PROLOG:
Buku ini aku temukan secara tidak sengaja saat berselancar di Shopee. Namun, pertemuanku dengannya bukan pertama kali. Tepatnya pada tahun 2019, aku pernah menemukan buku ini yang berbahasa Inggris, bersamaan dengan pertemuan diriku dengan buku karya Pak Danial Hidayatullah berjudul Exploitation of plantation labor in 19th Century America and Indonesia: A Comparative analysis between Southern's Slave System and East Sumatra's Coolie System, hasil tesisnya di UGM tahun 2005. Selamanya, aku akan berhutang banyak pada buku Pak Danial ini, karena berkat karya beliaulah, jadi dasarku menemukan passion penelitianku terkait studi marjinal di kemudian hari. Sekaligus, buku itu jadi jalaranku bertemu dengan orang-orang yang mempengaruhiku kemudian, seperti Mas Geger Riyanto, Hizkia Yosie, dan Iqra Anugrah. Buku ini membawa berkah untuk hidupku, pada jati diriku.
Tak heran, ketika aku membaca judulnya di Shopee, tanpa berpikir dua kali, seolah kau bertemu dengan jodoh sejati, langsung aku beli buku Lulofs tersebut. Seingatku, aku membacanya sebanyak 1,5 kali. Bingungkan? Hehe, jadi pas pembacaan pertama aku hanya sampai setengah dari jumlah halaman. Kemudian dilanjutkan pembacaan kedua kali, aku selesaikan satu buku full. Banyak pelajaran hidup yang kudapat dari buku ini, berkaca pada masing-masing tokohnya merasa sangat miris. Aku juga merasa, derita pekerjaanku sekarang tak ada artinya jika dibandingkan dengan perbudakan kuli yang dialami oleh tokoh utama bernama Ruki dan kawan-kawan di Deli pada abad ke-19. Begini cerita yang kutangkap...
ALUR:
Kuli terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama membahas masa-masa Ruki hidup di desa dan perjalanan dia hingga sampai ke Deli, Sumatera Timur (yang saat ini dikenal sebagai Provinsi Sumatera Utara). Bagian dua, konflik yang dihadapi Ruki usai beradaptasi dengan kondisi perkebunan, dari soal perempuan, penindasan oleh majikan, hingga drama pembunuhan. Bagian tiga, semacam antiklimaks saat Ruki punya kesempatan untuk kembali ke desa, tapi dia masuk ke jebakan-jebakan mandor lagi, hingga dia menua dengan miskin di perkebunan. Aku akan berkisah tentang apa yang kutangkap dari keseluruhan di tiga bab ini.
Awalnya, pemuda desa bernama Ruki hidup adem ayem di sebuah desa yang subur. Alam menyediakan semua kebutuhan Ruki tanpa dia merasa kekurangan. Pekerjaan sederhana saja, angon kerbau dan jaga sawah. Dia hidup bersama nenek yang sudah tua dan bungkuk. Namun, bencana terjadi ketika pendatang dari Betawi bernama Amat datang. Dia meracuni orang-orang desa untuk merantau ke Deli dengan iming-iming pulang-pulang akan jadi kaya. Di tanah asing, mereka juga akan mendapatkan tiga keuntungan: uang, emas, dan wanita! Nenek menentang keras ajakan setan Amat.
Sayangnya, sebagai pemuda yang masih lugu dan ingin melihat dunia luar, Ruki terpancing. Ia pun tanpa restu dari sang nenek kabur bersama dua kawan sedesanya Sudin dan Karimun mengikuti Amat ke Deli. Mereka berjalan kaki sangat jauh, lalu ganti transportasi kereta api untuk sampai ke sebuah bangsal yang mempertemukannya dengan Karminah. Karminah dari Bogor, dijual ke Deli oleh kakaknya untuk mengganti kerbau yang mati di desa. Awalnya, dia babu nyonya Belanda. Dari bangsal, para kuli ini kemudian diangkut menggunakan perahu. Persaudaraan timbul di antara mereka sebagai saudara kapal. Banyak penganiayaan terjadi, termasuk kisah seorang wanita yang kehilangan anaknya dan disiksa di depan banyak orang. Belum lagi, Karminah juga mengalami pelecehan seksual oleh petinggi awak kapal.
Sesampainya di Deli, Ruki tinggal di blok tiga. Tugas para kuli ini bukan untuk penanaman, tapi babat alas atau pembukaan lahan, yang tentu pekerjaannya lebih berat. Para migran yang kebanyakan datang secara terpaksa dan karena kepolosan itu pun dijadikan kuli kontrak. Mereka diawasi oleh mandor pribumi dan mandor Belanda. Kuli perempuan lebih sedikit dibandingkan kuli laki-laki. Kuli perempuan juga lebih sering dijadikan istri bagi kuli-kuli yang telah bekerja lama lebih dari lima tahun.
Gaji mereka sangat kecil. Namun, godaannya tak berhenti di situ saja. Pihak kolonial juga membuat jebakan judi sehingga tercipta ekosistem yang bergantung dan khaos. Judi jadi satu-satunya hiburan, juga perilaku menyimpang seksual yang dialami para kuli perempuan di sana. Mereka tidak menikah tapi hidup bersama. Bahkan seolah kuli perempuan itu bisa digilir sesuka hati. Di antara mereka juga terpaksa harus melacurkan diri untuk bisa hidup, termasuk yang dialami oleh Saimah. Dia menjadi pelacur di lingkungan perkebunan tak hanya untuk kuli pribumi, tapi juga kuli Cina yang bloknya dipisahkan.
Rasisme di sini bermain sangat kentara. Suatu hari, Ruki terlibat pembunuhan kepada salah seorang kuli Cina, karena kuli itu dianggap suka mencuri istri pribumi. Insiden ini diawali karena Saimah yang terang-terangan ingin datang ke blok kuli Cina, karena mereka lebih punya harta dan bisa membayar daripada kuli pribumi. Otak dari pembunuhan itu sebenarnya kuli bernama Sentono, yang dibantu kuli keras kepala lain campuran ras Madura dan Jawa bernama Nur, serta Ruki dari Sunda itu sendiri ikut membantu (meskipun bukan dia yang membunuh). Pembunuhan itu dibawa sampai ke mandor Belanda. Atas kongkalikong kuasa mandor Amat yang tidak suka pada Nur, akhirnya si Nur-lah yang dikorbankan, sampai dia menerima pengasingan di Sawah Lunto sampai belasan tahun.
Dalam depresinya, Ruki sempat melarikan diri juga usai menemani kuli lain yang kakinya sakit kemudian diamputasi. Sekitar seminggu dia bebas di hutan, tapi malah ditemukan oleh polisi hutan binaan Belanda. Padahal di hutan, Ruki merasa bebas seperti halnya kera yang bergelantungan dari pohon ke pohon. Namun, malang dia harus kembali. Ruki juga mengingat bagaimana Karminah berubah setelah dijadikan gundik (nyai) oleh Mandor Donk. Karminah jadi angkuh dan berani menghardik kuli sepertinya. Karminah menganggap secara kelas sosial lebih tinggi, badannya lebih subur, dan harga dirinya meningkat.
Semakin tua, Ruki tobat dan ingin memperbaiki diri. Dia sudah menjadi yang dituakan di perkebunan, memberikan nasihat-nasihat pada kuli muda. Dia juga memperistri Wiryo yang dulunya istri temannya yang telah pulang kampung. Wiryo ini tipe perempuan baik yang bisa menjaga harta suami dan menabungnya dengan benar. Harta itu dikumpulkan agar Ruki dan Wiryo sendiri bisa kembali ke kampung. Namun, apa dikata, harta yang telah dikumpulkan susah payah digunakan Ruki sendiri untuk bermain judi hingga tabungan itu tandas sampai koin terakhir. Arghhh, akhir yang sedih.
ANALISIS:
Novel ini bisa dianalisis dengan banyak pendekatan, dari soal kapitalisme kolonial dari sudut pandang Syed Hussein Alatas. Lalu bisa dibedah juga dengan teori frontierimse (perbatasan), di mana daerah baru ini diadakan untuk menguasai sumber daya alam dan manusia yang ada di sana. Pisau bedah lainnya adalah rasisme yang terjadi antara berbagai suku di perkebunan, hingga soal etnis pribumi dan Cina. Termasuk juga hubungan antara masyarakat dan kebijakan negara pada masa itu. Aku sebenarnya sudah membuat ulasan panjang sebanyak 15 halaman tentang ini, tapi untuk keperluan tulisan lain.
Namun yang kurefleksikan adalah terkait paradoks hidup di negara tropis, yang menjadi sumber berkah maupun kutukan. Apa karena di tropis itu terlalu santai, semua sudah disediakan yang kuasa, itu jadi membuat orang tropis kepincut dengan yang tak dia punya? Kerja keras dan kesusahan. Ya, mungkin ada kalanya begitu. Jurnal berjudul Nature, Lanscape and Identity in the Netherlands Indies: Literary Constructions of being Dutch in the Tropics karya Susie Protschky barangkali bisa menjelaskan itu.
Intinya, buku ini akan aku rekomendasikan untukmu yang menggeluti isu-isu perburuhan. Lulofs sendiri dianggap sebagai Multatulli versi perempuan yang dianggap mengkhianati bangsanya sendiri karena memblejeti modus penindasan yang dilakukan pada masyarakat di tanah jajahan. Dari pencarianku juga, masih sedikit literatur di Indonesia yang secara spesifik bahas kuli. Aku baru menemukan beberapa seperti Kuli Kontrak karya Mochtar Lubis, Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari, tesis buku Pak Danial yang aku sebut di awal tulisan, serta buku Jan Breman berjudul Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial, Tuan Kebun, dan Kuli di Sumatra Timur pada Awal Abad ke-20.
Selamat memasuki isu-isu kelas pekerja, dan mari membuat perubahan yang lebih baik. La continua comrada!
Judul: Kuli | Penulis: MH Szekely-Lulofs | Penerjemah: Achadiati Ikram | Penerbit: Grafitipers Jakarta | Cetakan: Pertama, 1985
POSKRIP:
Tokoh: Ruki, Supinah, Sudin, Karimun, Amat, Karminah, Kromowirojo bjn, Sentono, Wiryo, Marto, dll.
Kromowirojo dari Bojonegoro. Sentono kerja enam tahun minta istri. Wiryo dikasih ke Sentono, gendong anak. Karminah diberikan ke Marto, kuli bagian satu. Ruki tinggal di pondok bagian tiga: satu bilik berisi lima orang tanpa tikar dan bantal, banyak nyamuk dan kutu busuk. Kromorejo menjemput Isah. Keduanya bersenggama di depan bilik Ruki. Saimah perempuan lain yang cantik. Karmo mengasahnya, ia mengaku pada mandor Minah. Saimah ikut kuli bernama Parman. Mandor Sumo membagikan bayaran bersama kerani. Mandor Muin datang meminta Karminah. Karminah diberikan pada mandor Donk. Dibeli 10 rupiah uang kertas.
Mereka adalah penduduk pegunungan yang subur di Pulau Jawa. Semuanya memiliki rumah yang dibuat dari bambu dan dedaunan. (4)
Kesibukan mereka yang utama adalah memotong padi. Kedukaan mereka yang utama adalah jika kerbaunya diambil oleh harimau, sebab tanpa kerbau mereka tidak dapat membajak. (4)
Mereka jarang tertawa dan lebih jarang menangis. Tetapi kesungguhan mereka seperti kesungguhan hewan yang menghabiskan hidupnya dengan terima, tanpa keinginan, penuh rasa percaya, dan oleh karenanya bahagia tanpa disadari. (4-5)
Di bawah bantal nenek terselip sapu tangan sutera hijau kusam. Di ujungnya terikat sedikit uang receh. Di situ ada juga sarung batik dan baju katun hitam. Semuanya ini, ditambah sebuah kaleng bekas tempat nenek menyimpan tembakau dan sirih, rumah kecil, kerbau dan sawah, ayam dan anak-anaknya, hanya itu kekayaan mereka. Lebih daripada itu tidak mereka perlukan. (7)
Ia hanya tahu kesenangan karena menggagalkan rencana elang. Haus akan kekuasaan yang tidak disadarinya. (8)
Judi! Emas! Perempuan muda! Betapa keserakahan tidak tumbuh cepat? Dan bersama keserakahan bersemilah keinginan yang belum dikenal oleh benak dan hati yang lamban ini: harta! (9)
Masyarakat dibuat malu oleh perkataan Amat, "Apa kehidupan di sini ... di desa ini?" kata pendatang itu meremehkan. "Apa tahu kalian tentang hidup? Tentang dunia? Kalian... cuma kenal kali, rumah. Makan cuma nasi sepiring dan ikan asin sepotong. Pakaian kalian compang-camping. Lihat saya! Apa kalian ini kalau bukan petani miskin? Berapa tanah kalian? He? .... Apa istrimu pakai dinar emas? Apa anak-anakmu pakai gelang emas dan perak? Dan kalau membuat selamatan berapa ekor kambing yang disembelih? ... Pasti tidak lebih dari satu... bukan begitu?"
Orang-orang lelaki tunduk malu.
Setetes demi setetes pendatang itu mencampurkan racun ke dalam kehidupan mereka yang damai dan bahagia. (10)
Dia tidak pernah perlu berpikir. Apa yang perlu dipikirkan? Apa yang diperlukannya sudah ada: rumah, balai-balai, sepiring nasi. Matahari yang hangat, hujan yang memberi kesuburan, hari tanpa susah, malam dengan tidur nyenyak. (11)
"Dan pemutusan diam-diam hubungan dengan kehidupan lama merupakan satu-satunya perlawanan penuh kerendahan hati menantang masa depan." (p. 31)
"Ada satu pusat kekuasaan, yaitu kantor tuan besar. Ada satu kekuasaan yang paling tinggi dan paling hebat, yaitu tuan besar sendiri. Bahwa bersama-sama mereka lebih kuat. Itu tidak terpikir oleh mereka. Suatu kekuatan primitif menghalangi mereka berpikir ke arah situ." (p. 31-32)
Ruki bagian tiga di bawah mandor Amat, "Ruki dan teman-temannya sudah tidak lagi kenal daerah itu. Tapi selalu masih ada juga gunung di latar belakang.... Ia tenang kembali walau ada rasa kurang senang yang tak jelas, yang tidak akan diperlihatkannya." (13)
Kegembiraan baru mekar dalam diri mereka, sebentar saja, tetapi tenggelam di bawah pandangan orang-orang asing yang memenuhi bangku-bangku stasiun. Wajah-wajah tak dikenal. Dan suara-suara asing bertanya, "Dari mana kalian?"
Ruki perlahan menyebut nama desanya.... Mulutnya terjatuh dan matanya melihat ke samping lewat kelopak matanya. (15)
Ruki dan dua temannya dibawa ke seorang kontrolir. Seorang Eropa yang setiap pertanyaan harus dijawab dengan "ya". Tak ada pilihan jawaban lain. Orang Betawi bernama Amat itu tak memberi pilihan. Sang kontrolir juga memberikan uang perak 20 rupiah sebagai uang muka yang akan diambil kembali sampai sen terakhir. Tanda tangan kontrak pun dilakukan dengan paksaan karena mereka tunaliterasi. Sepenghilang Amat, agen membawa Ruki ke sebuah bangsal yang terdiri dari beragam manusia yang heterogen.
Ruki tidak menjawab. Ia tetap melihat ke depan. Di dalamnya tumbuh dendam yang gelap. Dendam yang cukup timbul pada binatang yang tersiksa. (19)
Kepala dan pundaknya dikecilkan seperti hewan yang takut pukul.
Mereka toh cuma yang lemah. Orang kontrak! Orang yang sudah terjual jiwa raga. (21)
Sebab, bagi mereka menertawakan seseorang yang diejek merupakan kesenangan yang mematikan segala rasa kasihan. (22)
Tiga hari dibawa ke Deli dengan kapal.
Hidup baru yang bangkit kembali tanpa ampun sebagaimana ia dibunuh tanpa ampun. (26)
Kesepian yang aneh seperti kematian terbit dari inti dirinya, menyelubunginya dalam kerudung semadi: kerudung yang menutupi pikirannya juga. (26)
Dia bahkan tidak tahu apa itu: kehidupannya. Mereka bersama "saudara kapal".
Mereka disatukan oleh satu masa depan: kontrak. Mereka telah menjual jiwa raganya kepada perusahaan yang memerlukan otot-ototnya. Mereka telah kehilangan kemauan, kemerdekaan dan hak mereka. Mereka adalah suatu bangsa baru, tanpa tanah air, tanpa keluarga, tanpa tradisi: orang kontrak. (28-29)
Kamu anak sundal! Monyet, anjing, haram jadah (33)
Uncanny, "Dia tidak mengerti mengapa dia tidak lagi menggembala kerbau.. . . Memaksanya (40)
"Monyet kamu! Anak sundal kamu. Kamu kira bisa bermalas-malas di sini, bisa kurang ajar? Bisa ketawa kamu, godverdomme. Ini!" (hlm. 42) Pribumi disamakan dengan anjing hitam sialan, Ruki dibenam-benamkan.
Sekarang ia hanya punya satu celana pendek yang kotor dan compang-camping, dan baju yang dia pakai waktu datang dari Jawa. (56)
Dan sampai pagi, orang mati itu [Karmin] di sisi mereka. (58)
Mereka selalu senang kalau ada orang menipu orang lain. Itu mereka sebut pintar. (60) Menyundal di balai-balai kosong, tanpa tikar, tanpa bantal, kawin seperti anjing begitu saja di tanah.
Empat belas hari bekerja. Sehari istirahat.
Konflik dengan Cina halaman 77. "Ayo pukul. Hantam babi Cina!" Termasuk juga stereotip orang Madura yang berakal pendek.
Orang Cina sudah lama terdiam, tetapi masih juga mereka menebas.. . ..[penting] Darah melekat di mukanya, di badannya yang telanjang, di antara jari kakinya yang telanjang. (78) Cina salahnya sendiri. Apa kerjanya di sini, merayu istri kuli-kuli.
Nur: mencincang Cina. (79) Dan orang Belanda juga tidak terlalu peduli jika ada Cina satu dibunuh.
"Kami kemarin membunuh Cina," cerita Ruki.
Tetapi Kromorejo tidak mendengarkan. Ia sudah jadi kuli kontrak satu tahun lebih dulu daripada Ruki dan tahun itu mereka membunuh tujuh orang Cina. Itu bukan barang luar biasa! (82)
Karminah sudah kembali ke dapur.... (Panjang)..... Gengsinya naik, boleh memaki kuli kontrak. (84)
Semuanya itu cuma buat Cina satu yang sepele. Di negeri Cina orang Cina kan berlimpah-limpah. Di sana jutaan yang mati kelaparan dan di sini, hanya karena satu dibunuh kuli-kuli, dia harus repot dengan pemerintah dan pengadilan. (95)
Kembali ia menanggung beban yang oleh peradaban orang putih dipikulkan ke pundaknya. (96)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar