Minggu, 10 Mei 2026

Terima Kasih Rayap

Terima kasih surprised-nya rayap yang gemuk-gemuk dan ginuk-ginuk. Aku tak menyangka ini akan terjadi pada buku-buku dan koleksiku juga. Kesalahanku:

  1. Memepetkan rak berbahan kayu ke tembok. 
  2. Menaruh kardus di bawah kolong meja yang lembab. 
  3. Serangan rayap ternyata seklandestin itu. Meskipun dari depan terlihat rapi dan baik, eh, koloni rayap kelas pekerja atas perintah ratu rayap berhasil memomotkan buku-buku yang dikiranya snack itu.
 
Tapi baiklah, kau sudah bisa kuatasi, tapi makan Indomie telor dulu. Dan aku pakai rak kayunya untuk barang-barang lain yang sering kupakai saja. Darimu rayap, aku belajar:
  1. Kau mengajariku untuk gak hoarding dan impulsif beli buku banyak lagi. Kehilangan ini benar-benar membuka kesadaranku yang lain akan benda-benda yang kusuka juga adalah sementara. No greed, no hoarding. 
  2. Kau mengajariku tentang equality. Rayap tak bisa membedakan mana buku berkualitas, mana yang tidak, mana tulisan top, mana yang cuma 'yapping', mana yang mahal, mana yang murah, mana yang emosional, mana yang biasa saja; baginya, semua kertas adalah sama. Persetan dengan isinya. 
  3. Meskipun kau kecil, lemah, ringkih, tak berdaya, dan bisa kupites dengan mudah, kau punya kemampuan luar biasa meluluhkan benda sekeras kayu.

Salah satu prestasiku keknya bisa menghadapi up and down segala tentang buku, tapi juga sesuatu yang berhubungan dengan materi. Yang kehilangan setahunan yang lalu juga berat, tapi terlalui juga kan. Jadi, ikhlas dan tenanglah.

Selasa, 05 Mei 2026

Poskolonialisme dalam Kritik Sastra

Sesi IV kelas kritik sastra DKJ, "Poskolonialisme dalam Kritik Sastra" oleh Asri Saraswati via Zoom, Selasa, 5 Mei 2026.

Asri menjelaskan, teori hanya dipakai ketika dibutuhkan. Teori poskolonialisme merupakan salah satu teori pascastrukturalis dan posmodernis. Mengenali struktur dan hierarki antarkelompok, tapi juga mencari ketidaksinambungan dan ambivilansi dalam struktur. Bersilangan dengan feminisme dan Marxisme. Para ahlinya membaca dekat teks dan memperhatikan hubungannya dengan konteks. 

Poskolonialisme terdiri dari dua kata: post merupakan masa, penunjuk waktu "setelah". Namun, tak sekadar setelah dia juga sebagai pemikiran yang "melampaui" kolonialisme. Mencermati dan mengkritisi kolonialisme dan instrumennya. Seringkali yang dianggap awal dari poskolonialisme adalah buku Edward Said dalam bukunya "Orientalisme" (1978). Saat kelahiran buku ini, memberikan pengaruh yang besar dalam dunia akademia. 

Said sendiri merupakan penulis dari Palestina. Ia mengkaji sastrawan dan ilmuwan Barat yang mempelajari orient (Timur). Said mengumpulkan tulisan para orientalis yang menafsirkan Timur sebagai "terbelakang", "kosong", dan "perlu diselamatkan". Ia mencermati jika sastra dan akademisi menjadi alat bantu penjajahan. Ada ideologi yang ada dalam karya atau yang bekerja dalam tulisan, yaitu supremasi ras kulit putih dan imperialisme mempengaruhi sastra dan ilmu pengetahuan. Mereka justru membantu penjajahan. 

Karya-karya sastra ini bisa ditemukan di mana-mana. Namun di sini, Asri menunjukkan puisi karya Rudyard Kipling berjudul "The White Man's Burden" (1899). Puisi ini tentang Spanyol menyerahkan jajahannya Filipina ke Amerika Serikat. Tulisan ini bicara dorongan penulis agar orang AS mengambil beban kulit putih, menyelamatkan orang-orang Filipina. Ada kata-kata yang stereotiptikal, seperti "half devil and half child" atau "run amok" (yang tidak bisa diatur). Nada-nadanya seolah-olah yang dilakukan orang kulit putih ini hal yang baik. Penjajahan bukan kekerasan tapi dianggap penyelamatan! Di mana sebuah ras dianggap lebih kuat dibanding ras yang lain. 

Tulisan Kipling juga diberikan ilustrasi yang jelas sekali antara kulit putih dan kulit hitam. Ia bersandar pada stereotip: kita vs mereka, logis vs primitif, maju vs sederhana. Penduduk asli dianggap tidak mampu memutuskan nasib dan mengatur dirinya. 

Said dalam "Orientalisme" menggambarkan mekanisme penjajahan. Penggambaran Timur sebagai terbelakang dan kosong menjadi pembenaran bagi kolonialisme dan imperialisme untuk terjadi. Imperialisme digambarkan sebagai bentuk "penyelamatan" dan "bantuan" pada pihak yang dijajah untuk menjadi maju. 

Dampak orientalisme pada seni, di antaranya lukisan lanskap dan fotografi di abad ke-19 Amerika. Misal lukisan oleh Thomas Cole. 

Yang menarik dari orientalisme Said, kelompok yang dianggap berbeda (the others) juga digambarkan sebagai hal yang eksotis, yang misterius, yang diinginkan, yang difetiskan, karena nampak yang berbeda. Ini hubungan yang cukup sakit. Ini terjadi hingga hari ini, misal ketika seseorang melihat Afrika.

Kenapa masih membahas poskolonialisme? Karena hingga sekarang, pembedaan dengan yang liyan itu masih kental. Masih ada struktur dan ideologi sebagai dampak dari kolonialisme, seperti feodalisme, atau kerja sama dengan ideologi baru seperti kapitalisme. Kolonialisme tidak terhenti, tapi berubah bentuk. Sebagai pendekatan, pascakolonialisme mencermati pemisahan kita dan mereka, termasuk istilah global south - global north. 

Asri mencontohkan juga foto di sampul majalah National Geographic berjudul "The Afghan Girl" (1985), dengan caption, "haunted eyes tell of an Afghan refugee's fears", yang juga menunjukkan bagaimana orientalisme bekerja. Perempuan yang difoto ini ternyata masih hidup, dia sedang ikut sekolah, lalu dipotret oleh fotografer laki-laki dari Barat. Ada proses pengambilan foto yang tidak menghormati budaya setempat, hanya mengambil eksotisasi perempuan Timur. Seakan-akan mencuri privasi subjek yang difoto. Ada relasi kuasa narasi yang ingin disampaikan. 

Selain Said, tokoh lain yang bahas orientalisme adalah Gayatri Spivak, dalam gagasan can subaltern speak (1978). Golongan subaltern tak diizinkan berbicara atau didengar pendapatnya. Spivak mendiskusikan akademisi laki-laki yang membahas tradisi sati perempuan India kelas ekonomi bawah. Subaltern tidak diizinkan berbicara atas dirinya sendiri, melainkan selalu direpresi suaranya. 

Asri juga merekomendasikan buku "Empire Writes Back" karya Bill Ashcroft, Gareth Griffits, dan Helen Tiffin. Bahwa koloni mampu berbicara pada penjajah dengan berbagai strategi: menolak bahasa Inggris standar, menggunakan bahasa Inggris sebagai senjata untuk menyuarakan suaranya. 

Pendekatan poskolonialisme dalam kritik sastra terlibat dalam praktik diskursif. Ia mencermati karya dan medan budaya yang melingkupinya (penerbitan, penerjemahan, dst). Ia bisa membantu pembacaan dekat; membantu menghubungkan karya dengan kondisi politik, sosial, budaya; dan karya dibahas tak terbatas pada bentuk. Pemilihan lensa kritis kembali pada tujuan kritik, posisi karya, dan kegelisahan kita. 

SESI TANYA JAWAB:

1. Lukman Hakim: Terkait teori Spivak, kebetulan saya lulusan India, saya pernah beberapa kali Spivak di kelas saya. Yang diangkat Spivak tentang subaltern itu dari realitas India sendiri, di sana ada persoalan kasta. Termasuk satu, seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, maka janda yang ditinggalkan ikut membakarkan diri. Ini sudah dilarang tapi juga sebagian dilakukan. Perempuan itu makhluk yang dikurung, ngomong saja tidak boleh. Ia mengkritik dominasi patriarki yang luar biasa. Di Indonesia kasus pelecehan dan perkosaan tinggi, ketika melapor yang dipenjarakan justru perempuannya. Ada dokter di Kolkata yang mogok karena itu. Juga soal ingatan dan bahasa, ada yang ingin mengubah nama "India" dengan "Barat", kayak Belanda menyebut Indonesia itu Pribumi (merendahkan). Barat di sini dari Mahabarata, Biksu Tong melakukan perjalanan ke Barat bukan Barat versi arah angin sekarang, tapi Tanah Leluhur yang Mulia. Terus bicara kolonialisme, juga bicara geografi. Saya ditunjukkan peta dunia. Apa yang disebut Timur? Apa pun yang di luar Eropa. Sebenarnya orang Asia bagi Barat itu disebut India semua, termasuk Indonesia, itu dengan sebutan Hindia Belanda. Sehingga itu berdampak pada berbagai wilayah-wilayah atau nama-nama tempat di India. Ada politik ingatan yang dimainkan. Poskolonialisme itu gak cuma Barat-Timur tapi juga kesadaran yang dimainkan. 

Asri: Ada kritik lebih lanjut, yang Spivak bicarakan juga akademisi yang notabene bisa dipertanyakan akses perempuan mendapatkan ilmu bagaimana. Tidak hanya ranah gender, tapi juga kelas sosial. Baru para akademisi seperti Spivak yang bicara. Penjajahan bukan sekadar ambil SDA, tapi juga cara memahami dan memikirkan sesuatu (way of knowledge). Misalnya, rasa belum sah ketika tidak mengutip filsuf Barat. 

2. M. Fadhil: Apakah poskolonialisme bisa gugur dalam konsensus? 

Asri: Kalau memakai poskolonialisme, konstruksi sosial, pendekatan ini akan mempertanyakan konsensus itu sendiri. Misalnya, pekerja harus menandatangani sesuatu untuk bertahan hidup. Kita akan dikejar terus struktur kuasa yang berjalan. 

3. Asri membahas juga esai karya Dymussaga berjudul "Identitas dan Pengkhianatan: Membaca Poskolonialisme di Mata Kolonial". Dari esai itu, Asri memberikan dua pertanyaan: (1) Bagaimana pendekatan poskolonialisme membantu memahami cerita? (2) Apa yang luput ketika kritik berfokus pada pendekatan poskolonialisme? 

Ratih: Menjawab pertanyaan pertama, ada inkonsistensi orang Belanda dalam memandang tokoh yang di luar Belanda. Untuk bisa memahami cara pandang seperti itu, karena pakai pendekatan poskolonialisme, termasuk bagaimana si penulis menggambarkan alam sekitar seperti apa. Meromantisasi tapi juga mengkeramatkan situs-situs tertentu. 

Gladhys: Pertanyaan pertama, saya tumbuh membaca "Oeroeg", ketika besar dan belajar poskolonial dan dekolonial. Aku merasa sekali bagaimana naratornya menarasikan tokohnya secara pasif. Seolah narator itu mau paham, tapi gak paham dengan Oeroeg. Othering atau peliyanan di novel itu sangat kelihatan. Pertanyaan kedua, yang luput, kenapa tembok itu bisa sekontras itu dalam cerita Oeroeg? Kalau pakai poskolonialisme, mempertanyakan posisi politik penulis, bukan cuma objeknya. Yang ini akan berpengaruh pada karyanya. Poskolonialisme belum menjawab itu. Beda dengan dekolonialisme. 

4. Fadli Muslimin: Poskolonialisme kadang mengabaikan aspek kekerasan struktural. 

Asri: Berhubungan dengan Gladhys, memang ketika poskolonialisme hanya membedakan saya dan mereka, poin-poin lain tentang agensi, kesadaran yang disebut pengkhianatan, dll, sehingga mengabaikan hal-hal lain. Bhabha juga bahas mimikri dalam ruang ketiga. Copy meng-copy untuk membuktikan diri. 

5. Asri juga bertanya pada peserta, terhadap tulisan karya Gerson Poyk dalam cerpen "Matias Akankari". Bagaimana pendekatan poskolonialisme bisa digunakan untuk memahami cerita ini? Adakah pendekatan dan/atau kacamata kritis lain (maupun kombinasi perspektif) untuk menginterpretasi cerita? 

Mohammad Daffa: Dalam pembacaan saya, Matias digambarkan dengan terkagum-kagum melihat kota, bahkan dengan speaker. Matias bingung hidup di Jakarta ketika dia tak bisa berbahasa Indonesia. Naratornya tak bisa menggambarkan bagaimana Matias berkomunikasi dengan bahasanya sendiri. Seolah-olah Matias tak punya suara sendiri, padahal dia dikatakan buta bahasa Indonesia. Juga di akhirnya, yang ada di kampung halaman. Banyak yang senang dengan tarian Matias, karena melihat Matias sebagai sesuatu yang eksotik. Saya melihat endingnya, Matias berpikir pada akhirnya ketika kembali ke kampung halaman apa yang disebut high class di Jakarta itu sama saja dengan di kampung, sama-sama pakai cawat. Pertanyaan, kenapa negara mengambil kebijakan yang sama dengan apa yang dilakukan penjajah ketika dulu ada? Kenapa ada pikiran tentang primitif pada suku lain misal, padahal sama-sama dijajah? 

Asri: Kita melihat kuasa berlapis-lapis dalam cerpen Poyk. Bisa saja persentuhan dengan kolonialisme juga memberikan inspirasi, misal soal rasisme yang bertemu bentuk dengan ide, laku, dan gagasan lain. 

6. Ilda Karwayu: Narator di cerpen Poyk ini yang menggunakan pendekatan poskolonialisme, misal perjalanan dia dari Irian Barat ke Jakarta. Dari primitif atau yang dikuasai ke yang berkuasa. Termasuk fungsi ruang ibadah yang berfungsi sebagai tempat tidur. Meskipun tampak asing, tapi juga membuat diri sendiri itu superior. Jakarta di sini juga representasi sebagai Barat. 

Asri: Menarik, ini berhubungan dengan yang disampaikan Lukman Hakim. 

Daffa: Matias dibawa di Jakarta bukan karena keinginan sendiri, banyak kemungkinan, yang seolah-olah merepresentasikan sebagai Timur. Ada identitas yang dipaksakan. Pada akhirnya, Matias merasa tak nyaman karena dia punya identitas sendiri. Secara kebahasaan juga berbeda, yang membuat peristiwa ini jadi uncanny. Masalah inferior dan superior ini soal sudut pandang saja. 

Asri: Lepas dari orientalisme dan lawannya oksidentalisme, di Indonesia relasi kuasa ini tak hanya Barat-Timur, tapi juga pusat dan pinggiran. Lantas, pembaca siapa yang dituju? Dalam konteks cerpen Poyk, karena pembaca di Jakarta berbeda dengan pembaca di Papua. 

7. Dendi Madiya: Pendekatan poskolonialisme mendekatkan konteks sosial pada karya. Di cerpen Poyk, koteka malah seperti olok-olok, hanya Matias tidak melakukan perlawanan karena budaya hidupnya seperti itu. 

Asri: Itu poin yang saya pikirkan juga. Ada relasi kuasa antara Matias dan Jakarta. Juga si narator dengan apa yang disangkanya sebagai suatu yang primitif.

Senin, 04 Mei 2026

Tentang "Kober"

Sabtu lalu aku mendatangi acara Kober Memanggil. Kober di sini baru kuketahui adalah nama gang strategis di kawasan permukiman di Depok. Suatu hari, saat ngobrol dengan tetangga kosku, di dekat Museum Prasasti Jakarta, yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilo meter dari kos, ada daerah bernama Kober pula. Daerah ini terkenal angker, dan secara harfiah katanya kober itu artinya kuburan. 

Hari ini, aku bertemu dengan kata ini lagi dalam konteks yang berbeda. Di sebuah acara yang isinya para veteran yang anggotanya berusia lebih dari 60an tahun, salah satunya berkata dalam sebuah sambutan. Ada empat karakteristik seorang pemimpin: pinter, pener, bener, dan kober. Pinter itu syarat biar jadi sumber inspirasi. Pener itu taat hukum. Bener itu bersikap jujur. Kober itu, aku tak menyangka diartikan veteran berumur 76 tahun ini dengan makna peduli, respect, dan respons. 

Veteran ini Jawa tulen, aku langsung ingat juga percakapan di kampung dulu, kata "kober" diartikan memiliki waktu untuk melakukan sesuatu. Kalau ada yang bilang, "wis lah, ora kober", mengindikasikan jika orang ini tidak sempat, atau juga tidak mau. Bagiku cukup menarik juga ketika "kober" dimaknai dengan suatu respons dan kepedulian. Untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita, rasa-rasanya tiap hari adalah usaha untuk mengkober-koberkan sesuatu. Aku sepakat dengan veteran yang sebenarnya lebih suka ngarit dan berkebun di tegalan di masa tuanya ituitu bahwa makna "kober" itu perlu diuri-uri.

Kober dalam nama gang atau daerah di Depok, meskipun secara penulisan sama dengan kober yang dimaksud dalam pengertian si veteran, secara pengucapan berbeda di "e". Kalau secara lingustik namanya homograf, sama dengan kata "apel" (buah) yang diucapkan dengan e pepet /ə/. Lalu, "apel" (upacara) yang diucapkan dengan e taling /a/. Jawa lebih suka pakai pepet, sementara yang mode Depok, pakai mode taling. Pepet (ꦼ) dalam aksara Jawa sangat umum karena secara linguistik, tapi ini bahasan lain. Titik tekan tulisan ini adalah ingin menekankan tentang "kober" yang selaras dengan kepedulian.

Perpusnas Jakarta, 4 Mei 2026 

Minggu, 03 Mei 2026

Diskusi Buku "Oni Jouska" karya Asep Ardian

Diskusi buku "Oni Jouska" menghadirkan pembicara Evi Sri Rezeki dan penulisnya langsung Asep Ardian, dengan moderator Rafqi Sadikin. Diskusi membahas perspektif sastra, ekologi politik, hingga proses kreatif penulisan novel. Kegiatan berlangsung di The Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026.

Moderator Rafqi Sadikin melihat adanya kecenderungan alegoris dalam novel ini, mirip dengan Animal Farm. Ia menilai cerita tersebut dapat dibaca sebagai representasi masyarakat Indonesia, di mana kelompok kecil cenderung mengikuti yang lebih besar.

Pemaparan Evi Sri Rezeki

Evi membuka dengan menyampaikan bahwa Oni Jouska menarik setidaknya karena tiga hal utama.

Pertama, novel ini berbentuk fabel dengan tokoh utama ikan remora—pilihan yang tidak lazim dan memberi pengalaman membaca yang unik. Meski tipis, buku ini memberikan kesan yang menggetarkan sekaligus menyenangkan.

Novel ini juga menghadirkan kritik ekologi politik melalui sudut pandang non-manusia. Selama ini, isu kerusakan lingkungan cenderung dilihat dari perspektif manusia, sementara makhluk lain hanya menjadi latar. Dalam Oni Jouska, Asep menghadirkan “hidangan” tentang relasi ikan dan sampah laut—mengingatkan pembaca pada ironi bahwa manusia mengonsumsi ikan yang juga terpapar plastik, sering kali tanpa kesadaran.

Dalam kajian ekologi politik, relasi kuasa menjadi aspek penting, namun biasanya tetap berpusat pada manusia. Fabel dalam novel ini menjadi jembatan untuk menghadirkan perspektif alternatif: bagaimana jika dunia dilihat dari sudut pandang ikan?

Kedua, kesulitan dalam ekologi politik untuk menggambarkan “perasaan” makhluk non-manusia dijawab melalui pendekatan sastra. Fabel memungkinkan pembaca memahami emosi dan pengalaman ikan secara imajinatif.

Ketiga, novel ini bersifat reflektif. Jika fabel umumnya menyajikan pesan moral di akhir, Oni Jouska justru mengajak pembaca mempertanyakan hidup itu sendiri. Para tokohnya—ikan-ikan—bahkan tidak sepenuhnya tahu apa yang mereka cari dalam hidup, yang sekaligus merepresentasikan kondisi manusia.

Relasi kekuasaan juga tampak dalam interaksi antarklan dan bentuk simbiosis. Ikan remora sebagai makhluk kecil mampu bertahan dengan memanfaatkan kekuatan ikan besar—menjadi metafora kecerdikan dalam struktur sosial. Konflik diperkeruh oleh perilaku membuang sampah sembarangan.

Selain itu, novel ini kaya akan unsur mitos, kenabian, dan imajinasi. Misalnya, kisah ikan yang konon memakan nabi (mengacu pada cerita Nabi Yunus), serta mitos tentang dewa laut dan asal-usul hujan. Asep berhasil membangun mitologi baru dalam dunia ceritanya.

Evi juga menyoroti konsep “Jouska,” yang dalam psikologi merujuk pada dialog internal dengan diri sendiri. Jouska menjadi cara untuk memproses dan menjernihkan pikiran, serta menghadirkan pelajaran tentang empati dan simpati.

Ia membandingkan pengalaman membaca novel ini dengan nuansa serial SpongeBob SquarePants—tokoh Oni yang penuh pertanyaan seolah mengajak pembaca ikut “terjun” ke laut dan mengalami dialog batin tersebut.

Namun, Evi mencatat kelemahan pada penggambaran karakter yang cenderung hitam-putih.

Di sisi lain, novel ini juga terasa seperti membaca buku biologi karena dilengkapi ilustrasi dan deskripsi dunia laut. Pada bagian akhir, terdapat kemiripan dengan kisah Nabi Yunus, terutama pada motif “ditelan paus” dan refleksi spiritual yang menyertainya.

Secara keseluruhan, Evi melihat novel ini sebagai representasi perjalanan dari “nobody menjadi somebody,” yang memberi harapan sekaligus menunjukkan sisi marginal penulis.


Penjelasan Asep Ardian

Asep menjelaskan bahwa awalnya ia ingin menggunakan paus sebagai tokoh utama, tetapi setelah riset, ia menemukan ikan remora lebih relevan sebagai representasi diri.

Ia mengaitkan pilihan tersebut dengan pengalaman pribadi, termasuk fenomena “buntutisme” sejak masa sekolah—kecenderungan mengikuti kelompok tertentu demi terlihat kuat atau keren, yang justru ia anggap tidak menarik.

Menurutnya, novel ini juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam pola tersebut. Ia menekankan bahwa manusia memiliki pilihan dalam menentukan “simbiosis” atau relasi yang dijalani dalam hidup.

Dalam proses kreatif, Asep menyebut menulis bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kebiasaan. Ia menulis di sela aktivitas sehari-hari, bahkan di tempat berjualan. Ia mengibaratkan menulis fiksi seperti memasak: menggunakan bahan yang ada—pengalaman, ingatan, dan imajinasi—untuk diolah menjadi cerita.

Ia juga menyoroti bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek ekonomi, termasuk pedagang kecil dan nelayan. Dalam narasinya, “musuh” utama bukanlah sesama manusia secara horizontal, melainkan juga persoalan struktural (vertikal), seperti kebijakan.

Asep mengakui bahwa penulisan novel ini berangkat dari fase hidup yang suram. Interaksinya dengan lingkungan sekitar, termasuk laut dan isu sampah, membentuk gagasan cerita.

Ia juga menegaskan bahwa buku ini ditujukan untuk semua umur, dengan harapan pesannya dapat tersampaikan luas. Baginya, yang utama bukanlah figur penulis, melainkan gagasan dalam karya. “Pengkarya adalah wadah, karya adalah isi.”



Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan (Rayan):
Menyoroti kontradiksi antara kesadaran akan sampah dan praktik penggunaan plastik, termasuk dalam kehidupan sehari-hari seperti pedagang.

Jawaban Asep:
Ia menyatakan bahwa pengalaman hidup dan lingkungan membentuk kesadaran seseorang. Ia sendiri merasakan perubahan perspektif setelah sering melihat laut dan fenomena sampah, bahkan dalam hal kecil seperti penggunaan sabun. Ia menyebut perjuangannya masih terbatas, berbeda dengan gerakan langsung seperti Pandawara Group.

Tanggapan Evi:
Setiap orang memiliki peran dan cara masing-masing dalam berkontribusi. Sastra, termasuk "Oni Jouska", dapat menjadi medium untuk mengubah cara pandang masyarakat.

Penutup

Evi menutup dengan menegaskan bahwa setiap penulis memiliki proses yang berbeda—ada yang memulai dari karya, ada pula yang dari komunitas. Diskusi ini menunjukkan bahwa "Oni Jouska" bukan hanya karya sastra, tetapi juga ruang refleksi atas relasi manusia, lingkungan, dan diri sendiri.

Sabtu, 02 Mei 2026

Diskusi “Mitos dan Mimpi” – Kober Memanggil

Diskusi “Mitos dan Mimpi” telah terlaksana di Gramedia Margonda, Depok, pada Sabtu, 2 Mei 2026. Diskusi menghadirkan dua antropolog, Hestu Prahara dan Geger Riyanto, dengan moderator dari pihak Kober Memanggil. Tema utama yang dibahas adalah posisi mimpi dan mitos sebagai bentuk pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Pemaparan Hestu Prahara

Hestu memulai dengan menegaskan bahwa mimpi bukan sekadar “bunga tidur,” melainkan dapat dipahami sebagai teknologi untuk menavigasi hidup dan waktu. Mimpi tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Dalam banyak masyarakat adat, mimpi digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan—misalnya untuk menentukan masa tanam, pembukaan ladang, hingga relasi manusia dengan tanah dan lingkungan.

Dalam risetnya tentang kematian dan kesejahteraan, Hestu melihat bagaimana pengalaman manusia—termasuk mimpi—dapat menjadi sumber pengetahuan alternatif. Ia menekankan bahwa mimpi bisa menjadi bagian dari sistem pengetahuan yang sah, bukan sekadar fenomena psikologis.

Dalam praktiknya: Mimpi sering kali tidak diceritakan sembarangan. Ada otoritas sosial tertentu (misalnya ketua adat) yang menafsirkan mimpi. Mimpi dapat dinegosiasikan dan dimaknai secara kolektif.

Dengan demikian, mimpi bersifat cultural universal, tetapi cara memaknainya sangat bergantung pada konteks kosmologi masing-masing masyarakat. Selain itu, mimpi juga dapat dipahami sebagai respons terhadap trauma, sekaligus alat untuk membaca kemungkinan masa depan.

Hestu menambahkan bahwa pengalaman etnografi sering kali bersifat personal dan penuh kejadian “uncanny” (ganjil namun bermakna). Dalam praktiknya, batas antara hidup dan penelitian menjadi kabur. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari teori, tetapi juga dari pengalaman langsung dan perjumpaan tak terduga (serendipity). 

Pemaparan Geger Riyanto


Geger membahas mitos dengan pendekatan yang tidak hitam-putih. Menurutnya, mitos tidak bisa dilihat sekadar sebagai benar atau tidak benar, tetapi berada dalam “ruang antara”—di mana kepercayaan dan ketidakpercayaan bisa hadir bersamaan.

Ia mengibaratkan pengetahuan manusia seperti memiliki “kamar-kamar”, seperti ada kamar mitos, kamar mimpi, kamar empiris, dll. Semua kamar tersebut sama-sama valid dalam membentuk cara manusia memahami dunia.

Geger juga bercerita tentang penelitian disertasinya yang mengambil studi kasus: Mitos Siluman Ular di Maluku Dalam penelitian disertasinya (2018–2022) di Maluku, Geger menemukan mitos tentang siluman ular sebagai bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat, khususnya terkait komunitas migran Buton.

Tokoh seperti La Ode Una (yang digambarkan setengah manusia dan setengah ular) di Sulawesi Tenggara dipahami sebagai sosok “siluman,” tetapi di Maluku diposisikan sebagai nenek moyang. Mitos ini berfungsi sebagai: alat legitimasi identitas, dasar pengakuan sosial, bahkan berkaitan dengan klaim atas tanah. Dalam konteks Indonesia, di mana legitimasi kepemilikan sering terkait dengan “siapa yang lebih dahulu,” mitos menjadi instrumen penting untuk mendapatkan pengakuan.

Geger menekankan bahwa kekuatan mitos justru terletak pada sifatnya yang kontra-intuitif (tidak masuk akal). Hal-hal yang absurd cenderung lebih mudah diingat, menyebar, dan “menjajah” pikiran manusia. Ia juga mengaitkan motif ular dengan berbagai budaya, termasuk figur seperti Nyi Blorong dan bahkan karakter Nagini dalam semesta Harry Potter, yang menunjukkan pola serupa di berbagai wilayah.

Baik Hestu maupun Geger sepakat bahwa manusia tidak selalu berada pada posisi percaya atau tidak percaya secara mutlak. Ada kondisi “berayun”, di mana seseorang bisa sekaligus ragu dan percaya dalam waktu yang sama. Contoh yang diangkat: pengalaman melihat hal gaib, fenomena “ketindihan” saat tidur, interpretasi bentuk-bentuk visual yang ambigu.

Dalam situasi lapangan, seorang antropolog tidak bisa langsung menolak atau menerima, tetapi perlu memahami bagaimana pengalaman tersebut bermakna bagi pelakunya. 

Sesi Tanya Jawab (Ringkasan) 

1. Fungsi mitos dalam masyarakat: Pertanyaan menyoroti apakah mitos perlu dinilai benar atau salah, atau cukup dilihat dari fungsinya.

Geger menjawab bahwa mitos penting sebagai cara membaca kondisi manusia dan membantu pengambilan keputusan sosial. Ia memberi contoh petani tembakau di Lombok yang dihadapkan pada pilihan antara data ilmiah dan tafsir tradisional (dukun/peramal hujan).

2. Relasi antara tradisi dan modernitas: Pertanyaan lain menyoroti kecenderungan “mengilmiahkan” tradisi secara reduktif.

Diskusi menekankan bahwa sistem pengetahuan lokal seharusnya diposisikan setara, bukan lebih rendah dari ilmu modern.

3. Mitos dan perempuan: Mitos sering kali berkaitan dengan kontrol terhadap perempuan (misalnya dalam sejarah atau narasi tertentu).

Geger menegaskan bahwa mitos juga merefleksikan struktur kekuasaan, termasuk patriarki. Antropologi, pada akhirnya, harus peka terhadap ketimpangan dan cenderung berpihak pada kelompok yang rentan.

Diskusi juga menyinggung praktik lokal seperti: konsep sasi dalam menjaga laut, mitologi penjaga kebun, serta pengalaman keseharian yang membentuk etika dan batas sosial. Hal ini menunjukkan bahwa mitos dan mimpi memiliki dimensi praktis dalam menjaga tatanan sosial dan ekologis.

Penutup dan Refleksi

Bareng Mas Geger dan Neneng

Moderator menutup dengan menekankan bahwa tidak ada satu “pisau bedah” tunggal untuk memahami realitas. Pengetahuan bersifat jamak, dan forum lintas disiplin seperti ini menjadi ruang penting untuk memperluas cara pandang.

Salah satu refleksi menarik dari Geger sebagai “life hack”: Tidak apa-apa mengambil keputusan di mendekati titik akhir, karena semakin dekat dengan momen tersebut, variabel yang terlihat justru semakin jelas.

Sementara itu, Hestu menekankan bahwa menjadi antropolog berarti membuka diri pada pengalaman—karena belajar tidak selalu terpisah dari kehidupan sehari-hari.