Senin, 18 September 2023

Howl's Moving Castle (2004): Ada Petualangan di Balik Kutukan

Menonton film ini seperti terbawa ke sebuah dunia yang aku idamkan lainnya. Sophie Hatter (Chieko Baisho), gadis usia 18 tahun yang tahu apa yang diinginkannya: Menjadi pengrajin topi di tokonya yang sederhana. Dia tak terpengaruh oleh kakaknya yang populer dan cantik, yang bekerja di sebuah bar. Sophie merasa dirinya tak cantik dan keahliannya hanya bersih-bersih. Kondisi yang tenang ini pun masih diirikan oleh yang lain, seorang penyihir yang membuatnya menjadi tua berumur 90 tahun. 

Dari film ini jadi tahu terkait kekurangan dari orang-orang yang berusia tua: tak banyak terkejut dengan banyak hal, mengetahui lebih banyak, dan sedikit menginginkan sesuatu. Kelapangan hidup lain, Sophie menerima kutukan itu dengan hati terbuka, dan dia tak mengeluh meski awalnya sedih, dan itu kesedihan yang wajar karena ketidaksiapan. Sophie sadar, kutukan itu akan membawanya pada petualang-petualangan baru. Apa yang diyakininya kemudian benar adanya.

Sebelum dikutuk menjadi nenek-nenek, Sophie pernah diselamatkan oleh seorang pangeran dari negeri penyihir bernama Howl (Takuya Kimura). Seorang pria yang berdandan seperti perempuan, meski tetap memiliki watak maskulin. Keunikan penampilan Howl sekaligus mengingatkanku pada orang-orang di dunia nyata yang mempunyai penampilan serupa, mereka sangat jarang tapi mereka juga tak boleh seenaknya dihakimi karena penampilan. Setelah kutukan itu, Sophie merantau dari rumah. Dia bertemu orang-orangan sawah bernama Turnip yang mengantarkannya ke sebuah rumah besar magic yang bisa bergerak. Banyak elemen yang unik, seperti mempunyai kaki seperti burung, besi, wajah, dlsb. 

Rumah ini dimiliki oleh Howl yang di dalamnya hidup makhluk lain, si api yang bisa hidup bernama Calcifer (Tatsuya Gashuin) dan Markl (Ryunosuke Kamiki), seorang anak laki-laki lucu yang menemani Howl hidup. Kini keluarga itu kemudian ditambah Sophie, yang bisa memasak dan membersihkan rumah. Sihir Sophie juga bisa hilang ketika dia tidur atau merasa bahagia. Sihirnya juga pelan-pelan hilang seiring waktu.

Petualangan pun terjadi. Howl ternyata punya banyak rahasia, dia seperti burung besar, entah itu burung apa aku tak yakin. Dia menghadapi penyihir buangan yang telah mengkutuk Sophie. Dulunya Howl suka dengan Witch of The Waste ini, tapi seiring dengan Howl mengetahui sifat aslinya, Howl pun mundur. Pergantian dan transformasi karakter menjadi hal menarik untuk dipelajari dan diamati kemudian. Si penyihir ini awet muda karena memakan hati manusia, dan dia menginginkan hati Howl agar terus awet muda. Tak hanya si penyihir buangan, seorang perempuan pemilik kerajaan bernama Madame Suliman (Haruko Kato) juga menginginkan Howl kembali ke kerajaannya, karena dia murid yang pintar dan potensial. Namun Howl menolak, sehingga pertempuran terjadi. 

Berbagai propaganda, perang, bom, dll, yang dalam dunia nyata terinspirasi dari Perang Irak ditampilkan di sini. Sophie bersama kawan-kawannya, termasuk Heen, anjing yang dia temui ketika hendak masuk kerajaan Suliman menghadapi berbagai tantangan bersama. Hingga akhirnya, perjuangan itu berbuah kemenangan, dan semua sihir yang menyelingkupi para tokoh pun menunjukkan wajah aslinya. Secara imajinasi, aku menyukai film yang idenya diadaptasi dari buku Diana Wynne Jones ini. Sejenis film yang membuatku bisa kembali, dan kembali.

Jumat, 15 September 2023

Hitman (2007): Agent 47 yang Fokus dengan Pekerjaannya

Nonton film ini atas rekomendasi kawan baik yang sedang kuliah di Makassar. Konteksnya, aku mau buat paspor liburan ke kantor imigrasi Jakarta Pusat, rencananya mau pergi ke Singapura, dan dia merekomendasikanku untuk nonton film Hitman. Sebab ternyata film ini memiliki banyak versi, akhirnya dia kasih link yang versi tahun 2007. Meski setelah kutonton dengan bahasa Inggrisnya langsung, karena tak ada subtittle, tak kutemukan ada latar Singapura di film ini. Kemudian aku searching lagi, dan kutemukan latar Singapura di film Hitman di versi yang berbeda. 

Di film itu menunjukkan si tokoh berada di Gardens By The Bay, sebuah taman raksasa menggantung, dengan banyak tanaman dan pohon. Terlepas dari semua hal itu, film Hitman (2007) ini memang begitu menantang adrenalin kita. Isinya kebanyakan action bunuh membunuh dengan pistol dan senapan. Entah baik atau buruk, penonton akan dibuat respect oleh si tokoh utama yang diperankan oleh Timothy Olyphant, bahkan di film ini dia tak diberi nama, hanya dipanggil dengan sebutan Agent 47. Kerjaannya sebagai pembuh bayaran, dan kliennya adalah orang-orang berduit dan memiliki kekuasaan.

Si Agent 47 ini punya tato yang aneh berbentu barcode yang ditaruh di belakang kepala pas, masih di wilayah sebelum otak. Ini ngeri prosesnya kalau dirasain. Suatu hari ketika klieannya meminta membunuh salah seorang presiden Rusia, Udre Belicoff (Henry Ian Cusick), karier pembunuhan dia perlahan terungkap. Dia kemudian dicari oleh agen intel dari berbagai negara terutama Rusia. Salah seorang saksi, seorang perempuan yang memiliki tato naga di pelipis wajah membuat si Agent 47 seolah memiliki teman. 

Nama perempuan ini Nika Boronina (Olga Kurylenko). Perempuan yang juga telah melalui berbagai kehidupan berat dan penyiksaan yang tak manusiawi oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan. Nika dan Agent 47 seperti sepaket, Nika perlahan suka dengan Agent 47, tapi lawannya malah menunjukkan karakter yang dingin, meski si Agent 47 ada pula ketertarikan. Pembunuhan orang penting itu akhirnya terungkap, Agent 47 menjadi buronan di berbagai tempat oleh para intel, polisi, dan tentara.

Film yang disutradarai oleh Xavier Gens dengan naskah dari Skip Woods ini menggambarkan bagaimana kejahatan kelas elite bekerja. Agent 47 tentu bukan orang sembarangan, kekuatan fokus dia dalam pekerjaan di film ini bagiku luar biasa. Yang mengejutkan, ternyata Nika adalah perempuan selingkuhan Belicoff, dan Belicoff belum mati karena diceritakan memiliki kembaran.

The Wind Rises (2013): Selagi Angin Berhembus, Bergeraklah Wujudkan Mimpi

Tokoh utama film Ghibli ini bernama Jiro Horikoshi (Hideaki Anno), dan kolega kantorku menamai anaknya dengan nama Jiro. Nama itu katanya diambil dari sebuah film Jepang dan kupikir adalah film ini. Cerita film ini sederhana sebagaimana pernah kusebut di dalam film-film Ghibli lainnya. Ada anak desa yang tidak bisa jadi pilot karena keterbatasan matanya, dia selalu memakai kacamata tebal. Namun, Jiro memiliki mimpi bisa menjadi pembuat pesawat yang hebat sebagaimana tokoh orang Italia yang dibacanya di sebuah majalah, Giovanni Battista Caproni (Mansai Nomura).

Lalu Jiro belajar sangat keras, saking kerasnya, dia bermigrasi kesana dan kemari. Belajar dari orang satu ke orang lain. Masa-masa itu di tengah kondisi negara Jepang saat perang, saat negara yang ringkih dengan bencana alam baik tsunami maupun gempa bumi mengalami masa-masa gelapnya. Di salah satu scene, aku merasa negara kecil Jepang itu memang telah mengalami berbagai ingatan massal yang panjang akan penderitaan, tak heran jika mereka menjadi bangsa yang kuat hingga sekarang ini.

Di tengah perjalanannya menjadi seorang insinyur, di sebuah kereta, Jiro yang saat itu mungkin lulusan SMA, dia bertemu dengan seorang perempuan yang sepertinya masih SMP awal bernama Nahoko Satomi (Miori Takimoto), pertemuan keduanya romantis, saat topi mereka diterbangkan angin, salah satunya menyelamatkan. Lalu saat terjadi tsunami dan kota terbakar, Jiro menyelamatkan perawat yang menjaga Nahoko, seorang gadis yang juga ringkih karena mewarisi penyakit TBC dari ibunya. Suatu masa, kedua orang ini dipertemukan saat Jiro ditugaskan di sebuah kota dan ternyata dia menginap di hotel milik orangtua Nahoko. 

Perjalanan cinta yang cepat tapi sesungguhnya panjang itu kemudian dipersatukan. Mereka kemudian memutuskan untuk menikah, atau dinikahkan dengan cara yang unik, hanya dihadiri oleh dua orang, Kurokawa dan istrinya, yang juga kolega kantor Jiro. Kurokawa yang menikahkan keduanya, dengan upacara yang juga sangat minim dan sederhana. Aku berpikir, ada ya pernikahan seperti itu. Kalau di Islam kan minimal ada dua orang saksi dan yang menikahkan, mungkin konteks adat di sana seperti itu.

Namun, lama kelamaan penyakit Nahoko tak bisa ditahan-tahan. Meski adik Jiro yang juga memilih sekolah kedokteran mengunjungi kakak dan iparnya, Kayo Horikoshi (Mirai Shida) tak bisa melakukan apa-apa. Namun, kerja keras Jiro dibayar lunas dan tuntas. Mimpinya untuk membuat pesawat terbang akhirnya terwujud meski hidupnya dipenuhi dengan berbagai hambatan-hambatan. Akhir Nahoko yang tidak jelas, apakah dia meninggal atau bagaimana, tetapi mimpi Jiro terwujud. 

Pesawat yang diimpi-impikan tersebut akhirnya jadi juga. Sebuah pesawat dengan desain yang tidak biasa, dan bisa menampung banyak penumpang terwujud. Filosofi Jiro pun unik, selagi angin masih berhemus, maka bergeraklah untuk mewujudkan mimpi. Membaca bacaan di Google, film ini berasal dari sebuah cerita pendek dari karya Tatsuo Hori. Kalau jeli lagi, kisah "The Wind Rises" ini mayan mirip dengan kisahnya Presiden Habibi.

Selasa, 12 September 2023

Seni Rupa Sebagai Monumen Ingatan Kolektif Kemanusiaan

Tulisan ini sebagai catatan dari diskusi yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam diskusi bertema "Peran Seni Rupa dalam Ingatan Kolektif Bangsa Tentang Kemanusiaan". Diskusi dilaksanakan di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 12 September 2023. Diskusi menghadirkan narasumber Asikin Hasan (Kurator Seni Rupa Salihara), Dolorosa Sinaga (Perupa, Pengajar di IKJ), Irwan Ahmett (Seniman), dan dimoderatori oleh Sarah Monica dari AWCPH UI.

Asikin Hasan menjelaskan pada para peminat diskusi, terkait berbagai seniman yang konsisten membangun monumen ingatan. Panitia mengajukan tiga pertanyaan di orba, bagaimana propaganda di bidang senin. Di antaranya, benarkah Orba menggunakan seni sebagai propaganda? Apa buktinya?

Dia mengambil pembanding tiga negara:

  1. Jerman, dengan nazi, semua karya menunjukkan kekuatan dan kegagahan. Dalam bentuk patung dan bangunan.
  2. Italia, dengan fasisme.
  3. Rusia, dengan realisme sosialis, dipompa sehabis-habisnya. Di Hermitage, St. Petersbug Ruisa, bekas kerajaan Catherine. Di sana karya tak ada bandingnya. Hanya mengarah ke satu pokok soal: memperlihatkan figur-figur yang penuh perlawanan. Di sana kita melihat sesuatu secara masif.

Asikin menjelaskan, Orba tak menggunakan seni rupa sebagaimana tiga negara tadi. Rezim Soeharto tak sampai kesitu, menggunakan seni rupa sebagai pelanggeng kekuasaan. Orba tak melihat penting seni. Bagi orba, seni rupa hanya hiasan di dinding, atau benda kerajinan untuk mempercantik rumah. Misal ke Istana Presiden, lukisan yang dikoleksi gambar-gambar pemandangan yang kalah mooi indie dengan Bung Karno. Orba gemar ngoleksi patung tradisional dari Bali dan Irian khususnya.

Asikin pernah datang ke TMII, di situ banyak karya Lampard, disimpan di gudang dan tak terurus. Begitu pun di istana, di Orba, barang-barang yang banyak disimpan ukiran Jepara, Kudus, dan Bali. Asikin tak yakin itu hal yang ideologis. Kita tak menemukan narasi dan imajinasi. Kita sulit membayangkan bagaimana seni bisa jadi instrumen ideologis.

Juga patung-patung monumen di ruang publik. Patung Bu Rita di Slipi, yang kemudian dibongkar. Ada juga patung tonggak samudra karya G. Sidharta di Tanjung Priuk, karya ini dipindahkan. Juga monumen proklamasi oleh Nyoman Nuarta dkk. Juga Arjuna Wijaya di Jalan Thamrin. Karya-karya ini hanya masalah estetik, bukan politik. Dia hanya sebagai hiasan kota. Beda ketika melihat ini di Orla, Edhi Sunarso.

Dulu di Orla, Soekarno sebagai dirijen. Dia menentukan lukisan istana, bentuk relief (Sarinah, Hotel Bali Beach, dan Ambarukmo). Semua tak lepas dari gagasan dan konsultasi dengan Bung Karno, dia menggunakan seni sebagai instrumen. Di situ ada dialog antara Seniman dan pemimpin. Edhi Sunarso dkk rutin ketemu dengan Bung Karno untuk membicarakan seni. Misal patung selamat datang itu patung logam pertama di Indonesia. Edhi awalnya tak sanggup, ditantang olek Bung Karno, dia akan panggil Seniman dari Rusia. Lalu Edi ketemu Seniman di Jogja, Pak Gardono, ahli pengecoran logam. Mereka masih coba-coba, sampai patung selamat datang itu jadi. Itu terlalu berani, dengan pengalaman yang masih nol.

Kita bisa bandingkan patung selamat datang dengan patung pemuda. Itu aspek dasar seni patung, anatomi itu sempurna. Ini tak menggambarkan manusia, tapi beyond man. Realisme sosialis membangun kesempurnaan karya dengan karya itu sendiri.

Di patung HI, bisa memperdebatkan patungnya, tapi lebih kuat adalah ekspresinya. Ketika dikitari 360 derajat, ada semangat dan ekspresi yang kuat. Patung yang besar pasti mengalami distorsi. Bagian mana yang lebih besar, mana yang lebih kecil. Begitu juga patung pembebasan Irian dan patung Dirgantara. Bagaimana Marhaenisme yang didengungkan Bung Karno tergambar. Itu bisa dikatakan seni rupa yang terpimpin. Hal seperti itu penting, bagaimana imajinasi Soekarno dalam seni. Bagaimana keberpihakan pada Marhaenisme. Ketika melihat relief, itu dalam tanda kutip orang kecil. Tangannya selalu bersentuhan dengan tanah. Gambar yang mewakili apa yang digambarkan oleh Bung Karno. Ini yang tak kita lihat di Orla.

Patung di masa Orla yang punya aspek politis itu Monumen Jogja Kembali atau Monumen Pancasila Sakti. Hanya itu. Selain seni rupa yang tak begitu dimanfaatkan secara maksimal, Orla sadar, bukan seni rupa yang mereka tuju, tapi media massa. Media massa baik cetak, suara, audiovisual, itu dimanfaatkan secara masif sebagai alat propaganda. Misal Kelompok Ponpencapir, TVRI secara masif jadi alat propaganda untuk nunjukin keberhasilan pangan Orla. Orla juga buat Yayasan Amal Bakti Pancasila yang mengambil dana dari PNS, TNI/Polri. Ada 999 masjid muslim Pancasila. Media massa yang tak sejalan dibredel dan tak terbit lagi. Bagaimana kebenaran dimonopoli oleh Orba.

Selain media, yaitu film, misal Pengkhianatan G30 PKI. Itu jelas propaganda. Media massa dan film, itu ynag dipompa habis-habisan di Orba.Juga tentang kehadiran seni rupa baru. Ini blunder pembangunan. Misal TIM pada masa Ali Sadikin, di masa itu, teater muncul dengan besar-besaran. Pertunjukan Rendra dianggap berbahaya, juga Hardi di gerakan seni rupa baru. Di masa itu, TIM banyak melahirkan Seniman hebat di banyak bidang, isinya kritik. Aspek kritis saat itu di masyarakat habis. Yang dianggap mengganggu akan dihabisi. Gerakan seni rupa baru itu gerakan  tua vs muda. Ada dominasi dari persagi, ada jiwa ketok, menghasilkan apa yang konkrit. Ada lima mahasiswa di ASRI, mengkritik dewan juri TIM, ini asal-usul biennale. Hal berharga yang mereka sumbang, menghadirkan seni yang konkrit. Seperti video art, performance art.

Irwan Ahmett menjelaskan tentang karya 2015-2018. Keempat karya yang dijelaskan Iwang terkait situasi politik di Asia Tenggara hingga perang Vietnam. Dia merenungi terkait nilai-nilai kemanusiaan. Ada kontrol di berbagai aspek, yang berkolaborasi dengan rezim. Dia menyoroti terkait sejarah dan kekerasan. Bagaimana spasialitas sejarah memengaruhi individu, apa itu kebenaran, bagaimana pelabuhan kebenaran?

Karya pertama, Spatial History, 11 Maret 2015, di Teater Kecil Jakarta sebagai respons terhadap Supersemar. Keberadaan surat ini antara ada dan tiada. Yang nampak, sebuah wacana fiktif, narasi Orba, yang sulit menerima kebenaran, karena sulit ditemukan. Dihilangkan oleh pelaku yang tak ingin diungkapkan. Apalagi ketika melihat arsip, hanya 20 arsip yang mampu kita lihat, 80 persen tidak, dan itu sumber daya imajinasi. Orba membuat monumen yang buruk. Terkait diorama di monas.

Lalu Monumen Pancasila Sakti. Kenapa Pancasila disaktikan lagi. Juga Monumen Sekarang Umum 1 Maret. Monumen tak lagi menarik. Juga monumen di Makassar sepi, lebih asik main di Pantai Losari. Monumen tak tampak dan menjadi angin lalu. Memang benar, Iwang melihat monumen.

Karya kedua, autopsy history, 30 September 2016, YLBHI Jakarta. Ini terinspirasi dari buah surgawi. Dari otopsi delapan jam, 65, setelah 75 jam. Dokumen otopsi disembunyikan, dan ditemukan oleh Ben Anderson. 

Ketiga, Permanent Shadows, 30 September 2017, Gedung Pusat Film Negara.

Dia menjelaskan sekilas, film favorit Soeharto, Si Manis Jembatan Ancol. Bisa dibayangkan seleranya. Konsepsi sejarah yang dibangun oleh Nugroho Notosusanto. Film pemberontakan dibuat. Ada drama heroisme. Iwang menayangkan terkait berbagai film di Gedung Pusat Film Negara, 22 Januari 2017.

Keempat, Constellation of Violence, 1 Oktober 2018 dini hari, Bioskop Grand Senen, Jakarta, TPAM Yokohama Jepang.

Karya ini berkembang, mengajak Iwang bereksperimen terhadap investigasi akar kekerasan. "Juga bagaimana insting membunuh ada pada saya." Situs kematian itu ditutup oleh arsitektur Jawa. Sifat-sifat ingatan dan kekerasan. Iwang ada di medan, dia ada di pusat primata. Apa kita dikutuk hidup berdampingan dengan kekerasan? 

Kemudian Dolorasa Sinaga menuampaikan, ada dua hal yang disampaikan Iwang: satu monumen, kedua bagaimana monumen bisa kita lihat dalam konteks banyak hal. Monumen adalah ingatan yang dibuat atau diwujudkan dalam bentuk, dalam objek. Objek ini bisa kita mengerti. Peristiwa itu monumen, cincin kawin itu monumen. Value dia adalah ingatan.

Coba pergi ke prasejarah, bagaimana masyarakat tribal meyakini sense of survival itu dengan membunuh binatang dan berhubungan dengan leluhurnya. Dan biasanya itu diwujudkan dalam bentuk. Value lain yaitu penghormatan pada peristiwa, sosok-sosok yang berjasa, serta ingatan/pengetahuan.

Mengingat PP presiden terkait membangun monumen, kita bisa ingat ulang peristiwa 65. Presiden mengatakan penyesalan dan menyatakan negara akan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran berat HAM.

Salah satu yang disampaikan ke publik, ada penyelesaian non-yudisial dengan memberi kesejahteraan pada korban. Kalau menyimak, banyak pertanyaan, apa berhenti pada pemberian bantuan atau bagaimana?
Pelanggaran HAM pasti dilakukan oleh negara, kalau ada tawaran non-yudisial, akan mengebalkan pihak tertentu. Monumenisasi bukan saja merawat ingatan tapi juga pengakuan publik. Kasus 65 harus diselesaikan. Historical justice harus dilaksanakan.

Korban 65 punya empat pilar: (1) kebenaran bagaimana, hak atas to know the truth, (2) hak keadilan, (3) hak reparasi, (4) hak tidak terjadi lagi, (5) hak monumenisasi.

Misal pemerintah Jerman membangun monumen Holocaust di tengah kota. Peristiwa 65 banyak scholars yang nulis, tapi mengapa negara tak mampu menyelesaikan.

Aktivisme tak berhenti pada bentuk, tapi juga mengolah, seperti yang dilakukan Iwang juga tempat yang lain. Orba tak hanya media dan film, tapi juga monumen. Mengatakan pada kita itu kebenaran. Dolo setuju ketika monumen dibuat benar sehingga masyarakat cerdas.

Diskusi ini mendapat tanggapan dari John Muhammad, sebagai pihak panitia pendirian Monumen Trisakti. Di tahun 2015, dia bikin riset, Orba seninya cupu, tapi paling banyak memproduksi moseum. Bahkan Reformasi, masih banyak Orba untuk museum khususnya di Jakarta. Monumen daya sebarnya luar biasa. Monas dibangun Soekarno, tapi diorama udah Soeharto.

Kalau di Monumen Trisakti, dia jadi mahasiswa, ketua Debra Yatim, hasilnya empat bilah logam, ada bongkahan batu. Tapi itu terburu secara desain jika dilihat dari ilmu arsitektur. Pemenang satu dan dua berkolaborasi.

Otokritiknya terlalu cepat. Ada piagamnya itu saya yang bikin. Hal itu tak bisa buru-buru, tapi yang penting manfaatnya. BEM Trisakti mensakralisasi tempat itu. Upaya civitas academica tak hanya museum tapi juga halte.

Apapun karyanya, selama itu ada, itu isunya ada. Beda sama universitas lain, mengingatkan publik dengan memakai ruang publik. Harus tarung dan merebut. Kamil Muhammad diminta bikin museum terkait peristiwa Tanjung Priuk. Ruang publik harus tetap diintervensi.

Dengan situasi yang sekarang, kok menyamakan saja karyanya? Dengan Orba saja tak bisa? Apa yang dibutuhkan, apa aktor, kebijakan, atau lainnya?

Tanggapan berikutnya dari Aditya Utama, alumni Atmajaya, membangun monumen Semanggi:

Dalam pembangunan itu dibangun tak lama setelah peristiwa terjadi. Misal monumen selamat datang untuk peristiwa Ganefo, dll. Beda dengan Kampus Atmajaya, itu 25 tahun baru dibuat. Ini ada beberapa mahasiswa, Atmajaya ini kampus Reformasi, itu pentingnya monumen kolektif. Di mana ya peristiwa, Wawan jatuh di mana. Butuh artefak. Pihaknya berinisiatif membangun ini sebagai ingatan kolektif, dan ini belum selesai. Dengan monumen, ini udah selesai belum ya? Pembangunan ingatan kolektif seperti itu.
Monumen sebagai material untuk cari ingatan kolektif. Apakah monumen ini masih worth it?

Lalu juga mendapat tanggapan dari anggota KontraS: Rumah Gedung di Aceh dihancurkan. Hari ini 39 tahun tragedi Priuk, menagih janji. Sampai sekarang, Trisakti dan Atmajaya sudah bangun, Priuk belum. Bagaimana menghidupkan aktivisme dalam seni? Apa itu jadi gerakan seni rupa modern? Apa itu relevan?

Juga pertanyaan dari Nirwan: Rencana pembuatan di IKN seperti apa? Banyak sekali tema kemanusiaan? Pengulangan sejarah yang telah ada.

Lalu Bu Dolorasa menjawab: Harus berikrar, bagaimana merawat ingatan kita terhadap 65.
Kalau mau bangun memorialisasi pasti berhadapan dengan institusi power. Banyak yang bisa kita kerjakan. Sama Kamil menata peristiwa ini dari awal. Kita bikin petanya. Kita juga bisa membangun museum maya, virtual. Kegiatan berkesenian tak hanya berhenti di value ekonomi dan intelektual, tapi juga ada nilai resitensi, juga kesadaran sospol, untuk mewujudkan perubahan

Lalu Irwan Ahmett memberi tanggapan: Ari-ari besi, saya buat monumen di situ, di IKN. "Saya lihat itu gimmick nasionalisme, mirip marketing perumahan. Saya udah buat peripih di IKN. Pola-pola menjual kapling perumahan. Saya khawatir, Pulau Jawa dibuat monumen tak akan cukup, masalah semua itu. Banyak wajah superfisial, estetika kita masih seperti itu. Gagasan memorialisasi itu penting. Kita gampang lupa, bertempur dengan peristiwa berbeda. Monumen itu bisa jadi jangkar. Kita ditantang mencari cara yang baru. Juga di WTC Tower, ada hal yang berpikir sangat dalam. Bagaimana kekuatan seni memunculkan hal yang tak bisa kita pikirkan. Dengan kreativitas ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan baik."

Asikin menambahkan: Monumen kalau diartikan tiga dimensi itu akan banyak dan akan muncul terus. Sebagai usulan, selain sesuatu yang monumental, juga unmonumental, seperti museum Holocaust, apa yang dihadirkan di situ narasi, foto, sendal, unmonumental, itu artefak-artefak yang kuat. Hampir tak ada yang monumental, sehingga kita merenung. Buku itu juga monumen. Bagaimana membangun narasi sehingga banyak orang mempelajari. Monumen kita miskin narasi. Aspek yang monumental justru memberi impresi yang kuat! Eureka! Kalau melihat peristiwa Trisakti dan Semanggi, bagaimana arsip dibangun dalam bentuk narasi. Bisa dengan media baru yang ditampilkan. 

Kata Penutup:

Soal monumen IKN, ini apa? Ini semacam konvensi, ini tradisi yang berubah. Monumen tandingan yang unmonumental. Itu narasi yang lebih penting. Bangunan bisa roboh, tapi narasi enggak. Kita harus selalu merawat ingatan, terhadap sesuatu yang melukai kemanusiaan. Itu tak harus fisik, tapi juga unmonumental. Merawat ingatan itu penting. (Asikin)

Konsep keadilan itu bukan hanya manusia, tapi monyet juga punya. Tanpa keadilan, dia ada tapi tak bermakna. Terlalu banyak arsitektur, saya menahan diri untuk tak menghujat, tapi landasan kemanusiaan yang bekeadilan. (Irwan Ahmett)

Untuk rezim baru, DKJ kalian akan menghadapi luar biasa dan komitmen kuat dan besar, karena tak tahu siapa yang jadi presiden. Dengan membuka dialog publik, ini langkah yang luar biasa. Kalian peduli, dengan menghadapi institusi power harus lebih cerdas lagi. Kalian harus jadi penutan. (Dolorosa Sinaga)

Jumat, 08 September 2023

Racauan di Bali

Suatu saat lu akan sadar kalau gw tempat lu pulang. Gw gak tahu itu kapan, tapi itu keyakinan gw, sejauh apa pun lu pergi, lu akan kembali ke gw. Begitupun gw. 

Gw gak pengen milikin elu, kagak, atau ngerubah elu, kagak pernah. Gw cuma pengen ada di dekat lu, nemeni lu, itu doang yang gw pengenin. 

Selama gw gak punya komitmen apa pun sama orang lain, lu boleh balik kapan aja ke gw. Kapan pun lu mau. 

Gw gak butuh diri lu yang sempurna, atau lu yang begini dan begitu. Kehadiran lu aja udah cukup. Gw nerima apa pun yang ada di diri lu.

Gw kangen lu. Gw cuma pengen sama lu. Semua gelombang rasa gw ada di elu. Lu "niskala" dan sekala gw.

Sanur, 8 September 2023

Jumat, 01 September 2023

1 September 2023

Aku ingin selalu kembali ke duniaku: menulis dan membaca. Selamanya. Menciptakan karya-karya yang kubisa nikmati sendiri, berimajinasi tentang kemungkinan-kemungkinan hidup para tokohku, duduk di emperan rumah dengan kertas, dengan pulpen, dengan pikiran dan hati yang terbuka. Aku kangen masa-masa itu. Sungguh. Menulis cerita yang sederhana, nggak banyak drama harus begini dan begitu, menunda ini dan itu, nggak ndakik-ndakik tetapi terasa tulus dan hangat.

Like Father, Like Son (2013): Karakter Anak Tak Lepas dari Siapa yang Mengasuh


"Dia harus disiplin. Jika kau melewatkan satu hari, kau akan tertinggal tiga hari untuk mengejarnya. Tak ada waktu untuk diberikan pada pecundang." Kira-kira begitu ajaran Ryota Nonomiya (Masaharu Fukuyama) pada anaknya Keita Ninomiya, atau Keita-san. Seorang ayah yang memandang jika zaman sekarang, kebaikan itu jadi kelemahan.

Dari film ini aku belajar, yang terpenting adalah siapa yang membesarkanmu, di mana lingkungan kamu hidup, itu yang lebih membentukmu dari sekadar ikatan darah. Seperti Keita atau Ryusei Saiki (Hwang Shogen) yang begitu terpengaruh dengan karakter ayah dan ibu mereka masing-masing. Di sini, tokoh Keita mengingatkanku dengan diri sendiri ketika kecil. Ibu bilang jika dulu aku anaknya diam, ditinggal kerja pun diam dan anteng, barangkali mirip Keita, haha. Ibu palsu Keita, Midori Nonomiya (Machiko Ono) juga memiliki latar belakang yang tak jauh beda dengan ibuku, menikah dengan pria yang berbeda kelas seperti ayah.

Keita dan Ryusei memiliki karakter yang berkebalikan, meski mereka bisa diajak bermain bersama, tapi sosok Keita bagiku lebih kompleks. Hal lain yang kurang menurutku adalah film ini terlalu berfokus pada keluarga kelas atas, dan memberi porsi yang lebih sedikit dibanding keluarga kelas bawah, jadinya mayan bias kelas. Keluarga yang kesehariannya jualan di toko elektronik vs project manager architect tentu berbeda. Hidup di kota dan hidup di desa juga berbeda.

Rumah dan lingkungan mereka pun berbeda. Orangtua palsu Ryusei, si ayah Yudai Saiki (Lily Franky) dan Yukari Saiki (Yoko Maki) digambarkan juga sebagai orangtua yang ekstrovert. Mereka bisa mengajak mandi anak-anaknya bersama sambil menyemburkan air. Atau si ibu yang menggelitik perut anaknya tanpa rasa ragu. Khas kelas menengah bawah yang masih menganut banyak anak, banyak rejeki, keluarga Saiki juga memiliki jumlah keluarga yang lebih banyak. Ryusei punya dua adik (bukan) kandung yang menggenapi sikap ekstrovernya. Tentu ini menjadi hal yang susah bagi Keita.

Namun, hal yang menggetarkan di sini adalah emosi anak ke orangtua, dan emosi orangtua ke anak. Aku suka film ini karena pergolakan psikologi tokoh yang begitu ditampilkan, baik dari gestur, suara, mimik, dan barangkali sekadar aksi diam mereka ini berbicara. Anak adalah akumulasi segala hal yang dicekokan orangtua, meski si anak tak suka, tapi anak yang baik akan belajar untuk memaksakan kehendak orangtua ke dirinya sendiri. Itu juga bukan yang terjadi di dalam diri banyak di antara kita?

Ironi lain, jika orang sudah mengidap perasaan iri, dia akan punya banyak cara untuk merugikan orang lain. Seperti suster yang dengan sadar menukar kedua bayi itu dengan alasan keluraga Nonomiya lebih kaya, sedangkan dirinya miskin dan menderita. Kasus diungkap lima tahun kemudian ketika gugatan sudah tak bisa dibalikkan lagi. Namun, ironi lain, mengapa orang kaya selalu ingin menampakkan segala hal yang sempurna? Kerja keras bagai kuda dan tak memikirkan keluarga? Mana keluarga yang lebih baik aku ragu memilih. Apa pun pilihan kalian dan win-win solution yang bagaimana untuk mengakhiri konflik anak tertukar ini, aku berterima kasih pada sutradara Hirokazu Koreeda yang telah membuat film bagus ini.