Aku lupa kapan membeli buku ini di Gramedia Gajah Mada dekat Glodok. Barangkali satu tahun yang lalu, atau sekitaran setahunan ini. Kala itu, semangat untuk menjadi novelis dan penulis yang serius menggebu-gebu. Harga buku ini cukup mahal, karena aku membeli dua paket sekaligus masing-masing Rp120.000,00. Aku sungguh serius ingin belajar dari Ayu Utami karena novel-novelnya, buku-bukunya selalu berhasil membiusku. Dia adalah koki tulisan yang tak kuragkukan kepakarannya mengolah kata, kalimat, paragraf, hingga menjadi buku. Dia rapi dan tidak berantakan.
Kenangan itu masih kuingat. Saat membaca buku pertama ini, aku serius menuliskan gagasan-gagasan Ayu Utami di sebuah notebook bersampul hitam di sebuah Starbuck daerah kota lama Glodok. Aku sok-sokan mencicipi budaya kelas menengah Jakarta. Aku tentu tak membeli kopi, hanya minuman non-kopi yang entah itu apa dan roti khas makanan Barat. Di sana, secara tak terduga, ada reuni sekelompok Chinese yang cerita tentang pencapaian dan pendidikan anak-anak mereka di luar negeri. Aku merasa terasing, atau dalam bahasa Homi K. Bhabha disebut sebagai situasi "uncanny".
Buku 1 yang dilabeli "dasar dan umum" ini sederhana. Seluruh rangkuman bisa dilihat di halaman paling belakang buku. Aku juga sudah membuat catatan pribadi tentang isinya. Bagian yang paling membuatku menantang adalah latihan-latihannya. Aku mengikuti latihan-latihan Ayu di selembaran terpisah. Barangkali, aku hanya akan mencatat beberapa yang menjadi concern-ku di buku 1 ini:
Pertama, buku 1 ini terdiri dari 10 sesi:
(1) Perkenalan, di sesi ini aku belajar setidaknya tentang: apa itu kreatif, kreativitas, berpikir kreatif; sikap kreatif sadar; perkenalan; dasar-dasar deskripsi; contoh perkenalan; perbedaan antara data dan makna; memulai; ide; dorongan; tujuan; mempertajam dorongan, ide, tujuan; serta berpikir kreatif secara umum.
(2) Ci-Luk-Ba! Struktur Dasar Narasi, di sini aku belajar: orientasi eksterior dan interior; kompas batin; struktur dasar cilukba; tensi; dan kerancuan umum.
(3) Bank Ide, di bagian ini aku belajar terkait empat pola pikir, yang terdiri dari berpikir dengan kotak, persilangan, asosiasi, dan oposisi. Dilanjutkan dengan membuat bank ide dengan empat pola pikir tersebut. Bab di antaranya ada selipan spiritualisme kritis (I), yaitu memberi muatan pada gerbong, memberi bentuk pada ide. Intinya, kreativitas itu seperti spiritualitas. Keduanya perlu sikap terbuka pada hal tak terduga.
(4) Prinsip Kenikmatan, di bab ini, Ayu memperkenalkanku dengan organisasi informasi, ketegangan, mengintensifkan ketegangan kecil, menyebar ketegangan, dan proporsi.
(5) Fokus, menulis itu harus fokus. Satu waktu, satu tempat, satu kejadian.
(6) Tokoh, Sudut Pandang, Dialog: Di sini aku belajar lebih lanjut tentang apa itu tokoh; konsistensi tokoh; pengaitan karakter pada suspens cerita; melakukan riset; membuat karakter yang memiliki bahasa, sudut pandang, dan keterbatasannya sendiri; hingga bagaimana dialognya.
(7) Deskripsi, ada dua macam yang ditawarkan, yaitu eksterior dan interior. Selain itu yang tak kalah penting digarap adalah rasionalitas dan non-rasionalitas. Perlu bisa dibedakan juga antara informasi dan narasi.
(8) Gaya Bahasa, menurutku ini salah satu bab penting. Dahulu aku berpikir jika menulis itu harus menggunakan gaya bahasa indah, tapi bahasa indah ini bunga-bunganya saja, yang paling penting adalah gagasan apa yang mau kita sampaikan. Sebab itu, sebagai penulis butuh otensitas (kejujuran) dan orisinalitas (kebaruan), Ayu menilai otensitas lebih tinggi nilainya dibanding orisinalitas. Dalam gaya bahasa, hal lain yang perlu diperhatikan seperti kiasan, bunyi, dan ritme.
(9) Eja dan Sunting, suatu hari aku pernah membaca, penulis yang tak mau mengedit tulisan sendiri itu penulis yang jorok! Macam gak mau mandi dan sikat gigi, tentu ini akan membuat orang lain jadi risih. Pengeditan di sini itu meliputi aspek: bahasa yang baik dan benar, pedoman untuk memperbaiki kesalahan umum; penyuntingan, logika; kaidah dan penyesuaian gaya lisan ke tulisan; efisiensi; hingga penyulaman terakhir. Di sini diselipin juga spiritulisme kritis (II). Ayu Utami mengartikan spiritualisme kritis sebagai, "Keterbukaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis. Sikap kritis yang tidak tertutup." Menurut Ayu, mekanisme spiritualitas dan kreativitas itu sejalan.
(10) Estetika dan Etika, tak kalah penting dua unsur ini perlu ada, estetika ini menyangkut keindahan, etika menyangkut kebenaran. Ayu mengulas juga terkait kehidupan sebagai penulis dalam bab ini.
CATATAN:
![]() |
| 1 |
![]() |
| 2 |
![]() |
| 3 |
![]() |
| 4 |
![]() |
| 5 |






Tidak ada komentar:
Posting Komentar