Sabtu, 31 Januari 2026

Catatan Buku "Kumpulan Cerita Kencan Pertama yang Memalukan" karya Isyana Artharini dkk

Aku sudah tak ingat di mana dan kenapa aku membeli buku ini. Tapi kayaknya karena ringan dan lucu, aku membelinya. Setelah membaca, pengantar redaksinya ditulis cukup baik, mungkin karena diedit oleh Dea Anugrah. Intinya, antologi ini ditulis semacam open call gitu. Banyak naskah yang masuk, tapi akhirnya dipilih yang penulisannya menarik. Meskipun dalam tema yang sama ada cerita yang relatif sama, dipilih satu yang benar-benar beda. Intinya, sebaik atau selucu apa pun suatu kejadian, kalau gak bisa nulis dengan baik, maka dia gak bisa jadi lucu lagi.

Membaca buku ini, aku jadi teringat dengan pengalaman kencan pertamaku. Kesannya sendu, berat, menyedihkan, dan rasanya tak ingin kuulang kembali. Iya, itu terjadi di suatu sore, aku inisiatif ngajak si cowok ini jalan duluan. Ketemu di bawah pohon beringin kampus. Aku kesusahan ngikutin langkahnya. Apa yang kuekspektasikan gak terjadi sama sekali, beda 180 derajat. Akhirnya aku merasa drained. Namun, dari kencan pertama itu, aku jadi belajar sangat banyak terkait karakter dia. Ya, kami tidak cocok karena hidup di dua mode yang berbeda saja. Gak lebih, gak kurang. 

Kisahnya cukup sederhana, jalan menelusuri rel, ke pameran seni, ke Embung Langensari di Jogja, deep talk di depan Stasiun Langensari. Pulang. Isinya tidak seromantis kisah Celine dan Jesse di film "Before Sunrise" ya, karena itu terlalu baik dan too good to be true di kisah aku. Kadang aku kepikiran untuk bikin novel tipis yang berkisah tentang kencan pertama ini. Wkwk. Lewat pendekatan yang dipakai di film trilogi before.

Kembali ke buku, jadi ada 10 cerita, yang kalau kutarik benang merahnya:

1. "Apakah Kita Hanya Berdua?" -> Kisah mbak-mbak yang dikiranya kencan berdua tapi malah bertiga dan berempat. Ini terjadi pas mau nonton bola, pakai kostum salah, janjian di mal. Tapi karena cowok yang ditaksir ini "terkenal", dia bawa teman cewek dan manajer, wkwk. Ada metafora bagus yang kuingat, bunyinya kira-kira gini: mungkin jantungku terbuat dari kodok yang bisa berdetak-detak dan loncat-loncat lincah.

2. "Haris" -> Kisah kencan pertama dengan sosok bernama Haris. Yang dia ganteng banget tapi ujung-ujungnya nawarin bisnis MLM, yang membuat si cewek jadi gak respect lagi. Ternyata penampakan luar tak seperti yang di dalam.

3.  "Tujuh Dosa dalam Kencan Pertama" -> Ini lucu, karena si cewek pas mau kencan nglakuin tujuh dosa berturut-turut, kayak nginjek kaki si cowok, nawarin makan ayam di warteg tapi cowoknya vegan, kejadian konyol pas nonton, lupa salam perpisahan, dll, dlsb. Tapi entah kenapa si cowoknya menerima dan kencan berikutnya berjalan.

4.  "Balada Jomblo" -> Ini kisah anak kembar si Kano dan Kana (nenek lampir, haha). Kano si wibu janjian kencan sama Dinda di sebuah konser gitu. Eh gak taunya itu bukan kencan, karena Dinda akhirnya dijemput cowoknya. Dia emang janjian sama teman FB aja biar gak sendiri. Si kembaran udah mengingatkan, tapi gak digubris. Akhirnya dia beli semacam permen yang harganya mirip seperti mi yang bikin kenyang.

5. "Antara Film dan Kenyataan" -> Aku pikir ini paling kompleks, karena lebih mirip sama ceritaku, terutama soal pemakaian dating application. Mbaknya juga pinter, kek menggabungkan antara dunia film dengan aslinya di kenyataan itu jauh beda. Dia bisa lolos di tiga universitas terkenal di Inggris dengan mudah, tapi soal bagaimana melanjutkan dari kencan pertama ke kedua itu susah. Dan tipe-tipe mbak-mbak pinter kayak gini emang susah nemuin cowok yang sefrekuensi. Misal pas bahas soal novel Harry Potter, dia cukup amazed sama cowok yang ngritik kenapa ujung-ujungnya Hermione hanya menikah dan jadi ibu rumah tangga, tapi habis itu gak ada obrolan lebih jauh.

6.  "Sussy Celalutercakiti" -> Kisah kencan pertama sama banci yang ditemui tokoh utama di Facebook bernama Sussy Celalutercakiti. Janjian di semacam restoran cepat jadi. Si tokoh utama diantar sama sahabat dekatnya, eh, ketemunya tidak sebagaimana pikiran-pikiran "kotor" yang diimajinasikan. Karena di cowoknya juga tertarik awal karena fisik.

7. "Gelombang Tsunami dalam Cangkir Teh" -> Ini yang menurutku paling complicated. Semacam lagu Tulus yang "Sepatu". Sejak SMA udah curi-curi pandang dari jendela kelas, si cowok main ke rumah cewek. Tapi karena deg-degan pas mau nyuguhin teh, malah terjadi airnya kocar-kacir. Meskipun gak jodoh, katanya tiap kali ketemu si pria ini ada perasaan aneh yang susah dijelaskan.

8. "Tembak Aja Langsung!" -> Kisah ini mengingatkan aku pada kisah personalku. Sebab, nembak tanpa lu SWOT dulu tuh kek bunuh diri, haha. Dan nasihat, batu keras kalau ditetesin air terus-menerus akan luluh juga itu bullshit buat hati manusia. Kalau gak suka, mending mundur. Pokoknya jangan buang-buang tenaga. Nanti kisahnya kasihan kayak cowok di judul ini.

9. "Kencan Tengah Hari Tua" -> Aku baru sadar ini yang nulis Erni Aladjai yang pernah nulis novel tentang Kei, dan bukunya "Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga" juga pernah kubaca. Jadi dia illfeel sama dua cowok yang pernah nembak dia duluan, pertama oleh anak yang lebih muda, kedua oleh guru matematika (pakai surat yang dititipkan ke ketua kelas lagi!). Tapi kencan dia itu sama cowok Jakarta yang aslinya dari Depok ke kampung halaman si Erni. Kencannya di bawah pohon yang di pohon itu sering diberakin ayam. Jadi sering tuh kotoran ayam nyangkut di rambut anak cowok. Yang dikritik sama Erni tuh, karena cowok ini "anak nenek". Dia sangat patuh pada nenek. Tiap pulang ke rumah nenek, Erni selalu mengantarkan terus-menerus sampai dia bosan.

10. "Ocehan di Tahun yang Baru" -> Ini ceritanya lebih mirip gerundelan aktivis sok iye yang mencoba puitis jatuhnya wkwk. Sorry to say. Dia kencan sama cewek yang ngaku suka Pablo Neruda, tapi setelah tahu realitas kehidupan si cowok tidak seperti yang diinginkan, akhirnya dia gak suka Pablo Neruda lagi. Mereka kencan di tahun baru, nonton film "City of God", tapi si cewek gak nikmatin itu. Mungkin beda frekuensi, haha.

Ya begitulah cerita besarnya. Benang merah, kencan pertama itu rata-rata banyak gagalnya. Sementara kencan kedua itu probabilitas yang sempit kalau yang pertama gagal. Sebagian cerita ditulis dari dunia kelas menengah atas, di mana penampilan dan dress well itu sangat penting. Sebagian memang sangat duniawi motifnya, dan sebagian memang punya kedalaman dan ideologis. Overall, buku ini sangat ringan, lucunya sih moderate, tapi menghibur.

Judul: Kumpulan Cerita Kencan Pertama yang Memalukan | Penulis: Yessica P.F. Kansil, Nathalia Theodora, Adam Yudhistira, Mogo Fresha, Levy, Agustina Dwi Jayanti, Isyana Arharini, Netty Virgiantini. Erni Aladjai, Muhammad Aan | Penyunting: Dea Naugrah | Penerbit: Moka Media, Jakarta Selatan | Tahun: 2014 | Cetakan: I | Dimensi: 12,7 x 19 cm | Jumlah Halaman: 144

Kamis, 29 Januari 2026

Catatan Klenik Studies Vol. VIII Edisi 29 Januari 2026: "Cerita Horor dari Rumah"

I. Pembukaan Diskusi

Klenik Studies Vol. VIII pada tanggal 29 Januari 2026 pukul 20.00 WIB mengambil tema “Cerita Horor dari Rumah”. Diskusi ini membahas tentang bagaimana rumah sebagai ruang domestik menyimpan jejak sejarah, warisan spiritual, trauma kolektif, hingga sugesti sosial. Cerita yang muncul tidak hanya tentang penampakan, tetapi juga tentang keluarga, lingkungan, ekonomi, dan cara orang menafsirkan pengalaman. Diskusi ini diikuti oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, Mi’rajul Akbar, dan Isma Swastiningrum.

Diskusi edisi ini berangkat dari pertanyaan sederhana: mengapa rumah bisa berhantu? Jawaban terkait ini berkembang dari pengalaman personal, cerita turun-temurun, hingga refleksi teoretis tentang memori ruang, trauma domestik, dan dimensi psikologis.

II. Rumah Lama dan Sejarah di Baliknya

Nurizky membuka diskusi dengan kisah tentang rumah yang pernah dia tinggali. Rumah itu menyimpan serangkaian pengalaman yang tidak dialami semua cucu, hanya dua atau tiga orang dari sembilan bersaudara—termasuk dirinya dan adiknya.

Ia menceritakan pintu yang terbuka sendiri dengan tangan besar yang tampak mendorongnya, suara langkah dari lantai atas pada malam tertentu, serta rambut yang tiba-tiba ditemukan tanpa tahu asalnya. Dari garis neneknya yang berdarah Dayak, ada mandau yang pernah bergerak sendiri dan lemari yang bergetar. Seorang pakde bahkan menyebut mandau itu meminta darah. 

Nurizky juga mengaitkan lokasi rumahnya dengan kawasan Samirono dan Gejayan—wilayah yang menurut cerita warga memiliki sejarah kekerasan pada masa perang di Yogyakarta. Ia menyebut insiden “pocong minta diuculi” dan kisah mobil yang tiba-tiba berada di lantai dua bangunan, tapi tanpa mobil itu rusak.

III. Hantu Domestik dan Garis Keturunan

Diskusi lalu bergerak ke relasi antara rumah dan keluarga. Nurizky menceritakan tentang neneknya yang menjelang wafat justru memanggil satu cucu tertentu. Orang yang memahami hal metafisik menyebut adanya “pemberian” secara selektif. Warisan ini tidak selalu diminta, dan tidak selalu jelas fungsinya. Bahkan muncul pertanyaan bagi Nurizky: jika dipilih, untuk apa? Apakah warisan itu mempersiapkan masa depan tertentu, atau justru menjadi beban?

Hantu yang berhubungan dengan keluarga sendiri, bisa berwujud seperti nenek yang sudah meninggal. Dalam kepercayaan Jawa, 100 hari setelah meninggal masih “di situ”. Ada cerita nenek duduk di lemari dan berjalan ke mana-mana, atau lebih sering “menampakkan diri” ke salah satu cucu.

Nurizky juga menjelaskan bahwa keluarganya memiliki latar spiritual: ayahnya kejawen, nenek berdarah Dayak, kakek dari lingkungan keraton. Ia merasa rumah yang ditinggalinya diperkuat oleh energi manusia-manusia yang tinggal di dalamnya.

Ada pengalaman masa kecil Nurizky saat melihat mbak cantik berbaju putih yang menemani ketika ia sendirian di rumah. Ayahnya menyebut sosok itu penunggu pohon mangga depan rumah. Sosok itu ramah, tidak menyeramkan. Namun ia hanya muncul ketika rumah sepi, jarang saat ia bermain PlayStation. Sosok ini tidak diposisikan secara otomatis sebagai jahat; bahkan justru hadir sebagai teman, terutama ketika Nurizky sendirian di rumah. Namun ketika pagar terbuka oleh anggota keluarga lain, sosok itu pergi.

Ketika rumah dikoskan, ternyata kos-kosan itu dihuni banyak perempuan dengan ciri fisik serupa, serta mereka juga betah kos di sana.

Sulkhan menambahkan hantu domestik juga berkelindan dengan pengasuhan bayi. Ia bercerita tentang adiknya yang masih bayi tiba-tiba sudah berada di kolong tempat tidur padahal belum bisa tengkurap sempurna, dia tidak menangis ataupun terluka bahkan ketika dianggap dia jatuh dari amben.

Sulkhan juga menceritakan kisah ibunya saat hamil dirinya: ada sosok yang menerobos jendela kamar pada malam hari. Setelah ia lahir, ibunya sering bermimpi ada sosok yang ingin merebut atau menyakiti anaknya. Ia juga menyebut legenda seperti kuyang yang berfungsi membuat ibu-ibu lebih waspada.

Menurut Sulkhan, rumah adalah simbol peradaban. Ketegangan antara pendatang dan “yang lebih dulu ada” menjadi narasi dominan. Entah itu entitas gaib, atau manusia lain yang mengirim teror psikologis.

IV. Cerita Orang Lain dan Produksi Ketakutan

Nurul mengaku tidak pernah mengalami langsung penampakan hantu di rumahnya. Namun ketakutan justru datang dari cerita orang lain. Ia tinggal di rumah tumbuh yang dibangun bertahap. Keluarganya tidak pernah mengenalkan cerita klenik. Ia menyadari bahwa yang membuat takut bukan penampakan, melainkan spesifikasi cerita: disebutkan lokasi, waktu, hingga detailnya. Banyak rasa takut muncul dari cerita tetangga atau sepupu.

Cerita yang pernah didengar Nurul, seperti ada cerita perempuan berbaju putih di pohon mangga, hantu di loteng, anak kecil di gudang, sosok tinggi di belakang rumah, sosok hitam berjalan di dapur, mbah-mbah duduk di depan rumah. Ketika disebut spesifik dan dikaitkan dengan ruang gelap, ketakutan muncul. Saat kecil, dia sampai tidak berani ke dapur malam hari dan ke toilet harus diantar. Terutama karena area dapur tidak pernah dinyalakan lampunya. Jika lampu dinyalakan, mungkin ketakutan berkurang.

V. Rumah sebagai Kambing Hitam dan Dokumentasi Tragedi

Akbar juga menyinggung film Thailand “Ladda Land”. Dalam film itu, horor tidak hanya muncul dari penampakan, tetapi dari masalah domestik, seperti suami dipecat, istri tidak tahu, relasi keluarga retak. Efek horor hadir dari suasana dan cerita, bukan sekadar makhluk gaib.

Sulkhan mengingat tetangganya yang usahanya tidak pernah berhasil. Rumah menjadi kambing hitam atas ketidaksuksesan dan kegagalan ekonomi. Rumah menjadi tempat proyeksi atas konteks sosial-ekonomi yang tidak berpihak. Ia berpendapat bahwa rumah berhantu kerap menjadi dokumentasi tragedi: bunuh diri, konflik keluarga, atau sejarah kekerasan. Cerita hantu adalah cara masyarakat menyimpan ingatan atas peristiwa yang sulit dibicarakan secara langsung.

Isma menambahkan tentang Rumah Kentang: Mitosnya, setiap lewat di depan rumah ini akan mencium bau kentang digodok. Narasinya, seorang ibu memasak dan anak balitanya kecemplung ke kuali air mendidih hingga meninggal.

Saat keluarga Isma pernah pindah rumah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, ada teman aneh yang suka bercerita tentang kisah horor. Semisal, temannya ini bercerita tentang salah satu rumah tetangga yang menculik anak-anak, tulang dan dagingnya dimasak jadi sup. Temannya juga bercerita tentang pocong-pocong muncul di kawasan tertentu. Wilayah ini sendiri memiliki sanitasi buruk dan kebiasaan masyarakat yang masih BAB di sungai, dengan akses ke sungai yang gelap dan melewati bambu-bambu. Narasi seperti ini bisa dibaca sebagai representasi kecemasan terhadap keamanan anak dan ancaman kriminalitas.

VI. Ritual, Perjanjian, dan Energi Negatif

Isma membagikan kisah tentang pasangan suami-istri yang membeli rumah kolonial luas pada tahun 1960-an. Suami-istri ini memiliki anak-anak yang masih kecil sehingga harus memperkerjakan baby sitter. Namun, baby sitter tidak pernah betah. Suami sakit muntah darah tanpa sebab medis jelas. Suami ini kemudian datang ke “orang pintar”, yang menyarankan ritual menabur garam setiap malam sebelum purnama dalam keadaan telanjang. Ritual suami pas pertama kali gagal setengah jalan, lalu dilanjutkan istri.

Kemudian di dalam mimpi, si suami didatangi penunggu rumah yang marah karena tidak “kulon nuwon.” Terjadi perjanjian: makhluk halus diberi ruang kembali, jika tidak akan mengganggu keturunan beberapa generasi. 

Konsekuensinya mengerikan. Halaman belakang berubah menjadi semacam “pasar hantu.” Warga yang ronda melihat keramaian dengan orang-orang sibuk di dalamnya tapi berwajah pucat. Pada akhirnya pasangan itu meninggal tak wajar, rumah dijual, lalu dihancurkan. Ketika tanah bekas rumah itu diganti dengan koperasi, bahkan koperasi yang berdiri di atasnya bangkrut. Warga percaya energinya masih terpancar. Di sini, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi medan perjanjian antara manusia dan entitas lain.

Isma juga membagikan kisah perempuan yang putus asa mencari kerja dan berkata, “Setan saja tidak kerja bisa hidup.” Perempuan ini kemudian diterima bekerja di rumah Joglo yang ternyata kosong tiga tahun. Ia merasa rumah itu bersih, dan dia melakukan kerja-kerja domestik: mencuci piring, baskom lodeh, dua baju putih. Namun posisi barang selalu kembali seperti semula. Tetangga heran karena rumah itu kosong. Setelah minum air dari orang pintar dari kenalan yang dia datangi, ia melihat wajah asli rumah sebenarnya yang berantakan, berubah muram, dan dua pocong mendekat. Dua orang yang memperkerjakannya, Bu Haji dan Pak Haji, dijadikan avatar oleh dua pocong tersebut.

Si perempuan itu pun pingsan. Narasi menyimpulkan bahwa ucapannya memanggil hal-hal yang tidak dia inginkan menjadi suatu realitas nyata. Ia “diperlihatkan” pekerjaan para pocong, seolah membantah ucapannya sendiri. Di sini, horor menjadi refleksi keputusasaan, energi negatif, dan proyeksi psikis.

VII. Hantu Sebagai Pelindung?

Dalam diskusi ini, Akbar juga mempertanyakan: Adakah hantu yang bukan menakut-nakuti, tetapi melindungi? Varian seperti guardian angel atau khodam disebut. Entitas ini digambarkan Akbar sebagai sosok yang sifatnya tidak mengganggu, tapi malah melindungi.

Nurizky berpendapat bahwa jika ada pelindung, ia bukan menjaga rumah, tetapi menjaga orang. Ada yang “dipilih”, ada yang “diskip”. Penjagaan bisa muncul dalam bentuk firasat. Ada sosok penjaga dengan nama-nama tertentu seperti panji, berbentuk macan, kadang menjelma bayangan kucing yang lewat. Yang dijaga adalah orangnya, bukan bangunan.

Sulkhan menanggapi, dalam konteks pesantren, ada penjaga rumah atau penjaga kiai. Namun pada umumnya, di Indonesia yang dijaga adalah orangnya. Rumah bisa saja kemalingan tanpa “bantuan”, tetapi orang yang dijaga mendapat peringatan.

VIII. Dimensi Psikologis dan Persepsi

Nurul menyebut konsep “residual energi”, energi emosional yang tertinggal dari tragedi. Rumah menyimpan memori aktivitas masa lalu semisal bunuh diri. Dampak dari aktivitas itu terus berjalan dalam dimensi berbeda.

Selain itu, Nurizky juga menyentuh isu: skizofrenia, halusinasi, dan stres berat dapat membentuk pengalaman gaib. Dia juga menceritakan pengalaman mendengar suara (bukan suara batin biasa), yang digambarkan sebagai percakapan timbal balik. Jawaban yang muncul tidak sepenuhnya dikenali sebagai dirinya sendiri. Semacam ada pluralitas: suara masa kecil, suara kini, dan dua suara lain yang tak dikenal. Dalam konteks ini, latihan batin bukan hanya memperdalam kesadaran diri, tetapi juga memperlebar kemungkinan interaksi dengan entitas. Meditasi disebut sebagai salah satu pintu pembuka.

Namun pengalaman ini menurut Nurizky ambivalen. Entitas ini bisa membantu menjawab persoalan spontan, tetapi juga mengganggu, seperti menarik selimut, menghadirkan bayangan, memicu insomnia sejak SMA. Ketika mencoba meminta agar gangguan dikurangi, respons yang dia dapat ambigu. Nurizky melanjutkan, narasi tentang kapasitas manusia memiliki “penjaga” hingga ratusan entitas memperlihatkan imajinasi kuantitatif atas metafisik. Ketika jumlahnya “kelebihan”, dampaknya disebut menyerang fisik dan mental, bahkan memengaruhi emosi dan relasi sosial.

Dalam beberapa situasi, ia merasa seperti “dibantu menjawab” sesuatu. Namun bantuan itu tidak selalu membawa ketenangan. Nurizky pernah membantu orang menggunakan tarot, tetapi merasa tidak nyaman karena seperti adu nasib. Ia juga pernah mendatangi paranormal, tetapi justru merasa paranormal tersebut “kalah” atau tidak mampu mengatasi persoalannya. Ia pernah di kafe, ia merasa bisa membuat es batu dengan gelasnya berbunyi. Ia menghubungkannya dengan kekuatan visualisasi. Namun lagi-lagi, pertanyaan fungsional muncul: “Kalau mereka jagain, fungsinya apa?” Ia merasa kadang hanya menjadi katalis sosial. Dia merasa terkadang ada orang-orang yang datang padanya tanpa sebab, merasa nyaman, atau akrab meski ia kadang merasa pendiam dan ucapannya terbata-bata. Menurutnya, itu benefit yang ia alami dari kehadiran entitas lain tersebut.

Nurizky sendiri justru meragukan konsep guardian angel. Ia merasa entitas yang hadir tidak pernah memperkenalkan diri. Ia bahkan mengimajinasikan struktur entitas tersebut seperti “instansi” atau “HRD” yang merekrut dan menambah entitas—namun lagi-lagi ia bertanya: untuk apa?

IX. Rumah, Tanah, dan Dimensi Paralel

Nurizky mengembangkan gagasan bahwa rumah berdiri di atas tanah yang sudah memiliki penghuni. Aktivitas yang kita sebut “penampakan” bisa jadi hanyalah perbedaan dimensi waktu. “Satu hari kita bisa jadi seratus hari di warga lain (dimensi gaib},” katanya. Ia membayangkan dimensi keempat, kelima, keenam—ruang paralel di mana aktivitas tetap berlangsung. 

Nurizky menambahkan, tanah kosong yang dibangun rumah bisa saja sudah “berpenunggu”. Aktivitas yang terlihat mungkin bukan gangguan, tetapi kebiasaan lama yang masih berlangsung. Warga halus beraktivitas, dan ketika manusia tidak stabil atau sedang “sinkron” dengan entitas gaib, maka terjadi penampakan.Yang terlihat sebagai penampakan bisa jadi hanya “sinkronisasi” antardimensi.

Ada gagasan bahwa waktu tidak selalu linier. Satu hari bagi manusia bisa menjadi seratus hari bagi entitas lain. Komunikasi bisa terjadi seperti percakapan biasa, tetapi sebenarnya terhubung dengan timeline berbeda. Dia menyebut, portal hanya terbuka ketika diizinkan. Konsep ini mendekati gagasan menggali memori bukan dari benda purba, tetapi melalui manusia dan residu ruang. Seolah-olah seseorang bisa masuk sebagai penonton dalam dimensi lain, lalu kembali.

Ada keyakinan bahwa manusia memiliki medan elektromagnetik yang memungkinkan resonansi dengan “dimensi lain”. Dalam imajinasi ini, ketika medan yang sama ditemukan, partikel dapat menyatu, membuka portal tapi tidak harus merusak ruang fisik. Baginya, interaksi lintas dimensi bukan sekadar tahayul, melainkan kemungkinan resonansi energi. Ia menegaskan, bukan berarti menyinggung agama, tetapi menurutnya arwah tidak selalu langsung “naik.” Ada kemungkinan mereka tetap beraktivitas, melihat anak-cucu tumbuh.

Rumah juga dikaitkan dengan materialitas tanah. Materi-materi di sekeliling kita bisa di ranah domestik bisa menyimpan jejak yang tidak kasat mata. Tanah bukan benda mati; ia menyimpan sejarah, bahkan potensi gangguan. Seperti urukan yang tidak jelas asal-usulnya, atau memori tanah yang terserap ke dalam bangunan.

X. Pola-Pola Hantu Rumah

Isma menjelaskan, narasi horor berkaitan dengan rumah muncul dari beberapa pola:

1. Narasinya lokal dan personal, dan biasanya dihadapi oleh penghuni baru, awam, dia tidak tahu apa-apa. Keawaman ini jadi pintu untuk masuknya hal-hal gaib.

2. Cerita horor di rumah ini selalu berkaitan dengan sejarah rumah atau pemilik sebelumnya. Cerita horor sering jadi mekanisme kontrol sosial: misal, mengingatkan anak-anak agar tidak masuk ke area tertentu. Bisa juga sebagai cara masyarakat melestarikan sejarah atau trauma kolektif, contohnya rumah yang dulunya ada peristiwa tragis.

3. Ritual dan praktik “pembersihan”. Ada ritual tertentu untuk “mengusir” atau “menenangkan” makhluk halus di rumah? Apa simbol atau benda yang dianggap bisa menolak energi negatif (misal garam, dupa, patung)?

4. Dimensi psikologi dan persepsi: Fenomena horor bisa muncul karena ketakutan, sugesti, atau pengalaman traumatis. Bagaimana orang menafsirkan suara, bayangan, atau perasaan aneh di rumah? Kaitan antara cerita horor dengan stres, kecemasan, atau pengalaman hidup penghuni.

5. Representasi ketakutan masyarakat terhadap ancaman nyata (misal kriminalitas, keamanan anak). Teman sebaya yang diajak bermain saat kecil mungkin mengekspresikan kecemasan atau pengalaman sehari-hari melalui narasi yang menakutkan.

XI. Penutup dan Kesimpulan

Rumah berhantu bukan hanya soal makhluk halus, tetapi juga pertemuan antara memori ruang, ketegangan sosial, sejarah yang tidak selesai, dan imajinasi manusia. Rumah dalam percakapan ini tidak pernah hadir sebagai sekadar bangunan fisik; ia muncul sebagai ruang liminal, tempat dimensi-dimensi lain diyakini dapat bersinggungan secara langsung dengan manusia.

Ia sering kali berasal dari keangkeran alam yang kemudian dijadikan bangunan, dan berhubungan dengan masa lalu ruang tersebut. Rumah dilihat sebagai hasil “invasi” manusia atas tanah. Manusia sebagai pendatang membangun peradaban di atas ruang yang mungkin sudah lebih dulu “dihuni”. Ketegangan muncul antara manusia dan entitas yang dianggap terjajah. Narasi berhantu sering berkisar pada perebutan ruang dan legitimasi untuk tinggal.

Beberapa alasan mengapa rumah berhantu: (a) Histori berdirinya rumah: ada rumah yang berdiri di atas tanah terlarang, bekas rumah sakit, bekas pasar zaman penjajahan, rumah dianggap mendokumentasikan tragedi. (b) Konflik keluarga: ruang yang pernah menjadi lokasi bunuh diri atau konflik berat, ketika dialihfungsikan (misal jadi kantor atau tempat ibadah), tetap masih membawa narasi sebelumnya. (c) Kiriman dan serangan psikologis: ketegangan manusia versus manusia dapat memunculkan “teror” yang dibaca sebagai gangguan gaib.

Diskusi Klenik Studies akan berlanjut pada 26 Februari 2026 dengan tema “Ilmu Hitam dan Kanuragan.” Jika edisi ini berbicara tentang rumah sebagai ruang berhantu, edisi berikutnya akan masuk lebih jauh: ketika tubuh manusia sendiri hingga barang-barang di sekitarnya menjadi sarana gaib.

Senin, 19 Januari 2026

Berserah Diri

Ya Allah, aku berserah diri pada-Mu, seluruh hidupku adalah untuk pelayanan-Mu.

Jumat, 16 Januari 2026

Color Walk "Magenta" di Kota Langsa

Semalam, aku dan Binar diskusi random soal warna magenta. Ini berawal dari pengamatanku saat tugas di lapangan, karena dasarku suka ngamatin pola, aku merasa ibu-ibu di sepanjang bolak-balik Aceh Tamiang ke Kota Langsa, sering aku menjumpai ibu-ibu memakai pakaian warna magenta. Mirip warna dominan icon Instagram. Yang boleh dikatakan itu cukup ngejreng di mata. Binar menanggapi, "Bukannya ibu-ibu suka warna kayak gitu ya? Terlebih di Melayu. Kadang mereka suka warna kuning." Dan obrolan berlanjut ke warna lain. Lama gak olahraga, pagi ini, aku iseng color walk, fokus warna magenta. Ternyata cukup banyak warna magenta yang kutemukan meski baru setengah jam jalan. 

Selasa, 06 Januari 2026

Catatan Klenik Studies Vol. VII Edisi 25 Desember 2025: "Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi"

I. Pembukaan dan Kilas Balik Diskusi Sebelumnya

Tema Klenik Studies edisi Hari Natal, Kamis, 25 Desember 2026, bertema “Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi”. Peserta yang hadir terdiri dari: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, dan Isma Swastiningrum.

Sulkhan membuka pertemuan dengan menegaskan bahwa diskusi hari ini melanjutkan obrolan sebelumnya tentang hantu di institusi pendidikan. Mengingatkan kembali pembahasan yang berangkat dari hantu sebagai politik ingatan. Ia menyinggung cerita-cerita hantu di sekolah masing-masing peserta: dari cerita turun-temurun di desa, kerangka manusia di ruang laboratorium sekolah Nurizky yang berasal dari tukang kebon, hingga suara-suara misterius di sekolah. Isma sebelumnya menyinggung hantu sekolah sebagai representasi trauma yang diwariskan lintas generasi.

Pertanyaan utama yang hendak diteruskan: mengapa pengalaman traumatis itu terus hidup di dunia pendidikan, dan mengapa ia diwujudkan dalam figur hantu. Dari sisi psikologi, menurut Sulkhan, masih ada celah yang perlu dibahas lebih jauh.

II. Tipologi Hantu di Universitas

Isma membagi fenomena hantu di universitas ke dalam beberapa pola:

1. Relasi Dosen-Mahasiswa: Kisah dosen yang mengajar di kelas lantai tiga pada sore hari. Mahasiswa di kelas itu berwajah pucat tanpa ekspresi. Dosen tersebut tetap mengajar hingga 3 SKS selesai. Setelah keluar kelas, ia baru menyadari bahwa dirinya telah berada di kelas tersebut selama tiga hari.

2. Mahasiswa Abadi: Kasus Mbak Yayuk di UGM, khususnya populer di Fakultas Ekonomi. Ia adalah mahasiswi angkatan lama yang skripsinya berkali-kali ditolak hingga mengalami stres berat dan bunuh diri.

3. Mahasiswa Bunuh Diri: Mahasiswi UI berinisial MPD (21), angkatan 2019 FISIP Ilmu Komunikasi, ditemukan tewas di apartemen Kebayoran Baru, beberapa hari sebelum wisuda.

4. Hantu Perempuan dan Ruang Kampus: Selain Mbak Yayuk, urban legend Mbak Rohana di jembatan Perawan UGM (penghubung Pertanian–Kedokteran Hewan). Sosok perempuan berkerudung yang jatuh dari jembatan lalu menghilang.

5. Hantu sebagai Kontrol Sosial Agar Tak Pulang Malam: Cerita mahasiswa yang menyeberangi jembatan berkabut pukul 11 malam, melihat rambut dan kepala menggantung di tiang jembatan. Di UNILA juga dikenal penampakan dua perempuan kembar bergaun hitam di sekitar beringin, yang membuat mahasiswa enggan keluar setelah senja.

Kisah-kisah ini tidak lepas dari situasi dan problem struktural kampus itu sendiri. 

III. Transisi, Ritus, dan Mahasiswa Abadi

Akbar melihat fenomena hantu di universitas, khususnya mahasiswa berkaitan dengan fase transisi. Mahasiswa berada di masa kepompong. Ketika transisi itu tertahan, terutama di skripsi, muncul trauma dan ketakutan universal: takut tidak berfungsi di masyarakat. Hantu mahasiswa abadi menjadi simbol kebuntuan itu. Dalam konteks transisi dan ritus, mahasiswa diposisikan sebagai subjek yang sedang berada di ambang: belum sepenuhnya menjadi bagian dari dunia kerja atau masyarakat, tetapi juga tidak lagi sepenuhnya berada dalam fase belajar yang aman. Universitas berfungsi sebagai ruang ritus peralihan, dengan skripsi, tugas akhir, dan kelulusan sebagai ambang simboliknya.

Ketika ritus ini gagal dilalui (skripsi tak selesai, wisuda tertunda, atau tekanan mental terlalu berat) mahasiswa seolah terjebak dalam fase liminal yang berkepanjangan. Figur “mahasiswa abadi” kemudian muncul sebagai imaji kolektif atas kegagalan transisi itu: tubuhnya tetap berada di kampus, ruang kelas, perpustakaan, atau lorong-lorong akademik. Ada ketakutan, tidak benar-benar menjadi apa-apa dan tidak sampai ke fase kehidupan berikutnya.

Sementara menurut Isma, label “mahasiswa abadi” tidak selalu merujuk pada hal yang negatif, tetapi juga positif. Dari pengalamannya, dia memperhatikan kadang menjadi mahasiswa abadi juga merupakan pilihan sadar si mahasiswa sendiri untuk memaksimalkan skill dan pengalamannya di kampus, terutama terjadi pada anak-anak seni/teater. Melenceng dari anjuran kuliah dari pemerintah, maksimal 5 tahun.

IV. Hantu Perempuan, Patriarki, dan Perlawanan

Nurul mengaitkan fenomena hantu perempuan di kampus dengan tulisan Aihwa Ong berjudul Spirits of Resistance and Capitalist Discipline”. Hantu perempuan dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap patriarki dan kapitalisme. Selain dipahami sebagai bentuk perlawanan, hantu perempuan dalam konteks kampus dan ruang publik juga bekerja sebagai alat pendisiplinan tubuh perempuan itu sendiri.

Menganalisis lebih lanjut, cerita-cerita tentang Mbak Yayuk, Mbak Rohana, perempuan jatuh dari jembatan, atau sosok berambut panjang di ruang-ruang sepi sering kali berfungsi ganda: di satu sisi menyuarakan trauma, kekerasan, dan ketidakadilan yang dialami perempuan dalam sistem patriarkal; di sisi lain justru menjadi mekanisme kontrol agar perempuan tidak berada di ruang tertentu, tidak pulang malam, tidak sendirian, dan tidak melampaui batas moral yang ditentukan. Dengan demikian, figur hantu perempuan tidak sepenuhnya membebaskan, karena narasi horornya kerap direproduksi untuk menjaga keteraturan sosial dan menegaskan siapa yang “pantas” berada di ruang publik.

Sementara itu, dari cerita Nurizky, kisah Slamet Suroyo di UII memperlihatkan bagaimana hantu tidak hanya hadir sebagai residu trauma, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan. Slamet dikenal sebagai mahasiswa yang berusaha membongkar dugaan korupsi dalam proyek pembangunan kampus, sebelum akhirnya meninggal. Setelah kematiannya, yang beredar bukan sekadar cerita duka, melainkan urban legend tentang buku laporan bertanda tangan darah yang dijaga sosok pocong. Wujud pocong itu mencerminkan posisi perjuangan Slamet yang terhenti di tengah jalan, melainkan tetap “berjaga” pada dokumen, ingatan, dan upaya perlawanan yang gagal diselesaikan semasa hidup, menjadikan perhantuan sebagai arsip aktivisme yang sering tak diakui secara resmi.

V. Ingatan, Benda, dan Ruang 

 

Sulkhan menekankan bahwa hantu merefleksikan sesuatu yang tidak selesai. Ia menyinggung, dalam bahasan tentang ingatan, muncul pula cerita bahwa memori tidak hanya melekat pada manusia, tetapi juga menempel pada benda-benda sekolah: bangku kelas, sudut ruangan, laboratorium, dan perpustakaan.

Ia menautkan ini dengan studi memori: benda bisa menjadi pemicu ingatan. Dia mempertanyakan, mengapa ingatan itu berubah menjadi horor? Menurutnya, mitos-mitos hantu di universitas, termasuk larangan dan cerita seputar lagu “Gugur Bunga”, perlu dibaca dengan menelusuri latar sejarah UGM sendiri, karena sangat mungkin berakar pada peristiwa traumatis tertentu, seperti ingatan kolektif tentang kekerasan negara dan penembakan misterius (Petrus), yang kemudian disublimasikan menjadi cerita horor dan peringatan moral di ruang kampus.

Termasuk dengan mitos “Gugur Bunga” di Bundaran UGM, Nurizky menceritakan bahwa versi kisah bundaran Teknik UGM yang ia dengar agak berbeda, berdasarkan pengalaman teman-temannya di gang “Oestad” yang pernah melakukan vandalisme di area tersebut. Mereka menggambarkan sosok seperti raksasa bermata merah dan berbulu tinggi yang muncul sebagai urban legend untuk mengurangi kenakalan remaja, terutama pacaran yang dianggap melewati batas, mengingat kawasan itu sepi dan hampir tidak dilalui orang pada malam hari.

Isma juga membahas terkait cerita kereta hantu UI–Tebet dibahas sebagai contoh keterikatan hantu pada ruang transisi (kelas, stasiun, kereta). Kisah mahasiswa yang menaiki kereta dari Stasiun UI menuju Stasiun Tebet memperlihatkan bagaimana hantu bekerja sebagai politik ruang. Ketika seorang mahasiswa pulang terlalu malam, kelelahan dan tidak sepenuhnya sadar; di dalam kereta, dia bertemu dengan penumpang berwajah pucat, kereta yang tak berhenti di stasiun mana pun, hingga si mahasiswa bahwa ia sebenarnya berjalan kaki di sepanjang rel. 

VI. Kiai, Kesucian, dan Stratifikasi Hantu

Sulkhan menjelaskan bahwa dalam tradisi pesantren, kiai hampir tidak pernah dicitrakan sebagai hantu menyeramkan. Bahkan jika hadir dalam mimpi, ia dianggap membawa berkah. Ada strata dalam perhantuan: orang suci tetap suci setelah mati.

Sulkhan menyoroti bahwa hampir tidak pernah ada kisah kiai yang menjadi hantu menyeramkan. Jika pun muncul setelah wafat, kehadiran kiai lebih sering dimaknai sebagai pertanda baik, dia muncul dalam mimpi, memberi isyarat, atau dianggap membawa berkah. Bahkan dalam cerita pesantren, ada keyakinan bahwa semakin dekat seseorang dengan Tuhan, rohnya justru semakin bebas: dapat hadir di banyak tempat, “menumpang” makhluk lain, atau berfungsi sebagai penjaga.

Fenomena ini menunjukkan adanya stratifikasi dalam dunia hantu, di mana kesucian semasa hidup menentukan bagaimana sosok itu dibayangkan setelah mati. Santri yang kualat bisa menjadi cerita horor, tetapi kiai tidak; bahkan jika kiai mati secara tidak wajar, imajinasi kolektif enggan mencitrakannya sebagai hantu. Hal ini kontras dengan mahasiswa atau siswa yang mati karena tekanan akademik, tugas akhir, atau ketidakadilan struktural; yang justru dengan mudah diposisikan sebagai hantu gentayangan. Stratifikasi ini memperlihatkan bahwa perhantuan tidak netral: ia mengikuti hierarki moral, religius, dan simbolik, di mana mereka yang dianggap suci tetap suci bahkan setelah mati, sementara yang berada di posisi subordinat lebih rentan dijadikan figur horor.

Sulkhan dan Nurul menyinggung film Pengabdi Setan—ustaz yang bisa dikalahkan oleh setan, tapi kiai hampir tak pernah kalah oleh setan. Pola film seperti ini hadir baru-baru ini (karena ada hubungannya juga dengan politik Orde Baru).

Nurizky mengaitkannya dengan mayoritas agama dan penjagaan citra religius. Dalam diskusi juga muncul catatan tentang bagaimana representasi hantu berkaitan dengan mayoritas agama, khususnya Islam. Di Indonesia, figur kiai hampir tidak pernah muncul sebagai hantu menyeramkan, sementara justru beredar kisah seperti pastor hantu di Jeruk Purut. Hal ini dibaca bukan semata soal iman, melainkan soal penjagaan citra keagamaan di ruang publik: karena Islam menjadi agama mayoritas, figur-figur sentralnya cenderung dilindungi dari representasi horor agar tidak merusak wibawa simbolik. Akibatnya, figur dari agama minoritas lebih “aman” untuk dimistifikasi atau dijadikan cerita hantu, karena tidak menanggung beban representasi mayoritas.

VII. Mahasiswa vs Dosen: Relasi Kuasa

Menanggapi Sulkhan terkait sangat jarang kiai yang menjadi hantu, Isma mencatat bahwa mahasiswa jauh lebih sering menjadi hantu dibanding dosen. Bahasan tentang mahasiswa versus dosen memperjelas bahwa kemunculan hantu di kampus tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa yang timpang. Mahasiswa berada pada posisi subordinat: jumlah banyak dan suara lemah. Karena itu, ketika terjadi kegagalan (skripsi tak selesai, tekanan mental, hingga bunuh diri) yang “menjadi hantu” hampir selalu mahasiswa, bukan dosen.

Akbar melihat ini sebagai jembatan psikologis dan relasi kuasa: mahasiswa berada dalam ritus peralihan, dosen dianggap sudah “selesai”. Dosen jarang dibayangkan sebagai hantu karena secara simbolik mereka dipersepsikan sudah selesai, mapan, dan memiliki otoritas; bahkan ketika mereka problematik, horor tidak diarahkan ke sana.

Sulkhan menegaskan bahwa mahasiswa adalah subjek yang sedang menuju kematangan; kegagalan mencapai titik itu melahirkan hantu. Meskipun jika diberi kacamat pembesar, dosen berada di posisi yang juga problematik, berbeda dengan kiai yang tetap dicitrakan suci bahkan setelah mati.

VIII. Hantu di Kampus Luar Negeri

Diskusi kemudian menyinggung kisah-kisah horor di kampus luar negeri. Isma bercerita, di Universitas Heidelberg, Jerman, selama era Nazi, banyak profesor dikirim ke kamp konsentrasi. Hingga kini beredar klaim bahwa di ruang kelas lama, papan tulis sering terhapus sendiri dan dipenuhi tulisan-tulisan misterius. Di lokasi pembakaran buku-buku terlarang sebelum Perang Dunia II, beberapa orang mengaku masih mencium bau terbakar. Ingatan akan kekerasan negara dan pemusnahan pengetahuan itu seolah tidak benar-benar hilang dari ruang akademik.

Di University of St Andrews, Skotlandia, kampus disebut dihuni oleh beragam entitas gaib: biarawan hantu, perempuan hantu, pemain seruling, hingga kapal hantu. Di Universitas Nagasaki, Jepang, arwah korban bom atom Amerika Serikat pada 9 Agustus 1945 dipercaya menghuni area kampus. Trauma perang dan kehancuran massal tidak hanya tercatat dalam arsip sejarah, tetapi juga hidup dalam imajinasi kolektif dan kisah perhantuan.

Sementara itu, di University College London (UCL), Inggris, dikenal legenda hantu seorang gadis muda bernama Emma Louise. Ia konon muncul jika namanya disebut tiga kali. Emma dipercaya dibunuh di terowongan yang menghubungkan gedung modern UCL dengan gedung Cruciform yang lebih tua. Sekelompok mahasiswa yang mencoba memanggil namanya mengaku mendengar tawa perempuan dan menemukan tulisan “tolong aku”, “mati”, dan “pembunuhan” di dinding.

Sulkhan menanggapi bahwa pola ini konsisten: di luar negeri pun, hantu-hantu kampus hampir selalu berasal dari mereka yang tidak memiliki otoritas, korban perang, korban kekerasan negara, atau individu yang terpinggirkan oleh sejarah besar. Mereka bukan figur berkuasa, melainkan sisa-sisa tragedi yang tidak pernah benar-benar selesai. Bahasan ini mempertegas bahwa hantu, baik di kampus lokal maupun global, berfungsi sebagai penanda ingatan kolektif atas ketidakadilan, kekerasan, dan sejarah yang tidak tuntas.

IX. Hantu, Kelas Sosial, dan Ketidakadilan

 

Diskusi berkembang ke hantu sebagai representasi kelas tertindas, seperti buruh pabrik, mahasiswa, rakyat biasa, bukan elite. Hantu muncul dari posisi yang tidak punya kuasa. Pembahasan tentang hantu, kelas sosial, dan ketidakadilan menegaskan bahwa figur hantu hampir selalu berasal dari posisi yang kalah secara struktural. Yang menjadi hantu bukan manajer, pemilik modal, dosen elite, atau penguasa, melainkan mahasiswa yang gagal lulus, buruh yang mati di tengah kerja, atau individu yang tidak memiliki ruang untuk menyelesaikan konfliknya secara adil.

Nurizky menyebut, elite dan kelompok berprivilege cenderung tidak dihantui karena mereka memiliki jarak emosional, logika rasional, dan sumber daya untuk tidak berhubungan dengan hal-hal mistis, sementara kelas bawah dipaksa menanggung beban hingga ke kematian. Hantu tidak pernah benar-benar menyentuh elite.

Nurizky menambahkan bahwa kemunculan hantu juga berkaitan dengan tingkat rasionalitas dan pilihan subjektif manusia. Ia bercerita pernah berbincang dengan kalangan pengusaha yang cenderung tidak memikirkan hal-hal mistis. Golongan ini tidak berarti lebih beriman, melainkan karena logika dan posisi sosial yang membuat mereka tidak memberi ruang pada pengalaman semacam itu. Sementara itu, dari kecil, kita justru terus mengonsumsi narasi hantu, sehingga lebih “tersedia” untuk dipinjam atau dihantui.

Nurizky lalu berimajinasi soal keinginannya jika kelak menjadi hantu, ingin berwujud hantu yang keren—macam Gundam—seperti di beberapa budaya lain, misalnya ksatria Templar atau figur horor ikonik di Barat. Di kisah lain ada Elizabeth Báthory dengan tradisi satanisnya. Menurutnya, wujud hantu bukan sesuatu yang netral, melainkan hasil negosiasi antara imajinasi budaya, posisi sosial, dan izin personal: hantu menakutkan muncul karena memang difungsikan untuk menakuti, sementara pada tingkat spiritualitas tertentu, manusia justru bisa berdiri setara dengan entitas itu dan tidak lagi takut.

X. Spiritualitas, Elite, dan Kekuasaan

Diskusi berlanjut ke Soekarno, Soeharto, spiritualitas elite, logika mistika, dan kemampuan “bekerja sama” dengan entitas gaib alih-alih dihantui. Isma mempertanyakan dari bahasan sebelumnya terkait kelas/strata perhantuan, dan bagaimana mereka yang katakanlah dari kalangan bawah bisa melakukan “hack” untuk bisa naik kelas?

Nurizky membahas energi, cakra, dan eksklusivitas kelas. Manusia dipahami memiliki spektrum energi (bawah, tengah, dan atas) yang membentuk karakter, cara berpikir, dan posisi sosial seseorang. Energi yang dianggap “di atas rata-rata” membuat seseorang lebih cepat membaca situasi, lebih strategis, dan lebih mudah melakukan “hack” dalam relasi sosial. Contohnya Soekarno yang dipandang memiliki karisma dan wibawa tanpa perlu kehadiran langsung, serta Soeharto yang digambarkan seperti pemain catur ulung, mampu menentukan langkah jauh sebelum situasi terlihat jelas.

Konsep tujuh cakra disebut sebagai kerangka untuk memahami perbedaan ini, di mana bentuk energi tiap orang tidak sama dan mengarah ke fungsi yang berbeda: ada yang menjadi pemimpin, manajer, tentara, atau pemikir akademik. Dalam pandangan ini, spiritualitas tidak selalu sejalan dengan religiositas formal atau moralitas ritual, melainkan dengan kemampuan menyatu dengan alam, membaca keadaan, dan mengelola energi diri untuk bergerak naik dalam struktur sosial.

Soekarno dan Soeharto sebagai contoh figur elite yang tidak dibayangkan sebagai sosok yang “dihantui”, melainkan justru digambarkan mampu mengelola atau bahkan bekerja sama dengan dunia spiritual. Keduanya kerap dipahami memiliki spiritualitas tinggi, bukan dalam pengertian moralitas yang luhur, melainkan sebagai kemampuan melampaui rasa bersalah, takut, dan keterikatan emosional yang biasanya menjadi sumber kemunculan hantu. Dalam logika elite kekuasaan, dunia mistik tidak hadir sebagai gangguan, tetapi sumber daya yang bisa dinegosiasikan, dikelola, atau dijadikan bagian dari strategi.

Spiritualitas tidak selalu berkelindan dengan moralitas sebagaimana dalam kisah pewayangan yang disebut Sulkhan, terkait saudara, perang, dlsb. Karena itu, tragedi kemanusiaan, termasuk kematian massal, tidak serta-merta menghantui pelaku di posisi atas, sebab mereka tidak menghayati peristiwa itu sebagai beban personal, melainkan sebagai angka, kebijakan, atau konsekuensi sejarah. Spiritualitas tinggi tidak otomatis beriringan dengan moralitas, dan justru mereka yang melampaui kemanusiaan sehari-hari sering kali menjadi kebal terhadap hantu-hantu rasa bersalah, sementara yang tertindas dan tak berkuasa terus hidup sebagai cerita perhantuan.

Nurul menyoroti faktor pendidikan dan lingkungan. Dia menyinggung buku The Geography of Genius untuk mempertanyakan apakah Soekarno dan Soeharto memiliki privilese ruang dan waktu untuk belajar dengan lebih tenang, sehingga memungkinkan mereka mengenal diri sendiri dan “meng-hack” situasi ketika sudah berada dalam posisi berkuasa. Ia mencontohkan Soekarno yang sempat mengenyam pendidikan di Eropa dan di ITB, sehingga pengalaman intelektual dan lingkungannya membentuk cara berpikir yang berbeda. Menurutnya, lingkungan dan pola pendidikan sangat mempengaruhi arah energi seseorang: di Eropa, seni dan musik berkembang dalam kerangka institusional, sementara di negara berkembang kesenian lebih lekat dengan rakyat dan pengalaman sehari-hari.

Akbar mengaitkannya dengan karisma pemimpin, kehadiran (presence), dan pertarungan narasi—antara hantu orang tertindas dan figur pemimpin yang dianggap adil. Akbar menyinggung bahwa karisma pemimpin sangat bergantung pada seberapa “nyata” ia hadir di hadapan pengikutnya. Kehadiran ini bukan semata soal jabatan, tetapi soal kemampuan untuk terus muncul, terlihat, dan dirasakan; baik melalui praktik meditasi yang membuat seseorang lebih present dalam hidup, maupun melalui kerja narasi yang konsisten.

Pemimpin dengan logika mistika yang kuat berusaha mengalahkan narasi tandingan dengan membangun citra yang lebih nyata dan meyakinkan, sehingga kepercayaan publik tertarik dan menumpuk pada dirinya. Dalam konteks ini, terjadi pertarungan narasi antara cerita tentang hantu orang-orang tertindas dengan figur pemimpin yang dipersepsikan adil dan hadir. Akbar mencontohkan figur seperti Ferry Irwandi di Instagram, yang oleh sebagian orang diposisikan hampir seperti mesias digital, karena kemampuannya membuat diri terasa lebih nyata dan relevan dibanding narasi lain yang bersaing di ruang publik.

XI. Kesimpulan

Pertama, hantu di institusi pendidikan, khususnya universitas, muncul dari posisi yang belum selesai dan tidak berdaya. Mahasiswa, siswa, buruh, dan korban kekerasan struktural lebih sering menjadi hantu dibandingkan dosen, guru, atau elite, karena mereka berada dalam fase transisi dan relasi kuasa yang timpang. Kematian, kegagalan, atau keterhentian di tengah proses belajar dan berjuang menciptakan residu pengalaman yang tidak menemukan saluran penyelesaian di dunia nyata, lalu hidup sebagai cerita perhantuan.

Kedua, hantu bekerja sebagai politik ingatan dan politik ruang. Ingatan kolektif tentang trauma, ketidakadilan, dan kekerasan melekat pada ruang-ruang tertentu (kelas, bangku, jembatan, stasiun, kereta) yang kemudian tidak lagi netral. Melalui cerita hantu, ruang-ruang ini mengatur tubuh, waktu, dan perilaku. Pendisiplinan ini di antaranya secara tidak langsung mengatur siapa yang boleh hadir, kapan harus pulang, dan apa konsekuensi jika melampaui batas. Dengan cara ini, hantu menjadi medium disiplin sosial.

Ketiga, hantu menandai jurang antara yang tertindas dan yang berkuasa. Elite politik, agama, dan ekonomi jarang dibayangkan sebagai sosok yang dihantui, karena mereka tidak menghayati tragedi sebagai pengalaman personal, melainkan sebagai kebijakan, angka, atau strategi. Spiritualitas elite justru sering dipahami sebagai kemampuan mengelola atau menegosiasikan dunia gaib, bukan tunduk padanya. Akibatnya, hantu tidak pernah benar-benar menyentuh pusat kekuasaan, melainkan terus berputar di pinggiran, pada mereka yang suaranya tidak terdengar semasa hidup.

Sebagai refleksi bersama, merasa dihantui bukan semata soal ketakutan, melainkan tanda kepedulian terhadap kemanusiaan. Hantu mengingatkan bahwa di balik statistik, institusi, dan ritus pendidikan, ada individu dengan nama, tubuh, dan sejarah yang terhenti. Selama ketidakadilan, relasi kuasa timpang, dan perjuangan yang tak selesai terus direproduksi, cerita-cerita hantu akan tetap hidup. Ia berfungsi sebagai peringatan, sebagai arsip, dan sebagai cermin bagi kehidupan.

XII. Tindak Lanjut

Pertemuan Klenik Studies berikutnya dengan tema: Cerita Horor dari Rumah, yang akan dilaksanakan pada Kamis, 22 Januari 2026. Tema ini sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Tema lanjutan tentang hantu dari rumah berangkat dari cerita Rumah Kentang. Rumah itu kosong, tidak dihuni, tetapi setiap kali orang melintas selalu tercium bau kentang yang sedang direbus. Mitos yang beredar menyebutkan seorang ibu lalai saat memasak kentang dalam kuali besar hingga anaknya yang masih balita tercebur ke dalamnya.