Tuesday, March 24, 2015

Review Film The Theory of Everything

Stephen Hawking (Sumber Foto: www.reddit.com)
Film yang udah lama pengen aku tonton. Film tentang salah satu fisikawan hebat bernama Stephen Hawking. Dimulai ketika Stephen sekolah bersama sahabatnya Brian. Di kelas dia sudah menunjukkan kejeniusannya, ia sekolah di Cambridge setelah berhasil menyelesaikan soal rumit gitu.

Suatu hari Stephen ketemu dengan seorang kosmolog wanita cantik namanya Jane. Mereka saling jatuh cinta dan berdiskusi tentang ilmu. Romantis banget awal-awalnya: dansa, pergi ke komidi putar, jalan-jalan di taman, haha.

Sampai akhirnya Stephen ketika berjalan jatuh dan dibawa ke rumah sakit. Ia divonis dokter menderita penyakit neuron motorik, dimana dia kesusahan menggerakkan fungsi dari motor-motor saraf di tubuhnya seperti di tangan dan bagian tubuh yang lain. Meski begitu fungsi otak masih tetap tak ada gangguan. Yang membuat Stephen terpukul, dokter memvonis umurnya hanya tinggal dua tahun. Lalu Stephen mengurung diri di kamar dengan buku-buku tebal fisika.

Stephen menjauh dari Jane, tetapi Jane tetap tak kenal lelah mendekati dan menerima kemalangan Stephen. Hingga akhirnya mereka menikah dan dikaruniai dua anak bernama Robby dan Lucy.

Hidup di antara penyakit memang sulit, meski begitu Stephen tak berhenti berkarya. Disertasinya tentang black hole (teori alam semesta gitu) mendapat sambutan luas dan menjadi salah satu teori besar yang dipublikasikan. Stephen tidak puas, mengembangkan dan mengembangkannya lagi.

Hingga akhirnya salah seorang teman Jane datang dan meminta Jane untuk bergabung ke paduan suara gereja. Ya, disini juga dijelaskan kalau si Hawking ini ateis. Menurutnya, kurang lebih Tuhan adalah spesies yang mulai langka. Jelasnya gini, untuk menjelaskan alam semesta Stephen meniadakan Tuhan, karena.... (aku juga masih bingung).

Nah, Jane masuk lagi ke gereja dan bertemu dengan konduktor koor bernama Jonathan. Pria ini baik sekali dan bahkan Jonathan membantu Jane merawat Stephen. Namun, malangnya Jonathan dan Jane terlibat skandal. Hingga lahirlah anak ketiga bernama Timothy yang itu diragukan siapa bapaknya?

Skandal itu pun tercium oleh Stephen. Kondisi kelumpuhannya semakin  parah, ia tak bisa berbicara lagi. Di atas kursi roda listrik yang di depannya ada komputer kecil yang dapat bicara, di sanalah Stephen menulis dan membuat teorinya yang baru tentang Sejarah Waktu. Gilak nih orang!

Lalu datang perawat baru bernama Deasy yang merawat Stephen, mereka berdua dekat, Jane pun sedikit cemburu. Sampai akhinya suami-istri ini saling bicara empat mata, Stephen meninta Jane pergi, mereka saling menangis. Dan Jane kembali pada Jonathan, Stephen melanjutkan teori-teorinya. So hiks-hiks banget, padahal aku udah berharap banyak pada Jane ia bisa menjadi panutan istri yang setia, aduhh ternyata....

Film ditutup dengan adegan Stephen dan Jane sedang ada di taman melihat tiga anak mereka berlari-larian. Meski Jane hidup dengan Jonathan, mereka tetap berteman baik.
--
Komentar:

Setelah nonton film ini duniaku seolah dikembalikan lagi pada fisika. Jika yang aku khawatirkan sebenarnya adalah fisika. Dan tugasku belajar fisika. Menjadi fisikawan yang baik dan total seperti Hawking. Aku jadi maluuu banget sama Hawking. My pray.

2 comments: