Friday, December 19, 2014

Falsafah Prihatin dari Dia yang Bersenyum Karnaval


Pak Dwi
Tiap tahun, kota saya mengadakan kegiatan rutin berupa karnaval. Kebetulan saat itu diadakan pas awal saya masuk kelas XII SMA, saat dimana saya belum merasa nyaman dengan suasana kelas yang baru.
Di karnaval itu hanya satu hal yang masih tersimpan permanen di sanubari saya: ketika wali kelas saya yang bernama Pak Dwi tersenyum pada saya. Senyum yang begitu tulus, indah, manis. Saya waktu itu tak menyangka, guru matematika yang baru saya kenal itu ingat saya, meski baru beberapa hari menjadi muridnya.
Dimulai dari satu senyum yang saya sebut senyum karnaval, saya mulai mengenalnya. Beliau, guru paling rendah hati yang pernah saya kenal. Ia sangat sederhana. Fisiknya kecil, tidak tinggi, pakai kacamata, dan tiap berjalan cepat. Kekhasannya lagi adalah logat bahasa Jawa halusnya. Tiap mengajar, beliau detail dan sering berputar mengelilingi siswanya dari meja ke meja untuk membantu. Dari situ tanpa sengaja interaksi terbangun. Pak Dwi tak hanya sekedar berbicara tentang matematika saja, tetapi juga berbagi kisah hidupnya dan falsafah yang beliau anut.
Saya begitu merasa dekat dengan Pak Dwi. Setiap hari selalu ada inspirasi untuk saya bawa ke rumah. Seperti, ojo rumongso iso, iso’o rumongso (jangan merasa bisa, bisalah merasa). Pesan yang paling berkesan bagi saya, Pak Dwi mengajarkan saya untuk hidup prihatin sebagai konsep dasar hidup. Dengan prihatin orang akan sadar akan keberadaannya dan bagaimana seharusnya ia berbuat. Prihatin terhadap diri sendiri, prihatin terhadap kondisi orang tua, juga prihatin terhadap lingkungan yang diwujudkan dalam sikap wani rekoso (berani menderita).
Dan Pak Dwi pernah bilang: “Ma, meski kamu kecil, nanti kamu kuliah ya… meski hanya D1. Prinsipnya: aku kudhu iso, kudhu wani rekoso, kerja keras, jangan mau merepotkan orang lain.”  Dan sekarang harapan untuk kuliah telah terwujud, saya sekarang kuliah di Yogyakarta, meskipun saya telat dua tahun dari teman-teman seangkatan saya. Pak Dwi, Isma ingin buat Pak Dwi bangga. 
#MenjagaApi

No comments:

Post a Comment