Sunday, July 28, 2019

Hari Ini Aku Ingin Menemui Diriku Sepuluh Tahun Lagi

Untuk,

Isma Swastiningrum (26 tahun)

Sudahlah Is, buang semua angan-angan dan mimpi-mimpi indah yang sering diumbar banyak orang dalam setiap kesempatan. Tanpa diajari, kamu juga paham, rumus sukses itu kayak apa. Dari racikan sifat 1, 2, 3 atau sikap x, y, z. Tak ada yang berminat untuk menjadi gagal. Tapi ini hidup, hal yang paling mahal hanya ada dua: kesempatan dan pilihan. Itu yang membedakan kenapa hidup setiap orang tak sama, tak pernah sama. Apa yang dihirup, apa yang dimakan, apa yang dipikir, apa yang dirasa, apa yang dilakukan.

Cuma ada dua kondisi, kesempatan menciptakan pilihan atau pilihan menciptakan kesempatan. Dua kondisi ini pun kamu harus memilih lagi. Tidak memilih atau lari dari pilihan juga adalah pilihan. Jadi siapakah dulu yang pra-eksis? Pilihan atau kesempatan? Tanpa kesempatan, mana bisa kamu memilih? Tapi juga kan, kamu bebas memilih sebelum kesempatan itu terjadi atau telah terjadi. Persetanlah, kupikir semuanya arbiter. 

Oke Is, mari kita berdamai saja. Hari ini aku tahu, kamu tengah berada di titik terendahmu. Kamu tengah jatuh. Kamu terpuruk hebat. Kamu sekarang memang tidak punya kesempatan untuk menjalani apa yang kamu mau. Tapi kamu harus ingat, kamu punya satu hal berharga lainnya: pilihan. Pilihan inilah yang akan mengantarmu ke kesempatan-kesempatan lainnya. Masalahmu sekarang hanya takut memilih. Benar kan? Tolonglah jangan defensif biar diagnosis masalahmu ini jadi lebih mudah. Aku sungguh ingin berbicara dengan dasar dirimu. Mau ya? Anggap aku adalah dirimu yang berumur 36 tahun, yang tengah berbicara dengan dirimu yang berumur 26 tahun. Aku cuma ingin melihat, seberapa sukses kamu berjuang sepuluh tahun kemudian? 

Is, aku cuma butuh enam bulan aja minimal untuk membentuk mindset dan pola hidup kamu yang baru. Enam bulan adalah batas minimal menumbuhkan rasa memiliki, sehingga ketika kamu tinggal kamu tak akan rela. Kumohon enam bulan saja. Selama enam bulan itu, pilih satu bidang yang benar-benar ingin kamu dalami. Kumohon pula jangan serakah. Tidak semua hal bisa kamu dalami. Satu saja bidang, tema, dan fokus. Seperti Colonel Sanders hanya fokus pada ayam goreng saja, tidak ayam bakar, ayam tumis, atau ayam pepes. Jangan berambisi untuk mendalami, mempelajari, dan melakukan semuanya; bodoh kalau itu ingin kamu lakukan. Satu saja yang kamu benar-benar yakin. Sekali lagi jangan tergoda dengan lapak orang lain yang lebih menggiurkan dan menarik matamu; yakinah di luar fokusmu itu hanya bias dan distraksi saja. Genggamlah satu saja kesetiaan itu, semacam kesetiaan pada kekasih, kesetiaan pada Tuhan. Dan sensitiflah terhadap segala hal yang membuatmu jatuh. Maaf ya kalau sampai di titik ini kamu merasa aku mengguruimu Is. Kamu memang butuh guru, dan gurumu adalah aku, dirimu sendiri. Apakah kamu sudah terbayang akan fokus pada apa semacam Colonel Sanders yang fokus pada ayam goreng? Kalau belum, usahaku akan jauh lebih berat untuk mengupasnya. Dan aku mendengar lirik hatimu yang paling sunyi kamu mengatakan belum.

Baiklah, mari kubantu kamu mencari fokus itu. (Ada baiknya kamu puasa tiga hari dulu minimal untuk berpikir, atau semacam tirakat, sekarang aku hanya akan menunjukkanmu jalan saja.)

Oke, jadilah pilot untuk dirimu sendiri. Itu aturan pertama. Jangan over analisis nanti paralysed. Teori dan praktik harus kamu perlakuan adil. Sebab kuperhatikan akhir-akhir ini kamu terlalu sering menyayangi teori daripada praktik. Setelah jadi pilot, lakukan micro-manage. Mulailah dari mencoba mengatur segala hal yang terlihat kecil dan remeh temeh. Kalau hal kecil saja tidak bisa kamu atur, bagaimana kamu akan mengatur hal yang lebih besar. Levelnya hingga ke mikro. Aturan kedua, dunia ini lapangan udara yang sangat luas, kamu ingin ke arah mana? Tujuanmu. Ukur daya tahan kamu menghadapi risiko yang disebabkan oleh pilihan. Selalu ingat, risiko selalu bisa disimulasi. Baik fisik maupun mental. Pecahkan dengan ilustrasi yang mudah-mudah. Buat diferensiasi dan saringan-saringan jika dibandingkan sistem lainnya. Lalu kunci besarnya adalah kunci D: DISIPLIN. Semua ilmu tidak ada artinya jika kamu tidak disiplin. Seperti cara Colonel Sanders, fokus pada satu sistem, satu produk, dan satu teknik saja. Lakukan berulang kali, berulang kali, berulang kali. Dari sana kamu akan dipeluk oleh sosok yang bernama ciri khas. Sesuatu yang otentik.

You have to be expert in that field. Don't compare yourself with others, there will be pressure. Don't be unique, be original. Don't value it from your dream, it's bias. Based from your track record. It will help you much.

Is. Sekarang aku sudah membuat banyak buku, banyak tulisan, banyak orang juga yang tersadarkan, tercerahkan, dan pikiran-hidupnya berubah karena membaca tulisanmu. Karya, buku, tulisan, dan pemikiranmu tak hanya dibaca oleh orang Indonesia saja. Namun juga banyak negara di seluruh dunia, dari negara-negara di benua Asia, Amerika, Eropa, Afrika, Australia, dan lain-lainnya. Itu kan mimpi besarmu, ayo disiplinlah. Mulailah dari sana. Lakukan pecahan-pecahan kecil hingga menjadi sangat-sangat mudah untuk kamu lakukan--dengan catatan super D, disiplin. 

Dari,

Isma Swastiningrum (36 tahun)

No comments:

Post a Comment