Sunday, April 19, 2015

Teknik Kepenulisan Berita Cepat (Straight News)


Sebelum ke straight news, saya akan menjelaskan pengetahuan dibagi menjadi dua:

Pertama, “pengetahuan tacit” yaitu pengetahuan yang masih ada dalam benak dan pikiran saja. Kedua, “pengetahuan eksplisit” yaitu pengetahuan yang sudah mewujud dalam bentuk tulisan. Pilihan dalam menulis pun ada banyak, misalnya:

1) Menulis sastra (prosa: cerpen, novel, naskah drama, puisi, dll).
2) Menulis pengetahuan (panduan, catatan pembelajaran, media, video, dll)
3) Menulis informasi (berita, feature, indpeth, dll)

Nah, sekarang saya akan membagi ilmu yang saya dapatkan dari kursus kilat dari Om Lamuk (di PKSI, 12/4/2015) dan proses yang lumayan panjang di LPM Arena tentu saja tentang kepenulisan straight news. 

Secara singkat straight news berarti berita cepat yang berisi informasi/kejadian/kegiatan yang di sana menggambarkan peristiwa. Sebelum mengarah lebih jauh kita harus tahu apa itu “informasi”? Secara sederhana informasi adalah sebuah siklus. Begini bagannya:

siklus informasi

Jadi, informasi itu bermula dari kejadian atau PERISTIWA yang peristiwa tersebut diamati melalui panca indra dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar dengan rumus (5W+1H: what, who, when, where, why, how). Dari pengamatan didapatkanlah FAKTA, dari fakta dicatat menjadi DATA, dari data diolah menjadi INFORMASI, dari informasi diambillah sebuah keputusan mau ditulis atau tidak? Setiap keputusan tentu mengandung akibat bagi media/penulisnya kaitannya dengan konten dan efek yang akan timbul di masyarakat. Jika ia ditulis maka akan tersimpan dalam PENYIMPANAN, tercipta artefak berupa tulisan. Dari keputusan akan memutar lagi kembali ke kejadian/peristiwa dan seterusnya.

Mengenai penyimpanan sendiri, sistem yang diterapkan di Puskesmas menjadi contoh yang baik dalam metode pengarsipan. Jadi, tiap kali pergi ke Pusekesmas petugas hanya tinggal menanyakan nama pada pasien setelah itu dicari dalam arsip. Muncullah daftar riwayat pengobatan kita. Pun dalam pengarsipan berita, perlu dibuat semacam itu. Agar sistematis.

Kita akan merujuk pada hal inti. Tentang menulis straight news. Secara sederhana dijelaskan melalui bagan piramida terbalik berikut:
straight news

Penjelasan:

#P1 (Paragraf 1): Ditulis 5W+1H nya, tentang apa? Siapa? Dimana? Kapan? Mengapa? Bagaimana?

#P2 (Paragraf 2): Paragraf ini mendetailkan APA. Masuk pada fokus dan angle yang dibidik. 
Misalkan kronologi kejadian, proses, dan lain-lain. Misalkan: Pentas Noktah Merah dimulai dengan penamilan musik etnik dari Gorong-gorong Institute………. 

Jangan lupa cantumkan sumbernya, misalkan: pernyataan proses ini menurut Jevi, pimpinan produksi. Atau menurut Harik, ketua Gorong-gorong Institute.

#P3 (Paragraf 3): Ini lebih gampang lagi. Ia kutipan dari pernyataan narasumber di paragraph 2. Misal:

“Noktah Merah merupakan proses perjalanan berkesenian Sanggar Nuun di usianya yang ke-22,” kata Mumun.
Intinya tulis bagian penting yang diomongkan narasumber yang mendukung angle kita. Jangan lupa sertakan diski: kata, ungkap, papar, ucap, tukas, jelas,dll.

#P4 (Paragraf 4): lebih kepada HOW, paragraph penutup, pengharapan, dan info-info yang mungkin belum dimasukan.

#JUDUL. Tak harus di akhir sebenarnya. Yang pasti judul adalah nyawa sebuah tulisan, pertaruhan mau dibaca atau tidak. Ketentuannya judul maksimal delapan kata.  

Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  • ·         Pastinya harus paham Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Tentang penggunaan titik, koma, huruf kapital, dan lain-lain.
  • ·         Tentang pemilihan fokus & angle proses ini gampang-gampang susah. Intinya: aktifkan radar. Prosesnya seperti kamu duduk dalam sebuah ruangan dan kamu pilih satu benda untuk kamu kupas. Kalau kamu pintar dalam satu ruang bisa jadi banyak judul.
  • ·         Prisnipnya media/informasi itu berpihak dan punya kepentingan. Analisis wacana dan analsisis framing kuncinya terletak pada diksi yang digunakan. Kalau ingin mengabarkan sesuatu yang positif gunakan kata kerja aktif. Kalau ingin mengabarkan yang negative, pakai kata kerja aktif. Contoh:
    Pariyem (31), pekerja rumah tangga asal Wonosari  Gunung Kidul dianiaya majikannya…. (diksi “dianiaya” lebih nonjok daripada menganiaya, subjek ditempatkan sebagai korban). Kalau yang positif misal: Sanggar Nuun menggelar pentas TUK…..
  • ·         Tentang atribut (seperti keterangan kedudukan, posisi jabatan, atau sebagai apa) bisa diberikan sebelum atau sesudah nama, misal:
    Ahmad Jamaludin Pemimpin Umum LPM Arena mengatakan
    ….. (rumus: nama + atribut)
    Pemimpin redaksi LPM Arena, Lugas Subarkah
    ……. (rumus: atribut + nama)
  • ·         kalau bisa di belakang nama ada umur dari narasumber. Agar pembaca bisa menggambarkan (berimajinasi) sendiri orangnya kira-kira seperti apa. Misal Ulfa (21) -> rumusnya: nama (umur)
  • ·         Gelar dan sapaan sepeti S. Si, Dr., Prof., atau ibu, bapak, tak usah ditulis. Ini untuk mengantisipasi karena pembaca itu beragam. Ketika kita mencantumkan sapaan bapak Jamal misalnya, pembaca yang lebih tua dari Jamal apa patut memanggil Jamal bapak? Nah untuk itu kita “netral” dalam gelar dan sapaan.
  • ·         Dalam penulisan unsur DIMANA harus lengkap tempatnya dimana. Jika bisa se-detail mungkin. Harus rinci. Misalkan: Pentas kolosal Noktah Merah Sanggar Nuun dilaksanakan di gerbang budaya Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga. Tidak boleh cuma ditulis di UIN Sunan Kalijga, atau di Yogyakarta (ini sangat luas) apalagi di Indonesia.
  • ·         Unsur KAPAN, terkait waktu, bisa diletakkan setelah kejadian (setelah unsur APA) dan untuk menyingkatnya digunakan kurung dan angka. Masing-masing media berbeda formatnya, lebih sering memakai rumus (tanggal/bula), contoh (19/4) atau (tanggal/bulan/tahun), contoh (19/4/2015).
  • ·         Hindari penggunaan istilah asing! Jurnalis dan dunia akademik tugasnya bukan memiskinkan bahasa Indonesia! Misal: support bisa ditulis dalam dukungan, lighting padanannya tata cahaya, rund down sinonimnya jadwal, dan banyak lainnya. Kalaupun mentok harap dikurung miring! Misal: dalam jaringan (online).
  • ·         Kalau ada kepanjangan/singkatan, tulis dulu panjangnya apa baru dikurung agar lebih sistematis dan jelas. Misal: Bahan Bakar Minyak (BBM), Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), dan lain-lain. Tujuan lain juga agar tidak ada kata yang hilang, misalkan dalam kasus diksi sinetron, itu sudah menjadi seperti diksi yang utuh padahal ada kepanjangannya yakni sinema elektronik.
  • ·         Setiap menulis berita usahakan selalu berikan solusi. Ini bukan opini, tapi kita bisa menggunakan corong lain dari pendapat narasumber atau sesorang yang ahli.
Contoh sederhana:

Film Rebelion, The Other of ARENA

Minggu (19/4), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ARENA UIN Sunan Kalijaga mengadakan acara nonton bareng film dan bedah film “Rebelion”. Acara yang diadakan di gedung pusat mahasiswa (student center) UIN-Suka ini berlangsung selama tiga jam. Mendatangkan sutradara film Sabiq Ghidafian Hafidz (26), pembedah film Gore Verbinski (51), filsuf dan analis sosial Slavoj Zizek (66), dan jurnalis Ryszard Kapuscinski (82).

Film yang berkisah tentang sejarah LPM Arena dari awal pendirian, pembredelan, hingga zaman postmomdern sekarang mencoba mengungkap kembali sejarah ARENA yang tercecer. Mengambil latar belakang tahun 1998 di masa keruntuhan Soeharto, film ini menguak wacana independensi media dan kembang kempis media di masa itu. 

“Film bengal ini sebagai wujud pengabdian total ARENA tehadap dunia pendidikan dan untuk jurnalisme pada khususnya,” kata Sabiq. Film ini mendapat pujian dari Gore akan idenya yang radikal dan pemain-pemainnya yang berbakat. “Idealismenya mengingatkan saya pada masa muda, saya juga sangat terkesan pada akting Jamaludin si jurnalis, juga Opik si provokator, mereka benar-benar menghayati perannya,” ucap Gore.

The Other menjadi stempel yang dikatakan Zizek untuk ARENA. The Other sebagai konsep pemikiran ARENA yakni “kancah pemikiran alternatif” terejawentahkan dalam film ini. Namun, Zizek mengkritik film ini sangat Marxist sekali. Sedangkan jurnalis Perang Dunia II asal Belarusia Kapuscinski lebih menekankan pada konsep eksistensi jurnalis akan dia dan beritanya.

“Untuk menilai sesuatu, Anda harus mengalaminya secara langsung. Ini semboyan mutlak yang harus dipegang oleh semua jurnalis handal, anak-anak ARENA harusnya juga seperti itu,” harapnya.

Dalam ceritanya juga sepanjang karirnya Kapuscinski memegang teguh semboyan itu,meski ia harus melalui bahaya besar dan pengasingan yang tidak banyak dari rekannya sanggup melewatinya. “Di film ini saya seperti melihat aku yang lain,” tambahnya. (Isma Swastiningrum)


No comments:

Post a Comment