Sunday, December 21, 2014

Tak Lebih Baik dari Sampah

Around Alternative
Apa yang manusia cari dari motivasi dan inspirasi? Bahkan sampai dilombakan sebegitu rupa, bermacam-macam bentuknya? Hal itu yang coba saya pelajari. Saya sedikit menemukan jawabannya dari seorang teman berinisial X (saya tak berani menyebut namanya, takut dia keberatan). Dia adalah seorang aktivis, provokator, aktor di balik pergerakan, dan mahasiswa yang tak mau dikenal.
Awal saya mengenalnya, dia sederhana, tidak kaya. Dia seorang pemikir kiri. Bacaannya luas, link-nya banyak, humoris, dan bisa akrab dengan siapa saja. Saya selalu iri padanya karena tiap hari saya perhatikan dia selalu gembira.
Kebiasaannya nongkrong bersama PKL, satpam, dan pegawai kecil sekitar kampus, berbincang bersama mereka, dan sesekali bermain catur. X hidup di mana saja, bahkan pernah di pinggir jalan. Kuliahnya dibiayai sendiri. Setiap hari kuperhatikan pekerjaannya adalah diskusi, menyebar virus kesadaran, menulis, dan berbagi ilmu.
Di saat mahasiswa yang lain sibuk memoles dirinya dengan berbagai simbol hipokrit, memperindah tampilannya sendiri agar dikira dirinya keren benar.  X malah mengajari saya ilmu psikologi untuk membedakan mana orang yang “berpura-pura” dan mana yang “asli”. Karena dasarnya, X menjelaskan tiap detik manusia selalu dibenturkan dengan dualisme antara khayalan dia dan kenyataan yang tidak dia ketahui. Contohnya, saya berkhayal dapat uang satu juta dari lomba #MenjagaApi dengan cara membagus-baguskan judulnya dan membagikannya secara berlebihan, padahal kenyataannya tulisan saya tak lebih baik dari sampah.
Motivasi yang tidak berasal dari dalam (memakai diksi Marx) adalah sebuah “candu”. Motivasi berasal dari apa yang benar-benar manusia itu cintai. Energi dalam dari perwujudkan apa yang ia cinta itulah yang akan menggerakkan. Tidak hanya dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
X mengajari saya bagaimana berpikir alternatif, beretorika, dan bagaimana mengartikan diri dan hidup saya dari berbagai sudut pandang luas. Agar saya tak seperti kodok yang keenakan dalam belanga di atas tungku yang menyala. Dalam kenyamanan, tanpa sadar air kian mendidih, saya melemah, dan akhirnya mati.

No comments:

Post a Comment