Rabu, 19 Maret 2025

Keteguhan Hati - Catatan Retret VI Vedanta Taman Rempoa

Ini adalah retret Vedanta keenam yang aku ikuti. Rasanya seperti mengisi energi. Benar kata Mas Saenuri, kenapa aku masih terus mau datang meskipun beban kerja terasa datang tanpa henti? Karena aku menemukan cinta. Dan, cinta ini tak bisa diungkapkan, hanya bisa dirasakan. Sungguh pengalaman yang dalam. Aku merasa hidupku, meminjam kata-kata Sapardi Djoko Damono, terlalu bernuansa "cerebral", orang yang berkecenderungan rasional dan intelektual. Ini didukung dengan berbagai komunitas yang aku terlibat di dalamnya, yang rasa-rasanya semakin memberikan lubang yang menganga di batin.

Bagiku, IVS revolusioner dari banyak komunitas yang aku ikuti, yang katanya revolusioner, tapi nyatanya tak lebih dari ekshibisi ego, parade intelektual, dan pembuktian siapa yang paling cerdas, hebat, dan canggih. Di Vedanta, aku belajar mencuci ego agar murni, melembutkan hati dan pikiranku yang keras, dan memperbaiki sistem bawah sadar yang keruh dan banyak virusnya. 

Jika wacana dekolonisasi itu ada, aku menganggap, perbudakan dan penjajahan paling kejam rasanya adalah perbudakan dan penjajahan yang dilakukan aku atas dirinya sendiri: akan dunianya, keinginannya, nafsunya, emosinya, perasaannya, dan pikirannya. Mendalami Vedanta berarti menyadari pengetahuan purna, kita bukan semua yang melekat pada kita, tapi satu, Tuhan itu sendiri. Menghidupi Vedanta dalam keseharian adalah proses melepaskan jajahan duniawi yang berlangsung setiap saat.

Sebagaimana biasa, tulisan ini adalah rangkuman yang kuingat saat mengikuti Retret Vedanta dan Meditasi bertajuk "Keteguhan Hati Kunci Realisasi Diri Sejati". Acara dilaksanakan di Taman Rempoa Indah Tangerang Selatan, rumah Tante Chika Zoehra (thanks for your best hospitality, Tan). Retret berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu, 15-16 Maret 2025. 

HARI PERTAMA

Peserta retret hari pertama. (Foto: Tim IVS)
Acara dimulai sangat tepat waktu, bahkan sebelum acara dimulai, masih sempat melakukan meditasi. Pak Purwanto Sudibyo selaku MC membuka acara dengan salam, pembacaan kidung Guru Vandana, doa; aku ikut terharu ketika Pak Pur memulai salamnya dengan penuh kasih dan menangis. Dia mengatakan betapa indahnya hari ini, apalagi ada anggrek indah yang merekah di depan, juga bunga lotus yang mekar di belakang.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari tuan rumah, Tante Chika membuka dengan tutur kata yang menentramkan hati, beliau berkata, mari kita lakukan retret ini dengan ketulusan hati. Kondisi kita dalam menerima materi akan berpengaruh pada pemahaman. 

Ia juga menjelaskan lagi pengertian Vedanta sebagai pengetahuan terakhir. Pengetahuan ini termasuk di dalamnya semua pengetahuan, dari matematika, fisika, bahasa, seni, kedokteran, hingga arsitektur. "Vedanta ini berisi inti sari dari Veda," katanya. Dia mengatakan, pengulangan itu perlu untuk memperdalam pemahaman. Vedanta sebagai fondasi untuk melangkah, apalagi topik hari ini seputar keteguhan hati. Ketika kita mengenal Vedanta, tidak mengetahui pengetahuan yang lain juga tidak apa-apa, karena kita sudah merasa penuh dengan pengetahuan akhir ini. 

Vedanta digunakan oleh orang-orang suci untuk mengajarkan ilmu bijak kepada manusia dan menjadi fondasi dalam semua agama meski istilahnya berbeda-beda. Diri kita sejati bukanlah tubuh, ego, pikiran, tapi Dia yang menyaksikan semuanya. Namun, aku yang penuh ketidaktahuan (ignorance) sibuk mengejar keinginan, hingga kita lupa dan tersesat begitu jauh, lupa cara kembali. Di sini Vedanta memberikan solusi, karena Vedanta adalah tentang penyelidikan pikiran kita secara terbuka, demi menemukan realitas sejati. 

Praktik pembinaan diri dengan hati ini menjadi penting, karena hanya mengikuti retret saja tidak akan berhasil, tapi juga perlu direalisasikan ke dalam laku tiap hari. Vedanta bukan hanya pengetahuan teori, tapi juga praktik. Vedanta juga adalah direct knowledge yang bisa disampaikan langsung oleh orang yang tercerahkan (yang biasanya disebut guru). 

"Direct knowledge itu pengetahuan yang langsung disampaikan dari hati ke hati. Memang kita bisa membaca dari buku yang mendapatkan dari Youtube. Tapi kalau kita mendengarkan dari orang yang sudah tercerahkan, akan langsung ke hati. Jadi Vedanta adalah pengalaman nyata," ungkapnya.

Tante Chika juga mengibaratkan, awalnya kita itu seperti kertas putih, tapi kebanyakan manusia sekarang seperti kertas putih yang kusut, karena ada coretan-coretan, ego, pikiran, keinginan, desire, dan hal buruk lainnya. Vedanta mengingkatkan manusia kembali, bahwa kita bukan kertas kusut itu, tapi kertas yang putih dan mulus.   

Tema retret kali ini berhubungan erat dengan determinasi (determination) atau tekat, keteguhan hati, sehingga untuk mewujudkannya dibutuhkan waktu, usaha, dan komitmen yang kuat. Acara selanjutnya dilanjutkan oleh pembacaan puisi WS Rendra berjudul "Doa" oleh Pak Pur. Begini stanza-stanzanya:

Allah menatap hati.
Manusia menatap raga
Hamba bersujud kepada-Mu, ya Allah!
Karena hidupku, karena matiku

Allah Yang Maha Benar
Hamba mohon karunia dari kebenaran
yang telah paduka sebarkan.
Jauhkanlah hamba dari hal-hal buruk menurut Paduka
dan dengan begitu akan buruk pula bagi hamba.
Dekatkanlah hamba kepada hal-hal baik menurut Paduka
dan dengan begitu akan baik pula bagi hamba.

Ya, Allah, ampunilah dosa-dosa hamba
supaya bersih jiwa hamba.
Sehingga dengan begitu mata hamba
bisa melihat cahaya-Mu.
Telinga hamba bisa mendengar bisikan-Mu.
Dan nafas-Mu membimbing kelakuanku.

🌸🌸🌸

Panca Maya Kosa
Pemaparan kedua disampaikan oleh Ustad Hasan dengan materi tentang Panca Maya Kosa. Sebelum ke materi, Ustad Hasan mengingatkan jika akhir dari retret ini adalah untuk mengenal Aku, mengenal Tuhan. Kita sering menganggap Tuhan abstrak atau ada di masjid dan kita kesana, padahal seperti kata Rumi, Tuhan tidak ada di masjid, Tuhan tidak ada di temple, tetapi, Tuhan ada di dalam hati kita semua. 

Kembali ke Panca Maya Kosa, panca artinya lima, maya adalah sesuatu yang tidak sejati, kosa merupakan lapisan-lapisan. Secara utuh, panca maya kosa diartikan sebagai lima lapisan diri. 

1. Ananda Maya Kosa: Ananda di sini disebut sebagai kebahagiaan. Kebahagiaan yang ada di dalam diri kita. Lapisan Aku sebagai sebagai kesadaran dan keberadaan murni. Di sini, Aku adalah keberadaan yang tak terbatas. Bahkan saya bahagia, hadir penuh cinta, karena cinta yang tak terbatas. Kalau ada kebahagiaan yang terbatas, itu sebenarnya bukan Aku. Pengetahuan tak terbatas, kebahagiaan yang tak terbatas. Hal yang bisa menampung ketidakterbatasan Tuhan dalam kebahagiaan ini adalah "cinta" itu sendiri. Kalau konkretnya yaitu hati, satu penampilan dari yang tak terbatas.

 "Kalau kita hidup menggunakan cinta, berarti menggunakan apa? Menggunakan kesadaran Tuhan itu sendiri sebenarnya, yang bisa menampung itu adalah ini (hati). Jadi itu namanya Ananda Maya Kosa. Yang bisa menampilkan yang sejati dalam keluasan itu ini, hati namanya, maka Vedanta menyebut Ananda Maya Kosa."

Di agama juga sering dikatakan, hati orang beriman adalah rumah Tuhan. Orang hidup dengan hati, hati ini menjadi peleburan. 

2. Vijnana Maya Kosa: Tampilan kedua ini lebih terbatas dari yang pertama, yaitu akal budi, atau kebijaksanaan. Akal budi ini di Vedanta juga disebut knowledge, science, pengetahuan, yang biasanya disebut intelek. Cinta yang diekspresikan dengan intelek seperti merawat anak yang membutuhkan pikiran/kebijaksanaan, atau ketika Pak Pur membacakan puisi, juga upaya mengekspresikan kata-kata dan membuat orang berpikir. 

3. Mano Maya Kosa: Hal ini lebih terbatas daripada intelek. Nah, di level ini ada yang namanya pikiran, perasaan, emosi, dan keinginan. Ini bisa menjadi batasan-batasan yang orang banyak hadapi. "Yang paling sering itu orang ada di sini nih, menganggap aku adalah pikiran. Aku adalah perasaan. Contoh pikiran, pikiran itu kan mengandung sebuah value-value (nilai-nilai)." Ketika seseorang menganggap dirinya adalah keinginan, emosi, dan pikiran, maka akan terjadi masalah (problem).

4. Prana Maya Kosa: Lebih terbatas dari ketiganya, lapisan ini disebut sebagai energi. Misal, kita bisa menjadi bersemangat ketika berada di dekat orang yang semangat, menjadi murung ketika berada di orang yang toxic. Energi yang memancar pada orang. Dalam Islam, tombo ati salah satunya adalah berkumpul dengan orang-orang saleh maksudnya ada di level ini. Energi dan aura yang positif bisa menular. Atau seperti orangtua yang lelah, tapi bisa segar lagi ketika melihat wajah bayi dan balita yang tidak banyak dosa.

5. Anna Maya Kosa: Ini tampilan dan lapisan yang paling terbatas, yang disimbolkan dengan fisik. Diri yang tak sadar memanfaatkan level yang paling sempit. Penyempitan diri ini cenderung ke tindakan yang egosentris. Tubuh merupakan level yang paling susah, karena tubuh merupakan simbol kegelapan. 

Meditasi menjadi cara seseorang mengontrol lapisan-lapisan ini ke arah yang tertinggi. Meditasi ini sesederhana tidak melakukan apa-apa, hanya berfokus pada Tuhan. "Di situ lalu kita kembali, simbolnya adalah jangan lagi melekat pada tubuh kita, jangan lagi melekat pada pikiran kita, jangan lagi melekat pada perasaan kita, jangan lagi melekat pada emosi kita, jangan lagi melekat pada keinginan kita, biarin aja ya. Kita kan gak ngapa-ngapain meditasi itu."

Acara kemudian dilanjutkan dengan meditasi duduk yang dipandu oleh Shraddha Ma. 

🌸🌸🌸

Solat dzuhur berjamaah. (Foto: Tim IVS)
Usai solat dzuhur, acara dilanjutkan dengan menyanyi lagu "Suci Dalam Debu" yang dipopulerkan oleh band dari Malaysia, Iklim. Lagu ini Shraddha Ma dengar dari para buruh bangunan (kuli) di Bali, yang sering menyanyikan lagu ini ketika malam. Shraddha Ma mendalami liriknya yang ternyata bagus, sekilas cuplikasnnya:

Cinta bukan hanya di mata
Cinta hadir di dalam jiwa
Biarlah salah di mata mereka
Biar perbezaan terlihat antara kita
Ku harapkan kau kan terima
Walau dipandang hina
Namun hakikat cinta kita
Kita yang rasa...

Dilanjutkan penyampaian materi yang juga diberikan oleh Shraddha Ma, berkaitan dengan "Tantangan Terbesar di Dalam Perjalanan Spiritual". Juga hambatan-hambatan apa yang biasanya orang alami, yang membuatnya terhambat dari Diri Sejati. Shraddha Ma mencontohkan terkait ibunya yang ketika nonton sinetron marah-marah, padahal itu bukan realita sesungguhnya. 

Shraddha Ma menerangkan terkait tantangan dalam spiritual
Shraddha Ma juga berharap tayangan televisi lebih bisa mencerdasrkan, karena selama 350 tahun dijajah Belanda, masyarakat Indonesia tidak diajarkan sekali pun membuat jarum. Tapi bekas jajahan Inggris, seperti India, edukasinya masih bagus, dan infrastruktur air pun gratis. "Terus banyak sistemnya, rumah sakitnya. Begitu juga Hongkong, di bawah koloninya Inggris. Mereka mendapat sesuatu yang sangat bermanfaat dan tidak tergantung kepada siapa pun, ini yang penting," katanya.

Shraddha Ma mengingatkan, jika materinya merupakan hasil dari pengalamannya. Sebab Bhagavan pernah bilang, jika kamu menyampaikan sesuatu, yakinlah hal yang kamu sampaikan itu pernah kamu lakukan. Dan yang kamu sampaikan itu bagus untukmu, dan kamu menjalankannya. Guru sejati juga sangat-sangat simpel. Kembali ke tema, tantangan terbesar di dalam perjalanan spiritual ada dua hal:

1. Kurang pengendalian budi, yang kebanyakan ini dari pikiran yang salah, dogma, dan input yang salah.

2. Jiwa yang diselebungi dengan: takut, ragu, kemelakatan dunia (keluarga, harta, jabatan), overthinking, tidak mawas diri (tidak mindfull dalam pikiran, tindakan, dan perkataan), tidak peduli, buta pengetahuan suci, MALAS (semakin tua tubuh semakin lemah, impurity semakin besar), tekanan sosial dari luar.

"Untuk menjalankan spiritual, kita harus memiliki pikiran yang benar. Kita perlu mawas diri, kita mindful, antara bicara, pikiran, dan tindakan harus sama."

Mengapa hal ini terjadi? WHY? Karena tantangan datang dari dalam mental, dan menjadi racun batin. Mengapa mendapatkan tantangan?

1. Kurang bernasib baik (karma buruk), apa yang ditanamkan akan dituai sendiri. Dalam bahasa Indonesia, ini disebut takdir, orang tak bisa memilih lahir dari keluarga yang seperti apa.

2. Tidak memiliki pemikiran yang jernih (dullness of mind). Jika kotoran batin tidak dihilangkan, akan semakin menumpuk dan susah dhilangkan, dia akan menuruti bahwa dia sedih, capek, menderita, dan tidak bahagia. Sementara, pikiran sendiri juga terbagi jadi beberapa: pikiran yang seperti batu (ilmu sama sekali tak bisa masuk), pikiran yang seperti karet (ilmu yang masuk tapi mental lagi serupa bekel), pikiran yang seperti kuku ke kulit (ilmu yang ada bekasnya), pikiran yang seperti kapas (ilmu yang dia bisa menyerap), dan pikiran yang seperti garam garam (ilmu yang bisa melebur ketika ditaruh di air/lautan).

3. Memiliki sifat buruk (kaitannya dengan panca maya kosa di atas).

4. Melekat pada panca indra, yang menyebabkan emosi, tidak stabil, bimbang.

5. Tidak memiliki tujuan hidup.

6. Tidak mau berubah, mau tapi ingat habit dulu, yang digambarkan dengan kisah penjual ikan yang tak bisa tidur di rumah penjual bunga yang wangi. 

Lalu apa solusinya? Surrender (berserah diri), seva, satsang (spiritual gathering atau berkumpul dalam nama Tuhan), self efforts. Shraddha Ma menegaskan, apa tanda pembinaan diri itu behasil? Kamu akan menjadi jauh lebih tenang, tidak terganggu dari eksternal.

Usai penjelasan ini, peserta kemudian diminta menggambar perjalanan spiritual ke dalam garis, di mana garis ini bisa stabil, naik turun, dan sesuai perjalanan spiritual masing-masing. Kemudian peserta retret dibagi menjadi tiga kelompok. Per kelompok terdiri dari 5-6 orang. Aku satu kelompok dengan: Mbak Tri, Bu Itoh, Bu Rika, seorang ibu dari keluarga Pak Aang, dan Mas Saenuri. Kami menjawab tiga pertanyaan: (a) Apa salah satu tantangan spiritual yang pernah kamu hadapi?; (b) Apa yang membuatmu melewati tantangan tersebut?; (c) Apa pelajaran terbesar yang kamu ambil dari perjalananmu?

Jawaban kelompok I
Secara umum, jawaban dari pertanyaan (a) adalah ragu, ragu, bimbang, takut, malas (disiplin diri), fanatik. Dan menjawab pertanyaan (b), tantangan bisa dilewati setelah melakukan pembinaan diri, meditasi, berpikiran terbuka. Yang itu memberi dampak pada pertanyaan (c) menjadi diri yang lebih tenang.  

Kelompok 1 (Foto: Tim IVS)
Kelompok 2, tengah (Foto: Tim IVS)

Kelompok 3 (Foto: Tim IVS)

Acara dilanjutkan dengan meditasi yang dipandu oleh Shraddha Ma. 

Meditasi hari pertama (Foto: Tim IVS)

🌸🌸🌸

Materi terakhir disampaikan oleh Pak Pur, dengan materi berjudul "Pengenalan Diri tentang Pikiran". Materi sebenarnya merupakan pelajaran yang pernah disampaikan oleh Swami Probuddhananda ketika retret di rumah Bu Rika, 10 November 2024. Berikut aku salinkan dari presentasi Pak Pur.

Tantangan dalam spiritual menjadikan ketenangan dan kedamaian terhambat. Tantangan ini juga muncul karena kecenderungan menyalahkan eksternal (orang lain, cuaca, kesialan, dll). Sementara Vedanta mengajari kita: masalah sebenarnya bukanlah dunia luar, tetapi ada di dalam diri kita sendiri. Masalah paling utama adalah PIKIRAN kita sendiri, yang membuat distraksi-distraksi dan menjauhkan ketenangan dan kedamaian.

Pikiran menghasilkan keinginan, timbulnya keinginan-keinginan seperti: saya harus melakukan itu, saya harus pergi kesana, saya ingin memiliki, saya harus mengatakan ini-itu. Keinginan ini bisa menjadikan kita bijak vs bodoh, terikat vs bebas, suci vs jahat, buruk hati vs berbudi luhur. Ini menjadi siklus tanpa akhir. Pikiran terus membawa kita keluar (fisik, mental, emosional, spiritual).

Untuk itu, Pak Pur menekankan agar kita menciptakan jarak dengan pikiran. Alasannya: Pikiran bisa menipu. Pikiran ternyata membawa ke arah yang salah (membawa keluar dan menghalangi perjalanan ke dalam). Pikiran selalu berubah, bukan kebenaran. Pikiran bukan milik kita, bukan teman sejati. 

Mengatasi perilaku pikiran ini membutuhkan cara pandang yang benar, bahwa kebenaran (truth) tidak pernah berubah, seperti cinta seorang ibu pada anaknya. Kita perlu memahami kebenaran yang tak pernah berubah, karena itu, perlu memisahkan Diri dari Pikiran dan menciptakan jarak antara diri kita dengan pikiran. Dengan demikian, kita bisa mengendalikan pikiran, bukan sebaliknya.

Pak Pur mencontohkan latihan mengendalikan pikiran di kehidupan sehari-hari. Seperti, ketika pergi ke gerai Uniqlo yang sedang diskon besar, kita merasakan godaan-godaan yang timbul dari modelnya, warnanya, hingga harganya. Apalagi di tengah sistem kapitalisme seperti sekarang. Semakin terpesona, maka akan semakin terikat. Mengendalikan pikiran berarti berhenti melayani keinginan-keinginan ini, sehingga pikiran kehilangan kekuatannya, karena kita berhasil mengendalikan pikiran. Ukuran berhasil dan sedikit berhasil ini tidak mudah dan perlu latihan.

Latihan mengendalikan pikiran lainnya dengan "mengamati pikiran". Kita bisa bilang ke pikiran, "Lakukan apapun yang kamu mau, aku hanya akan mengamatimu." Pelan-pelan, akan terasa pikiran menjadi tenang dengan sendirinya. Pikiran juga akan membawa berbagai keinginan (desire) yang kadang tak terbatas. Tapi jika kita berhenti memberi perhatian pada keinginan-keinginan tersebut, pikiran akan kehilangan kekuatannya. Intinya, "mengamati pikiran tanpa terlibat." 

Kesimpulan dari Pak Pur, cara mengelola pikiran adalah dengan (a) mengajak pikiran menjadi teman, (b) tolak dengan tegas jika tetap mengganggu, (c) amati pikiran dengan memberi jarak, (d) berikan waktu pada diri sendiri. Manfaatnya setelah terus berlatih: 

  • Anda akan merasakan energi dan kekuatan dalam Diri.
  • Anda akan menyadari pikiran tidak lagi mengendalikan, tetapi Andalah yang mengendalikan pikiran.
  • Anda akan merasakan kedamaian yang lebih besar saat berdoa atau meditasi.
  • Anda memiliki kekuatan tak terbatas dalam diri.

Hari ini aku juga mengenal lagu baru berjudul "Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja" (2020) dari Panji Sakti. Lagu dinyanyian oleh Tante Chika dan para peserta diajak menyanyikan lagu tersebut. Tante Chika menjelaskan, "Lagu ini tentang kehidupan manusia yang tidak lepas dari cobaan/tantangan. Dalam menjelankan spiritual pun sama, tantangan selalu ada. Apapun akhirnya, hal tersebut merupakan perjalanan hidup dan bentuk cinta dari Sang Pencipta." Berikut cuplikannya:

Jiwaku sekuntum bunga kemboja
Dihempas angin, didera hujan
Disengat matahari, dicekam cerita
Dan aku 'kan mengingatnya
Sebagai cinta yang memahami
Bagaimanapun akhir cerita kita
Sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu
Pada Dia, Pemilik semesta

HARI KEDUA

Peserta retret hari kedua (Foto: Tim IVS)
Pada hari kedua, MC-nya adalah Mbak Novi. Dia mengulang dan mengingatkan kembali materi-materi yang disampaikan di hari pertama. Retret dibuka dengan doa dan meditasi singkat bersama. Kemudian dilanjutkan dengan sharing yang dipandu Pak Pur. Pak Pur juga mengulang materi dari Anna Maya Kosa hingga Ananda Maya Kosa. Hal yang paling utama dan menjadi hambatan kembanyakan di level ketiga, Mano Maya Kosa, berkaitan dengan pemikiran, perasaan, emosi, keinginan, dll. Apalagi menurut penelitian, jumlah pikiran setiap hari bisa mencapai puluhan ribu (sekitar 50 ribu). Ketenangan dan kedamaian kita tertutup awan-awan. Dia mencontohkan orangtua yang galau menyekolahkan anak di luar negeri. Benturan antara keinginan pribadi dan anak.

"Ukuran bahagianya kita attached ke anak, kelakuan anak, ke eksternal bukan ke diri. Nah di situlah kelihatan bahwa suffering dan happiness itu berlangsung hanya sementara, bukan banyak yang tetap yang selalu berubah, sehingga kita perlu sadari bahwa masalah paling utamanya adalah pikiran kita sendiri yang membuat distraksi-distraksi, dan akhirnya menjauhkan kita kemana ketenangan dan kedamaian yang lebih lama," katanya.  

Termasuk keinginan-keinginan dunia untuk memenuhi semua checklist harian. Atau keinginan membeli motor, mobil, rumah, dll. Monkey mind atau pikiran yang meloncat-loncat itu nyata. Tanpa sadar, satu per satu kita melayani pikiran itu dan menjauh dari yang sejati, pada ketenangan dan kedamaian. "Kalau kita dalami lagi kenapa ya omong si pikiran itu pikiran itu selalu menghasilkan keinginan-keinginan termasuk desire, hasrat-hasrat, target-target yang kita bangun sendiri saya harus, saya harus melakukan ini," ujarnya.  

Jika benar-benar sadar, pikiran itu menipu. Pikiran bukan kebenaran. Pikiran sejati tidak pernah berubah, sehingga kita butuh memahami kebenaran yang tidak pernah berubah. Lalu Pak Pur mengajak peserta untuk memejamkan mata selama lima menit. Kemudian, mengamati pikiran kita sendiri. Usai menutup mata 5 menit, Bu Rika membagikan pengalamannya. Ketika diminta mengamati, justru monkey mind itu tak muncul, jadinya lebih tenang. Shraddha Ma berkomentar, itu sudah di tahap yang bagus. Karena pikiran jadi semacam polisi. Tapi perlu diselidiki lagi, yang di belakang polisi ini siapa? Tak lain, kesadaran murni, Allah.

(Foto: Tim IVS)
Kemudian ada sesi sharing dari peserta bernama Bu Ira Duaty, terkait perjalanannya yang pernah menjadi cover majalah Femina, MC dan voice over, juga seorang praktisi fashion hingga sekarang. Ada transformasi dari perjalanan beliau. Bu Ira bercerita, kita semua mengalami perjalanan spiritual untuk menemukan Diri Sejati. Dari perjalanannya, beliau sempat mengalami rasa tidak percaya diri, kemudian masuk dunia fashion yang mengembalikan kepercayaan dirinya. Sempat mengalami rasa tidak percaya diri pula di fisik, kemudian masuk ke dunia modelling, yang memupuk rasa pede muncul.  

"Kemudian ada tahapan yang membuat saya merasa yakin untuk menjalani proses itu dengan sangat bersyukur dan cinta, karena saya merasa itu sangat membahagiakan. Tetapi ada hal yang saya juga lupa bahwa saya jadi agak kecenderungan untuk perfeksionis," ceritanya.

Keinginan menjadi sempurna ini memberikannya tekanan-tekanan tersendiri, dan dia belajar untuk menurunkan ego. Caranya dengan membagi pengalaman yang membuat orang lain lebih maju. "Ada masa-masa di mana banyak tugas yang saya harus terpanggil untuk menyelesaikannya dan tanpa disadari saya fokus ke apa yang harus baik yang harus benar-benar dilakukan," tambahnya.

Pak Pur menanggapi, di Vedanta, kita memang diajarkan untuk menjadi sempurna, tetapi bukan dalam rangka memuaskan ego-ego lagi, tetapi untuk lebih memikirkan orang lain, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Shraddha Ma mengatakan pula, orang yang masih memiliki ego tinggi tak akan duduk di sini. Untuk menjadi rendah hati itu susah, dan Vendanta membuat manusia menghilangkan keakuan. Dan manusia tidak akan berubah jika dia tak mengubah dirinya, sebagaimana yang dikatakan pula oleh Al-Quran dan Buddha. 

🌸🌸🌸 

Penjelasan dari Ustad Hasan (Foto: Tim IVS)

Lalu, penyampaian materi pertama oleh Ustad Hasan, terkait penyaksi. Dia mengajak peserta mengendalikan pikiran, bagaimana mengembalikan pikiran supaya lebih murni. Bagaimana menciptakan konsistensi untuk mengendalikan pikiran. 

Ustad Hasan bertanya: Apa itu pikiran? Beliau bertanya kepada beberapa peserta, ada yang menyebut pikiran sebagai memori, kumpulan keinginan, atau sesuatu yang mau kita lakukan. Lalu, Ustad Hasan memberikan penekanan, pikiran adalah kumpulan-kumpulan ide, perasaan, keinginan, emosi, yang tersimpan di dalam memori. Lalu, apa bedanya pikiran dengan kesadaran? Siapa yang sadar? 

Kesadaran ini lepas dari pikiran. Dia yang mengingatkan pikiran. Tapi keduanya terpisah. Nah, ketika kesadaran hilang dan hanya menyisakan pikiran, ini yang membuat seseorang jadi menderita (suffering), seperti air setitik yang terlepas dari air seluas samudra. Lebih parah, pikiran ini diidentifikasi sebagai aku yang lain yang disebut ego. Ego ini pun berbenturan dengan orang lain, yang kemudian menimbulkan kebencian. Jadi kita harus memahami betul, mana kesadaran, mana pikiran, karena pikiran akan menghasilkan ego.

Ego juga mewujud dalam nilai-nilai, yang ketika orang tak menaatinya, dia akan menderita, seperti nilai tidak boleh duduk di depan pintu. Atau dalam tokoh Mahabarata, ada sosok Bisma yang memegang teguh value leluhur. "Satu ego akan bentur dengan ego yang lain, yang asli. Padahal kebenaran itu kalau kita tafsirkan, apapun, kita kembalikan kepada Tuhan itu sendiri," jelasnya.

Kenapa manusia menderita? Karena dia tidak sadar bahwa ada yang menggerakkan pikiran itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah orang lebih fokus pada pikiran, perasaan, dan emosi. "Nah dalam kenyataan, ini disebut sebagai self inquiry. Jadi kita harus meneliti diri kita sendiri. Kita harus meneliti sebenarnya diriku adalah perasaan itu atau aku yang menyadari perasaan itu," terangnya.

Termasuk ketika sholat, yang mesti difokuskan adalah ke Kesadarannya, bukan pada ritual, karena ritual hanya sebagai jembatan kepada Tuhan. Termasuk dalam melihat tubuh, aku sebenarnya bukan tubuh. Ada cerita dari Imam Ali, ketika perang ada panah yang menancap di tubuhnya. Ada sahabat yang hendak mengambil panah itu, tapi Imam Ali bilang, "Cabut ketika aku solat." Dan sahabat melakukannya, karena di dalam solat, Imam Ali lebur pada-Nya, dan dia sudah tak merasakan lagi fisik. 

Pengendalian tubuh ini bisa didapat dari meditasi. Kuncinya, kita harus kembali pada kesadaran Tuhan, kita sebagai pengamat pikiran dan tubuh. Dalam level tubuh, pengamat pertama adalah mata. Mata ini satu, tapi yang dilihat banyak dan berganti-ganti. Pada level kedua adalah pikiran, pikiran satu tapi yang dipikirkan banyak dan berganti-ganti. Di level akhir adalah Kesadaran Murni itu sendiri, yang tetap, stabil, tak berubah. Hidup memang ada yang namanya kesulitan dan masalah, tapi hal itu tidak mengganggu kesadaran Tuhan.  

"Kita jadikan diri kita sebagai sang pengamat. Sang pengamat dari tubuh, sang pengamat dari pikiran kita, sang pengamat dari diri kita sendiri yang paling tinggi itu. Kalau kita sudah menjadi sang pengamat itu sendiri, hidup itu pasti ada yang namanya cinta."

Dalam melakukan meditasi, Ustad Hasan berpesan agar meditasi diusahakan pada waktu dan tempat yang sama. Sebab, manusia memiliki jam tubuh (body clock). Kita juga bisa membuat tempat itu nyaman dengan wangi-wangian, dan meditasi perlu dilakukan dengan konsisten. 

🌸🌸🌸

Acara dilanjutkan dengan solat dzuhur berjamaah dan meditasi. 

Meditasi hari kedua (Foto: Tim IVS)
Pemaparan materi selanjutnya disampaikan oleh Shraddha Ma berkaitan dengan determinasi (keteguhan hati), diskriminasi (pembedaan, pemisahan), dan renunciation (zuhud). Beliau menggarisbawahi, tujuan hidup kita adalah merealisasikan Tuhan. Shraddha Ma meminta agar ilmu yang disampaikan diterima dengan hati, dan sejenak agar intelek dikesampingkan, karena pengetahuan itu sendiri adalah cinta kasih.

"Buka hatinya. Kita belajar lewat hati. Terima lewat hati. Biasanya yang banyak tanya itu tidak melakukan pembinaan diri. Kalau dia sudah melakukan banyak latihan sendiri, dia akan mendapat jawabannya sendiri," ajaknya. 

Beliau melanjutkan, energi-energi itu seperti warna. Bagaikan seorang penyelam, dia harus menyelam lebih dalam, tidak terjebak pada koral, lokan, dan ikan yang indah-indah. Sebab, semakin dalam dia menyelam, dia akhirnya tidak menemukan apa-apa selain damai/tenang itu sendiri. Vedanta seperti pupuk yang menyuburkan iman kita. Vedanta juga tidak membuat seseorang berpindah agama, Vedanta mendorong untuk mendalami agama yang dipilih, karena hakikat semua agama adalah pada tujuan yang sama: Tuhan. 

"Jadi, agama itu, mau agama apapun, kalau kita jalankan dengan benar, itu akan membawa kita ke realisasi yang sama. Kalau dijalankan dengan benar. Jadi, Vedanta ini, bukan membuat orang mengganti agama."

Vedanta mengajari kita untuk percaya diri, sehingga bisa mencapai liberation, atau moksa. 

Shraddha Ma menggambar di papan tulis, terkait alam sadar, juga alam bawah sadar manusia yang hitam karena masuknya berbagai impresi negatif. Semua terpendam, dan melalui meditasi, hal-hal yang negatif di bawah sadar bisa kita bersihkan. Dalam meditasi, kita memasukkan mantra, meditasi hanya berfungsi jika hati tenang dan diri rileks. Tapi jika tidak tenang, dia susah menembus alam bawah sadar. Ketika membuka, semua kotoran akan dibersihkan. Ini butuh waktu.

Shraddha Ma juga mengingatkan agar kita tetap pada sumur yang sama dan menggalinya lebih dalam. Bukan menggali banyak lubang, tapi tak mendapatkan air yang dicari. Pengibaratan lain seperti seekor lebah yang mencari nektar (intisari), setelah dapat, dia akan tetap di sana. Sayangnya, kebanyakan manusia diibaratkan seperti lalat. Dia tidakk mencari bunga, tapi mencari ikan yang sudah busuk. 

"Manusia susah untuk mengimajinasi apa itu Tuhan. Lewat orang-orang suci, atau orang-orang resi, atau orang abadi, itulah Tuhan menyampaikan firman mereka. Karena menggalinya cukup satu sumur, memperkuat determinasi, pasti ketemu akhirnya. Saya ingin share pengalaman bahwa follow one path is important. Karena kalau enggak, kita enggak kemana-mana."

🌸🌸🌸

Retret dilanjutkan dengans sesi sharing dari peserta. Yang masih kuingat, ada Tante Chika yang berbagi pengalamannya mengenal Vedanta, saat dirinya sudah capek diajak belajar terkait spiritual, tapi kemudian ketemu Vedanta. Lalu, ada Mbak Novi juga yang awalnya menutup diri, tapi karena melihat perubahan terjadi pada Ustad Hasan (suaminya), dia jadi ikut mempelajari Vedanta dan mendalaminya. Kini dia menyesal di saat kondisinya telah sadar, tapi kesempatan bertemu Bhagavan secara fisik sudah hilang.

Tante Aini yang jauh-jauh datang dari Singapura juga berbagi pengalaman. Sebelum mengenal Vedanta, Tante Aini gelisah dengan tujuan hidup. Dia juga berdoa untuk dipertemukan pada-Nya, hingga akhirnya dia berjumpa dengan seorang guru yang melakukan perjalanan ke beberapa negara dan memahami kebenaran sejati. Tante Aini juga bercerita terkait pertemuannya dengan tiga gadis di India yang semuanya Muslim, dan bagaimana para gadis ini percaya pada Bhagavan. 

Di sebuah gedung berlantai 15, Bhagavan juga bilang, tak ada satu pun orang di gedung itu yang membicarakan Tuhan, dan lebih baik tak usah mendengarkan mereka.

Mbak Tri membagikan pengalamannya.
Sharing mengharukan lain datang dari Mbak Tri yang jauh-jauh datang dari Kudus. Ketika berangkat menuju tempat retret, suaminya bilang ke Mbak Tri, "Wah, yang mau berangkat, kayak mau ketemu pacarnya." Dan ketika retret, perkataan suaminya itu dia rasakan maknanya. Mbak Tri juga bercerita terkait latar belakangnya dari Islam yang penuh dogma, tapi dia merasakan kekosongan ketika menjalankan ibadah ritual seperti solat hingga perasaan depresi dia rasakan. Sampai akhirnya di Vedanta, dia menemukan makna Tuhan kembali. "Jadi kalau pertanyaan itu ditanyakan lagi, are you happy in your life, dan saya bilang, yes, I am happy," ucapnya.

Sharing lainnya dari Bu Elis, yang rumahnya tak jauh dari rumah Tante Chika. Bu Elis ini memiliki latar belakang keluarga yang beragam, ada yang Islam tapi juga keluarga lain Katolik. Terkait pengalamannya sejak kecil yang suka meditasi tengah malam. Lalu ketika sekolah, setiap hari ke masjid untuk belajar agama dan Al-Qur'an, hingga dia berdoa untuk mendapatkan suami yang agamanya benar. Doa itu terwujud ketika dia mendapatkan suami orang Aceh, meski dalam perjalannya, ada pertentangan-pertentangan tersendiri. Pengalamannya diizinkan Allah datang ke retret mengingatkannya pada kedamaian saat melakukan meditasi waktu kecil. 

"Saya percaya, apapun yang saya kerjakan itu atas izin Allah. Makanya itu akan membuat saya datang. Ternyata di sini saya belajar kedamaian. Bagaimana mencapai damai itu. Kita belajar meditasi di sini, saya kembali ke alam saya ketika kecil," katanya.

Berikutnya, sharing dari Bu Itoh yang menangis mengikuti retret Vedanta. Dia yang berlatar belakang tumbuh di kalangan Islam yang ketat memiliki kesadaran jika dia harus mendekat pada Tuhan. Di Vedanta dia menemukan kedekatan itu. Ini selaras pula dengan sharing dari Mbak Icha, yang merasa solatnya hanya sebatas olahraga tanpa rasa, dan ada kebutuhan untuk mendekat pada-Nya. Melalui Vedanta, dia belajar bagaimana terhubung dengan Tuhan. "Setahun ini saya merasakan perbedaan, salat saya sekarang sudah ada peningkatan," tambahnya. 

(Foto: Tim IVS)

Usai sharing, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu dari Panji Sakti, salah satunya berjudul "Tanpa Aku" yang dipandu oleh Tante Chika. Kata Tante Chika, "Lagu ini menggambarkan proses belajar meniadakan ke-aku-an pada diri, tidak lagi berisi kehendaknya sendiri. Namun, hanya sebuah wadah yang siap untuk menyambut kehendak Tuhan." Lirik-lirik lagu Panji Sakti megnandung kedalaman akan Tuhan. Tante Chika merekomendasikan lagu-lagu Panji Sakti untuk dihayati liriknya.

Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Mu
Bawa aku menuju jalan-jalan ke arah-Mu
Demi kekeringan yang melanda kampung halamanku
Beri aku benih yang tumbuh di jari manis-Mu
Bantu aku mencintai jalan pulang
Demi bertemu dengan-Mu, Lumbung Keabadian
Bantu aku merindukan-Mu
Tanpa apa, tanpa aku, hanya Engkau

🌸🌸🌸

Pak Pur
Materi terakhir di hari kedua disampaikan oleh Pak Pur, terkait ciri pembinaan diri yang berhasil. Dia bertanya pada peserta retret, sudah berapa lama melakukan perjalanan spiritual? Apakah kurang dari satu tahun, lebih dari satu tahun, atau hampir lima tahun? Kemudian apa yang dirasakan saat ini? Perubahan apa yang terjadi selama perjalanan? Sesi dialog pun berlangsung.

Di sesi ini Bu Rika sharing pengalamannya menemukan spiritualitas yang sejati. Dia bertemu dengan banyak guru dan komunitas, hingga bertemu dengan pemahaman Qur'an yang tepat. Di Vedanta, Bu Rika diajak Bu Cona, dia belajar terkait meditasi, dan mencari ketenangan melalui meditasi. Ketika menemukan ketenangan itu, dia menjadi perasaan yang berlebihan menjadi lebih berkurang dan membuatnya lebih percaya diri.

Pertanyaan pun dilanjutkan, bagaimana kita mengukur progres kita? Pak Pur menerangkan, tidak ada yang bisa mengukur selain diri sendiri. Tiap orang memiliki "itinerary" perjalanan sendiri-sendiri. Tidak eperlu membanding-bandingkan satu dengan yang lain. Mengutip Swami Probuddhananda, ada tiga indikator yang menunjukkan pembinaan diri berhasil:

  1. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dalam menjalani kehidupan (scareless, fearless)
  2. Semua aktivitas selalu bertujuan untuk manfaat dan kebaikan orang lain (others benefits)
  3. Hati dan pikiran terasa lebih tenang dan damai (calm and peace of mind
"Kita gak bisa hindari masalah, tetapi cara kita bereaksi, cara kita merespon, itu yang akan membedakan," kata Pak Pur.
Meditasi nidra (Foto: Tim IVS)

Meditasi nidra (Foto: Tim IVS)
Kegiatan retret dilanjutkan dengan meditasi nidra (meditasi tidur untuk relaksasi). Kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu berjudul "Terima Kasih Tuhan" oleh Tante Chika. Lagu ini diciptakan oleh teman Tante Chika dan pernah dinyanyikan oleh Erick Gabe. 

Terima kasih Tuhan
Kau hadir di hidupku
Kau sungguh baik
Kepadaku selalu
Terimakasih Tuhan
Hanya padaMu
Aku naikkan ucapan syukurku
 
Jakarta, 19 Maret 2025

Selasa, 18 Maret 2025

18 Maret 2025

Dunia ini isinya hanya tarikan kebutuhan dan keinginan yang tak henti. Memenuhi keinginan seperti mengisi baskom yang bocor, mengisi kebutuhan seperti mengisi gelas yang cukup untuk diminum. Pantas kamu secapek dan semenderita itu. Oh, sungguh, buang-buang sumber daya yang tak perlu.

Kamis, 13 Maret 2025

13 Maret 2025

Dan lu tahu, di dunia ini pasti ada hal-hal yang gak bisa lu sentuh. Bukan karena lu gak layak, tapi karena lu beda posisi.

Selasa, 11 Maret 2025

Fungsi Catatan Lapangan

Poin-poin mengelola data etnografi bersama Geger Riyanto:
-Makin banyak ditunda, makin banyak yang ilang.
-Etnograf perlu lebih dari transkrip. Ada hal yang tak tertangkap lisan, dan gak tertangkap transkrip, seperti nuansa, intonasi, ekspresi. Kita tangkap elemen-elemen penting. Misal dia menangkap ikan bulan ini, ini ekspresinya apa?
-Kita menggambar, menulis, untuk menghafal. Memberi keterangan yang penting untuk nangkap data.
-Fungsi field note:

-Makin lama gak dicatat, makin lupa. Menuangkan perasaan yang ada di sana, misal kastropobik di Muara Baru, dan mencatat yang tak tercatat.
-Untuk mengidentifikasi bias dan dorong refleksi.
-Refleksi boleh, tapi jangan di luar konteks. Cerewet boleh, pas analisis aja.
-Kategori bisa ke excel, untuk analisis.
-Berapa kali mencatat? Bisa berkali-kali.
-Obrolan dapur emang bisa direkam? Di Maluku gak direkam. Mengaklamasi dulu.
-Pentingnya ada di lapangan.
-Makin detil makin bagus, tapi makin habisin energi.
-Jotting: kata kunci. Kode. Catat cepet. Excel bantu recall data.
-Kode suka beranak pinak.
-Dari yang khusus ke umum. Untuk dapat fitur-fitur universal, perlu komparasi. 

Senin, 10 Maret 2025

Lirik Dendrobium None Betawi - Bing Renang

Lagu ini diajarkan oleh Mas Poppie Airil (Bing Renang) di acara 25 Jam Berbagi untuk Palestina bertajuk "Mebabur Benih", di Rumah Belajar ICW Jakarta. Lagu ini tidak menyertakan petikan bass, dan Bing Renang ingin memberikan sensasi, bagaimana rasa lagu tanpa diiringi bass. Lagu ini dinyanyikan bersama dalam paduan suara (People's Choir). Dendrobium sendiri adalah nama marga anggrek, bunga indah yang bisa ditemukan di hutan dan vegetasi tertentu. Lirik:

Dendrobium None Betawi

Dikau hadir seperti malam, permai

Diundang semua bintang

Temani sang pualam

Terkagum dan ditelan 


Kau buat siang jadi riang, tenang

Tak 'kan terkalah terik

Tetap selalu menarik

Rasa suka dimakan

Diolah sedemikan

Menjadi intan

 

Tanpa duri

Warna-wani

Tumbuh

Mekar

Layu

Kamis, 27 Februari 2025

Sederhana Tapi Berarti

I am listening to a song titled "Teruntuk Mia" by Nuh. This song has thrown me to many places I had visited for years. The vibes, the melody, the sounds, the simple lyrics. It gives me a reminder: Please, be kind to yourself, don't be too hard, simple but it's worth it. To become a human, you need to become kind to yourself first, just from a little thing to respect yourself.

Berdua menunggu di sini

Berharap hujan tak berhenti

Tetes demi tetes basahi

Jalanan kota ini


Dengan dirimu ku di sini

Տederhana tapi berarti

Տenyummu tetap melingkari

Teduh tatapi beri


Di antara senyumanmu

Dan hujan di hari itu


Aku tak tahu mana yang lebih indah

Di antara senyumanmu

Dan hujan di hari itu

Aku tak tahu mana yang lebih indah


Berdua menunggu di sini

Berharap hujan tak berhenti

Satu demi satu basahi

Jalanan kota ini


Dan ketika hujan tlah mereda

Kita lanjutkanlah berjalan



Di antara senyumanmu

Dan hujan di hari itu

Aku tak tahu mana yang lebih indah


Di antara senyumanmu

Dan hujan di hari itu

Aku tak tahu mana yang lebih indah

Aku tak tahu mana yang lebih indah

Minggu, 23 Februari 2025

My Second Taking the IELTS Test

It is a hard journey, and maybe a lot of effort, time, money, and tears. You have been trying anything, and lastly, you are aware that what you need to do is just how to try thinking in English. Stop translating from Bahasa Indonesia into English, because they do not match. 

I want to share my experience taking the IELTS test. For the first IELTS test, I took at IDP Bandung. There were six people there, and all Indonesian ethnic (Javanese, Sundanese, Melayu). My second test was taken at SUN Meruya, West Jakarta. I became a minority here, from 10 people, 9 of them were Chinese. They are young and were born between 2000 and 2007, the oldest was born in 1990. They took IELTS maybe for their Bachelor's study overseas. Their names are modern.

IDP Bandung and SUN Meruya are opposite places. My POV is not from infrastructure facilities, both of them are good, but rather my mental condition. At SUN Meruya, some of the participants were accompanied by their parents. Oh my God, how sweet, their parents supported him/her. Just looking at them, they looked great: they dressed well, had optimistic faces, had mental and economic support, had good education from good schools, and 3.2 million to take the IELTS test are only number from them, easy peasy. 

I felt inferior, I think their first language is English too daily, so they did not have any problem doing the assignments, from Listening, Reading, Writing, and Speaking. To get over 7 is not rocket science. How about me? Nope. When we were waiting in the waiting room, I felt that I was left 15 years from their conditions now. Sure, I felt sad. But the best thing I could do was we were the same.

I was confident doing the Reading session, and fifty-fifty in Listening and Writing. In Speaking, I have been aware that: 

"In conversations and other situations where you need the ability to process information and respond quickly, thinking and translating slow you down. Let alone, the translated sentences may not sound natural in English because the sentence structure is often different in your native language and in English. By thinking in English first, you don’t have to translate in your head, and this strategy can improve fluency." (Suri Do, Medium, 2017). 

Damn! I miss my English First (EF), oh, nope. Generally speaking, "thinking in English" is the best way to improve our fluency. As Suri said: 

"It means all you need is to speak without paying attention to the rules and pronunciations ... Don’t worry about making mistakes. It’s much better to practise English by speaking and making mistakes than not to speaking in English because of the fear of making mistakes."   (Suri Do, Medium, 2017).

From Gabby's article, I have learned too:

"Your brain is so amazing that it will begin to recognize patterns and want to follow them too! ... My English is getting better each day." (Gabby Wallace, Youtube, 2017)

As an ESL (English Second Language) person, the hard thing to improve English is our confidence, not grammar and vocabulary. So, my advice to myself is, that being confident is very crucial, English is not always about what to say, but how to say it. Gabby Wallace said it well too:

"Often, learners who understand English well hesitate to speak up. In contrast, those who speak up, despite making mistakes, tend to learn faster. Therefore, remember, the goal is to communicate, not to be perfect ... concentrate on how you communicate ... try imagining a confident version of yourself ... it’s about ‘faking it till you make it’... Focus on your willingness to learn and grow, rather than on being flawless ... remember that your voice is important. Speaking up is not just about practicing English; it’s about sharing unique perspectives ..." (Gabby Wallace, Medium, 2024, and Youtube, 2017) 

I will try to implement it then. Thank you EF, IELTS, SUN Meruya, and all of the things that have been helping me. You are a rock.