Dalam rangka memperlancar upaya mengikhlaskan patah hatiku, seorang pembimbing menyarankanku untuk melakukan misi. Dia mencontohkan, aku bisa baca 10 buku dalam 10 hari, dan misi lain, tiba-tiba ada yang lewat bilang, kenapa aku tak mendalami film sufi saja? Hingga dengan upaya yang paling random dan effortlessly, aku ngetik "sufism film" di YouTube, dan bertemulah aku dengan film "Bab'Aziz: The Prince That Contempleted His Soul", yang rilis pertama kali di Swiss tahun 2005. Agak aneh rilis di Swiss, berhubung ini film berbahasa Arab, keprancis-prancisan, dan digarap oleh sutradara Tunisia Nacer Khemir.
Film ini digarap dengan banyak sekali simbol yang ditampilkan. Dibuka dengan seorang kakek tua (the kind of darwish) bernama Baba Aziz (Parviz Shahinkhou) yang hendak pergi ke sebuah tempat bersama cucu perempuannya bernama Ishtar (Maryam Hamid). Anehnya, dia tak tahu di mana tempat yang dituju itu, sebuah perkumpulan para darwish yang hanya dilakukan beberapa puluh tahun sekali. Baba Aziz dan Ishtar selama perjalanan itu banyak bercengkerama hal-hal yang kurasa "sufistik".
Baba bilang, dia tak tahu kemana, tapi bagi orang yang beriman, jalan itu pasti ada. Orang-orang yang semesta "undang", entah bagaimana pun caranya, akan selalu menemukan jalan untuk tiba. Baba juga bilang, orang yang tenteram itu tak pernah kehilangan jalannya. Yang menarik bagiku tentu sosok Ishtar, meskipun muda (kira-kira dia berumur 8 tahun, seperti anak SD kelas IV), dia ini old soul, jiwanya tua. Dia suka diberi cerita, dan Baba bercerita tentang seorang pangeran di gurun pasir, yang mengejar sebuah kijang gurun dengan kuda.
Namun, pangeran gurun itu malah berubah menjadi agak lain, entah gila entah terlalu reflektif. Dia menemukan sebuah kolam kecil, dan berkaca di kolam itu tiap hari. Seorang darwish yang melayaninya ikut menjaga si pangeran, aku gak tahu ini simbol apa. Namun aku melihat, si pangeran yang awalnya hidup khas raja, dengan melihat perempuan menari sambil diiringi lagu-lagu, sampai dia dijebak kijang (kijang yang juga berteman dengan Baba di masa present dia bercerita, kijang itu bahkan luluh sama Baba, dielus-elus kayak ngelus kucing).
Kisah film ini gak linier. Belum selesai di kisah pameran, ketika Baba dan Ishtar sampai di sebuah pemukiman padang pasir dan mencari makan (Ishtar ini juga agak aneh, dia kadang main serobot dan gak mau antri pas minta makan di daput umum), ketika makan bersama Baba, tiba-tiba sekelilingnya ramai. Ndilalah, ada orang yang menceburkan diri ke dalam sumur. Pria naas itu bernama Osman, untungnya dia diselamatkan masyarakat lokal setempat. Osman bilang, dia menemukan Istana di sumur itu.
Flashback kemudian, bagaimana Osman bertemu dengan pria yang suka main-main dengan burung di sangkar, lalu memberi Osman surat yang ditulis di kain seperti sapu tangan. Surat itu diberikan ke seorang perempuan, yang kayaknya dengan perempuan ini, Osman punya hasrat. Sayangnya, perempuan ini sudah bersuami. Ketika suaminya datang, dan terlihat si peremuan dan Osman sedang bergenit-genitan, karena isi sapu tangan itu semacam puisi menggoda, suami si perempuan datang. Osman shock dan langsung lari terbirit-birit seperti dikejar setan; ada yang menyebut Osman ini memang dijadikan mainan setan; terus ketika sampai di atap, dia gak tahu kalau bawahnya itu sumur, jatuhlah dia.
Tapi sebelum ke cerita Osman, ada pula kisah saudara kembar yang karakternya beda 180 derajat. Satunya di masjid, satunya di tempat khamr dan maksiat. Salah satu anak kembar ini namanya Hasan, satunya rapi, satunya berantakan. Hasanlah yang nanti di akhir film, yang mengubur Baba Aziz, karena di akhir cerita, Baba Aziz meninggal. Di antara latar sumur, ada juga sesosok orang yang giat banget nyapu. Uniknya, lalu ada nyanyian, yang coba kureka ulang kalimatnya jadi gini, "bersihkanlah halaman itu seperti kau membersihkan hatimu. Tuhan akan datang jika kamu membersihkan rumah seperti membersihkan hatimu."
Kira-kira gitulah ya, nah, sosok orang yang bersih-bersih ini juga yang ditampilkan ulang ketika Baba dan Ishtar sampai di sebuah rumah atau kerajaan gitu, dia seperti menguras pasir dari bawah ke atas. Kupikir itu kegiatan yang sia-sia karena pasirnya ditiup angin dan akan ke bawah lagi. Tapi pesan yang sama selalu diulang, bersihkanlah yang nampak, seperti halnya kau membersihkan hal yang tak nampak. Pembacaan dekat (close reading) film ini juga pernah terbit di salah satu jurnalnya Taylor and Francis, judulnya "Sufi Aesthetics and Cinematic Journeys: A Close Reading of Bab’Aziz: The Prince Who Contemplated His Soul" karya Pervez Khan. Disebut film ini tuh dibuat pasca tragedi 9/11, dia juga ngulas soundscape film yang diambil langsung dari tempat syutingnya. Keren sih.
Dalam perjalanan Baba Aziz dan Ishtar, ada sesosok pemuda yang menemani perjalanan mereka juga bernama Zaid. Dia pinter dan merdu banget soal nyanyi dan bersyair. Namun, dia punya motif lain dalam perjalanannya, dia ingin menemui kekasih hatinya bernama Noor. Kisah Noor ini juga tragis juga karena dia sedang mencari ayah, sambil dia menyamar menjadi laki-laki lewat pakaian Zaid. Sebab, kalau dilihat dari latar sosial-budayanya, itu tempat gak ramah dengan perempuan yang pergi jauh-jauh sendirian. Entah alasan budaya atau agama, intinya perempuan masih dikekang. Baba bilang, Zaid bisa bertemu dengan Noor lewat nyanyian, dengan dibantu Ishtar setelah dia kena demam, Zaid pun akhirnya ketemu dengan Noor.
Baba juga pernah bilang ke Ishtar, ketika bayi berada di kandungan ibunya, dia mengetahui semua rahasia alam semesta. Namun, ketika dia dilahirkan di dunia, malaikat menutup mulutnya agar rahasia itu tak terbongkar. Tanda-tanda malaikat menutup mulut bayi itu Baba temukan di wajah Ishtar. Ini bagiku agak sufistik juga. Pesan utama yang kutangkap dari film ini: perjalanan dari yang nampak ke tidak nampak ini bakal berat banget seperti perjalanan Baba. Namun, bagi mereka yang beriman, mereka tak akan merasa tersesat, dan mereka akan selalu bisa menemukan jalan.
Di film ini aku belajar banget semangat ber-Islam dari Baba. Bahkan, dia yang buta tetap bisa solat waktu di situasi segersang gurun pasir tersebut. Dia solatnya gak pakai air, tapi tayamum pakai pasir. Di sini aku melihat Islam dengan wajahnya yang lain. Si sutradara yang nuntut ilmu sampai ke negeri Prancis itu pernah bilang gini juga:
"I would explain it with this allegory: if you are walking alongside your father and he suddenly falls down, his face in the mud, what would you do? You would help him stand up, and wipe his face with your shirt. My father’s face stands for Islam, and I tried to wipe Islam’s face clean with my movie, by showing an open, tolerant and friendly Islamic culture, full of love and wisdom . . . an Islam that is different from the one depicted by the media in the aftermath of 9/11."
Aku telah mencintaimu selama kurang lebih 12 tahun, dan malam ini saatnya aku mengucapkan selamat tinggal. Aku akan berusaha cut off total dirimu dari rasa dan emosiku, dari diriku. Ritus menetralkan dirimu dariku kumulai malam ini, dan aku sudah berniat, aku tak akan kembali padamu apa pun yang terjadi. Mengingatmu bukan cinta, mengingatmu adalah luka. Dan, tiap trigger itu muncul, aku akan selalu ingat: kamu datang sebagai kesedihan dalam hidupku.
Hai, tulisan ini kupersembahkan padamu, setelah aku menulis tulisan cinta yang dalam di hari ulang tahunmu yang ke-36 tahun, dan tak kau tanggapi. Aku tahu semesta telah memberiku pertanda berkali-kali untuk pergi.
Setelah aku mendapatkan pencerahan terkait perasaanku padamu. Ini yang ingin kuungkap padamu, dan ternyata kupendam, dan aku memaafkan diriku.
Aku masih ingat, rasa cinta itu bermula saat kita sama anak-anak UIN (tahun 2014), yang
dulu datang ke diskusinya Pidi Baiq di sekretariat Kedaulatan Rakyat dekat Tugu. Saat
itu kita berangkat dan pulang jalan kaki bareng anak-anak eska, dan aku perempuan satu-satunya. Saat mau menyeberang, kau
dengan baik memegang pundakku, dan seperti film picisan lainnya, ada
listrik yang merembet di diriku, dan menghasilkan cinta. Apalagi di arena kita juga hampir setiap hari bertemu, lengkaplah. Setelah itu,
aku buta melihatmu, semua yang kau lakukan seolah baik semua di mataku. Tanpa melihat sisi-sisi negatif, jahat, dan tai-nya kamu.
Jujur, selama hampir 12 tahun ini aku merasa capek, sangat-sangat capek. Aku bebal, bodoh, dan keras kepala, tapi gak papa, ini bukti jika aku masih manusia yang punya rasa. Kamu tentu masih ingat, pertama kali aku menembakmu dulu lewat SMS, sepertinya di tahun 2015. Berani ya aku? Aku barangkali terlalu aware dengan keberanian feminis yang di atas rata-ratanya anak UIN. Aku ketik, hapus, ketik, hapus, ketik, hapus, SMS itu sebelum kukirim padamu. Sampai aku memberanikan diri dan bilang, jika aku mencintaimu.
Saat paginya kita bertemu, badanku sudah seperti batu. Seingatku, kau hanya menjawab dengan pernyataan seperti ini dari SMS-ku yang kubuat dengan mati-matian itu: "Aku konyol. Nembak kok lewat SMS." Setelah itu, hidupku terasa panjang sekali menggantung selama kuliah. Beberapa kali aku dan kamu berdua di sekretariat, dan ada di suatu malam, kita duduk berdua, tapi tidak berbicara soal perasaan, tapi soal kritik pada organisasi, haha. Sial. Aku pun dengan senang hati mendengarmu, setiap kata-katamu bahkan kudengarkan detail, tentang si A yang begini, tentang program B yang begini, soal pemberitaan C yang seperti itu.
Hampir setiap hari rasa cintaku padamu kupupuk seperti petani pada padinya, seperti nelayan pada perahunya, seperti buruh pada pabriknya. Aku mampu bertahan sangat lama bukan? Bahkan ketika aku mendapat kabar, kau jadian sama teman kita si anak teater. Kau tahu betapa sakitnya perasaanku waktu itu? Aku menangisimu semalaman di kos. Bahkan lagu Audy yang "Menangis Semalam" tak cukup tragis menggambarkan ini. Aku mengasihani diriku sendiri. Aku membandiing-bandingkan diriku sama perempuan anak teater itu, sambil memperhatikannya memberikan bekal tiap hari ke arena padamu. Aku juga memikirkan ini jauh sampai ke mitos Jawa-Sunda yang tak bisa bersatu; atau anak pertama dan anak ketiga yang tak cocok; atau weton kita yang tak baik. Aku terisak-isak dengan sangat sering, seolah duniaku gagal. Aku merasa tak cukup baik.
Aku masih bisa bertahan hingga tahun 2018. Setia bukan aku? Bahkan hampir sewindu kemudian, rasaku padamu masih sama. Tentu, pecinta mana yang tak lebai? Jika dia benar-benar mencintai, dia akan lebai. Itu yang kulakukan, saat kamu online Facebook, aku tak segan untuk mengirimu stiker cringe love-love yang gak perlu. Tak hanya itu, sudah kubilang kan, aku copy paste dirimu terlalu banyak dari selera musik, film, cara berpikir, berideologi, berpakaian, bertingkah laku, hingga cara bicara, semua katamu kadang kutelan mentah-mentah tanpa aku sadar dengan konteks autentikku sendiri.
Kau pernah mencela (aku anggap itu celaan alih-alih kritik) soal majalah yang generasiku hasilkan karena di dalamnya ada foto anggota pas bareng-bareng. Kau bilang inti yang kutangkap, "Kayaknya arena gak pernah deh nampilin foto-foto narsis gini di majalah." Anjinglah kataku sekarang. Kau bilang narsis? Itu teman kita lagi nulis/refleksi soal keorganisasian, dan visual apa yang paling dekat selain menonjolkan anggota yang ada? Yang berproses bareng? Bukankah itu yang paling dekat? Kau tahu, komentarmu itu seolah menjadi standar tinggi, dan kami hanya mengangguk-angguk saja. Pantas kau selalu tampak soliter, toh, nyatanya kamu emang gak sesolider itu. Tentu aku akan membela apa yang tim kami hasilkan dengan semua alasannya. Kata-katamu yang seolah bilang kami narsis (judgmental yang sangat tak adil gara-gara satu foto) juga diamini oleh begawan-begawan arena lain seangkatanmu atau tak jauh dari angkatan atasmu. Hanya karena kesalahan kecil itu, sebagai pemimpin redaksi, aku merasa kegagalan datang padaku lagi.
Setelahnya, aku tetap mencoba berteman baik dengan pacarmu itu. Kami masih sempat haha-hihi bareng, atau ngobrol bareng, atau ketepatan di acara yang sama. Sampai ada kabar lain, sepertinya kalian putus, yang aku gak mau tahu alasannya apa sekarang. Aku juga pernah dengar curhat dari sirkelku, kalau pacarmu itu kau dorong untuk menulis, tapi dia malah merasa tertekan. Sementara, karena mencintaimu itu, karena cinta yang udah di tahap platonik itu, aku berkarya untukmu terlalu banyak, saking luber-lubernya tak sempat kau baca. Ah, tak perlu juga, gak ada tekanan kau harus membacanya.
Flashback ulang pada tahun 2018 menjelang kelulusan, aku DM ke Facebookmu, aku ingin menyelesaikan hal-hal yang berserakan di kepala dan hatiku padamu. Aku inisiatif mengajakmu jalan bareng. Keputusanku untuk mengajakmu jalan itupun maju-mundur, karena aku tipe orang yang takut dengan penolakan. Kamu pun mengiyakan. Sebelum kita jalan habis Ashar, paginya aku telah gladi bersih. Aku telah meniti jalan itu sebelumnya dengan ditemani sepedahku Nuun Junior. Pas gladi bersih itu aku membayangkan yang indah-indah. Di kala senja, kita bisa ngobrol akrab tentang hubungan kita ke depan, sambil mendengarkan lagu-lagu yang kamu sukai (nyaris semua lagu yang kusukai saat itu terinspirasi darimu, jadi aku sampai tak tahu lagu apa yang pernah kusukai saat itu).
Imajinasi indahku kala gladi resik itu gagal total. Sore itu aku menunggumu di depan Gedung Multi Purpose. Aku mengamati daun-daun beringin yang jatuh sangat banyak seperti nuansa musim gugur. Aku merasa sore itu puitis, meskipun setelah aku bertemu kamu, dengan kaos, celana jins, dan sandal jepitmu itu, aku kembali gagal mengikuti ritme kakimu. Aku kerenggosan, kamu begitu sangat egois di kecepatan kakimu sendiri. Aku tahu kamu pejalan yang cepat, tapi bisa gak sedikit dipelankan jika aku boleh meminta? Aku ngerasa mentalku bahkan sudah kalah di langkah pertama, dan aku sudah membayangkan di langkah-langkah selanjutnya. Kau tahu, saat itu betapa berantakannya aku mengikuti langkah kakimu? Aku mau bilang saat ini: aku udah kalah di langkah pertama. Imajinasiku pecah berkeping-keping di kaki awal itu. Aku menyerah. Aku kalah. Aku pecah.
Setelahnya, aku hanya berusaha mengikuti ritme kakimu yang kecepatannya berbeda. Sampai kita sampai di Bentara Budaya Yogyakarta dan lihat pameran pun, aku yang lebih menikmatinya daripada kamu. Sampai kita sampai di Embung Langensari... Embung ini dulunya adalah kawasan SD. Kos pertamaku di Jogja tak jauh dari situ, tinggal jalan kaki. Kau tahu, ini tempat terfavoritku di Jogja. Aku mengajakmu kesini untuk bilang perasaan. Namun, apa yang terjadi? Kau seperti tak minat. Kau hanya sibuk melihat jam tanganmu yang besar dan kau pakai di sebelah tangan kanan itu (karena rata-rata orang memakai jam sebelah kiri, aku pun sebelah kiri). Aku pun sadar, dibanding kamu, kualitas ku untuk hal-hal seperti ini, aku hanya orang pada umumnya. Kau hanya sibuk dengan lagu-lagu playlist hapemu si Pink Floyd dan Radiohead yang brengsek dan zionis itu. Kau mengabaikanku, kau tak peduli dengan perasaanku, bahkan mungkin kau tak benar-benar menganggapku ada. Bajingan kamu.
Itu bisa kurasakan, rasa itu bisa dirasakan, bahasa tubuhmu sudah sangat kelihatan. Aku terlalu gagap membacanya, sampai sekarang. Kita hampir satu jam diam-diaman. Ya, literally kita cuma diam-diam saja. Kau juga tak berinisitif mengajakku bicara. Kau tak bisa menangkap begitu bergejolaknya perasaanku, sampai hal yang bisa kulakan hanyalah menatap langit yang kala itu cerah dan bersih. Aku bisa melihat bulan sabit dan dua bintang yang saling berdekatan. Lidahku kelu, bibirku hanya bisa membisu. Sampai akhirnya ada bapak-bapak yang datang dan bilang embungnya akan tutup. Lalu, kita pindah tempat.
Kita duduk hadap-hadapan di sebuah bangku depan Balai Yasa, di bawah pohon-pohon besar yang katanya angker itu, padahal tidak, aku menganggap justru pohon-pohon itu serupa budhe dan pakdheku yang baik. Yang memberi kesejukan kala siang, dan perlindungan kala malam. Di sana, aku mencatat obrolan kita lengkap di diary. Usai pertemuan kita itu, aku lembur nulis, aku catat kata-katamu dari A sampai Z, aku pencatat dan pengingat kata yang baik. Aku bisa mencatat ulang apa yang kamu sampaikan tanpa alat perekam.
Saat itu, aku bertanya padamu soal perasaanmu padaku? Kau bilang, hubungan kita biasa saja, sama seperti hubunganmu dengan si A, I, N (kau tahu sendirilah mereka siapa). Gak ada hubungan rasa selain kerja. Aku intens saat itu menatap matamu. Aku seperti menghabiskan rasa ingin tahuku. Aku bertanya padamu sangat banyak, dari tendensimu, kisah keluargamu, ayahmu yang baru-baru saja meninggal, tentang saudara-saudaramu yang banyak dan hidup masing-masing dengan cara mereka sendiri. Sampai kau bilang salah satunya yang kuingat, kau pro dengan seks bebas. Aku lupa apa argumenmu, tapi itu secara prinsipil bertentangan denganku, dan aku baru sadar, kau memang liberal sejak dulu. Aku yang sok memahamimu menganggap kau naturalis atau paling jauh nihilis, ternyata kau lebih di luar daya tangkapku. Aku juga tak akan sanggup mengikuti jalan hidup bohemianmu. Membayangkannya saja aku sudah merasa gelap.
Kau juga mengaku, yang suka padamu sangat banyak, kau jujur, di UIN gak cuma aku, tapi juga ada beberapa lainnya, bahkan anaknya sampai marah-marah. Gak cuma di Jogja, di Bandung pun kau jadi rebutan perempuan. Argh goblok, ngapain juga aku ikut memperpanjang daftar ini, sampai sekarang? Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sampai kita pulang bareng. Saat itu, jujur ada kelegaan kau telah membuka semuanya. Tapi memang dasarnya aku yang keras kepala. Aku terjebak dalam Rangga Syndrome (AADC), penyakit perempuan yang tertarik sama pria yang misterius, dingin, pendiam, dan gak ekspresif. Kita sama-sama introvert, toh kalau introvert kita berdua diadu, aku yakin, aku yang menang. Aku juga merasa introvertku lebih berguna karena kuolah untuk jadi karya buat orang lain, sementara sisi introvertmu lebih pemuasan terhadap desire kamu sendiri.
Di surat ini, aku ingin bilang, aku cukup. Aku tak akan memperpanjang menggadaikan hatiku padamu. Sudah cukup kutaruh hatiku di atas meja. Malam ini aku benar-benar akan menebusnya tuntas, dan tak kusisakan walau hanya sedikit untukmu. Aku tahu pikiranmu berbeda, sangat berbeda dari yang lain, tapi kamu gak sadar yang kamu lakukan itu juga kadang menyakiti yang lain.
Aku tiba-tiba juga mengingat, saat aku main ke rumahmu bersama teman-teman kita yang banyak. Di sana aku bertemu ibumu, dan yang ibumu lebih ingat adalah mantan pacarmu yang anak teater itu. Dia bahkan bertanya padaku dengan logat Sundanya yang khas, si teteh x itu kemana? Kok gak ikut? Dalam hati aku bilang: "Ya, mana kutahu, Bu. Kami sudah lama tak bertemu." Aku juga sadar, perempuan teater itu lebih dekat dengan saudara-saudaramu yang lain, terlebih saudara-saudara perempuanmu yang lain. Aku pernah merasa iri dengan kedekatan itu, sekarang aku mikir, ngapain diirikan juga? Sampai rasanya ngemis-ngemis validasi dan perhatian atau gak tahu batas pun kulakukan. Toh, saudara-saudaramu karakternya juga sama saja, tak jauh-jauh sepertimu. Kalian memang setipe.
Dulu tuh ya, aku selalu ingin berusaha mendekatkan diriku kepada keluargamu. Kamu sadar gak, pas almarhum abahmu masih hidup, aku nge-add orangtuamu dan beberapa saudaramu di Facebook. Aku jujur punya kedekatan tersendiri dengan abahmu, karena dulu aku sering nge-like dan kadang abah juga pernah komen di statusku. Aku lebih merasa dianggap sama abahmu daripada dianggap sama kamu. Abahmu gak ada, aku ikut sedih (husnul khotimah untuk beliau). Abahmu sosok yang cerdas, religius, dan suka nulis. Anehnya, yang bahkan, kamu sendiri saja gak berteman sama ibumu di Facebook! Aku lho berteman.
Dulu aku ngerasa seolah kepo banget gitu ya, sampai semua pengen aku add, agar bisa temenan dan dekat sama keluargamu. Kurang kaffah apa aku dekatin kamu? Gak cuma dekatin kamu, tapi juga keluargamu. Tapi kayaknya emang niatku salah, jadinya gini, haha. Tapi gak papa, aku senang bisa kenal abah kamu, ibu kamu, dan saudaramu. Paradoks lainnya, kenapa aku capek-capek ingin dekat sama keluargamu, toh, kamu juga tak pernah ada niat untuk dekat dengan keluargamu sendiri? Kehangatan macam apa yang kuharapkan dari hubungan dinginmu dengan ayah, ibu, kakak-kakak, dan adik-adikmu? Lebih baik, aku belajar dekat dan menjadi hangat dengan ibu, bapak, dan adik-adikku sendiri.
Gak, di surat ini aku gak mau bilang kamu salah, enggak, aku yang salah karena udah mencintai dan berharap ke kamu. Aku hanya menyampaikan uneg-unegku yang kupendam padamu saja. Mau tak mau, kau juga terlibat di dalamnya. Salah satu sahabatku pernah bilang, kau serupa sirkus yang kukagumi, tapi tak bisa kumiliki. Ya, sirkus bagus sebagai tontonan tapi tidak untuk hidup bersama. Damn!
Pencerahan yang kudapat bilang padaku, aku susah melupakanmu karena durasi itu, selama 12 tahun mencintai itu bukan hal yang mudah, dan egoku tak akan terima jika aku tak berujung padamu. Aku lebih mencintai imajinasiku alih-alih damai dengan realita yang ada. Untuk itulah, malam ini kuputus ketololan egoku ini. Toh, setelah kupikir-pikir, aku gak sayang-sayang banget juga sama kamu. Aku anggap kamu teman yang supportif padaku. Seperti halnya saat kau membantuku ketika kehabisan uang pas di Jakarta tahun 2019 lalu. Tak lebih.
Malam ini, aku mau bilang ke higher self kamu: This is our closure.I give up on you. I will go without regret for what I have done. I won't go back again, no matter what life will be. I will cut you off completely, totally. Sayonara.
Kemarin aku ikut education fair untuk kesekian kalinya, saat itu bertepatan di Hotel Pullman Jakarta, depan HI pas, dan depan EF Plaza Indonesia pada Minggu (27/4/2025). Acara ini diselenggarakan oleh SUN Education, tempat dulu aku ngambil IELTS kedua. Aku ingin mencatat pelajaran-pelajaran yang kudapat semasa mengikuti beberapa seminarnya.
Surat rekomendasi itu untuk memperlihatkan aspek-aspek di luar angka dari anak yang diberikan mahasiswa, misal terkait anaknya ini seorang problem solver, resilience, hardworking, punya keinginan yang besar untuk terus belajar, dlsb.
Seorang higher achiever bisanya suka overwhelming, dan itu perlu dinavigasi. Mengelola ekspektasi dengan "self-coaching". Dan salah satu hal yang kutekankan ke diri sendiri, "Is, belajarlah self-coaching". Kegiatan ini serupa melakukan refleksi diri.
Orang-orang Indonesia rata-rata tidak tahu kelebihannya apa, tapi ketika ditanya tentang kekurangan, mereka bisa mengungkapkan daftarnya sampai seribu. Kita bisa melakukan self-coaching di sini dengan mendaftar paling tidak 25 kelebihan yang kita punya.
Jangan terlalu fokus memperbaiki kekurangan, nanti kelebihannya jadi tumpul.
AI cuma alat, jangan mengandalkan AI, karena akan terlihat. AI itu bahasa mereka to good to be true. Sementara tulisan tangan kita sendiri itu serupa signature.
Pemberi beasiswa suka dengan program atau proyek sosial yang memberikan dampak kepada masyarakat. Wawancara itu punya bobot 70 persen dalam seleksi penerinaan beasiswa. Seperti bagaimana kita meyakinkan orang dengan biaya miliaran untuk diberikan ke kamu. Kayak seorang calon mantu yang mau meyakinkan calon mertua.
Tujuan iinterview itu kalau diibaratkan bisnis, saya invest ke kamu itu worth it gak? Jangan sampai jadi "awardee maling", yang egois cuma peduli sama diri sendiri. Dapat beasiswa gak pulang, sibuk ngejar karier untuk diri sendiri.
Be prepared. Use the STAR methods: Situation, Task, Action, Result.
Kalau kamu diinterview, dan pilihan kamu ke luar negeri, sebisa mungkin, pakailah bahasa Inggris, karena kadang interviewer juga menjebak.
Kalau bicara terkait kekurangan, "Jadilah problem solver untuk masalah sendiri."
Kalau kamu mikirin "impact-impact-impact" apa yang bisa kamu berikan untuk masyarakat dan negara, kamu akan mendapatkan beasiswa itu sangat mudah. "You will get the scholarship easily."
Proyek sosial tak perlu yang susah, lakukan hal-hal sederhana, seperti mendaur ulang sampah. Atau kamu ngumpulin sampah terus dijadikan kerajinan tangan apa gitu juga boleh.
Menutup tulisan ini, pas aku pulang dari Pullman, aku masih bisa nemu bapak-bapak kaki lima penjual nanas keliling. Harganya juga wajar, dua wadah 20 ribu. Entah kenapa sore itu rasanya aku trenyuh.
Halo Mas Irfan R. Darajat di Jogja, juga Mas Wiman Rizkidarajat di Purwokerto, kakak-kakakku di dimensi yang lain. Malam ini aku ingin ngobrol bareng kalian, sambil curhat gak papa ya, entah kenapa aku selalu bilang begini sebelum curhat. Seolah aku harus minta izin untuk mengungkapkan perasaan, meski sebenarnya itu tak perlu. Kalau mau cerita ya cerita saja, begitu kata sahabatku yang lain. Mungkin aku memang serentan itu membicarakan hal yang dianggap orang menyek-menyek.
Mas-masku yang baik, aku mengenal Jalan Pulang pertama jujur pas diajak Sidra wawancara terkait kolam musik indie yang spesifik. Waktu itu aku nemenin Sidra (yang sekarang anaknya mburuh di Australia itu) pas dia jadi anak magang Arena untuk wawancara Mas Irfan (vokalis JP) di Joglo Kopi Sorowajan, tempat ngopinya anak-anak UIN. Waktu itu kira-kira sepuluh tahun lalu, 2015, saat negara api (aka Jakarta) belum menyerangku. Aku merasa saat itu ada kedekatan sendiri terkait bagaimana Mas Irfan menceritakan lagu-lagunya, cerita kuliahnya di Fisipol UGM, bacaan-bacaan dia, penulis-penulis semasa angkatan kami, teman-teman kami yang saling beririsan, sampai isu-isu yang dibawa dalam karya.
Mulai sejak itu, aku mulai mendengarkan Jalan Pulang. Aku memulainya dari lagu "Pulau Laut", "Kartu Pos dari Moscow", "Rumah Dijual", dan "Mei". Aku bisa sangat panjang berbicara untuk setiap lagu ini satu per satu. Saat itu aku mendengarnya di YouTube, lagu-lagu itu entah kenapa sangat-sangat dekat denganku. Aku bahkan bisa melahirkan kalimat-kalimat yang tak kalah puitis yang terinspirasi dari lagu-lagu itu, dan membuatku kaget sendiri, bisa juga ya aku buat kalimat seperti ini.
Jangkar lain yang membuat labuhan pada Jalan Pulang berumur panjang, ketika aku ikut Sekolah Urbanis yang diadakan RCUS, dan diketuai Mas Irwan Ahmett dan Mbak Tita Salina. Saat itu, aku ada tugas akhir, dan wawancara Mas Irfan lagi via Zoom. Dari obrolan itu, banyak-banyak banget kupasan bawang yang aku ketahui dari Mas Irfan dan keluarga, karena saat itu tema tulisanku soal orangtua. Aku tanya sampai ke detail, bagaimana orangtua Mas Irfan mempengaruhi karakter dan tingkah laku sekarang? Apa pemikiran Bapak yang selalu diingat?
Mas Irfan saat itu cerita sangat banyak dan menyentuh. Dari dia yang sejak kecil suka sakit-sakitan, cita-citanya menjadi kenek angkot karena posisinya yang enak (semilir dekat pintu), lagu-lagu yang sering diputar di rumah ketika kecil, ayah yang kuliah doktoral di Jerman, pengen motor tapi tak dibelikan (pas dewasa baru sadar saat itu situasi keuangan sulit), obrolan dengan ibu yang intens, kakak laki yang keras kepala, kakak laki-laki yang punya banyak ibu (karena dirawat banyak saudara ibu), dan kakak laki-laki itu adalah Mas Wiman Rizkidarajat. FYI, keluarga Mas Irfan ini UGM hard core, ayah beliau profesor di UGM, ibu beliau pegawai UGM, Mas Irfan dan Mas Wiman juga kuliah di UGM. Kurang Kagama apalagi? Kagamanya Kagama ini mah.
Usai obrolan Zoom itu, aku langsung mengikuti Mas Wiman di Instagram, dan gak nyangka difolback (seneng waktu itu, haha, seperti ajakan perkenalan dan persahabatanku divalidasi, dan rasanya entah kenapa langsung bisa klop, kek sirkelnya nyambung). Istri Mas Wiman yang bernama Mbak Margi Ariyanti juga kebetulan anggota Jalan Pulang, beliau pegang piano. Mas Wiman dan Mbak Margi punya anak laki-laki lucu bernama Daya (nama lengkapnya Amerga Bhismadaya). Berbeda dengan Mas Irfan, Mas Wiman mengambil jalur akademisi alih-alih musisi. Eh, Mas Irfan sekarang dosen di UGM juga deng, berarti dua-duanya akademisi (dan musisi). Aku sering aktif memantau story-story beliau, Mas Wiman, tentang kehidupan kampus, kehidupan jadi dosen Unsoed, skena DIY Purwokerto, jurnal-jurnal yang beliau terbitkan, musik-musik blackmetal beliau, foto-foto Daya, sampai konten larinya. Beliau ini soal lari memang keren, sehari bisa sampai 10-20 kilometer dilalui, dan itu tiap hari. Gila sih, aku belum kuat tirakat sampai sana. Kisah olahraga lariku paling jauh di Jakarta gak sampai 5 km, dan itu frekuensinya bisa dihitung jari.
Seiring berjalannya waktu, setelah mengenal Mas Irfan yang berkecenderungan karakter khas negara Nordic, dan Mas Wiman yang berkecencerungan karakter khas Nusantara, aku tak tahu menyebutnya apa, tapi inti yang ingin aku bilang adalah kalian serupa kakak-kakakku di dimensi hidupku yang lain di luar saudara sedarah. Kedekatan kultural akan jiwa dan daya inilah yang kurasakan, selain obrolan seputar musik, hidup, dan buku di Instagram.
Sebenarnya di tulisan ini tuh, aku mau cerita tentang lagu "Sif Malam" dan bagaimana kisah itu relate denganku. Mas-masku, sejak tanggal 8 April 2025 lalu (ekhm, sesi curhatnya dimulai ini), aku dapat tugas dari kantor untuk rekap link berita dan dikirimkan antara jam 22.00-23.00 WIB, dan ini tiap hari. Ya Allah, setelah kujalani ini berat banget. Apalagi tadi habis dari Tangerang Selatan, perjalanan jauh, pulang capek, tapi harus kerja lagi. Belum ditambah lagi dengan ngedit berita, Ya Allah. Tapi pas aku dengar lagu "Sif Malam", aku merasa mak jegagik, brengsek! Ini musiknya gak ada obat! Ngena banget di aku pas di lirik: "Dia memang terluka, dia tak ingin bercerita atau berkeluh kesah, dia hanya ingin terus bekerja dan melupakan semua...." Terus dilanjutkan ke reff-nya, anjayyy! Keren banget! Gak ada lagu lain yang bisa mengerti pekerjaanku dari jam 10-11 pm ini selain lagu "Sif Malam"-nya Jalan Pulang.
Ya Allah, karena shift baru itu, jam tidurku terganggu. Kalaupun aku tidur, sering gak nyenyak. Aku kadang di kantor nyuri-nyuri tidur. Emosiku beberapa waktu jadi gak stabil. Aku mau complain tapi ya gimana? Meski aku pernah diajak ngomong Kapuspen terkait ini, tapi sampai sekarang gak diobrolkan lagi, dan gak dicari tandeman yang bisa gantian. Malam ini jujur adalah malam yang berat, dan lagu "Sif Malam" memahami dan menghiburku dengan sangat baik. Suwun mas masterpiece-nya.
Aku mau bilang makasi juga telah mengundangku lewat Ruang Pana untuk hadir di konser Jalan Pulang Sabtu ini di Beranda Svara, tapi karena beberapa hal, aku gak bisa datang. Sedih rasanya, jujur, Kalau Jakarta-Jogja sedekat Jakarta-Bogor, aku akan jamin duduk di saf paling depan, dan bernyanyi bersama kalian satu album "Dan Kisah-Kisah Lainnya", dari lagu "Kepada Ytc." sampai "Malam Nyari Sempurna". Kapan-kapan kalian harus konser di Jakarta ya, kutunggu lho, kutunggu. Sebagai adik di dimensi lain, aku sayang kalian banyak, sayang kalian banyak mas-masku. Sehat terus dan jangan berhenti berkarya.
Jakarta, 27 April 2025, di Sif Malam, jam dua dini hari
Hampir selama tinggal di Jakarta aku giat banget ikut kursas-kursus yang berhubungan semua dengan tips, trik, panduan beasiswa. Banyak yang kuikuti dan gak murah. Namun semalam aku seperti diingatkan blind spot yang gak kusadari dari menjamurnya jasa-jasa lembaga gibal-gibul seperti itu, dengan produk yang kadang gak sesuai sama iklan yang mereka tawarkan. Obrolan dengan mahasiswa NUS semalam tentang ABC course and scholarship memberiku pelajaran penting: Pertolongan itu lebih mudah, murah, dan dekat dari yang dibayangkan; yang membuat berat, mahal, dan jauh adalah kapitalisme (anjay kapitalisme) dan rasa gak enakan sebelum mencoba mencari pertolongan sama orang-orang terdekat.
Beberapa blind spot abc scholarship course gibal-gibul yang pengen ku-highlight: (0) mahal, (1) mereka punya rumus dan outline sendiri misal dalam bikin esai, tapi tanpa sadar itu mematikan kreativitas, dan membuat esaimu jadi generik karena sama dengan yang lain; (2) mereka gak kenal kamu, gak tahu latar belakangmu, mostly mereka kerja ya kerja; (3) apa yang mereka tawarkan setelah kamu jalani kadang gak sesuai kebutuhanmu; (4) personalisasi kamu sebagai "human" yang autentik itu direpress sampai dihilangkan; (5) paling nyebelin kalau itu sifatnya grup, akan selalu ada orang-orang yang udah jelas informasi ada di grup/panduan beasiswa, tapi tetap ditanyakan lagi. Stupidity at its best.
Sekarang aku ada di tahap trust issue (anjay trust issue) sama lembaga abc course scholarship. Apalagi lembaga yang kuikuti terakhir. Pertama, dia gak nepati janjinya untuk bantuku brainstorming ketika Zoom sama salah satu profesor di universitas Australia yang kubibrik. Bahkan setelah Zoom itu selesai, dia juga seolah biasa aja. Kedua, jam dia Zoom gak sesuai sama di iklan, dibilang pertemuan 1 jam, tapi dia seringnya cuma 30 menit. Dari 4 kali pertemuan, tiganya sekitar 45-30 menit. Ketiga, ini yang bikin aku hopeless. Kami Zoom pukul 9 pagi, semua masukan dia kuproses as soon as yang kubisa tiga jam kemudian. Kurang semangat apa? Aku juga nawarin jadwal pertemuan ulang di tanggal yang dia kosong, tapi gak direspons. Lalu ku-WA lagi dua hari kemudian gak direspons. Kubiarkan dari tanggal 14 April sampai 22 April sekarang gak direspons. Padahal penutupan beasiswa 30 April. Udah pengen cepat-cepet submit, tapi ya, ya udah. Terserah dia aja balasnya kapan.
Sekarang ada di tahap "nrimo ing pandum" dan manut sama skenario Tuhan, Yang Maha Teliti, yang membuat skenario hidup. Aku hanya alat Beliau saja di dunia ini.
Punya pengalaman berkali-kali ikut education fair, rasanya seperti overwhelming, dan baru kali ini, setelah aku tahu yang kumau, jadi gak bingung lagi apa yang dituju. Aku sepakat, mindset bertumbuh tuh mesti dijaga nyalanya tiap hari. Gak papa di masa paling blo'on sekali pun ngumpulin banyak brosur yang akhirnya gak guna, jalan dari stand ke stand lain dengan konsultan yang gak jelas dia ngomong apa karena kendala bahasa (itu masih mending dibanding ketemu konsultan yang belum-belum bikin lu makin inferior broaden your POV, karena ada tipe konsultan yang emang galak), ketemu banyak ratusan, ribuan anak yang padha pinter, ambis, and shining wanna be. Satu hal yang kupelajari: lu punya perjalanan unik lu sendiri, toh, kalau itu gak sampai, ada tempat lain yang lebih indah.
Dan pelajaran yang kudapat dari pameran ini adalah:
1. Tujuan milih kuliah itu sandarannya apa yang kamu lakukan. Kalau mau daftar, kau harus tunjukkan dirimu bisa balance di banyak hal, gak cuman pinter doang, banyak coy orang pinter di Indonesia. Yang kurang itu orang yang seimbang, yang dewasa, pola pikir harus tumbuh, jadi otentik, kalau kamu lucu, ya tunjukkan kamu lucu.
2. Jangan lupa: Practice, practice, practice.
3. Ingat: BAHASA BUKAN PENGHALANG LO DI MANA PUN! Terapkan growing mindset. You don't need to get the all answer and result at the present.
4. Mulailah seawal mungkin, jangan mendekati deadline. Buat langkah beyond. Tuliskan tiga hal paling gak yang bisa bikin penyeleksi ingat sama kamu (three things do you want to remember). Banyak personal statement, tapi apa yang membuatmu berbeda. Jadilah autentik dan jujur.
5. Personal statement itu penting, karena nentuin tujuan. Membantumu memetakan apa yang kamu inginkan, bagaimana sejalan dengan tujuan, dan untuk mengetahui dirimu sendiri. Hindari menjadi terlalu general, semakin autentik kami, maka semakin berguna, jangan jadi duplikasi. Kualitas penting, tunjukkan kamu unik. "It's more like story telling and visualize you."
6. Trik sebenarnya sederhana, sebagaimana seperti kamu main Tinder, bagaimana membuat profilmu bisa dilirik oleh orang lain dalam aplikasi. Bagaimana kamu membangun personal branding, kalau kamu suka binatang, tulislah misal kamu aktif di Animal Welfare. Kalau kamu punya hobi, tunjukkan, daripada mendaftar kamu melakukan ini dan itu.
7. Satu kesalahan fatal dari orang yang mendaftar beasiswa: MEREKA HANYA PEDULI PADA BEASISWA ITU SENDIRI, TAPI TIDAK PADA DIRI MEREKA, KARIR MEREKA, dan APA YANG BENAR-BENAR MEREKA INGINKAN. Kamu punya waktu untuk menjadi versi terbaikmu. Kamu bisa kontribusi apa? Mau jadi apa? Apa yang bisa kamu berikan balik untuk pemberi beasiswa yang tak murah ini? Please be different. Details and break the application. Tulis course yang sangat membuatmu hidup.
8. Kalau kamu dapatin beasiswa, perluas horisonmu, sekali lagi: BAHASA BUKAN MASALAH. Kamu bisa travel di banyak tempat. (Aku ingat pas di UGM, sepede itu ngomong Inggris meski patah2 di depan penerima Nobel.)
9. Kalau lu ada di sekolah yang baik, itu akan buka banyak kesempatan baik pula. Beasiswa Pergururan Tinggi Utama Dunia (PTUD) ini jadi jalur paling baik untuk dapat beasiswa, karena kamu sudah struggling duluan di aplikasinya yang berat. PTUD juga melambangkan kualitas yang lebih baik. Di sini sangat-sangat-sangat kompetitif. You need to secure your place first.
10. The best investment you can make is yourself.
11. Bingung mulai sekolah dari mana? Mulailah dari program, di mana program itu mempunyai tempat terbaik, apa indikatornya? Ketika nemu program terbaik, jahit dengan kebutuhan dan rencanamu. Misal, kalau kamu milih Antropologi, apa yang kamu inginkan dari Antropologi?
12. Ada dua kesalahan utama para pelamar beasiswa: (a) Isi aplikasi mereka dari belakang, sekarang, dan ke depan GAK NYAMBUNG. Apa pun rencananya, dongengmu harus nyambung. Ketika menulis esai, kamu melakukan ini karena ini; dan kamu akan melakukan ini. Pokoknya gimana ceritanya dari belakang, sekarang, dan depan NYAMBUNG. (b) Tulisan mereka tidak spesifik dan mengawang-awang, pemberi beasiswa tidak butuh "saya ingin memajukan Indonesia," tapi "saya mau melakukan pemeriksaan gratis setiap minggu di Puskesmas Karangboyo," misal. Akan semakin bagus jika ada cerita. Terus lakukan riset, jangan berhenti.
13. Tiap tahun lebih kompetitif, PR-nya banyak. Simple: semua itu praktis dan bisa dipelajari. Nggak perlu terjebak dalam lembaga yang gombal-gambul.
Semua boleh goyah dan berubah, tapi hatiku masih stuck di kamu. Kau serupa mata air yang gak habis-habisnya kutimba, lagi, lagi, dan lagi. Kau tak hanya memberiku hidup, tapi juga cinta, inspirasi, poros, semesta. Mungkin aku terlalu memaksakan diri (meski tahu ukuran sepatu kita tak pernah sama), mungkin aku terlalu keras kepala (lebih dari batu), mungkin aku kekanak-kanakkan (yang memaksa mainan kesukaan tertentu meski tak mampu dimiliki).
Tak ada yang menyentuh hatiku sedalam itu, serupa kamu. Aku telah pada taraf yang ekstrem kadang, menjadikanmu sebagai kompas hidup. Jika kau tak ada, apalah arah hidupku nanti. Aku menyerah, aku gagal, aku gagal melepaskan diriku padamu. Membebaskan pengaruhmu dari diriku. Sering kan kubilang: Jika kau adalah kitab, aku hanya serupa catatan kakimu saja, dan aku tak mau meminta lebih. Catatan kaki bisa dibaca, tapi lebih sering tak dibaca. Begitu pula aku di hidupmu.
Tiba-tiba aku curiga, Isma yang sekarang adalah manusia rakitan yang otak dan kepribadiannya dibentuk, diciptakan, dan sengaja atau tidak dirawat olehmu. Berbagai prestasi dan lejitan inovasi yang kubuat semata-mata seolah bersumber dari semangat yang sama: "wujud cinta yang kurasakan padamu." Itu kenapa, pondasi dirimu sudah mengakar, dan seandainya aku pohon, maka akar yang menguatkanku, membuatku tegak berdiri adalah kamu. Sebab mencermati hidupku sebelum bertemu kamu, aku hanya serupa anak sekolah pada umumnya, pretasi pas-pasan, masuk ke kelas sekadar masuk, ya, tak seberat setelah aku mengenalmu. Aku seperti ketiban tanggung jawab untuk tidak cuma mengurus diriku sendiri. Ah, brengsek kamu! Menjadi rumusanmu "Einstein+(Marx×Pram)=Isma" itu jadi jihad yang kuperjuangkan karena kamu yang mengatakannya dan aku mengamininya.
Di Jakarta aku telah melalui banyak musim, tapi aku merasa di sana terlalu lama dan tak melakukan apa-apa. Di Jakarta rasanya seperti menikmati ice cream, makanan/minuman yang tak kusuka-suka amat, tapi diminati orang banyak; dalam hatiku sendiri, serupa ice cream, tak memberiku gizi. Menurutku, tak ada yang bisa menggantikan masa panjang itu, masa masih hidup di universitas bersamamu. Aku mengenang masa-masa di mana aku bisa membuat tulisan yang sangat sentimentil dan emosional, membuatkan puisi-puisi yang kukirim ke emailmu dan tak pernah kau balas, membuatkanmu novel-novel yang kupersembahkan padamu meski tak tertulis, dan setelah kita sama-sama keluar dari Jogja, aku seperti Michael yang kehilangan Hanna di film The Reader (2008).
Aku menonton film The Reader kemarin, dengan kedalaman yang sangat berbeda njomplangnya. Film ini memang bukan untuk semua orang, hanya penonton yang punya derita batin serupa yang bisa terhubung. Jika pertama kali aku menonton film ini merasa jijik dan menganggap film ini sampah dengan skor 1/10; kemarin aku berani declare, ini film drama terbaik yang pernah kutonton dengan skor 9/10. Film ini bagiku bukan sekadar film, tapi lompatan paradigma personalku membaca yang di luar diriku. Rasionalisasinya, ketika aku pertama kali menontonnya, aku terjebak dalam stereotip adegan affair-nya saja yang waktu itu terasa plastis, permukaan, dan murahan.
Menontonnya ulang aku mengumpat, anjir, Michael (David Kross) dan Hanna (Kate Winslet) di sini akting mereka perfect! Kate Winslet mendapatkan piala Oscar pertamanya karena film ini, dan di pidatonya yang sebentar, dia bilang mimpi mendapatkan piala Oscar telah dia manifestasikan saat kecil di kamar mandi, dengan wadah sampo sebagai pialanya. Tiap detik, Kate dan David menjiwainya, dan aku bisa paham dengan pilihan dan keputusan yang diambil para tokoh-tokohnya (meski aku tak bisa sepakat dengan semuanya). Muatan dilema moral, filsafat, etika, hukum, sejarah, sastra, guilty pleasure, dll, ini problem yang sangat manusia, dengan pertanyaan besar: Bisakah cinta dilepaskan dari sejarah? Dalam konteks ini Nazi dan Jerman.
Bagaimana perempuan seusia Hanna yang berumur 36 tahun menjalin hubungan intim dengan bocah 15 tahun yang mirip seperti anaknya. Aku paham bagaimana Michael di usia segitu sedang menggebu-gebu dengan darah mudanya, ego usia muda yang besar; sementara Hanna yang illeterate, tak bisa membaca dan menulis, nyaris tak memikirkan hubungan jangka panjang. Sebab dia serupa perempuan kesepian umumnya yang terbiasa menderita dan tak ingin menambah beban ke diri sendiri. Michael yang dipanggilnya "Kid" itu hanya oase sebentarnya saja yang kasual, setelah itu kembali ke kenyataan hidup yang membosankan di Jerman setelah Perang Dunia II.
Keduanya juga berasal dari kelas ekonomi yang berbeda dan relasi kuasa yang berbeda. Michael dari anak orang kaya yang etiketnya dijaga sampai di ranah meja makan, Hanna dari kelas pekeja, petugas karcis di trem, serta tinggal sendirian di apartemen murah dan miskin pinggiran Jerman. Bagian yang paling kusuka di film ini saat Michael mengajak Hanna sepedahan di sebuah daerah yang ada di novel sastra klasik yang dia bacakan kepada Hanna. Michael mengajak Hanna makan, tapi dia bingung saat melihat menu makan, dia tak bisa memilih karena tak bisa membaca. Apalagi di sampingnya ada banyak anak-anak yang tertawa-tawa sambil memilih menu. Bisa kau rasakan bagaimana psikologi Hanna kala itu? Scene itu membuatku terenyuh.
Bagian yang membuatku menangis: saat Michael bertemu Hanna lagi di persidangan. Di mana persidangan ini barangkali serupa yang digambarkan Hannah Arendt dalam bukunya "Eichman in Jerusalem". Bagaimana Hanna yang illeterate itu dicerca habis-habisan, sampai dia mengakui kesalahan yang sebenarnya tak murni kesalahannya. Juga karena dia malu dianggap tak bisa membaca dan menulis. Kesalahan yang andai dia akui bisa meringankan hukumannya di penjara. Scene ini juga menyimbolkan bagaimana genosida yang terjadi di Auschwitz gagal dibaca oleh aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, termasuk negara dan oknum-oknumnya. Aku ikut menangis bersama Michael saat keputusan penjara seumur hidup kepada Hanna diputuskan, itu perasaan perih yang purna, saat kau tak bisa melakukan pembelaan apa pun terhadap orang yang kau cintai karena ada perasaan bersalah dan perasaan yang belum selesai.
Kau tahu hal lucu lainnya apa? Michael kuliah di Heidelberg Law School, dan tadi pagi Heidelberg menolakku. Sekitar sebulan yang lalu, mengikuti jejak akademikus Geger Riyanto, aku daftar Master di jurusan Sosial Antropologi Universitas Heidelberg. Aku buat surat motivasinya sebaik mungkin, meski akhirnya aku gagal di administrasi, karena mereka menganggap dokumen yang kuunggah tak sesuai ketentuan mereka. Aku mendapat pengumuman lewat bahasa Jerman dan Inggris, dan rasanya begitu, mak jleb, kenapa bisa sekoinsiden ini dengan Heidelberg? Tempat kuliahnya Hannah Arendt itu, juga di film The Reader, Michael masuk kelas eksklusif dari hanya beberapa mahasiswa terpilih oleh profesornya. Bagian itu seperti melecutku dengan halus, aku ingin juga menjadi yang terbaik.
Metanarasi lainnya, kisah Michael dan Hanna tentang dua orang yang berbeda umur yang jauh (si anak 16 tahun dan si perempuan 31 tahun), kurasakan pula di lagu Und es war Sommer yang dinyanyikan Peter Maffay. Ingat lagu ini, niatku belajar bahasa Jerman jadi naik, haha. Kembali, inti perasaan di film The Reader: aku menangis saat Michael tak berani menemui Hanna ketika dipenjara. Aku menangis saat Michael memutuskan untuk merekam suaranya ke dalam kaset, membacakan novel-novel klasik seperti Odyssie karya Homer, Petualangan Tintin karya Georges Prosper Remi, Petualangan Huckleberry Finn karya Mark Twain, The Lady with the Dog karya Anton Chekov, Intrigue and Love karya Friedrich Schiller, War and Peace karya Leo Tolstoy, juga buku-buku lain dalam versi novel "The Reader" karya Bernhard Schlink, seperti Franz Kafka, Thomas Mann, Goethe.
Aku menangis saat Hanna belajar membaca dan menulis. Aku menangis saat Michael edisi tua punya satu anak bernama Julia dan pernikahannya yang gagal, lalu bertemu Hanna lagi di bangsal sosial. Keduanya punya harapan yang berbeda, Hanna sangat semangat, dan Michael seperti lempeng mungkin karena kelelahan hidup akan cinta yang dirasakannya ke Hanna. Sampai puncaknya, Hanna memilih untuk bunuh diri (padahal sebelumnya Michael telah mempersiapkan rumah kecil untuk Hanna di masa sepuhnya); aku tak tahu alasan kuatnya, tapi itu scene yang membuatku ingin menangis keras. Aku bisa merasakan betapa hancurnya hati Michael, tapi di saat yang sama, aku bisa memahami keputusan Hanna. Kadang dunia memiliki selera humor yang gelap dan kejam seperti ini.
Aku ingin kembali ke pembahasan kita, film ini sangat sesak di dada. Aku membayangkan, barangkali aku serupa Michael, yang sejauh apa pun aku pergi, bertemu dengan sebanyak apa pun orang, aku kesulitan konek dengan mereka secara lebih mendalam. Mungkin nanti aku akan menikah dan punya anak (kau juga), tapi aku ragu pengaruhmu dan cintaku padamu akan hilang. Kompleksitas psikoanalisis Lacanian terkait, "Why do people stay stuck in toxic relationship?", dan bagaimana Slavoj Žižek memperluasnya dalam hubungan negara dan masyarakat mungkin sedang kuhadapi pula. Kesenangan dan kesakitan sekaligus mungkin yang membuat suatu hubungan itu lebih pelik dari sekadar toksik dan tidak toksik.
Lacan memang sudah mengingatkan, orang yang bertahan dalam hubungan toksik bukan karena dia tak tahu, tapi terjebak dalam struktur hasrat yang selalu dibentuk dari kekurangan. Sebab kita selalu merasa ada yang hilang, lalu membangun fantasi pada objek di luar kita: orang yang kita cintai. Tentu ini diikuti kebodohan-kebodohan lain: menggantungkan keselamatan, pemujaaan, sampai upaya pemberontakan untuk meruntuhkan fantasi yang telah lama dibangun. Kesenangan dalam ketertindasan yang disebut Žižek sebagai kenikmatan tersembunyi (jouissance). Sekali lagi, bukan aku tak tahu, bukan aku tak sadar, tapi aku memang memilih untuk mengurai dan memahami kepelikanku akan ini.
Kau tahu, kenangan bersama orang yang kau cintai bisa membentuk peta perasaan, pikiran, dan tubuh seseorang seumur hidupnya. Aku merasa, hingga sekarang, aku masih menjadi seseorang yang tak hanya bisa menerima kedalamanmu, tapi aku juga ikut berenang bersamamu tanpa aku takut tenggelam. Dan kuyakin, seumur hidupmu, rasanya kau belum pernah bertemu dengan orang yang serupaku, yang berani menyelami kedalamanmu seperti diriku.
Narasiku ini tak berlebihan, pada dirimulah segala cinta, kerinduan, dan aneka hasrat yang kuinginkan dan kucari menemukan bentuk. Semacam Michael yang mungkin hanya menjadi catatan kaki bagi Hanna, aku pun barangkali begitu, hanya menjadi catatan kakimu saja. Tak selalu kau lihat, tapi ada. Jika cinta adalah soal kamu mau hidup dengan jenis keraguan yang mana? Aku akan menjawab, keraguan terhadapmu. Jika cinta bukan hanya gejolak, tapi keputusan yang berulang-ulang setiap hari, kau adalah yang sering kuulang-ulang itu. Jika tema hidupku adalah kamu, maka aku bisa bercerita tentang banyak manusia yang hidupnya aneh-aneh. Dunia memang berantakan dan kacau, tapi bersamamu terasa teratur dan masuk akal.
Dua hari yang lalu, aku meminta ChatGPT untuk menggambar kita. Ah, dia gak adil, masak kamu mirip tapi di aku gak mirip, haha. Ya sudah, gak papa, anggap aku memang secantik perempuan di gambar ini. Prompt visualisasi ini memang terinspirasi dari lagu "Bangku Taman" dari Pure Saturday yang sering kau dengar ketika di Student Center dulu. Sampai sekarang, aku menganggap lagu itu selalu hidup, di samping lagu "Kosong" dan "Elora". Dan jika kau bertanya, mood apa yang ingin aku bangun dalam tulisan ini? Aku menjawab seperti di lagu "Bangku Taman" bersamamu... Sungguh, seperti tertulis di lirik awal lagu "Elora", aku tak menginginkan apa pun selain yang telah kau berikan padaku.