Friday, December 26, 2014

Untuk Dosen Filsafatku

:untuk pak dosen yang berwajah Tiong Hoa dan memilki tawa yang khas

Hari ibu kemarin adalah hari terakhir kelas filsafat di ruang 306 Saintek. Mungkin ini sedikit tulisan untuk bapak. Kesan-kesan saya. Sebelumnya, maaf ya Pak, mungkin saya adalah mahasiswa paling bandel dan berisik di kelas bapak.
Seingatku, di 14 pertemuan, hanya sekali aku absen ngomong dan sekali aku bolos kuliah. Mahasiswa yang tiap pelajaran bapak selalu gatel buat membebek, meski kebanyakan sok tahu dan nglantur kemana-mana. Aku sok ngomong tentang Nietzche-lah, positivisme-negativisme lah, Popper-lah, Foucault-lah, dll. Padahal setelah aku tahu lebih lanjut, kebanyakan yang aku katakan itu salah.
Kesedihaku satu, meski aku salah bapak jarang menanggapi argumentasiku seusai diskusi. Bapak hanya berargumen tentang papper dan bagaimana diskusi berjalan saja. Lalu menambahkan hal-hal yang belum terbahas dalam diskusi. Aku tak tahu apa alasannya.

Di tulisan ini, aku hanya ingin bercerita tentang kelas pertemuan terakhir saja. Waktu itu bapak membahas tentang materi integrasi dan interkoneksi dari sudut pandang yang 'tidak membosankan'.
Integrasi-interkoneksi UIN Sunan Kalijaga
Aku akan fokus saja ke perdebatan kita Pak. Saat aku bertanya pada Bapak begini
Is: "Apakah ada sistem  filsafat Islam yang murni bersumber pada Islam itu sendiri?". (Aku tak mengerti bagaimana bapak mengartikan pertanyaanku ini. Entah pertanyaanku yang salah atau pertanyaanku membingungkan?)
Pak Mukalam: "ada dua paradigma, paradigma sekuler-radikal (menganggap sains yang meng-cover semuanya) dan paradigma relegius-radikal (menganggap agama itu sudah meng-cover semuanya)."
Is: "pertanyaan saya bukan soal itu, Pak. Tapi apakah Islam itu punya ajaran yang murni tentang filsafat?"
Pak Mukalam: "Tidak semua yang ada di Islam difilsafatkan, tidak semua yang di filsafat di-Islamkan. Filsafat kelahirannya tidak berasal dari Islam, dari Yunani."
Is:  "Berarti, filsafat yang murni dari Islam itu tidak ada?"
Pak Mukalam: "Yang Anda katakan murni itu seperti apa? Filsafat Islam berkembang dengan membuka diri dengan dunia luar. Sebuah peradaban akan percaya diri kalau punya kemampuan. Saat ia bertanding dengan dunia peradaban lain, dia tidak merasa inferior. Kalau tidak membuka diri, sulit berkembang. Orang ber-agama pun, tidak ada orang yang beragama dalam kemurniannya."
Is: "Yang saya maksud tidak seperti itu, Pak."
Pak Mukalam: "Bagaimana-bagaimana?"
Is: "Gini, Plato kan punya  filsafatnya sendiri, Sartre juga, terus yang dari Islam itu apa?"
Pak Mukalam: "Dari teori pencarian. ......Tuhan.... Akal universal...... Jiwa universal.... Dunia 1, dunia 2-10,...... alam semesta....."
Is: "?" (aku mantuk-mantuk)
Pak Mukalam: "Maaf jika kurang jelas. Mungkin Anda bisa membaca lebih lanjut tentang buku-buku filsafat Islam." (dalam hati: Ah, orang Yunani pun nggak paham maksudmu Is. Lalu muncul pertanyaanku lagi: bagimana dengan filsafat Indonesia?)

Karena jam udah usai, bapak menutup kelas dan memberi kisi-kisi bab UAS dan semua berakhir seperti biasa.
Namun, ada yang menarik tentang hal-hal yang kita bahas sebelumnya. Dari kelas bapak saya sering menemukan ide cerita untuk dijadikan cerpen bahkan novel. Trus tentang mimpi menjadikan UIN Sunan Kalijaga sebagai pusat fisika Indonesia bahkan dunia. Bapak memberi semacam peta sebagai rencana jangka panjang.
Untuk mereka yang wajar dan mereka yang punya impian:
-S1 lulus fisika umur 22th,
-S2 lulus fisika umur 24th,
-S3 lulus fisika umur 27th,
-umur 30th jadi profesor fisika.
-Umur 30-40th buat sebuah fondasi fisika di saintek UIN Suka yang mengajak siapa pun untuk belajar fisika bareng.
-Umur 40-50th, menjadikan fondasi itu sebagai pusat studi internasional fisika dunia (wow).
Aku sangat tertarik dengan tawaran misi bapak itu. Ini pekerjaan pribadi sekaligus kolektif. Agar rakyat bisa bangga dengan karyanya sendiri. Agar kalau mau belajar sains itu tak cuma di Eropa! Pusat teknologi nggak cuma disana. Di Indonesia pun ada! Semoga itu terwujud, aamiin.

Jogja, 26 Desember 2014

No comments:

Post a Comment