Kesan setelah membaca buku ini seperti yang dikatakan Lusia di cerita "Lusia et ses Enfants", dia mengatakan, "Hidup ini sudah menyedihkan, kita jangan." Delapan cerpen yang Cyntha Hariadi tulis dalam buku "Mimi Lemon" semua tokohnya punya keberpihakan yang kuat dengan ibu, anak, dan dunia perempuan. Tokoh-tokohnya punya satu garis merah yang sama: Sejahat apa pun yang terjadi pada hidup, toh semuanya akan berlalu dan kita bisa tertawa lagi.
Cerpen yang paling kusukai adalah cerpen terakhir, "Bella Biutiful". Cerita menyentuh tentang seorang pembantu dari Lampung bernama Ida yang bekerja sebagai ART di Jakarta di rumah nyonya bernama Lisa. Sebelum ke Jakarta, hidup Ida di Lampung sungguh menguras empati. Suaminya lumpuh, anak tertua pemalas, dan anak kedua si Bella punya keterbelakangan mental. Dengan segala cara Ida bertahan dan bekerja apa pun asal menghasilkan uang, menghidupi keluarganya. Circle Lisa sendiri tipe keluarga kelas menengah yang rentan depresi, dan punya anak laki-laki queer yang tak mau membuka identitas diri. Semua bertautan dan saling melengkapi.
Cyntha dalam buku ini juga intens menjelaskan dengan detail pola hubungan antara majikan dan pembantu, tuan dan sopir, atau hubungan serupa itu dengan baik. Melalui cerita itu jadi paham latar-latar psikologis kedua kelas berbeda ini dalam menjalani hidup. Dan dapat kusimpulkan, apa pun posisinya, semua orang punya deritanya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Seperti diceritakan dalam cerpen mayan thriller berjudul "Ikatan", saat seorang sopir menyelematkan harkat dan martabat si bos (direktur keuangan perusahaan yang hidupnya tak kurang apapun) yang bunuh diri, dengan menutupi kasusnya seolah-olah dia kena serangan jantung. Meski di akhir cerita saya masih mangkel tidak diberi alasan kenapa si bos mati?
Yang paling berkesan tentu, buku ini dengan indah menceritakan pola hubungan antara ibu dan anak. Seperti kisah dalam "Holy Orange Bottles", si ibu digambarkan menjadi sahabat paling dekat bagi si anak, tak ada cerita apa pun yang hebat bagi si ibu kecuali cerita terkait apa yang terjadi pada si anak dan orang-orang di sekitar si anak. Anaknya pun sayang pada ibunya, meskipun dia juga sedih karena ibunya menderita kanker yang harus minum obat warna orange tiap hari. Pola hubungan ibu-anak ini juga tampak di cerpen "Ke Planet Lain Bersama Aluna" dan "Mimi Lemon", bagaimana dunia anak dan orangtua begitu berseberangan, susah disatukan dan menciptakan teror mental.
Meski di balik itu, kita bisa dengan mudah menghayati kehidupan yang sekuler dan liberal ala Lusia di cerpen "Lusia et ses Enfants", yang hidup bebas dan menggunakan kebebasannya untuk menolong jiwanya sendiri. Prinsip bebas dan mandiri itu pula yang nampak dalam cerpen " Coco De Mer". Atau memilih dunia kerangkeng seperti dalam cerpen "Formula 44", suatu paradoks kehidupan tetangga yang satu milih single, yang satu orangtua yang punya lima anak. Dan tentu, orang single lah yang justru cari moment untuk terhubung dengan yang lain. Keseluruhan, cerpen-cerpen Cyntha mengingatkanku dengan cerpen-cerpen Budi Darma, yang tokohnya punya rentang dimensi yang tidak hitam-putih dan punya motif kuat untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Cyntha dalam buku ini juga intens menjelaskan dengan detail pola hubungan antara majikan dan pembantu, tuan dan sopir, atau hubungan serupa itu dengan baik. Melalui cerita itu jadi paham latar-latar psikologis kedua kelas berbeda ini dalam menjalani hidup. Dan dapat kusimpulkan, apa pun posisinya, semua orang punya deritanya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Seperti dikisahkan dalam cerpen mayan thriller berjudul "Ikatan", saat seorang sopir menyelematkan harkat dan martabat si bos (direktur keuangan perusahaan yang hidupnya tak kurang apapun) yang bunuh diri, dengan menutupi kasusnya seolah-olah dia kena serangan jantung. Meski di akhir cerita saya masih mangkel tidak diberi alasan kenapa si bos mati? Pola ini juga ada di cerpen "Formula 44" dan "Bella Biutiful".
Andina Dwifatma, Kuli Tinta yang Beralih Jadi Dosen Muda - Dunia Dosen
Redaksi
11–14 minutes
Dosen program studi (prodi) Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik
Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta, Andina Dwifatma, S.I.Kom., M.Si.,
sama sekali tak memiliki bayangan bagaimana mengajar mahasiswa di kelas
saat masih belia. Profesi dosen tak pernah terlintas di benak Andin,
sapaan karib Andina Dwifatma, sebagai pekerjaan yang ia tekuni di
kemudian hari. Sejak kecil, Andin ingin menjadi wartawan. Dan bagaimana
perjalanan karir Andin dari kuli tinta dan beralih profesi menjadi dosen
muda? Simak wawancara duniadosen.com berikut.
Sejak kecil, Andin gemar membaca dan menulis. Berawal dari
kesukaannya membaca komik Tintin, keinginan untuk menjadi wartawan makin
membuncah. Untuk mengakomodasi keinginannya tersebut, pada 2004 Andin
mengambil jurusan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
(FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah.
Semasa kuliah, dosen muda ini rutin menulis artikel di rubrik kajian
budaya di harian Suara Merdeka setiap dua minggu sekali. Dia menulis
ulasan terkait tayangan televisi, film, sinetron, dan acara realitas
menggunakan teori-teori kajian media yang ia dapatkan di kelas
perkuliahan. Kegiatan tersebut dia tekuni sampai lulus dari Undip
Semarang pada tahun 2009.
Menjadi Wartawan Agar Bisa Melihat Dunia Lebih Luas
Menjadi wartawan, bagi Andin adalah kegiatan yang menyenangkan karena
dia bisa melihat kehidupan secara lebih luas. ”Saat itu, beberapa dosen
yang dekat dengan saya sudah menyarankan agar saya mengajar saja. Tapi,
saya nggak mau karena ya itu tadi, maunya jadi wartawan biar bisa lihat
dunia,” ujar perempuan kelahiran 15 September 1986 di Jakarta tersebut.
Setelah lulus dari Undip Semarang, Andin kembali ke rumah orang
tuanya di Jakarta. Sempat bekerja di sebuah agensi hubungan masyarakat
multinasional selama dua bulan, Andin kemudian melamar posisi wartawan
di Kompas Gramedia Majalah. ”Saat diterima, saya ditempatkan sebagai
wartawan ekonomi bisnis untuk majalah Fortune Indonesia,” cerita dosen
muda tersebut.
Andin bekerja di majalah Fortune Indonesia sejak tahun 2010. Pada
2012, sambil tetap bekerja, Andin memutuskan untuk melanjutkan
pendidikan master di Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI).
Awalnya, Andin mengaku ragu untuk mendaftar S2 karena meski suka
membaca, Andin tidak suka sekolah, apalagi harus berlama-lama di dalam
kelas.
Andin mengakui keputusannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi
berkat dorongan dari suaminya. ”Suami saya, dengan setengah memaksa,
meminta saya ambil kuliah S2 karena menurut dia saya punya kemampuan di
bidang akademik,” ceritanya. Andin mengambil kelas pagi sedangkan siang
sampai menjelang malam digunakan untuk bekerja.
Andin menganggap keputusannya untuk melanjutkan pendidikan S2 sebagai
momentum untuk menaklukkan diri sendiri. ”Saya belajar untuk tidak
alergi pada struktur, tidak malas mengikuti jadwal, tidak anti pada
rutinitas. Pada akhirnya saya merasakan bahwa aturan dibuat bukan hanya
untuk membatasi, tapi bisa juga memberdayakan. Saya bahkan jadi punya
keinginan untuk sekolah sampai ke jenjang yang setinggi-tingginya,”
akunya.
Saat Liputan, Ditawari Menjadi Dosen oleh Narasumber
Karirnya sebagai dosen diawali oleh kejadian unik ketika masih
bekerja sebagai wartawan. Tak disangka, profesi dosen yang saat ini dia
ampu berawal dari tawaran seorang narasumber yang juga dosen di Unika
Atma Jaya Jakarta saat Andin melaksanakan pekerjaannya sebagai wartawan.
Andina Dwifatma (paling kanan) bersama novel pertamanya, Semusim dan Semusim Lagi. (doc. Andin)
”Suatu hari, saya harus mewawancarai salah satu narasumber, ekonom
Unika Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko. Dari situ, Pak Pras tahu saya
sedang kuliah S2. Beliau langsung bersemangat karena Prodi Ilmu
Komunikasi ternyata sedang membutuhkan banyak dosen. Saya lalu melamar
dan diterima,” cerita Andin. Tahun 2014, Andin memutuskan untuk
mengundurkan diri dari Kompas Gramedia dan bergabung menjadi dosen di
Unika Atma Jaya Jakarta sampai sekarang.
Bagi Andin, ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan ketika dirinya
menjadi dosen. ”Saya ingin jadi pakar di bidang tertentu, syukur-syukur
kepakaran saya bisa menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.
Maka dari itu, saya harus pintar dulu, sekolah setinggi-tingginya dan
berupaya membagikan ilmu sebanyak-banyaknya. Hal seperti itu hanya bisa
saya capai dengan menerjunkan diri di bidang akademik,” ujar perempuan
yang bertempat tinggal di Tangerang Selatan tersebut.
Andin masih ingat perkataan seniornya ketika masih menjadi wartawan
di majalah Fortune Indonesia. ”Dia mengatakan bahwa wartawan tahu
sedikit tentang banyak hal, sedangkan akademisi tahu banyak tentang
sedikit hal. Saya terus memikirkan ucapan itu dan menyadari yang ingin
saya lakukan adalah memperdalam ilmu saya,” tegas Andin.
Dosen Muda Harus Progresif
Saat ini, Andin berusia 32, terbilang usia yang cukup muda.
Menurutnya, usia muda memiliki beberapa keuntungan, terutama kaitannya
dengan interaksi kepada mahasiswa. ”Saya merasa lebih mudah mendekati
mahasiswa. Saya tahu istilah-istilah gaul dan hal yang sedang nge-tren
di kalangan mereka. Ini menjadi senjata saya dalam mengajar. Dengan
menganggap saya menarik dan tidak kaku, mahasiswa jadi lebih rileks dan
lebih mudah menerima pengetahuan baru,” katanya.
Andina
Dwifatma menjadi salah satu pembicara dalam diskusi A Conversation
Between Peter Fray and Andina Dwifatma. (doc.UAJ Jakarta)
Pun, dosen muda juga memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar
banyak hal baru. ”Saya ‘diperbolehkan’ untuk terus merasa kurang.
Maksudnya begini, dosen itu kan identik dengan kepandaian dan
kebijaksanaan, dan ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah
matang. Nah, berhubung saya masih muda, saya masih mengejar kedua hal
itu,” lanjut perempuan yang memeroleh gelar master pada 2014 tersebut.
Andin merasa lebih terpacu untuk belajar banyak hal ketika dirinya
merasa ‘kurang’. Andin mengakui, empat tahun menjadi dosen tak
membuatnya merasa cukup, tapi dia merasa semakin banyak yang belum dia
ketahui. ”Saya merasakan paradoks: semakin banyak hal yang saya
pelajari, semakin saya merasa pengetahuan saya sedikit sekali. Saya jadi
makin terpacu untuk belajar terus. Perasaan seperti ini mungkin tidak
saya dapatkan kalau saya jadi dosen ketika sudah tua,” ujarnya.
Bagi Andin, dosen muda harus meningkatkan kemampuan diri selaras
dengan perkembangan keilmuan yang ada. Andin menyebut sangat mudah bagi
dosen untuk cepat merasa puas karena dihormati dan dianggap orang yang
pintar. Padahal, lanjut Andin, ketika dosen tidak meningkatkan diri
melalui proses membaca dan menulis, tak akan ada kemajuan bagi dosen
tersebut.
Menjadi dosen muda adalah tentang menjadi sosok progresif. ”Sekadar
muda jika tidak progresif ya buat apa? Sebaliknya, banyak kok
dosen-dosen senior yang sampai tua tetap progresif,” ujarnya.
Bagi Andin, dosen yang progresif adalah mereka yang banyak membaca,
banyak menulis, dan selalu punya mental pembelajar. “Kalau rasa ingin
tahu kita sudah habis, berarti karier kita akan stagnan,” imbuhnya.
Menjadi Dosen, Ingin Membuat Karya yang Diterima Masyarakat
Sebagai dosen, Andin selalu ingin meningkatkan
kualitas keilmuannya. Kedepan, dia ingin melanjutkan pendidikan
doktoral. ”Saya punya target untuk menjadi doktor sebelum umur 40
tahun,” ujar perempuan yang ingin mengambil program doktoral di
Melbourne, Australia tersebut.
Tak hanya itu, Andin tak mau menjadi dosen yang biasa saja. Dia ingin
membuat karya-karya yang bisa diterima oleh masyarakat secara luas.
”Saya kagum dengan sosok-sosok akademisi yang karyanya bisa dinikmati
secara populer, bahkan memicu diskusi publik. Menurut saya, itulah
setinggi-tingginya prestasi seorang akademisi. Karyanya tidak hanya
dimuat di jurnal-jurnal ilmiah dan dibaca oleh sesama akademisi, tapi
juga didiskusikan dan mencerahkan bagi kalangan di luar kampus,”
ungkapnya.
Dalam proses pengajaran sehari-hari di kelas, Andin selalu mendapat
pengalaman berkesan. Menurutnya, interaksi dengan mahasiswa adalah hal
yang sangat menyenangkan. ”Bertemu mahasiswa itu selalu menyenangkan,
apalagi kalau bisa membangkitkan rasa ingin tahu mereka,” ujar Andin.
Meski begitu, ada satu pengalaman berkesan yang tak bisa ia lupakan.
”Pengalaman paling berkesan mungkin pas pertama kali mengajar. Saking
gugupnya saya hampir nggak bisa ngomong!,” lanjutnya seraya tertawa.
Tantangan: Kemampuan Berpikir Kritis dan Minat Baca
Menurut Andin, dari banyaknya tantangan yang dihadapi oleh dosen, ada
dua hal yang menjadi fokusnya, yaitu peningkatan kemampuan berpikir
kritis dan mendorong minat baca mahasiswa. ”Mahasiswa kadang segan
mengemukakan pendapat karena takut salah. Karena itu, di kelas saya
selalu bilang nggak ada opini yang jelek. Nggak ada pertanyaan yang
konyol. Semuanya sahih, sejauh hasil pemikiran sendiri,” katanya tegas.
Andin menilai praktik hafalan yang diterapkan sejak jenjang
pendidikan dasar membuat mahasiswa menjadi gagap ketika diminta
menganalisis masalah. Bagi Andin, kenyataan tersebut adalah sebuah
masalah besar karena mustahil mengharapkan solusi pemecahan masalah dari
mahasiswa jika mereka tak mampu berpikir kritis.
Ihwal minat baca, Andin tak mau menyebut mahasiswa memiliki minat
baca yang rendah. Hanya saja, mahasiswa perlu memperhatikan kebutuhan
bacaan yang dia baca. ”Sebenarnya kalau kita dengar cerita kawan-kawan
penggiat pustaka di pelosok Indonesia, minat baca rendah itu nggak
benar. Anak-anak itu mau baca, tapi enggak ada sumbernya. Buku hanya
sedikit,” ceritanya.
Dalam proses pengajaran di kelas, Andin mengaku cukup sulit mendorong
mahasiswa untuk membaca buku teks, jurnal, dan laporan yang seharusnya
menjadi santapan wajib. Meski begitu, Andin punya kiat khusus untuk
mengatasi kesulitan tersebut.
”Solusinya, saya yang mengalah. Saya sering mengawali kelas dengan
baca berita bareng di LINE Today. Atau mengajak mereka belajar dengan
nonton video atau film. Kadang saya minta mereka menganalisis
artikel-artikel populer yang relevan dengan topik. Pokoknya saya ikutin
saja apa yang mereka suka. Pelan-pelan saya arahkan ke tema-tema yang
menurut saya penting dan relevan,” jelas pendiri panajournal.com tersebut.
Tak hanya itu, memasuki era revolusi industri 4.0, dosen juga
menghadapi proses digitalisasi yang mau tak mau kudu diterapkan dalam
proses kegiatan akademik. Andin berusaha untuk selalu menyesuaikan
materi ajar dengan perkembangan teknologi. Pun, Andin juga sebisa
mungkin mengekspos mahasiswa kepada industri.
”Tapi, yang paling penting adalah mempersiapkan mereka dengan skill berpikir kritis atau critical thinking. Kalau mahasiswa punya sense
tersebut, mereka tidak perlu hanya dididik jadi lulusan siap kerja,
tapi siap dilatih kembali. Ini penting karena perkembangan industri itu
pesat sekali,” ujar dosen yang juga seorang penulis novel tersebut.
Perempuan yang memiliki keinginan untuk menjadi pimpinan usaha lahan
parkir tersebut tak hanya memiliki kegiatan di kampus dan dunia sastra,
namun Andin juga harus meluangkan waktu untuk keluarga. Bagaimana
kiatnya membagi waktu? Menurutnya, suami sangat suportif dalam urusan
mengurus keluarga. Dia bersama suami berkolaborasi untuk melakukan
berbagai kegiatan sebaik mungkin. ”Peran dalam keluarga dikerjakan
bersama. Hal tersebut yang membuat saya bisa membagi waktu di sela
kesibukan,” tutupnya. (duniadosen.com/az)
Berterima kasih pada Mas Wisnu Prasetya Utomo yang tak pelit bagi ilmu sama anak-anak Arena pada masanya, juga kontribusi untuk tulisan majalah Sektor Informal. Blio tak bisa kupingkiri adalah sarjana kiwari yang fokus pada media dan jurnalisme, serta mengabdikan diri ke penelitian terkait itu. Di buku "Suara Pers Suara Siapa?" merupakan rangkuman dari publikasinya di banyak media online, dari Remotivi, Tempo, Jakpos, sampai Pindai.
Buku ini terdiri dari 26 menu artikel yang dibagi menjadi tiga sesi. Sebagai hidangan pembuka ada bab terkait politik, agama, dan komodifikasi layar kaca; bab main course ada ekonomi politik media; terakhir media dan etika jurnalisme. Menghabiskan buku ini membawa saya pada skeptisisme lain yang ternyata belum banyak disadari kalau ngomong media. Sepakat, kritik harus bertanggungjawab atau kritik harus kasi solusi itu itu semacam perilaku defensif yang justru ingin melarikan diri dari kritik, khususnya dalam dunia media.
Tiga buku yang diterbitkan oleh Andina Dwifatma telah tamat saya selesaikan. Semakin kesini, kesederhanaannya dalam menulis kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan banyak orang membuat saya mengaguminya sebagai penulis perempuan Indonesia. Di buku "Menua dengan Gembira" (2023) merupakan buku esai nonfiksi pertama Andina yang terkait hal-hal yang terlihat remeh tapi dibahasakan dengan asyik dan renyah, misal tentang grup WA keluarga, status medsos tetangga, kafe senja-senjaan sepanjang jalan di Ciputat, WFH, film, budaya layar, sampai terkait anaknya, Nina.
Gaya penceritaannya juga lucu, mengajak pembaca menertawai kekonyolan hidup sehari-hari, dan tak kalah penting membawa orang yang baca terlibat dalam kisahnya. Misalkan dalam tulisan "Numpang Parkir", di situ bicar tetangganya yang beli mobil tapi markir di depan rumah tetangga sampa menimbulkan pertengkaran. Di antara kritiknya, bersama obrolan dengan suaminya, Andina menulis, " Bagus juga ya, ruas jalan kita kalau malam. Seperti showroom mobil yang buka 24 jam."
Dalam tulisan-tulisan di buku ini, saya juga seperti diajak mendewasa terkait berbagai budaya populer seperti film-film apa yang saya tonton, sampai tokoh siapa yang saya idolakan. Studi kasusnya dalam film Meteor Garden, dulu saat kecil dia beranggapan film itu keren, tapi setelah dewasa dirinya sadar, itu film toxic terkait relationship yang banyak adegan cringe dan kekerasan. Yang menormalisasi kaya-ganteng adalah segalanya. Atau saat dia mengidolakan Sherman Alexie, setelah idolanya itu adalah pelaku predator seksual, Andina sadar harus mengambil sikap terhadap aktor kesukaannya itu dalam bentuk personal dan politis dalam laku sehari-hari.
Dibandingkan dengan buku Andina yang pertama, "Semusim dan Semusim Lagi" yang memenangkan sayembara novel DKJ 2012, buku ini tak seberat buku pertama yang dipenuhi banyak referensi filsuf, rekomendasi film, list daftar lagu, dsb. Buku pertama Andina yang sebenarnya sangat eksistensialis dan individualis dari tokoh utama Aku tak bernama. Di buku ini Andina mengaku jika menulis hal-hal domestik itu tak kalah kerennya. Sikap itu membawanya pada aliran-aliran penulis lain seperti Elena Ferrante, Chitra Banerjee Divakarumi, hingga Alice Munro.
Semangat itu pula yang kemudian dia terapkan ketika menulis "Lebih Senyap dari Bisikan" (2021). Yang sangat menggambarkan kisah-kisah perempuan dengan jujur dari kacamata perempuan itu sendiri.
Keinginanku untuk menonton film terbaru "Sleep Call" yang disutradarai oleh Fajar Nugros ini cukup tinggi. Pasalnya, sangat relate dengan kehidupan pribadi: mantan pengguna aplikasi kencan dan pernah melakukan sleep call (panggilan tidur) dengan stranger untuk mengusir rasa sepi yang kukenal dari aplikasi kencan juga tentunya. Kalau di film ini nama aplikasinya Jodohku. Aku juga merasa pengalamanku akan itu cukup panjang dan valid bahkan untuk menjadi sebuah buku bertemakan kesehatan mental.
Diceritakan tokoh utama bernama Dina (Laura Basuki), seorang perempuan usia menjelang 30 tahun yang harus membiayai ibunya (Jenny Zhang) yang dirawat di balai rumah sakit jiwa. Ibunya mengalami goncangan setelah mendapatkan kekerasan fisik dan verbal dari suami, rumah tangga yang tidak bahagia dan membuatnya hidup serupa di neraka. Dina kecil pun sudah menunjukkan tanda-tanda ketidaksehatan jiwa. Ketika bermain boneka dia serupa psikopat yang menali tangan dan kaki si boneka, lalu juga membunuh kucing hitam kesayangan ibunya dengan pisau.
Dina ketika dewasa, usai gagal menjadi pramugari, dia jadi karyawan perusahaan pinjol. Dia ngekos di sebuah rumah susun nan padat di pinggiran Jakarta. Hidup dan makan seadaanya. Namun pemasukannya itu tak cukup untuk membiayai diri sendiri dan ibunya. Dia sampai terlibat pinjol juga yang berbunga banyak. Setiap hari, pekerjaan Dina menawarkan produk pinjol dan penagih orang-orang yang susah membayar dengan berbagai cara, dari sebar kontak, membuka aib, sampai pakai dalil-dalil agama yang membawa masuk ke neraka.
Salah satu korbannya adalah Pak Iwan yang sampai bunuh diri karena pinjol. Namun bosnya memaksa Dina untuk datang ke rumah Pak Iwan, bahkan saat keluarganya sedang melakukan tahlilan. Dina yang mempunyai tanda-tanda perubahan karakter yang begitu cepat merasa stres, di satu sisi dia tak tega, di satu sisi hal itu harus dilakukan sebagai bagian dari profesionalitas kerja. Beban lain yaitu utangnya yang banyak pada pinjol membuatnya melakukan hubungan affair, perselingkuhan dengan bos besar, Tommy (Bront Palarae). Dengan wajah khas bangsawan, tokoh ini kesepian dan memerlukan kehangatan dari sosok Dina. Maka terjadilah perselingkuhan itu, meski Tommy telah menikah dan beranak satu. Kegiatan seks mereka direkam oleh Tommy sebagai alat untuk menekan Dina agar tetap tunduk dan takluk, KBGO sih ini. Hubungan ini sebenarnya menguntungkan karena Dina merasa "dilindungi" dan "diselamatkan".
Sebab kecantikannya, atasan Dina yang lain bernama Bayu (Kristo Imanuel) juga menaruh hati padanya. Bayu terus mendekati Dino meskipun Dina sering menolaknya. Meski suatu hari, Bayu seperti berubah menjadi Rama (Bio One), sosok stranger yang menjadi haluan Dina melewati rasa-rasa sepi tiap malam. Bersama Rama dia membayangkan berbagai hal indah, kencan di pecel lele dekat jalan, menemaninya di KRL, mandi bersama, ke kafe bersama, dan hal-hal lain yang menenangkan hati Dina, meski semua itu hanya "khayalan". Bersama Bayu, Dina suatu kali menyangka dia adalah Rama, dan terjadilah persetubuhan itu di hotel. Parahnya, Bayu mengunggah malam kesalahan bersama itu di story medsosnya. Di kantor, Dina berkali-kali mengumpat pada Bayu.
Film ini banyak mengandung plot twist. Dina ternyata menderita semacam skizofrenia atau gejala bipolar. Dirinya tak sadar memukil wajah Bayu di mobil hingga dia tak sadarkan diri dan koma di rumah sakit. Tak hanya itu, Dina juga membunuh Tommy dengan pisau, menggorok lehernya. Dina juga karena dendam pada Rama, mencari rumahnya di kawasan elite dan menusuknya. Rama ini sudah beristri Via (Erika Carlina) seorang perempuan karier. Rama menganggap apa yang dilakukan dia dan Dina hanya sekadar have fun dan tak ada arti apa-apa bagi Rama. Meski sebagai perempuan, Dina menganggap itu segalanya. Haluan Dina bahkan juga terjadi ketika Iwan (Rokman Rusadi) dianggap Dina telah mengikutinya dan hampir membunuh dirinya, yang membuat Dina tak masuk kerja sampai empat hari.
Kisah persahabatan juga kental di film ini. Misal hubungan Dina dengan Bella (Della Dartyan), karyawan pinjol terbaik yang jago marah-marah. Kelucuan yang menarik juga ada pada sosok Surya (Benedictus Siregar) dengan berbagai guyonannya yang renyah. Juga karakter-karakter lain seperti Noor (Rachel Vennya) yang alim tapi mulutnya pedas; Mona (Nada Suwandi) yang Jawani, bermimik flat, dan polos; Budi (Dimas Danang) yang berkarakter blak-blakan dan suka menghujat, mengeluh; Mitro (Aldo Gudel) yang kelihatannya polos tapi suka ngikut yang lain juga.
Moment brengsek tak terlupakan lagi terjadi ketika genk pinjol ini diundang Tommy untuk pesta ulang tahun. Di sana, mereka diberi makanan sisa, sosis gosong dan berbagai makanan buangan lain. Sementara steak dan makanan enak untuk kenalan Tommy yang punya pangkat dan jabatan, yang punya seragam jenderal dan militer tinggi lain. Itu tragis banget sih menurutku. Kok ya mereka terima-terima saja, meski memang tak ada pilihan lain.
Film ini berakhir dengan presmis, Dina ini gila, dan dia harus dirawat di rumah sakit gila juga bersama ibunya. Di rumah sakit itu apalagi ada banyak orang gila lain, salah satunya mbak-mbak yang suka membaca buku Rama-Shinta dengan keras, yang ternyata buku itu lembaran kosong saja. Untungnya, si perawat Niken Anjani sabar merawat orang-orang gila. Film bergenre thriller ini juga menampilkan lanskap kehidupan kelas pekerja yang menarik, dari dempet-dempetan di KRL, kemacetan, pemukiman yang padat, hingga pada dimensi psikologis seperti kesepian, dire in money, dan rentan dengan isu-isu kesehatan mental.
Dari film Sleep Call aku belajar: (1) Seburuk apapun dunia nyata, lebih baik untuk dihidupi daripada dunia maya, (2) Cinta memang punya beragam bentuk, tapi yang paling bisa dipercayai adalah tindakan daripada bacotan, (3) Bukan salah pinjol, salah kemiskinan dan koruptor, (4) Buat diri lu sebisa mungkin aman di mental dan finansial biar lu gak gila, (5) sejauh apapun melarikan diri di dunia maya, lu ga bisa lari dari dunia nyata, (6) jangan banyak halu biar gak kecewa, (7) kalau orang terdekat lu sakit, jangan kebawa sakit, (8) senyum dan marah bukan obat, (9) jaga privasi, (10) jangan mudah percaya sama mulut manis dan jebakan yang membinasakan, lu gak seistimewa itu. Terakhir: kalau stress, mending cari mie ayam/bakso yang enak. Trus pesen minuman yang lu suka juga.
Akhirnya memoar Tara Westover sebanyak 500 halaman dalam versi terjemahan Indonesia ini selesai juga kubaca. Menyelesaikannya cukup lama dan tersendat-sendat. Dalam berbagai sisi, kisah Tara seperti sangat dekat: tinggal di daerah terpencil, hidup di keluarga yang punya saudara banyak, memiliki orangtua yang sangat strick dengan agama, hingga sisi yang ekstrim, orangtua yang tak percaya sekolah, rumah sakit, dan apapun fasilitas yang dibuat pemerintah.
Sabda Tuhan benar-benar dijaga oleh sosok sang ayah, bahkan ketika dia mengalami kebakaran hampir di seluruh tubuh, pantang memanggil dokter, rumah sakit, dan institusi resmi lainnya. Semua etika dan moral yang telah ditetapkan oleh kepercayaan Mormonism harus diikuti oleh semua anggota keluarga, baik cara berpakaian, cara bergaul, dan cara-cara keseharian lain. Dalam latar seperti itu, Tara mencoba keluar dan pergi jauh meninggalkan kampung halamannya di Idaho.
Dia punya niat tinggi akan pendidikan. Meski dia tak ada ijazah SMA, dia berani daftar ke Universitas. Sebab di USA sendiri tak mewajibkan itu asal ada alasan telah menempuh home schooling yang itu bisa disiasati. Lalu kariernya menanjak dapat beasiswa S2 ke Cambridge, fellowship di Harvard, dan menyelesaikan S3-nya di Cambridge sampai dia memperoleh gelar Dr. Westover.
Keputusan yang bertentangan dengan keluarga ini membuatnya dikeluarkan dari keluarga. Orangtua Tara tak setuju dengan keputusannya, mengganggap Tara dirasuki iblis dan berbahaya. Namun dia tetap teguh dengan pendiriannya, jalan hidup yang harus dibayar mahal. Seperti yang dikatakan Tara, "Jarak bukanlah hal yang sulit untuk energi kehidupan." Tara memilih rumahnya sendiri dibandingkan rumah yang diberikan kepadanya. Jika Tara memilih untuk kalah, dia tak hanya kehilangan argumen, tetapi juga hak asuh atas pikirannya sendiri.
Tara sempat mengalami fase-fase gila saat menyelesaikan studi Ph.D-nya di Cambridge. Masalah terbesarnya adalah masalah dengan keluarga, terutama orangtua, terutama ayah. Ayahnya sempat datang ke asrama Tara dalam rangka "mensucikan" anaknya dari pengaruh "iblis-iblis". Tiap kali berhadapan dengan orangtua, Tara merasa mengalami pertentangan yang luar biasa, mengatakan kata-kata yang ingin didengarkan oleh orangtuanya atau mengungkapkan kejujuran dari kedalamannya sendiri.
Pergolakan mental dan psikologi Tara digambarkan dengan insentif melebihi judul bukunya terkait pendidikan di altar universitas. Apalagi dia perempuan, dia mengalami tekanan ganda. Dari enam saudaranya yang lain, hanya dua yang membela. Sisanya berpihak pada sang ayah. Apalagi Tara juga mengalami perundangan oleh saudara kandungnya sendiri yang berkarakter psikopat. Tara dari latar belakang sepeti itu, dia lebih "terdidik" secara lingkungan.
Tentu aneh bukan membayangkan babi bisa terbang? Tentu cerita-cerita seperti ini bisa kita temukan dalam buku seperti Animal Farms karya George Orwell. Tak seberat novel karya Orwell, di film Porco Rosso, studio Ghibli menawarkan "dunia kutukan" lain yang menimpa si tokoh utama Porco Rosso (Michael Keaton), seorang manusia yang dikutuk menjadi babi merah karena kesalahan yang dia lakukan di masa lalu.
Dia menjadi seorang penjahat dan pirates yang menyerang orang-orang yang ditugaskan padanya. Hingga suatu kali, dia mengalami kecelakaan pesawat (lebih tepatnya flying boat sih, macam perpaduan pesawat dan kapal) yang diperbaiki di sebuah bengkel yang isi pekerjanya semua adalah perempuan. Bengkel itu milik sahabat Porco, sahabatnya itu memiliki cucu yang cantik dan pemberani bernama Fio Piccolo (Akemi Okamura). Fio juga anak yang cerdas, dia mau menemani Porco untuk menghadapi perkelahian dengan seorang pirate lainnya bernama Curtis (Cary Elwes).
Perkelahian dan pertandingan antara Porco vs Curtis berawal dari Madame Gina, seorang pilot perempuan juga, yang memiliki suara indah serta cantik, mengisi sebuah acara di bar. Madame Gina menyukai Porco karena sebagai manusia dulunya dia tampan. Sayangnya, Porco tidak menyukai Gina. Sementara Curtin menyukai Gina, tapi Gina tak suka pada Curtis. Ya, ada semacam cinta segitiga yang tidak pernah bertemu.
Kemudian, pertandingan itu dibuat dengan imbalan, jika Curtis menang, maka dia mendapatkan Fio sebagai kekasih dan akan menikahinya. Jika Porco menang, maka Curtis akan membiayai perbaikan pesawat Proco sekaligus memberikan kekayaan untuknya. Pertandingan itu kemudian berakhir dengan pelik. Di atas berbagai manusia yang banyak. Pertandingan ini bagiku lebih ditekankan pada pertandingan psikologi dibanding adu taktik dan strategi. Porco tak membiarkan Fio jatuh ke Curtis.
Sementara, Fio sendiri jika melihat karakter di sepanjang film menunjukkan dirinya menyukai Porco. Entah apa alasannya, tetapi Fio kagum dengan Porco. Bagiku juga hal ini cukup aneh, karena Porco lebih cocok menjadi ayah bagi Fio. Film yang diadaptasi dari buku manga ‘The Age of the Flying Boat’ karya Hayao Miyazaki itu mengingatkanku pada kawan yang punya karakter seperti Porco, yang aku menilainya sebagai manusia yang memiliki free spirit dan naturalis khas didikan alam. Tentu aku serupa Gina atau Fio, tapi kemudian aku sadar, orang-orang seperti Porco memang tak bisa dimiliki.