Jumat, 13 Maret 2026

Catatan Buku "Penziarahan: Pemurnian Jiwa" karya Maharsono Probho, SJ

Buku Romo Mahar ini aku beli setelah mendapat rekomendasi dari grup "Meditasi Kesadaran", yang rutin digelar di Katedral Jakarta setiap Kamis malam. Romo Mahar sendiri yang memimpinnya. Awal-awal dulu, aku sering datang. Namun, setelah ditempatkan live in di Aceh selama sebulan, kemudian dilanjutkan Ramadan dan Lebaran, sudah hampir tiga bulanan aku tak ikut meditasi lagi. Aku senang mengikuti meditasi itu, meskipun aku satu-satunya umat Islam dan berkerudung di sana. Rindu ikut meditasi itu lagi, meskipun di keseharian juga ada grup meditasi pagi yang jarang aku ikuti. Mungkin, aku masih di fase ups-down dalam melaksanakan meditasi, meskipun niat untuk menyeriusinya sudah ada.

Buku penziarahan ini aku selesaikan juga dengan sekali duduk. Lebih tepatnya, aku menyelesaikan selama satu jam. Aku kagum dengan referensi yang digunakan Romo Mahar dalam buku ini. Bagiku bukan referensi biasa, karena bahasanya berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Buku ini juga dianggit dari hasil pengalaman Romo Mahar mengikuti kegiatan meditasi ketika masih tinggal untuk pengabdian umat di Thailand. Ia menjalani perutusan sebagai anggota Serikat Yesus sejak 1992 sampai 2015 di negeri gajah tersebut. Dengan waktu yang lama, tak heran Beliau juga aktif berbahasa Thailand. Buku ini jadi sarana "sharing" Romo.

Isi dari buku ini lebih banyak berbicara tentang teknik, mekanisme, atau langkah-langkah melakukan meditasi. Di awal, Romo menekankan betapa pentingnya "berdoa". Ini sebagaimana yang dikatakan mistikus kuno bernama Evagrius, "Jika engkau sungguh seorang teolog sejati, engkau tentu sungguh-sungguh berdoa; jika engkau berdoa sungguh-sungguh, engkau adalah seorang teolog." Mistik di sini bukan berarti klenik. Mistik di sini diartikan "pengalaman berhubungan langsung dengan Yang Ilahi secara mesra-akrab." Ketika seseorang makin dekat dengan Allah, akan ditemui suatu paradoks yang barangkali dihindari manusia: ketidakpastian karena dosa-dosa, makin miskin karena Allah saja kekuatannya, hingga dia menemukan berbagai ungkapan cinta. Cinta Allah itu bergerak.

Hal paling utama dalam melakukan meditasi adalah menyediakan diri. Ada dua catatan dasar yang perlu dipahami bersama: (1) Hiburan rohani dan pengalaman mistik adalah murni dari Allah, (2) Apa yang menjadi niat manusia adalah penyediaan diri, perlu ada kesungguhan hadir di hadapan Allah, "cinta memerlukan penyerahan segalanya, dan lepas dari berbagai kelekatan", (3) Semua itu terjadi di bumi dalam lingkup semesta, dalam hubungan antarsemua makhluk hidup. Penyediaan diri adalah bentuk latihan rohani. 

Meditasi sendiri diartikan sebagai latihan rohani yang berumur tua, khususnya dari tradisi Hindhuisme dan Buddhisme. Fungsinya untuk menghadirkan kesadaran dalam setiap tindakan kita. Mengapa kesadaran penting? Salah satunya untuk penjagaan terhadap kelima panca indra, dan mengecilkan ego. Meditasi menjadi penziarahan kesadaran. Lalu, Romo menjelaskan terkait empat unsur kehidupan: meditasi api, meditasi air, meditasi udara, dan meditasi tanah. Paling mudah meditasi udara, karena lebih bisa kita lakukan di mana saja. Apalagi jika kamu hidup di kawasan urban dan perumahan vertikal, susah menemukan tanah, air untuk berendam, atau api yang didapat dari sinar matahari.

Menariknya, Romo di buku ini juga membahas meditasi lain: meditasi makanan, meditasi berjalan, dan latihan pancaindra. Aku tertarik dengan meditasi makanan, karena kita jadi belajar untuk menghormati setiap unsur makanan yang ada di piring kita, lalu memberikan ucapan terima kasih kepadanya. Makanan dalam tradisi Kristiani juga merupakan ekaristi (perayaan kurban Tubuh dan Darah Yesus Kristus yang diubah dari roti dan anggur) semesta. 

Terakhir, Romo Mahar mengajarkan terkait meditasi cinta. Prinsip utamanya, "Menjaga budi, pikiran, dan hati agar tetap bersih, hanya bisa dilakukan dengan mengalirinya dari sumber yang bersih!" Romo meminta kita untuk mengalami cinta, alih-alih menganlisisnya, karena itu hanya akan membuang energi. Tujuan dari meditasi cinta yaitu menyemai cinta, sementara medannya adalah diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan alam semesta. Ini berhubugan juga dengan meditasi berkat, dengan cara nafas masuk (menyebut nama), dan nafas keluar (mengucapkan berkat). 

Pendekatan buku ini memakai POV umat Katolik. Romo Mahar juga mengajak kita untuk membaca gerak dunia. Namun, meski keyakinan kami berbeda, aku bisa mengambil pesan universal yang disampaikan Romo Mahar. Semisal bagaimana agar manusia lebih mendekatkan diri pada Allah, dengan cinta Allah. Romo mengingatkan, "Dalam gerak penziarahan mencari Allah ini, manusia bisa mengalami banyak gangguan, penyimpangan, dan bahkan bisa tersesat, sadar atau tidak. Sekaligus juga manusia menemukan bentuk-bentuk tuntutan-Nya yang kreatif." (vi) Dan ini bisa menjadi sejarah rahmat bagi kita.

Judul: "Penziarahan: Pemurnian Jiwa" | Penulis: Maharsono Probho, SJ | Editor: Rosalia Retno | Penerbit: PT Kanisius Yogyakarta | Tahun terbit: 2023 | Jumlah halaman: xiv + 66

Tidak ada komentar:

Posting Komentar