pun bergulir dengan cepat. Nuansa film 80-an dengan nuansa dan atmosfer seusai hujan membuat memory saya kembali ke kampung halaman. Sekaligus saya mengingat rumah-rumah tetangga saya dan ndadah (semak-semak) yang bisa jadi angker itu. Apalagi saya membaca berita beberapa, lokasi syuting itu banyak diambil di Rembang, kabupaten yang beberapa kali saya kunjungi dan lewati karena dekat dengan Blora (tempat kelahiran saya). Semua latar yang ada di film SDRHDT tak ada yang asing, dari toko kelontong, bengkel, dermaga, alas, jalan raya kala malam, truck, pohon jati, dan saya suka dengan pernak-pernik rumah yang ditinggali Ajo Kawir dengan temannya Tokek (Sal Priadi). Terlihat begitu autentik dan zamannya.

Kisah jatuh cinta antara Ajo Kawir dan Iteung digambarkan begitu cepat terjadi usai kelahi berkeringat. Diikuti dengan adegan pacaran, kencan di pasar malam, having sex di bawah bianglala, dan sampai akhirnya dua sejoli Ajo dan Iteung ini menikah. Iteung menerima kekurangan Ajo Kawir karena penyakit yang paling ditakuti laki-laki itu. Apa alasannya? Ini butuh keikhlasan yang luar biasa sekali lho (baik dari pihak laki-laki maupun perempuan), apalagi di rumah tangga; sangkut pautnya tak cuma seks, tapi juga keturunan. Apakah semua karena cinta? Hanya Iteung yang tahu. Melihat di dunia nyata, akan sangat susah bertemu dengan perempuan yang mau menerima pria impoten seperti Iteung. Kecuali dia punya kualitas seperti Ajo Kawir mungkin.

Meski sungguh masalah yang berat, Iteung rindu having sex sesungguhnya, having sex yang sama-sama bisa memuaskan. Bajingan bernama Budi Baik (Reza Rahardian) yang juga punya usaha minyak bulus itu melakukannya. Dan, oh, Iteung hamil! Ajo Kawir marah luar biasa, kalau dia sudah marah, kau akan tahu dia bisa memakan apa saja. Tak cuma bisa menghabisi Macan, tapi juga musuh lainnya, dia hanya butuh satu kata untuk berkelahi: motivasi. Namun saya tetap tak tega dan sakit hati kala tokoh perempuan kala Iteung dikatai "lonte" oleh suaminya sendiri di film ini. Meski saya paham, ego dan harga diri Ajo Kawir tengah terinjak-injak, saya juga ikut kehilangan respect pada Iteung yang melakukan itu. Menurutmu, apa tepat disebut pengkhinatan?

Cinta tetaplah cinta, karena cinta pula (mungkin), Iteung membalaskan semua dendam Ajo Kawir pada orang-orang yang telah merebut masa depan suaminya. Balas dendam itu tak akan kau sangka dilakukan oleh perempuan semanis itu. Balas dendamnya pun tergolong sadis, bagi kau yang tak kuat darah, akan ngilu nonton film ini. Bayangkan seorang manusia dikerek laksana burung hingga dia meninggal. Iteung memang kriminal, tapi dia punya motivasi dan tujuan, balas dendam. Hingga balas dendam itu lunas satu per satu. Hingga Iteung bisa bisa membuatkan kue bolu yang di kertas luarnya bertulis dia mencintai Ajo Kawir.

Setelah hampir dua jam, film berakhir dengan happy ending. 

Meski begitu, ada beberapa plot hole yang sulit saya pahami sebagai penonon. Terutama kemunculan Jelita (Ratu Felisha), saya tak bisa membedakan apakah dia makhluk jadi-jadian, ilusi, atau kenyataan. Dia siapa? Apa urusannya dengan Iteung? Atau saya yang kurang menangkap jalan ceritanya.

Secara wacana dan teori, banyak yang bisa dibedah dari film ini--ini tugas kritikus. Tapi saya hanya ingin menutupnya dengan kalimat dari Frank Sinatra, "The best revenge is massive success" tak selamanya benar.