Saya menulis kata pengantar ini sembari mendengarkan lagu Perunggu berjudul "Kalibata, 2012". Lagu yang membuat saya bisa merefleksikan banyak hal ketika mendengarnya. Saya hanya beberapa kali liputan di Kalibata, khususnya ketika acara diadakan di BPSDM Kemendagri. Ketika kesana, saya naik KRL dan berhenti di Stasiun Kalibata. Barangkali, rona hidup saya selama di Jakarta sudah terangkum dengan baik lewat lagu Perunggu ini. Begitu juga dengan segenap roda hidup saya di Jakarta, pertama kali saya merantau di Jakarta tahun 2019 dan hanya bisa bertahan selama tiga bulan, lagu tersebut seperti mengembalikan berbagai pengalaman hidup yang pernah saya lalui.
Dengan terbitnya buku dokumentasi "Jalan Negara Berubah Hari Itu", menjadi penanda juga, saya sudah empat tahun bisa bertahan di ibukota. Di dalamnya ada 237 rilis yang saya produksi sepanjang tahun 2025 ketika menjadi staf jurnalistik di Pusat Penerangan Kemendagri. Judul kumpulan rilis ini saya ambil ini terinspirasi dari lirik lagu Perunggu, "Semua jalur hidupku berubah dini hari itu..." Saya memikirkan interpretasi lain berkaitan dengan nasib negara, jika apa pun kebijakan yang dibuat oleh negara, pasti akan mengubah keadaan rakyatnya. Begitu juga dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Kemendagri, yang mengawasi 38 provinsi, 416 kabupaten, dan 98 kota.
Tentu banyak perubahan yang saya alami secara mikro dan makro sepanjang tahun 2025. Banyak kejadian penting yang berkaitan dengan nasib publik, terutama implementasi dari Asta Cita, MBG, demo RIP demokrasi, tuntutan 17+8, meninggalnya Affan Kurniawan, hingga makin banyaknya bencana alam yang kebanyakan bersumber dari rusaknya alam. Terlebih musibah yang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera. Sementara di tingkat teknologi, masifnya Artificial Intelligence (AI) yang mulai kelihatan gelombang besarnya di tahun 2025 telah mengubah banyak hal.
Sementara di tingkat lingkungan kerja saya sendiri, banyak juga perubahan-perubahan. Di antaranya, semenjak 8 Oktober 2025, Kemendagri mendapatkan tambahan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus, para pimpinan yang semakin sering datang ke daerah. Jika di dalam sambutannya, suatu hari Wamendagri Bima Arya pernah berbicara, "Because leaders are those who know the way, who show the way, who lead the way." Saya punya kritik di sini, karena dengan pengertian ini seolah kepemimpinan hanya ditekankan pada figur satu orang. Saya lebih menginginkan kepemimpinan yang lebih egaliter. Akan sangat menarik jika negara dijalankan dengan pola seperti itu.
Buku ini secara berturut-turut dari tahun ke tahun saya persembahkan untuk orangtua saya. Pesan utama lagu "Kalibata, 2012" dari perspektif saya adalah tentang orangtua. Bagian yang menyayat saya ketika mendengarkannya:
Hingga saat ini, tiap langkaku t'lah
Jauhi beragam tepi
Terpujilah mandiri di hati
S'gala hikmah dari kesalahan lama
Kini tak lagi bebani
Terangi kesendirian lagi
Rentan, lamban, ringkih
Terasa seperti Dia tak berpihak lagi
Kerap pedih datang terus temani
Kurasa batinku takkan pernah siap
Terima salam pamitmu
Kau tahu, kau yang t'lah mengubahku
Saya merasa, ketahanan saya hidup di Jakarta adalah berkat doa dari ibu dan bapak saya. Ibu yang masih menjalani sakitnya sampai sekarang. Saya sungguh buta dengan cara berbakti pada orangtua, satu-satunya cara, saya ingin mandiri dan tak ingin merepotkan mereka. Saya juga telah bekerja di instansi pemerintahan yang Bapak selalu mimpikan dulu, meskipun sampai sekarang saya belum bisa memenuhi permintaannya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, sejauh apa pun nanti saya pergi, saya tetap ingin menjaga martabat ibu dan bapak, ingin jadi anak pertama yang bisa dibanggakan, serta berbakti dengan cara-cara yang saya bisa. Terima kasih Bu-Pak.
Terakhir, saya juga ingin mengucapkan terima kasih tentu yang selalu menjadi utama dan pertama, Allah SWT. Terima kasih juga untuk Pak Aang Witarsa Rofik, yang dulu di Kabid Humas, dan sekarang pindah di Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum. Meskipun Bapak sudah tidak di Puspen lagi, saya banyak belajar dari Bapak terkait prinsip, kedisiplinan, dan menjaga integritas. Saya juga berterima kasih kepada editor rilis Pak Syahdino Pratama, serta rekan-rekan sesama penulis: Mujaeni, Ahmad Farid, Nina Rahayu, Muhammad Hafizh Zuhdi, dan Binar Bintari Athala. Terima kasih untuk kerja sama kita selama ini. Semoga kalian selalu sehat dan sejahtera. Tabik.
Jakarta, 31 Desember 2025
LINK DOWNLOAD:
https://www.academia.edu/145683801/Buku_Rilis_2025_Jalan_Negara_Berubah_Hari_Itu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar