Friday, April 18, 2014

Maiyahan

Dulu mas Arif pernah ngomong gini di komen-nya:

“Ikut jama’ah Maiyah (semacam dialog/diskusi) apa pun dibahas disana. Yang ikut mahasiswa, tukang becak, ustad-ustad, pakar-pakar keilmuan”.

Dari mas Arif-lah aku pertama kali mengenal kata “Maiyah”. Mas Arif juga bilang kegiatan itu dilakukan sebulan sekali tiap malam tanggal 17 di Kasihan, Bantul. Aku sempat mau kesana sendirian naik sepeda.

Nah, kemarin tanggal 17 April, si Richa teman sanggar ngajakin Maiyahan. Udah beberapa kali dia ngajak, tapi nggak jadi-jadi. Ya, baru malam kemarin jadi :D Kebetulan si Madam dan Mila ikutan. Ramai deh.

Usai latihan komposisi gamelan di Student Centre, sekitar jam 10-an sepedaku aku titipkan di kosnya Madam. Trus kumpul di depan MP, si Richa ngajak temannya lagi, Selma namanya. Juga ada teman-teman cowoknya dia. Nah, aku belum dapat boncengan. Trus, teman cowokya Richa ada yang kosong satu, aku nebeng dia.

Si Richa, Selma, Madam, dan Mila berangkat duluan. Aku nunggu masnya. Kita berangkat berempat sama temennya masnya. Dan tak kusangka, dunia memang sempit, mas yang boncengin aku ini anak Blora juga. Jebule tonggo dhewe. Dia anak Todanan. Saat kutanya namanya, sambik ketawa dia mengaku bernama “Ariel” -_-II Aku ditanya: “Ikut KAMABA nggak?” aku jawab “enggak”. Aku sudah sibuk mas, lain kali aja, haha. Masnya ini ikut KAMABA (Keluarga Mahasiswa Blora).

Bantul jauh juga sih. Dengan ngebut akhirnya sampai juga. Kita masuk di sebuah gang gitu. Kulihat mobil-mobil, motor-motor banyak diparkir. Ini seperti menghadiri sebuah konser saja. Setelah motor di parkir, di jalan berseliweran anak-anak yang jualan koran seribuan, trus yang jualan makanan tak kalah banyaknya, juga ada yang jualan buku Cak Nun, aksesoris baju, stiker, tasbih, minyak wangi. Seperti acara sekatenan saja, atau semacam ketoprak di desaku sana. Orang-orang menyemut. Suara orang memberikan ceramah terdengar jelas di telingaku.

Ini pertama kalinya ikut maiyahan. Dalam imajinasiku, acara ini semacam kelompok diskusi yang kayak di warung kopi dan Cak Nun jadi porosnya, ternyata agak melenceng sedikit. Dan…. akhirnya, kesampaian juga mimpi melihat dan ketemu Emha Ainun Najib / Cak Nun-nya :D Aku pernah baca tulisan-tulisan beliau yang keren. Dia sedang duduk disana memberikan tausyiah.

Setelah kita semua ngumpul: Richa, Madam, Mila, Selma, aku, mas ‘Ariel’, dan ke-empat teman mas ‘Ariel’ (yang baik banget) duduk di belakang warung dekat kandang wedhus. Disana, ngomong-ngomong, diskusi, dan ketawa, merenung, berkontemplasi mendengar kuliah Cak Nun. Jujur, malam itu ngantuk banget, capek banget, sedikit yang bisa kutangkap. Dan kesalahan kita (yang cewek-cewek) malah gojek sendiri. Padahal mas ‘Ariel’ udah ngasi pesen wise banget: “Ingat tujuan kamu dari kos datang kemari”.

Meski hanya beberapa, aku akan share ilmu yang aku dapatkan:
# Ojo sedih. Ojo lemes. Ojo lesu. (La takhaf, wa la tahzan. Innallaha ma’ana :))
# Tentang panggilan “Cuk, Su..” dll-nya bagi orang yang tak mengerti nuansa itu ‘gak baik’. Tapi bagi orang yang mengerti nuansa, itu panggilan akrab, panggilan persahabatan, panggilan sayang. Piye leh Cuk-cuk :D
# Allah-lah gurumu di segalanya. (dalam banget yang inih…)
# Buat dirimu dilumuri Allah.
# Penderitaan yang kamu nikmati akan menjadi berkah.

Banyak lagi keterangan lanjutan. Kayak cerita Arya penangsang yang kalah sama Sutawijaya, itu gara-gara kudanya Arya Jipang cewek dan kuda Sutawijaya cowok (pesen moralnya laku upa -_-).

Salut aku sama si Cak Nun, bicara dari jam delapan-sembilanan malam, sampai subuh jam lima-an pagi nggak capek, nggak kehilangan topik. Ada juga hiburan musik islami ala Cak Nun dan kiai kanjeng gitu :) Wah, keren –kayak Sanggar Nuun, hahaha #Tetep :D

Kita pulang sampai acara selesai sekitar waktu subuh, jam empat-an. Sekarang aku tahu nama asli mas ‘Ariel’, namanya Wandi, anak jurusan BKI. Aku diantar pulang sampai kos, sedang sepeda masih tertinggal di kos Madam. Terima kasih Mas Wandi. Terima kasih juga buat temannya yang tadi mbagi-mbagi nasi sama mi rebusnya. Aku sok-sok’an nolak, padahal laper banget, haha. Ya udah, aku ambil dan aku makan dengan khusuk. Ingat kata-kata: “Dikon mangan ae angel, opo neh dikon mergawe” –Mas Opik. Mas Wandi di perjalanan juga ngomong: “Awal-awalnya emang bikin kapok, sampai pagi. Tapi kalau udah lama… waaahhh (--logat Pati)… (asyik)”//

Yogyakarta, 18 April 2014

No comments:

Post a Comment