Aku mengagumi pasangan Melly Goeslaw dan Anto Hoed sudah lama. Aku sepertinya juga punya buku Melly yang judulnya "Aarrgghhh", ya kurang lebih begitu, judulnya memang aneh-aneh, sama seperti orangnya, hehe. Tapi aneh dia beralasan dan bisa dipertanggungjawabkan, barangkali lebih tepat aku menyebutnya Teh Melly ini unik.
Buku "Balance", aku baca sekali duduk, di sepertiga malam. Premis utama yang hendak disampaikan oleh Teh Melly adalah soal keseimbangan, menjadi proporsional dalam segala hal, baik itu dalam karier, berkarya, mencintai, dan bidang-bidang hidup lain yang kita anggap penting. Seperti katanya ini, "Model dan kemasan bisa beraneka ragam, tetapi akan terlihat sangat menarik apabila semua aspek dipilih secara cerdas dan proporsional." (40) Laku keseimbangan ini barangkali hal yang sangat susah.
Buku ini terbagi ke dalam tujuh chapter. Aku bisa sekilas menerka proses kreatif yang dijalani oleh Teh Melly, misal terkait bagaimana dia membuat lirik dan melodi. Dia juga mengkritik tentang dunia keartisan yang banyak sekali make up-nya.
Teh Melly juga membuat berbagai analisis, seperti menggolongkan masyarakat luas ke dalam tujuh kelompok besar: (1) kelompok yang menyukai musik dan memiliki latar belakang bermusik, (2) menyukai musik, tapi tak punya latar belakang, (3) memilih jalan hidup sebagai "penggoyang" untuk kepentingan kelompoknya, (4) mereka yang berprofesi sebagai seniman, (5) kelompok atas yang berisi bos-bos, (6) kelompok awam, (7) kelompok artis dan selebiriti. Untuk masuk ke salah satunya, diperlukan kedewasaan, kebijakan, dan pengetahuan bermusik, menariknya, tanpa mengabaikan "insting".
Blue print menurut Teh Melly juga menjadi bagian penting dalam mendirikan bangunan yang megah. Seniman di ranah musik yang berhasil adalah mereka yang mau "berlelah-lelah" memikirkan blue print-nya sendiri. Apa itu blue print? Dia adalah rancangan mendetail yang menggambarkan kerangka kerja, struktur, teknis, dan strategi untuk mencapai tujuan tertentu. Dia berfungsi sebagai peta jalan untuk meminimalisasi risiko. Teh Melly menyebut beberapa faktor untuk itu: (1) lagu yang meliputi melodi dan lirik, (2) aransemen yang sesuai dengan lagu dan lirik, (3) produser, (4) penyanyi, (5) label, (6) promosi, (7) nasib. Penekanannya:
"Dalam bermusik, tidak ada yang bagus dan jelek. Semua hal yang diciptakan Tuhan pasti bagus dan orisinal sebab orisinalitas hanya milik-Nya. Namun, adalah tugas seniman untuk menjadikan bahan dasar itu sebagai sesuatu yang bisa digunakan dan bermanfaat bagi banyak pihak." (53)
Dalam mencapai "balance", ketepatan antara penyanyi dan komposer sangat penting. Penyanyi ini yang membawakan lagu, komposer ini yang menciptakan lagu. Dia juga memberikan contoh ketepatan ini melalui kolaborasi misalnya: Vina Panduwinata & Dodo Zakaria, Nike Ardilla & Deddy Dores, Atiek CB & Cecep AS, Rossa & Melly Goeslaw. Yang terakhir ini kolaborasinya misal ada dalam lagu "Tegar", "Atas Nama Cinta", "Ayat-Ayat Cinta", "Hati yang Terpilih", "Takdir Cinta", "Hey Ladies", dan "Malam Pertama".
Dalam berkarya pun, Teh Melly sangat mementingkan "loyalitas". Loyalitas antara penyanyi dan komposer, termasuk loyalitas antara penyanyi dan fansnya. Loyalitas sejati ini dibangun dari basis karya, bukan sensasi. Jika basisnya sensasi, nanti akan jadi seasonal loyalty. Unsur ini ketahanan waktunya dipertanyakan. Bahkan, tak hanya di tingkat artis, Teh Melly juga mengapresiasi tingkat kesetiaan seorang Asisten Rumah Tangga (ART).
Teh Melly juga dihantui suatu pertanyaan, "Mengapa semua orang ingin menjadi artis?" Dan dalam pikirannya ada tujuh jawaban:
- Orang kaya yang punya cukup modal sehingga mampu membeli lagu gubahan komposer mana pun yang dia inginkan.
- Orang-orang yang merasa dirinya cantik atau ganteng.
- Orang yang memiliki garis keturunan bintang.
- Orang yang memang sejak keil jatuh cinta terhadap seni dan ingin mendedikasikan hidupnya untuk seni.
- Artis di mata masyarakat adalah kelompok sosial tingkat tinggi, bergaya hidup mewah, serba mahal, dan terkenal.
- Penghasilan, karena ingin dapat penghasilan.
- Beberapa kelompok yang memandang perlu untuk menjadi artis meskipun hanya untuk kepentingan publikasi sesaat.
Meski ada tujuh golongan di atas, Teh Melly juga membuat bab khusus terkait "born to be a star". Mereka yang terlahir sebagai bintang. Ini memang berkat Tuhan, karena dia lahir memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Mereka seperti: Benyamin Sueb, Titiek Puspa, Agnes Monica, Nike Ardilla, Indra Lesmana, dan Krisdayanti. Misal, untuk artis Indra Lesmana, aku baru tahu dia bintang jazz sampai Amerika.
Di chapter "Psychology and Knowledge", menurut Teh Melly, keselarasan antara psikologi dan pengetahuan menjadi dasar dari lirik. Triknya dalam menulis lagu ada tiga: kisah nyata, khayalan, dan menangkap kata dari manapun. Tulisan yang baik, mengutip Buya Hamka, adalah tulisan yang mengandung makna yang tersirat dalam makna itu sendiri. Coba pelajari cerita Teh Melly ini:
"Suatu hari, kakak membelikan aku permen. Semula permen itu terasa manis, tetapi lama-kelamaan menjadi pahit. Kemudian, kumuntahkan permen itu ke tanah, kuinjak-injak, lalu kukatakan kepada kakak, 'Aku sebal sama kakak! Permen yang tadi kakak berikan lama-kelamaan terasa pahit. Aku kan mau permen yang terasa manis terus sampai habis.'"
Teh Melly kemudian menulis: "Simak cerita singkat di atas lalu kaji secara cermat. Kemudian, buatlah satu cerita baru dengan inti cerita yang sama dengan cerita di atas sesuai dengan suasana hatimu. Inti cerita yang dimaksud adalah perasaan kecewa atas suatu kejadian yang tidak sesuai harapan." Dan, kamu bisa juga menganalisis dalam situasi atau kisah yang berbeda.
Di akhir bab, "Chosen Path", Teh Melly bilang, dalam hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan, baik yang menyenangkan untuk kita maupun yang tidak. Kondisinya juga bisa diibaratkan, kamu berada dalam di depan sebuah meja makan besar yang berisi berbagai macam makanan dan minuman. Di sana, kamu bisa memilih sesuka hatimu. Kamu bisa memilih masakan ikan, daging, sayuran, buah, kue, tapi kamu tak bisa membawa semua makanan dan hanya diperbolehkan untuk membawa sepiring makanan. Di luar, juga sudah ada penikmat makanan, penilai, pencinta, penggemar, hingga pencela.
Di sinilah tantangan "chosen path". Apakah pilihanmu akan mendapatkan penghargaan, pujian, pencinta, penggemar, hingga penghina? Di titik ini, Teh Melly bilang, "Setiap seniman pada akhirnya harus memilih jalan seni yang akan ia anut dan gauli sampai mati... Hidup sebagai seniman bak janji suci kepada Tuhan, berkomitmen kepada siapa, di mana, dan mengapa kita berkarya. Itulah yang saat ini tetap kupercaya sebagai satu-satunya kekuatanku dalam menjalani pilihan hidupku."
Judul: Balance | Penulis: Melly Goeslaw | Penyunting: Dewi Anggraeni | Penerbit: Komunitas Bambu, Depok | Cetakan: Pertama, 2012 | Jumlah halaman: 128 | Dimensi: 12 x 19 cm
KUTIPAN:
Khawatir akan diabaikan dan tidak diterima lagi sehingga akhirnya harus melacurkan keinginan jiwa demi satu sudut perasaan saja. (38)
Proporsional! Mungkin kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang sebaiknya dilakukan agar dapat berenang di tengah euforia ini. Kita harus bisa merenangi kedalaman kemampuan diri dan pengetahuan musik kita sehingga apa yang kita buat dan suguhkan tidak seperti baju yang terlalu sempit atau kedodoran. (39)
Semua orang seakan-akan hidup dalam satu tenda penampungan korban bencana alam. Siapa yang berjuang, dia yang akan mendapatkan makanan... Berlomba-lomba menjadi paling besar walau mungkin paling kerdil di mata-Nya. (40)
Kita berkarya dari hati dan kejujuran. (41)
Adakalanya burung berkicau tanpa maksud, dan ada kalanya kuda berlari tanpa perintah. (45)
Perlu diketahui bahwa para seniman tersebut sudah terengah-engah. Mereka sesak menahan rindu akan kondisi bermusik yang sehat. Sesungguhnya, cetak biru (blue print) merupakan hal penting dalam produksi musik. Bagaimanapun, suatu karya hebat merupakan hasil dari konsep yang dibuat seniman-seniman yang bersedia berlelah-lelah memikirkan blue print. (53)
Perlu berapa kali menguji apabila benar berjodoh atau hanya teman semusim? (57)
Tidak ada satu pun kata dan kalimat yang bermakna tanpa vowel. Semua menjadi berarti dan bisa dimengerti karena adanya vowel. (58) Isma: Keren juga ini.
Siapa pun yang pernah menjadi emas, mutiara, atau pun berlian, maka kilaunya tidak akan pernah padam meskipun tertimbun reruntuhan. Kedalaman pikiran serta kematangan pengalaman merupakan acuan terbaik sekaligus guru terbijak bagi para pemula. (61)
Komposer yang mencintai seni hingga tulang rusuknya, mungkin bisa mati terkapar di tengah lembaran lirik-lirik lagu... (61)
Akan aku pertahankan mereka sampai para pengantar jenazahku kelak melangkahkan kaki tujuh langkah meninggalkan pusaraku. Aku tidak akan pernah meragukan kata hatiku. Aku ingin melakukan hal lain untuk dunia musik, suatu hal yang mungkin tidak ingin dilakukan orang lain. Bila memang tidak mau, mengapa sekarang bayangan langkahku kalian ikuti? (71)
Menegaskan kepada diriku sendiri agar bisa lebih menghargai apa yang sudah kukerjakan selama ini. (74)
Fans yang setia akan menitikberatkan pada karya, bukan sensasi. Fans tak lain merupakan buah karya dari yang kita lakukan selama ini. Fans kita akan berkembang menjadi jenis tertentu sesuai dengan karakter diri yang kita bangun. (74) catat!
Aku menginginkan kesetiaan abadi, bukan musiman. (75)
Pelaku seni yang tertib biasanya tidak akan menjanjikan apa-apa. Mereka hanya bekerja sesuai dengan job desc dan untuk selanjutnya tidak ikut campur lagi. Nah, para pelaku seni yang bandel umumnya tidak berhenti meniupkan angin surga yang diakhiri kata-kata, "Insya Allah, yaaaa." (77)
Kenyataan yang ada tidak selalu bisa dijadikan landasan kuat untuk mengerjakan sesuatu. (79)
Setiap Seniman pada akhirnya harus memilih jalan seni yang akan ia anut dan gauli sampai mati. Apa yang kelak ia peroleh semata-mata hasil racikannya sendiri. Terkadang Tuhan meniupkan kepekaan lebih kepada manusia tertentu sehingga ia bisa mengira-ngira apa yang akan disukai orang lain. (117)
Hidup sebagai Seniman bak janji suci kepada Tuhan, berkomitmen kepada siapa, di mana, dan mengapa kita berkarya. Itulah yang saat ini tetap kupercaya sebagai satu-satunya kekuatanku dalam menjalani pilihan hidupku. (117) Isma: Di konteksku barangkali adalah menulis.
Oh Tuhan, aku ingin menjadi artis yang baik. Jagalah hatiku selalu, agar tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu rendah sehingga aku bisa melihat semua sudut dan suara duniaku secara seimbang. (117)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar