Pemikiran ini selalu terngiang-ngiang di diriku, dan pemaknaannya secara lebih mendalam telah aku dapatkan ketika membaca buku Balqis Mentality karya Balqis Humaira ini. Sampai kapan pun, jika kita tahu diri, tapi tidak tahu musuh, maka pertempuran apa pun punya peluang besar kita akan kalah. Dan, sebagian orang tidak tahu apa, siapa, musuh yang dimaksud itu.
Kebanyakan orang ketika ditanyai musuhnya selalu dalam keadaan mengambang. Semisal, kamu tanya perempuan random yang berbicara soal feminisme di sebuah demo, jawaban itu tak kalah ngambangnya juga. Dia bisa jawab, musuhnya patriarki, laki-laki, pasar, atau perlu dirinya sendiri. Jika perempuan tidak tahu jelas siapa musuhnya, jatuhnya hanya pelarian, mereka marah tapi tersesat dan tak punya tujuan.
Balqis menjelaskan, musuh yang lebih jelas itu misalnya: "musuhnya adalah dirinya sendiri yang masih haus diperhatiin laki-laki." Secara lengkap: "Dia pikir musuhnya patriarki, padahal musuhnya adalah trauma yang gak pernah dia obati. Dia pikir musuhnya standar kecantikan, padahal musuhnya adalah ketakutan terlihat biasa saja. Perempuan sering mengalihkan perang ke luar, padahal perang terbesar mereka seharusnya ada di dalam." (36) See, ini internal dan subtil banget ladies, dan kita perlu mengakui itu.
Pengetahuan ini perlu dikenali betul agar tidak berakhir pada pertunjukkan luka yang gak selesai. Niatnya mau protes tapi malah nunjukin trauma sendiri. Biar lukanya gak mencari panggung. Jelas banget Balqis bilang, "Musuh perempuan yang sebenarnya cuma ada dua: 1. Ketidaksadaran diri; 2. kebodohan yang dia pelihara tanpa sengaja." Karena itu, jika hendak melawan, melawanlah dengan akal, punya arah, dan sadar. Harus tahu dulu musuhnya. Termasuk jika musuh itu keputusan-keputusan hidup yang dijalani tiap hari. Berhenti melawan pada yang tidak salah.
Ketika kesulitan menentukan musuh, perempuan juga kesulitan menentukan tanggung jawab. Padahal, tangung jawab ini berkaitan erat dengan kebebasan. Menurutku, tanpa tanggung jawab, tidak ada kebebasan. Maka benar ada salah satu tokoh yang aku lupa namanya bilang, patung liberti yang ada di USA itu perlu diimbangi dengan patung tanggung jawab di sisi lain agar seimbang.
Aku membeli buku ini dengan tujuan yang sangat spesifik: Aku ingin tahu bagaimana mentalitas Balqis bekerja. Sebab inilah yang dia janjikan di dalam judul. Secara umum buku ini terdiri dari sembilan bab, yang terdiri dari: (1) Dunia yang Menjual Kekuranganmu, (2) Perempuan, Uang, dan Harga untuk Bahagia, (3) Harga Diri yang Dijual Kiloan, (4) Perempuan dan Luka yang Diturunkan, (5) Cinta yang Bikin Perempuan Bodoh, (6) Izin untuk Bahagia, (7) Tubuh, Pikiran, dan Diri yang Asli, (8) Revolusi Sunyi: Perempuan yang Selesai dengan Dirinya, (9) Epilog - Cukup adalah Perlawanan.
Kesanku setelah membaca, aku merasa Balqis, untuk rangkuman buku di awal-awal, lama-lama aku merasa tulisannya jadi mirip ChatGPT, tapi setelah masuk ke bab lain, jadi kembali ke gaya Balqis lagi. Dalam renungan di beberapa babnya, seperti di bab yang menjadikan kekurangan sebagai komoditas, aku mikir juga: Qis, gw jadi mikir ini terjadi juga di dunia sastra. Seolah gw jadi penulis sastra harus serba sempurna dulu. Bener kata lu Qis, "Kekurangan adalah sumber daya yang gak pernah habis." Lalu, "mengemas penderitaan jadi hiburan." Bagian ini kena banget sih.
Setelah baca buku ini aku juga mikir, sebegitu pentingnya uang buat perempuan ya Qis. Aku merasa tergugah dengan cerita perbandingan, perempuan yang diselingkuhi partnernya. Yang punya uang dia bisa healing di Bali, tapi yang gak punya uang cuma nyesek di kamar sambil kelaparan. Itu nyesek yang lebih nyesek sih.
Overall, aku suka buku ini. Thanks Balqis.
KUTIPAN:
Kesadaran — bahwa keinginanmu buat “jadi lebih baik” sering kali bukan kebutuhan, tapi hasil didikan industri. (2)
Perempuan baru bisa memilih kalau dia punya daya beli... realitas pahit — perempuan kuat bukan karena kata-kata manis, tapi karena saldo yang cukup buat bilang tidak. (2)
Refleksi moral — bukan soal benar atau salah, tapi soal sadar siapa yang sebenernya ngatur pilihanmu. (2)
Penyembuhan dengan logika — bukan dengan air mata. Kesadaran bahwa ilmu dan berpikir kritis adalah obat paling spiritual. (3)
Jadi perempuan yang damai tanpa minta restu dunia. (3)
Dunia gak bisa ngontrol perempuan yang udah selesai dengan dirinya sendiri. (4)
Damai adalah bentuk tertinggi pemberontakan. (4)
Perempuan gak pernah dilatih buat cukup. Mereka dilatih buat memperbaiki diri, tanpa jeda, tanpa ujung. (4)
Pemulihan mental bisa diganti dengan kandungan niacinamide. Bahwa bahagia itu satu paket dengan bonus pouch edisi terbatas. (5)
Ke labirin yang sama: rasa gak cukup. (5)
Lebih dari 70 persen perempuan usia 18-30 di kota besar Indonesia merasa penampilannya “tidak ideal.” Itu bukan angka sepele. Itu artinya tujuh dari sepuluh perempuan bangun pagi dengan pikiran bahwa mereka belum pantas. Dan tiap kali mereka ngerasa begitu, dunia untung. (5)
Ada bagian dari diri perempuan yang ikut memelihara penyakit yang sama, karena tanpa sadar, mereka udah ketagihan perhatian. (5)
Algoritma kasih validasi dalam dosis kecil, cukup buat bikin nagih, tapi gak cukup buat bikin puas. Setiap notifikasi jadi candu. (6)
Jadi, ini bukan perang antara gender. Ini perang antara kesadaran melawan industri yang hidup dari kebodohan manusia. Dan selama manusia masih percaya bahwa nilai diri bisa ditingkatkan lewat belanja, perang ini gak akan berhenti. (6)
Bahagia gak dijual di toko mana pun dan perempuan udah keburu dilatih untuk cari kebahagiaan lewat barang. (6)
Semua orang pengen menonjol. Semua pengen jadi “yang paling.” Padahal jadi cukup itu juga bentuk kemenangan, cuma gak dijual di etalase mana pun. (7)
Ritual keagamaan baru: ibadah di depan kamera, kurban lewat tubuh sendiri. Kalau zaman dulu orang nyembah dewa, sekarang orang nyembah citra. (7)
Perempuan yang ngerasa cukup gak akan belanja banyak. (7)
Kalau semua perempuan tiba-tiba sadar bahwa mereka udah cukup, miliaran dolar di iklan kecantikan bakal hancur dalam semalam. (7) (Isma: Aku tiba-tiba kepikiran buat cerpen dari kalimat lu ini Qis)
Kebodohan yang dibungkus kebiasaan. (7)
Padahal kulit mereka udah sehat dari sononya, atau dari perawatan yang mahal, laser jutaan, klinik premium, nutrisi yang gak semua orang bisa akses, tapi ketika promosi, mereka bilang itu semua karena produk yang mereka pegang. Dan parahnya, perempuan percaya. (8) (Isma: Anjirlah)
Gue ngajak lo semua khususnya perempuan buat gak gampang disetir atau percaya, lo harus curiga biar gak rugi, lo boleh beli skincare yang dia jual, tapi minimal lo baca dan tau kalo itu emang kebutuhan buat wajah lo. (8)
Mereka tahu perempuan tidak membeli produk, mereka membeli harapan. Harapan untuk terlihat lebih cerah, lebih mulus, lebih glowing, lebih cantik, lebih ideal, lebih diterima. Dan harapan itu dijual lewat wajah influencer. (8)
Perempuan baik harus rapi. Perempuan sukses harus elegan. Perempuan berani harus tetap manis. Gak ada tempat buat perempuan yang biasa aja. (8)
Kesadaran tanpa tindakan cuma jadi bahan konten motivasi. Lo harus beneran ubah cara berpikir, bahkan di hal kecil. Waktu lo beli produk baru, tanya: gue beli karena gue butuh, atau karena gue pengen ngerasa lebih berharga? Waktu lo upload foto, tanya: gue pengen berbagi, atau pengen diakui? Waktu lo bandingin diri sama orang lain, tanya: gue pengen jadi dia, atau gue cuma lupa caranya nerima diri sendiri? (9)
Tapi kalau dijawab jujur, pelan-pelan lo bakal sadar: banyak yang lo kejar padahal sebenarnya gak perlu. (9)
Hargai tenangnya, pikirannya, sikapnya, hal-hal yang gak bisa difilter. Karena kalau lo bisa liat perempuan tanpa nunggu dia bersinar, lo udah bantu satu langkah kecil buat ngeruntuhin sistem yang nyiksa dia. (9)
Dia juga pengen memilih bahagia, tapi besok anaknya harus makan, dan di dompet cuma ada dua lembar lima puluh ribuan. (10) (Isma: Ngena banget kisah dua perempuan ini Qis)
Uang ngasih satu hal yang gak bisa dimiliki perempuan yg gak punya uang yaitu pilihan. (10)
Uang menentukan siapa yang bisa marah, siapa yang harus diam. Uang menentukan siapa yang bisa ninggalin, siapa yang harus bertahan. (10)
Uang adalah satu-satunya alat buat nolak. Lo gak bisa ngomong soal martabat kalau lo masih harus minta uang buat beli sabun. (10)
Ada sabar yang sebenarnya bentuk lain dari kemiskinan. (11) (Isma: Iya lagi Qis)
Uang bukan cuma bikin hidup nyaman, tapi bikin kepala jernih. (11)
Kalau hidup perempuan itu ibarat permainan, maka uang adalah tombol “save progress.” Lo bisa jatuh, bisa disakiti, tapi selama lo punya uang, lo bisa mulai ulang. (12)
Banyak perempuan gak sadar bahwa ketenangan itu bisa dicicil. Bukan harus langsung kaya, tapi mulai dari keputusan kecil: punya uang atas nama sendiri. (13)
Padahal aman itu bukan soal punya orang, tapi punya pegangan... Kebebasan bukan urusan karakter, tapi akses... Kemandirian bukan cita-cita muluk. Itu survival kit. (13)
Kerja itu bentuk doa yang paling konkret: doa buat punya pilihan. Karena di dunia yang sekejam ini, pilihan adalah bentuk paling nyata dari martabat. (13) (Isma: BENER BANGET!)
Punya arah itu lebih penting dari punya hasil. (13)
Cinta gak bisa jadi rencana keuangan. Dan kebahagiaan gak bisa diserahkan ke tangan orang lain, bahkan yang lo cintai... hubungan bertahan bukan cuma cinta, tapi keseimbangan kuasa. (14)
Karena yang bikin perempuan kuat bukan sabar, tapi sadar. Dan sadar itu butuh biaya. (14)
Kenapa banyak pernikahan berantakan? Bukan cuma karena dua orang gak cocok, tapi karena salah satunya masih percaya konsep “diselamatkan.” (15)
Kerja buat diri sendiri jauh lebih ringan daripada kerja buat hubungan yang nyiksa. (15)
Kalau lo miskin, kerja.
Kalau lo kosong, isi diri lo. (15)
Kesadaran bahwa hidup lo bukan proyek sosial yang harus diselamatkan orang lain... Kesadaran bahwa bahagia itu bukan hasil pembuktian, tapi hasil pemahaman bahwa lo berharga bahkan tanpa siapa pun di sebelah lo. (16)
Perempuan dulu dijual tanpa pilihan. Sekarang, banyak yang menjual dirinya dengan sadar. Bedanya tipis: dulu dipaksa, sekarang dipelajari. (17)
Pasar paling besar di dunia modern ini bukan saham, bukan kripto, tapi tubuh perempuan... wajah cantik bisa bikin lo viral dalam semalam. Dunia ngasih tepuk tangan lebih keras buat yang berani buka baju, daripada buat yang berani buka pikiran. (18) (Isma: Balqis, aku marah!)
Lo pernah liat gak, di kolom komentar sosmed perempuan yang berani tampil terbuka? Setengah isi komentarnya cowok-cowok haus validasi, sisanya perempuan-perempuan yang sibuk bilang, “ih murahan,” “malu dong jadi cewek,” “aku sih gak gitu.” Padahal kalau dikulik lebih dalam, yang ngetik kata “murahan” itu juga pernah berdiri di depan cermin, membenci tubuhnya sendiri karena gak sekencang tubuh yang dia hina tadi. (18-19)
Itu kenapa gue bilang, harga diri sekarang dijual kiloan. Bukan cuma di jalan, tapi di semua platform yang punya tombol upload. (19)
Karena perhatian bisa bikin orang waras jadi pengemis. Sekali lo ngerasa dicintai karena penampilan, lo bakal terus ngulangin trik yang sama, sampai lo gak tahu lagi di mana batas antara “gue” dan “konten gue.” (19)
Semua yang dijual di dunia ini, cepat atau lambat, akan jadi murah. (19)
Sadar bahwa tubuh lo bukan bukti eksistensi lo. Sadar bahwa lo bisa cantik tanpa harus disetujui publik. Sadar bahwa lo punya hak untuk gak dijadikan komoditas, bahkan oleh diri lo sendiri. (22)
Tapi lo harus bedain antara menggunakan platform dan dijadikan platform. Kalau lo yang ngatur isi konten lo, lo masih pemiliknya. Tapi kalau isi konten lo udah ngatur siapa lo harus jadi, lo udah jadi produknya. (22)
“Gue cukup, bahkan kalau gak ada yang liat.” (23)
Sesuatu yang lebih mahal dari apa pun di dunia ini: harga diri... Etalase yang paling sepi tapi paling mahal: kesadaran. (23)
Ada perempuan yang hidup bukan cuma dengan luka miliknya sendiri, tapi luka milik ibunya, neneknya, bahkan buyutnya. Luka-luka lama yang gak pernah dibereskan, cuma diturunkan. (23)
Banyak perempuan takut dicintai karena keluarganya penuh pertengkaran.... perempuan sering gak sadar bahwa cara mereka mencintai juga hasil warisan luka. (24)
Kalau ibunya tersiksa tapi bertahan demi anak, itu harus disertai pengorbanan sampai tulang patah. Kalau ibunya takut kehilangan laki-laki, dia akan belajar bahwa cinta harus dijaga dengan ketakutan. Kalau ibunya selalu menunduk, dia akan pikir bahwa menunduk itu cara perempuan hidup yang benar. (24-25) (Isma: Nangis aku Balqis)
Bahkan ketika mereka gak suka dengan hidup ibunya, mereka tetap kepeleset ke pola yang sama... perempuan sering mewarisi luka, tapi jarang mewarisi cara untuk sembuh... Bagaimana perempuan bisa menang dalam permainan yang aturannya saling bertentangan? (25)
Kita ini sering hidup dengan luka yang bukan milik kita. Bukan hasil keputusan kita, bukan hasil pilihan kita, tapi hasil panjang dari apa yang ibu kita alami, apa yang nenek kita telan, apa yang generasi sebelum kita tahan dalam diam. Tapi seberapa pun kuatnya luka itu diturunkan, ada satu hal yang selalu bisa menghentikannya: ilmu. (25-26)
Tapi ada juga perempuan yang jalan hidupnya jauh lebih terang bukan karena dia lebih cantik atau lebih beruntung, tapi karena dia memilih untuk mengisi hari-harinya dengan ilmu... Dia bukan hidup untuk mengulangi cerita ibunya. Dia hidup untuk menulis cerita baru. (26)
Anak ketiga beda. Dia belajar, dia baca, diia mengamati, dia gak buru-buru. Dia tahu apa yang dia mau, dia tahu apa yang gak boleh dia ulang, dia tahu luka ibunya bukan kewajiban dia untuk diteruskan. (26)
Perempuan yang punya ilmu, bukan cuma menemukan tipe laki-laki ideal, tapi juga menjadi perempuan yang pantas untuk tipe laki-laki ideal itu. (26)
Perempuan yang berilmu bisa memilih dari tempat yang jernih. Dan perempuan yang bisa memilih dari tempat yang jernih tidak akan pernah hidup sebagai replika dari ibunya... Dia bukan cuma siap menikah, tapi siap memilih siapa yang layak menikahinya... dia punya navigasi, dia punya arah, dia punya pemahaman. (27)
Ilmu adalah jalan keluar, ilmu adalah penjeda, ilmu adalah pagar, ilmu adalah pondasi, ilmu adalah penebas rantai luka yang turun tanpa henti. Perempuan yang belajar, menang. Perempuan yang gak belajar, mengulang. (28) (Isma: Persis yang aku alami Qis)
Perempuan sering punya satu kemampuan aneh: kemampuan untuk membela seseorang yang bahkan tidak berusaha mempertahankan dirinya... perempuan sering pacaran sama versi imajinasi dari laki-laki itu, bukan sama laki-laki yang nyata... Dia jatuh cinta sama potensi, bukan karakter, bukan perilaku, bukan integritas. (28) (Isma: Najis gw Qis balik ke tipe cowok-cowok kek gini).
Perempuan harus paham: tubuh bukan alat tawar-menawar. Cinta sejati tidak pernah meminta tubuh sebagai syarat komitmen... perempuan memberikan terlalu banyak, dengan laki-laki yang memberi terlalu sedikit... Cinta yang sehat selalu bikin perempuan lebih besar, lebih tenang, lebih jelas, lebih berharga. (30)
Perempuan belum selesai dengan dirinya sendiri. Selama perempuan belum tahu nilai dirinya, dia akan menerima apa pun. Selama perempuan belum punya standar, dia akan jatuh ke pola yang sama. (31)
Butuh itu bikin lo nurunin standar, ngejar, ngemis, memaklumi, dan bertahan di hal-hal yang seharusnya lo tinggalkan sejak lama. (32)
Cara berhenti jadi bodoh dalam cinta dimulai dari sini: isi hidup lo dulu, baru tentukan siapa yang pantas masuk. (32)
Perempuan juga harus belajar membaca laki-laki dari pola, bukan dari momen manis, karena momen manis itu tipuan. Laki-laki bisa manis sehari, seminggu, sebulan. Tapi pola hidupnya gak bisa bohong... Cara dia marah, cara dia kecewa, cara dia mengelola konflik, cara dia ngobrol ketika lagi pusing, cara dia treat lo ketika dia gak dapat apa yang dia mau. (32)
Banyak perempuan merasa “disakiti,” padahal yang menyakiti dia bukan laki-laki itu, tapi ekspektasi liar yang dia tulis sendiri... membangun standar yang datang dari nilai diri, bukan dari luka. Standar yang lahir dari pengalaman, bukan ketakutan. Standar yang lahir dari visi hidup, bukan dari keinginan untuk tidak sendirian. (33)
Padahal perempuan yang tetap hidup, tetap belajar, tetap dibangun, tetap punya arah, akan tetap punya diri, meskipun hidupnya sedang hancur-hancuran. (34)
Banyak perempuan ngerasa mereka sedang melawan sesuatu yang besar, tapi kalau lo tanya, “Musuh lo siapa?” jawabannya mengambang. Kadang patriarki, kadang laki-laki, kadang mantan, kadang standar sosial, kadang agama, kadang keluarga, kadang diri sendiri. Padahal kalau lo melawan tanpa tahu musuh lo, yang lo lakukan bukan perlawanan. Itu pelarian. (35) (Isma: Anjay, ini bener banget Qis, kalau kita gak tahu musuh, sampai kapan pun lu bakal kalah.)
Perempuan yang benar-benar kuat gak perlu bilang dirinya kuat, kita bisa lihat dari cara dia hidup... Padahal kebebasan tanpa tanggung jawab bukan kemerdekaan. Itu kekacauan. (36)
Dan jangan lupa bagian paling pahit: perempuan gampang banget diprovokasi. Gampang kebakar isu, gampang teriak di komentar, gampang ikut gerakan viral tanpa paham konteks. Gampang merasa mewakili semua perempuan padahal dia cuma melampiaskan rasa sakitnya sendiri. (36)
Karena perlawanan yang terbesar dan paling penting bukan melawan dunia, tapi melawan kemalasan diri untuk tumbuh. (37)
Algoritma tidak punya etika. Tujuannya cuma satu: membuat lo kecanduan sampai lo kehilangan akal sehat. (38)
Kasus Lina Mukherjee: hidup lo belajar apa dari orang yang bahkan gak belajar dari hidupnya sendiri? ... Perempuan sering memilih panutan berdasarkan luka, bukan logika. (39)
Dunia ini tidak peduli sama lo. (Isma: Lu harus sadar bahwa gak akan ada yang jemput lu, dan lu akan selalu sendiri sampai lu mati.) (41)
Kesadaran bahwa keluarga tidak selalu bisa diandalkan, bahwa validasi tidak punya nilai, bahwa tubuh tidak bisa selamanya jadi modal, bahwa hubungan tidak selalu aman... kesadaran bahwa hidup tidak akan menunggu perempuan untuk siap. (42)
Perempuan utuh adalah perempuan yang menghargai dirinya bukan karena dunia memuji, tapi karena dia tahu dirinya layak dihormati. (42)
Yang menyelamatkan perempuan cuma satu hal: kesadaran untuk tidak mengkhianati dirinya sendiri. (43)
Hidup lo gak akan pernah lebih baik daripada orang-orang yang sekarang udah mulai belajar, ngisi otak, dan naikin kualitas diri. (43)
Gue sampai di titik ini bukan karena gue selalu benar. Gue sampai di titik ini karena gue gak pernah berhenti belajar, bahkan ketika hidup lagi kayak sampah. (44)
Karena kepalanya kosong. Dan hidup paling kejam sama orang yang kepalanya kosong. (44)
Lo harus belajar, bahkan kalau semua orang di sekitar lo berhenti. Belajar, bahkan kalau hidup lagi gak masuk akal. Belajar, bahkan kalau lo lagi gak punya tenaga. Belajar, bahkan kalau gak ada yang tepuk tangan. (45)
Mereka pakai pikiran untuk memahami hidup. Lo pakai pikiran untuk menghindari rasa sakit. (45)
Karena dunia ini gak punya kewajiban untuk baik pada lo. Dunia gak punya kewajiban untuk ngertiin lo. Dunia gak punya kewajiban untuk lembut sama lo. Satu-satunya yang punya kewajiban menyelamatkan lo adalah diri lo sendiri. (45)
Jadi perempuan yang belajar sampai kepalanya terlalu kuat untuk dibodohi siapa pun. Itu adalah mentalitas yang akan membawa lo ke hidup yang tidak lagi ditentukan oleh siapa
pun. (46)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar