Minggu, 22 Maret 2026

Catatan Buku "10 ARRRRRGH..." karya Melly Goeslaw

Setelah membaca buku Melly Goeslaw berjudul Balance yang diterbitkan Kobam, kemudian aku melanjutkan buku Teh Melly selanjutnya berjudul Arrrrgh... (huruf "r" lima kali, wkwk). Aku suka mempelajari autensitas suatu satu penulis tertentu, sampai aku paham karakter nulisnya, baru kemudian lanjut ke karya lainnya. Bagiku pendekatan ini lebih komprehensif untuk menunjukkan karakter penulis lebih dalam, dibandingkan hanya membaca karya-karyanya satu-satu. Beberapa penulis aku membaca secara close reading dengan pendekatan seperti ini.

Dari Teh Melly, yang aku kagumi dari otentisitas literernya adalah kejujurannya bahwa: (1) Dia tidak suka membaca, (2) Tapi dia sangat suka menulis meskipun tanpa membaca—jujur, ini mengingatkanku pada metode musiknya Björk yang sangat passionate dalam musik, tapi anti mendengarkan musik yang lain karena bisa memengaruhi penciptaan lagunya sendiri. Klop, karena Björk adalah salah satu inspirator Teh Melly, jadinya gak heran. Selanjutnya, (3) Teh Melly ini sangat punya prinsipnya sendiri dalam menulis, yaitu menulis dengan jujur apa pun yang ada di pikirannya.

Meski begitu, ada kekurangan yang aku rasakan dari metodenya itu. Seperti yang dibilang Ramadhan KH ketika memberikan endorsement untuk buku ini, "Betulkan dulu ejaan-ejaannya, huruf besar dan kecilnya harus rapih. Pilih tema-tema yang lebih serius. Kalau terus seperti ini akan masuk ke kategori remaja." Padahal, Ramadhan KH ini salah satu penulis favoritnya Teh Melly, selain Pramoedya Ananta Toer, dan dua musikus favoritnya Mozart dan Björk. 

Baiknya, endorsement Pak Ramadhan ini sangat jujur menjelaskan isi buku ini, tanpa sugar coating, tanpa babibu, dia menyentuh kritik internal buku: penggarapan internal dan eksternal kesastraannya masih lemah. Barangkali cocok untuk cerita remaja atau teenlit, tapi untuk sastra serius, buku ini masih jauh. Mohon maaf Teh, belum ada apa-apanya. Barangkali Teh Melly perlu membaca cerpen-cerpen (saranku) dari Thomas Hardy, Guy de Maupassant, atau idolanya Teh Melly, Pak Pram di buku Cerita-Cerita dari Jakarta. Mereka penulis realis seperti Teh Melly, tapi bagiku sangat-sangat keren. Karena penulis tanpa membaca itu seperti katak di dalam tempurung. 

Jadi Teh Melly tak perlu melakukan kesalahan tak perlu ketika mengatakan tidak hobi membaca. Ya, aku sepakat jika membaca itu tak hanya sekadar buku, tapi juga kenyataan dan lingkungan sebagaimana yang dilakukan para nabi-nabi. Aku sangat respect dengan olang-alik alur dan logika berpikir Teh Melly di buku ini, tapi itu saja tak cukup. Aku fans Teh Melly untuk musik-musik yang teteh hasilkan, tapi untuk bidang penulisan, Teh Melly masih perlu banyak belajar.

Berikutnya, aku akan bercerita tentang alur. Ada sepuluh cerpen dalam buku Arrrrrgh... karya Teh Melly ini (ulasan ini mengandung spoiler):

1. TENTANG DIA!!!: Di cerita ini berkisah tentang Gadis, yang patah hati karena mantannya, sampai akhirnya hanya ingin percaya pada Tuhan. Suatu hari di kampus, Gadis bertabrakan dengan Rudi. Aku pikir dia cowok, ternyata cewek. Karakternya tomboy setelah adiknya yang namanya dan sosoknya mirip dengan Gadis yang ditabrak itu meninggal saat kecil--tentu dalam kondisi broken home. Di sisi lain, teman Gadis bernama Randu suka banget sama Gadis, dan tiap hari usaha ngejar. Namun, anehnya, Gadis suka sama Rudi. Sampai suatu hari ngungkapin perasaan. Tapi, Rudi akhirnya mati dari ketinggian gedung. Akhirnya, Gadis balik sama Randu.

2. ANTI, "PILIH AKU DONG!": Ini tentang Anti, anak SMA yang ditembak dua cowok: Teman sekelasnya bernama Ridho dan kakak kelasnya bernama Udi. Anti dilema dan minta saran ke Mamanya yang agak laen. Si Mama bilang terima aja semua, kan masih dalam tahap pacaran, belum pernikahan. Akhirnya, si Anti akting dan banyak bohong soal status itu. HIngga suatu hari terjebak di sebuah pesta yang dihadiri Ridho dan Udi, mereka saling curiga. Anti tertangkap basah dan mengakui kesalahannya. Ketiganya berakhir pada pertemanan. Jangan ditiru sih ini, secara ide bagus, secara etika tidak.

3. IMPIAN MENJEMPUT BADAI: Ada anak lulusan SMA bernama Anggi yang cari kerja, tapi sebenarnya lebih disuruh nikah sama orang kaya aja sama ibunya. Anggi dapat kerja di sebuah bisnis kolam renang, kerjaannya sederhana, bersih-bersih dan menjadi pelayan member. Dia di sana ketemua om kaya yang pikirannya bebas bahkan soal definisi cinta bernama Damar. Dia sudah punya istri yang sedang keluar negeri dan punya satu anak. Damar mengajak Anggi dinner, tapi Anggi ragu. Di dinner itulah dijelaskan filosofi dia akan cinta yang universal. Dia banyak mencintai perempuan, seperti kapas yang tumbuh di hatinya, tapi pernikahan baginya cukup satu.

4. AKU INGIN SEPERTI KAMU: Menurutku ini kisah yang humanis dan pro-wadam atau kelompok kwir. Ada seorang waria bernama Popy yang hidup miskin di sebuah kontrakan murah bersama dua waria lainnya. Dia sering mangkal di Taman Lawang, tapi selalu sepi. Popy selalu merasa dirinya tidak cantik, pendengarannya kurang, kulitnya lebih hitam/kasar, rahangnya tak feminim, dll. Dia sering hidup susah dan miskin. Suatu hari sahabatnya bernama Nancy dapat rejeki ada bule yang mau ngajak ke Australia (negeri dengan banyak kaum pelangi atau semacam itu). Sisi humanisnya, alih-alih ke Australia, Nancy lebih memilih untuk tinggal sama Popy. Padahal dia udah packing dan ke bandara.

5. SEPATU BERTALI: Cerpen ini dimulai dengan hal lucu, ketika Lucky kecil, dia menemani Mirtha pipis. Lucky merasa dirinya cacat karena kelaminnya berbeda dengan miliknya, lalu menanyakan ini pada Mama. Setelah besar, Mirtha suka sama Lucky, tapi Mirtha menganggap Lucky suka sama Sasta, gadis yang tinggal di panti asuhan depan sekolah. Saat Lucky ulang tahun, Sasta memberi sepasang boneka laki-laki perempuan yang jadi simbol orangtuanya. Sasta mengajari Lucky dan Mirtha soal ketangguhan, serta toleransi kadang yang dianggap penting bagi orang lain, kita anggap sepele. Nah, gongnya, Lucky suka sama Kika yang ayahnya militer dan mendidik putrinya sangat keras. Kika ingin sepatu bertali tapi tak dibelikan sampai dia nangis-nangis yang dianggap Lucky lebai. Setelah dewasa dia baru sadar keinginan Kika yang sepele itu sangat berarti. Lucky nembak Kika di rumahnya dan diberi kado sepatu tali.

6. SUARA SANG KERTAS: Aku paling suka cerpen ini karena diibaratkan kertas seorang manusia yang punya tubuh, perasaan, dan pikiran. Dia sangat setia pada tuannya (penulis), walaupun suatu hari dirobek-robek, dia tak masalah. Malahan ketakutannya ketika mesin print huruf-hurufnya berdiri di sana. Aku jadi lebih aware sama kertas sekarang, haha.

7. SAJAK BUAT MIMI: Kisah ini seperti pernah aku tulis di masa remajaku, dengan konteks dan alur berbeda, tapi temanya sama. Seorang anak yang tidak normal, yang suka dengan anak yang normal. Jadi Mimi ini anti matematika dan membenci gurunya yang bernama Dinar. Mimi sering telat, dan atau membuat kesal Dinar, akhirnya disuruh bersih-bersih dan nata perpustakaan. Suatu hari ada cowok bernama Aldo yang mengganggu Mimi dan membuat kerjaannya di perpustakaan berantakan. Aldo, cari kado. Yang itu sudah ada di meja. Namun, saat kado Aldo dibuka, berisi sajak cinta yang ditujukan ke Mimi. Mimi bingung dan cari Aldo yang ngaku teman seangkatan tapi pas dicari gak ada, lalu dia menganggap Aldo ini hantu. Mimi memberanikan diri ke kepala sekolah yang ternyata adalah ayah Dinar. Terbongkarlah Aldo ini anak Dinar yang cacat. Aldo suka sama Mimi, mereka pun bertemu di ruang kepala sekolah dan menjadi teman. 

8. SATU HARI SEBELUMNYA: Ini juga agak laen karakternya, tapi cukup bisa dipahami. Dian mau nikah sama Ara yang lagi nerusin pendidikan di luar negeri. Namun, sehari sebelum pernikahan dia dapat kecelakaan di sebuah toko unik untuk persiapan pernikahan. Dia makai sepatu hak tinggi dan jatuh. Ditolong sama pemilik toko bernama Dodi. Pria ini memperlakukan Dian seperti putri, hal yang sama sekali tak pernah dilakukan Ara. Dijagain Dian di kamar sampai kejadianlah hubungan intim itu. Dian sadar besok pernikahannya, saat Ara tiba, Dian ngakuin kesalahannya. Tapi, Ara tetap keukeuh melanjutkan pernikahan itu atas nama "kebaikan keluarga". Dian sedih, ternyata nama keluarganya lebih penting dibanding perasaannya. Akhir ceritanya agak gantung karena Dian entah menikah sama siapa, Ara atau Dodi. Tapi rasa-rasanya sama Dodi, dalam khayalan. Kayaknya sih ya, atau memang sama Dodi.

9. SI MERAH PEMBACA BENCANA: Ini cerita aneh. Sejoli yang menjalin hubungan putus-nyambung bernama Yuki dan Uchan dibedakan dua tempat tinggal, Bandung dan Jakarta. Uchan mendatangi Yuki, yang gak suka dengan kekangan orangtua. Di sana Uchan menginap, tapi pas di kamar tamu, dia mendapati g-string warna merah. Tanpa banyak cingcong, Uchan mengemasi barangnya dan langsung pulang tanpa meminta penjelasan. Yuki pun sedih di sebuah tempat makan yang romantis di dataran tinggi Dago. Di sana, Uchan tiba-tiba datang, dan minta maaf. Ternyata g-string itu milik mamah Yuki yang ketinggalan. G-string ini ternyata kado pernikahan Mamah Yuki ke Papah Yuki. Uchan mendengar penjelasan itu lewat telepon. Meskipun tak muda lagi, si mamah tak ingin kondisi ranjangnya melempem, meskipun secara usia sudah tak cocok. Yuki dan Uchan pun ketawa-tawa.

10. AKU BUKAN TUHAN: Ini tema dan karakter yang sangat berani dan sangat Jakarta. Kenapa? Karena tokoh utamanya Carin sedang casting film di rumah produksi J Film yang dipimpin oleh direktur muda bernama Mr. Kumar. Kantornya kecil dan panas mirip ruko, tak bisa dibedakan mana satpam dan mana pimpinan. Awalnya, komunikasi antara Carin dan Mr. Kumar ini baik-baik saja bahkan lancar. Namun, suatu hari dapat kabar kalau Carin tidak jadi main film karena tidak cocok, meskipun secara dialog cocok, tapi industri ini soal "bisnis". Carin merasa dibuang seperti sampah sama orang India atau keturunan India yang dijuluki Pinokio itu. Sebagai orang Jakarta, dia sangat berani untuk melabrak Mr. Kumar, yang tak hanya melibatkan dirinya saja, tapi Mila juga kena sial karena tak jadi ikut film. Padahal waktu, tenaga, dan apa pun sumber dayanya telah diberikan untuk script jelek milik Mr. Kumar! Aku suka banget kata-kata labrakan si Carin. Suatu hari, untuk membela harga diri, emang perlu sevokal dia. Carin juga berani memutus relasi, karena dia bukan Tuhan!

Berikut kutipan dari Carin: "Makan nih naskah. Bapak pikir bisa melecehkan saya seenaknya. Salah apa saya? Saya sudah berusaha berlatih semuanya, saya mengorbankan waktu yang begitu lama untuk mendalami naskah JELEK ini. Sungguh Bapak adalah manusia yang tidak punya hati, percuma dilahirkan sebagai orang kaya yang berpendidikan tinggi, jika ternyata Bapak sama sekali tidak mempunyai budi pekerti. Bapak tidak tahu etika sama sekali. Saya bersumpah, Bapak tidak akan pernah hidup dalam kedamaian karena bapak selalu bertindak berdasarkan otak tumpul. Bapak tidak punya hati nurani!!!" (148)  

Judul: 10 ARRRRRGH... | Penulis: Melly Goeslaw | Penyunting: Moammar Emka dan Denny Indra | Penerbit: GagasMedia Depok | Cetakan: Keenam, Januari 2005 | Jumlah halaman: xviii + 160 | Dimensi: 18 cm | ISBN: 979-3600-41-1

KUTIPAN:

Sutradara yang bagus banyak, tapi yang asik cuma elo. (xii) 

Terima kasih karena sudah menyelematkan saya dari kemarahan yang tak berguna. (xii) 

Untuk kertas-kertas yang haus akan karyamu. (xiv) 

Jiwa itu sulit ditebak dan diungkap. Aku harus mengelusnya dan merayunya untuk mendapatkan kejujuran atas kehendak jiwa. (xvii) 

Di antara mereka ada yang tidak suka dengan tulisan, lagu, dan gayaku. Aku sendiri tidak mau terlalu pusing dengan hal-hal semacam itu. Yang penting aku bisa mengisi perutku dengan sejumput nasi yang aku beli dengan uang halal. (2) 

Aku selalu merasa iba pada mereka yang tidak pernah melepaskan ledakan-ledakan dalam hatinya. Padahal, itu terkadang dapat melegakan kesumpekan yang terjadi pada jiwa yang resah. (2) 

Aku tidak pernah panik. Aku tidak mau berlomba-lomba ke atas sana. Di bawah sini rasanya lebih nyaman. (4) 

Hidup adalah sebuah cerita yang rumit, banyak liku dan peristiwa serta pemikiran yang berbeda pada setiap manusia. Bila kita melihat suatu masalah yang menyedihkan, menurut orang lain belum tentu menyedihkan. Kita punya tingkat kesedihan, keberanian, kemarahan dan kekecewaan yang berbeda-beda. Aku menghargai apa pun yang orang lain rasakan. Perasaan itu hanya diri kita yang bisa menilai dan menanggulangi apa pun yang kita rasakan. Tidak ada satu pun pihak yang dapat mengeluarkan dan menolong kita dari masalah kita. (78) 

Seharusnya aku bisa menghargai keinginan dan cita-cita orang lain. Seharusnya aku bisa memahami apa yang bisa membuat orang lain bahagia, sekalipun itu bagiku sangat sepele, tapi bagimu tidak. (80) 

Aku masih penasaran dengan kelanjutan cerita itu.... Aku mulai bisa mencintai tuanku. Bagiku dia seperti sebuah cahaya, yang setiap saat mendekatiku dan menghangatkan tubuhku. (87) Isma: Pengandaian kertas bisa bicara. 

Walaupun terkadang tubuhku diremas dengan kasar dan aku dicampakkan begitu saja di tempat sampah, tapi aku tetap bahagia. Aku senang karena tubuhku pernah menampung goresan-goresan tangan manusia yang lewat penanya menuliskan kata-kata dan kalimat-kalimat yang hidup. Tangan-tangan itu selalu mampu membuat aku terlelap dalam belaiannya. 

Aku sangat mencintai tuanku. Aku akan mengabdikan diriku padanya. Bagiku tuanku adalah seorang yang sangat jenius. Aku akan selalu membiaskan sinar ke dalam matanya; memberikan banyak inspirasi untuknya.

Aku bangga karena tubuhku pernah menampung karya-karya yang indah dari seorang penyair cinta. Karya itu bagaikan sebuah udara yang berhembus menyejukkan hatiku. Karya itu seperti seraut wajah cantik yang menari-nari dari di depan mataku. Karya itu seperti setapak jalan kecil yang meruncing di ujungnya, dengan dasar bebatuan yang dingin seperti bebatuan gunung. Jalan itu mampu menyembuhkan kaki-kai yang penat keletihan. (88) 

Aku adalah kertas yang sangat beruntung, karena tuanku sangat menghargai aku. Baginya aku adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Baginya aku adalah selimut hangat yang mampu menghangatkannya dari dinginnya udara keresahan batin yang selalu mengganggu di benak. (89) 

Aku iba dengan keadaan moralnya yang sangat menyedihkan. Maafkan aku Pinokio, aku tetap tidak ingin membuka hati dan diriku untuk berteman lagi. Karena aku bukan Tuhan. (159)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar