Kamis, 15 Mei 2025

Rangkuman Buku "Menindjau Masalah Koperasi" karya Moh. Hatta

Koperasi - Moh. Hatta
Judul: Menindjau Masalah Koperasi | Penulis: Mohammad Hatta | Tahun: 1954| Penerbit: P.T. Pembangunan Djakarta | Jumlah halaman: 128 hal | Perangkum: Isma Swastiningrum

Berikut rangkuman yang saya buat dari buku Hatta yang sangat keren ini, yang saya kira perlu dibaca oleh mereka yang peduli dengan kemajuan diri, keluarga, dan bangsa, tak sekadar dibaca oleh anggota koperasi, para aktivis koperasi, dan mereka yang peduli dengan koperasi.

1. Kooperasi di Indonesia

“Ko-operasi berasal dari kata-kata "ko" yang artinya "bersama", dan "operasi" yaitu "bekerdja". Koperasi berarti sama-sama bekerja. Perkumpulan yang diberi nama Kooperasi adalah perkumpulan kerja sama dalam mencapai sesuatu tujuan.” (p. 1) Semua sama kerja untuk capai tujuan bersama.

Hatta membagi koperasi jadi dua: koperasi sosial dan koperasi ekonomi. Di mana sosial lebih tua, dan Indonesia banget, dengan dasar tolong menolong. Yang dibantu tak hanya urusan umum, tapi juga urusan pribadi (bajak sawah, membuat rumah, mengantar jenazah ke kubur). Di sini tak ada perhitungan ekonomi yang teliti dan tak berdasar prinsip ekonomi “mendapatkan untung sebesar2nya dengan modal sekecil2nya.”

Koperasi ekonomi di sini merupakan respons dari zaman baru yang muncul dari abad ke-10 ke abad 20. Tujuannya: memperbaiki mereka yang berekonomi lemah secara bersama-sama. "Kerja sama adalah dasar koperasi ekonomi, sebab itu rasa solidaritet mesti ada padanya." Untuk memperbaiki dasar keperluan hidup bersama, kupikir ini juga terjadi pada koperasi perumahan. Selain rasa solidaritet, koperasi ekonomi juga mengenali "individualitet". Sebab kata Hatta, "Hanya anggota yang sadar akan harga dirinya dapat bertindak, dengan memberi harapan, untuk mencapai dan membela kepentingan bersama." Koperasi sosial bisa berdiri dari solidaritas saja, tapi koperasi ekonomi harus berdasar sendi solidaritas dan individualitas.

Koperasi juga sudah ada di tingkat desa, dan kualitas ini sudah ada di masyarakat desa. Tantangannya di sinilah adalah bagaimana memberikan pendidikan kepada rakyat yang tak mudah menerima dan berlainan dengan kebiasaan.  "Pendidikan ini diberikan dengan contoh yang menunjukkan koperasi, diberikan oleh pemimpin yang mempunyai idealisme yang sehat, yang dapat memikat kepercayaan rakyat." (p.4) Hatta juga bilang, tanpa idealisme, tak ada koperasi.

Koperasi juga perlu diberikan pada anak muda, yang perlu pelajaran sejarah dan ilmu. Sejarah di sini setidaknya memberikan gambaran tentang perkembangan bangsa2 di dunia. Sementara ilmu bumi, bisa dipelajari dengan mudah terkait tempat kediaman manusia. "Manusialah yang dikemukakan, dalam persebarannya dalam tempat di atas bumi ini." (p. 5) Perhitungan juga begitu, harus dihubungkan dalam penghidupan, termasuk cerita-cerita tentang koperasi perumahan yang menarik hati.

Menciptakan buku2 yang serupa itu adalah tugas Kementerian Pendidikan, karena tak semua pengarang bisa mengerjakannya. Pengarang perlu punya konsepsi yang nyata tentang pendidikan masyarakat dan pandai mengarang dengan bahasa yang mudah dan menarik hati. Tak hanya enak di baca balita, tapi juga dewasa.

Sejarah koperasi di Indonesia berawal dari kota kecil di Purwokerto tahun 1896. Saat itu didirikan "Hulp-en Spaarbank" (Bank Bantu dan Simpanan) yang bertujuan menjaga kepentingan pegawai negeri agar lepas dari riba. Awalnya ini memang bukan koperasi, tapi kemudian menggerakkan asisten residen, salah satunya De Wolf van Westerrode yang menganjurkan pembangunan rangkaian koperasi kredit guna orang tani sekeresidenan Banyumas. Kredit tani ini sebagai kepanjangan dari tipe Bank Raiffeisen di Jerman.

Dari Hulp-en Spaarbank di Purwokerto kemudian menjadi Poerwokertosche Hulp, Spaar-en Landbouwcredietbank". Serentak dengan itu, di seluruh daerah Banyumas juga didirikan 250 buah lumbung desa, yang memberikan kredit berupa padi. Bersebelahan dengan lumbung desa, didirikan bank desa, yang memberi kredit uang. Dari Bank Purwokerto tersebut, didirikan Bank2 Kredit Rakyat di seluruh Jawa dan Madura. Awalnya bank2 ini bekerja di bawah pemerintah, pada 1934, bank2 itu disatukan jadi "Algemeene Volkscredietbank" yang punya banyak cabang di seluruh Indonesia.

Dalam perkembangannya, Algemeene Volkscredietbank (Bank Rakyat) menyimpang dari apa yang diciptakan De Wolff van Westrrode. Dari koperasi rani tipe Raiffeisen, berkembang jadi Bank Rakyat tanpa bentuk koperasi. Di mana modal perusahaan terus ditumpuk dari keuntungan yang dipungut dari usaha kredit ke rakyat. Bank Rakyat ini kemudian disebut sekarang sebagai Bank Negara Indonesia (BNI) yang memberi kredit dagang. Dia punya dua corak kredit: kredit rakyat dan kredit dagang, yang tak bisa disatukan, dan harus pisah sama sekali ke dalam dua bank. Satu Bank (Kredit) Rakyat dan satu Bank Dagang, yang sama-sama dimiliki pemerintah.

Di antara Bank Rakyat dengan modal puluhan juta, hadir juga bank koperasi kecil-kecil dengan modal ribuan rupiah saja. Bank koperasi ini juga semakin bertambah dan diakui di dunia internasional. Menariknya di sini, Hatta punya data dari tahun, jumlah koperasi, jumlah anggota, simpanan anggota dan titipan, hingga cadangan anggaran yang dimiliki. Situasi Kemerdekaan cukup mempengaruhi kesadaran ekonomi rakyat dan berjalannya koperasi.

Perkembangan koperasi di Indonesia juga sejalan dengan kemajuan pergerakan nasional. Sebelum muncul Boedi Oetomo (1908), saat itu belum ada cita-cita koperasi. Saat itu yang ada adalah bank ciptaan pegawai Belanda dan sistem Hindia Belanda. "Pergerakan nasionallah yang mendorong perkembangan kooperasi." (p. 9) IS: kalau begitu ceritanya, perkembangan gerakan rakyat yang seperti apa yang mempengaruhi gerakan koperasi? Pergerakan nasional ini untuk perbaikan nasib rakyat, dan bab pendidikan dan ekonomi adalah pasal2 terpentingnya. Pergerakan itu dari B.O., N.I.P, SI, PKI, Pasundan, PNI, Indonesiache Studieclub Surabaja, Partindo, PNI Baru, Parindra, dll. Bahkan Taman Siswa diridikan dengan dasar selfhelp (tolong diri sendiri). "Rakyat yang lemah ekonominya tak akan dapat membentuk negara yang kuat." "...pengadjaran dan perekonomian menjadi pasal yang terutama bagi segala partai disebelah tuntutan politik." (p. 10)

Di sini Hatta mengingatkan, perekonomian rakyat yang lemah dan tertindas, tak bisa bangun bila tetap sendiri2 atau memakai bangun perusahaan berbentuk firma, PT, kongsi, dan berbagai bangunan kapitalis. "Memang beberapa ratus orang yang kuat bertindak dapat memilih bangunan itu. Akan tetapi, bagi rakyat yang banyak, bangunan seperti itu tidak terpakai. Bangun perekonomian yang sesuai dengan keadaan rakyat ialah koperasi. Maka karena itu pergerakan nasional, dari semulanya kuat sekali menganjurkan koperasi." (p. 10)

Saat ini yang paling banyak di Indonesia berupa koperasi kredit, dengan jumlah terbanyak, dari golongan rakyat usaha kerajinan. Sementara di daerah pertanian, kebanyakan ada koperasi penjual. Di sini, koperasi untuk membeli bersama bahan dan alat yang diperlukan untuk produksi masih sangat kurang. Padahal, koperasi sejenis inilah yang perlu jadi sendi sesuai UUD Pasal 38 (sekarang UUD Pasal 33)

Sementara itu, "Koperasi Konsumsi" yang sekarang banyak itu didirikan mula-mula atas anjuran pergerakan politik. Koperasi ini banyak jatuh karena hidupnya tak subur. Meskipun menguntungkan karena yang dijual adalah sembako (murah karena dibeli dalam jumlah banyak), tetapi akan sulit menghadapi persaingan dari warung-warung yang sudah ada, yang punya kedudukan yang kuat dalam masyarakat. Warung2 itu menjual dengan harga lebih rendah daripada koperasi, akhirnya koperasi rugi dan runtuh. Setelah ini terjadi, warung kembali menaikkan harga mereka.

Koperasi konsumsi juga kalah dengan warung dalam hal: pengalaman, kepandaian mencari barang, mengadakan persiapan yang lengkap dan meninjau keperluan orang banyak di masa depan. Koperasi juga kalah dalam persiapan modal. Jika kurang solidaritas, maka koperasi tak bisa berkembang.

Kakek Prabowo, Margono Djojohadikoesoemo juga mengatakan, penyebab dari jatuhnya koperasi konsumsi adalah sistem kredit. Warung memberi kesempatan untuk "ngebon", yang dibayar habis bulan. Sementara "bon" tidak ada dalam koperasi, beli kontan, jual kontan. Karena tak punya uang, mereka pun terperdaya dengan sistem bon, tak setia pada koperasi, dan pergi ke warung. Tantangan ini perlu di-address benar jika ingin mengembangkan koperasi. "Orang harus sabar dan sedia berkurban untuk menumbuhkan koperasinya, yang akan mendatangkan manfaat dan bahagia di kemudian hari." (p. 12-13).

Koperasi konsumsi sebagai organisasi orang kecil dan lemah ekonominya tentu kalah dengan warung dan toko dalam segala-galanya. Sehingga koperasi perlu diperkuat, seperti gerakan koperasi konsumsi di Inggris, dengan modal 27 Euro, jadi gerakan yang punya toko di seluruh negeri dengan modal berpuluh juta Euro. Selain tiga jenis koperasi yang dijelaskan Hatta: (a) koperasi kredit, (b) koperasi produksi, (c) koperasi konsumsi; muncul juga (d) koperasi pembangunan rumah, (e) koperasi pembebasan utang, (f) koperasi lumbung. Koperasi perumahan sendiri timbul di kota-kota besar, dianjurkan pada kalangan PNS. Meskipun koperasi ini tak memberikan banyak hasil karena ekonomi PNS sendiri yang seret.

Di sisi lain, koperasi pembebasan utang dan koperasi lumbung didirikan untuk orang tani, untuk melepas dari riba dan ijon. Dalam kondisi ini, banyak petani yang menggadaikan sawah dan hasil panen dengan perjanjian berat. Bahkan sebelum buah matang, buah sudah jatuh ke tukang ijon. Margono Djojohadikoesoemo juga bilang, "organisasi koperasi pembebasan utang itu dapat dipandang sebagai suatu corak dari pada koperasi produksi. Yang hendak dibebaskan dari utang ialah orang-orang yang menghasilkan padi atau buah-buahan, yaitu kaum produsen. Jalannya ialah menjual bersama hasil sawah dan kebun dan menahan sebagian dari pada harga penjualan itu sebagai pencicil utang, sehingga hasil usaha mereka tidak lagi jatuh ke tangan pengijon." (p. 14) Ijon adalah perbuatan anti-sosial. (Ijon adalah praktik di mana petani menjual hasil panen sebelum masa panen demi memperoleh dana tunai, baik untuk keperluan pertanian maupun kebutuhan sehari-hari)

Sementara itu, Koperasi Lumbung didirikan dalam wujud yang sama dengan koperasi pembebasan utang, tapi terbatas kepada mereka yang menghasilkan padi saja. Mereka yang ditolong oleh koperasi membayar cicilan utangnya dengan padi, dan padi cicilan itu disimpan dalam sebuah lumbung. Koperasi akan menjual padi itu saat harganya mahal. Anggota yang perlu kredit diberi pinjaman dari uang yang diperoleh dari penjualan padi. Ia membayar kembali utangnya dengan padi.

Sepertinya kamu perlu baca juga Is buku Margono Djojohadikoesoemo berjudul "10 Tahun Kooperasi" (1941). Dia menyebut ada empat macam koperasi lumbung: (1) Lumbung bibit: dengan memperbaiki bibit benih dengan jalan seleksi di bawah kepemilikan Djabatan Penerangan Pertanian, (2) Lumbung kredit: pengganti lumbung desa jadi bank desa yang memberi kredit ke petani, (3) Lumbung ijon: memberantas ijon seperti yang sudah diuraikan, (4) Lumbung pajak: agar orang menyimpan padi pada lumbung tersebut kemudian menjualnya untuk membayar pajak.

Berbagai macam lumbung itu mencerminkan betapa besar guna lumbung bagi perekonomian desa. Ia juga istimewa karena bisa menjaga kelebihan padi untuk masa paceklik. Tiap desa perlu punya lumbung yang dapat memenuhi berbagai keperluan kredit dan pemeliharaan hidup penduduk desa. Pemeliharaan lumbung juga menjadi tugas penting yang diserahkan ke pada otonomi koperasi, di bawah pemilikan pemerintah desa.

Corak koperasi yang dimiliki Indonesia ini juga suatu otensitas sendiri yang tak dimiliki dunia Barat. Koperasi Indonesia masih sangat sosial, penuh gotong royong, jika diukur dengan patokan koperasi dunia Barat. Modal pun tak cuma untuk memperkuat koperasi yang masih lemah, tapi juga untuk amal, seperti mendirikan poliklinik, masjid, anak sunat, anak yatim, anak buruh, beasiswa, dll. Yang jika di dunia nyata, kita bisa melihat, si peminjam untuk mendapatkan dana itu perlu membayar rente yang lebih besar untuk keperluan orang lain (keperluan yang tak bersangkutan dengan koperasi). "Sebab, koperasi terutama gunanya untuk memperkuat ekonomi yang lemah. Pembentukan cadangan cepat-cepat adalah suatu keharusan. Sebab itu belum pada tempatnya koperasi beroyal-royal dengan memberikan amal." (p. 17) Inilah kondisi di Barat.

Adapun di Indonesia, menganggap dirinya bagian dari masyarakat Indonesia yang bertanggung jawab atas keselamatan masyarakat. Sifat sosial masih tebal di Indonesia, mungkin mengurangi efektivitas ekonominya, tapi juga memperkuat kedudukannya di masyarakat. "Djika ditilik betul-betul, koperasi pada dasarnya bukanlah persekutuan orang kecil yang egois, melainkan persekutuan yang membela kepentingan orang kecil umumnya.... Karena itu, segala usaha yang dapat memperbesar minat orang kepada koperasi, sekalipun perbuatan itu semata-mata bersifat sosial, patut dikerjakan." (p. 18)

Hatta menyadari, gerakan koperasi yang terjadi di Indonesia masih jauh dari apa yang dicita-citakan atau tujuan yang besar dari UUD. Koperasi Indonesia masih dianggap berada di permulaan jalan. Namun, yang perlu diapresiasi, gerakan ini sudah tertanam, inisiatif sudah kelihatan, yang diimbangi dengan kemerdekaan politik dan menimbulkan kesanggupan untuk memperbaiki nasib sendiri. Tugas kemudian adalah membimbing pergerakan koperasi sebaik-baiknya menurut susunan dan organisasi yang teratur. "Dalam mencapai keperluan hidupnya, tiap-tiap orang hendaklah menambahkan kemakmuran kepada masyarakat seluruhnya." (p. 19) "Tiap-tiap golongan hendaklah dapat mengambil inisiatif dalam hal menyelenggarakan kepentingan bersama atas dasar: seorang buat semua dan semua buat seorang. Dalam urusan ekonomi, hanya koperasilah yang dapat memenuhi syarat ini, karena pada koperasi tiap-tiap anggotanya ikut serta bekerja atau berbuat dan bertanggung jawab." (p. 19)

2. Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun

Hari Koperasi diperingati setiap 12 Juli. Hatta bertanya, apa gunanya hari peringatan? Bukan dalam rangka menambah banyak hari libur, tetapi untuk menjadi pendorong bekerja lebih giat menuju cita-cita. Hari peringatan juga untuk memandang ke masa depan. Apalagi di situasi Indonesia yang sudah berpuluh2 tahun berjuang menentang imperialisme dan kolonialisme. Ini sebagaimana amanat UUD, "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan." Asas kekeluargaan itulah yang disebut koperasi. Kita juga perlu punya cita-cita, karena cita-cita ini jadi pegangan menuju gerbang kemakmuran. Dalam keadaan kurang tersebut, yang terpenting bagaimana mengatasi kekurangan itu sedapat-dapatnya dalam waktu yang singkat. Sebab itu, politik kemakmuran dalam jangka panjang dan pendek memerlukan koordinasi. Tugas utama di sini: menghidupkan dan menumbuhkan semangat koperasi, yang menghendaki waktu, kesabaran, dan keyakinan yang tak goyang.

Realisasi politik kemakmuran jangka pendek disandarkan pada bukti-bukti yang nyata. Persoalan rakyat: kurang makan, kurang pakaian, kurang rumah (dan juga kurang pendidikan). "Tiap-tiap tindakan sewaktu dan sementara itu, dari pihak mana pun juga, yang dapat mengurangkan kekurangan itu, terasa lumayan oleh rakyat." (p. 23) Bagi Hatta, "Perjuangan di dunia bukanlah sikap yang mengelakkan kesukaran dan mencari jalan lari ke alam cita-cita, melainkan tenang dan tegas menghadapi kesukaran itu dengan maksud mengubah realitas itu berangsur-angsur ke jurusan cita-cita kita." (p. 23) Di sisi lain, banyak sekali perusahaan2 yang mengurangi kemakmuran.

Meski, mau tak mau perlu diakui, perusahaan2 (yang menjadi lawan koperasi) itu memberikan andil ekonomi bagi pendapatan bangsa. Selama masih memberikan nilai positif, dia akan sukar diusik kedudukannya. Kecuali negara mampu menciptakan sistem yang lebih baik. Koperasi juga perlu membuktikan kelebihannya dibanding perusahaan2 itu. Kelebihan ini tidak lewat semboyan, tapi praktik. Secara teori cukup dikemukakan, karena dalam koperasi, tak ada majikan dan buruh yang kepentingannya bertentangan. "Pada koperasi yang terutama ialah menyelenggarakan keperluan hidup bersama dengan sebaik-baiknya, bukan mengejar keuntungan seperti pada firma, perseroan anonim dan lain-lainnya itu." (p. 26) YANG PENTING ADALAH MEMBUKTIKANNYA DALAM PRAKTIK.

"Semboyan yang muluk-muluk sudah banyak dihamburkan, demonstrasi sudah banyak dilakukan, tinggal lagi sekarang menyelenggarakan semuanya itu dengan organisasi. Kalau kita akan ambil semboyan juga, ambillah sekarang sebagai semboyan: 'dari demonstrasi ke organisasi.' Organisasi adalah panggal kekuatan. Organisasi yang dibangunkan oleh kapitalisme kolonial hanya dapat kita lawan dengan organisasi pula, yaitu organisasi koperasi." (p. 27) Bukan semboyan tuntutan, tapi semboyan bekerja. Kekuatan koperasi terletak pada sifat persekutuannya yang berdasarkan tolong-menolong serta tanggung jawab bersama.

Hatta menyebut, sisa kolonialisme yang perlu diberantas salah satunya adalah inferioritas kompleks (inferioriteitscomplex) atau rasa rendah diri. Di mana seseorang lari dari perjuangan yang nyata dan lari ke jalan semboyan. Seperti tak minjem itu bagus, tapi malah gak pede sama kapital asing.

Jika dirangkum, ada tiga hal negatif yang perlu diselesaikan: (1) Indonesia dalam bentuk rusak sebagai akibat dari peperangan, pertempuran, dan politik bumi angus. Ini dilakukan oleh gerombolan penjahat dan pengacau. (2) kas yang kosong, tak hanya kosong, bahkan defisit terus selama lima tahun terakhir. (3) Rakyat miskin, sukar mendapat kapital dari rakyat untuk membelanjai pembangunan, yang menjadikan rakyat "een volk van koolies en koolie onder de volken." (sebuah bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa). Rakyat INA diperlakukan layaknya buruh rendahan atau tenaga kerja kasar tanpa nilai kemanusiaan. Dan menggambarkan posisi hina Indonesia dalam pergaulan internasional, bukan bangsa yang merdeka dan bermartabat, tetapi bangsa yang dieksploitasi dan dijajah, dianggap rendah di mata bangsa-bangsa lain.

Bangsa INA golongan bangsa termiskin di dunia. Tahun 1949, pendapatan INA hanya 2.000 juta dollar/tahun, bandingkan dengan USA 217.000 juta dollar/tahun. Kondisi timpang ini harusnya jadi bahan bakar untuk menjadi bangsa yang makmur di masa depan, asal mau bekerja, percaya diri, pandai menggunakan kemerdekaan, dan menjaga jasmani/rohani. Meski situasinya masih sulit, kurang makmur, kekurangan ahli, kurang kemauan, dan "Orang lebih suka malas daripada capek. Lebih suka bersemboyan daripada berjuang." (p. 32)

Dalam Pemikir Siasat Ekonomi tahun 1947 juga ada ide koperasi campuran yang disertai kapital asing, buruh Indonesia, dan pemerintah (IS: ini siasat neoliberalisme gak ya?), meskipun belum bisa karena pekerja, modal, tenaga, dan pimpinannya tak ada.

Hatta punya inisiatif ini dibangun dengan dari yang sederhana, sehingga lambat laut kemajuan akan terjadi secara organik di kalangan ahli koperasi sendiri. "Man's character has been moulded by his everyday work." (Alfref Marshall). Artinya, apa yang kita lakukan setiap hari dalam pekerjaan--cara kita bekerja, lingkungan kerja, serta jenis pekerjaan itu sendiri--secara perlahan membentuk siapa kita sebagai manusia.

Dengan propaganda dan latihan, diperluas dasar untuk berkembangnya koperasi tani, koperasi nelayan, koperasi kerajinan, koperasi perkebunan, koperasi kredit, koperasi pertukangan, koperasi konsumsi, dll. "Koperasi tani bisa kembang jadi koperasi desa, koperasi nelayan jadi koperasi perikanan, koperasi kerajinan jadi koperasi industri, koperasi kredit jadi bank koperasi." (p. 35)

Maka, tugas koperasi menurut tempat, waktu, dan keadaan:

(1) memperbanyak produksi terutama barang dan makanan yang diperlukan sehari-hari oleh rakyat. Perlu ada usaha tak impor beras dari luar negeri.

(2) memperbaiki kualitas barang yang dihasilkan rakyat. Perbaikan kualitas bisa diusahakan sendiri, karena harga sepatu lokal dan internasional beda jauh meskipun kualitas sama. Koperasi bisa menambah perbaikan kualitas bersama.

(3) memperbaiki distribusi, pembagian barang kepada rakyat. Jangan sampai barang dipermaikan, untuk mendapatkan keuntungan.

(4) memperbaiki harga, yang menguntungkan bagi masyarakat. Koperasi perlu mengadakan perbaikan harga dengan memperimbangkan kepentingan masyarakat.

(5) menyingkirkan penghisapan oleh lintah darat. Melepaskan rakyat dari penghisapan sistem ijon dan riba.

(6) memperkuat pemaduan kapital, dengan mempergiat kemauan menyimpan sebagai kewajiban moril.

(7) memelihara lumbung simpanan padi atau mendorong tiap desa menghidupkan kembali lumbung desa.

Lumbung cukup untuk makanan rakyat dari panen ke panen dan untuk bibit, sehingga paceklik bisa diatasi. "Kelebihan produksi padi di desa dari keperluan konsumsi dari panen ke panen diusahakan oleh koperasi menjualnya di kota atau dibawakan ke daerah lain yang berkekurangan." (p. 39) Di akhir pidato radio Hatta tertanggal 11 Juli 1951 ini, dia melempar pertanyaan, "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan". "Kekuatan untuk bekerja terletak pada derasnya darah kebangsaan yang mengalir dalam urat dan tubuh saudara, yang setiap detik memperingatkan saudara kepada pertanyaan: sanggupkah kita memperkokoh perumahan nasional kita?" (p. 40)

3. Amanat Pada Hari Koperasi yang Pertama 12 Juli 1951

Dalam amanatnya di Hari Koperasi pertama, Hatta mengingatkan ulang pembukaan UUD Pasal 38, terkait tujuan menyelenggarakan kemakmuran rakyat dengan jalan menyusun perekonomian "sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan", yang diwujudkan dalam bentuk koperasi. Kerja antara mereka sebagai satu keluarga. Tak ada pertentangan antara majikan dan buruh, pemimpin dan pekerja, sebagaimana satu orang dalam keluarga bertanggung jawab atas keselamatan rumah tangga. Meskipun ada pemimpin, tetapi kewajiban untuk menjaga keselamatan koperasi adalah "sama berat". Suburnya koperasi bergantung pada keinsafan dan cita-cita para anggotanya.

Namun, di pidatonya ini, Hatta juga mengingatkan agar tidak lupa pada realitas. Untuk mengubah realitas pahit secara berangsur untuk menuju cita-cita. "Percaya pada diri sendiri beserta gembira bekerja dengan tiada gentar menghadapi kesukaran--itulah pangkal kekuatan membangun masyarakat koperasi." (p. 43) Hatta bilang, membangun koperasi menghendaki latihan jiwa dan didikan diri sendiri, idealisme yang berdasar realitas, percaya pada diri dan tak lupa daratan, berusaha sabar dan yakin. Dia juga mengingatkan lirik lagu Rene de Clerq: "Hanya satu tanah yang bernama Tanah Airku / Ia makmur karena usaha, dan usaha itu ialah usahaku!"

Di sisi lain, pemerintah boleh mengatur dan membuat undang-undang, tapi jika peraturan itu "tidak bunyi" artinya tidak berasal dari kesadaran rakyat sendiri, peraturan itu tidak akan hidup dalam jiwa masyarakat (EUREKA!). Koperasi tidak hidup hanya lewat badan-badan koperasi, tapi juga jiwa ideal anggotanya. Tugas pemerintah di sini yang terberat ada di Pasal 2 dan 3 (Pasal 38): cabang produksi yang menguasai hidup banyak dikuasai negara; serta bumi dan kekayaan alam dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Di sebelah kewajiban pemerintah, juga ada kewajiban rakyat untuk menyempurnakan hidupnya dengan jalan koperasi. Setelah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat, maka perlu bertanggungjawab atas keselamatan dan kesejahteraan hidup kita di masa mendatang. "Koperasi menghidupkan semangat demokrasi yang sebenarnya, yaitu demokrasi politik-dan-ekonomi-dan-sosial!" (p. 46)

4. Renungan Hari Koperasi ke-II

Tulisan Hatta di sub-bab ini diawali dengan kutipan: "Le Principe de l'entente pour la vie est au moins aussi ancien que celui de la lutte pour la vie, et non seulerment dans la Societe humaine, mais aussi dans toutes les societes animales." (Gromoslav Mladenatz, dalam buku "Historie des doctrines cooperatives") Berarti, “Dasar bersekutu untuk hidup sekurang-kurangnya sama tua dengan dasar berjuang buat hidup, dan tidak saja dalam masyarakat manusia, tapi juga dalam segala persekutuan hewan.“ Artinya, prinsip dasar dalam kehidupan sama tuanya dengan prinsip persaingan/perjuangan untuk hidup. Tak hanya manusia, hewan pun hidup dalam sistem sosial yang menunjukkan kerja sama bukan hanya kompetisi semata.

Hatta menolak pandangan Darwinis atau kapitalis ekstrem bahwa "hanya yang kuat yang akan bertahan". Kerja sama, sama alamiahnya dengan kompetisi, pembangunan masyarakat tak hanya didasarkan pada persaingan bebas, tapi juga semangat saling menolong. Ini selaras dengan prinsip koperasinya Hatta, yang dibangun atas dasar kolektivitas, solidaritas, dan keadilan sosial, bukan semata kompetisi individu. (EUREKA). (IS: Banyak moment Eureka yang aku temukan setelah membaca buku ini, buku yang amat-amat penting bagi setiap aktivis koperasi!)

Kukira, Hatta sangat punya passion yang besar soal koperasi, itu tercermin dari pidato-pidatonya di Hari Koperasi yang tercantum di dalam buku ini. Dia pendukung koperasi yang sangat loyal dan hard core, yang selalu memperbarui semangat mereka yang kehilangan nyala. Sebagai suatu tradisi, koperasi memiliki cita-cita luhur yang bisa membuatnya berumur panjang. Koperasi memiliki cita-cita membangun masyarakat gotong royong, dan koperasi perlu anak tangga naik ke tujuan yang dicita-citakan. Tiap hari ulang tahun koperasi, Hatta berharap gerakan koperasi semakin baik. Dia selalu mengingatkan, dasar koperasi ada dua "usaha bersama" dan "asas kekeluargaan" (seolah semua pekerja adalah anggota famili). Usaha bersama ini memang ada di perusahaan kapitalis (kerja sama antara majikan dan buruh, kerja sama yang timbul karena unsur paksaan, kerja atas dasar kemustian).

Sebagaimana yang dikatakan Werner Sombart, kapitalisme ada kontradiksi yang jelas antara majikan dan buruh, yang keduanya dihubungkan oleh pasar, dengan cita-cita pada keuntungan dan rasionalisasi ekonomi. Kekeluargaan di sini tak ada, dan inilah yang menjadi kekuatan koperasi. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan Franz Staudinger dalam buku "Die Konsumgenossenschaft" bahwa "Koperasi adalah suatu perkumpulan orang yang merdeka keluar masuk, atas dasar hak yang sama dan tanggung jawab yang sama, untuk menjalankan bersama-sama perusahaan ekonomi, yang anggota-anggotanya memberikan jasanya tidak menurut besar modalnya, melainkan menurut kegiatannya bertindak di dalam perusahaan mereka itu." (p. 50) Koperasi sangat demokratis dan lepas sekali dengan kapitalisme. Jalannya adalah jalan auto-aktivitet, saling hidup menghidupi.

Menurut Robert Owen, koperasi juga berdasar pada cita-cita sosialisme. William King juga bilang, koperasi harus mempertinggi moral manusia. Sementara Charles Gide juga mendukung koperasi yang terlepas dari pengaruh politik dan agama. Di sini, masalah yang masih diaddress sampai sekarang, "Bagaimana menyesuaikan secara harmoni, sifat individualisme yang ada pada setiap orang dengan bangunan yang berdasarkan pada solidaritas?" (Isma: Di sini, aku jadi ingin menelusuri lebih jauh terkait sumber pemikiran Hatta terkait koperasi dalam buku ini, lewat tokoh-tokoh yang disebutnya). Adapun isi dan peraturan UU Koperasi tidaklah statis, melainkan dinamis sesuai zaman masyarakat, dan yang tak sesuai masanya perlu diganti. Di bab ini, Hatta juga mengungkap ulang tujuh pasal yang perlu dilaksanakan oleh koperasi. Tujuh hal ini mempengaruhi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Tugas koperasi kita

Hatta menanyakan, dari tujuh pasal itu, mana yang sudah dilaksanakan? Apa kesulitan yang dihadapi? Di sini Hatta mulai melakukan SWOT. Dan yang terpenting, adakah penyelenggaraan tugas itu merata kepada segala macam koperasi dalam lapangan tujuan kemakmuran dan kesejahteraan hidup? Garis besarnya, rakyat dibagi dalam dua golongan besar: produsen (si penghasil) dan konsumen (si pemakai). Produsen di sini golongan yang langsung menghasilkan produk, seperti petani, nelayan, pengusaha kerajinan, pertukangan, dan industri. Konsumen adalah golongan buruh, yang hidup dari gaji dan upah. Jika mengatur masyarakat atas dasar koperasi, perlu memperhatikan cabang-cabang penghasilan. Indonesia yang kaya, kita perlu menghasilkan sendiri kebutuhan makanan, pakaian, dan perumahan.

Tugas koperasi konsumsi adalah memperbaiki distribusi dan harga bagi kaum yang lemah. Syarat agar koperasi konsumsi kuat adalah "tidak memberi kredit kepada anggota, dan hanya menjual kontan." Sebab, kredit melemahkan koperasi, karena itu modal untuk diputar. Hatta mengingatkan, "Penjualan dengan kredit senantiasa memikat orang membeli lebih dari pada kesanggupannya membayar. Karena itu, ia terjerat oleh hutang." (p. 57). Prinsip koperasi, "beli kontan, jual kontan!". Hatta kembali menyebut teladan koperasi di Rochdale, Inggris, 1843. Hanya dengan 28 poundsterling mereka membangun dunia baru dengan anggota hampir 10 juta. Data ini diambil Hatta dari buku Prof. Bernard Lavergne berjudul "La Revolution Cooperative" (p. 84).

Koperasi kredit juga perlu diperbesar untuk memperbaiki nasib sendiri. Agar rakyat tak tertipu ijon, riba, dan lintah darat. Politik pemerasan adalah corak dari kapitalisme. Koperasi juga tidak boleh jatuh untuk keperluan partai. "Selagi politik adalah medan aktivitas yang membawa perpisahan menurut keyakinan, koperasi adalah medan penghidupan yang menyatukan. Orang yang berlainan paham tentang politik nasional, dapat bersatu dalam usaha koperasi." (p. 61)

5. Amanat pada Hari Koperasi yang ke-II 12 Djuli 1952

Pada tahun 1951, tercatat jumlah koperasi di Indonesia ada 5.790 buah dengan anggota 1 juta lebih sedikit, di antara jumlah penduduk saat itu sekitar 75 juta jiwa. Untuk mengembangkan ini, sebagaimana dikatakan Beatrice Potter dalam buku "The Co-operative Movement in Great Britain", bahwa cita-cita dan pergerakan saling hidup menghidupi. Begitu pun kata Gromoslav Mladenatz, "Dalam sejarah koperasi, cita-cita ada kalanya mendahului pelaksanaannya dan ada kalanya mengikutinya... Cita-cita dan pelaksanaannya berlaku dalam gerakan koperasi dalam keadaan selalu berganti-ganti mempengaruhi dan membuka pikiran." Hatta mengingatkan, koperasi harus hidup dari akarnya sendiri, tak boleh tumbuh pada pohon yang lain sebagai dalu dan pasilan. Kemauan koperasi memang kuat, tapi pahamnya masih kurang mendalam.

Hatta menyebut beberapa fase pembentukan koperasi yang ada di Indonesia, di antaranya, pertama, koperasi majikan yang dimulai dengan pemilik modal yang besar sebagai majikan. Fase kedua, mengembangkan koperasi majikan menjadi koperasi seluruh pekerja yang mengerjakan pokok usaha. Di tulisan ini dia berharap, ke depan pemahaman tentang koperasi semakin mendalam dan meluas.

6. Koperasi Jembatan ke Demokrasi Ekonomi

Dalam awal bab ini, Hatta mengutip sosialis utopis Prancis bernama Charles Fourier, "Nous voulons bâtir un monde où tout le monde soit heureux." ("Kami ingin membangun dunia di mana semua orang hidup bahagia.") Idealisme sosial untuk menciptakan masyarakat utopis, adil, setara, dan membahagiakan untuk semua. Charles Fourier (1772-1837) mengkritik keras kapitalisme dan ketimpangan. Dia membayangkan sistem masyarakat yang disebut “falanstère”: komunitas kolektif yang egaliter, di mana kerja, kesenangan, dan solidaritas menyatu demi kebahagiaan bersama.

Tulisan ini merupakan refleksi Hatta di hari koperasi yang ketiga. Dia menyebut ulang "gerakan menabung sepekan", dia optimis jumlah koperasi bertambah 2000 buah (jadi 7700 buah) pun dengan simpanannya dan jumlah anggotanya 1.180.000 orang. Koperasi berdasarkan "self-help" dan "auto-aktivitet". Bahkan Severin Jorgenson dalam buku Henning Ravnholt "The Danish Co-operative Movement" (p. 10) menyebut, "Kepentingan perkumpulan koperasi yang sebenarnya, yang tak ternilai besarnya ialah... bahwa ia adalah sekolah untuk mendidik diri sendiri bagi anggota-anggotanya. Ia mengajar mereka mengemudikan sendiri dengan bebas perusahaan mereka dan mengajar mereka bersekutu dengan yang lain." (p. 75) Sebagai pembelajaran dari koperasi kuat, Denemarkan (Denmark).

Hatta di sini juga menyinggung psikologi diktator yang mudah tersinggung. Kritik seberapa pun baiknya dianggap merusak prestige, sehingga perlu dibasmi. Apa yang menjadi alat kemudian menjadi tujuan itu sendiri. Sementara kritik dalam demokrasi perlu dipikul oleh rasa tanggung jawab yang dipupuk dalam koperasi. Belajar dari koperasi pertama di Rochdale, 1844, ada lima pokok dasar: (1) perkumpulan koperasi dikemudikan oleh anggotanya sendiri; (2) tiap-tiap anggota mempunyai hak suara yang sama; (3) tiap-tiap orang dapat diterima menjadi anggota koperasi--meski politik berlainan; (4) keuntungan dibagi antara anggota menurut djasa mereka dalam memajukan perkumpulan; (5) satu bagian yang tertentu dari pada keuntungan diuntukkan guna pendidikan.

Di sisi lain, Koperasi Pionir Rochdale juga memuat dasar-dasar moral: (1) tidak boleh dijual dan dikedaikan barang yang palsu; (2) ukuran dan timbangan barang mesti benar dan dijamin; (3) harga barang mesti sama dengan harga pasar setempat; (4) jual-beli dengan kontan, kredit dilarang karena membuat orang membeli jauh dari tenaga belinya. Koperasi mendidik seseorang bersifat sosial dan jujur, dan "pandai menjaga diri dari bujukan ekonomi." (saik)

Hatta juga memuji koperasi di Denermarken yang dijalankan lewat prinsip demokrasi dan menjadi teladan dalam hal gerakan koperasi. Renungan yang Hatta bawa di Hari Koperasi Ketiga, "Sudahkah terdapat dari tahun ke tahun perbaikan kualitas, untuk mendekatkan diri kepada ideal?" Tak hanya renungan filsafat, tapi juga renungan realis perbuatan diri sendiri, terkait halangan, tantangan, dll. Koperasi Denemarken sendiri punya alat lain yang disebut "Sekolah Tinggi Rakyat" (Danske Folkehojskole). Sekolah ini mendidik moril orang biasa untuk mempertinggi budi pekerti, yang insaf dengan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat.

Prof. Dr. A. H. Hollmann menulis terkait Sekolah Tinggi Rakyat itu dengan: "Sekolah ini bernama sekolah tinggi, karena ia mempersoalkan hal-hal yang tinggi-tinggi yang menggerakkan hati bangsa, dan ia bernama sekolah rakyat, karena ia menuju rakyat seluruhnya dan membicarakan hanya soal-soal yang masyarakat rakyat seluruhnya. Tujuannya ialah menimbulkan suatu kebudayaan nasional, yang ke atas dapat meruncing mencapai puncak yang setinggi-tingginya, sesuai dengan sifat manusia, akan tetapi dasarnya serupa dan merata, dan tercapai bagi tiap-tiap orang. Jalan untuk mencapainya itu ialah pendidikan peribudi (persoonlijkheid) manusia, karena hanya di dalam perasaan peribudi yang bebas dapat berkembang keinsafan kebudayaan." (p. 83-84) Di Denmark, koperasi bukan dibentuk karena kemiskinan, tetapi karena rakyatnya sudah sadar akan pentingnya bekerja sama secara adil.

Serupa di Denmark, Hatta berpikir bagaimana kalau kita mendirikan "Balai Pendidikan Rakyat"? Meski dia bilang masih sulit karena koperasi kekurangan kader, tapi dia ingin memulainya dengan permulaan lewat Sekolah Kader. Ini juga membutuhkan sifat setia kawan dan budi pekerti sebagaimana yang disebut Prof. Dr. Ernst Gruenfeld dalam buku "Das Genossenschaftswesen, volkswirtschaftlich und soziologisch betrachtet". Pekerjaan ini meminta waktu dan kehendak untuk dikerjakan sekarang juga. Tak perlu genap (sempurna) dulu, karena dengan perasaan segala genap, tak ada yang akan dibangun. Dasar kita bekerja adalah mencapai perbaikan senantiasa! Segala macam produksi perlu diselenggarakan, baik itu yang besar, sedang, maupun kecil. Karena koperasi dari yang lemah, oleh karena itu dimulai dari produksi yang kecil-kecil.

Di akhir tulisan bab ini, Hatta mengutip buku Bernard Lavergne berjudul "La Revolution Co-operative" (p. 368) bahwa, "cita-cita koperasi berhasil menjatuhkan kepentingan seseorang dengan kepentingan bersama."

7. Amanat Pada Hari Koperasi ke-III 12 Djuli 1953

Hatta di bab ini menunjukkan data kemajuan jumlah koperasi yang meningkat dari tahun 1939 s.d. 1951 sebanyak sepuluh kali lipat. Semangat untuk menyimpan juga meningkat. Prinsip self-help, menolong diri sendiri lebih dulu, lalu membela keperluan hidup bersama. Dia juga menanyakan, sudah adakah koperasi susu, koperasi telur, koperasi sayur, dll?

Hatta tidak memberatkan pada kemampuan modal koperasi, tapi yang disukarkan adalah bagaimana mengadakan organisasinya, menyusun kemauan yang teratur. Dia juga menekankan, majunya koperasi bergantung pada kader pemimpin yang jujur dan cakap, dan kita masih kekurangan. Hatta berinisiatif untuk mengadakan Sekolah Menengah Koperasi yang sederajat dengan SMA. Hatta bilang, "Didikan koperasi harus banyak berdasar kepada humanisme dan pengertian tentang gotong royong dalam sejarahnya dan perkembangannya." (p. 99) Dia menekadkan tekad untuk mendirikan Sekolah Menengah Koperasi.

Sampai Dimanakah Kita?

Dalam bab ini dia mengajukan suatu pertanyaan: Sampai di manakah kita sekarang, dalam membangun Tanah Air kita menurut cita-cita yang tertanam dalam UUD RI? Dia juga bercerita terkait perkembangan pendidikan koperasi, di Jogja telah berdiri Sekolah Menengah Koperasi yang setingkat SMA, yang biaya mulanya ditanggung oleh Koperasi Batik Indonesia. Juga di Jakarta dekat Pasar Minggu ada Gedung Pendidikan Koperasi atas inisiatif GKBI. Gedung ini mengadakan kursus pegawai Djawatan Koperasi dan pengurusnya; kursus internasional yang dipimpin ILO, FAO, dan ICA; mengadakan ceramah terkait koperasi. Hatta mengatakan, lebih baik satu sekolah koperasi tapi mutunya baik, daripada banyak tapi mutu rendah dan gak karu-karuan, karena akan rugi biaya, semangat, cita-cita. "Rubuh koperasi, rubuh pula sendi kemakmuran rakyat." (p. 107)

Siapa pun yang memecah persatuan koperasi, karena sentimen politik, ia berdosa terhadap cita-cita negara. Kekuatan koperasi terletak pada usaha bersama dalam suasana kekeluargaan, yang memupuk kesadaran agar harga diri. Partai hanyalah alat, bukan tujuan. Dia juga mengingatkan terkait dasar moril dalam Pancasila. Pengakuan lima dasar itu bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan. Hatta menilai, yang paling berkembang adalah koperasi kredit (simpan-pinjam), dan yang berkembang sedikit sekali adalah koperasi konsumsi. Sampai akhir tahun 1953, ada 1237 koperasi produksi, di antaranya: 700 koperasi pertanian dan hasil hutan, 93 koperasi perikanan, 20 koperasi peternakan, 225 koperasi kerajinan dan perindustrian, dan 199 koperasi produksi yang belum bisa diberi corak yang tepat.

Hatta menyebut kembali koperasi-koperasi di Denmark, Swedia, Finlandia, Belanda, dan Jerman. Terutama di Jerman Barat, ada isu Koperasi Raksasa (Grossgenosssenschaften), koperasi akan hilang sifatnya jika dia berkembang jadi perusahaan besar. Kata Hatta pula, ekspor ada untuk membayar impor, produksi nasional harus direncanakan.

Amanat Pada Hari Koperasi ke-IV 12 Djuli 1954

Di bab ini, Hatta memaparkan data gerakan "Pekan Tabungan Rakyat" dari tahun 1951 hingga 1954, yang jumlahnya terus meningkat. Jangan lupa, jumlah kita banyak, malu sama bangsa asing kalau tak bisa mengerjakan pembentukan kapital. Perlu ada tanda kemauan, "mau hidup" dan "hidup makmur". Ini dimulai dengan gerakan menabung, seperti setiap anak sekolah perlu tabung 6-10 sen tiap minggu. Juga rumah tangga perlu menyimpan Rp1 per minggu, ini bisa mendukung pembentukan kapital, jika diimbangi dengan kesungguhan hati.

"Koperasilah satu-satunya jalan bagi ekonomi yang lemah untuk mencapai kekuatan." (p. 124) Dia juga merinci simpanan pokok, wajib, manasuka, dan bukan anggota. Rakyat yang bersedia menyimpan di sini menunjukkan kesadaran akan hidup dan keluarganya di masa depan. Dia berharap, gerakan menyimpan di koperasi bisa mencapai kemajuan dan mengharumkan nama gerakan Koperasi Indonesia di luar negeri. "Dengan koperasi kita memperkuat moril rakyat kita, mempererat tali persaudaraan sebangsa." (p. 128)

Jakarta, 15 Mei 2025

Minggu, 11 Mei 2025

The Chronicles of Narnia Part 3: The Horse and His Boy (Kuda dan Anak Manusia)

Yass! Aku telah menyelesaikan seri Narnia ketiga, dan dari dua petualangan sebelumnya, aku paling suka yang ini. Banyak kedekatan yang aku rasakan ketika membacanya, terlebih nama-nama tokohnya juga indah dan terasa karib: Sastha dan kudanya Bree, Aravis dan kudanya Hwin.

Seperti biasa, aku akan menceritakan ulang padamu apa yang kubaca dan kutangkap dari buku Narnia bagian ketiga. Di sebuah pesisir hidup nelayan miskin bernama Arsheesh. Dia hidup bersama seorang anak (yang ternyata bukan anak kandungnya, tapi dia temukan dalam sebuah sekuci di pinggiran laut), dia bernama Sastha. Hidup di budaya nelayan miskin, Sastha sangat akrab dengan budaya kasar khas pesisir, dia juga tak diajari bagaimana berperilaku bangsawan. Namun, hanya dengan melihat fisiknya, orang bisa tahu dia keturunan orang terhormat, mungkin bandingannya saat kau menemukan Chelsea Islan tinggal di perkampungan akuarium Jakarta Utara kali ya, haha. Fisik Sastha lebih putih dibanding masyarakat Calormen pada umumnya yang hitam.

Next, suatu hari, datanglah Tarkaan (dia sejenis orang terhormat dari kerajaan gitu) ke gubug Arsheesh. Tarkaan ini ingin membeli Sastha untuk dijadikan budak. Tarkaan datang bersama dengan kudanya. Bukan sembarang kuda, dia adalah kuda perang, berasal dari negeri Narnia, dan bisa bicara. Ketika Tarkaan dan Arsheesh berunding tawar-menawar harga Sastha, si anak malang mendengar rencana jahat itu. Dia sedih, dan sedihnya didengar oleh kuda Tarkaan yang bernama Bree. Setelah ngobrol terkait masalah masing-masing, keduanya memutuskan untuk melarikan diri. Bree ingin kembali ke Narnia, dan Sastha tak mau jadi budak, dia ingin pergi ke Utara untuk mencari asal-usulnya.  

Pelarian itu awalnya berhasil. Mereka melewati jalan untuk mencapai negeri Utara. Namun, di tengah perjalanan, ketika sampai di sebuah hutan, mereka mendengar ada kuda bangsawan lain yang berjalan tak jauh dari Sastha dan Bree. Mereka bertemu dengan pelarian lain, seorang perempuan remaja seusia Sastha bernama Aravis yang datang menunggai kuda bernama Hwin (yang juga bisa berbicara dan sama-sama dari Narnia). Ketika sampai di sungai, empat makhluk ini ketakutan karena sama-sama dikejar oleh singa. Hingga akhirnya mereka berempat saling berpapasan dan menceritakan kisah dan masalahnya masing-masing. Ternyata, Aravis kabur karena dia taku mau dinikahkan dengan raja tua bangka umur 60 tahun, berwajah jelek, dan beristri banyak bernama Ahoshta Tarkaan. Aravis sendiri juga adalah anak seorang bangsawan yang hidup makmur dan berkelimpahan.

Sayangnya, pertunangan itu menghancurkan hatinya hingga di titik paling nadir, dia ingin bunuh diri saja. Namun, tindakan konyol Aravis itu dicegah oleh Hwin yang bersifat dan menasehatinya dengan nada keibuaan. Kata Hwin, kalau kau hidup, akan ada kemungkinan kau punya kisah lain, tapi kalau kau mati ya mati. Menurutku, kata-kata ini sangat dalam. Aravis pun menemukan semangat baru, dia ingin ikut Hwin untuk pergi ke Narnia dan mengubah penderitaannya. Dalam cerita tengah malam itu, keempat makhluk itu pun saling memahami kondisi masing-masing. Mereka pun saling bekerja sama untuk mencapai tujuan, pergi ke Narnia. Aravis sebenarnya sangat kasar awalnya dengan Sastha, dia sempat bilang, "Aku tidak bisa melakukan semua itu demi bisa menyenangkan hati mu." (hal. 65) Sementara dalam cerita Bree, Shasta merasa Bree terlalu melebih-lebihkan bagian dirinya terjatuh dan tidak bisa berkuda dengan baik.

Mereka pun menyiapkan strategi cara mencapai Narnia yang ternyata sama sekali tidak mudah. Mereka harus melewati negeri Tisroc (dia seperti seorang nabi, tiap kali namanya disebut selalu diikuti "panjang umurlah dia selamanya"), negeri itu bernama Tashbaan, dengan leluhur bernama Tash yang mulia. Masuk ke negeri ini tak gampang karena mereka harus menyamar jadi gembel terlebih dahulu agar tidak dicurigai. Bisa sih menyeberang sungai, tapi pasti akan terlihat oleh para penjaga dan tindakan itu juga mencurigakan. Namun, Bree dan Hwin tak bisa dibohongi jika fisik mereka adalah kuda perang. Akhirnya, kuda-kuda itu memutuskan untuk memotong surainya agar terlihat seperti kuda menyedihkan milik kaum papa. Keempat makhluk ini telah berjanji, jika mereka mencar, mereka akan bertemu di makam para leluhur tua yang bentuknya seperti sarang lebah di Papua. Tempat ini dianggap aman karena orang-orang tak akan berani untuk melewatinya. Sementara, keempat tokoh utama menolak takut. Kata CS Lewis mengungkapkan isi hati Sastha, "Semua rencana itu payah, dan akhirnya dia memutuskan melaksanakan rencana yang paling payah."

Penyamaran ke Tashbaan itu berhasil, sayangnya, Bree diculik, Aravis malah bertemu dengan sahabat (yang menurutku khas perempuan-perempuan rempong yang suka dengan kecantikan, tahta, gaun, dan perhisasan) bernama Lasaraleen Tarkheena, yang juga sobat kecil Aravis. Sesungguhnya, Lasaraleen memang lebih pintar bicara daripada mendengarkan. Sementara itu, Sastha juga dibawa ke sebuah kerajaan orang-orang Narnia, karena ada Ratu Susan, Raja Edmund, serta gank-nya yang lain sedang berunding. Sastha ternyata dianggap salah saru raja Anvard, karena sangat mirip dengan Pangeran Corin (ternyata Sastha punya saudara kembar, yaitu Pangeran Corin). Di sana Satha mendengar semua kegelisahan kerajaan, bagaiamana Susan merasa jengkel dan muak dengan Pangeran Rabadash (anak Tisroc) yang ingin meminangnya dengan ugal-ugalan, tapi karakternya red flag banget: emosioan, gak sabaran, sombong, ingin menang sendiri, dan tak tahu terima kasih. Rabadash juga sering menghina jajaran kerajaan sendiri, seperti ucapannya pada penasihat, "Aku sudah mendengar berbagai wejangan dan kalimat bijak yang membuatmu muak sepanjang hari dan aku tidak lagi bisa bersabar menghadapi ini semua."

Ketika rapat itu selesai, Sastha dibawa ke sebuah kamar, di jendela itu ternyata muncul anak lain serupa dirinya, dia adalah Pangeran Corin yang sesungguhnya. Sebab merasa aneh, Sastha dan Corin pun saling berkenalan, menceritakan kisahnya sedikit, hingga memberi jalan keluar untuk Sastha. Sastha pun mengikuti jalan yang ditunjukkan Corin untuk bisa mencapai Gundukan Makam Tua Leluhur. Setelah melewati berbagai rintangan, sampailah dia ketika malam. Sastha merasa tempat itu sangat angker, dan aku sangat suka bagaimana CS Lewis di sesi ini menceritakan terkait suasana makam itu, bagaimana bentuk dan gelapnya, semua pancaindra seolah diajak untuk membayangkan suasana horor yang dialami Sastha. Pokoknya suka banget bagian ini. Hingga akhirnya, di kegelapan itu, Sastha bertemu kucing kecil, lalu anjing luar, dan Sastha tak tahu, bahwa kucing dan anjing itu adalah Aslan yang ingin melindunginya, sebab Aslan merasa, "Sastha terlalu cemas dan terburu-buru untuk menghargai tempat-tempat itu." Sastha pun menunggu tiga sahabatnya yang lain di ujung makam, yang juga dekat dengan sungai. Setiap pagi dia juga mencari makan buah-buahan dengan memanjat dinding.

Ratu Lasaraleen
Sementara itu, Aravis terjebak bersama Lasaraleen di kerajaan besar Tisroc. Di sebuah tempat tersembunyi, kedua gadis ini mendengar dengan jelas rencana jahat Tisroc, anaknya Rabadash, dan penasihat kerajaan Ahostha untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Anvard dan Narnia yang damai tanpa pembicaraan perang sebelumnya (benar-benar pengkianat). Tisroc di sini juga adalah seorang diktator yang memegang jabatan sampai akhir hidupnya. Dia meski kadang bijak juga jahat juga. Dia membiarkan Rabadash melakukan tindakan seenaknya, dan pengecut kalau boleh dibilang. Rabadash pun mengatur strategi untuk menyerang Anvard dan Narnia, negeri Utara itu untuk mendapatkan Ratu Susan kemudian menikahinya, padahal Rabadash sendiri mengejek Susan sebagai ratu barbar.

Setelah Lasaraleen membantu Aravis keluar melalui pintu sebuah taman melewai sungai, akhirnya Aravis pun bertemu dengan Sastha. Yang aneh di sini, sebenarnya tak begitu dijelaskan dengan jelas nasib Bree dan Hwin, tiba-tiba saja mereka bertiga berjalan bersama menuju makam dan bertemu Sastha. Rencana jahat Rabadash pun diceritakan oleh Aravis, dan keempatnya bersepakat untuk segera menemui Raja Lune (pemimpin Anvard) bahwa akan ada peperangan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ternyata, mencapai Anvard tak semudah yang dibayangkan. Mereka harus melalui padang pasir yang panas, ketemua oasis, ketemu sungai, ketemu pegunungan yang menyiksa dengan kaktus-kaktus, sampai rasanya mereka tak kuat lagi. Namun, anehnya Sastha di tengah rasa pesimisnya selalu bisa menunjukkan dialah pemimpin.

Hingga suatu hari, ketika akan menuju Anvard, mereka dikejar-kejar singa lagi, yang tak lain adalah Aslan. Aravis kena cakar di punggungnya dan berdarah, ketika mau menerkam dan menyerang, tiba-tiba mereka berasa ada di dunia lain, pintu lain yang berwarna hijau muda, tempat itu milik Petapa Perbatasan Selatan. Seorang kakek tua dengan janggut panjang. Di kerajaan kecilnya itu, dia juga punya kolam ajaib yang bisa melihat situasi lain di luar kerajaannya. Di sanalah, para kuda yang kelelahan dan Aravis yang kesakitan diobati. Namun, petapa memberi tugas khusus pada Sastha untuk segera menemui Raja Lune. Sastha pun melaksanakan perintah, dan akhirnya dia bertemu Raja Lune yang sangat senang melihat Sastha, dia menganggap Sastha adalah anaknya atau Pangen Corin. Sastha pun memberi tahu Raja Lune terkait ide busuk Rabadash, tanpa membuang waktu, dia melakukan perlindungan terhadap istana, menutup benteng perbatasan, dan memberikan Sastha kuda perang lain, yang sayangnya tak bisa dia gunakan dengan baik karena dia tak bisa menggunakan tali kekang kuda.

Petapa memberikannya peta, tapi di suatu titik, dia sampai di dua persimpangan, dan bingung harus ke kiri dan ke kanan. Di persimpangan itu, Sastha juga mendengar pasukan Rabadash mendekat. Akhirnya, dia memilih jalur aman, belok ke kanan dan menunggu, tapi ternyata Rabadash belok kiri. Namun, Sastha melanjutkan perjalanan ke kanan, semakin melewati dataran tinggi serupa pegunungan hingga dia tak bisa melihat cahaya lagi. Di kegelapan itulah, Aslan kembali menemuinya, dia menemani dan menguatkan Sastha. Jalan yang ditempuh Sastha ternyata adalah perjalanan menuju Narnia. 

Sementara, perang pun dimulai. Sastha, entah lewat mana, tiba-tiba bertemu Raja Lune dan Pangeran Corin. Mereka pun ikut berperang melawan 200-an kuda pasukan Rabadash. Meskipun dua pangeran itu sudah dilarang untuk jangan ikut perang, mereka masih anak-anak dan akan mati konyol, tapi Pangeran Corin yang kelas kepala keukeuh ikut. Akhirnya, ikutlah keduanya tanpa sepengetahuan Raja Lune. Di sisi lain, Aravis, Bree, dan Hwin melihat pertarungan tersebut melalui kolam ajaib milik petapa. Di sanalah petapa menceritakan bagaimana konyolnya Sastha yang tak mengerti sedikit pun tentang perang, sementara Corin sebaliknya, dia sangat sembrono menggunakan darah mudanya untuk ikut melawan. Perang pun terjadi, cukup besar, pintar sekali CS Lewis bercerita, dan prang dimenangkan oleh Anvard.

Paling konyolnya, Rabadash pakaian perangnya nyangkut di sebuah tiang, dirinya pun ikut nyangkut seperti anak kecil pakai pakaian kekecilan dan menjadi bahan tertawaan. Dalam situasi seperti itu pun, Rabadash masih mengumpat-umpat, benar-benar tak tahu malu.

Raja Lune dan pasukannya
Raja Lune kemudian sadar, jika Sastha adalah putra kembarnya yang hilang, nama aslinya adalah Pangeran Cor. Flashback, raja bercerita tentang ramalan centaurus bahwa salah satu anaknya akan menjadi penyelamat kerajaan. Namun, ada penasehat kerajaan yang jahat dan mencari info rahasia di kerajaan, ternyata dia adalah orangnya Tisroc. Karena tak suka dengan ramalan centaurus, dia membuang Cor ke laut. Meski ada seseorang yang menyelamatkan, juga atas bantuan Aslan yang membawa sekoci Cor pada nelayan miskin di pesisir.

Usai mengetahui itu, Sastha pun sudah menduganya sejak awal, karena dia mirip dengan Corin. Lalu, dia menjemput Aravis, Bree, dan Hwin di rumah petapa. Mereka diajak ke kerajaan Anvard. Di sana, Rabadash menjalani hukuman. Aslan mengkutuknya jadi keledai, dan kutukan itu akan kembali jika dia pergi ke kuil utama Tash. Namun, ketika dia keluar sekitar 14 kilometer dari Tash, kutukannya akan kembali, dan kutukan kedua itu tak bisa mengembalikan dirinya lagi jadi manusia. Rabadash pun akhirnya insaf dan menjadi Tisroc selanjutnya yang menjaga kedamaian. Meski di punggung yang lain, di buku-buku sejarah masyarakat Calormen, Rabadash adalah raja yang konyol.

Akhir yang indah pun terjadi di kerajaan Anvard. Raja Lune mendidik Pangeran Cor dengan berbagai didikan anak raja yang belum dipelajari Sastha (eh, Cor sebelumnya). Raja Lune juga menunjuk Cor untuk menggantikan posisinya, meski awalnya Cor menilai justru Corin-lah yang tepat menggantikan Raja Lune. Namun, Raja Lune berpendapat, Cor lebih pantas, karena dia lebih bijaksana, lebih baik, dan tak nakal serta menggebut-gebu seperti Corin. Cor juga lebih tua daripada Corin. Aravis juga tinggal di kerajaan itu, dia menemani Ratu Lucy. Setelah dewasa, akhirnya Cor dan Aravis menikah, mereka memiliki anak, dan menjadi Raja dan Ratu Kerajaan Anvard. Buku ditutup dengan manis. 

Buku ini jujur paling banyak quotes-nya dibanding dua seri sebelumnya. Kutipan yang kusuka salah satunya, "Jika kau melakukan satu perbuatan baik, imbalan perbuatan itu biasanya adalah kau harus siap melakukan tindakan lain yang lebih berat dan lebih baik." (hal. 203) Inilah yang berulang kali dilakukan Sastha, bukan dengan kata-katanya, tapi lewat perbuatannya.

Sabtu, 10 Mei 2025

Pramoedya, Kaum Muda, dan Keindonesiaan Masa Kini

Hari ini saya mengikuti Dialog Budaya dalam rangka tribute to 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer dengan judul "Kau Terpelajar, Cobalah Bersetia pada Kata Hati: Pramoedya, Kaum Muda dalam Sejarah dan Kekiniannya". Diskusi ini juga menjadi rangkaian dari pameran seni rupa "Jejak Langkah dalam Pertarungan" yang diselenggarakan oleh Teras Merah Kolektif, Pataba, para seniman yang terlibat, serta kawan-kawan lainnya. Diskusi dilaksanakan di Balai Budaja Jakarta, Sabtu, 10 Mei 2025. Hadir Dr. Max Lane selaku pembicara, Indonesianis yang banyak menerjemahkan dan mengulas karya-karya Pram ini hadir secara online dari Australia. Dialog juga dimoderatori oleh SK Muhammad dan dihadiri oleh generasi muda dari berbagai kampus, salah satunya dari Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Di awal paparannya, Max bercerita terkait bagaimana Pramoedya membangun suatu nation lewat karya-karyanya, terutama karya-karya yang dibuat di Pulau Buru. Dia juga menyinggung pemikiran yang disampaikan dalam bukunya "Unfinished Nation" (2007), yang melacak evolusi Indonesia di masa anti-kolonial, dan perjuangan melawan penjajahan. Max sangat merekomendasikan buku-buku Pram untuk dibaca, ditelaah, dan direfleksikan ulang dalam rangka membentuk Indonesia yang baru; terlebih dalam karya Tetralogi Buru, Arus Balik, Arok Dedes, dan lain-lainnya. Arus Balik menginspirasi "Sundaland" karya Arysio Santos, bahwa peradaban itu berasal dari Indonesia.

Selanjutnya, Max menjelaskan ada dua jenis Minke dalam karya Pram, Minke muda dan Minke Desa. Saat muda, pertama Minke ikut mendirikan Serikat Dagang, SDI, dll. Minke dalam “Bumi Manusia” digambarkan sebagai karakter yang sudah berpengalaman, dia menjadi manusia Indonesia. Di “Jejak Langkah” dia juga belum berdamai akan ada negeri bernama Indonesia. Dia menciptakan sastra nasionalnya sendiri. Buku itu juga menangkap sikap massa aksi sekarang, banyak persoalan, masyarakat Indonesia saat ini ada persamaan dengan tetralogi, yaitu sedang terjadi perubahan besar dan menciptakan sesuatu yang baru.

Menurut Max, dulu tak ada yang menciptakan organisasi, namun lewat tokoh Minke, Pram menunjukkan bagaimana pengalaman-pengalaman orang Belanda, orang yang ditindas, belajar bahasa baru, bersebelahan dengan Hindia Belanda. Sekolahnya pakai bahasa Belanda, saat menyelamatkan Annelis dia belajar dari nol bahasa baru. Saat itu juga tak ada gerakan yang mengampanyekan bahasa Melayu saat itu. Banyak proses yang terjadi, Minke punya pikiran ini negeri perlu dijadikan apa. Jadi belum ada Indonesia atau ada Indonesia, ini situasi yang luar biasa yang berkembang secara natural, grassroots, di tengah geopolitik-sosial situasi di Eropa, Asia, dll, di Tetralogi Buru ini dijelaskan.

Minke dewasa juga turlap ke petani. Di “Jejak Langkah” ada usaha membangun organisasi, Serikat Prijaji, Serikat Islam, setelah muncul gerakan yang memecah belah. Menurut Max, belum ada kekuatan yang melebihi ini, menyuarakan ini sebagai perubahan. Kekuatan yang menjadi motor penggerak perubahan. Ini sangat berguna untuk refleksi sekarang. 

Proses perubahan yang terjadi sekarang, yaitu menciptakan nasional baru. Dalam spektrum sekarang, pintu ini dibuka seluas-luasnya. Secara budaya sastra adalah sebagai seni, memperkaya jiwa. Kalau di Inggris baca Shakespeare, kalau itu tak dilakukan di sekolah, yang memperkenalkan sastra, sejarah hilang dan diselamatkan. Baca Tetralogi Buru penting menggambarkan proses menjadi. Ada pula Nyai Ontosoroh, yang digambarkan orang yang terkenal, ada perempuan perpustakaan. Sastra yang menggambarkan proses masyarakat yang berkembang.

Minke muda dan dewasa adalah perjalanan bangsa, dia tak cuma orang Jawa (muda), tapi orang Indonesia (Indonesia). Di “Jejak Langkah” dia juga jadi kosmopolit, apakah ada basis untuk mendidik. Menurut Max, pertama, Pram menggambarkan dengan sangat hidup. Kedua, Pram bisa menganalisis dan menciptakan Indonesia. Ini proses yang sangat hebat. Jadi kelompok perubahan pertama di Medan Prijaji, koran sebagai alat perubahan. Lalu Serikat Prijaji, SDI, saat itu koran Medan Prijaji diberangus. Kita akan menemukan kalau dibandingkan dengan di Eropa dan US, itu ribuan orang mempelajari Pram. Semua mahasiswa S1 yang melacak sejarah semestinya membaca Bumi Manusia yang juga menjadi bacaan wajib di US. Juga di level SMA juga diminta baca Bumi Manusia.

Di Singapura dan Malaysia, Pramoedya juga dibicarakan, dipelajari, di banyak negara. Bahkan sastra negeri sendiri belum dipelajari. Indonesia yang baru diciptakan dengan membaca Tetralogi Buru. Kawan muda akan membaca dan menulis terkait buku-buku Pram. Gerakan Teras Merah Kolektif ini sangat penting, untuk menggapai Indonesia baru.

Sesi tanya jawab:

Isma:

Seberapa kosmopolit Pram? Bagaimana pengaruh pemikiran atau pengalaman luar negeri terhadapnya?

Max:

Max Lane mengatakan, Pram tidak terlalu kosmopolit, tapi dia Indonesianis. Dia. Memang sering pergi kemana-mana tapi tetap jiwa dan raganya Indonesia. Membaca Pram, sangat Indonesia, saya sering ke rumahnya, dia tak pakai satu pun basa Jawa, seperti moggo, pinarak, sampeyan, dll. Dia sudah sangat Indonesia, 1990, baru mulai saat itu, bisa dibilang memikirkan proses ke-Indonesiaan. Pramoedya sangat Indonesia, tapi di buku kedua, “Anak Semua Bangsa”, dipengaruhi oleh berbagai situasi. Buku “Max Havelaar” sangat penting dan mempengaruhi Pram. Pertama kali Pram ke Tiongkok juga memperngaruhi. Dia juga baca Marx, Lenin, pertanyaan utama yang menjadi fokusnya adalah “mengapa Indonesia jadi begini?” Pengaruh luar negeri bisa terlihat saat ke Tiongkok yang menganut komunis. Pram juga menilai, Indonesia sangat-sangat ketinggalan dengan China, dia merespons dengan pertanyaan: mengapa ideologi tidak kuat di Indonesia? Dia mencari asal-usul masa lalu. Arok Dedes, Arus Balik, dan novel-novel prasejarah, karena dia bicara asal-usul. Bacaan kemudian, awal dari segala pemikiran adalah menjelaskan Indonesia itu sendiri. Proses Indonesia itu sendiri.

Moderator:

Dulu dia datang diskusi Calon Arang, ada yang menganggap Pram tak feminis, menurut Max sendiri gimana karya Pram terhadap gerakan perempuan?

Max:

Pram menggambarkan secara akurat kaum perempuan ditindas dan didiskriminasi. Di “Bumi Manusia” ada kisah perempuan diperkosa. Di Gadis Pantai juga, dia menggambarkan itu kenyataan yang harus diakui. Dari segi itu, ini memenuhi syarat Pram disebut sebagai feminis. Dia juga menggambarkan, perempuan punya kemampuan melawan. Dari karya-karya Pulau Buru, terlihat, juga sosok Nyai Ontosoroh. Dia menggambarkan realitas perempuan Indonesia dari karya-karya Pram yang bisa disebut feminis. Ideologi feminis pun macam-macam, tapi yang harus dicatat, karya Pramoedya yang saya gambarkan tadi.Max Lane tidak menyukai film "Bumi Manusia" karena di film itu tak menggambarkan sedikit pun bagaimana Nyai Ontosoroh berpendidikan lewat buku-buku di rumahnya.

Moderator:

Dua tiga tahun terakhir, ada gerakan anak muda, seperti Indonesia Gelap. Juga anak-anak muda yang membaca Pram, seperti di media sosial. Ternyata sekarang sudah enak, gak ngomongin komunis tapi juga anarkisme, dan seperti hal yang seksi dan dikambinghitamkan. Di Indonesia Gelap juga gak sedikit yang pakai baju Pram, mengutip omongan Pram, ada juga selebriti Lola Amaria yang membuat film Pram. Bagaimana tanggapan Anda?

Max:

Ada peningkatan perhatian untuk Pram, dari kos sampai belakang truk ada karya Pram. Tapi kadar intelektualnya perlu ditingkatkan lagi. Mengambil pelajaran moral dan kepribadian, dari ucapan Minke dll, kalau mau mempelajari teliti, banyak ucapan bijak. Nyai Ontosoroh juga banyak kata bijak dari Kartini. Secara penciptaan  nation, itu juga penting. Satu, merindukan negeri dengan kepribadian seperti Minke, bukan kepribadian yang kosong seperti orang Indonesia sekarang. Indonesia rindu akan itu. Kecurigaan kedua, di “Anak Semua Bangsa”, Indonesia ini sangat-sangat menarik. Yang menarik itu Indonesia, menjadi sejarah yang melahirkan pemikir-pemikir yang hebat. Menciptakan Indonesia baru. Bagaimana prosesnya, ini yang belum cukup dihayati. Ini lebih dari sekadar kutipan-kutipan di kaos. Ini kerja-kerja keras dan intelektual, PR bagi banyak universitas-universitas di Indonesia. 

Moderator:

Kita ditantang untuk membuat Indonesia baru, jika kita hayati secara intelektual. Pram ini juga menurut saya sangat menghayati Al-Quran. Karena beberapa karyanya bikin merinding, waktu itu di ramadan, saya mengkhatamkan Al-Quran.

Max:

Pramoedya juga baca kita berbagai karya-karya besar. Buat saya pribadi hampir semua kitab agama hadir. Membangunkan kemanusiaan, itu yang diambil dari berbagai kitab. Makhluk yang dinamakan manusia, bagaimana membangun hal yang manusiawi dan dikembangkan. Pertanyaan yang perlu dijawab seperti, situasi masyarakat bagaimana? Perkembangan manusia sebagai makhluk manusiawi. Tapi perasaan saya, dia menghayati aspek-aspek para pemikir besar dan kitab-kitab dari aspek kemanusiaan. Konsep manusia sebagai menjaga manusia, potensi manusia bisa digambarkan. Manusia menjadi khalifah di bumi dan saling menjaga manusia dan alam.

Moderator:

Tantangan terhadap generasi muda: bagaimana membentuk Indonesia baru, untuk membentuk karakter Indonesia.

Hari Minggu ini juga menjadi penutupan pameran seni rupa "Jejak Langkah Dalam Pertarungan". Diadakan pula berbagai kegiatan seperti workshop, performing art, dan sepecial performace Pandai Api dan orasi kebudayaan. 

PS: Ini untuk kesekian datang ke diskusinya Max, Indonesianis yang khatam baca Pram, menerjemahkan Pram, dan kupikir Indonesianis paling loyal kalau bicara terkait Pram. Dia hadir secara online dari Australia, tadi juga terjadi technical issue yang membuat diskusi terhenti, sehingga dari yang awalnya di proyetor, pindah ke video call WA. Thanks buat Mas Adi dkk yang udah bantuin. Kalau karakter manusia Indonesia belum bisa setaraf Minke (yang kata Max Lane, Minke itu embrionya manusia Indonesia), atau paling gak mendekati Minke tapi di bidangnya masing-masing, keknya masih gelap tuh cita-cita Indonesia Emas 2045. Terinspirasi dari Pram, moderator Mas Santos juga bilang, "Kalau kau kelinci, janganlah beralihkan bulumu jadi rubah. Belajar jadi diri sendiri, pelajari Indonesia dari aslinya. Seperti orang Indonesia yang membuat keris dari tangannya."

Jakarta, 10 Mei 2025

Kamis, 08 Mei 2025

The Chronicles of Narnia Part 2: The Lion, The Witch, and The Wardrobe (Sang Singa, Sang Penyihir, dan Lemari)

Aku menyelesaikan seri kronik Narnia bagian kedua "The Lion, The Witch, and The Wardrobe (Sang Singa, Sang Penyihir, dan Lemari)" saat sedang di Bandung. Aku merasa tulisan CS Lewis enak dinikmati dan tak membuatmu bosan. Kukira, seri dualah yang paling banyak dikenal dan popularitasnya melejit dibandingkan seri-seri yang lain, karena petualangannya yang cukup kompleks. 

The Lion, The Witch, and The Wardrobe
Di seri ini, aku sudah berniat untuk melibatkan diri sendiri ke dalam cerita. Jadi, aku seolah-olah membayangkan, empat saudara yang jadi karakter utamanya, aku menempatkan diri sebagai Lucy (si anak bungsu), FYI, CS Lewis membuat novel ini untuk Lucy juga. Lalu, aku membayangkan kakak-kakakku dari tokoh-tokoh utama di Harry Potter. Hermione sebagai Susan, Harry sebagai Edmund, dan Ron sebagai Peter. Tepat tidak tepat urusan belakangan, tapi itulah yang kubayangkan.

Melanjutkan seri satu, ketika pohon apel ajaib itu kayunya dibuat lemari, Lucy dan tiga saudaranya pergi ke rumah seorang profesor untuk liburan. Rumah profesor itu cukup besar dan misterius. Mereka berempat main hingga menemukan ruang yang ada lemari itu. Ketika main petak umpet, Lucy masuk lemari, tapi dengan pintu terbuka (dia masih cukup waras untuk tidak menutup pintu meskipun itu hanya permainan). Di sela-sela mantel, tiba-tiba dia merasakan ada di dunia lain. 

Lucy berada di area lampu ajaib di seri I, lampu kutukan Jadis. Di situlah dia terheran-heran dengan dunia barunya, hingga dia bertemu dengan faun (sejenis makhluk setengah manusia, setengah kambing, mereka juga punya tanduk khas kambing). Faun ini namanya Mr. Tumnus, beliau sangat terkejut bertemu Putri Hawa tersesat di negeri Narnia. Cepat-cepat Mr. Tumnus membawanya ke rumahnya yang hangat, penuh buku, dan berseni. Di sanalah, dengan ditemani teh hangat, Mr. Tumnus bercerita tentang negeri Narnia, hingga saat Lucy mau kembali ke dunia nyata, Mr. Tumnus menangis dan menceritakan kisah gelapnya. Bahwa Penyihir Jadis hendak memperkuat kerajaannya dengan mengorbankan Putri Hawa dan Putra Adam. Seluruh makhluk di negeri Narnia bisa berpihak (entah pada yang baik atau jahat), jadi ketika siapa pun bertemu Putri Hawa atau Putra Adam, harus segera lapor ke Jadis.

Jadis sendiri telah menyihir negeri Narnia dengan musim dingin selamanya. Di mana matahari hanya sebentar, saljut terus-terusan turun, dan tidak ada Natal. Mr. Tumnus meminta Lucy untuk cepat-cepat pergi sebelum bala tentara Jadis tahu. Ketika balik ke dunia nyata, dia cerita kisah itu kepada tiga saudaranya, awalnya, mereka tak percaya cerita Lucy, tapi si profesor sendiri dengan ilmu logika yang dimilikinya yakin dengan Lucy. Hingga, kakak Lucy pas yang nakal, ego tinggi, dan mau menang sendiri, terjebak ke dalam lemari itu dan berada di negeri Narnia. Dialah Edmund.

Namun, ceritanya berbeda. Edmund ketika di negeri Narnia langsung bertemu dengan Jadis ketika ada di lampu legendaris itu. Awalnya, Jadi mengira Edmund makhluk jadi-jadian, sampai dia sadar, ternyata itu Putra Adam. Lalu, dibawalah Edmund ke keretanya yang dikendarai oleh seorang dwarf (kurcaci bertopi merah). Di kereta itulah Edmund dicuci otaknya, Jadis juga memberikan Edmund makanan sihir "Turkish Delight" yang lezat, tapi ketika orang memakannya, dia akan terus menerus ingin makan hingga makanan itu bisa membunuh mereka sendiri. Jadi bilang akan menjadikan Edmund sebagai raja Narnia jika dia mampu mengajak ketiga saudaranya lain untuk ke Narnia, ini jebakan.

Ketika Edmund kembali, dia berbohong pada ketiga saudaranya jika dia telah masuk ke negeri Narnia. Namun, akhirnya, Peter si sulung dan Susan si anak kedua, masuk ke lemari dan terjadilah petualangan. Di sana, Lucy dan Edmund juga ikut. Peter sangat kesal pada Edmund yang berbohong dirinya tak pernah ke Narnia dan seolah membully Lucy yang mengarang-ngarang cerita. Ketika di negeri ajaib, keempatnya bertemu dengan Bapak Berang-Berang dan Ibu Berang-Berang. Keempatnya disambut di rumah mereka di atas bendungan, lalu disuguhi makanan selamat datang. Bapa Berang-Berang juga menceritakan masalah yang terjadi di Narnia, termasuk Mr. Tumnus yang sudah dikutuk jadi patung dan rumahnya diobrak-abrik setelah tahu Lucy datang ke rumahnya.

Di Rumah Berang-Berang mereka mengatur rencana penyelamatan Narnia dari negeri sihir Ratu Jadis. Termasuk rencana meminta bantuan pada Aslan, si singa raja Narnia sesungguhnya. Mereka diminta bertemu Aslan di sebuah altar. Di tengah obrolan itu, Edmund merasa sangat dongkol kepada saudara-saudaranya, yang dia pikirkan hanya bagaimana makan Turkish Delight lagi dan menjadi Raja Narnia sebagaimana yang dijanjikan Jadis. Dia pun mengendap-endap keluar dan menemui kerajaan Jadis dari peta yang diceritakan Jadis padanya melewati bukit dan sungai.

Sesampainya di Kerajaan Jadis, dia bingung kerajaan itu penuh patung. Banyak sekali makhluk mitologi yang disihir jadi patung. Namun, ketika bertemu Jadis, ratu itu marah karena Edmund hanya datang sendirian tidak beserta ketiga saudaranya. Akhirnya, Edmund pun ditawan, Edmund juga menceritakan tentang Aslan yang membuat Jadis bergetar. Aslan adalah musuh. Sebelum keluarga Berang-Berang dan ketiga saudara tiba di altar menemui Aslan, Jadis merasa harus sampai lebih dulu. Akhirnya, Edmund pun dimintanya ikut ke perjalanan itu.

Keajaiban datang ketika Aslan datang. Narnia musimnya jadi berubah, dan rakyat Narnia kini bisa merasakan hari Natal. Suatu malam, Bapak Santa dengan rusanya datang membawa hadiah. Dia memberikan hadiah khusus pada Peter (tameng dan pedang ajaib), Susan (seperangkat panah yang tepat sasaran dan terompet yang akan mendatangkan bantuan ketika dibunyikan), serta memberikan Lucy pisau kecil dan sebotol air yang bisa menyembuhkan makhluk yang sedang sakit. Benda-benda ajaib inilah yang akan digunakan untuk melawan Jadis.

Pertempuran pun tak bisa dicegah. Singkat cerita, antara kekuatan Aslan dan Jadis saling berperang dan ketiga saudara tersebut menggunakan benda-benda ajaib yang dimilikinya masing-masing. Sampai akhirnya, Aslan dan Jadis membuat perjanjian. CS Lewis tak menjelaskan dengan jelas apa isi janji itu, tapi disebutkan, Aslan akan dibunuh di atas altar. Aslan pun menerimanya dengan ikhlas, meskipun semua makhluk mitologi dari Ghoul, broggle, ogre, minotaur, cruel, hag, spectre, Toadstool, Incubus, wraith, horror, efreet, sprite, orkny, woose, ettin ikut mem"baptis" Aslan. Namun, yang tidak diketahui Jadis, ketika korban memberikan dirinya secara ikhlas, dia akan bangkit lagi dengan kekuatan yang berkali-kali lipat. Ketika melihat prosesi pembunuhan Aslan, Lucy dan Susan mengikuti Aslan dari belakang, mereka sempat bermain bersama sebelum tragedi itu, hingga akhirnya mereka sesenggukkan dan tak bisa menangis lagi saking sedihnya. "Dan kejadian itu lebih menyedihkan, tanpa harapan, dan mengerikan daripada yang dapat kugambarkan." (hal 191) Sebenarnya, janji antara Jadis dan Aslan kuduga-duga untuk membebaskan Edmund.

Di sisi lain, Edmund semakin disiksa oleh Jadis, dan demi apa pun dia ingin kembali pada saudara-saudaranya. Ketika Aslan bangkit kembali, pembalasan dendam pun terjadi. Aslan dengan tiga saudara itu pun ke kerajaan Jadis. Mereka pun membebaskan para makhluk yang disihir menjadi patung, termasuk Mr. Tumnus, raksasa Rumblebuffin (sebenarnya raksasa punya sisi yang baik hati, meskipun secara kecerdasan diragukan), Dryad, Naiad, Satyr, Centaurus, Faun, dan berbagai makhluk Narnia lain dibebaskan. Makhluk-makhluk itu pun mencari bersama-sama keberadaan Jadis, diseranglah ratu jahat itu bersama-sama hingga akhirnya dia KO. 

Akhir cerita, Aslan lah yang menang. Dia pun bisa menguasai lagi negeri Narnia. Kemudian, keempat saudara itu pun dijadikan raja di Cair Paravel. Ya, mereka punya dua ratu dan dua raja. Mereka pun merawat kerajaan itu dan memakmurkan para makhluk di dalamnya. Sementara Aslan, dia tak bisa ditebak. Dia bisa datang dan pergi sesukanya. Mimpi keajaiban pun selesai, Lucy, Susan, Edmund, dan Peter kembali ke dunia nyata mereka lewat lemari itu. Hari yang terasa lama di negeri Narnia, ternyata sangat sebentar di dunia nyata. Namun, lemari itu dibilang CS Lewis sudah tak bisa mendatangkan keajaiban, karena orang sudah tak bisa ke Narnia lewat cara yang sama. "Tapi jangan pernah menggunakan rute yang sama kedua kali." (hal 228).

 Di buku ini, aku paling suka dengan kutipan, "Begitu kakinya kembali hidup, seluruh tubuhnya akan mengikuti." (hal 204) Aku merasakan benar energinya. Aku paham, CS Lewis bukan tipe penulis yang suka dengan taburan quotes sana-sini, tapi narasinya sangat hidup dan imajinatif. Di bagian dua ini, aku sangat menikmati berbagai imajinasi berbagai makhluk imajinatif yang ada di Narnia. Ketika aku mencarinya lebih jauh di Google, aku berulang kali mau bilang, "wow, wow, wow, ada juga ya dunia seperti ini." Refleksi yang kudapat di seri kedua Narnia adalah menulislah bukan untuk menghasilkan quote-quote, tapi untuk melahirkan imajinasi kepada pembaca, anjas! Iya, itu sih, aku belajar banget sama Clive Staples Lewis.

Berbeda dengan petualangan Polly dan Digory, di part 2 ini, bercerita tentang petualangan Lucy, Susan, Edmund, dan Peter. Dari halaman pertama sampai akhir, aku menikmatinya. Aku banyak kenalan dengan berbagai makhluk mitologi, dari yang baik sampai yang jahat. Saatnya lanjut ke Bagian 3, aku tidak sabar.

Senin, 05 Mei 2025

The Chronicles of Narnia Part 1: The Magician's Nephew (Keponakan Penyihir)

Perjalanan menyembuhkan patah hatiku yang tak berlebihan-berlebihan amat itu memang berjalan sangat mulus dan tanpa gangguan. Selah satu misi lain dari upaya ini adalah dengan membaca buku. Hari Sabtu lalu aku ke Gajah Mada Mall dan membeli satu bundel buku "The Complete Chronicles of Narnia" karya CS Lewis sebanyak tujuh seri. CS Lewis adalah penulis besar Inggris, dia juga dosesn sastra di Universitas Cambridge, dan Narnia yang diperuntukkan bagi anak-anak ini jadi salah satu karya besar yang melambungkan legasinya di ranah kesastraan. Harganya Rp442.000, cukup terjangkau untuk ekonomiku sekarang, jadi aku gak mikir banyak untuk beli, apalagi ada diskon dari Gramedia dan MyValue.

Pertama dari yang pertama, aku akan menulis apa yang paling membuatku tertarik, dan setelah membacanya kurang lebih tiga hari, yang paling kuapresiasi dari CS Lewis adalah semangat "emansipasi". Bagaimana dia bisa menjungkirbalikkan kaum papa jadi ratu dan raja, dan menjadikan ratu kerajaan besar sebagai karakter yang hina. Sebenarnya ini juga bacaan di luar zona nyamanku, tapi aku cukup menikmatinya.

Buku ini tipenya imajinatif, mungkin khas-khas Harry Potter (meski aku belum membacanya), dengan autensitas CS Lewis sendiri. Aku akan mengingat ulang apa yang diceritakan Lewis, dan kuceritakan ulang padamu sebagai upaya meniti tingkat pemahamanku. No need theories, karena aku lagi anti sama teori akhir-akhir ini, jadi biarkan ini berjalan secara grounded saja, dan semoga aku tak terkena serangan savior complex ketika aku membahasnya. Sebab ini rentan terjadi padaku dengan basis kelas yang kupunya.

Buku pertama "Keponakan Penyihir" ini menceritakan tentang petualangan Polly dan Digory, dua anak yang bertetangga dan punya karakter dengan tingkat kuriositas yang tinggi. Suatu malam mereka mengendap-endap di kasau (semacam loteng sebelum atas), dan terjebaklah mereka di perpustakaan milik Paman Andrew. Si paman ini punya bibi yang punya darah penyihir, bibinya meninggalkan kotak ajaib, dan memberikan wasiat pada Andrew untuk segera membakarnya setelah dia meninggal. Tentu hal itu tidak dituruti Andrew, justru dia penasaran dengan apa isinya. Ternyata isinya cincin warna kuning dan hijau yang bisa membawa seseorang ke dunia lain ketika menyentuhnya. Andrew sudah beberapa kali membuat kelinci percobaan, hingga akhirnya Polly dan Digory lah yang menjadi kelinci percobaan selanjutnya. Dia tak berani masuk ke dunia lain karena takut tidak kembali.

Sebab Polly dan Digory terjebak di perpustakaan tersebut, akhirnya diinterogasilah mereka sama Paman Andrew, hingga membuat Polly dan Digory terpaksa masuk dunia lain. Cincin kuning untuk masuk, cincin hijau untuk keluar. Ketika masuk dunia lain, mereka menemukan suatu dunia yang suwung, hijau, ada kolam-kolam yang ajaib. Hingga mereka bertemu dengan suatu kerajaan yang digambarkan seperti kota mati. Banyak reruntuhan di sana, suasana gelap, dan mereka menemukan sebuah ruang yang banyak orang berpakaian kerajaan, tapi mereka tak bergerak. Hingga si Digory menemukan mantra yang membangungkan ratu di kota mati tersebut, ratu ini bernama Jadis. Ratu ini ternyata juga penyihir, memiliki sifat sombong, sok kuasa, dan mau menang sendiri. Si Ratu Jadis sempat ikut kembali ke dunia nyata Digory di kehidupan manusia (di London) dan tidak betah, karena tak ada budak dan manusia yang mau nurut padanya. Ratu Jadis merusak kota dengan kuda sewaan bernama Strawberry, si kusir kuda asli juga nantinya akan jadi tokoh penting. 

Banyak kekacauan yang diperbuat Jadis membuat Digory dan Polly berusaha harus cepat-cepat mengembalikan Jadis ke dunia asalnya. Namun, ketika menyentuh cicin kuning, yang kesedot gak cuma Jadis, tapi juga Strawberry, si kusir kuda, dan Paman Andrew. Sampailah mereka ke dunia lain itu. Jadis marah-marah, dia rusak palang lampu, tapi anehnya di dunia lain itu palang lampunya tumbuh muda lagi. Hingga, Digory dan Polly menemukan ada makhluk lain, seekor singa besar yang menyanyi, singa ini bernama Aslan, dan negeri mereka disebut sebagai Narnia. Sepanjang Aslan bernyanyi, muncullah segala macam kehidupan, dari pohon-pohon, bunga-bunga, hewan-hewan, peri-peri, dwarf, dewa-dewi muncul dari sana dengan semua keajaibannya. Di negeri Narnia, semua adalah permulaan, nyanyian Aslan seperti sihir yang bisa mendatangkan kehidupan baru. 

Aku cukup takjub dengan bagaimana CS Lewis menggambarkan keindahan Narnia, dengan makhluk-makhluknya dan bagaimana hewan-hewan di sana memberi pelajaran pada Paman Andrew yang licik dan jahat itu. Paman Andrew sebenarnya suka sama si Jadis, tapi ilmu mereka gak seimbang. Di negeri Narnia, semua kedamaian dan kebahagiaan ada. Pola pikir mereka juga beda dengan manusia, paling sederhana, dia mengira Paman Andrew sejenis pohon. Atau, baju yang melekat pada Polly dan Digory juga dianggap kesatuan makhluk itu sendiri seperti bulu pada kucing, padahal bisa dilepas, wkwk. Anehnya, negeri Narnia ini dipimpin oleh si kusir kuda, yang dinilai Aslam memiliki sikap baik hati. Lalu, dengan sihirnya, istri kusir pun dibawa ke negeri Narnia. Mereka ini para kelas pekerja biasa, si kusir ya seorang kusir yang baik, istrinya adalah ibu rumah tangga yang baik. Mereka ditobatkan menjadi raja dan ratu Narnia dengan gelar Raja Frank dan Ratu Helen, dan keturunan-keturunan mereka pun memimpin Narnia hingga ratusan tahun.

Sebelum ditobatkan menajdi raja dan ratu, Aslan memberikan tugas yang tidak sederhana pada Digory. Dia harus mengambil buah apel yang nantinya akan ditanam dan menjadi pohon yang bisa melindungi seluruh negeri Narnia. Pohon apel ini berada di antara perbukitan salju, danau, sungai, dan taman bunga. Aslan mengingatkan jangan sampai offside ke negeri lain. Dalam perjalanan mendapatkan apel tersebut, Digory dibantu Strawberry yang kini berubah dari kuda biasa menjadi kuda sembrani yang punya sayap. Namanya juga berubah dari Strawberry ke Fledge. Ketika mau ambil buah apel, ternyata di sana sudah dihadang oleh penyihir Jadis yang memprovokasi Digory agar jangan sampai mematuhi perintah Aslan. Jadis membangkitkan kenangan Digory pada ibu yang sakit, dan bilang apel itu adalah apel keabadian. Ketika orang memakannya akan abadi, selalu muda, termasuk ibunya yang memakannya akan sembuh. Digory di sana galau, tapi cepat-cepat dia diingatkan Polly. Meski Digory melakukan tindakan yang bagiku nakal, mengantongi satu buah apel untuk diberikan ke ibunya yang sakit, dan ternyata sembuh.

Usai adu mulut dengan Jadis, akhirnya Digory berpihak pada Polly dan kembali ke Aslan. Lalu, buah itu dilemparlah ke sungai, dan tumbuhlah semacam pohon malaikat yang melindungi suatu negeri. Pohon itulah yang memberikan kebahagiaan dan kedamaian, juga wanginya akan membuat energi-energi jahat seperti Jadis sukar mendekat dan tak mau mendekat. Di sisi lain, Jadis masih ingin membalaskan dendamnya dengan caranya sendiri.

Setelah prosesi penobatan Raja Frank dan Ratu Helen, dengan gempita para penduduk Narnia, berbagai hewan-hewan dan makhluk-makhluk aneh yang bisa bicara; Digory dan Polly kembali ke dunia nyata. Digory memberikan apel dari dunia ajaib itu ke ibunya dan membuat si ibu sembuh. Bagian tengahnya ditanam dan menjadi pohon apel besar, saat Digory tua, karena tak ingin kehilangan itu pohon, dia memerintahkan seseorang untuk membuatkan lemari dari kayu pohon apel tersebut. Ternyata, setelah lemari itu jadi, lemari itu berubah jadi lemari ajaib, dan diteruskanlah petualangan Narnia di seri kedua, "The Lion, The Witch, and The Wardrobe: Sang Singa, Sang Penyihir, dan Lemari".

Kesanku membaca seri pertama ini menyenangkan. Imajinasiku seolah keasah dan kegodok banget, aku jadi bisa membayangkan, oh, ternyata bisa begini ya di dunia lain itu. Aku juga seolah diajak CS Lewis untuk melepaskan kacamata antroposentrisku, yang selalu terpatok memandang sesuatu hanya dengan menggunakan cara pandang manusia. Tapi tidak menggunakan sudut pandang lain, seperti kuda misalnya. Aku cukup takjub, saat Strawberry menawari Polly dan Digory untuk memakan rumput (yang jelas-jelas akan ditolak oleh manusia), hingga akhirnya sisa toffle yang dimiliki Polly ditanam di tanah dan jadi pohon makanan ajaib yang bisa dimakan. 

Hal menarik lain dari CS Lewis adalah, dia menyertakan suara batinnya sendiri ke narasi. Kadang dia membantu penceritaan tokoh, tapi kadang-kadang dia sebagai komentator di luar naskah juga. Buku ini juga tak dipenuhi taburan kutipan sana-sini karena tak diniatkan seperti itu. Justru di sana letak menariknya, dia bisa bebas bercerita sesukanya. Berimajinasi sebebas-bebasnya. Proses kreatif yang keren banget dari CS Lewis.

Ada teori lain yang menyebut Aslan ini sebagai Tuhan, karena dialah yang menciptakan dunia yang benar-benar baru di Narnia. Aslan hanya menciptakan dunia lewat nyanyian. Keajaiban seperti ini hanya bisa didengar dan disaksikan oleh mereka yang berhati bersih dan berjiwa baik, seperti kusir kuda, Strawberry, Polly, dan Digory. Paman Andrew tentu tak bisa mendengar nyanyian Aslan, karena otaknya sudah dikotori materialisme sana-sini dan ingin mengkapitalisasi negeri Narnia. Mengutip halaman 176 buku ini, "Karena apa yang kaulihat dan dengar amat sangat bergantung pada posisimu, juga tergantung seperti apakah dirimu."

Pramoedya, Jurnalisme, dan Kesenian yang Revolusioner

Teras Merah Kolektif, Pataba, dkk, mengadakan pameran seni rupa tribute to Pramoedya Ananta Toer bertajuk "Jejak Langkah dalam Pertarungan". Pada hari Minggu, 4 Mei 2025, diadakan pula dialog budaya bertema "Pramoedya, Jurnalisme, dan Kesenian yang Revolusioner: Lukisan Adalah Karya Sastra dalam Warna. Karya Sastra Adalah Lukisan dalam Bahasa" di Balai Budaja Jakarta. Dialog ini dihadiri oleh para pembicara Muhidin M. Dahlan, Dolorosa Sinaga, Ibob Arief, dan dimoderatori oleh Narima Beryl Ivana. 

Berikut catatan terkait dialog budaya tersebut:

Ibob Arief dari Sebumi mengatakan, dirinya banyak dibawa teman-temannya dalam seni kerakyatan, di samping Dolorosa sebagai dosen dan Muhidin sebagai cendekiawan, dalam konteks kekinian, jika seniman tersentuh dengan apa yang menjadi concern Pram, akan tampak di karya-karyanya. Dalam gerakan 151 ada ideologinya. Pram itu politis, entah itu absurd atau susah dimengerti, dia realistis, dan itu yang dinamakan materialisme. Kandungan karya Pram adalah MDH. Ketika Orba membumihanguskan Pram, itu hal yang wajar sebagai konsekuensi dari ideologi yang dianutnya. Paacarevolusi 45, kekuatan yang dibawa Pram dihabisi. Logikanya modal jangan sampai diganggu. Kapitalisme wujud sistem yang sangat-sangat (kalau dibilang) enak ya enak, jahat ya jahat. Orang terlena dengan kapitalisme, soal apa pun enak, makanan, sandang, papan. Di sana ada yang enak, tapi juga sebaliknya ada yang tak enak. Di sini rezim tak menginginkan jika modal digoyang, lalu memunculkan rezim Marxis baru. Pram memunculkan kekuatan dan kesadaran politik baru dengan tulisan-tulisannya.

Sebagai perupa dan pematung, Ibob mengaku, apa yang dia kerjakan di seni rupa merupakan cermin dari karya-karya Pram. Dia tak berdiri sendiri serupa tokoh-tokoh hero, dia memegang ideologi politik organisasi. Ketika berperan sebagai seniman, memegang ideologi. Rezim itu takut dengan organisasi bukan orangnya. Contoh Widji Tukul, gak cuma dirinya, tapi juga organisasinya. Karya Tukul juga sangat MDH. Sastranya juga sastra kerakyatan, yang ngomong anjing dan bajingan. Ketika bicara Lekra, terinspirasi dari Pak Muhidin, membukukan arsip Lekra, dia mulai tahu, bagaimana seniman tak berdiri sendiri. Kalau belajar sejarah, seniman harus berorganisasi. Kalau yang kiri-kiri ya Lekra. Partai politik sebagai panglimanya.

Dia ingat, buku yang paling mencerdaskan itu Tetralogi Buru. Bagaimana kapitalisme dan sisa-sisa feodal bekerja. Rezim di Indonesia, Jokowi yang berwajah kerakyatan itu nipu-nipu. Ketika berbicara tentang kesadaran politik cukup susah, karena sistemnya cukup menggurita. Bagaimana Tetralogi Buru menjelaskan tentang bangsa kita. Minke mencari, penjajahan bukan orang Eropa saja, tapi juga Jepang (londo cebol) hingga bangsa sendiri. Semisal di Jejak Langkah, itu potret hari ini, dari SDI juga organisasi di berbagai sektor, itu karena tulisan Minke. Dia punya media Medan Prijaji. Dia bisa provokasi untuk melawan, kekuatan yang bisa melawan ya kekuatan yang berkumpul, seperti pesantren. Kaum-kaum terdidik yang berperan. Proses Jejak Langkah inilah banyak organisasi yang dihabisi, misal Babinsa masuk.

Dalam bahasanya juga bahasa yang vulgar. Setiap malam dia mendengarkan Muhidin. Artinya, ada sejarah yang ditutup-tutupi, dari soal Minke hingga Tirto Adhi Soerjo. Intelijen sampai riset ke bawah, yang paling bahaya masuk di tengah-tengah. Tirto matinya karena sakit. Dokter sudah diintimidasi, tiba-tiba kematian dia asetnya dikuras pihak Belanda. Sampai namanya dibikin paling jelek dan amoral. Yang dia pahami tentang Pram, dia seorang Marxis, meski dia bilang seorang nasionalis. Widji Tukul juga seperti itu.

Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Sebumi. Ini terpatri dalam karya patungnya, mau tidak mau, konsekuensi yang dialami adalah hal yang wajar. "Ayo seniman jangan berjuang sendiri-sendiri, berorganisasilah. Ayo seniman, bikin organisasi yang meluas," ujarnya.

Yang bahaya, kalau ada uangnya saja bergerak. Kalau gak ada uang gak bergerak. Jajahan kita jajahan cangkokan yang sulit dibedah.

Kemudian, Dolorosa Sinaga menambahkan, dia apresiasi acara ini sebagai mata rantai peringatan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer. Dia ingin mengkritik pelaksana teman-teman Teras Merah Kolektif, tak ada satu pun wartawan di sini. Sementara yang dibicarakan adalah terkait bagaimana membicarakan jurnalisme revolusioner. Lain kali perlu melibatkan jurnalis, bisa buat ruang konsolidasi gerakan, supaya kita bisa melakukan apa yang perlu dilakukan sekarang ini.

Selanjutnya, dia bicara kenangannya terkait Pram. Konteks lain yang perlu dicermati, yang perlu diingat dari Pram adalah peristiwa 65. Bahwa kita mendengar Pram, yang perlu dimaknai adalah peristiwa 65, dan pembantaian negara terhadap warganya. Dari 65, harus dicatat negara ini sudah melakukan diskriminasi terhadap warga, di mana korbannya di KTP ada ET. Peristiwa 65 adalah legasi rezim otoriter Soeharto. Kita ada di warisan Orba, yang memporak-porandakan tatanan. Kita bisa lihat kualitas intelektual kita dalam mengelola tata kelola negara. Membaca Pram, gimana sih menghadapi Orba? Harus realistis, kekuatan apa yang kita punya untuk melawan. Peringatan 100 Tahun Pram ini sangat penting, supaya ini jangan sekali, tapi terus-terusan.

Pembicara ketiga, Muhidin mengatakan, banyak sekali peringatan 1 abad sastrawan (Sitor Situmorang, AA Navis, Mochtar Lubis, dll), tapi tak ada yang seintens Pramoedya. Tidak ada satupun yang dirayakan dengan seni rupa sebagaimana Pram. Muhidin bertanya, ada gak sih kontribusi seni rupa kepada Pramoedya atau sebaliknya? Dia belum menemukan ada tulisan terkait. Satu-satunya hubungan dengan seni rupa adalah Jean Marais, yang mengatakan seorang terpelajar harus adil sejak dari pikiran. Walaupun tidak menulis seni rupa, tidak berarti dia menjauh dari dunia visual. Lalu jurnalistik mempertemukan semua entitas, dia sebagai jurnalis kebudayaan. Pram pernah jadi redaktur di Bintang Timur. Metode yang dia gunakan untuk menjelaskan Pram, Muhidin tidak bahas Pram, tapi orang-orang di sekelilingnya. Dia sendirian dikasi mandat, orang Partindo untuk menjadi redaktur Lentera. Sekeluar dari Cipinang jadi redaktur. Tulisan pertama yang dia luluskan adalah esai seni rupa dari Batara Lubis, dan satu lagi puisi. Batara banyak sering buat ilustrasi. Bathara perupa yang bergabung di pelukis rakyat, dan beririsan ideologis dengan Lekra. Juga poster sebagai alat perjuangan. Watak poster diajak menelanjangi musuh. "Itu bahasa Batara Lubis," katanya.

Jumat berikutnya di Bintang Timur, keluar esai Pram. Yang menarik, esai Batara Lubis muncul di edisi ketiga. Ada koneksi antara Pram dan Batara Lubis. Reportase Batara terhadap 10 pelukis mural, dan sangat bersejarah di Danau Toba (Medan). Batara Lubis sebenarnya borjuis, anak gubernur Sumut, dan melepaskan keborjuisannya. Lalu, ada tulisan dari Augustin Sibarani, Batak juga, proses melakukan rekonstruksi melukis Sisingamangaraja. Dia riset, dia bertapa memanggil roh, dan hasil gambarnya ada di ruang Rp1.0000. Siapa Augustin Sibarani? Dia pelukis, pematung, penulis, dan jurnalis. Tokoh-tokoh ini nasibnya beda dengan Pram. Seperti Batara Lubis, Sibarani nyaris tiap hari muncul di Bintang Timur. Dia pernah disogok untuk berhenti bikin karikatur mengkritik Amerika. Karikatur-karikatur bicara tanpa ragu-ragu. Sibarani di Bintang Timur dipuji setinggi langit.

Sudah dicetuskan 1960, cukup pergi kesana, sejarah lukisan bisa dinikmati. Indonesia perlu art gallery yang sekarang dikenal dengan Galnas. Jika Pram terhubung dengan Sibarani, ada satu nama lagi, Delsy Syamsumar. Yang banyak dipuji adalah karikatur, poster, akriliknya, nyaris Delsy muncul sebagai peresensi film, drama, musik, bentuknya poster yang diterbitkan Lentera Bintang Timur. Delsy tiap minggu melaporkan resensi lewat poster. Salah satu film yang bermasalah ketika buat "Holiday in Bali". Dia diancam akan dibunuh, juga dengan Pram dan Abdulllah SP (yang membongkar Hamka plagiat penulis Prancis). Yang mengurus detail adalah Delsy. Juga novel "Satu Peristiwa di Banten Selatan", itu juga kolaborasi dengan Delsy visualnya, yang dipentaskan di Jawa, Sumatra, Bali. Tanggal 22 Mei 64, dilarang dipentaskan.

Dolo menambahkan bagaimana Pram berinteraksi dengan tokoh-tokoh seni rupawan lain. Dan itu kata dia tak ada sekarang. Poster juga sekarang sudah tak jadi alat perlawanan yang kuat. Dia juga bersyukur mengoleksi ratusan karya karikatur Agustin Sibarani. Pram juga seorang wartawan, sangat jeli melihat kesempatan. Ketika kerja di Antara, dia berhasil bikin 5 buku kronik Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana karya Pram, kekuatan jurnalisme sudah dimiliki. 


Sesi tanya-jawab:


Mario bertanya, seberapa berbahaya karya Pram dalam ranah gerakan Rakyat? Karya yang mana yang bahaya? Seberapa penting seni gerakan kerakyatan, dan apa itu perlu? Bagaimana seni bisa berkorelasi dengan aktivisme? Mario sudah empat kali baca Tetralogi Buru, dan menurutnya menggerakkan jiwa raga.

Tanggapan kedua bernama Halim, kalau Anda menginginkan masa depan yang baik, Anda harus berorganisasi apapun konsepnya. Tanpa organisasi gak bisa mahamin apa itu artistik, sayangnya 99% seniman gak belajar dengan baik, dan mimpi bisa buat perubahan dengan satu pameran. Ini jadi persoalan kesenian kita. Kesalahan lain, ketika memperingati Pram, kita terpatok pada figur, bukan gagasan. Terperangkap dalam glorifikasi. Empat pemuda di Jatim, nulis dengan baik. Perlu memikirkan mengorganisir gagasan dan pikiran.

Tanggapan berikutnya dari Adi (Sebumi): "Gak penting lu Marxis, Anarkis, Islamis, Nasionalis, yang penting support yang adil, benar, berpihak. Tanpa solidaritas juga kita gak bisa melawan. Empat bangsat dari PRD kurang belajar apa soal Marxis, tetap aja mereka nyemir sepatu tentara."

Bapak dari Beranda Rakyat Garuda: Pembacaan terlalu ideologis. Di setiap konteks zaman selalu muncul berbagai aliran. Tapi Pram membawa semangat emansipatoris di berbagai macam posisi. Yang susah memberi perspektif alternatif tentang tatanan masyarakat yang hadir. Ini yang kita tak punya sejak tahun 1965. Tokoh-tokoh itu anak dari zamannya, generasi itu hilang. Sekarang krisis banyak, termasuk krisis ekologis, krisis energi, kriris kapitalisme. Realitas yang harus kita sikapi sekarang. Ini yang dibutuhkan, gerakan alternatif dan emansipatoris seperti apa yang perlu kita bangun sama-sama, dan menjadi agenda besar bersama, dan butuh sebanyak mungkin orang.

Tanggapan:

Muhidin bilang, Gadis Pantai berbahaya menurut Kejaksaan Sleman. Cerita yang seintim itu dipolisi delapan tahun. Bahayanya organisasinya, Pram bukan hanya karyanya, karena berorganisasi. Ada proyek membereskan sastra Indonesia. Kapan dia berorganisasi Pram ini? Kenapa Pram kuat, karena elemen berkaryanya riset. Dia juga punya musuh militerisme dan feodalisme. Dan kekacauan negara disebabkan karena mengurusi militer.

Ibob melanjutkan, seni kerakyatan juga harus membentengi diri agar tak bersentuhan dengan elite. Misal berhubungan dengan Hanura, kader-kader PRD yang ikut gerombolan elite. Seni kerakyatan harus membentengi itu dengan metode 151 Lekra dan estetika Marxis. "Dia bergerak dengan konsep revolusioner." Jangan pengen cari popularitas dari gerakan Rakyat. Itu yang banyak. Bereuforia dengan dirinya yang tidak materialis. Bentengi diri dengan organisasi, jadi bisa bentengi mana yang baik dan tidak. Tak cuma elite-elite politik, tapi juga elite-elite budaya dan seni.

Lalu, Dolorosa mengatakan, pertanyaan Mario bisa lebih sederhana. Mencoba membahas bagaimana memandang seni vs kekuasaan. Pertama, seluruh ekspresi seni punya fungsi sosial. Kedua, semua produk seni adalah produk intellectual property rights, dia punya subjek hukum. Mana yang cepat sampai ke masyarakat? Musik (telinga), visual (mata), tubuh (tari, instalasi, dll), terakhir lewat film. Ada juga kata, lewat sastra, juga arsitektur. Seni dalam konteks menghadapi kekuasaan, ini pertemuan dua kekuatan. Semangat seni harus didorong, karena dia punya power. "Melipatgandakan diri sendiri agar jumlahnya lebih banyak daripada tentara!" tegas Dolo.

Pada malam hari pukul 7 pm, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Teater diRI dengan judul "Matah Gede" dari "Dongeng Calon Arang" karya Pramoedya Ananta Toer. Juga monolog Sparepart Teater tentang "Chauvinisme Pikiranku" karya Endry Karnadi Siregar.