Kamis, 26 Februari 2015

Malam Sastra IV: Motion of Invictus



Tidak peduli betapa sulit rintangan menghadang
Bagaimanapun hukuman dijatuhkan
Aku adalah tuan bagi nasibku
Aku adalah kapten bagi jiwaku
--Invictus, Willian Ernest Henley

            Invictus berarti tak terkalahkan. Sebuah puisi karya William Ernest Henley, penyair Inggris yang dibuat tahun 1875 ini menggambarkan tentang sebuah tekad yang datang dari sebuah person. Puisi ini menggambarkan bagaimana manusia menjadi kapten dalam bahtera hidupnya sendiri. Bagaimanapun pelik, susah, badai mengobrak abrik, masalah menghadang tak ada hentinya, manusia adalah pemilik dan pengontrol hidupnya sendiri. Ia memiliki freewill yang bebas membuat arah hidupnya sendiri, berdasar atas otoritas dan pengetahuannya.
            Dalam film berjudul sama, Invictus, menceritakan tentang Piala Dunia rugby tahu 1995 dimana saat itu Nelson Mandela menjabat sebagai presiden Afrika Selatan. Film ini mencoba menguak gagasan besar tentang “nasib” itu sendiri. Dimana saat itu pertentangan dan rasa sensitif antara kulit hitam dan kulit putih begitu kental (meski apartheid dihapuskan), dimana tim tuan rumah springboks  yang dibenci rakyatnya sendiri berjuang dalam masa pertandingan. Mandela memiliki pemikiran besar bahwa jika springboks ini menang maka perdamaian antara kulit hitam dan kulit putih akan terjadi. Kecurigaan-kecurigaan akan disatukan dalam satu bahasa yang sama: bahasa kebangsaan.
            Mandela mengatur strategi, ia memanggil kapten rugby tim springboks dan mengobrol banyak dengan kapten itu. Saat mendekati pertandingan, Mandela memberi sang kapten ini sebuah puisi Henley tersebut, invictus. Sebuah puisi yang membuat Mandela kuat hidup 30 tahun di dalam sel penjara meski dia tak salah. Mandela berharap melalui puisi tersebut juga bisa memberi semangat dan dorongan pada tim springboks. Akhirnya, latihan keras untuk “mengubah nasib” itu dimulai melalui perjuangan-perjuangan keras. Singkat cerita pertandingan final antara tim springboks dari Afrika Sselatan VS All Blacks Selandia baru dilaksanakan dan Springboks menang. Ya, jika kita percaya akan nasib kita dan mau berusaha, keberhasilan akan datang.
Dalam malam sastra ke IV dari landasan berpikir invictus (baik puisi dan filmnya sendiri), ditarik satu gagasan besar mengenai tema, yakni kebebasan. Wacana-wacana eksistensialis sendiri sudah banyak berkembang. Pelopornya termasuk Sartre, Heidegger, Marx, dan lain-lain. Wilayah yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Jika di masa tahun 1950-an wacana yang timbul dalam kriris kemanusiaan akan perang dunia II tidak berada dalam wilayah penjajahan tapi kebebasan berpikir pasca perang, di masa sekarang krisis kebebasan kemanusiaan sendiri di wilayah mana?
Lalu “kebebasan” yang dimaksud saat ini seperti apa? Dalam konteks apa? Sebenarnya kita bebas tidak sih? Lalu bebas yang dikonsepkan itu bebas tidak sih? Kalau saya bebas melakukan apa saja, siapa yang menjamin nilai saya? Melalui sebuah refleksi dari pertanyaan-pertanyaan inilah pertunjukan dibuat. Khususnya pada reflesi apa yang membelenggu kita dan menjadikan kita tidak bebas.
Salam aku adalah tuan bagi nasibku!
Sabiq Copyright.
KONSEP
Buat panggung di parkiran, lalu si pengisi yang telah melakukan refleksi dari puisi dan film “Invictus” mempertunjukan ekspresinya. Juga sebuah pertunjukkan kritik atas apa yang membelenggu mereka terkait makna dari kebebasan itu sendiri. Bisa puisi, nari, musik, drama, dongeng, terserah.

TEMPAT
Parkir terpadu Tarbiyah, samping laboratorium Fakultas Saintek.

WAKTU
Sabtu, 28 Februari 2015. Habis magrib sampai over dosis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar